Karma, anak yatim piatu yang hidup sendirian di suatu kota yang terisolasi. Hidup bak sampah di dalam sangkar. Ia memiliki impian untuk melarikan diri, mengangankan kebebasan, cinta, dan kehangatan di luar sana. Suatu hari ia bertemu dengan Asano Gakushuu, mereka saling mengikat janji untuk bersama-sama keluar dari kota ini.

Songfict dari lagu Jailbreak (脱獄) - Neru

.

.

.

DISCLAIMER

Assassination Classroom (暗殺教室)

- Yūsei Matsui -

Jailbreak / Datsugoku (脱獄)

- Neru -

.

.

.

Note :

Akhirnya chapter 3 update~ Maafkan ini upnya ngaret banget xD Btw, ini juga ngepas ultahnya Gakushuu. Happy Birthday Asano-kun!

AU, slight ShoAi (mungkin), OOC, OOT, TYPO, etc. Enjoy~

.

.

.

Chapter 3

"Speculation"

.

.

.

5 tahun berlalu—

Jantung Asano berdegup kencang tak karu-karuan, rasanya bagaikan ada seribu kupu-kupu memenuhinya dadanya hingga sesak. Pasalnya ini adalah hari terakhir pelatihan kepolisian, hari terakhirnya sebagai calon polisi—artinya ia akan segera mulai bertugas di kota, tempat tinggal waktu ia kecil dahulu.

Pikirannya kini hanya dipenuhi oleh satu hal. Teman masa kecilnya yang pernah ia tinggalkan dahulu. Teringat akan dirinya yang tak mengucapkan satu kata perpisahan sekalipun dan mengingkari janji yang telah dibuat sebelumnya, membuat dirinya sendiri semakin terhanyut dalam rasa bersalah.

Bagaimanakah keadaan Karma lima tahun terakhir ini? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia masih saja sama seperti dulu? Apakah dia masih mengingat dirinya?

Mungkin saja... dia sudah melupakan semua hal tentang Asano dan menyerah dengan mimpinya terdahulu. Itu bukan masalah lagi bagi Asano sendiri—memang lebih baik bila Karma tidak melanjutkan mimpi bodohnya yang dapat membahayakan keselamatannya itu.

Tetapi sejujurnya, ia berharap sedikit bahwa orang itu masih meningat Asano... Meskipun, hanya sedikit ruang dalam hatinya.

Ia sendiripun tahu, ia tidak akan pernah diperbolehkan menemui sosok itu lagi. Karena perihal ancaman ayahnya yang mengerikan, yang bisa berakibat fatal pada keselamatan dirinya sendiri maupun teman masa kecilnya itu. Namun, Asano akan senang bukan main jika hanya dapat melihatnya dalam kondisi baik secara diam-diam. Setelah sampai nanti, terbesit suatu niat dalam benaknya untuk mencari cara bertemu dengannya diam-diam. Apapun itu.

Truk yang sedang dinaiki kadet-kadet korps kepolisian baru itu berhenti. Komando untuk segera keluar dan berkumpul terdengar. Asano terbangun dari lamunannya. Ia bergegas dalam kondisi siap untuk melakukan apapun perintah atasannya.

.

.

.

Wajarlah jikalau pada hari pertama bertugas memang disuguhkan dengan hal-hal yang sedikit ringan bagi korps-korps baru itu. Tugas pertama adalah patroli. Mereka berpencar dalam suatu kompleks gedung-gedung tua.

"Lihat, jadi ini toh gedung yang katanya dihuni oleh pemberontak," seru salah satu anggota korps baru dengan pelan.

Tak sengaja mendengar perkataan itu, dengan diselimuti rasa penasaran, Asano mendekatkan langkahnya pada orang itu.

"Pemberontak?" gumam Asano seraya menaikkan alisnya kepada pria di dekatnya. Tahu bagaimanapun, tidak ada hal yang aneh pada gedung itu, sejak dahulu masih sama saja. Ia ingat betul, sebab waktu kecil juga Asano sering melarikan diri dari rumahnya dan menjelajah daerah di sekitar ini.

Orang di hadapannya mengangguk dengan cepat.

"Ya, rumornya.. ada seseorang mencurigakan yang selalu terlihat di sekitar gedung tua itu. Kadang terdengar suara bising waktu malam hari seakan-akan ada orang yang merencanakan sesuatu," pria itu menghentikan ceritanya. Wajahnya berubah sedikit ketakutan.

"Lalu?" tanya Asano, ia diselimuti oleh rasa penasaran yang makin berlipat ganda kali ini.

"Kabarnya sih, ia benar-benar seorang pemberontak. Kalau hal ini tidak segera diatasi kan, bisa-bisa bahaya..." serunya dengan suara yang sedikit dipelankan.

"Pemberontakan..."

"—Tunggu, tapi itu tidak akan mungkin terjadi bukan?" hening. Jawaban berupa tawa yang menggelar terdengar seketika.

"Ha.. Ha.. Ha... Tentu saja! Itu memang tidak mungkin, kalaupun ada sih... Pemberontak itu seharusnya takut sendiri oleh kekuatan korps yang tidak ada tandingannya ini! Dia pasti akan segera membatalkan aksinya atau berakhir tertembak!" seru orang di hadapan Asano dengan penuh percaya diri. Ia menepuk keras pundak Asano berkali-kali. Asano memutar bola matanya, merasa risih akan perlakuan orang di sampingnya.

"Tetapi... Tidak terlihat juga bahwa orang itu benar-benar melakukan pemberontakan... Belum ada bukti yang cukup untuk segera menanganinya. Entah hal itu hanya kabar angin atau bukan. Jadi... kita harus menunggu komando lebih lanjut untuk masalah itu!"

"Begitu rupanya. Baiklah..." raut wajah Asano menyiratkan sedikit kekecewaan, sebenarnya ia berharap untuk mendapatkan lebih banyak bukti tentang hal tersebut.

"Nah nah, tidak perlu terlalu khawatir Asano! Seharusnya, kamu bersenang-senang dulu! Ini kan hari pertama kita turun lapangan, santai saja!" pria di hadapannya itu berbicara dengan tawa yang lebar.

"Hm!" Asano hanya bisa mengangguk setuju dan tersenyum paksa. Mau bagaimanapun hal tersebut masih mengganjal dalam benaknya.

.

.

.

[ Asano's POV ]

—Pemberontakan; Tunggu itu tidak mungkin dia, bukan?

Dari semua hal yang disampaikan semuanya, entah mengapa...

Bagiku hanya satu orang yang pas melakukannya...

Dia? —Karma?

Ah, gedung itu dulunya pernah menjadi salah satu dari tempat persembunyian kita;

Suara bising itu, apakah dia sedang mencoba membuat alat itu—pesawat?

Pemberontakan, pasti dia mencoba melarikan diri keluar dari kota ini;

Tidak, Tidak mungkin itu dia—Jangan dia—

"Aku akan memastikan bahwa itu salah," gumamku pelan. Aku bertekad untuk benar melakukannya.

Aku ingin—bukan, aku harus bertemu dengannya. Aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri. Bahwa...

—Hal itu tidak benar!

Karma tidak boleh melakukan hal itu. Karma harus sudah melupakan mimpi itu, sekalipun harus melupakan diriku. Aku akan mengikhlaskannya.

Apapun caranya, aku akan menghentikannya. Sekotor apapun caranya.

Bahkan aku sendiri telah membuang jauh-jauh mimpi itu, berkhianat dan menjadi salah satu dari polisi yang dulunya sangat ku benci.

"Aku hanya ingin dia selamat, cukup itu," lirihku pelan.

.

.

.

Malam tiba, waktunya istirahat bagi para korps. Sebelumnya mereka telah menggelar kamp dan tenda-tenda di sekitar kompleks gedung tua untuk patroli tadi. Kali ini, mereka seharusnya sudah terhanyut dalam mimpi. Tersadar akan hal itu, Asano segera bergegas. Ia menoleh ke berbagai arah, memastikan tidak ada seorangpun yang memerhatikannya. Ia segera mengendap-endap keluar. Langkahnya menuntun ke sebuah tempat yang tidak jauh dari kamp polisi. Iapun segera memasuki gedung tua itu. Setelah keadaan dirasa aman, ia berhenti.

Gedung ini... Sepi, kotor, usang, tidak menarik. Tidak ada tanda-tanda bahwa seseorang tinggal di dalamnya. Hanya dapat ditemukan debu, sarang laba-laba, dan berbagai kotoran lainnya.

.

.

.

Apa-apaan aku ini, aku juga tahu dia mungkin tidak ada disini. Karma pasti sudah hidup dengan baik sekarang, yang terpenting ia sudah tidak disini lagi.

.

.

.

"Karma..." ia memanggil seseorang dengan nada yang cukup rendah.

"Yah.. Kau tidak mungkin mendengar perkataanku ini sekarang. Aku bahkan tidak tahu kamu ada dimana, atau bahkan aku tidak tahu bagaimana keadaanmu sekarang..." seru Asano seraya menghela nafas panjang.

"Soal rumor yang beredar, entah kenapa aku jadi teringat olehmu. Tapi aku berharap itu bukan kamu, jangan kamu,"

"Maafkan aku, tapi aku sudah berubah sekarang. Aku harap kamu juga begitu,"

"Satu hal. Aku hanya ingin kau menuruti permintaanku sekali ini saja,"

"Lupakan, mimpi itu. Lupakan saja aku," lirih Asano dengan penekanan pada kata 'aku'. Ia berharap bahwa orang yang ia maksudkan akan benar-benar melakukan hal tersebut.

"—Hiduplah," setelah menyelesaikan kata terakhirnya, ia segera membalikkan badan. Pergi meninggalkan gedung tua itu dalam keheningan.

Setelah sosoknya benar-benar menghilang, sekelibat bayangan segera menampakkan dirinya di dalam gedung tua tersebut. Seringaian misterius ia tampilkan pada wajahnya.

.

.

.

.

To Be Continued

A/N :

Maaf ngaret up-nya ~ /emangsiapajugayangikutin. Fyi, chapter-chapter sebelumnya saya rombak dan edit sedikit. Jadi lebih baik baca ulang aja /maksabanget

Sebelumnya terimakasih banyak atas review, fav, follownya, dan juga para silent reader. Btw, ini tinggal satu chapter lagi tamat loh. Sebenarnya udah mau selesai dibuat, tapi niatnya sih bakal diup agak lama lagi aja /plak. Oke itu dulu ya, Jyaa~

Thanks,

Euclair