Warning : OOC, AU, Chapter, OC
Summary : Takut adalah sifat alami seluruh manusia di bumi. Entah itu wujud kurang ideal yang tak nyata, segerombolan makhluk tanpa mata yang mengusik atensimu. Atau hal di luar nalar yang sulit kau prediksi. Akan kuceritakan ini, cerita gelap dari lembah yang paling dalam, mengusik tidur malammu dan mimpi indahmu. Ini tentang. Hantu.
- Chapter 2 -
Sepeninggalan Pakun dan hantu perempuan bermata bolong di kamar mandi, paman berinisiatif untuk mandi di siang hari dan sebisa mungkin tidak menyentuh kamar di malam hari. Kami juga menyalakan seluruh lampu di malam hari, membiarkan ponsel tetap menyala dan tidak memikirkan berapa listrik yang akan di bayar ayah nanti.
Kami memilih tidur serempak di ruang tamu, beradu dalam selimut yang sama dengan semangkuk penuh keripik pedas dan susu cokelat, kami juga menyalakan televisi keras-keras tanpa mempedulikan tetangga sebelah mengamuk.
Aku sempat mendengar amukannya, tapi setelah kak Itachi memberikan gedoran maut dari jendela yang membahana, tetangga itu langsung pergi sembari murang-maring.
Intinya kami harus menjaga diri dari hantu bodoh itu. Tidak masalah di kejar para pembunuh, toh kami punya paman yang tukang pukul, hantu adalah sesuatu yang lain. Kekuatannya tak dapat kupungkiri, mereka hebat untuk ukuran makhluk yang tak sempurna.
Sialnya malam ini tidak ada sinyal di seluruh ponsel kami dan telepon rumah terputus secara tiba-tiba, seperti daerah yang hendak di netralisir. Ketika aku melongok dari jendela, seluruh rumah milik tetangga menjadi gelap gulita. Aku baru ingat jika hari ini ada perbaikan jaringan dan pemadaman bergilir, duh, bodohnya kami.
Lampu mati? Tidak. Kami memiliki genset butut karatan di gudang bawah tanah. Ayah mengizinkan kami menggunakan itu dalam keadaan terjepit. Kurasa, ini keadaan yang paling bahaya.
"Sepi." Itu suara paman.
Aku yang setengah mengantuk, menyahut. "Biasanya ada Pakun yang berisik."
"Pakun.. kupikir ayah membawanya kerja."
"Ke kantor? Ngawur kau, Itachi.."
Aku mengangguk, membuat lelucon garing yang terkesan sembarangan. "Jadi bodyguard, bisa saja 'kan? Kurasa, Pakun cukup hebat untuk mengonggong tak jelas dan mengigit klien bebal."
"Tapi itu tak masuk akal, lalu untuk apa security kerja di kantor kak Fugaku? Untuk hiasan?"
"Aku 'kan hanya mene-"
Belum sempat melanjutkan ucapan, kak Itachi bangkit dengan lugas seperti langkah seorang pemain akrobat, buatku dan paman terjungkal karenanya. Kepalaku mendarat di karpet, terinjak kaki paman dan kak Itachi, telingaku agak berdegung kala ini semua menimpaku.
Setelah kepalaku berhenti berputar dan mata kembali fokus, langsung saja aku membogem mesra perut kak Itachi, memaki dengan kalimat kasar, buatnya mengaduh dan berguling-guling di karpet. Kutatap kakak sinis dan dengan terpaksa membantu paman Obito yang kepalanya membentur meja.
Gila! Tenaga kak Itachi kenapa bisa sebesar itu?
Paman memelototinya. "Itachi, pelan-pelan dong!"
"Aku mendengar suara." Bela kak Itachi tak mau kalah dengan amukan paman. Dirinya membuat ekspresi berpikir keras, meneliti dan mengingat setiap sudut ruangan dari rumah ini yang memungkinkan menimbulkan suara itu.
Jujur, aku juga mendengar suara itu walau hanya samar-samar. Kupikir itu suara dengkuran kak Itachi. Tapi, kalau di pikir-pikir tidak mungkin kak Itachi membuat suara bodoh seperti itu.
Aku merengut. "Nah, sekarang kau membuat paman kesal."
"Bodoh, aku mendengar suara. Seperti pintu garasi yang terbuka."
"Kak Fugaku sudah pulang?"
Kesal, Itachi memutar bola mata. "Uncle Obi tidak ingat apa yang ayah katakan tadi?"
Kami saling beradu pandang, aku tidak ingat apa yang di katakan ayah. Saat itu, aku sedang asik bermain psp dan paman? Aku tidak begitu ingat dia ada dimana. Entah kakak hanya bermain-main dengan ingatan kami atau ia mengatakan hal yang sejujurnya, aku tidak tahu.
"Kak Fugaku tid-"
"Ayah mengatakan akan lembur hari ini dan pulang lusa. Makanya aku hari ini menggasak isian kulkas dan Sasuke juga ikut menjarah!"
Kak Itachi menatapku tajam, menyalahkan aku atas curian dan jarahan makanan di dalam kulkas. Kami tahu ayah akan marah soal ini, tapi kami tidak mau kelaparan di tengah malam dan mati dalam keadaan busung lapar di pagi hari.
"Sasuke, kau cek!"
Spontan, aku membanting kaleng soda ke sofa. "Ke-kenapa aku?"
"Karena kau lebih muda!"
"Kau saja, kak. Kau 'kan kakakku dan yang tua harus melindungi yang muda!" Aku membuat wajah sedih dan merengek di sebelah paman. "Paman, katakan sesuatu!"
Paman mengerang frustasi. "Idih, aku tak ikut-ikutan."
Aku mendelik, mengeluarkan aura-aura jahat ke seliling ruangan. Hendak marah dan berkelahi hingga adu jotos, saling tendang dan jambak aku lakukan dengan kak Itachi dalam beberapa menit kami berdua tumbang, paman yang memijat kening dan mengompres kepala dengan beberapa balok kecil es batu masih enggan untuk melerai.
"Hei, kalian berdua. Kenapa tidak cek bertiga saja? Bukankah itu lebih baik? Daripada merongrong tak jelas seperti orang tak berguna."
Lampu di atasku berkedip-kedip, buat jantungku meleos bagai di tubruk mobil baja berkekuatan super. Ada kesalahan di sini, sepertinya genset milik ayah sudah rusak parah. Kami bahkan mencium bau mesin rusak yang terbakar.
Ini parah, bisa-bisa aku menjadi buta dan hantu perempuan aneh itu bisa muncul kapan saja. Kuharap, ia tidak akan muncul di saat-saat pelik seperti ini.
Garasi mobil terletak di belakang rumah, untuk kesana, kami harus melewati koridor sepi yang belum sempat di bersihkan, lampu di sini warnanya kuning dan terkesan kuno sekaligus menyeramkan. Di sana, kami harus turun ke bawah, melewati pintu menuju ruangan penghangat yang tua dan ruangan mencuci.
Aku pernah sekali kesini, saat tidak sengaja mendengar suara ayah yang memanggilku, kupikir ini nyata, ternyata para hantu lain sedang mempermainkan aku. Aku mendengar suara aneh di sana dan sekelebat mahkluk hitam, kikikan anak ayam, tawa khas anak kecil dan sebagai tambahan sebuah panci jatuh ke atas kepalaku.
Sontak, kejadian itu membuat jantungku tertusuk ribuan paku payung. Aku melupakan rasa sakit di kepala akibat terlalu takut. Saat itu paman sedang keluar rumah dan kakak pergi ke toko buku. Merasa kalau saat itu adalah akhir dari hidupku, aku berlari sekencang mungkin, tabrak sana dan sini, terjungkal, menabrak vas bunga dan nyaris pingsan.
Tapi untung saja kakak segera datang.
Jadi aku tahu ada apa di dalam sana. Dan mungkin saja hantu-hantu itu kembali menganggu kami.
Sungguh menyebalkan. Berurusan dengan orang mati itu merepotkan, apalagi kalau mereka mempunyai hobi menganggu makhluk yang masih bernapas.
Paman memelototi kak Itachi. "Ayo!"
"Heh, kau bilang bertiga! Ingat kesepakatannya."
"Kau yang punya ide ini, Itachi."
Aku tertawa nista. "No pain no gain.."
Kak Itachi mendelik. "Baiklah, Yang Mulia.."
Kulihat kak Itachi mendengus kesal, sementara aku dan paman Obito tertawa keras dan beradu kepal tinju untuk meledek kakak. Untungnya aku dan paman membawa senter dan beberapa batang lilin untuk penerangan, kak Itachi juga membawa senter hologen yang ia simpan di atas kepala seperti bocah idiot di perempatan.
Hanya itu saja yang tersisa di kotak mainanku.
Untuk sampai ke sana, seperti yang sudah aku jelaskan. Kau harus melewati tangga kayu yang agak sedikit lapuk. Mungkin pemilik rumah ini jarang menggunakan tempat ini, entahlah aku tak paham.
Di bawah sana, kak Itachi setengah berteriak. "Roger! Roger! tempat ini parah. Aku ulangi. Parah!"
"Hei, jangan sok jadi tentara, Itachi. Ada apa?"
"Gezz, ada bau busuk dari mayat."
Sial.
Mayat?
Hal aneh apalagi yang akan menimpa kami?
"Oh astaga, bisakah kau mana mayat mana bangkai?"
Aku melirik sinis. "Bangkai?"
Paman mendecak. "Tikus."
'Gruduk'
'Gruduk'
'Gruduk"
Paman melompat ke bawah, melompati beberapa anak tangga dengan terjangan spektakuler, aku yang tidak bisa membaca situasi, melongo di atas sambil menyenteri kehadiran paman dan juga kak Itachi yang tengah berjongkok mengelilingi sesuatu yang kurang jelas.
"Ada apa, paman?"
Tidak ada jawaban.
"Paman?"
Masih belum menjawab.
Kesal. Aku menarik napas dalam, memasukan seluruh oksigen ke paru-paru. Seperti turbin atau seekor king kong aku yang murka mulai berteriak. "AKU BILANG PAM-"
'TAP'
"Sasuke."
Jantungku berhenti fungsi. Dimatikan seketika itu juga. Dalam gelimang mandi keringat, aku mencoba memberanikan diri. Kulirik lewat bahu, menyingkirkan seluruh pikiran mengerikan yang bersemayam di kepala.
Ku dapati jemari lentik kelewat putih bersih bercat hitam menepuk bahuku.
I-INI APA?
"Sasuke."
Lagi.
Tepukan pelan mendarat di bahu. Suara khas perempuan menggelitik, suara lembut bernada malas-malasan dan setengah mengantuk. Aku tak dapat memprediksi suara siapa ini. Suara kelewat pelan tanpa gairah.
"Hei.."
Dia menepuk lagi. Kali ini ada desau angin menggelitiki leher.
Dingin.
"Itachi dan Obito mana?"
Aku membeku.
"Sasuke?"
Perlahan menoleh.
"SIAPAAAAAAA KAAAAU?"
'Gubrak'
'Gubrak'
"Aw, sakit."
"Aria-chan, makanya kalau datang bilang-bilang. Kau bisa mengirimku sms atau menelpon. Nanti, kau akan aku jemputmu, sayang."
Aku melirik sinis. "Gombal."
Di hantam secara mendadak oleh kak Itachi, buatku nyaris pingsan. Aku mengalami memar yang cukup menghebohkan di kening dan juga rasa mual merembes secara tidak sopannya. Hendak muntah tapi cairan asam di dalam lambung tak mau keluar.
Kuamati Aria dalam-dalam, wajah manis bercampur malas-malasan yang selalu ia tampilkan menatapku sinis alias penuh dendam. Helaian putih semi kelabu miliknya nampak acak-acakan dan berdebu. Manik krimson yang seperti tetesan darah menyipit, mencari kesalahan apa saja yang aku buat beberapa menit lalu.
Aria terjungkal.
Tentu saja.
Terdorong oleh kekuatanku yang sanga spektakuler melebihi teori Darwin.
Dasar.
Kenapa aku bisa sebodoh ini?
"Lagi pula, untuk apa kalian main petak umpet?" Aria bertanya masam seolah sedang studi banding.
Kak Itachi tersenyum genit. "Bukan petak umpet. Kami sedang mencari sesuatu yang mencurigakan, sayang."
Paman mendelik pada kakak yang kemudian di lanjutkan dengan tatapan lembut pada Aria. "Uh, bukan seperti itu. Ada sesuatu yang aneh di garasi."
Merasa aneh. "Oh? Tadi aku melihat orang cukup mencurigakan di luar."
"Si-siapa, Aria-chan?"
"Anak kecil." Ia menjawab kelewat datar. Aku meneguk ludah.
"Dia perempuan."
"Jadi, kalian berpikir tempat ini berhantu?" Aria menatap sekeliling. "Auranya aneh. Berapa uang yang Fugaku-san keluarkan untuk membeli rumah ini?"
Paman menggidikan bahu, bergeser sedikit dari atas sofa. Penerangan kembali menyelubungi kami, setelah listrik menyala beberapa menit yang lalu. Kami bisa menatap wajah masing-masing orang yang ada di sini, bahkan yang paling kecil sekalipun. Selebihnya, tumpukan dan ceceran popcorn.
Aku bersidekap dada, menatap penasaran Aria yang nampaknya serius tentang hal ini. Selain ia tahu banyak hal yang bersifat penting ia juga terkadang sok tahu. Dia juga lihai mencuri dengar tentang hal mistis untuk referensi novelnya.
Kurasa, Aria akan mendapat undangan keren dari paman Obito.
"Tempat ini berbahaya. Jangan bicara melantur." Diliriknya aku dan kak Itachi. "Oke?"
Aria melanjutkan, menyambut hangat secangkir teh kayu manis, buat paman senyum-senyum aneh.
"Rumah ini sepertinya bekas keluarga Shimura. Yah, kurasa begitu. Tapi.."
Mengambil jeda dalam alunan yang misterius, aku mendekat beberapa senti ke sebelah Aria.
"...sudah bertemu dengan para tetangga? Itu yang terpenting. Kau tahu, memastikan mereka manusia atau bukan."
Sekarang kepala kak Itachi pening, terlihat dari raut wajahnya yang kelelahan berpikir. "Hei, apa maksudmu. Aria-chan?"
"Belum dengar rumor? Tempat ini dulunya bekas pembantaian.."
Hening.
"Pembantaian?"
Aria mengangguk mantap, menyambar ponsel hitam miliknya dan terfokus pada benda itu. Wajah putih bersihnya terlihat sangat putih tersinari cahaya ponsel. Berkutat dengan itu semua membuat kami sedikit penasaran dengan apa yang dilakukannya.
"Aku tahu dari Aoba. Dia bilang rumah ini asalnya bekas pembantaian dan-"
'GBRAK'
'GBRAK'
'GAAAAUNGGGG'
Suara itu.
Lagi.
Aku langsung pucat pasi. Mengingat kembali kejadian kemarin yang membuatku mati rasa. Secara samar, jantungku berdetak sangat cepat dan keringat dingin mulai bercucuran.
Kutatap Aria, paman dan kak Itachi. Mereka memasang tampang yang sama sepertiku, meski Aria nampak baik-baik saja. Tapi aku tahu kalau dia ketakutan.
"Sepertinya, mereka tak suka di bicarakan." Kataku. "Ayo kita pergi."
Baru saja melangkah keluar meninggalkan tempat ini. Langsung saja kami di hentikan oleh sesuatu.
Sesuatu yang teramat keji dan agak kurang sopan. Sosok mengerikan, kurang ideal dan sangat mengerikan.
Dia berdiri disana. Dengan seringai lebar. Bibir sobek, gigi ompong dan leher penuh dengan belatung berjatuhan. Kepalanya patah sama dengan kedua tangannya.
Ia berjalan dengan langkah patah-patah, mendekati kami dengan terseret-terseret.
Aku memucat. Perutku mual hebat akibat bau busuk dari makhluk itu. Aria mundur satu langkah, menabrak dada kak Itachi malah memejamkan kedua mata. Paman Obito menghilang, lari ke belakang dengan terjang spektakuler.
Dia...
hantu berbeda dari yang di kamar mandi.
Saat kesadaranku hampir hilang akibat ketakutan yang sangat luar biasa. Hantu itu menggerakan bibir, mencoba berbicara, mengatakan sesuatu yang kurang pasti.
"Pe..pe.. per..gi.. ka..lian.."
Hantu itu menyuruh kami pergi?
"Per.. pergi.."
Belum sempat menyelaraskan pikiran. Aria menarik pinggangku dengan pelukan ringan lewat sebelah tangan. Ia menatapku sejenak, mengkonfirmasi untuk segera-
"LARI!"
...berlari tanpa menengok ke belakang.
TBC
