Seoul 16/10/17
Pentas Tunggal, Romeo & Juliet
Antrean begitu panjang, udara dingin yang menusuk kulit membuat Jimin memutuskan untuk membeli segelas kopi hangat di kedai yang tak jauh dari antrean. Dingin.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Jimin masuk ke dalam, tiket khusus yang didapat dari audisi membuatnya di prioritaskan untuk masuk ke gedung. Pemuda bersurai abu itu kembali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ornamen keemasan nan elegan lagi lagi menyambutnya masuk ke dalam gedung. Menceritakan kembali bagaimana ia mampu membuat Tuan Min terpukau.
Kursi beludru itu bertuliskan namanya, seolah olah para pemenang audisi kemarin mendapat tempat yang khusus dari Min Yoongi. Mendapat kan sentuhan khusus dari pemuda bertalenta itu.
Ditunggunya dengan seksama waktu pementasan, ditimangnya handycam kecil itu, takut takut kehabisan daya.
Menunggu memang tak pernah menyenangkan, Jimin mengedarkan pandangannya ke seluruh arena, tersenyum pada orang sebelahnya yang kebetulan juga memenangkan tiket audisi kemarin. Kim Taehyung namanya.
Pemuda yang baru dikenalnya memiliki selera humor yang baik, tak disangka mereka berdua rupanya menjadi teman yang akrab dalam hitungan beberapa menit.
"gebetan ku mengidolakan Min Yoongi, ketika ia dengar Min Yoongi membuka pendaftaran, aku ditantang dia untuk lolos audisi" ujar Taehyung dengan malu malu, "oh ya? Lalu, apa yang terjadi?"
Ia hanya tersenyum merona, "kami resmi jadian sore ini"
Jimin tersenyum menunjukkan gurat bahagia, lantas dia ucapkan selamat pada pemuda yang sedang berbahagia itu. "kalau kamu, Jimin?"
"ah, aku benar benar suka seni, rasanya begitu hidup ketika bisa mengkombinasikannya menjadi seni teater"
Taehyung berdecih meledek "kupikir Min Yoongi jadi alasan utama hampir semua orang untuk masuk kesini bukan?" goda Taehyung, Jimin hanya mencubit kecil lengan pemuda itu, seraya berbisik dengan malu "itu salah satu faktornya juga"
Canda tawa mereka telah menjadikan dua manusia ini akrab, sampai pentas yang mereka tunggu hampir dimulai. Cahaya lampu sudah diredupkan, tirai megah itu perlahan lahan dibuka. Menampilkan sesosok yang tak asing bagi Jimin.
Handycam itu telah merekam.
Juliet yang mati suri itu terbangun dan mendapati tubuh Romeo sekarat dengan belati di dadanya. Memancarkan darah segar terus menerus.
"Romeo" lirih gadis itu, Romeo hanya tersenyum pedih tatkala gadis yang dicintainya harus melihatnya mati dengan menyedihkan seperti ini.
Wajah gadis itu mendekat, hembusan napasnya mengiringi kecupan lembut di bibir pucat Romeo. Semua begitu haru, sebagian penonton banyak yang menangis tersedu karena cinta mereka tak dapat disatukan.
Sebagian nya lagi patah hati karena Min Yoongi harus memerankan Romeo di pentas tunggal ini.
"oh belati bahagia.." ucap Juliet, gadis itu memandang wajah Romeo untuk terakhir kalinya. Di hadapkan belati itu tepat di jantungnya, "selamat tinggal" ucapnya sekaligus menutup akhir dari cerita ini.
"WOAH!" Taehyung berteriak, begitupula dengan penonton diseluruh arena, mereka semua berdiri memberikan standing applause pada pertunjukkan mengharu biru ini.
Semua nya benar benar riuh, pertunjukkan Tuan Min memang tidak pernah sia sia, tiket yang dijual dengan harga setinggi apapun tidak akan pernah bersisa. Karena orang diluar sana sudah tahu tentang predikat Min Yoongi sebagai aktor yang totalitas.
Ia selalu menjiwai setiap karakter yang ia mainkan. Semuanya begitu hidup. Semuanya begitu mengaduk emosi. Park Jimin terbakar cemburu melihatnya.
Para pemenang memang selalu mendapat perhatian khusus dari Min Yoongi
Taehyung, Jimin dan lima orang lainnya sudah dijadwalkan akan bertemu sang aktor di belakang panggung. Tuan Min yang meminta. Disuguhinya mereka teh hangat dan beberapa biskuit sambil menunggu kedatangan Min Yoongi. Suasana begitu hening dan membosankan, sampai salah satu orang membuka percakapan dengan hal yang tidak penting.
"apa yang akan dilakukan Tuan Min?" ujar wanita berambut ikal disamping Taehyung, dia menyeruput teh nya dengan elegan. "entah, tapi kupikir ia akan membicarakan hal penting" sahut lelaki paruh baya itu.
Semua nampak tegang menunggu kehadiran sosok legend, tanpa terkecuali Jimin.
"Malam semua, maaf saya sedikit terlambat" pintu kaca itu terbuka dan menampakkan Min Yoongi dengan pakaiannya yang masih bergaya khas eropa, ia belum selesai rapi rapih rupanya.
"oke biar cepat, aku hanya ingin memberi tahu kalau besok kalian semua sudah bisa datang pukul tujuh malam untuk memulai latihan secara rutin" jelas Yoongi dengan singkat, "ada yang keberatan?" semua menggelengkan kepalanya, pertanda jadwal yang ia buat tidak akan menjadikan halangan mereka untuk tidak hadir dalam latihan perdana.
"baiklah, kalian semua boleh pulang, terimakasih atas kehadirannya"
"—dan kamu, Park Jimin, saya ingin sedikit berbincang denganmu" Jimin yang terperangah,
refleks menatap mata Yoongi yang justru dibalas dengan kedipan menggoda dari pria itu.
"ikut aku"
Udara di balkon cukup dingin, angin malam di gedung tingkat sepuluh ternyata lebih sadis dari yang ia bayangkan, "Park Jimin, aku ingin kita dapat berkenalan lebih jauh" senyum pemuda itu.
Ini mimpi.
"ah Tuan Min, aku merasa tersanjung" Jimin berusaha untuk menundukkan tubuhnya yang ternyata dicegat lebih cepat oleh Min Yoongi, "jangan panggil aku tuan dan jangan memperlakukan aku seperti atasan"
"Min..aku memanggilmu, Min Yoongi?" tegas Jimin, ia benar benar tak mampu menyembunyikan pipinya yang memerah. Pemuda Min hanya tersenyum kecil saat melihat Jimin bertingkah malu
"Jimin, dari pertama kali aku melihatmu, aku benar benar tertarik dengan dirimu" Yoongi lagi lagi membuat Jimin mati rasa.
"ini sebuah pujian kah?" Jimin kembali menatap manik hitam itu, seraya menaikkan alis meminta penjelasan lebih.
"ya, mungkin?" Jemari itu kini mulai meraba raba pundak kecil Jimin, memberikan sensasi luar biasa pada pemuda mungil. "Min Yoongi?"
Tanpa Jimin sadari, bibirnya kedatangan tamu yang tidak diduga duga, Pemuda yang ia dambakan dari dulu, kini mencium lembut bibirnya,
-Min Yoongi!
Batin Jimin benar benar bahagia tak terlukiskan, ia terus memejamkan mata menerima kecupan itu sampai akhirnya Yoongi melepaskan dengan perlahan, meninggalkan mereka berdua yang saling menundukkan kepala. Malu. Yoongi yang menyembunyikan pipinya, begitupula dengan Jimin.
"aku.." ucap mereka serentak,
"..minta maaf karena menciummu"
Darah terasa mengaliri tubuh Jimin dengan cepat. Pemuda ini benar benar—
"aku tak keberatan Yoongi" ujarnya terbata bata, lidahnya masih berusaha beradaptasi untuk memanggil dengan sebutan Yoongi tanpa tuan.
"sama sekali tak keberatan..."
Yoongi memandang manik Jimin lekat lekat, layaknya memberi sebuah harapan besar. "Besok kuharap kamu datang..lebih cepat, aku ingin berbincang banyak denganmu"
To be continued...
