Warning : OOC, AU, Chapter, OC


Takut adalah sifat alami seluruh manusia di bumi. Entah itu wujud kurang ideal yang tak nyata, segerombolan makhluk tanpa mata yang mengusik atensimu. Atau hal di luar nalar yang sulit kau prediksi. Akan kuceritakan ini, cerita gelap dari lembah yang paling dalam, mengusik tidur malammu dan mimpi indahmu. Ini tentang. Hantu.


- Chapter 3 -

Mustahil rasanya tidak berteriak melihat makhluk barusan. Bagai sebuah mahligai, aku tidak tahu harus melakukan apa, kecuali berlari. Paman Obito menghilang, tapi sebenarnya aku dapat melihat punggungnya di depan sana. Berlari seperti Flash dengan kecepatan di luar batas.

Tersadar oleh kondisi, aku baru tahu jika Aria dan kakak membawaku keluar rumah, berlari bertelanjang kaki. Menyusuri gelap malam sembari mengatur napas. Dalam ketidakpastian ini, kuharap hantu bodoh itu tidak melakukan hal yang menakutkan.

Di sebelahku ada kak Itachi dan Aria yang dalam kesempatan seperti ini masih sempat berpegang tangan. Jika paman melihatnya ia pasti akan mengamuk, melihat "gadisnya" dalam kungkungan lelaki lain. Aku bisa saja melakukan ini dan itu, tapi menikung paman yang sebegitu baiknya bukanlah ide cemerlang.

Bau-bau khas sampah atau yang kak Itachi bilang bau khas belatung memasuki penciuman dan aku baru sadar makhluk aneh itu mengejar dengan langkah patah-patah di belakang, di dalam pikiranku, ia tengah berusaha menggapai kerah pakaian kami dan menjerat kami dan membunuh kami. Hal-hal mengerikan lainnya yang kuanggap serius.

Di perempatan sana paman berhenti, menoleh ke belakang, meneriaki sesuatu yang kurang jelas di depan sana. Jika aku melihat gerak-geriknya ia nampak panik tapi kurasa ia tengah memberitahu sesuatu. Kuharap itu bukan sesuatu yang menjengkelkan.

Saat menengok ke belakang, makhluk itu sudah menghilang itu menjadi alasan jelas mengapa paman berhenti. Aku bersyukur dia tidak menangkap kami. Jika itu terjadi mungkin aku akan sesegera mungkin menelepon exorcist, dukun atau hal-hal lain yang semestinya kita lakukan setelah ayah mendapatkan rumah ini.

Tiba dengan lihai seperti serdadu tawon, buat jantungku berdenyut tak karuan di tambah nyeri di telapak kaki akibat menginjak kerikil. Aria bertumpu kaki dan mengatur napas, kulihat helai putihnya nampak basah, wajahnya bersemu merah tanda kelelahan.

Dalam keadaan seperti ini, dia masih terlihat sangat menarik. Aku tidak dapat berbohong dengan semua yang ada pada gadis itu, alasan kakak dan paman menyukai Aria itu sangat jelas.

Dia cantik, baik dan tidak terlalu banyak bicara. Dia seumuran dengan paman Obito, tapi wajahnya terlihat seumuran denganku yang masih duduk di bangku SMA kelas 2. Yah, aku juga sedikit naksir padanya, tapi akan terjadi kehebohan jika paman dan kakak tahu kami bertiga menyukai orang yang sama.

Kurasa, diantara kami bertiga, Aria terlihat menyukai paman.

"Ada apa? Tiba-tiba berhenti, Obito?"

"Aku baru ingat sesuatu." Jawab paman dengan napas tersegal.

"Go ahead.."

Kak Itachi memiringkan kepala. "Apa, Uncle Obi? Merasa bersalah karena meninggalkan Aria-chan di belakang? Huhu, seharusnya kau bisa menjaga pacar cantikmu ini. Betul kan, sayang?"

Sebuah jitakan bersemayam di kepala kak Itachi. "Jaga ucapanmu, Cebol! Jangan menggombal terus "

Aku mendelik, mencoba mengakhiri drama cinta sebelah tangan ini. "Apa sih paman? Kau membuat kami kaget."

Di tatapnya Itachi dengan kesal. "Tadi, aku sempat melihat sebuah gambar di dekat tangga rumah tempat kau menemukan lubang. Sebuah simbol."

Aria tersenyum kecil. "Good. Jadi, itu apa?"

"Sebuah simbol yang ada di novelmu, Aria."

Aku mengeryit. "Sebuah simbol setan?" Sebenarnya itu jawaban yang asal.

"Yah. Kau benar.."

"Sepertinya ini masalah serius, kalian harus menemui Sheriff Danzou itu atau kalian akan berakhir tamat."

Kak Itachi memasang wajah serius. "Memang itu yang kami rencanakan, sayang. Tapi, ini dia masalahnya.."

"Berhentilah mengatakan lelucon, sampah. Katakan dengan benar, kak."

"Sheriff Danzou 'kan pindah tugas ke tempat lain. Kumo kalau tidak salah.."

Oh, well. Ini memang masalah...

"Kenapa tidak bilang dari waktu itu, Itachi?"

"Aku baru tahu tadi pagi. Kemarin aku memang bilang kalau aku akan mengajak kalian ke rumah Sheriff Danzou. Tapi, setelah aku ke sana sendirian, anak lelaki di sana bilang jika Sheriff dipindahtugaskan, makannya aku kembali lagi ke rumah dan berencana menelepon ayah dan mengirimkan e-mail. Tapi tak ada jawaban.."


"Itachi, sekarang jam berapa?"

"Tiga."

"Aku mengantuk."

"Kalau begitu, tidurlah bersamaku, honey.."

Dasar kak Itachi, sudah punya pacar masih saja menganggu perempuan lain. Aku tak habis pikir kenapa dia bisa begitu. Di luaran sana, ia selalu bersikap dingin dan sok tenang tapi berubah jika sudah datang ke rumah dan ketika matanya menemukan sosok minim bicara, serba putih seperti Aria, dia akan terus menggombal.

Untung saja paman tidak mendengar ini atau dia akan mengamuk dan terjadi perang dunia ke lima. Aku sudah membayangkan seperti apa jadinya jika mereka berdua kelahi. Tapi, aku bisa saja menjadi wasit untuk mereka berdua.

Tentu saja, seperti yang bisa kalian lihat, kami sudah berada di dalam rumah. Masih dengan menyetel tv keras-keras demi menghalau rasa takut. Tapi, sejauh apapun berusaha, hantu tidak takut dengan suara tv.

Aria mendehem. Aku menatapnya lekat-lekat. "Kembali ke topik. Aku memang mendengar jika rumah ini bekas pembantaian dan menjadi referensiku untuk novel berjudul Jubah Hitam. Narasumber itu memang Sheriff Danzou. Tapi aku tidak tahu kalau dia di pindahtugaskan ke Kumo."

"Oh, jadi itu alasan kenapa aku melihat simbol yang sama seperti di novelmu, Aria?"

"Yup. Karena simbol itu memang berasal darisana. Konon, pembantaian ini di lakukan pada keluarga bekas penyihir. Sama seperti kisah penyihir kebanyakan di era modern, mereka mati dan tamat. Makanya aku kaget ketika Itachi bilang kalian pindah ke sini.."

Aku tertawa jenaka. "Oh, ya penyihir dan kita akan di kutuk menjadi kodok oleh keluarga penyihir. Ini tidak bagus, apa aku harus mencari exorcist? Ghost Buster?"

Sebuah tepukan hangat mendarat di bahuku. Seulas senyum tipis nyaris tak terlihat di tampilkan oleh Aria. "Ghost Buster itu hanya fiktif, Sasuke. Jangan bercanda. Kita harus menunggu fajar dan menemui Sheriff Danzou. Kalau tidak salah dia punya keluarga, namanya Shimura Sai."

"Namanya terdengar seperti seorang tukang ice cream.."

"Cerewet kau, Itachi.."

"Lalu, Fugaku-san di mana?"

Aku menjentikan jari. "Nah, itu dia, Aria. Ayah bilang dia lembur tapi aku tidak tahu. Pakun juga menghilang.."

"Kenapa tidak menelepon saja?"

"Ayah tidak bisa di ganggu kalau dia sedang bekerja, dia bilang ini penghalang yang menghebohkan..."

Aku sangat menyesal dengan prinsip hidup ayah yang merepotkan ini.

Aria menghela napas, memejamkan mata pelan dan bersandar di bahu paman Obito. Ia menggumamkan sesuatu yang kurang jelas, seperti sebuah mantera yang hanya dimengerti dirinya sendiri. Paman sekalipun tidak mengerti dengan apa yang Aria katakan atau ia hanya salah tingkah oleh sosok kecil dan lembut dari seorang gadis.

Tapi kurasa yang Aria katakan adalah sesuatu yang kurang penting. Atau dia memang sedang bergumam karena kelelahan.

Ah, tidak apa-apa...


"Oi, bangun.."

Aku membuka mata, memandangi sekeliling yang kurang jelas dan agak berkabut. Sebuah sentilan halus mendarat di pipi, buatku melenguh akibat sentuhan kelewat lembut seperti ini.

Dirasa jelas oleh wajah kalem yang merefleksi di pelupuk mata buatku terperanjat. Aria ada di depan wajahku, mungkin jaraknya sangat dekat, satu dorongan lagi akan membuat hidung kami bersentuhan dan nyaris berciuman.

Aku salah tingkah oleh perlakuannya ini.

"Wh-whoaaaaa... a-ada apa, Aria?"

"Kupikir ini serius..." ia memasang tampang sedih. "Obito dan Itachi menghilang.."

"HA? Kok bisa? Bukannya kau tadi menyender padanya?"

Ia nampak berpikir. "Aku juga tadi merasa begitu. Tapi, saat aku bangun mereka semua tidak ada.."

"Sudah mencari?"

Ia mengangguk. "Sampai gunung tertinggi.."

Ini buruk, setelah Pakun menghilang dan ayah yang tak kunjung pulang, kini giliran kak Itachi dan paman Obito yang menghilang. Meski, jika aku boleh jujur aku senang sekali kakak menghilang, karena dia cerewet. Soal paman, aku berharap banyak padanya, dia adalah sosok pengganti ayah yang selalu sibuk dengan pekerjaan kantor.

Everybody loves Obito Uchiha!

"Kalau begitu kita cari paman Obito dan kak Itachi.."

Aria nampak bimbang. Ia memasang ekspresi tersakiti sekaligus takut, saat itu juga ia duduk di sebelahku, tidak melakukan apapun dan hanya terdiam. Ini dan itu adalah gestur yang tak jelas, ia harus bicara padaku, setidaknya menjelaskan apa yang sebenarnya ia pikirkan.

Diam bukanlah jawaban. Tapi terlalu banyak bicara akan menimbulkan masalah, setidaknya dia harus mengatakan sesuatu yang logis.

"Tadi pagi ada yang ke sini.." Ia memulai. Aku mulai mengikuti arah pembicaraan. "Dia bilang, dia bisa membantu kami mengatasi ini.."

"Seperti apa dia?"

"Um? Dia menyebut dirinya pengexorcist. Dia tahu tentang hal buruk yang menimpa Obito dan Itachi.."

"Serius? Jadi sebenarnya paman dan kak Itachi di mana?"

Belum sempat Aria menjawab, sebuah objek dengan langkah penuh kehati-hatian muncul, menampilkan ragam kreatifitas dari cara ia berpakaian. Semuanya serba hitam, kecuali raut muka datar dan kulit kelewat pucat nampak kurang sinkron. Ia seperti seumuran denganku, berambut hitam dengan tampang memesona.

"Aku ke sini karena aku juga mencari ayah. Maaf soal kebohongan pada kakakmu.."

"Eh? Siapa kau, tolol?"

"Shimura Sai. Aku... anggap saja pengexorcist karena aku punya darah Shimura dan masih mempunyai hubungan dengan makhluk yang menculik kakak dan pamanmu. Tapi, ada sesuatu yang harus kita lakukan.."

Aku terdiam sejenak, mencerna kata-kata dari lelaki bernama Shimura Sai ini. Sengatan penuh kebencian membumbung tinggi di atas kepalaku, entah dia mengatakan sesuatu yang benar atau hanya kelakar bodoh ala tukang santet. Dia pasti akan meminta uang banyak dari cara mengusir hantu dan apa tadi? Paman dan kakak di culik hantu? Manis sekali.

"Manis sekali, Shimura-kun. Kau berpikir kalau paman dan kakakku di culik setan?" Aku menyindir.

Ia menunjuk. "Ayahmu juga.."

Aku mendelik. "Tahu darimana, bodoh?"

Ia mengeryit, seolah aku sedang kesurupan. "Boleh kukatakan hantu itu senang menculik orang berambut hitam? "

Aria setengah berteriak. "HA? K-kau serius, Shimura-san?"

Shimura Sai memiringkan kepala, tersenyum dengan cara aneh. "Tidak. Aku bercanda. Karena ini, maksudnya tahun ini saatnya para hantu itu mengambil tumbal atau kota ini akan dapat kutukan.."

"Ma-maksudmu apa Shimura-san?"

"Oh. Ayolah, para hantu itu penyihir, saat mereka di bantai mereka mengutuk warga disini agar mendapat kesengsaraan. Tapi warga mendapat cara baru, yaitu membunuh beberapa manusia dan akan di jadikan tumbal..."

Oh.

Tuhan.

Mati aku.


TBC

Thanks buat temen-temen yang udah nyempetin diri buat baca ini *love emoticon kiranya ini bakalan berakhir di chapter 4 eheheh soalnya saya gak mau terlalu banyak buat chapternya ahaha.