Naruto bukan milik saya, mereka milik Masashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini. Dan maaf buat late updatenya.

.

.

.

Takut adalah sifat alami seluruh manusia di bumi. Entah itu wujud kurang ideal yang tak nyata, segerombolan makhluk tanpa mata yang mengusik atensimu. Atau hal di luar nalar yang sulit kau prediksi. Akan kuceritakan ini, cerita gelap dari lembah yang paling dalam, mengusik tidur malammu dan mimpi indahmu. Ini tentang. Hantu.

.

.

.

Poltergeist Report

.

.

.

Chapter 4

"Jadi, apa yang kau butuhkan, Sai-kun?"

"Errr.. aku sudah mengumpulkan bahan-bahannya.."

"Tapi, apa yang akan kita lakukan?"

"Upacara Pengusiran Setan serta mengambil orang-orang..."

Kuamati barang-barang yang tergeletak di atas meja, semuanya di bungkus kain hitam di dalam sebuah kardus cokelat yang lumayan besar ukurannya. Ada bau aneh di dalam sana, tapi aku tidak tahu itu apa, Aria bilang itu sebuah menyan dan minyak aneh yang selalu ada dalam sajian sesajen. Seperti saat aku ke Bali, aku menemukan bau-bau seperti ini saat study tour bersama Naruto.

Tapi, diantara semua bahan di dalam kardus, Sai hanya terpaku pada kamera yang menggantung di lehernya, awalnya aku tidak mau mengambil pusing dan terkesan meremehkan kerja keras untuk mengembalikan orang-orang, sesaat ia berkata. "Pernah nonton film hantu? Kamera ini bisa menangkap gambar hantu dan memotret sendiri jika makhluk astral itu ada.."

Bagus sekali, Shimura Sai. Tapi, ini terkesan mengada-ngada. Oh, ayolah! Aku tidak paham, Sai. Tapi, jujur. Aku memang sering mendengar jika hantu bisa di potret oleh kamera khusus yang sudah di setting sedemikian rupa, entah bahan apa saja yang di butuhkan, tapi kamera itu keren dan agak menyeramkan.

Kau tahu lah, memotret setan itu tidak semudah mengambil foto gadis berbikini.

Sai mengotak-ngatik kamera itu, bentuknya agak jadul, kupikir kamera itu hanya itu saja ( bentuknya ) tapi ia menambahkan hal-hal lain untuk di sematkan. Selanjutnya, ia mengambil sebuah kayu penyangga beroda dengan kaki tiga buah agar bisa berdiri dan di bawa lari ( mungkin ) ke sana dan ke mari.

Aria muncul, membawa korek api dan satu kardus kapur bewarna putih, beberapa air dalam botol plastik yang menurut Aria dia dapat dari Gereja dan bungkusan keresek dari Winter Market.

"Shimura-san, kau bilang barusan tahun ini adalah tahun di mana Para Setan mengambil tumbal, memang apa yang terjadi di masa lalu?"

Itu Aria yang bertanya.

"Ya, aku penasaran. Sai-kun.."

Kala Sai sedang menata batangan lilin-lilin dari dalam kardus cokelat, ia mendongak, mengamati wajahku yang juga penasaran dan Aria, seulas senyum terlukis di wajahnya, terlalu tipis hingga tidak bernilai sama sekali.

Dia mungkin menyukai Aria.

Hah, saingan lagi.

"Terjadi lama sekali.." Sai memulai. Memikirkan meski tak mau mengingat, tapi ia nampak setuju soal ini. Cerita-cerita masa lalu telah membumbung tinggi di kepala dan siap untuk terealisasi.

Ia melanjutkan. Ada senyum sedih terkulum di sana. "Waktu itu desa ini aman dan sejahtera, panen apel, jagung dan sayuran selalu berlimpah pokoknya semua selaras! Tapi, beberapa bulan setelah panen apel, mendadak ada penghuni baru. Sangat aneh mendapati warga baru di desa terpencil seperti kami. Mereka keluarga yang harmonis, mereka terdiri dari 2 anak perempuan, ayah dan ibu.."

Aria mengibaskan tangan. "Pasti ada hal menarik di sana.."

Sang pelopor dari cerita mistis tersenyum, lagi. "Kau benar, Yuzuru-san. Awalnya biasa saja, tapi lambat laut menjadi hal yang menarik untuk diprediksi. Saat itu panen menjadi buruk, sangat! Dan ini semakin parah setiap tahunnya. Di tambah, beberapa anak di kabarkan sering hilang tanpa sebab dan mati dalam keadaan terpotong-potong. Ada tanda aneh di leher mereka, seperti simbol yang ada di novel Yuzuru-san.."

Pasti alasan dari kegagalan itu semua adalah sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang bisa membawa petaka yang berkepanjangan. Dan aku yakin penyebabnya adalah mereka. Aku menunggu saat-saat menegangkan ini, menunggu hingga Shimura Sai ini melanjutkan.

"Terlambat untuk berontak. Keluarga baru itu di tuduh membunuh para anak, kudengar ada potongan kaki manusia di dalam sofa dan kaki itu memakai gelang yang sama persis dengan anak yang hilang!"

"Kenapa bisa?" Aku terkaget, saling beradu pandang dalam ketakutan. "Lalu?"

"Kurasa karena salah seorang warga di sana mendapat nasib sial. Saat berkunjung untuk mengundang keluarga tersebut pesta, ia menemukan kaki manusia.."

Aria mengeryit, mengusap dagu sembari membuang muka, ia mungkin mendapat versi cerita yang berbeda dari Danzou. Ini hanya prediksiku saja, mengira-ngira.

"Para warga mulai mengambil tindakan main hakim dan membakar ayah dan ibu itu, salah satu anak mereka di congkel matanya dan yang satunya lagi..." Sai nampak ragu untuk melanjutkan, ia menatap sedih aku dan Aria bergantian ada tetes mata yang jatuh. "Lengan dan kakinya patah saat mencoba kabur dan mereka meremukkannya. Saat itu, kala kesabaran sang ibu sudah habis dalam kobaran api. Ia bersumpah! Sumpah mengerikan yang berubah menjadi kutukan!"

Mungkin yang di congkel itu mata milik anak perempuan di kamar mandi. Dan yang patah tangan dan kaki adalah hantu yang mengejar aku, paman, kakak dan Aria.

Langsung saja aku gugup. Gegap gempita ini buat jantung berdetak tak normal, kepalaku pusing tak karuan, seperti meminum kafein terlalu banyak."Ku-kutukan?"

"Ya.. kutukan itu merujuk pada.. bunyinya begini. Setiap tahun, di malam dan tanggal tertentu. Saat bulan purnama menyinari lubang di tanah, para warga di sini akan mendapat kutukan berupa penyakit. Penyakit yang tak dapat di sembuhkan dan menular, kalian tidak bisa kabur dari desa ini, karena kutukan akan terus menghampiri meski kalian tidak di sini lagi..."

Aku menelan ludah, keterkejutanku membuat atmosfer menjadi lebih mencekam, takut jika makhluk-makhluk aneh itu muncul sebelum upacara pengusiran selesai. Jujur saja, sebenarnya aku tidak terlalu percaya hal-hal mistis dan hantu aku juga lupa kapan terakhir pergi ke gereja, hanya paman dan kakak yang selalu pergi.

Aku sedikit menyesal tentang ini. Memang, penyesalan selalu datang di akhir. Seharusnya aku lebih rajin berdoa dan pergi ke Gereja. Aku telah melakukan sebuah kesalahan besar.

"Is that working?"

"Yes, miss Yuzuru. Penyakit itu agak aneh, aku tidak mengalaminya. Tapi kakekku bilang, penyakit kutukan ini semacam eksim, amnesia dadakan dan malah ada mayat yang kembali hidup padahal sudah mati bertahun-tahun.."

Aria tercekat, mengusap peluh yang bersarang di helaian. "Spooky.."

"Yah, tapi kakek menemukan satu cara. Maksudku, ia mendapatkan itu dari mimpinya! Dia bermimpi jika ia harus menumbalkan tiap orang setiap tahun agar kutukan itu ternetralisir.."

"How a ironically. Bagaimana ia bisa melakukan itu? Dan apa kau punya solusi? Tidak mungkin kau membunuh orang setiap tahunnya.."

Sai menghela napas. "Puji Tuhan, ayah menemukan solusi. Tumbal manusia yang sering di lakukan di era lama di gantikan dengan Upacara Pengusiran. Tapi sepertinya hal ini semakin parah dan para makhluk itu mengamuk dan semakin kuat.."

"Mengerikan.."

"Aku yakin. Kita dapat membawa orang-orang dan menghentikan kutukan ini! Aku sudah belajar membuat segel. Aku akan menyegel mereka.."


Sai mengajak kami berdua ke tempat yang sepi, agar ia lebih berkonsenterasi dengan pekerjaanya. Di sini, di garasi mobil yang gelap. Aku melihat-lihat sekitar dan lubang yang di sebutkan kak Itachi menghilang! Aneh memang.

Sai bilang, Upcara Pengusiran harus di lakukan di tempat yang gelap, maksudnya mungkin tempat minim cahaya, luas dan agak sepi. Ia mungkin harus berkonsenterasi untuk pekerjaannya. Beberapa menit yang lalu aku bertanya, Kenapa bukan Danzou saja yang melakukannya?

Lalu, Sai menjawab dengan sabar dan kelewat datar. Ia bilang ayahnya terlalu tua untuk melakukan ini dan itu, dulu sekali Danzou yang menghalau beberapa pengusiran setan sebagai sambilan menjadi Sheriff, sekarang Sai yang menggantikannya.

Keren.

Aria menunjuk sesuatu. "Simbol itu, pentagon 'kan?"

Sai mengacungkan jempol. "100 point for you, miss Yuzuru! Ini memang pentagon, aku harus membuat seperti yang ada di gambar.."

Aria mengeryit, heran. "Kau tidak sedang memanggil Dark Lord 'kan?"

"Kita lihat saja. Anjurannya memang seperti itu.."

Aku berjalan mundur, membiarkan Sai menggambar dengan kapur putih di lantai tanah, ia membacakan suatu kalimat dengan pelan dan berulang kali. Aku tidak dapat mengikuti gerak bibirnya, sejarak kemudian ia meminta sebuah lilin, menyalakannya di berbagai sudut simetris dengan lugas.

"Sasuke, apa kau yakin?" Aria bertanya ketir, memberikan padaku kamera milik Sai yang ia titipkan.

"Soal?"

"Shimura-san. Aku agak takut. Versi cerita Sheriff Danzou dan Shimura Sai ini berbeda.."

Dugaanku tepat, lady!

"Jadi, Sasuke. Kau mau percaya pada siapa?"

Belum sempat kumenjawab, sebuah tangan ringkih nan gelap muncul dari balik celah kolong meja bekas di belakang Aria. Jantungku seolah berhenti berdetak, peluh menetes, badanku mengejang.

Tangan itu, tangan aneh itu, berjalan pelan di lantai sembari meraih-raih sesuatu. Tangan hitam, kuku panjang, kurus, gosong dan penuh dengan luka-luka. Sebuah tangan bergerak yang borok sedang berusaha meraih kaki Aria!

"A-Aria.."

Kuambil kamera milik Sai yang ada di leherku untuk mengambil sebuah potret.

"Sasuke? Ada apa?"

Sejurus kemudian, sebuah wajah tak ideal muncul. Memberikan senyum kurang etis sembari memungut tangan ringkih.

Lalu berkata.

"Tanganku..~ Ketemu..~"


Sorry for late update. Banyak yang harus di selesaikan jadi ini terbengkalai.. xD but, I lied.. ternyata masih lanjut hehe