Jimin kembali merebahkan dirinya dan menimang handycam kecilnya. Demiapapun.
"aku bahagia.." ungkapnya dengan perasaan yang masih membuncah
Dia masih tak percaya bagaimana figur yang ia idolakan melampiaskan kecupan hangat beberapa jam yang lalu. Meninggalkan kenangan manis dikala hatinya masih cemburu dengan adegan Romeo dan Juliet.
Apalah arti gender, kalau aku sudah jatuh cinta padanya..
Setidaknya kecupan tadi sudah sedikit jelas menggambarkan Min Yoongi merasakan hal yang sama. Aku benar benar berharap semoga Tuhan mau menyatukan kami. Mungkin aku terlalu berharap?
Entah, tapi kurasa inilah jawaban yang ia tunggu. Min Yoongi, adalah cinta pertamanya.
Drrtt..sebuah pesan singkat masuk
[new messages from ]
"Hari ini kamu kuliburkan, bersenang senanglah dengan teater, besok kuharap kamu datang tepat waktu"
Reply : Terimakasih Tuan Kim, besok aku akan datang :)
Jimin masih terus memandangi langit langit kamarnya dengan tersenyum. Ia masih tidak sabar menunggu hari esok,
perasaan ini tak dapat dipendam lebih lama.
Jarak tempat tinggal Jimin dengan gedung teater tidak begitu jauh. Di perjalanan menuju kesana, Ia memutuskan untuk menghampiri kedai cokelat langganan –ingin memberi hadiah kecil untuk Yoongi, katanya
Kedai itu sendiri sudah menjadi rumah baginya, bahkan pemilik toko sudah kenal baik dengan Jimin. Maklum, anak perantauan seperti Jimin masih perlu kehangatan seorang ibu, bibi Lee –sang pemilik toko, sudah ia anggap sebagai ibu nya sendiri.
"bibi!" teriak Jimin dengan ekspreksi yang jarang ia lihat, "Jimin! Wah kamu hari ini tampak bahagia, ada apa ini? Sepertinya kamu belum bercerita padaku, hm?" bibi Lee melepaskan dan menggantungkan apron bernoda cokelat itu untuk menghampiri Jimin.
"ah, aku hanya sedang jatuh cinta" senyumnya. "wah perempuan beruntung, dicintai pemuda bersemangat dan tampan sepertimu-"
Jimin hanya tersenyum lirih tatkala bibi Lee mengucapkan kata 'perempuan beruntung'
Rasanya ingin sekali ia membidas pernyataan itu, mengucapkan 'bahwa ia jatuh hati pada seorang pemuda juga' namun rasanya mustahil untuk berkata sejujur itu padanya.
"apa yang kau cari sayang?" tawar bibi Lee yang nampak sibuk mengeluarkan cokelat kecil yang dihias dengan ornamen lucu dan simpel.
"aku mau cokelat yang disukai banyak orang bi, cokelat yang melambangkan rasa cinta" ujarnya puas.
Bibi Lee mengangguk dan mengeluarkan sekotak kecil cokelat dengan ornamen pita merah diatasnya, "nah ini, kurasa cokelat ini pas untuk pasanganmu, ambilah, anggap hadiah dariku untukmu" Jimin senang bukan main, diterimanya cokelat itu dengan senang hati sambil memeluk bibi Lee "terimaksih bi, aku sayang padamu, semoga kedai ini makin laris!" Jimin kemudian pamit dan meninggalkan kedai itu dengan bersemangat.
"...amiin, dan semoga kamu dan pasanganmu selalu diberkati"
Sesuai dengan perjanjian, Jimin datang lebih awal daripada yang lainnya. Gedung yang ia pikir akan sepi, nyatanya ramai sekali dengan para pekerja yang sibuk menyusun panggung. Ada yang sibuk melatih tarian, ada yang kewalahan membawa koper besar berisikan kostum dan adapula yang sibuk menyatukan suara dalam sekelompok iring iringan.
Lampu sorot itu nampaknya sedang di cocokkan dengan setting panggung, suara suara bass dari sound system juga memenuhi ruangan, membuatnya makin riuh. Jimin hanya terdiam sambil mengenggam erat erat kotak kecil pemberian bibi Lee.
Sekitar sepuluh menit Jimin mematung, datanglah seorang wanita yang tak ia kenal. Dengan kemeja putih kusut dan kacamata tebal. Ia mendatangi Jimin dan mengajaknya pergi tanpa mengenalkan diri
"maaf, sepertinya anda salah orang" Jimin menolak,
"eum, tidak... ini benar kok bau raspberry.." wanita itu kembali mengendus bahu Jimin, membuat pemuda itu makin risih, "hei!"
"maaf, kamu Park Jimin kan?" wanita ini benar benar tak tahu sopan santun, tadi ia mengendus tubuhku, lalu memanggil namaku? Menyebalkan
"ya, aku Park Jimin" jawabnya dengan singkat, wanita itu tersenyum kikuk "aku Kang Seulgi, asisten pribadi Tuan Min Yoongi" ia benar benar wanita yang konyol, batin Jimin.
Jimin masih sedikit jengkel dengan perlakuan tadi,"Park Jimin, ikut aku, kamu sudah ditunggu Tuan di ruangannya"
Wanita itu menarik lengan Jimin dengan paksa, "tunggu! Bagaimana aku bisa mempercayaimu, kalau Tuan Min tak pernah mengenalkanmu padaku?" pekik Jimin dengan nada sedikit memaksa
"Tuan Park, kurasa Tuan Min seharusnya sudah memanggilmu dengan panggilan raspberry jauh sebelum aku mengenalimu dengan raspberry juga" jelas Seulgi dengan nada dongkol.
"maksudnya?" Jimin benar benar tidak paham tentang apa yang dibicarakan wanita gila ini.
"begini, Tuan Min memiliki cara unik untuk mengenali orang lain. Ia akan memberi nama unik seperti Honey, Mint, dan Raspberry hanya untuk orang orang yang ia kagumi" Jimin terdiam, sementara wanita ini masih sibuk menjelaskan,
"Ia pernah mengagumi wanita dari Asia Timur dan ia memanggilnya dengan sebutan Honey, Ia mengagumi wanita dari Timur Tengah dan memanggilnya Mint, dan sekarang.."
"—aku sebagai raspberry?" sambung Jimin dengan nada getir,
"benar sekali" tutup Seulgi, ia benar benar tidak tahu bahwa jabatannya sekarang otomatis berada diujung tanduk.
Wanita jalang yang tak bisa jaga rahasia.
Jimin menelan ludahnya dengan berat, 'apa yang membuat Tuan Min memberi nama spesial seperti itu?"
"Pandanganku akhir akhir ini buruk," Kang Seulgi membenarkan letak kacamatanya yang tebal itu,
"jadi Tuan Min menyuruhku untuk mencari orang spesialnya dengan bau badan yang unik, kebetulan sekali kamu memiliki bau raspberry" lagi lagi Jimin diam.
"dan setiap orang yang mendapat panggilan khusus seperti itu, sudah pasti mendapat kecupan dari Tuan Min, benar kan? semata mata untuk mencicipi rasa mereka dan memanggilmu sesuai dengan rasa yang mereka miliki" Jimin benar benar tak habis pikir, diremasnya cokelat pemberian bibi Lee dan berlari meninggalkan gedung.
"Tuan Park! Tunggu! Tuan Min kan memangilmu!" wanita itu berteriak, mencoba untuk menenangkan perasaan Jimin yang pastinya shock dengan informasi tersebut.
Jimin menghentikan langkahnya, ia berbalik badan "baiklah, kalau ia memanggil, tunjukkan aku ruangan si brengsek itu" ujar Jimin dengan perasaan pedih.
Kupikir, kamu benar benar tertarik padaku Min Yoongi
To be continued..
