Bau harum mawar menyerbak ketika pemuda malang itu memasuki ruangan Tuan Min, ia tak percaya dibuatnya.

Tuan Min, pria ini rupanya sedang asik membaca lembaran kertas di mejanya sambil mengetuk ngetukkan pulpen merah itu diatas meja kaca. Berharap ia masih sibuk saat Jimin benar benar masuk ke ruangan tersebut.

Semua menjadi hening, Min Yoongi masih asik dengan naskahnya, dan Jimin masih bergelut dalam perasaan tentang pemuda berwajah pucat itu, perasaan yang tiba tiba hilang ketika si kacamata itu mengudarakan kalimat raspberry untuk pertama kalinya.

"Hei!" ucapnya membuat yang muda kaget setengah mati

Dia pun tergesa gesa mengelap matanya yang hampir banjir karena air mata. Malang.

"ah iya" ujarnya dengan senyum yang khas, ia membungkukkan badannya serendah mungkin pada orang yang pernah ia kagumi. "duduklah-" ucap Yoongi seramah mungkin. Statis, tak ada apapun yang terjadi sampai yang tua memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan

"lapar?" ucapnya dengan halus sambil memandang Jimin yang masih tertunduk di hadapannya. Bukan main, Jimin tak pernah merasakan kehangatan ini sebelumnya. Jimin hanya menggelengkan kepala, berusaha sekuat mungkin menolak permintaannya dan meyakinkan dirinya bahwa kecupan kemarin hanyalah sebuah lelucon dari seorang Min Yoongi. Orang dihadapannya.

"Jimin, kamu berbeda, sakit?" kali ini dia berjalan mendekati pria mungil itu, memastikan bahwa ia benar benar baik baik saja. "Park Jim-"

"cepat katakan maskud Tuan memanggil saya!" bentakan itu lantas membuat Yoongi terdiam sesaat. Ia tahu ada sesuatu yang tak beres terjadi pada orang yang paling ia sayangi. Dan ia sadar kalau Jimin menangis sebab menahan sebuah amarah yang tak ia pahami.

"Maaf kalau saya pernah menyakitimu, tapi tolong jangan sebut saya Tuan, cukup dengan Min Yoongi" katanya tenang. "katakan apa yang membuat kamu resah, dan setelah itu kita akan makan malam bersama."

Jimin menelan ludahnya dengan kepayahan.

"kecupan kamu kemarin membuat saya berharap terlalu jauh, sampai sampai saya lupa kalau madu ternyata lebih manis daripada raspberry" Yoongi dibuat tak percaya dengan alasan Jimin, namun dengan pembawaannya yang tenang, ia mampu menutupi rasa kagetnya dan segera mungkin mengambil alih pandangan Jimin. Picik.

"Jimin, lupakan itu, dia hanya wanita gila!" enyah Yoongi saat itu juga.

"Ah, kupikir kamu begitu pandai sampai sampai menyewa asisten gila" ledek pemuda Park

Yoongi tak kuasa menahan malu, lantas ia alihkan perhatian Jimin dengan mendekati wajahnya dan mencium lembut bibir itu seraya berkata

"dengar, saya tak pernah merasakan madu lebih dari kamu, Park Jimin"

Bodoh. Park kembali jatuh kedalam pesona Min

"kamu yang paling indah dari yang lainnya, Park Jimin"

Jimin dijejali banyak pakaian mewah dan beragam, mulai dari jas, kemeja bahkan kaus polos pun tersedia, namun yang pasti semua harga pakaian itu pasti diatas rata rata. Ya, Min Yoongi sengaja memberikan pada Jimin agar dia dapat bersiap siap untuk makan malam nanti sementara ia mengerjakan sedikit urusan dibelakang.

Ia memutuskan mengenakan sebuah kemeja hitam berlengan pendek dan celana bahan hitam sebagai perpaduan yang pas untuk makan malam di pesta mewah. Simpel, tapi obsesinya akan warna favorit Min Yoongi menjadi alasan utama ia memilih pakaian itu.

Waktu berjalan sekitar sepuluh menit, lama menunggu, akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Yoongi yang sudah siap dengan setelan jas serba hitam tersenyum padanya. Ah, ini yang Jimin nanti. Lantas Yoongi menjemputnya dan menggenggam tangan pria mungil itu menuju lobby, tempat dimana mereka akan memulai sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih dari sekedar murid dan guru.

"urusanmu, sudahkah selesai?" tanya Jimin disela sela perjalanan mereka menuju parkiran. "sudah, dan hasilnya sangat memuaskan" ujarnya bangga dengan senyum sumringah, "syukurlah" ujar Jimin sambil mempererat genggaman tangan mereka. Tak ingin hilang. Mereka bergegas menuju mobil karena kilatan di langit itu mulai menyala nyala seakan mengolok bumi.

Jauh, mereka meninggalkan gedung teater megah itu,

Meninggalkan pula wanita gila yang telah kehilangan kesuciannya, terkurung di gudang penyimpanan sambil mengutuki nama Min Yoongi dalam jeritan.

Seperti kebanyakan pasangan lain, Yoongi telah menyiapkan sebuah perhiasan dan buket bunga untuk pasangannya. Menyewa pemain biola handal hanya untuk membuat momen mereka semakin indah. Yoongi memang senang membuat pria mungil itu malu malu dengan muka yang memerah. Ia lantas mengenggam tangan Jimin, mengucapkan banyak kalimat pujian padanya. Gombal memang, tapi Jimin tak perduli, ia terus menikmatinya sampai handphone nya bergetar menunjukkan pesan dari Tuan Kim.

"sial" rutuknya, menyela semua kalimat pujian Yoongi. "kenapa?" tukasnya heran.

"aku, harus pergi, ada sesuatu yang harus kukerjakan" tukas Jimin sembari merapihkan semuanya, menggenggam buket bunga itu dan mengenakan gelang silver pemberian Yoongi di tangan kirinya. "biar kuantar" ucap Yoongi yang ditolak halus dengan Jimin. "tak apa, aku bisa" Jimin benar benar pergi dari meja bernomorkan dua puluh satu itu, tempat dimana Yoongi menunjukkan gurat kecewa karena waktu berjalan begitu cepat, Jimin meninggalkan senyuman pada lelaki itu sebagai akhir dari malam mereka di restoran mewah berbintang lima.

.

.

.

"tak bisakah ia membiarkanku bebas sehari saja?!" gerutu Jimin di pinggir jalan, berharap taksi masih membuka pintu mobilnya untuk pria malang ini. Ia kembali melihat notif di handphone nya. Empat kali misscall dan sebelas pesan singkat dari Tuan Kim. "Sialan!" dan tepat saat itu juga taksi berwarna jingga berhenti didepannya dan menawarkan jasa untuk mengantarkannya ke pusat kota Seoul.

Jalanan kota nampak terang benderang, semuanya berwarna warni, gedung gedung saling berlomba lomba menjadi yang paling tinggi, tapi tak ada waktu bagi Jimin untuk menikmati pemandangan ini.

Setelah agak lama memandangi jalan yang makin sepi, Ia meminta sopir untuk menurunkannya di gang kecil, setelah transaksi selesai ia kemudian melanjutkan berjalan kaki ke dalam gang tersebut.

Bau alkohol dan asap rokok menyeruak kasar begitu Jimin memasuki kedai kecil, dan sudah diduga disana ada Tuan Kim dengan tatapan marah memandangnya. "bagus, pergi berkencan, dan lupa bahwa kamu masih punya kewajiban disini" ujar Tuan Kim menyadari bahwa anak buahnya datang dengan mendekap sebuah buket bunga cantik.

"ah, tak bisakah kamu membiarkanku bernapas sebentar?" gerutu Jimin sambil menunduk memandangi sepatu peminjaman Min Yoongi, "—kemarin aku sudah mencapai target bukan? Izinkan aku untuk istirahat sehari saja" sambung Jimin membela dirinya. Tuan Kim hanya bisa pasrah, ia tak bisa mengelak di satu pihak saja.

"Namjoon! Dimana dia!" suara melengking itu terdengar kencang dari lantai atas, menandakan ia mau tak mau pasrah dengan keputusan akhir Tuannya.

"Kamu kemarin sudah berjanji, Park Jimin..besok akan kuberi libur lagi apabila dia puas" ujar Namjoon pasrah melihat anak buahnya sedang memelas meminta keringanan.

"Baiklah! Akan kupegang janjimu!" Jimin seketika bersemangat, ia lantas menitipkan buketnya pada Namjoon "Tuan, tolong jaga ini baik baik, aku tak mau barang ini lecet atau bahkan rusak sedikitpun" tukas Jimin dengan sumringah,

"Ohiya, sebagai timbal baliknya aku akan mencetak uang malam ini lebih banyak untukmu!" ujarnya dengan senyum, sebelum ia benar benar hilang menuju lantai dua.

Dan pada detik itu juga, Namjoon merasa sangat bersalah karena memaksa Jimin bekerja terlalu keras disaat ia menemukan cinta pertamanya.

Tidak seperti biasanya, malam ini Jimin melayani wanita dewasa itu dengan perasaan campur aduk, ia terus menggoyangkan pinggulnya bersamaan dengan desahan panjang wanita itu, seraya mengucap dalam batin berkali kali kata maaf pada Min Yoongi.

Miris.

Jimin terlihat resah melayani wanita itu.

Ia juga tak sudi melepaskan gelang silvernya, setidaknya gelang dari Yoongi memberikan kekuatan untuk berbuat dosa di malam minggu ini.

To be continued...