Naruto bukan milik saya. Mereka milik Masashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.
.
.
.
Takut adalah sifat alami seluruh manusia di bumi. Entah itu wujud kurang ideal yang tak nyata, segerombolan makhluk tanpa mata yang mengusik atensimu. Atau hal di luar nalar yang sulit kau prediksi. Akan kuceritakan ini, cerita gelap dari lembah yang paling dalam, mengusik tidur malammu dan mimpi indahmu. Ini tentang. Hantu.
.
.
.
Poltergeist Report.
Tangan sialan itu, rapalan mantera, tanah bergetar membuat kepalaku pusing. Semuanya berputar-putar bagai menaiki komidi putar yang sengaja di setting sangat cepat. Aku berdiri di tempatku, tak mampu berdiri, berujar, bernapas dan bertahan.
Ada sensasi aneh di dadaku, rasanya panas dan seperti melayang, seperti saat kau tertembak peluru atau di siram air panas di wajah. Ketika aku sadar akan semua ini, ada sebuah tangan memeluk dari belakang, tangan hitam yang borok dan ringkih. Kupejamkan mata dengan erat, menahan tangis dan tetap berdoa. Tangan itu akhirnya menghilang dengan sendirinya.
Tapi.
Itu bukan akhir dari petaka. Ini sebuah awal.
Semua terjadi begitu cepat, hingga aku tidak sadar jika makhluk di bawah kolong lemari itu sudah berhasil menangkap aku dan Aria, makhluk itu sudah lima langkah lebih maju.
Jadi, yang tadi itu hanya pengalihan?
Lambat laun semua itu terasa semu saat Sai membacakan mantera dan pintu terbanting keras, kertas-kertas yang entah dari mana berterbangan, barang-barang bekas berbenturan saling menabrak diri.
Kuingat saat itu adalah wajah serius Sai, kitab di tangannya, seringai halus, nyanyian gadis-gadis gereja muncul secara tiba-tiba dan melengking di akhir bait setelah itu kartu kematian atas namaku berterbangan di sekitar memperlihatkan kengerian akan kematian.
Dan yang lebih mengerikan adalah..
...Yuzuru Aria yang mati.
Mati dalam pelukanku. Darahnya bersimbah, hingga aku merasa kalau aku habis mandi. Aku berkeringat dingin, mataku membelalak, tak stabil, pertahananku hancur.
Ingin teriak. Sulit.
Ada sebuah pisau di punggung Aria. Oh, bukan. Hantu wanita berambut acak-acakan itu memakan jasad Aria.
Tuhan.
Tolong aku..
Ku menoleh, di tepuk bahu ini dengan keras. Saat itu aku melihat, tawa paksa yang menyeramkan. Tidak ada sesuatu yang ideal di wajahnya. Hanya bola mata kosong dengan bibir robek bekas jahitan.
Lalu..
..dia berujar.
"Kak, Kak Sasuke? Main yuk?"
"Sekarang, giliranmu.." Sai tersenyum kecil, sebuah wajah penuh belatung milik anak kecil itu mendekatiku.
Lalu berbisik. "MATI.."
"SASUKE!"
Apa aku akan mati?
"CLEAR.."
"Coba tambah lagi.."
Kurasa aku sudah..
"CLEAR.."
"FOR A GOD SAKE.."
"Tambah.."
"SASUKE, PLEASE WAKE UP!"
Hentakan keras di jantung buatku terbangun, mata yang berkunang-kunang ini tak merefleksikan apapun. Ada suara hangat di sana, sebuah suara terisak yang tertahan dan ingin cepat keluar.
Sentuhan ini..
Aria?
"Tuhan, terima kasih.."
"Dia bangun, semua berjalan lancar dok.."
Kabut putih merangsek masuk ke dalam mata, tubuh mati rasa ini tak bergerak sama sekali. Sialan, aku tidak bisa bergerak. Payah. Tubuhku kaku seperti rusak syaraf.
Gerakan cepat seperti tersambar petir mendekat. Dapat di lihat dengan jelas wajah-wajah itu sekarang. Yang satu perempuan menjengkelkan yang menjadi mantan pacarku, berambut merah muda dan yang satunya lagi lelaki berambut pirang.
Sakura dan Naruto.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Akhirnya hanya itu yang berhasil keluar dari bibir.
"Apa maksudmu? Kau kecelakaan!" Sakura membuat pertahanan, ia mengusap peluh di keningku meski aku membuat penolakan.
"Lalu?"
"Kau pasti bingung. Naruto, panggil suster, aku ingin dia memeriksa Sasuke.."
"Ck, Saku, kalau kau hanya ingin berduaan dengan Sasuke sih jangan harap, yah! Di sebelah kasur Sasuke ada alarm atau bel otomatis. Suster yang jaga akan datang, jangan BO-DOH.."
Aku tertawa dalam hati, goodjob, bocah Uzumaki.
"Aria mana? Aku mendengar suaranya barusan.."
Sakura dan Naruto saling beradu pandang. Mereka membisikan sesuatu yang telihat amat serius setelah membelakangiku, sesekali Naruto melirik dari bahu, hingga aku sedikit risih dengan gelagat mereka berdua. Aku memang tidak terlalu menyukai mereka berdua, karena sifat menganggu sudah sangat kronis dan masuk ke DNA.
Sialan. Lagi-lagi aku malah memenuhi kepalaku tentang mereka. Itu tidak penting, mereka bukan prioritasku.
"Aria yang kau maksud itu. Yuzuru-san ya? Pacarnya pamanmu?"
"YA. Siapa lagi kalau bukan dia? Dan satu lagi, Aria itu BUKAN pacar paman Obito!"
Naruto mendelik. "Jangan teriak, tolol. Kau masih dalam perawatan. Dan yah, aku tahu kalau Aria-san BUKAN pacarnya Obito-san; tenang.."
"Dia kritis dan belum siuman. Keadaannya aneh ya, Naruto?" Sakura menatap Naruto heran. Ada kekuatiran tersirat dalam bola mata hijaunya. Sejurus kemudian ia menatapku.
"Sasuke, kau tahu Yuzuru-san kenapa? Dia seperti di serang hewan buas atau semacamnya. Kau ada bersamanya saat kau di temukan.."
"He-hewan? Tapi, Aria masih hidup 'kan?"
Naruto kembali marah. "Tidak sopan memanggil Aria-san dengan namanya saja! Dia seumuran dengan pamanmu dan guru Kakashi.."
Aku menimpali. "Mantan guru. Dan aku memanggil namanya seperti itu karena Aria yang menyuruhku. Lagi pula, kami terlihat seperti seumuran.."
"Bicara soal Yuzuru-san dia amat parah, Sasuke. Ada luka sayatan, cakaran, pukulan dan tusukan yang banyak. Dia kehabisan banyak darah..."
Sesaat itu juga kepalaku terasa sakit, ada dengung keras di dalam kepalaku. Di susul oleh pukulan-pukulan statis dan tak normal berjejalan di kepala. Sebuah ingatan yang sempat terhapus muncul kembali. Ingatan lama nan mengerikan akan..
...hantu.
Dan.
Shimura Sai.
Darahku langsung mendidih.
"Kakak dan Paman?"
Naruto mengusap peluh di dahiku, lalu berbisik. "Maaf, Sasuke. Tapi mereka belum di temukan, maaf.."
Sebenarnya...
Apa yang baru saja terjadi?
"Woi, Sas. Tadi, kau bilang Aria-san memanggil namamu 'kan? Tapi, jujur saja, dia sudah begitu sejak 3 hari yang lalu. Jadi, itu tidak mungkin suara Aria-san.."
Aku terheran-heran. "Dan keluarganya?"
"Aku tidak tahu. Tidak ada yang datang ke sini, ayahku yang bertanggung jawab atas ini, Sas.."
Para dokter bilang aku tidak diizinkan masuk ke ruang rawat Aria. Jadi, aku hanya bisa mengamatinya dari balik jendela, tidak dapat menyentuhnya. Seperti mengamati bayi yang baru lahir dari inkubator. Ada banyak selang yang menempel di tubuh Aria. Bahkan, dari jarak ini dia masih terlihat menawan, walau kulitnya jadi tambah pucat.
Kasihan...
Naruto bilang, aku hampir mati dan mungkin sudah mati. Alat kejut jantung ini membantuku hidup. Tapi, aku kesulitan berjalan karena kedua kakiku patah dan aku harus menggunakan kursi roda. Sayangnya tangan kananku juga patah tapi tidak masalah.
Naruto dan Sakura belum mau cerita apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka bilang semua pengobatan ini di tanggung Dad Minato. Hanya itu saja yang mereka katakan.
Karena ayahku. Tidak pernah pulang.
"Aria, jika kau bangun. Aku harap kau bisa membantuku, aku takut sendirian. Apa aku harus mengecup bibirmu agar kau bangun?"
Kudengar Naruto mendengus untuk meledek. "Jangan gombal ya? Mana mau Aria-san di cium kau. Dasar pecinta MILF!"
"Dia mencintaiku.." Jawabku bodoh.
"Lucu sekali. Aria-san yang aku tahu dia naksir pamanmu. Sudah lupakan, mari jernihkan pikiranmu dulu. Kau pasti sedang banyak masalah, bukan?" Ini dimulai dengan Naruto yang mendorong kursi rodaku, berjelajah di rumah sakit dan mengobrol singkat.
Sebenarnya aku malas meminta bantuan Naruto. Tapi, aku sudah berteman cukup lama dengan dia. Yah, beberapa tahun yang agak menyenangkan.
Dia memang bukan tipe orang yang bisa di ajak berkompromi, tapi Naruto akur dengan siapapun yang ada di muka bumi ini. Percayalah, dia mahir mencari teman.
Dan anehnya aku langsung akrab dengannya setelah kejadian di Bali. Seolah ada tali keterikatan persahabatan. Tapi, saat menginjak bangku SMA kami berpisah.
"Hei, bagaimana rasanya?" Naruto bertanya, buatku mengeryit karena tak paham.
Aku mengulangi. "Rasanya?"
"Pacaran dengan Sakura..."
OH... mulai lagi.
"Tidak asik.."
"Kau mudah terpancing ya Sas? Ini hanya jokes. Maksudku, bagaimana rasanya tinggal di rumah berhantu?"
Merinding. Kupegang erat kursi rodaku dan menoleh lewat bahu. "Kau tahu soal itu?" Aku bertanya perlahan, buat Naruto sedikit ketakutan, ini terbukti ketika ia berhenti sejenak untuk mendorong kursi roda.
Ia menaikan sebelah bahu dan tertawa kecil untuk menyembunyikan rasa takut. "Sedikit.."
Aku benar. Naruto takut. Tapi, dia yang memulai semua pembicaraan ini. Berarti aku harus memancingnya, oke, aku hanya ingin tahu saja dan penasaran soal cerita beda versi yang belum sempat Aria jelaskan.
"Seberapa banyak?" Aku mencoba meneliksik lebih jauh.
"Aku mendengar rumah itu bekas pembantaian keluarga ahli sihir yang dulunya sering berulah jahat, maksudku perlakuan kurang menyenangkan dan menyangkut hidup manusia.."
Aku mengeryit, tapi dada ini meletup-letup. "Lalu?"
Naruto agak sedikit kesal, ia pasti meragukan pertanyaanku ini. Dia mungkin berpikir kalau aku sedang membodohinya dengan terus bertanya. Aku sering melakukan ini, maaf. Tapi, aku sedang buntu saat ini. Mungkin, versi cerita Naruto akan membantuku menyelesaikan masalah.
"KAU INI, SAS! Kupikir, kau sudah membaca novel Aria-san. Dia membuat novel itu bedasarkan cerita nyata, hasil dari wawancara dengan Sheriff lokal. Kau jatuh cinta pada Aria-san 'kan? Kau harus membuat dia senang, idiot."
Aku tersipu. "Aku tidak suka baca novel, tolol.."
"Baiklah. Akan kuceritakan lagi padamu. Jadi, rumah itu bekas pembantaian ahli sihir, seperti yang ada di novel. Tapi... beberapa tahun belakangan ini para warga mulai melakukan hal aneh. Kau tak sadar apa? Tentang tetanggamu?"
'Aneh' adalah kata yang keramat bagiku untuk saat ini. Setelah kegilaan ini mulai terjadi. Memang sih, Aria pernah bertanya soal tetangga kami. Tapi belum sempat mengecek, hantu-hantu sudah bermunculan, seolah melarang kami untuk melakukan hal-hal lain.
"A-aneh?"
"Yah. Para warga di tempat tinggalmu mulai melakukan Pemujaan Setan, seperti yang di lakukan saat penyihir itu masih berjaya. Kau pikir, apa yang membuat Aria-san datang ke rumahmu malam-malam? Dia tak menyangka kalau kalian akan tinggal di sana.."
Mendadak dadaku sesak.
"Sas. Baca novel itu, halaman 166..." Celetuk Naruto agak kuatir, ia berhenti di sebuah taman bunga dan memberiku sekotak susu.
"Jangan memulai, Naruto.."
Naruto menggeram, marah dan kesal. Ia sudah hampir menjungkir balikkan kursi roda dengan tenaga supernya ini. Sialan.
"Oke! Oke! Dengar, Sasuke Yang Ganteng. Ini adalah Pemujaan Setan. Kau bisa meminta apapun dengan itu dan sebagai gantinya kau harus membayar mahal.."
Aku menelan ludah. "Jiwa?"
"Yah, aku tidak mau membicarakan ini. Tapi ini adalah alasan bagus kenapa kak Itachi dan Obito-san tidak ada.."
Mendadak aku teringat sesuatu. Sedikit ngeri kala membayangkannya. "Soal ayah?"
"Oh! ayolah, Sas. Kau sudah besar tapi pikun! Kapan terakhir kali ayahmu kerja? Dia sudah di pecat bukan?"
"DIA MENUMBALKAN AKU?!"
"Oh, aku tahu ini kriminal. Tapi, tolong. Jangan kembali lagi ke sana, oke?"
Aku mengusap peluh, merasakan sesak di dada. Air mataku hampir meleleh. "Tapi, kudenger rumah itu bekas keluarga Shimura Danzou.."
"Yah, memang. Shimura Danzou yang menjaga rumah itu, menjaga agar sekte Pemujaan Setan tak semakin meluas. Mendengar rumah itu di jual rasanya aneh.."
"Aneh.."
"Sudahkah kau kenalan dengan Sai? Kudengar dia agak sedikit, lunatic.."
Maaf buat late postnya...
