Naruto bukan milik saya. Mereka milik Masashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.
.
.
.
Takut adalah sifat alami seluruh manusia di bumi. Entah itu wujud kurang ideal yang tak nyata, segerombolan makhluk tanpa mata yang mengusik antensimu. Atau hal di luar nalar yang sulit kau prediksi. Akan kuceritakan ini, cerita gelap dari lembah yang paling dalam, mengusik tidur malammu dan mimpi indahmu. Ini tentang. Hantu.
.
.
.
Poltergeist Report.
Aku berharap, aku dapat sesegera bangun dari malapetaka dan kemalangan ini. Dokter dan para Suster bilang, aku masih belum boleh pulang pasca sadar dan pemulihan. Aku bisa bergerak sedikit demi sedikit tapi itu sangat mengangguku, karena aku begitu kesakitan.
Aku juga belum boleh bergerak banyak dan itu membuatku nampak tolol. Sakura dan Naruto datang sesekali setelah pulang sekolah, agak kesal memang. Sakura tidak henti-hentinya memanjakanku atau memarahi Naruto jika ia kurang hati-hati, tapi bukan itu yang mengangguku. Kelakuan Sakura membuatku takut, dia seperti mama beruang yang galak dan aku tidak suka ketika dia berteriak.
Kau tahu? Pasca kejadian mengerikan di rumah itu aku sedikit sensitif oleh beberapa hal yang tidak masuk akal. Yah, aku harap trauma ini akan segera pulih dan aku bisa beraktivitas kembali.
Syukurlah, Naruto itu teman yang baik tidak seperti Kiba atau Sora dan Sakura mantan pacarku yang paling baik. Aku tidak boleh mengabaikan mereka, apalagi Dad Minato sangat baik. Dia bahkan membelikanku ponsel dan psp untuk hiburan.
Dia bahkan tahu bahwa Naruto tidak lucu dalam hal menghibur sama sekali. Tolol.
Secara diam-diam, Naruto memberiku informasi soal Kakak, Ayah dan Paman, setidaknya ia berguna dalam hal menguping. Dad Minato tidak memberitahu banyak soal ini, dia merahasiakannya. Hal ini dilakukan juga oleh Mom Kushina. Mungkin mereka tidak mau aku tahu banyak.
Tidak ada informasi banyak yang bisa Naruto beri, kecuali soal Sai yang tidak di temukan di manapun. Sai menghilang seperti debu. Ia bahkan tidak ada dalam daftar penduduk lokal. Ini sangat aneh, lelaki dengan nama seperti tukang eskrim ini membuatku takut.
Soal Aria... aku tidak tahu banyak soal dia. Aku agak khawatir dan merindukannya. Para suster tidak memberitahuku, tapi aku mencuri dengar dari mereka kalau dia baik-baik saja dan sudah sadar, ia bahkan bisa berkeliling dengan kursi roda. Syukurlah...
"Sasuke, woi!"
Naruto datang seperti biasa, dengan senyum bodoh yang tersungging. Aku sebenarnya risih, tapi setidaknya dia hal yang nyata. Setidaknya ia tidak menyeramkan seperti sebuah mimpi buruk. Dan juga...
Dia membuatku lupa soal para hantu itu.
Aku tertawa ketus. "Yo, apa kabar, bodoh."
Sekali lagi Naruto tersenyum. "Baik."
Lantas, ia duduk di pinggiran kasur pasien. Ada senyum aneh terkulum di sana, agak mencurigakan. Tapi aku malas bertanya.
"Sas, aku sudah memperbaiki barangmu."
Aku yang bingung langsung mengeryit. "Barang?" Aku bahkan tidak membawa apapun setelah kejadian.
"Yeah, aku sempat menyembunyikan ini dari Ayah dan... dari polisi lain."
Di tunjukannya sebuah kotak hitam kayu jati besar dari dalam tas buluk Naruto. Aku sempat batuk-batuk ketika mencium aroma apak dari tasnya. Bodoh sekali lelaki ini. Ia banyak uang, tapi tak bisa membeli barang konyol seperti sebuah tas.
"TARAAA!" Teriak Naruto seperti anak SD yang kelaparan yang sumringah di lempari sekotak cokelat, tepat di depan wajahku ia tertawa bangga.
Jadi... itu yang ia sembunyikan? Itu yang ingin Naruto tunjukan?
Aku memelototi Naruto."Is that Camera?" Dilanjutkan tatapan bergantian pada kamera dan wajah sok ceria dari Naruto.
"Yes, Mr. Uchiha. Is it yours or your bigbro stuff?"
"Uh, aku tidak yakin. Tapi... aku seperti mengenal kamera itu."
Kuamati benda itu dengan seksama, melihat setiap detail demi detail dari kamera ini. Aku mengeryit, mencoba mengingat benda ini berasal dari mana. Ini sangat familiar. Warnanya hitam dan nampak jadul, seperti kamera tahun 80-an.
Seperti itu kira-kir...
Eh, TUNGGU DULU! AKU TAHU!
"Ben-benda ini..."
"Ada apa, Sas?"
"Milik Shimura-kun!"
Ah. Tentu saja aku mengingatnya...
"Shimura Sai itu? Ugh, kenapa ada padamu?"
"Dia sempat menitipkannya padaku. SINI! BERIKAN PADAKU"
"Nope."
"Pokoknya, aku tidak setuju kalau kau ke sana, tolol."
"Aku akan kembali ke reparasi kamera ini, Sas. Aku ingin mencuci filmnya dan melihat hasil tangkapan apa saja yang Shimura-kun dapat."
Dia benar dan aku salah. Aku lupa soal cara kerja kamera jaman dulu, aku tidak dapat melihat hasilnya sebelum film dicuci lalu dicetak. Kenapa aku jadi kurang fokus akhir-akhir ini? Apa aku menjadi bodoh akibat benturan itu? Ayolah...
"Naruto!"
"Sas, aku tahu kau takut. Tapi... aku harus tahu oke? Bye!"
Pintu terbanting.
Sialan anak tak tahu diri itu. Kenapa dia harus sok tahu seperti ini? Ini akan membahayakan hidupnya. Aku terlalu takut untuk membayangkan kejadian demi kejadian di rumah itu. Mendapat kenyataan walau baru opini kalau aku di tumbalkan Ayah, buatku mati rasa. Aku tidak menyangka jika ini akan menimpaku, tapi aku tidak menyangkal ini semua akan terjadi padaku.
Memang, Ayahku sedikit aneh akhir-akhir ini, tapi Paman dan Kakak tidak sadar akan hal ini. Mungkin, karena mereka sama-sama diam seperti aku walau sebenarnya ingin tahu.
Aria selamat. Tapi percuma jika Paman dan Kakak hilang. Mereka adalah perlindunganku, keluargaku, penyelamat dan sandaranku. Aku juga harus melindungi mereka apapun yang terjadi. Tapi... mereka menghilang. Harusnya berdoa saat itu, aku memang tamak dan tidak religius atau harusnya aku mati saja.
Tuhan... maafkan hambamu yang tidak taqwa pada-Mu.
"Sudah berdoanya, Sas?"
Aku menoleh. Kaget bukan main, seperti menang undian uang tunai dan di lamar seseorang. Saat itu juga, aku berteriak. "ARIA!"
Tak sadar jika seseorang baru saja masuk ke kamarku.
"Oh, Sasuke. Aku kaget sekali, kupikir kau mati. Maaf..."
Ia mendekat, dengan kursi roda kecil yang di dorong seorang suster cantik. Suster itu meninggalkan kami untuk memberi sebuah ruang. "Silakan, Nn. Yuzuru mau bicara denganmu, Tn. Uchiha."
"Thanks, nurse."
Sepeninggalan dari Suster itu, langsung saja aku mendekap Aria. Ia benar-benar kurus dan pucat, aku tahu kalau dia mengalami hal buruk akibat kecerobohanku. Untuk sebuah afeksi, aku mengecup kepalanya singkat, kuharap merasa baikan dengan ini. Kecuali, rona di pipiku yang tak pudar.
"Aria... kau harus tahu kalau aku merindukanmu!"
"Tidak. Aku senang kau selamat, Sas. Aku takut kehilanganmu..."
Ah... kalimat manis.
"Terima kasih, Aria."
"Sasuke? Apa Itachi dan Obito sudah ketemu?"
Pembicaraan ini langsung serius.
Aku menunduk. "Belum..."
"Maaf membuatmu takut Sasuke. Ta-tapi..."
"Kenapa?"
"Aku ingin tidur... dengamu."
"APA?"
Aku tersedak. Apa maksudnya? Kita tidak bisa melakukan itu dalam keadaan seperti ini. Walau sebenarnya aku tidak bisa menolak permintaan Aria. Siapa yang mau menolak tidur dengan perempuan seperti dia?
Tapi...
"Tolong jangan salah sangka. Hantu itu... dia mengikutimu."
Hening.
"Ma-maksudmu apa?"
SHIT. SHIT. SHIT. SHIT. Aku salah sangka.
"Kemarin... aku diterror, Sas. Hantu gadis itu.." Ada jeda. "Dia mengikuti kita."
Aku berjalan pelan dan agak terseok-seok. Meraih pintu kamar mandi dengan ketakutan. Sekarang sudah malam. Sepi dan kelam. Untung saja kamar mandiku ada di dalam kamar. Aku harus bersyukur pada Tuhan.
Ucapan Aria sore tadi buatku paranoid. Seberapa kali aku membasuh wajah untuk menenangkan pikiran, aku tetap tidak bisa tenang. Dadaku sakit, kepalaku juga, aku kesulitan untuk bernapas. Rasanya, aku ingin menangis dan melompat dari jendela kamar ini dan mati seperti sebuah tumbal.
Kulihat dan kuamati bayangan wajahku dicermin dekat wastafel. Kurus dan tak terawat, makanan RS itu payah dan tidak enak semua, ada bubur encer yang bau dan roti panggang yang pahit, mungkin lidahku bermasalah.
Haha, lihat wajahku! Mungkin sebentar lagi aku berhasil menumbuhkan kumis dan janggut, seperti Kepala Sekolah Sarutobi atau memiliki rambut panjang seperti Sora.
Konyol.
"Hei, Sasuke?" Aku bicara pada diri sendiri. "Menurutmu, seperti apa kira-kira kau bakal mati nanti?"
'GAUUUUNG'
Aku menoleh. Kuamati sekeliling dengan basi, di lanjutkan mengamati pintu kamar mandi yang terbuka sedikit, kamarku ada di sana, gelap dan tak bersuara. Lengkap dengan sepoi-sepoi angin menambah kesan angker.
Buru-buru aku mencuci muka dan. menggosok gigi Napasku memberat, keringat dingin bercucuran, tanganku gemetar. Aku membeku di tempat.
Suara itu...
Tidak. Tidak. Tidak. TIDAAAK! Suara gong itu lagi. Jangan itu lagi. Please, God help me. Please...
'GAUUUUNGGG'
"TIDAAAAAAAAAAK"
Aku merosot, menjambaki rambutku hingga terlepas beberapa helai. Aku menangis, meronta, meminta, menjerit. Tapi itu semua tak berefek. Kecuali...
Pintu kamar mandi terbuka sedikit demi sedikit, menambah sensasi memilukan di dalam otak. Aku memejamkan mata rapat-rapat.
Tidak bisa. Aku tidak bisa memejamkan mataku. Kenapa? Kenapa?
Sebuah tangan ringkih, hitam dan penuh borok berjalan pelan, berusaha meraih sesuatu dengan sisa-sisa kekuatannya. Ia mendekatiku, meraih kakiku, menjeratku.
Aku takut. Aku takut. TAKUT. TAKUT. TAKUT. TAKUT.
Sesaat ketika aku sadar akan semuanya. Ada sosok kurang ideal di depan wajahku, dahi kami bersentuhan. Bau busuk memasuki hidung, darah hitam bercucuran dari mulut, ada beberapa belatung muncul dari pori-pori wajah makhluk itu.
Muntah banyak aku di depan wajahnya.
"Kak Sasuke, main yuk?"
"MENJAAAAAAAAAUH!"
Aku menendang-nendang.
"Sas..."
Kujambak helaian hantu itu.
"MENJAUH!"
Kugigit kepalanya.
"Sasuke!"
Kupukul seluruh wajah jeleknya.
"JAUH!"
"Sasuke, bangun!"
Kubuka mataku perlahan, aku ada di kasur? Tapi.. kenapa? Kenapa aku ada di sini.
"Sasuke, kau kenapa?"
Aku mengatur napas perlahan dengan dibantu segelas air. Sakura mengusap peluh didahiku, sudut bibirnya berdarah dan ia mengerang menahan sakit. Para Suster sebanyak 7 orang datang ke kamarku, mereka menatapiku takut dan heran.
Beberapa diantara mereka ada yang terluka dan kusut. Di sebelah sana seorang Dokter pingsan tertimpa sebuah lemari. Aku menoleh lagi, Naruto terjungkal hampir jatuh ke lantai bawah. Dia menyangkut di jendela.
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Sasuke! Apa-apaan yang barusan itu?" Naruto membentak.
"A-apa maksudmu?"
"Kau... kau hampir membunuh kami! Tenagamu itu, dari mana kau mendapatkan itu?"
"Tapi aku tidak mengerti."
"Kau menggila dan menyerang kami. Kami pikir kau kejang biasa. Tapi... ada hal lain yang merasukimu."
Kacau. Kamarku benar-benar kacau. Banyak kerusakan di mana-mana dan orang-orang tergeletak pingsan di sana. Aku... apakah aku yang melakukan ini?
"Sudahlah, Naruto. Sasuke hanya mengigau." Sakura tersenyum miris. Aku tahu sebenarnya ia tidak ingin bicara ia tak mau membuatku stress dan sakit hati.
Di tatapinya para Suster oleh Sakura. "Tunggu apa lagi? Ayo, periksa pasien kalian..."
Seolah Gozila yang tengah mengamuk, para Suster masih diam akibat atmosfer mengerikan ini. Apapun yang terjadi, akulah yang membuat keadaan ini semakin rumit.
Kuamati jendela yang , langit terlihat kuning dan jingga. Gradasi warna yang selalu menjadi favoriteku. Indah.
Pandanganku teralih pada sebuah sudut, sudut tergelap dari ruangan ini, kamarku. Ada sebuah bayangan samar di sana, kecil dan pendek. Aku menyipitkan mata. Mengamati sosok apa yang baru saja aku lihat.
Gadis itu...
...dia benar-benar nyata.
"Aku dengar kau menyerang Dokter dan Suster."
"Ya, kau benar, Aria."
"Kau baik-baik saja?"
Pertanyaan yang cukup bodoh. Aku tidak baik-baik saja. Sebenarnya relatif, aku tidak tahu apakah ada orang yang sanggup menempati posisiku. Aku menjadi pasien gila, mereka menganggapku gila dan kerasukan. Naruto dan Sakura berhenti mendatangiku setelah kejadian ini. Ini sudah 2 hari, 2 hari tanpa mereka
Aku merasa bersalah. Ini tidak baik. Pertemananku akan hancur dalam sekejap jika ini terus terjadi. Naruto memberiku foto hasil cuci, ia tak bicara banyak setelah itu. Aku tidak mengatakan apapun pada saat itu, kecuali menangis dalam diam. Aku juga belum melihat hasil foto itu.
"Aria."
"Ya?"
"Kau percaya padaku, 'kan?'
Ia mengangguk. Bagus.
"Aria, aku mengalami mimpi buruk."
Kusimpan kepalaku dibahu Aria. Rasanya nyaman dan manis. Kami berdua duduk di kursi tunggu di depan. Di sini tidak terlalu ramai, tapi ada orang. Setidaknya jika hantu itu macam-macam aku bisa meminta bantuan.
"Kupikir, aku juga mengalami ini. Gadis itu... dia selalu ada di ujung pintu. Sudut tergelap."
"Aria... aku takut." Kupeluk Aria dari samping, ia memiliki aroma yang menakjubkan. Aku selalu... suka pada dirinya. Entah bagaimana, semua kejadian ini membuatku semakin dekat dengan Aria. Aku tahu, ia teman dekat Paman Obito. Malahan, hubungan mereka sangat manis.
Aria yang pendiam dan Paman Obito yang baik hati menambah kesan sempurna. Aku selalu iri.
"Selama aku ada di sini. Aku akan melindungimu, Sas..."
"Thanks..." Ada jeda. Aku melanjutkan. "Ngomong-ngomong, siapa yang kau percaya?"
"Maksudmu?"
"Sheriff Danzou atau Shimura-kun. Kau belum mengatakannya, versi cerita mereka berbeda 'kan? Kau bilang begitu. Shimura-kun bilang kampungnya terkena kutukan penyihir dan Sheriff Danzou bilang..."
"Aku percaya pada Sheriff Danzou."
"Kenapa?"
Aria tersenyum padaku. "Karena dia ada di sini."
Aku menoleh. "PAMAAAAAAN!"
TBC
Ini bener-bener latepost. Saya kena WB dan ini baru dapet ide-ide setelah nonton The Walking Dead, Daryl Dixon is fucking awesome! *malah curhat* enjoy yah dan makasih buat yang review+fav+komen+follow. Saya sayang sama kalian, loveyouguys.
