Naruto bukan milik saya. Mereka milik Masashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.

.

.

.

Takut adalah sifat alami seluruh manusia di bumi. Entah itu wujud kurang ideal yang tak nyata, segerombolan makhluk tanpa mata yang mengusik antensimu. Atau hal di luar nalar yang sulit kau prediksi. Akan kuceritakan ini, cerita gelap dari lembah yang paling dalam, mengusik tidur malammu dan mimpi indahmu. Ini tentang. Hantu.

.

.

.

Poltergeist Report.

Chapter 7

"Sungguh, kau masih hidup, Paman?"

Paman Obito mengangguk penuh semangat. Aku melompat, menerjang menangis saat memeluknya, aku kehabisan kata-kata dalam keputusasaan ini. Begitu berat apa yang baru saja aku alami, pahit dan sangat menyakitkan. Aku mati rasa.

Aku bahkan lupa jika aku masih belum pulih akibat patah tulang.

Paman masih memiliki aroma tubuh yang sama. Wangi dan hangat, dia selalu hangat ketika aku memeluknya, ketika ia membalas pelukanku atau menenangkanku kala Ayah dan Kak Itachi tidak ada. Uchiha Obito adalah segalanya. Dia sosok yang paling bisa aku terima hingga saat ini. Apalagi, ketika ibu meninggal.

Dia menjadi pengganti sosok ibu.

"Paman, apa kau baik-baik saja?"

Ia memandangi Aria yang kutahu sedang senyum-senyum sendiri. "Ya, aku baik-baik saja. Sebaik wajah Aria..."

Aku tertawa kecil. "Paman..."

Dia tidak menjawab atas pertanyaan sederhana ini, malah ia mendekati Aria. Berlutut padanya seolah sedang melamar, saling melempar senyum seperti orang yang baru jatuh cinta. Sejurus kemudian, sebuah pelukan hangat mereka persembahkan ada isakan kecil yang masih kudengar walau samar.

Yang di lanjutkan dengan saling beradu dahi. "Aku khawatir..."

"Aku tak pernah seburuk ini, Obito."

Aku tidak tahu apa kelanjutannya, Sheriff Danzou yang terabaikan di sudut sana menarik tubuhku secara tiba-tiba agar sedikit menjauh. Mungkin mereka sedang menyalurkan beberapa keharmonisan cinta. Beberapa orang di sana langsung pergi ketika melihat pemandangan ini. Aku sempat mendengar mereka bisik-bisik.

Oke, mereka berciuman.

Fine.

Kucoba untuk mencarikan suasana canggung ini. Kutepuk sok akrab punggung Sheriff Danzou. "Hey, mate. How a life?"

"What do you mean, kid? Apa ini caramu bicara dengan Pak Tua?"

"Oke, Cops. Aku hanya..."

"Jealous?"

"Yeah."

Dia bisa tahu hal seperti ini. Good. Dia terlalu peka.


"Aku tidak tahu bagaimana memulainya." Paman bersuara. "Aku diselamatkan oleh Sheriff Danzou. Tapi aku tidak tahu di mana Itachi."

"Yah, kejadian ini buruk sekali. Aku menemukan Obito dalam keadaan buruk. Dia bahkan lebih buruk dari Aria dan Sasuke. Dia kerasukan, untung saja aku bisa menyembuhkannya sebelum dia menyakiti orang lain."

Mendadak aku merinding. Ucapan Sheriff Danzou buatku teringat kejadian waktu itu. Ketika aku secara tidak sadar menganiaya para Suster dan Dokter. Aku bertindak aneh, seperti pasien sakit jiwa yang terserang rabies dan sapi yang mengamuk.

Mereka bilang aku jadi sulit di kendalikan, sebaik apapun mereka menahan tubuhku dan mengikatku di pinggiran kasur. Tapi tak membantu sama sekali. Mereka bilang aku bisa membanting tubuh lelaki yang lebih besar dariku dan mencakar mereka hingga meninggalkan luka lumayan dalam yang membekas.

Mengerikan.

Jelas sekali alasan Naruto dan Sakura berhenti mendatangiku, kecuali Dad Minato yang datang sesekali. Dad Minato pun terlihat ketakutan ketika bertemu denganku. Tapi, aku pura-pura bodoh seolah tak terjadi apa-apa. Naruto mungkin yang melaporkan ini atau Sakura atau para Dokter. Entahlah, aku tak mau tahu.

"Aku juga kerasukan." Aku menambahi. "Aku tidak tahu kenapa ini terjadi padaku..."

Sheriff menatapiku lekat-lekat, ia tak pernah menatap orang dengan mata ramah. Dia orang yang serius, tegas, berdedikasi dan keren. "Yah, itu pasti terjadi. Hantu itu... dia berusaha mengambil alih tubuhmu, Sasuke."

Aria nampak kesal. "Wow. Apa tidak ada pembicaraan yang lebih lembut? Kalian... kalian baru bertemu. Mari bicarakan hal lain, Tuan Shimura?"

Sheriff Danzou tertawa menghina, ia bahkan tak berhenti sampai Paman mendehem dan Aria memelototinya.

"Oke. Tapi soal apa? Soal kalian akan mati jika tak buru-buru di sembuhkan? Ayolah! Anakku sudah berulah."

Kupijat hidung dan kening, aku sangat bingung. "Sheriff, bicara soal Shimura-kun. Aku tidak bisa mengerti dirinya..."

"Kau tidak akan mengerti dirinya, nak."

"Dan soal nama dia tidak ada di daftar penduduk?"

"Sai sudah mati."

"A-APA?"

Paman mengamuk. "Aku tidak tahu soal ini, Sheriff!"

"Tenanglah, Obito."

Sheriff Danzou langsung serius. "Tiga tahun yang lalu. Itu alasan kenapa nama dia tidak ada dalam daftar penduduk yang masih hidup."

"Oh, dear. Kita ada dalam masalah..."

Oh, aku lupa beberapa hal. Pembicaraan ini cukup menarik. Sungguh! Ini akan menjadi ajang curhat yang keren. Sheriff ini pasti memiliki selusin jawaban dari pertanyaan super klasik sekalipun.

Sheriff Danzou, dia bisa menjawab beberapa pertanyaan yang terlampir di pikiranku selama beberapa hari ini. Aku juga senang bisa bertemu Paman dan Aria, juga Sheriff Danzou.

Aku berjalan santai, mendekati laci dekat kasurku. Yah, kami berempat mengadakan ngobrol santai di kamarku. Kusadari bahwa Sheriff Danzou dan Aria menatapiku dalam keheranan sementara Paman berusaha menahan diri agar tidak jatuh dalam tidur. Sebenarnya ia terlihat kelelahan dan ekspresinya sangat lucu.

"Apa itu?"

"Kamera. Kamera ini milikmu 'kan, Sheriff?"

"Ugh..." Sheriff Danzou mengamati. "Kenapa ada padamu?"

Aku memelototi Sheriff. "Apa perlu kuberitahu jawabannya?"

"Ya, maaf. Sai?"

Aria mengangguk. "Sepertinya hantu sekarang dapat mengoperasikan kamera."

Sheriff mendelik kesal. "Duh, Shut up!"

Aku mendehem, bersiap untuk bertanya. "Jadi, apa fungsi kamera itu? Kenapa Shimura-kun menyatakan kau menghilang?"

"Aah." Sheriff nampak memulai. "Mungkin Sai marah padaku."

"Itu harus beralasan, Sheriff."

"Yes, Yuzuru. Alasannya mungkin karena aku menentang apa yang Sai lakukan. YA. Dulu sempat terjadi praktek Pemujaan Setan di sini dan aku berusaha menghentikan ini, adat ini dan kesalahan ini. YA. Sai menggasak banyak uang dari Pemujaan ini dan mengambil keuntungan tersendiri atas dosa-dosa ini."

Aku menelan ludah, jadi... Sai bersalah? Dia sumber masalah dari ini semua 'kan? Jadi, apakah Sai harus dipenjara? Dia hanya wujud nyata dari nyawa seseorang yang telah memudar. Dia hantu. Arwah penasaran. Sesuatu, dia telah menjadi "sesuatu"

"Apa kau punya ide baik atas ini semua? Kenapa mereka menganggu kami?" Kali ini giliran Paman yang bertanya. Ada gurat kekesalan di wajahnya, ia malas dan lelah, marah dan muak.

Dengan enteng Sheriff itu menjawab. "Itu semua karena Ayahnya Sasuke."

Paman melotot. "Ada apa dengan dia?"

Aria mengomentari. "Jangan tersinggung dulu, Obito. Kurasa, dia menumbalkanmu. Hal sama dia lakukan pada Itachi dan Sasuke. Ironi, apa yang Fugaku-san inginkan membuatnya terjerumus ke dalam lubang hitam nestapa."

Sheriff mengiyakan. "Yuzuru benar. Sai melakukan praktek ini sejak lama dan menumbalkan warga di tempatku. Dulu para warga di sana juga melakukan Pemujaan Setan tapi Sai berkhianat dan menjadikan mereka tumbal untuk Pemuja tempat lain, seperti kasus Ayahnya Sasuke. Apa kalian tidak pernah curiga dengan menghilangnya para warga? Tapi sepertinya Fugaku tidak tahu kalau Sai sudah mati."

"Apa maksudnya?"

Aria menyambar. "Maksudnya. Sekte Pemujaan yang Sai buat sudah meluas dan para anggota semakin banyak. Maka dari itu tumbal yang di butuhkan jadi banyak dan Sai menggunakan warga di tempat dia tinggal untuk dijadikan tumbal. Semacam gali lubang tutup lubang."

"Kenapa kau tak menghentikan ini?"

Sheriff tertawa. "Ketika kau punya anak, kau akan memaafkan apapun yang dia lakukan. Karena dia sudah mencapai batas, aku membunuhnya. Tapi ini semua tak berakhir."

Hening yang lama...

"Obito, aku pernah tanya soal warga di rumahmu, 'kan? Kau tak pernah menjawab e-mail. Itu hal penting dalam membeli rumah baru. Makanya aku kaget saat kau pindah ke sana."

Oh, fuck this shit.

Aku tertawa frustasi. "Oh, ini komplikasi, Sheriff. Ayahku hilang dan kami sengsara, bagus. Aku harus apa sekarang?"

"Kembali soal kamera ini, Sasuke. Kenapa kamera ini ada padamu?"

Nampaknya Pak Tua ini senang memutar balikkan ucapan, seolah ini adalah hobi yang melekat, ataukah dia memang gemas untuk menemukan jawaban-jawaban yang sudah tak sabar untuk ia dengar dari mulutku? Mungkin, ini akan membawa informasi lebih banyak lagi.

Aku mulai menjelaskan. "Shimura-kun memberikannya sebelum aku berakhir di Rumah Sakit. Dia membaca sebuah Kitab dan ruangan mendadak aneh, ada rapalan tak jelas di sana, mirip doa tapi bukan. Aku mendengar nyanyian Gereja, dia membuat sebuah Pentagram di lantai."

Aria melanjutkan. "Ya, dia membuat hantu-hantu itu keluar dan menyerang kami berdua..."

Aku menambahi. "Hantu yang sama. Gadis tanpa mata itu selalu muncul."

Paman Obito nampak ketakutan. "Ya hantu tanpa mata itu sering muncul dalam beberapa situasi. Dia tidak menyerang, tapi sering menganggu. Lain dengan hantu wanita itu, dia itu..."

Ucapan Paman dibiarkan menggantung, ia melirik Sheriff dan Aria bergantian, seperti tak mau mengingat kembali soal kejadian ini dan itu. Tapi keadaan memaksanya.

Sheriff mengeryit. "...bau busuk?"

Aku mengangguk. "Ya."

Sheriff menjentikan jari. "Nah, itu dia masalahnya. Wanita bau itu berbahaya. Dia selalu mengikuti, seperti rudal yang mengunci target."

"Hey, tolong katakan padaku apa yang sebenarnya, Sheriff."

Sheriff menatapku tajam, seolah aku baru saja menusukkan belati pada dadanya. Tatapan yang dalam nan mematikan, aku tenggelam kedalam lautan itu. "Aku tahu tatapan matamu, bocah sialan. Kau minta aku bertanggung jawab 'kan, Sasuke?"

Aku mendelik. "Kau tadi tanya soal kamera itu 'kan? Apa masalahnya?"

"Ya, ini milik keluarga yang dulunya tinggal di rumahmu, Sasuke. Yang tinggal sebelum aku."

Aku sedikit mengancam. "Keluarga Penyihir itu?"

"Kau pernah dengar kalau hantu bisa merasuki boneka dan semacamnya? Itu tidak benar. Itu hanya mitos. Mereka menggunakan objek mati untuk menakut-nakuti manusia, membuat kekacauan dan ketakutan, itu membuat mereka kuat."

Paman Obito menaikkan volume suara. "Bicara yang jelas, sialan."

Aria tertawa. "Mungkin maksudnya, kamera tersebut ada hubungannya dengan munculnya para hantu. Atau mungkin jadi pengantar dari datangnya hantu itu ke RS. Kamera itu ada pada Sasuke, Sai sengaja membawanya dan memberikannya. Jadi.."

Mendadak bulu romaku berdiri, aku mengerti. AKU MENGERTI. Oke, jika opiniku tidak salah dan semua yang aku pikirkan adalah benar adanya, berarti Sai berencana...

Oh! Aku takut jika ini benar.

"Hantu itu mengikuti kalian karena Kamera itu."


Penjelasan Sheriff kemarin membuatku semakin takut. Sampai kapan ini semua akan berakhir? Aku tak mau mati konyol dijadikan tumbal atau membiarkan tubuhku diambil alih para hantu seperti yang Sheriff jelaskan malam kemarin.

Paman tidur di ruanganku, kami lebih banyak mengobrol dan mengira-ngira ada di mana kemungkinan Kak Itachi berada. Ia mencoba menghubungi beberapa nomor dan e-mail teman-teman Kak Itachi, tapi mereka tidak tahu apapun soal Kak Itachi.

Bahkan, semua usaha ini terasa sia-sia.

Naruto berhenti memberikan informasi dia tak pernah muncul, begitupun dengan Dad Minato, mereka benar-benar pergi entah kemana. Seperti di telan bumi, di jeburkan ke dalam laut atau di buang ke Mars.

"Kenapa ya Sasuke, Kak Fugaku tega melakukan ini pada kita?"

Aku tertawa kecil. "Ibu meninggal dan Ayah kehilangan pekerjaan. Itu cukup membuat dia seperti ini. Aku tak bisa menyalahkan dia."

Paman mengiyakan, ia tak pernah sesedih ini kala bercerita. Dia selalu lucu dan menyenangkan seperti cahaya matahari. Semua itu hilang. Hilang bagai ditiup angin, hilang bagai embun yang menguap.

"Sasuke, pagi nanti. Aku dan Sheriff berencana untuk menghapus kutukan ini. Dia mungkin bisa melepas ini. Tapi..."

Aku kebingungan. "Apa?"

"Dia bilang... tidak ada yang boleh mati dari kita. Jika ada salah seorang yang mati berarti semuanya sia-sia..."

Kutatap Paman lembut, penuh kehangatan dan sayang. Ditambah tepukan dibahu yang kurasa dia butuhkan saat ini. "Kita akan selamat. Sebentar, aku akan mengambil minum. Kau nampak tak sehat, Paman."

Melenggang aku pergi ke luar ruangan. Koridor gelap dan sepi seperti biasa, tidak ada orang yang berlalu-lalang kecuali Suster dan para Dokter. Ini sudah biasa bagiku, kecuali kalau ada hantu bersembunyi di sana, di sudut tergelap seperti sebuah ancaman.

"Sasuke..."

Seseorang memanggil. Suara lembut yang datar milik perempuan. Aku menoleh. "Ya?"

Ternyata itu Suster.

"Aku turut berduka cita."

Mendengar ini, aku langsung kebingungan. "Si-siapa?"

"Uzumaki itu, bocah Uzumaki itu..."

"Apa?"

"...dia meninggal."


Naruto meninggal, ini semua salahku. Orang-orang yang berhubungan denganku akan mati. Aku juga dengar kabar kalau Sakura terjatuh dari apartementnya dan tewas.

Aku tak tahu harus melakukan apa, menangis tidaklah berguna, bahkan berdoa bukan solusi yang tepat bagiku. Aku malah meragukan kuasa-Nya

Naruto temanku, dia sahabatku. Dia seseorang yang aku punya. Aku tidak bisa kehilangannya. Ini tak biasa bagiku.

Naruto...

Yang membuatku bingung, Naruto mati sebelum memberikan Kamera itu padaku. Jadi, siapa Sebenarnya yang memberikan Kamera itu?

Aku sadar akan beberapa hal. Hantu dapat menyamar menjadi orang lain, siapapun dan kapanpun. Mungkin ini ulah Sai. Ya, ULAH SAI.

Sejak awal dia memang berencana membuatku mati. Membuat Paman mati dan Kakak mati. Dia juga berencana menghabisi Aria dan membunuh Naruto temanku.

Aku ingin menangis...

Pintu ruangan terbuka. Menampilkan sosok Sheriff, Paman dan Aria di ambang pintu. Tak ada senyuman di sana.

Sebuah tangan menjemputku. "Ayo kita selesaikan ini, Sasuke."

Ia menambahkan. "Obito sudah menemukan Itachi. Dia baik-baik saja..."


Oh, waktu itu ada yang nanyain hubungan Sasuke sama Aria itu apa? Mereka gak ada hubungan yg serius kok. Di cerita ini, Aria itu temennya Obito, otomatis Sasuke sering ketemu Aria. Terus, umur Sasuke sama Aria itu jauh banget jaraknya, jadi kalo dipikir2 ada cowok umur belasan dan dia semacam "Crush" sama cewek lebih tua pasti gakbakal di anggap serius sama ceweknya xD

Sorry telat banget ini sepertinya, saya seperti orang sibuk lol padahal aslinya kena WB. Saya ngerasa ini harus cepet2 tamat dan kemungkinan Chap 8 jadi akhir hehe semoga saja.