Naruto bukan milik saya. Mereka milik Masashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.

.

.

.

Takut adalah sifat alami seluruh manusia di bumi. Entah itu wujud kurang ideal yang tak nyata, segerombolan makhluk tanpa mata yang mengusik antensimu. Atau hal di luar nalar yang sulit kau prediksi. Akan kuceritakan ini, cerita gelap dari lembah yang paling dalam, mengusik tidur malammu dan mimpi indahmu. Ini tentang. Hantu.

.

.

.

Poltergeist Report.

Chapter 8

Terkadang, aku malas mempercayai orang lain yang sama sekali tidak aku kenal atau orang yang baru saja aku kenal. Apa yang terjadi padaku dan keluargaku, hingga terlibat dalam situasi seperti ini, kelak akan menjadi pelajaran bagi semua orang. Aku akan menceritakan semua kisahku, itupun jika aku berhasil bertahan.

Sejak awal aku pindah ke rumah ini, suasana terasa tak biasa. Padahal aku baru seminggu tinggal di sana, entah kebetulan atau memang para hantu menghalangi langkahku, usaha Aria untuk menghentikan bencana ini malah hancur berantakan. Dia yang harus menerima akibat dari ini, dia terluka, koma dan hampir meregang nyawa, aku sedih sekali kalau Aria harus menderita.

Aku sedih karena Kakak menderita atau Paman yang jadi menaruh beban banyak. Di sisi lain aku membenci Ayah, sangat membencinya, tapi aku juga kasihan padanya, orang bilang benci itu ungkapan cinta dan aku sekarang mengerti maksudnya.

Karena kematian Ibu semuanya jadi seperti ini. Semua berawal dari sana. Tapi, aku tidak menyalahkan Ibu atau menyalahkan Tuhan. Karena ini adalah kehendak-Nya.

"Sasuke, kau sudah dengar apa yang Tn. Shimura katakan?"

Aku menoleh ke samping, di mana Aria sedang pura-pura tertidur. Aku yang tadinya asik merenung di kaca jendela mobil langsung terbangun dari lamunan. "Soal itu? Yah, aku mengerti."

"Kau tidak mengerti, Sasuke. Aku tahu kau tak sepenuhnya mempercayai Tn. Shimura."

Aku berbisik, takut Sheriff mendengar ini. Ia duduk di kursi sebelah kendali supir, tepat di mana Paman Obito mengendarai. "Tidak semudah itu, Aria. Aku hanya takut kalau dia bohong."

Di tepuk punggung tanganku sangat halus oleh Aria. Masih ada perban yang melilit di sana, dia sudah agak baikan tapi perlu beberapa perawatan khusus dan Paman menjaga Aria dengan baik.

"Aku percaya padanya. Obito ada di sini karena dia, Obito selamat karena dia. Aku senang kau ada di sini, aku senang karena Tn. Shimura mau membantu dan kita sedang menuju tempat Itachi. Aku harap kau tak mabuk perjalanan, Sas."

"Terima kasih, Aria. Kau memang baik."

"Tidak sebaik dirimu, Sas."

Sebenarnya aku ingin mencari cara lain untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi, waktu terus berputar dan aku kehilangan arah dan jati diriku. Orang bilang teroris yang bunuh diri itu tak punya pilihan. Maka, akulah teroris itu sekarang.

Cara untuk menghentikan ini adalah.

Melenyapkan secara paksa si pembuat kontrak. Yang artinya...

...aku harus.

Membuat Ayah mati.


Paman bilang Kak Itachi ada di suatu tempat. Tempat sunyi yang terjamin dan ia bakal selamat ada di tempat itu. Aku pikir, Kak Itachi cukup hebat dan beruntung bisa ada di tampung di tempat yang aman dari mara bahaya. Tapi, aku takut kalau keadaan dia lebih parah dari kami.

Sebenarnya Paman belum pernah bertemu Kakak. Ia hanya diberiahu via telepon oleh salah seorang teman Kak Itachi yang pernah kami hubungi. Syukurlah masih ada orang yang berbaik hati, beberapa diantara teman Kak Itachi tidak mau membantu dan kebanyakan pura-pura tak tahu.

Teman tak sepenuhnya setia. Mereka hanya sampah yang tak berguna. Menggunung bak bukit yang penuh dosa.

Mobil kami berhenti, tepat di sebuah Gereja putih tua dari kayu. Ada sebuah Panti Asuhan beberapa meter dari Gereja dan pohon elm yang rindang. Sejuk sekali tempatnya, sejauh mata memandang hanya keindahan yang aku terima. Ah, aku jadi ingat saat summer camp SMP dulu.

"Jadi, Itachi ada di Panti Asuhan?"

Paman tertawa. "Ya, Aria. Kurasa, ini tempat paling aman bagi Itachi, beruntung sekali dia. Gereja dan orang-orang yang beriman."

"Ya, bisa dibilang cukup beruntung jikalau Kak Itachi baik-baik saja."

Sheriff mengangguk. "Ini bagus, ayo kita masuk dan tanya soal Itachi."

Kami sesegera mungkin mendekati Panti Asuhan itu. Agak sepi dari yang kubayangkan, mungkin anak-anak masih sekolah atau mereka ada di suatu tempat, ah aku tak terlalu memusingkan ini. Aku jadi penasaran dengan apa yang ada di dalam, melihat kenyataan kalau aku tidak menemukan satu suarapun.

Pintu terbuka perlahan, menampilkan gadis berkacamata, berhelaian merah dan nampak seperti gadis kurang waras. "Selamat siang, ada yang bisa aku bantu?"

Paman Obito tersenyum. "Aku yang kemarin kau telepon, Karin 'kan?"

"Ah, keluarga Uchiha itu ya? Syukurlah kalian datang. Mari masuk."

Kami berjalan cukup lama, tempat ini tidak seperti yang kubayangkan. Sangat luas dan bersih. Lalu, gadis yang dipanggil Karin oleh Paman berhenti di sebuah pintu. Wajah serius yang selalu ia tampilkan membuatku merinding. Tapi yang lain diam saja seolah tak menyadarim

"Itachi-san ada di dalam. Aku tinggal sebentar, ya? Kalau butuh sesuatu, panggil saja aku melalui telepon yang ada dimeja nakas Itachi-san."

Aku tersenyum walau sebenarnya malas. "Terima kasih, Karin-san."

"Ya, aku tahu kau siapa. Kau Uchiha Sasuke-san 'kan? Aku saudaranya Naruto-kun. Permisi..."

Ia pergi, meninggalkan luka mendalam yang sempat aku lupakan. Naruto... apa kau membenciku? Dia mengingatkanku pada Naruto. Tapi sudahlah, yang terjadi, terjadilah.

Kuharap kau tenang di sana, Naruto. Sakura juga.

Aria membuka pintu perlahan, agak susah membukanya. Mungkin karena sudah lama atau entahlah aku tak peduli.

"Kak Itachi..."

Kupanggil dia lirih dan pelan, sang pemilik nama membalikan tubuh dengan sangat cepat. Dia sedang berada di atas kasur putih yang tidak terlalu nyaman baginya.

Kak Itachi nampak sehat melihat apa yang terjadi padaku dan Paman. Dia lebih daripada itu. Ia hanya sedikit kurus dan kelelahan, tapi senyum hangat yang selalu ia tampilkan membuat hatiku menghangat.

Langsung saja ia berteriak. "Sasuke, Aria-chan, Uncle Obi! Eh, siapa kau?"


"Aku tadinya menduga kalau kalian sudah mati, syukurlah kalian masih hidup. Maafkan aku Uncle Obi, aku meninggalkanmu waktu itu."

"Yang penting keponakanku selamat."

"Apa yang terjadi Kak?"

"Kau ingat saat hantu wanita itu muncul, Sas? Nah, setelah kita tidur ada sesuatu yang menyerangku dan Uncle Obi. Tidak jelas apakah itu sesuatu atau seseorang. Semuanya kurang jelas, entah aku lupa atau bagaimana. Ini aneh, aku berakhir ada di pedesaan ini dan diselamatkan Karin."

Paman mengangguk paham. "Ya, kurang lebih seperti itu kejadiannya. Kau sempat kesurupan?"

Kak Itachi mengangguk. "Ya, Karin bilang begitu, aku pernah mengacau di sini tanpa sadar. Aku membakar salah seorang pegawai di sini sampai tewas. Maaf, aku sebenarnya tak ingin mengingat ini."

Membakar? Oh, Kakak Itachi merasakan hal yang lebih parah. Kupikir, ini mungkin alasan mengapa Panti Asuhan ini sepi. Para pegawai memindahkan Kakak agar tidak melukai anak-anak. Ini bagus, tidak ada yang perlu terluka lagi oleh ulah kami. Seperti yang terjadi pada Naruto dan Sakura.

"Ngomong-ngomong, dia siapa Sas?"

Aria buka bicara. "Shimura Danzou. Dia... akan menceritakan segalanya, mungkin nanti jika semua sudah terealisasi."

"Oh, maaf aku tidak tahu tap-"

Sheriff setengah berteriak, buatku sedikit kaget. "Tidak ada basa-basi lagi, mari kita pergi dan selesaikan ini Itachi. Kita harus menghentikan ini, harus! Sebelum Upacara dimulai, kita harus mencari dulu Ayahmu."

Kak Itachi mengangguk pelan walau sebenarnya ia agak kebingungan. Tentu saja dia akan bingung seperti itu akibat menelan informasi mentah-mentah. Meski ia Mahasiswa pintar, jenaka dan ahli dalam segala hal. Ada kalanya ia akan kebingungan seperti orang kurang waras.

"Aku mengerti sedikit." Gumam Kak Itachi.

Oh, mungkin aku salah menilai Kak Itachi. Oke, dia mengerti.

Mendadak Kak Itachi serius. "Ya, mungkin ceritanya mirip dengan yang ada di novel Aria-chan. Jika ini benar... maka antara aku, Sasuke, Uncle Obi menjadi tumbal dari seseorang yang melakukan Pemujaan Setan."

Aria mengangguk. "Kau sepenuhnya benar. Tapi kejutannya adalah sang Kontraktor dari ini adalah Fugaku-san. Ayahmu."

Kukira Kakak akan kaget seperti yang aku dan Paman tunjukkan ketika mendengar fakta ini. Tapi dia lebih tenang seolah ia sudah mendengar ini semua.

"Aku sudah mencurigai Ayah sejak saat itu. Maaf tidak cerita pada kalian. Lantas, apa rencana kalian?"

Beradu pandanglah kami semua, minus Kak Itachi. Tapi, dari tatapan ini Kakak tahu kalau rencana akan terdengar buruk.

"Oh? Apa caranya menghabisi Ayah?"

Sheriff mengangguk. "Kau benar, tapi itu tidak akan berhasil jika salah satu diantara kalian bertiga mati. Maka dari itu kalian harus cepat melakukan ini. Dan masalahnya, aku tidak tahu Fugaku ada di mana."

"Ada satu tempat di mana Ayah kemungkinan ada di sana."

"Di mana Kak?"

"Sebuah Kuil, aku yakin dia ada di sana. Saat aku kecil aku pernah ke sana dengan Ayah. Dia bilang itu tempat rahasia, kukira itu lelucon konyol. Tapi beberapa rekan kerja Ayah pernah datang ke rumah lama kita dan bercerita Ayah sering ke sana."

"Kalau begitu, ayo kita ke sana."


Setelah berterima kasih pada Karin atas bantuan dan sikap baiknya. Kami berpamitan pada dia. Ia sempat menawarkan beberapa bantuan dengan wajah datar dan serius yang membuatku merinding. Aku heran kenapa Kakak betah dijaga orang seperti Karin. Tapi kembali lagi, kebaikan mengalahkan segalanya.

"Kemana jalan selanjutnya, Itachi?"

"Hmm..."

Kakak nampaknya lupa. Ah, ini sudah cukup lama untuk Kak Itachi mengingat, terakhir ia pergi ke sana ketika aku masih berumur 3 tahun, pantas saja Kak Itachi mendadak pikun.

"Belok kanan."

Kak Itachi tidak sepenuhnya lupa. Di sana ada sebuah kuil tua yang sepi dan berantakan. Mungkin tak beroperasi lagi sejak 6-7 tahun belakangan ini. Ya, mungkin itu alasan kenapa kuil ini kumuh dan tak terawat.

Kecuali patung yang ada di sana masih terawat rapi. Entah siapa yang melakukannya. Walau kuil ini berantakan, tapi ada suatu sudut yang nampak rapi. Maksudku, sudut itu tidak dijatuhi dedauan kering dan debu atau tapak sepatu, aku merasa aneh sekaligus merinding.

Kuil ini dekat sebuah hutan tapi tidak terlalu sepi sebenarnya, ada pemukiman warga beberapa meter dari sini. Jumlahnya lumayan untuk sebuah Desa.

"Aku sangat yakin, Ayah ada di sini." Kak Itachi bergumam pelan. "Tapi, Pak Sheriff apa yang terjadi jika seandainya Ayah kami sudah mati sebelum hantu-hantu itu datang? Kalau tidak salah dia sudah menghilang sejak hantu itu muncul."

Pertanyaan yang bagus. "Dia benar, apa yang terjadi?"

Sheriff tidak menjawab, ia hanya memandangi kami berempat dengan cara yang aneh. Dan melanjutkan perjalanan menuju pintu ke Kuil. Mungkin jawaban dari pertanyaan Kak Itachi akan sangat menyakitkan untuk di dengar.

"Pintunya tidak terkunci."

"Obito..."

Pintu Kuil dibuka, suara gesekan pintu kayu membuat suasana sedikit mencekam. Ruangan ini gelap dan memiliki bau yang aneh, Aria menyalakan senter dan mulai menyusuri seluruh sudut dengan cahaya.

Ia maju beberapa langkah. "Tidak ada Fugaku-san di sini."

Kak Itachi tersenyum. "Tentu saja sayang, kau harus melihat ke bawah."

"Dasar Itachi, bisa-bisanya menggombal. Minggir!"

"Hey, Uncle! Pelan-pelan!"

"Ada apa dengan kalian berdua? Bisakah kalian mengesampingkan masalah cinta di saat seperti ini?"

"Sheriff benar, Kak. Kalian tak perlu ribut."

Kak Itachi mengangguk, walau aku tahu ia agak sedikit kesal. Ia berlutut meraba-raba lantai Kuil seperti sedang mencari anting yang terjatuh. Wajahnya terlihat kesal, mungkin karena ia belum menemukan apa yang ia cari. Paman hanya melihat-lihat seluruh sudut ruangan, Aria menyenteri Kak Itachi sementara aku dan Sheriff diam memperhatikan.

'KLIK'

"Ini dia!"

"Kak, itu pintu rahasia?"

Mungkin, aku akan menyebutnya begitu jika ini benar-benar pintu rahasia atau ruangan rahasia. Tidak menyangka bisa menemukan tempat semacam ini di Kuil jelek yang sudah sangat tua. Tapi ini bisa menjadi siasat yang bagus untuk kabur dari Polisi jika kau seorang kriminal yang biadab.

Aria menyenteri ruangan atau sesuatu yang gelap di sana. Entah berapa meter kedalaman lubang itu tapi aku yakin di dalam sana ada sesuatu yang patut di selediki.

"Ada tangga." Itu suara Kak Itachi. "Aku akan mencari tahu."

Kami sebenarnya tidak begitu sepakat soal ini, aku tidak tahu ada jebakan atau sesuatu yang mengerikan di dalam sana, bisa saja ini mengundang bahaya. Tapi, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Kak Itachi menuruni tangga, berbekal senter yang Paman bawa dan sebuah pisau kalau terjadi atau bertemu sesuatu yang mengancam. Lama sekali Kak Itachi menuruni tangga itu, entah disengaja atau memang ia mendapat masalah kecil di sana.

"Teman-teman..." Kak Itachi muncul lagi dari lubang, wajahnya panik bukan main. Aku jadi tahu alasan kenapa dia begitu lama di sana.

"Ada apa?"

"Ayo turun, ada sesuatu yang harus kalian lihat."


Aku tidak bisa mengatakan sesuatu yang lebih keren dari 'Mengerikan' jika aku menemukannya, aku akan menggunakan kalimat itu. Aku tak dapat mendeskripsikan tempat ini, sejauh aku melakukannya dan berapa kali pun aku memikirkannya, tidak ada yang dapat aku dapat atas ini semua.

Ruangan di sini cukup luas dengan lampu redup dan beberapa lilin di sepanjang koridor, warna lilinya sama dan entah bagaimana lilin ini memancarkan cahaya hijau, hijau seperti ramuan para penyihir di era Victoria.

Ada cahaya yang lebih terang dari tempat kami berdiri, pusatnya di sebelah sana, memancar permai bak sebuah penantian akhir. Di sebelah sanalah itu berasal. Aku mendengar gaung alat musik petik dan suara-suara samar lainnya. Beberapa nyanyian samar mulai terdengar selang beberapa menit bagai dawai asmara, menyusun sekumpulan kalbu dan terbang bagai pelita. Sayangnya itu tak romantis, tampak mengerikan bagiku yang mendengarnya.

Perlahan namun pasti, kami mengikuti suara itu, entah insting macam apa yang membawa kami hingga berani mengikuti sumber suara, untuk sebuah antisipasi, kami berjalan dengan pelan seperti para detektif kikuk di dalam Novel pembunuhan, sebab takut ketahuan.

"Itachi..."

"Sssshhh... jangan berisik."

Aku tahu alasan Kak Itachi menyuruh kami untuk diam, tapi aku tidak tahu kenapa suara kami menjadi sangat ditakuti bagi mereka, kalau di hitung secara jumlah, melihat dari banyak suara yang bernyanyi, jelas kami kalah telak jika mereka berniat menghajar kami. Di tempat ini, aku mendengar suara-suara lain yang tampak asing, macam sebuah mantra pengusir setan, yang mana menjadi tangga nada dan merangkai sebuah lagu.

Lagu ini... aku mengingatnya.

Aku berbisik. "Lagu ini, mirip seperti apa yang kudengar waktu Sai membacakan mantra."

Semuanya berhenti berjalan bak mendapat perintah dari atasan dan mereka menoleh ke arahku secara bergantian termasuk Sheriff yang malah menatap takut terhadap diriku. Dia berbisik. "Aneh kau bisa selamat, nak."

Aria mengernyit. "Kenapa? Apa yang salah? Aku juga mendengar lagu itu."

"Itu lagu Pengantar Kematian. Jika jiwamu tak kuat maka nyawamu akan lenyap, biasanya lagu itu dinyanyikan dalam proses Pertukaran."

"Maksudnya?"

Kak Itachi menengahi. "Maksudnya saat proses tumbal itu, lagu itu adalah pengantarnya, maka jika itu benar kau seharusnya sudah mati Sas. Tapi, ada yang menyelamatkanmu. Itu bagian yang an-"

Paman dengan sigap langsung memotong pembicaraan, ia mengintip dari dalam celah kecil dekat pot-pot besar dari tanah liat. "Tunggu, ada seseorang yang tampak aku kenal di sana."

Aku mengikuti bagaimana mata Paman tertuju dan baru sadar jika pot-pot yang membatasi antara aku dan orang-orang di sana ini menyamarkan sebuah ruangan besar seperti teater resmi di Manhattan, melihat dari celah itu dan seberapa pantas tempat ini menjadi Tempat Persembahan, aku mengacungkan dua puluh jempol. Pantas saja suara-suara ini terasa dekat.

"...itu."

"Sai?"

Nama itu dipanggil secara halus begitu saja oleh Sheriff, membuat satu buah pot bunga bulat berbahan tanah liat terjatuh dan pecah, terbelah menjadi beberapa bagian, terpecah belah seperti hati yang hancur.

Nyanyian-nyanyian mengerikan terhenti secara refleks, termasuk pemain GuZheng yang berada di ujung sana, berdiri dengan posisi mantap tanpa gangguan sama sekali atas kehadiran kami. Dari celah lumayan besar itu, aku melihat banyak orang di sana, duduk berhadapan dengan posisi melingkar meninggalkan ruang kosong di tengah.

Mereka mengenakan pakaian layaknya jubah yang sama, merah dan putih ada paduan kuning. Mereka duduk di kursi berlapis emas dengan relik aneh sebagai hiasan, juga topi aneh sebagai tambahan.

Di bawahnya ada karpet merah yang menyala bak warna darah, sungguh berani.

Ada sebuah Altar kecil di sana, seseorang yang tinggi mengenakan jubah merah darah dengan topi kerucut bertudung putih berdiri. Dia menunduk, menyembunyikan sebuah wajah.

Aku maju sedikit, keluar dari belenggu dan melihat lebih jelas lagi tentang apa yang ada di sana.

Semuanya tampak aneh dan aku... tak mengerti.

Aku baru sadar kalau orang-orang di sana memiliki cawan kerang besar yang aneh dan buku cokelat tebal di masing-masing meja. Semuanya kebanyakan pria ada juga wanita dan usia mereka berbeda-beda.

Yang lebih aneh, mereka memiliki ekspresi yang sama, menatap lurus tanpa berkedip, tegas dan suram. Bahkan, mereka memakai eyeliner yang sama dan jujur saja aku merinding.

Dari pemandangan ini, ada sesuatu yang membuatku kaget, bukan penampakan Shimura Sai di pojokkan sana atau bagaimana orang-orang yang duduk di kursi itu memiliki wajah datar nan kosong, menatap kami seperti hantu buruk rupa yang menyeramkan atau seorang penagih hutang yang galak.

Orang itu... orang yang berdiri di Altar dengan topi kerucut merah dan tudung putih, lelaki yang mengenakan jubah merah darah dan sepatu runcing seperti kurcaci itu.

Orang itu adalah...

"Naruto-kun?"


HALLO, ini lama sekali buat Up. Karena saya buat ini hampir lebih dari 6000 karakter, jadi kubagi 2 biar gak pusing bacanya, jadi bagian 8 ada 2 ya, maaaaf banget. Thanks buat yg udah nungguin dan maaaaaf kalo lamaaaaaa. Saya bakal Up lagi tapi gak janji cepet ;;;;0;;;;; soalnya file ini sempet ilang dan aku garap lagi ;;;;;0;;;;