Cinta, bukankah itu adalah sesuatu yang indah ?
Merasakannya saja mampu membuatmu menjadi manusia paling bahagia di dunia
Tapi, jangan pernah bermain-main dengan Cinta.
Kenapa ?
Karena itu akan membuat mu menjadi manusia paling menderita di dunia
.
Disclaimer : Naruto owns by Masashi Kishimoto
Love isn't a game owns by Minatokaze
Warning: AU, OOC, TYPO(s)
If you don't like my story please just press the back button
It isn't a hard thing to do right ?
.
Love isn't a game
.
"Hey, Hinata bisa kau bantu aku mengerjakan soal ini?" Hinata yang awalnya sedang membaca novel kesukaannya mau tidak mau harus mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang megganggu kegiatan membacanya.
DEG
Sapphire dan amethyst bertemu membuat sepasang manusia itu mau tidak mau sama-sama terpesona dengan mata lawan mereka masing-masing.
Hinata yang merasa jantungnya akan segera keluar dari tubuhnya jika terus menatap mata itu lebih memilih menunduk menyembunyikan semburat merahnya sambil memainkan kedua jarinya. Hal yang biasa ia lakukan jika berada di dekat Naruto
Disisi lain, Naruto berdehem untuk mencoba meredakan kecanggungan yang terjadi antara mereka.
'Kenapa hatiku tiba-tiba berdetak cepat sekali? ini aneh ttebayo!' pikir Naruto sambil menggelengkan kepalanya.
" A-Ano Hinata. B-bisa kau ajarkan aku mengenai soal ini? Aku tidak mengerti"
'Sial. Kenapa aku tiba-tiba tertular virus Hinata seperti ini.' Batin Naruto berteriak.
"U-Uhm,B-baiklah. N-Naturo-Kun hanya perlu mengerjakannya seperti ini... " jelas Hinata yang sudah mulai dapat mengendalikan kegugupannya
Naruto yang duduk di depannya hanya diam dan terus mengangguk sambil terus melihat ke arah Hinata tanpa peduli dengan apa yang sedang Hinata jelaskan.
'Ternyata dia manis juga jika dilihat dari dekat.' Batin Naruto melamun sambil terus menatap intens ke arah Hinata
"B-Begitu caranya. Kau mengerti Naruto-Kun?" tanya Hinata dengan suara lembutnya.
"Hn? Manis Ah maksudku tidak Eh m-maksudku Ia-ia. A-Aku mengerti. Aku sudah mengerti. Ya, T-terima kasih Hinata. Kau sangat membantuku ttebayo." Ujar Naruto lalu bangkit dengan tergesa-gesa menuju tempat duduknya tidak lupa dengan semburat merah tipis yang menghiasi pipi tannya. Meninggalkan Hinata yang terbengong-bengong melihatnya.
'Sial. Kenapa aku bisa jadi seperti ini! Bisa-bisa Shikamaru akan mengejekku jika dia tau aku menjadi gagap hanya karena berbicara dengan seorang wanita. Harga diriku akan rusak jika begini terus. Ini memalukan ttebayooo!!!' batin Naruto berteriak frustasi.
.
"Hinata, terima kasih karna sudah mengajariku tadi. Sebagai balasannya akan kutraktir makan malam di Ichiraku. Bagaimana?" teriak Naruto sambil mencoba mengejar Hinata yang sedang menuju perpustakaan.
" E-Eh? Tidak usah N-Naruto-Kun. Lagian m-memang sudah seharusnya k-kita saling membantu. Tidak usah dipikirkan." Balas Hinata dengan suara yang lembut sambil memainkan jari tangannya.
"Ayolah. Kumohon.." paksa Naruto sambil menggunakan puppy eyesnya.
Hinata yang melihatnya mau tidak mau luluh juga. Hey, lagipula kesempatan tidak akan datang dua kali bukan? Diajak makan malam bersama oleh cinta pertamamu. Oh ayolah, siapa orang bodoh yang akan menolak tawaran itu.
"B-Baiklah kalau Naruto-Kun memaksa" gumam Hinata pelan tapi masih bisa didengar oleh Naruto
"Yosh. Kalau begitu aku akan menjemputmu nanti malam ttebayo." Balas Naruto sambil menunjukkan seringaian andalannya.
Hinata yang melihatnya hanya bisa tersipu "Ha'i. K-kalau begitu a-aku akan ke perpustakaan dulu. Jaa ne, Naruto-kun."
"Hm. Jaa ne." Balas Naruto sambil melambaikan tangannya
'Berjalan sesuai rencana' Batin Naruto menyeringai puas.
.
"Baju ini cocok tidak ya?" gumam Hinata sambil mematut dirinya di depan cermin.
"Nee-Chan akan tetap cantik memakai apapun. Lagipula Nee-Chan akan pergi kemana? Tidak biasanya Nee-Chan memperhatikan penampilan Nee-Chan sampai begitu." tanya Hanabi sambil berbaring di atas kasur Hinata
"Ah,Hanabi-Chan. Kau sudah pulang? Ano, bagaimana penampilan Nee-Chan? Apakah berlebihan?" tanya Hinata menggebu-gebu sambil menatap Hanabi penuh tanya.
"Nee-Chan, jangan bilang kau akan pergi kencan dengan Uzumaki itu?" tanya Hanabi penuh selidik.
"Eh,itu bukan kencan Hanabi-Chan. Kita hanya makan malam. Itu saja." Gumam Hinata dengan nada yang semakin lama semakin pelan
"Nee-Chan, sudah Hanabi bilang jangan dekat-dekat dengan Uzumaki itu. Dia sangat playboy Nee-chan. Nanti Nee-Chan sendiri yang akan sakit hati. Lagian Nee-Chan tau sendiri sudah berapa banyak hati gadis yang telah ia patahkan." Jelas Hanabi sedikit frustasi
"Apa Neji-Ni tau?"
Hinata hanya menggeleng pelan
Hanabi pun menghembuskan napasnya kasar melihat kelakuan kakak tercintanya ini
Ya,Baik Hanabi maupun Neji memang tidak menyukai Naruto. Dikarenakan sikapnya yang sangat suka mempermainkan dan tidak menghargai makhluk bernama perempuan itu tak payah membuat mereka berdua begitu membenci Naruto. Tapi sepertinya hal ini tidak berlaku bagi Hinata yang jatuh cinta kepada Naruto.
Cinta itu memang buta.
"Terserah Nee-Chan saja. Tapi ingat, kalau Uzumaki itu membuat Nee-Chan menangis katakan pada Hanabi ne? Biar Hanabi menendang Bokongnya." Ujar Hanabi mencoba meredakan suasana yang tadinya tegang tersebut.
"Uhm. Arigatou ne Hanabi-Chan. Kamu adalah imoutou terbaik yang ada di dunia" ungkap Hinata tulus sambil memeluk adiknya itu dengan sayang.
.
"Gomen, Naruto-Kun. Apakah sudah menunggu lama?" tanya Hinata sambil berjalan menghamipiri Naruto yang sedang bersandar di mobilnya dengan kedua tangan berada di saku celananya
"Tampan."
"Manis."
Mereka berdua sama-sama berujar dalam hati.
Hinata yang memakai dress froral dengan warna serupa dengan mahkota indigonya membuatnya tampil sederhana namun tetap mempesona. Jangan lupakan rambutnya yang diurai dan tambahan semburat merah alami yang ada di pipinya menambah kesan manis yang sudah ada pada dirinya
Sedangkan Naruto memakai polo shirt berwarna biru muda dan celana shorts selututnya. Meskipun sederhana tapi tidak menghilangkan ketampananya. Membuat Hinata semakin terpesona dengannya.
"Iie. Aku baru saja sampai. Jadi, sudah siap?" tanya Naruto sambil membukakkan pintu untuk Hinata
"Ha'i. Arigatou Naruto-Kun." Ujar Hinata sambil menaikki mobil Rover hitam Naruto
"Yosh, Ayo berangkat." Ucap Naruto yang sudah siap berada di balik kemudi.
.
Holaa~
Finally selesai juga chapter ini. Awalnya bikin chapter ini Cuma iseng saja karena sedang bosan dan tiba-tiba cerita ini masuk kepikiran author disaat author sedang berusaha untuk tidur, tapi karena kepikiran terus jadi ditulis deh di fanfiic ini.#CURHATMODEON. Tapi tidak menyangka comment-nya pada bagus-bagus padahal author hanyalah seorang Newbie. HUEEE~~ rasanya jadi terharu.
BTW terima kasih ya kepada readers yang sudah bersedia mereview fic author yang masih jauh dari kata bagus ini.
review minna sangat berarti untuk menambah semangat author menyelesaikan fic ini.
Mohon kritik dan sarannya ya minna.
Gomen kalau masih ada kata-kata salah yang bertebaran di atas.
Karena saya masihlah seorang beginner dan sedang belajar. Hehehe...
Akhir kata Review please
TBC or Delete ?
