Cinta, bukankah itu adalah sesuatu yang indah ?

Merasakannya saja mampu membuatmu menjadi manusia paling bahagia di dunia

Tapi, jangan pernah bermain-main dengan Cinta.

Kenapa ?

Karena itu akan membuat mu menjadi manusia paling menderita juga.

Disclaimer : Naruto owns by Masashi Kishimoto

Love isn't a game owns by Minatokaze

Warning: AU, OOC, TYPO(s)

If you don't like my story please just press the back button

It isn't a hard thing to do right ?

.

Malam hari di konoha begitu dingin. Beberapa orang lebih suka menghabiskan waktu mereka di rumah sambil menyesap secangkir kopi atau teh bersama dengan keluarga mereka masing masing dari pada dihadapkan pada cuaca yang dingin.

Tapi berbeda dengan kedua pemeran utama kita ini. Lihat saja mereka. Meskipun cuaca sangat dingin tapi mereka lebih memilih keluar untuk makan di sebuah kedai ramen yang sederhana itu.

" Yoo Naruto, sudah lama kau tidak datang kemari. " tanya paman Teuchi selaku pemilik kedai ramen itu.

" Begitulah . Aku sangat sibuk belakangan ini paman , jadi tidak sempat mampir. " curhat Naruto sambil menarik kursi supaya Hinata bisa duduk.

" Arigatou Narut- kun. " cicit Hinata sambil menahan semburat di wajahnya.

" Wahh. Ternyata kau bersama Hinata yaa. Kau bisa romantis juga ya Naruto " goda Ayame yang tidak lain adalah anak dari paman teuchi.

" hehehe. Kau bisa saja kak Ayame." Balas Naruto.

' Heh , itu adalah keahlian ku tau ' batin Naruto dengan bangganya.

" Kau mau pesan apa Hinata ? " lanjut Naruto sambil memperhatikan Hinata yang membolak balikan menunya.

" hm. Aku pesan seperti yang Naruto - kun pesan saja " ujar Hinata sambil menyisir rambutnya yang dari tadi menghalangi pandangannya ke belakang telinga.

Entah memang Hinata tidak peka atau memang dia tidak Sadar , kalau dari tadi ada sepasang mata sapphire yang memperhatikan gerak gerik sang putri hyuga itu, sampai akhirnya-

" Narutoooo kepala Hinata bisa bolong jika kau pandangi terus menerus. Hah , kau ini Naruto. Hinata , hati hati ya sama Naruto, mungkin saja dia sedang berpikiran mesum tentangmu . Nah, Ini ramennya , silahkan dinikmati. " ujar Ayame berlalu pergi sambil terkekeh kekeh kemudian mengantarkan pesanan kepada tamu yang lain.

Hinata yang mendengarnya hanya bisa terkejut menahan semburat merah yang muncul sambil memainkan kedua jemari lentiknya.

" Aku tidak seperti itu kak Ayame , sudah jangan dengarkan dia, ayo kita makan saja Hinata. Ittadakimasu " ujar Naruto langsung menyeruput mie nya untuk menghilangkan kecanggungannya.

" Uhuk uhuk, ahh panasss " Hinata yang melihatnya dengan sigap langsung menuangkan air untuk Naruto.

" Mou, Naruto - kun hati hati kalau makan. Tidak ada yang akan merebut ramen itu darimu . " ujar Hinata sambil menepuk nepuk punggung Naruto

" Ahh. Terima kasih Hinata. Suatu hari nanti kau pasti bisa menjadi istri yang baik. Hehehe " cengir Naruto.

" ehh ?! Ja-jangan menggodaku seperti itu Naruto - kun ! " ujar Hinata sambil memainkan jemari tangannya seperti biasa.

kemudian mereka mulai menikmati makanan mereka sambil sesekali Naruto kembali menggoda Hinata yang langsung mengeluarkan semburat merah di kedua pipi gembilnya

.

Entah sejak kapan , tapi melihat Hinata yang merona untuknya merupakan hal yang sangat disukainya.

Eh ? Suka ? Tidak, tidak mungkin. Ini hanya permainan saja. Dia, Uzumaki Naruto tidak akan mungkin suka pada gadis di depannya ini. Apa lagi dia sangatlah polos. Berbeda dengan gadi- ralat wanita yang biasa Naruto mainkan. Dimana mana, semua gadis lah yang bertekuk lutut di hadapannya bukannya sebaliknya. Jadi hal itu tidak mungkin terjadi . coret itu dalam kamusnya.

' Mungkin aku hanya terbawa suasana saja. ' batin Naruto mencoba untuk menepis pikirannya itu

Heh , Tidak taukah kau. Jika cinta dapat membuat hal yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin . dan hal itu juga berlaku untukmu , Naruto. Suatu hari nanti , cinta itu pasti akan merubah mu , entah menjadi lebih baik atau pun sebaliknya.

.

" Ramen di ichiraku memang yang terbaik ! Aku kenyang sekali Hinata " ujar Naruto sambil menepuk - nepuk perutnya.

" Itu karena Naruto - Kun makan 7 mangkok sekaligus. Itu tidak baik untuk kesehatan mu Naruto - Kun. " Hinata berkata dengan nada yang khawatir

" Hahaha. Tenang saja Hinata! Aku itu kuat ttebayo " ujar Naruto sambil memamerkan cengiran rubahnya.

Hinata hanya bisa tersenyum dibuatnya. Entah kenapa, tapi hatinya selalu merasa nyaman dan hangat apabila berada di samping Naruto , baik dari jarak yang jauh ataupun dekat. Bahkan hanya dengan melihatnya saja , hati nya bisa langsung menghangat. Dia tidak pernah berfikir akan bisa makan bersama dengan Naruto seperti tadi , maupun bercanda seperti tadi. Dia bahkan tidak berani bermimpi ini akan menjadi kenyataan. Naruto yang berada di sini seperti ini saja sudah cukup bagi Hinata. Cinta itu memang hebat kan ?

' Tapi apakah Naruto - Kun juga merasa seperti itu ? Kurasa tidak mungkin dia mau dengan gadis biasa seperti ku ' batin Hinata murung

Hey , tidak sadarkah kau Hinata? Banyak lelaki yang menginginkanmu dan kau malah tidak percaya diri seperti itu heh ?

Keduanya terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya Hinata memutuskan untuk mengakhiri acara mereka hari ini.

" Ano, Terima kasih Naruto - kun sudah mau mengantarku dan terima kasih juga untuk ramennya. Kalau begitu aku masuk dulu ya ? Hati - hati di jalan, ne?. " ujar Hinata tersenyum dan melepaskan seat belt nya. Dia baru saja akan membuka pintu sebelum sebuah tangan yang hangat menahan pergelangan tangannya dan dengan perlahan menggenggam jari jemarinya dengan erat.

" Na-Naruto - Kun ? Apa yang ka- "

" Hinata, apa kau mau menjadi pacarku ? " tanya Naruto dengan wajah yang sulit diartikan

" eh ?! "

" Aku memang tidak setampan Sasuke maupun sepintar Shikamaru, aku juga tidak sekeren kakakmu Neji maupun sepuitis Sai. Tapi aku berjanji aku akan mencoba membahagiakan mu dengan cara ku sendiri. Maka dari itu Hyuga Hinata, maukah kau menjadi pacarku ? "

" Hi- Hinata ? " panggil Naruto, ia khawatir jika Hinata akan menolaknya maka taruhannya dengan Shikamaru bisa kalah dan mungkin dia tidak akan di cap lagi sebagai playboy terbaik. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Dia tidak mau sampai itu terjadi. Dia baru saja akan berbicara lagi sampai akhirnya Hinata bersuara

" Kenapa aku ? Bukankah kau lebih menyukai gadis yang cantik dan populer seperti Shion - san ataupun Terumi - san ? Aku tidak secantik dan sepopuler mere- "

" Sstt. Hinata dengarkan aku. Siapa yang bilang kau tidak cantik ? Tidak taukah kau saat di sekolah semua laki- laki menatapmu penuh damba ? Dan setiap perempuan di sekolah menatap mu dengan iri ? Kau itu cantik, dan kau cantik dengan caramu sendiri. Tidak seperti mereka yang harus memakai tepung setiap hari di wajah mereka dan memakai baju yang kurang bahan untuk menampilkan tubuh mereka untuk disukai orang. Kau cantik dengan caramu sendiri. Percayalah Hinata ! " ucap Naruto yang mencoba untuk mengambil hati Hinata

" Hahaha. Tepung ? Itu bedak Naruto-kun bukan tepung. Kau jahat sekali . "

" Hehehe. Jadi bagaimana Hinata ? Kau mau menjadi pacarku ?

" Aku.. "

" Aku mau Naruto - kun " ucap Hinata dengan mata yang berkaca- kaca. Tidak percaya akhirnya cinta nya yang bertepuk sebelah tangan selama 4 tahun itu akhirnya Terbalas juga.

" Terima kasih telah memberikanku kesempatan , Hinata " ujar Naruto kemudian dengan perlahan memajukan wajahnya ke wajah Hinata dan dengan lembut dan perlahan mulai mencium bibir gadis itu.

Hinata yang terkejut dengan serangan tiba - tiba itu hanya bisa menutup mata dan berharap ia tidak pingsan

' manis ' batin Naruto yang sekarang malah melumat bibir gadis itu. Tangan kanan nya yang tadi memegang tangan Hinata menuntun kedua tangan gadis itu untuk memeluk lehernya kemudian beralih menekan tenguk Hinata untuk memperdalam ciuman mereka sementara tangan kiri nya memeluk posesive pinggang Hinata

Tidak ada dari mereka yang ingin mencoba mengakhiri ciuman itu , mereka sama sama terlena dengan ciuman mereka. Tapi tidak ada yang menyadari bahwa Naruto menyeringai penuh kemenangan.

' Ini terlalu memabukkan ' batin Hinata dengan lengan yang memeluk erat leher Naruto dan menutup matanya erat berharap ini bukanlah mimpi.

' sekarang tinggal bertahan selama 4 bulan. ' batin Naruto menyeringai puas sambil kemudian melumat bibir Hinata yang dianggap nya manis dan memeluk pinggangnya makin erat sambil memejamkan mata menikmati ciuman mereka.

Siapa yang akan menang ? Cinta yang tuluskah ? atau cinta yang hanya merupakan sebuah permainan ?

Hello minna..

Okay, author minta maaf karena baru bisa lanjutin fic ini sekarang

Sebenarnya author sedikit bingung untuk buat jalan ceritanya karena banyak sekali ide yang keluar, jadi bingung sendiri deh mau pilih yang mana.

Jika ada saran yang dapat membantu, author dengan senang hati menerima nya supaya dapat segera menyelesaikan fic ini.

Dan arigatou untuk reviewnya semua

Semangat dan dorongan kalian sangat berarti bagi author

Akhir kata :

Delete ot TBC ?Review please