Cinta, bukankah itu adalah sesuatu yang indah ?

Merasakannya saja mampu membuatmu menjadi manusia paling bahagia di dunia

Tapi, jangan pernah bermain-main dengan Cinta.

Kenapa ?

Karena itu akan membuat mu menjadi manusia paling menderita juga.

.

Disclaimer : Naruto owns by Masashi Kishimoto

Love isn't a game owns by Minatokaze

Warning: AU, OOC, TYPO(s)

.

If you don't like my story please just press the back button

It isn't a hard thing to do right ?

.

Pagi hari yang cerah di Konoha seperti mewakili perasaan gadis bermahkota indigo yang sedang menuju ke sekolah saat ini.

Siapa yang tidak senang jika akhirnya seseorang yang sudah lama disukai ternyata juga menyukaimu ? Menunggu selama 4 tahun bukanlah hal yang mudah. Bukannya Hinata tidak berusaha selama jangka waktu tersebut. Tapi, setiap kali Hinata ingin mencoba mendekat, Naruto ternyata sudah mempunyai kekasih. Dan Hinata tidak akan mungkin ingin menjadi orang ketiga. Dan pada akhirnya, dia hanya bisa menunggu. Sampai akhirnya, dengan tiba-tiba Naruto menyapanya dan dengan senang hati Hinata menyambutnya.

Terkadang, cinta memang sehebat itu bukan ? bahkan orang yang lemah dan penakut pun akan menjadi sangat kuat dan berani jika sudah berurusan dengan cinta.

.

Hinata yang sedang berjalan ke sekolah terlihat sangat bahagia. Mengingat kejadian semalam membuat pipinya bersemu seketika. Ciuman pertamanya dengan Naruto kembali terulang di otaknya. Rasanya sangat menenangkan sekaligus mendebarkan. Karena terus memikirkan tentang ciuman itu, tanpa sadar dia menabrak seseorang.

" ittai " rintih Hinata

" Kenapa kau melamun saat berjalan, hm ? " tanya orang yang ditabrak tersebut

" Na- Naruto-Kun? " Hinata pun mendongak dan terkejut karena orang yang sedari tadi dipikirkannya sedang berada di depannya saat ini

" Yoo, Hinata. "

" Kenapa Naruto-kun tidak masuk ? "

" aku menunggumu dari tadi. saat aku melihatmu, aku memanggilmu. Tapi kau tidak menjawab dan malah menabrakku " jelas Naruto sambil menatap Hinata heran

" memangnya apa yang sedang kau pikirkan, Hinata ? " sambungnya

" a- ano. Itu.. " Hinata tidak mungkin menjawab jika ia sedang berpikir tentang ciuman mereka semalam bukan ? bisa-bisa Hinata yang polos dan lugu ini bisa dikira mesum oleh Naruto dan jika Naruto berpikir dia mesum mungkin Naruto akan memutusinya. Memutusinya bahkan sebelum mereka belum jadian selama 24 jam. Itu ide yang buruk. Jadi dia lebih memilih jawaban yang lain.

" itu.. a- aku sedang memikiran.. anoo, ah. kuis matematika. Ya, itu. Apa Na-Naruto-kun sudah belajar ? " tanya Hinata yang kebetulan ingat tentang kuis itu dan berharap bahwa Naruto akan percaya padanya

" ahhhh... aku lupa. Hinataaaa... tolong aku" Naruto berteriak dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap Hinata dengan puppy eyesnya.

" haii. Aku akan me-mengajarimu Naruto-kun. " tentu saja Hinata akan melakukannya. Bahkan jika Naruto menyuruhnya untuk berjalan dengan tangan seperti yang selalu Lee lakukan (?) pun Hinata dengan sangat rela pun akan melakukannya. Cinta memang hebat!

" Yeay! Arigatou, Hinata. " teriak Naruto kemudian memegang tangan hinata dan menariknya masuk ke sekolah karena kelas akan segera di mulai

.

" akhirnyaaa , arigatou Hinata Karena sudah membantu ku tadi. Kalau tidak ada kau mungkin aku akan mendapat nilai nol dan di ceramahi oleh iruka-sensei lagi. Mendokusaiii " seru Naruto dengan kedua tangannya yang diletakkan di kepalanya sambil berjalan menuju ke atap diikuti Hinata yang berjalan di sampingnya

Hinata yang mendengar Naruto mengutip kata sang ketua kelas pemalas- Shikamaru- hanya terkekeh pelan

" sama-sama, Naruto-kun. Ahh , ayo duduk di sini. Aku sudah membuatkan bento untuk Naruto-kun" ujar Hinata dengan semangat

"hontou ? Wahhh. Ini pasti lezat sekali Hinata. Ittadakimasu" seru Naruto dengan mata berbinar-binar menatap bento Hinata.

Tentu saja Naruro senang, pasalnya pacar nya yang dulu tidak pernah membuatkan bento untuknya. Tentu saja tidak pernah. Karena mereka terlalu sibuk ber-makeup ria untuk mempercantik diri mereka agar dapat menarik perhatian Naruro. Tapi ya pada akhirnya mereka juga menjadi korban dari Naruto. Ck , kasihan sekali

" ba-bagaimana, Naruto-kun ?" tanya Hinata penuh harap

" tentu saja enak Hinata! Kau pasti akan menjadi istri yang baik suatu hari nanti. Hehehehe "

" ehh ?!" Hinata yang mendengarnya hanya bisa bersemu merah

.

Bel pelajaran terakhir akhirnya berbunyi. Semua murid langsung berteriak senang mendengarnya. Beberapa dari mereka ada yang sibuk merencanakan apa yang akan mereka lakukan sepulang sekolah, ada juga yang ingin segera pulang dan langsung menikmati empuknya kasur mereka.

" ne, Hinata. Ayo kita pulang " ajak Sakura yang duduk di samping Hinata sambil membereskan barangnya

Hinata yang baru saja akan menjawab ajakan Sakura langsung di potong oleh Naruto yang kebetulan duduk di belakang mereka

" tidak bisa, Sakura-chan. Hinata akan pulang bersamaku hari ini. Ayo,Hinata," seru Naruto sambil menarik tangan Hinata pergi meninggalkan kelas

" Oiiiii NARUTOOOOO, AWAS KAU NANTI!. HINATA KAU BERHUTANG PENJELASAN PADAKUUUU " teriak Sakura entah pada siapa karena semua murid sudah meninggalkan kelas

.

" Ki-Kita akan pergi ke ma-mana Naruto-Kun ?" tanya Hinata yang kini sudah duduk di dalam mobil Naruto.

Hinata yang melihat Naruto menuju ke arah yang berlawanan dari rumah Hinata tentu saja heran dan bertanya

" ra-ha-si-a" seru Naruto dengan seringaiannya yang misterius

.

" wahhh. Sugoiii. Ini indah sekali Naruto-kun " seru Hinata dengan wajah yang berseri-seri

Sepanjang mata memandang hanya ada hamparan bunga lavender yang bertebaran. Ditambah dengan sinar matahari yang mulai tenggelam menambah indahnya hamparan padang lavender di tempat mereka berada sekarang

"benarkan ? Aku datang ke tempat ini pertama kali ketika aku masih kecil. Saat tou-san dan kaa-san masih ada mereka sering mengajakku kesini. Tempat ini selalu mengingatkanku kepada mereka. Saat aku merindukan mereka aku selalu datang ke tempat ini" ujar Naruto dengan mata menerawang ke depan

Hinata yang mendengarkan Naruto yang sedang bercerita kemudian berjalan pelan ke arah Naruto. Ia sangat tau perasaan Naruto karena kaa-chan nya juga sudah duluan pergi meninggalkan mereka ketika Hinata masih berusia 5 tahun

Entah keberanian yang datang dari mana, Hinata memegang tangan Naruto dan mengaitkan kedua jemari mereka. Tidak ada kata yang terucap , tetapi dengan menggenggam tangan Naruto, Ia berharap hal itu akan memberi kekuatan pada Naruto

Naruto pun menguatkan tautan jemari mereka. Entah kenapa tetapi ia merasa sangat nyaman jika bercerita kepada gadis hyuuga ini. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Hatinya menghangat saat melihat Hinata yang berada di sampingnya tengah memegang tangannya dengan erat. Hinata dengan semburat merah di kedua pipi chubby nya dan dengan rambut yang diterpa angin membuat ia semakin terlihat cantik dari biasanya. Naruto heran kenapa dia tidak pernah melihat bahwa Hyuuga Hinata secantik ini

Dengan perlahan ia mengelus sebelah pipi chubby Hinata dan mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Hinata. Kali ini hanya lah ciuman kecil yang tulus tanpa nafsu, tidak seperti Naruto yang biasanya melumat dengan liar gadis di bar atau pun gadis yang ia bawa untuk menghangatkan ranjangnya

"Terima kasih Hinata" sela Naruto ditengah ciuman mereka

Didalam hati kecilnya , Naruto berharap bahwa permainannya tidak akan berakhir dengan cepat. Karena ada sesuatu dalam dirinya yang merasa tidak rela jika ia harus mengakhiri permainan yang dibuatnya sendiri. Tetapi ia berusaha untuk menolak kata hatinya itu

Bukankah kau sangat egois Naruto ? Kau menginginkan gadis ini berada di sisimu tetapi kau juga ingin menghancurkannya

Apa yang sebenarnya kau inginkan Naruto ?

Apa jangan-jangan kau sudah terjebak di dalam permainan yang kau buat sendiri ?

Permainan dengan sebutan cinta.

.

.

.

Terima kasih untuk minna-san yang telah meriview cerita yang gaje ini. Hahahahahah

Maap karna tidak bisa di balas satu persatu

Dengan membaca review kalian mimin merasa semakin bersemangat menulis cerita ini. Heheheh

Akhir kata

Tbc or delete ?