Story and Plot – Star_Bening

Warning – OC, OOC, Angst, Weird Phrasing, Author is still a noob please bear with it

.

.

Hari-hari di Kikunoji dari perspektif asisten seorang Saniwa.

.

.

.

"Tanah Echizen?" kataku setelah mendengar penjelasan Sadaharu mengenai citadel ini. Jadi, citadel ini terdiri dari dua bangunan yang dihubungkan oleh jembatan kecil. Bangunan yang pertama khusus untuk pekerjaan internal citadel seperti ruang kerja Saniwa, ruang pandai besi, dan ruang reparasi, sementara bangunan kedua khusus untuk kamar tidur, dapur, ruang makan, dan onsen. Ya, semua citadel punya pemandian air panas sendiri. Saat ini ukuran citadel ini masih tergolong kecil karena touken danshi yang hadir masih sedikit. "Jadi kita ada di daerah prefektur Fukui?" tanyaku. Prefektur Fukui adalah prefektur yang menaungi provinsi Echizen. "Yep. Tapi posisi Citadel ini tidak terikat waktu... kadang di era Heian, era Sengoku, bahkan era yang lebih modern..." tambah Sadaharu. "Hari ini mungkin kita akan keluar di era modern, tapi, mungkin saja besok kita akan keluar di era Heian."

"Ho... mengejutkan." Celetukku.

Tawa renyah terdengar. "Heh. Gaya bicara Kimura-san mengingatkanku pada seseorang." Komentar Sadaharu. "Siapa?" tanyaku. "Hm... Mungkin aku hanya ngelantur. Hahahaha." Respon Sadaharu sekenanya. Selanjutnya ia menunjukkanku daerah perkebunan, istal, dan dojo tempat para touken danshi melatih kemampuannya. "Lalu... Apa citadel ini punya nama?" tanyaku. Sadaharu mengangguk, "Tentu saja. Nama citadel ini adalah Kikunoji." Jawab Sadaharu. "Saat ini memang sudah banyak yang aku potong, namun, saat musim semi, taman di tengah bangunan kedua citadel akan penuh dengan bunga krisan liar. Karena itulah citadel ini dinamai Kikunoji, Kuil Krisan." Terang Sadaharu. Ditengah bangunan kedua citadel memang terdapat kolam ikan yang cukup besar yang ditumbuhi banyak tanaman. Berbeda dengan kolam di dekat bangunan pertama yang lebih menyerupai sungai, kolam ini berbentuk bulat sempurna dan dihiasi batu-batu besar bergaya Zen.

Kami kemudian berkeliling di bangunan kedua. Disetiap pintu kamar tertulis nama penghuni kamar tersebut."Setiap kamar memiliki ukuran yang berbeda karena yang akan menempati berbeda juga. Misalnya kamar milik pedang Awataguchi. Saat ini mereka memiliki ukuran yang paling besar karena pedang Awataguchi paling sering muncul. Tidak hanya itu, jumlah mereka pun sangat banyak. Jadi ruangan mereka adalah yang terbesar." Terang Sadaharu. "Lalu bagaimana denganmu?" Tanyaku. Kulihat ruang kerja Sadaharu memiliki lemari penyimpan futon, tapi, aku tidak yakin Sadaharu akan tidur di ruang kerjanya. Sadaharu tidak menjawab dan terus berjalan menuju daerah bangunan kedua yang lebih sepi. "Ini kamarku." Kata Sadaharu sambil membuka pintu di ruangan terujung bangunan kedua. Sadaharu kemudian membuka kamar disebelahnya juga. "Sementara ini akan jadi kamar Kimura-san nanti." Jelasnya. Aku memasuki kamar yang akan aku tempati. Tidak ada barang yang sangat mewah atau hiasan yang mencolok. Sebuah lukisan dengan puisi tergantung di satu sisi ruangan. Ada lemari untuk menyimpan baju dan futon. Dan sebuah televisi modern. "Wah... Televisi ini menjadi sangat mencolok. Aku sangat terkejut Sadaharu-kun memiliki televisi di citadel ini." Komentarku tanpa sadar. Sadaharu terlihat terkejut mendengar komentarku. Awalnya aku segera ingin meminta maaf, namun, tawa kecilnya membuatku urung. "Kimura-san memang benar-benar membuatku ingat pada seseorang." Katanya. Aku ingin bertanya lebih lanjut mengenai siapa yang dimaksud oleh Sadaharu, namun suara lonceng terdengar dari bangunan utama. "Ho... Sepertinya tim ekspedisi sudah pulang. Mari kita jemput mereka, Kimura-san." Kata Sadaharu dengan senyum. 'E-eh? Secepat inikah aku akan bertemu dengan para manifestasi pedang? A-aku bahkan tidak menyiapkan apa-apa–'

"Tidak perlu khawatir, Kimura-san." Sadaharu menenangkanku. "Lagipula, bukankah Kimura-san akan menjadi asistenku mulai sekarang?" senyum di wajah Sadaharu melebar. Entah kenapa, aku jadi ingin tersenyum juga. Duh, feromon atlet terkenal memang berbeda ya? Sadaharu mendahuluiku pergi ke gerbang menuju ruangan penjelajah waktu, aku mengikuti dibelakangnya. Di balik gerbang itu adalah lorong panjang sebelum akhirnya sampai di ruang penjelajah waktu itu sendiri. Sadaharu berdiri di depan gerbang dari kayu jati berpelamir itu, menunggu dengan tenang. Aku sendiri, aku masih belum bisa menghentikan degup kencang didadaku.

Daun pintu terbuka dan enam orang datang membawa berbagai macam barang. "Aruji! Lihat aku mendapat besi banyak sekali!" terdengar suara cempreng anak kecil berusia sekitar 11 tahun mengangkat kain berwarna putih ke arah Sadaharu. "Aku pulang, Aruji!" timpal anak lain yang berumur sekitar 15 tahun dengan rambut hitam panjang. Sadaharu tersenyum lebar mendengar celoteh kedua anak itu, "Aizen-kun, tolong beri salam dulu." Kata Sadaharu sambil mengacak surai merah 'Aizen'. "Oh! Aku pulang, Aruji-san!" kata anak itu cepat. Mendengar jawabannya, senyum Sadaharu semakin lebar.

"Perjalanan tadi cukup menyenangkan." Kata suara lain. Kali ini dari laki-laki berumur 20 tahunan dengan surai ungu. Di tangannya ada semacam papan kecil dengan tulisan-tulisan yang tidak aku mengerti. "Aku pulang, Aruji-sama." Tambahnya. Setelah itu, anggota tim yang lain ikut memberikan salam yang sama. "Selamat datang, semua. Tolong letakkan semua barang yang kalian temukan di gudang, ya?" kata Sadaharu masih tersenyum. Entah kenapa, suaranya terdengar sangat lembut saat berbicara dengan mereka. 'Kalau aku, sih, tidak mungkin bisa berbicara selembut itu.' Pikirku.

"Oya?" ujar seorang dengan rambut merah muda dan manik dwiwarna. "Apakah orang ini tamu Anda, Aruji-sama?" tanyanya. Aku langsung berdeham dan membetulkan posisi berdiriku. "Hm... Namaku Hisao Kimura. Mulai hari ini sampai kedepannya, aku akan membantu Sadaharu– maksudku Saniwa dalam menjalankan tugasnya. Salam kenal." Kataku memperkenalkan diri. Laki-laki berambut ungu kemudian berkomentar, "Ah... kalau begitu Anda yang akan menjadi asisten Aruji selama musim gugur sampai musim dingin?" Ia mundur selangkah dan mengobservasiku. "Setidaknya penampilan Anda cukup elegan, Hisao-dono. Semoga Anda menyukai puisi dan upacara minum teh!" kata orang itu.

Terdengar suara tawa pelan, "Kasen-san, kita belum memasak makan siang. Berbicara masalah puisinya nanti saja, ya?" Sadaharu mengingatkan. "Tentu saja, Aruji-sama. Mina, ayo cepat beres-beres!" kata 'Kasen'. Anak yang dipanggil Aizen tadi dengan segera berlari menuju arah gudang diikuti dengan anggota tim yang berambut merah muda dan hitam. "Fufufu..., jika Anda punya masalah dengan makhluk astral, Anda bisa menyerahkannya padaku, Hisao-dono. Fufufu..." suara yang tiba-tiba muncul mengagetkanku. Aku melihat anggota terakhir tim ekspedisi itu, berambut hijau gelap panjang, yang tadi mengagetkanku dengan komentarnya yang tiba-tiba.

Aku masih berusaha menenangkan jantungku saat aku mendengar tawa Sadaharu. "Ara... Kimura-san sudah akrab dengan para touken danshi ya?" komentarnya. "Aku rasa akan lebih baik jika kita memulai persiapan makan siang. Apa kau bisa memasak, Kimura-san?" tanya Sadaharu. Karena ibuku masih ada, aku jarang sekali menyentuh peralatan dapur. 'Tapi aku bisa membuat tamagoyaki dan sejenisnya...' kataku dalam hati.

"Kalau begitu, urusan tamagoyaki aku serahkan padamu, Kimura-san." Ujar Sadaharu sambil melangkah pergi menuju bangunan kedua.

"HAH?"

.

.

.

Memasak makan siang berjalan mulus. Aku melihat betapa cekatan Sadaharu menggunakan berbagai macam alat dapur. Meskipun begitu, gerakannya sangat elegan dan terampil. Tidak salah jika Sadaharu dianggap sebagai salah satu figure skater terbaik di dunia. Kasen membantu Sadaharu dengan cekatan juga. Sesekali ia membantuku memasak tamagoyaki dan memastikan telur dadar itu tidak terlalu asin, terlalu manis atau gosong. Hanya dalam 30 menit, makan siang untuk 7 orang akhirnya siap. "Terima kasih banyak." Sadaharu dan Kasen bertukar senyum. Entah kenapa, auranya sangat menyilaukan dan membuatku ingin mengalihkan pandanganku dari dua sosok yang elegan itu. Aku dan Sadaharu meletakkan masing-masing nampan berisi makanan di kereta makanan. Kasen kemudian mendorongnya keluar dari dapur. Di ruang makan 4 orang touken danshi telah menunggu makanan mereka. Anak yang dipanggil Aizen tadi terlihat paling antusias, disusul oleh anak lain berambut hitam panjang.

Setelah semua mendapat makanan, kami duduk di salah satu meja panjang di ruang makan. "Oh, omong-omong, aku masih belum mengenal anda semua." Kataku sambil menatap lima manifestasi pedang yang sedang duduk makan bersamaku. Kasen adalah orang yang pertama kali bereaksi. "Benar juga, oh, dimana tata kramaku? Nama saya Kasen Kanesada. Saya dibuat oleh generasi kedua Kanesada dan menjadi tempaan terbaik bahkan disemua generasi. Karena itu saya dijuluki Nosada. Nama saya sendiri diambil dari 36 penyair terhebat Jepang. Elegan, bukan? Sayang pemilik saya sebelumnya juga pernah membunuh 36 orang bawahannya. Hm, mungkin karena itu orang lain jadi sedikit canggung kepadaku, huh? Salam kenal, Hisao-dono." Kata Kasen. Ia membungkuk sedikit padaku dibagian akhir. Kalau dari penampilannya, Kasen memang terlihat cukup elegan. Caranya duduk dan makan sangat berbeda dariku. Seperti daimyo-daimyo zaman dulu. "Selanjutnya aku, fufufufu. Aku Nikkari Aoe. Namaku diambil dari roh wanita yang ditebas oleh pemilikku sebelumnya. Karena itu, aku harap Hisao-dono tetap bisa tertawa meskipun sedang memiliki masalah dengan makhluk astral..." ujar pemuda berambut hijau gelap yang kemarin mengagetkanku. 'Nikkari Aoe, huh? Pantas dia selalu tersenyum, meskipun terkadang senyumnya menyeramkan, hahahaha.' Pikirku sambil tertawa canggung.

"OKE! Selanjutnya aku! Namaku Aizen Kunitoshi! Aku adalah Tantou yang dibuat oleh generasi kedua Kunitoshi, Niji Kunitoshi! Menurutmu, apa Aizen Myou'ou ku keren? Keren kan?!" kata Aizen bersemangat. Melihat antusiasmenya, aku hanya bisa tertawa pelan sambil mengangguk. "Kalau aku Namazuo Toushiro! Aku kehilangan sebagian ingatanku karena kebakaran hebat tapi aku tidak akan melihat kebelakang lagi!" sambung si pemuda berambut hitam. "Ne! Ne! Apa Hisao-dono tahu kalau kotoran kuda bisa dibuat menjadi bola-bola pasukan?!" kata Namazuo kemudian. "Uh... t-tidak?" jawabku ragu. Seketika matanya berbinar dan menunjukkan semangat yang berkobar(?). "Kalau begitu Hisao-dono harus ikut merawat kuda bersamaku selanjutnya! Aku akan mengajari Hisao-dono cara membuat bola pasukan dari kotoran–"

"Namazuo-kun. Tidak baik lho berbicara tentang kotoran kuda di ruang makan." Sadaharu tiba-tiba menyela. Namazuo langsung kembali tenang mendengar teguran Sadaharu. "O-oh! Benar juga! Maafkan aku, Hisao-dono!" kata Namazuo sambil membungkuk dan menyatukan tangannya. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya. 'Jadi teringat adikku...' ujarku dalam hati. Keempat manifestasi pedang sudah memeperkenalkan diri. Hanya tinggal pemuda bersurai merah muda yang belum. Ia masih menghabiskan makanannya dengan tenang meskipun suasana ruang makan sangat ramai. Aku mengobservasinya sejenak. Sekali lihat pun, semua orang akan menganggap ia sangat indah. Mungkin ada yang lebih indah dari dirinya, tapi, aku yakin semua orang akan mengatakan bahwa pemuda bersurai merah muda itu indah. Meskipun auranya sedikit gloomy, sih.

Saat ia sudah menghabiskan seluruh makanannya, baru ia mulai memperkenalkan diri. "Aku Souza Samonji. Aku adalah pedang milik Imagawa Yoshimoto sebelum dimiliki oleh Raja Setan. Selanjutnya aku dipindahtangankan ke banyak shogun di Jepang. Senang bertemu denganmu, Hisao-dono." Kata sang manifestasi pedang dengan senyum kecil. Aku hanya bisa mengangguk sambil menggumamkan "Yoroshiku." Pelan.

Tiba-tiba terdengar gemerincing lonceng dari arah bangunan pertama. "Oh. Sepertinya tim satu telah kembali dari garis depan." Kata Sadaharu. Dtangannya adalah nampan berisi piring dan manguk kosong. Kasen ikut berdiri dan mengambil nampan Sadaharu dan membawanya pergi. "Terima kasih, Kasen-san." Kata Sadaharu dengan senyum. Ia lalu menoleh ke arahku. "Kimura-san bisa menghabiskan makanan dulu. Aku akan menyambut tim satu. Tidak perlu terburu-buru." Kata Sadaharu sebelum melangkah menuju bangunan utama. Di meja makan kini hanya tinggal aku, Aizen, Namazuo dan Nikkari. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruang makan. Tidak ada barang-barang mahal atau dekorasi yang berlebihan. Hanya di salah satu sisi tembok saja yang dihiasi lukisan pemandangan pegunungan dengan puisi tertulis di dalamnya.

"Hm, Hisao-dono, bagaimana Anda bisa menjadi asisten Aruji-sama?" tanya Nikkari. Piring dan mangkuknya telah lama kosong tapi dia masih belum beranjak dari tempatnya. Mendengar pertanyaan itu aku menggaruk pipiku pelan dan menjelaskan semuanya. Dari bagaimana ayahku kehilangan pekerjaan sampai aku tidak sengaja mendaftar menjadi asisten Saniwa dan diterima. "Hm... cukup menarik. Dengan begini, Aruji tidak perlu khawatir saat meninggalkan citadel lagi." Komentar Nikkari. Mendengar komentar itu, aku jadi penasaran. Sudah berapa lama Sadaharu menjadi seorang Saniwa?

"Kalau boleh tahu, sudah berapa lama Sadaharu– maksudku Saniwa-sama menjadi Saniwa?" tanyaku ragu. "Hm... aku baru saja datang jadi aku kurang tahu." Respon Namazuo. "Benar. Aku juga belum lama dipanggil ke citadel ini. Karena itu, saya masih belum bisa menjawab pertanyaan itu, Hisao-dono." Nikkari menambahkan. "Coba tanyakan pada Yamanbagiri-san! Yamanbagiri-san adalah pedang pertama yang dibangkitkan oleh Aruji. Harusnya Yamanbagiri-san tahu." Kata Aizen. Yamanbagiri? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. "Kalau begitu, yang mana pedang yang bernama Yamanbagiri?" tanyaku.

"KAMI PULANG!" berbagai suara cempreng tiba-tiba memenuhi ruang makan. Terlihat sekitar 5 anak kecil masuk keruang makan dengan pakaian yang rusak disana-sini meskipun tidak parah. "Namazuo-nii! Hari ini kami dan Yamanbagiri-san menemukan sebuah Tantou! Apa mungkin dia aadalah saudara kita?" tanya seorang anak kecil berambut panjang. Mata Namazuo langsung berbinar. "Oh! Kami juga menemukan sebuah Wakizashi! Semoga itu Honebami-nii!" tambah anak lain dengan potongan mangkok berwarna coklat. Sementara satu lagi, berambut merah muda pendek hanya mengangguk dengan antusias. "Hontou?! Sugee!" respon Namazuo dengan antusias yang sama.

"Midare! Maeda! Akita! Ganti baju dulu!" terdengar suara lain dari arah koridor. Ia masuk lalu berusaha menarik ketiga anak kecil tadi keluar. Ia sendiri tidak terllihat jauh lebih tua, tapi auranya terasa lebih dewasa dibandingkan ketiga yang lain. "Tapi, Yagen-nii! Kalau memang dua pedang itu saudara kita kan bagus! Aku ingin Namazuo-nii tahu!" protes anak berambut merah muda. "Kalau kalian tidak ganti baju, aku akan meminta Aruji menyita permen-permen kalian semua. Khusus untuk Midare semua rokmu akan aku sembunyikan!" ancam 'Yagen'. Ketiga anak lain langsung berlari keluar ruang makan saat itu juga. "Hahaha... kalian para Awataguchi selalu bersemangat, ya?" timpal Nikkari yang sedari tadi hanya mengobservasi.

"Jadi bagaimana kondisi di garis depan?" Tanya Nikkari kemudian. 'Yagen' meletakkan satu tangan dipinggang, "Seperti biasa. Mereka mencoba untuk mengubah sejarah dan kita menghentikan mereka. Oh! Sekarang mereka jadi lebih mahir dalam mengatur strategi. Yamanbagiri sempat gagal mengintai formasi musuh." Katanya. "Sayangnya aku tidak menemukan Iwatooshi, tapi yang penting kita akan dapat teman baru setelah ini!" kata anak berambut abu-abu yang sedari tadi hanya melihat tingkah anak-anak lain Ia lalu melihatku, "Oh? Orang dari pemerintah?" tanya 'Yagen'. Aku langsung duduk dengan tegak. "Namaku Hisao Kimura. Aku akan menjadi asisten Saniwa mulai sekarang. Yoroshiku onegaishimasu." Kataku. 'Yagen' kemudian menyeringai. "Ah... Umisho? Namaku Yagen Toushiro. Aku dibesarkan di medan perang, jadi aku tidak terlalu tahu hal-hal yang indah. Tapi, kau bisa mengandalkanku di garis depan. Semoga aku dan adik-adikku bisa bekerja sama denganmu, umisho." Kata Yagen.

"Kalau aku Imanotsurugi! Aku adalah mamorigatana yang selalu bersama Tuan Yoshitsune! Keren kan?" lanjut anak berambut abu-abu tadi. Tak lama, orang lain bertudung memasuki ruang makan. "Sudah dibangkitkan. Tantou, Gokotai dan Wakizashi, Horikawa Kunihiro. Mereka berdua sedang di ruangan Aruji." Kata orang itu.

Namazuo dan Yagen terlihat sumringah mendengar perkataan orang itu. Imanotsurugi tidak kalah antusiasnya. "Kalau begitu, aku akan ganti baju dulu. Permisi." Kata Yagen sebelum meninggalkan ruangan. "Aku juga akan kembali ke ruanganku." Kata Nikkari. "Aku akan ke ruangan Aruji! Namazuo-san! Ayo!" ajak Aizen. Namazuo mengangguk setuju lalu meninggalkan ruang makan. "Aku akan mencari Kasen-san." Kata Imanotsurugi kemudian. Kini, hanya tinggal aku dan pria bertudung itu saja di ruang makan.

"Jadi... Kau siapa?"