Story and Plot – Star_Bening

Warning – OC, OOC, Angst, Weird Phrasing, Author is still a noob please bear with it

.

.

Hari-hari di Kikunoji dari perspektif asisten seorang Saniwa.

.

.

.

Semua touken danshi, termasuk dua yang paling baru, kini berkumpul di ruang makan lagi. Aku dan Sadaharu juga disana. Tim satu yang baru pulang dari garis besar kini dengan lahap menyantap makan siang bersama dua anggota terbaru citadel. Semua anggota tim satu, tak terkecuali Yagen, memperkenalkan diri mereka masing-masing. Setelah perkenalan tadi, aku akhirnya tahu bahwa pria bertudung yang tadi menanyakan aku siapa adalah pedang pertama Sadaharu, Yamanbagiri Kunihiro. Sementara itu, pedang baru bernama Horikawa Kunihiro adalah saudara Yamanbagiri dari penempa yang sama. Informasi lainnya, Namazuo dan Yagen adalah kakak beradik. Begitu juga Akita, Midare, Maeda dan Gokotai. Mereka semua dari sekolah yang sama yaitu Awataguchi. 'Jadi mereka adalah para Tantou Awataguchi yang menempati kamr tidur terluas itu... Masuk akal juga sih...' pikirku.

"Karena Kimura-san sudah disini, aku akan kembali besok." Kata Sadaharu tiba-tiba.

Mendengar itu, Yamanbagiri langsung tersedak air yang sedang diminumnya. "TUNGGU DULU! ARUJI! Aku tahu kau sangat sibuk! Tapi orang ini– maksudku, Hisao-san belum pernah mengirim kami ataupun melihat garis depan! Apa yang terjadi jika dia tiba-tiba bertindak yang aneh-aneh dan membuat kami pa–"

"Karena itu..." suara Sadaharu memotong protes Yamanbagiri seketika. "Karena itu tim satu akan kembali kukirim ke garis depan. Kali ini, Kimura-san yang akan memimpin. Aku akan mengevaluasinya." Sadaharu kemudian meminta Kasen sebagai pemandu untuk dua orang touken danshi yang baru saja hadir bersama Namazuo sementara tim satu kembali bersiap-siap untuk kembali ke medan pertempuran. Aku mengikuti Sadaharu kembali ke ruang kerjanya. Salah satu dinding yang awalnya berhias lukisan kini berubah menjadi layar hologram dengan peta seluruh Jepang. Terlihat ada kelap-kelip berwarna merah di sekitar daerah Echizen dengan tulisan 1570. "Masih di zaman Sengoku, huh?" gumam Sadaharu. Satu persatu anggota tim satu memasuki ruangan sang Saniwa.

Sadaharu kemudian memberikan sedikit penjelasan pada tim 1 tentang misi mereka kali ini. Aku berdiri disamping dan berusaha mengingat apa saja yang dikatakan oleh Sadaharu. "Misi kalian adalah menjaga sejarah mundurnya Oda Nobunaga di Kanegasaki." Mulai Sadaharu. "Hmm... Pertempuran Kanegasaki, ya? Jadi, apa yang ingin diubah oleh pasukan pengubah sejarah?" sela Yagen. "Aku sendiri masih belum tahu. Karena itu, Kimura-san akan ikut kalian ke medan pertempuran." Kata Sadaharu sambil menoleh ke arahku.

"U-uh.. jadi aku ikut kembali ke masa lalu?" Tanyaku dengan tangan terangkat.

"Benar. Paling tidak Kimura-san punya waktu sekitar 1 minggu. Aku akan menyuplai kekuatan spiritual dari sini supaya tubuhmu bisa bertahan dibawah tekanan ruang dan waktu." Jawab Sadaharu. "Jika perkiraanku benar, kalian hanya perlu melawan 3 tim Time Retrograde Army."

"Uwaaaah! Apa kita bisa menemukan Ichi-nii disana, Aruji-sama?" Tanya Akita. Sadaharu tersenyum, "Mungkin saja, Akita-kun." Jawab Sadaharu. Kulihat Midare, Akita, dan Maeda langsung sumringah. Yagen hanya tersenyum kecil melihat tingkah saudara-saudaranya. "Imanotsurugi..." panggil Sadaharu. Tantou berambut putih pucat itu mendekati sang Saniwa, "Ya, Aruji-sama?" Sadaharu mengeluarkan sebuah kantong kecil bertuliskan omamori. "Aku ingin kalian semua kembali ke citadel, oke?" Sang Saniwa menatap personifikasi Tantou itu dengan lembut. Ia seakan tidak rela melepas kepergian para touken danshi-nya. 'Hm... Ia sangat berbeda dengan yang aku lihat di televisi saat sedang berkompetisi...' pikirku. "Hai! Aku mengerti, Aruji-sama! Nanti kami akan pulang bersama dengan teman baru! Aku berjanji!" jawab sang Tantou dengan senyum lebar.

"Ehem. Sudah waktunya kita berangkat." Yamanbagiri mengingatkan. Sadaharu kemudian menghadapku dan melepas sesuatu dari lehernya. "Kalung ini telah ku isi dengan kekuatan spiritualku. Selama Kimura-san mengenakan ini, Kimura-san akan bisa bertahan ditengah tekanan ruang dan waktu saat pergi ke masa lalu. Konnosuke akan memberi tahu Kimura-san petunjuk-petunjuk untuk menyelesaikan misi ini. Jika ada yang ingin ditanyakan..." Sadaharu pergi ke sebelah Yamanbagiri, "...tanyakan dia, oke?" katanya dengan senyum lebar, tapi yang ditunjuk malah cemberut dan menarik turun kain yang menutupi kepalanya.

"Saa! Ayo berangkat!" kata Imanotsurugi. Aku dan keenam anggota tim satu segera pergi ke ruang penjelajah waktu. Sadaharu sendiri melihat dari ujung gerbang saat cahaya keemasan melingkupi kami semua.

Samar aku mendengar ia berbisik, "Semoga berhasil."

.

Kiku no Jiin...

.

"Apa Anda yakin Hisao-dono bisa mendampingi mereka, Aruji-sama?" jari lentik membimbing kuass menari di atas kertas. Semilir angin sesekali berhembus, menggoyangkan gantungan koi di engawa. "Hm, aku sedih kau meragukan penilaianku, Kasen-san. Lagipula, aku sudah bilang kan jangan memanggilku dengan sebutan Aruji saat hanya ada kita berdua..." Kata sang Saniwa dengan nada sedih namun penuh canda. "Maafkan saya, Sadaharau-sama, tapi, saya merasa masih terlalu dini untuk membiarkan Hisao-dono pergi ke medan pertempuran tanpa supervisi dari anda." Terang sang manifestasi pedang. Ia mengangkat kertas yang telah terhias coret hitam tinta, lalu memberikannya pada tuannya itu. "Hahaha... Sayangnya aku dulu juga maju ke medan pertempuran tanpa pengawasan. Konnosuke hanya memberikanku beberapa pengarahan lalu menyerahkan sisanya padaku. Oh... puisi yang indah, Kasen-san..." Canda sang Saniwa.

Kasen bangkit dari bantal duduknya, lalu berpindah ke samping sang Saniwa yang bersantai di engawa. Dengan elegan ia menuangkan teh ke dalam cangkir yang masih dilupakan. Uap panas mengepul dari cangkir keramik berwarna kehijauan. "Aah... Hakodate, bukan begitu? Saya... merasa ironis ketika Anda mengatakan bahwa Hakodate bisa dibilang merupakan akhir dari zaman pedang, mengingat Pertempuran Hakodate adalah medan perang pertama kami semua." Katanya dengan gelengan kepala. Sang Saniwa hanya diam sebagai balasan.

"Lalu, Anda juga belum memasukkan Horikawa-kun maupun Gokotai untuk menjadi anggota terakhir dari tim dua." Lanjutnya. Sang Saniwa mengambil gelas yang disodorkan kepadanya, lalu menyesap isinya pelan. "Hahaha, aku punya rencana untuk mereka. Sayang, aktor terakhir masih belum kita dapatkan." Ujarnya setelah puas meminum isi gelas yang ia pegang. Kasen terbelalak mendengar pernyataan sang Saniwa. "Oh... Apakah aktor itu... Ah... tidak.. tidak." Ia berkata ragu. Gemerincing gantungan koi yang tertiup angin menambah kesan damai. Kasen menahan dirinya untuk tidak membuat sebuah puisi lagi.

"Oya? Aruji-sama." Dua figur berjalan ke arah mereka. "Oh, Nikkari-kun, Souza-san." Sang Saniwa mengakui keberadaan mereka. Kedua orang itu duduk di dekat sang Saniwa. "Dimana Horikawa, Gokotai, Aizen, dan Namazuo?" tanya sang Saniwa. "Mereka sedang bermain di kebun belakang. Sepertinya Namazuo sangat senang memiliki teman membuat bola-bola pasukan dari kotoran kuda. Fufufufu..." jawab Nikkari. Senyum kecil terulas di wajah Kasen dan Sadaharu. Sudah bukan kabar baru kalau manifestasi pedang Wakizashi Awataguchi itu sangat suka bermain kotoran kuda. Aizen adalah korban pertama Namazuo. Saat semua saudaranya pergi ke medan tempur, Aizen adalah satu-satunya touken danshi yang bisa diajak Namazuo untuk bermain kotoran kuda bersama. Saat ini ada dua orang lain yang bisa menyibukkannya, sang Saniwa tidak perlu khawatir Namazuo merengek diberangkatkan untuk mencari 'Ichi-nii' lagi.

"Aruji-sama, apa Anda sungguh-sungguh ingin kembali besok?" kata manifestasi pedang pendek berambut tosca. "Tentu. Kimura-san lebih dari cukup untuk menjaga kalian selama aku pergi." Jawab sang Saniwa tanpa beban. Ia menyodorkan gelas kepada Kasen yang siap mengisi kembali isinya. "Ah... bagai burung dalam sangkar, akhirnya kami juga dipindahtangankan." Komentar pedang bersurai merah muda. Pandangannya sayu menatap ke arah taman di tengah bangunan.

Sang Saniwa hanya tertawa mendengar keluhan pedang Oda Nobunaga. "Souza, aku tidak memberikan kalian pada Kimura-san, lho. Aku akan kembali saat musim semi. Kalian masih milikku kok." Sang Saniwa meyakinkan pedangnya. Kasen dan Nikkari tersenyum. "Hahahahaha. Tapi, saya merasa bahwa kedatangan Kimura-san akan menimbulkan banyak hal menarik di sekitar citadel, bukan begitu?" kata Kasen sambil menatap Nikkari, seakan meminta persetujuan. Nikkari pun mengangguk untuk mengeluarkan Souza dari mode gloomy-nya.

"Ah, Nikkari-kun." Sang Saniwa tiba-tiba meletakkan gelasnya. "Mau membantuku menempa?" Ajak sang Saniwa. Ia telah berdiri dari tempatnya duduk di engawa. Kasen segera membereskan gelas dan teko keramik yang mereka pakai untuk minum teh. "Suatu kehormatan bagi saya, Aruji-sama." Jawab sang Wakizashi. Keempat figur pergi ke arah masing-masing, diikuti gemerincing gantungan koi yang tertiup angin.

.

Echizen, 1570

.

"Waaaah... Itu kastil apa?"

"Kastil itu adalah Kastil Kanegasaki. Saat ini, harusnya kastil itu baru saja diduduki oleh pasukan Oda Nobunaga." Jawab Konnosuke untuk pertanyaan Akita. Yagen meletakkan tangan di depan matanya yang memicing. "Hm~ Kalau begitu, aku tebak kita akan bertemu para pasukan pengubah sejarah pada saat Nobunaga mundur dari Kanegasaki. Benar begitu, Konnosuke?" kata Yagen dengan yakin. Konnosuke mengangguk kecil. "Uhm! Benar sekali yang dikatakan oleh Yagen-san." Jawab Konnosuke. Hm, rencana yang cukup menarik. Aku menatap keadaan sekitar. Ada hutan yang cukup lebat mengitari daerah kota disekeliling kastil. Tidak lama, terlihat pasukan berkuda memasuki daerah kastil. Umbul-umbul bunga Lonceng Cina milik Akechi Mitsuhide dan lambang labu air terlihat terusung tinggi. "Oh! Iring-iringan kekuatan belakang Nobunaga sudah sampai Kastil Kanegasaki. Berarti peristiwa mundurnya Nobunaga sudah dimulai." Gumamku. Kulihat ke arah kastil yang cukup sepi, dan menemukan satu regu pasukan pengubah sejarah menuju kastil itu juga.

"Semua! Time Retrograde Army!" aku berteriak sambil menunjuk segerombolan figur hitam yang berlari menuju kastil. Dengan sigap kami bertujuh dan Konnosuke mengikuti gerombolan itu. Baik kami maupun mereka tersembunyi oleh lebatnya daun pepohonan dan semak, prosesi pasukan Akechi Mitsuhide dan satu orang lain berumbul labu air terus maju tanpa mengetahui aksi kejar-kejaran kami. "Konnosuke-san, umbul-umbul labu air itu milik siapa?" tanyaku. Konnosuke menyentuh lonceng di lehernya dan layar hologram muncul di depannya. "Umbul-umbul labu air itu milik Kinoshita Tokichiro! Nantinya ia akan mengganti nama menjadi Toyotomi Hideyoshi dan mengganti lambang pasukannya menjadi bunga Paulownia!" jawab Konnosuke. 'Benar juga... Kalau mereka membunuh Akechi Mitsuhide atau Toyotomi Hideyoshi, pasti sejarah akan berubah drastis!'

"Yosh! Minna! Kita akan menghentikan pasukan pengubah sejarah dan menjaga jalan sejarah di era ini!" kata Imanotsurugi. Kami melihat pasukan pengubah sejarah berhenti di salah sisi tembok kastil yang sepi. Kami berhenti pula di dekat mereka, masih tersembunyi dibalik rimbunnya semak belukar. "Saat mereka lengah, kita akan melancarkan serangan mendadak, oke?" perintah Imanotsurugi. Kami semua mengangguk tanda setuju. Imanotsurugi maju sampai cukup dekat dengan formasi musuh lalu kembali pada kami. "Formasi sayap bangau! Semua, bersiap dengan formasi sisik ikan!" perintahnya.

Keenam touken danshi dengan sigap membentuk formasi sisik ikan yang bentuknya seperti huruf 'U'. Aku sendiri berada di belakang formasi itu. Kami keluar dari tempat persembunyian kami lalu dengan sigap membunuh semua anggota Time Retrograde Army.

"Rasakan itu!"

"Ketemu~"

"Akan kutikam hingga keujung!"

"Eiyah!"

"Toh!"

"Aku bukan barang palsu!"

"H-hebat..." Gumamku menatap pertarungan itu. Kekuatan kedua belah pihak sangat tidak seimbang. Aku sendiri hanya bisa terpaku di luar lingkaran pertempuran. Aku tidak menyadari bahwa pedang musuh bertipe Tachi yang tadi menjadi lawan Imanotsurugi masih bisa berdiri. "Hisao-san!" aku mendengar suara Yagen dari sampingku. Saat aku menoleh, pedang digenggaman makhluk itu telah terangkat tinggi ke udara, siap menebasku.

Aku menutup mata, tanpa senjata di tangan aku tahu aku tidak akan bisa menangkis maupun mengelak serangan itu. Aku sudah pasrah jika memang aku harus gugur dengan cara yang sangat bodoh di medan tempur pertamaku.

Tapi hal itu tidak pernah terjadi.

"Ugh!"

"Yagen!" Aku berteriak saat ujung pedang tersebut mengenai lengan Yagen. Sedetik kemudian aku melihat sekelebat bayangan dari belakang, "Ahaha! Angkat kepalamu!" Imanotsurugi menebas kepala pasukan pengubah sejarah itu. Setelah tubuhnya menghilang, aku segera berlari ke sisi Yagen yang masih berlutut sambil memegangi lengannya.

"Y-Yagen! Kau tidak apa-apa?" tanyaku khawatir. "Tenang saja, umisho... Ini bukan apa-apa." Jawabnya dengan senyum. Tapi, melihat luka itu, aku tahu ia sangat kesakitan. Aku menoleh ke arah Konnosuke yang berdiri di dekatku, "Konnosuke-san, apa gangguan ruang dan waktu di era ini masih ada?"

"Masih ada, tapi, sinyalnya sangat lemah. Sepertinya mereka akan datang nanti sore atau besok pagi. Apa perlu saya panggilkan Aruji-sa–"

"Tidak perlu." Potongku. Disaat seperti ini... setelah aku membuat Yagen terluka, aku tidak boleh merepotkan Sadaharu. Apalagi saat aku akan menjadi asistennya. "Terima kasih, Konnosuke-san. Lebih baik sekarang kita mencari gubuk atau tempat berteduh untuk merawat luka Yagen." Kataku. "Mina! Apa semua baik baik saja?" tanyaku.

"Aku tidak apa-apa, umisho!" jawab Yagen dan anggota touken danshi yang lain. 'Hah! Jelas-jelas kau kenapa-kenapa, Yagen...' pikirku. Aku melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa ada satu touken danshi yang tidak berada disana. "Dimana Yamanbagiri?" tanyaku khawatir.

"Oi. Aku menemukan sebuah gubuk di dekat sana." Jawab sebuah suara di kejauhan. Kami semua menoleh ke sumber suara lalu melihat Yamanbagiri berdiri di atas tanah dengan level lebih tinggi, tangannya menunjuk ke sebuah gubuk tua di atas bukit. "Baiklah! Semuanya! Kita istirahat sebentar!" kataku.

.

"Hisao-sama!"

Suara cempreng Imanotsurugi membuat lamunanku buyar. Tantou berwujud anak kecil dengan rambut putih gading itu berdiri di depanku, ditangannya ada ikan bakar yang ditusuk kayu, makan malam hari ini. "Ah.. Imanotsurugi-san. Mau duduk denganku?" kataku sambil menepuk-tepuk tempat kosong di sebelahku. Para Tantou Awataguchi telah tidur saling memeluk satu sama lain, sementara Yamanbagiri dan Yagen masih menganalisa informasi bersama Konnosuke. Luka Yagen telah dibalut menggunakan kain dari tudung Yamanbagiri. Aku jadi merasa bersalah pada Uchigatana itu.

Imanotsurugi duduk segera menerima tawaranku. Ia duduk dan dengan lahap menyantap ikan yang kami tangkap tadi sore. Ketika melihatnya, aku jadi teringat adikku. Tidak hanya Imanotsurugi, tapi hampir semua Tantou di citadel, Namazuo juga, mengingatkanku pada adikku. "Imanotsurugi-san..."

"Aruji-sama memanggilku 'Imano-kun'! Jadi tidak apa-apa kalau Hisao-sama juga memanggilku hal yang sama!" kata Imanotsurugi. Aku tersenyum, panggilan itu benar-benar tidak terdengar seperti Sadaharu, sang pangeran es. "Begitu ya? Bagaimana dengan yang lain? Apakah Sadaharu-san punya nama panggilan untuk yang lain?" tanyaku dengan tersenyum. Imanotsurugi berpikir sebentar, lalu menjawab, "Aku tidak hafal semua sih, tapi Aruji memanggil Yamanbagiri-san 'Manba-chan'!"

Aku tertawa. Membayangkan Sadaharu memanggil Yamanbagiri 'Manba-chan' dan reaksi Yamanbagiri mendengar panggilan itu sangatlah menarik. "Hahahaha... Kalau boleh tahu, sudah berapa kali Imanotsurugi-san pergi ke masa lalu?" tanyaku kemudian. Imanotsurugi menunduk, "Dibanding yang lain, aku masih belum terlalu berpengalaman. Yamanbagiri-san sudah pergi ke masa lalu 28 kali sama dengan Yagen-san. Midare-san, Maeda-san, dan Akita-san masing-masing sudah ke masa lalu 24, 23, dan 22 kali. Aku sendiri, ini adalah perjalananku yang ke-19." Jawab Imanotsurugi. "Ne... Hisao-sama..." ia memanggilku.

"Ya, Imanotsurugi-san?"

"Menurutmu... Apa Aruji-sama akan marah padaku?" tanya Imanotsurugi dengan nada sedih. "Kenapa begitu, Imanotsurugi-san?" aku bertanya balik. Imanotsurugi memutar-putar stik kayu bekas menusuk ikan. Ia terlihat ragu. Apa mungkin ia merasa bersalah atas luka Yagen? "Aku... Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi kapten sebaik Yamanbagiri-san atau Yagen-san." Jawabnya lirih. 'Ahh.. jadi itu benar.' Pikirku. Mendengar jawaban Imanotsurugi sendiri, aku juga merasa bahwa aku masih belum pantas menjadi asisten seorang Saniwa sekaliber Sadaharu. Apalagi membuat Yagen terluka pada misi pertama yang aku jalankan.

"Hm... apa Sadaharu pernah marah pada kalian semua, Imanotsurugi-san?" tanyaku lagi. Imanotsurugi terdiam lalu menggeleng, "Aruji tidak pernah memarahi kami. Oh..., mungkin pernah. Tapi Aruji tidak pernah marah besar. Terkadang kalau Namazuo-san melempar-lempar kuda hingga terkena pakaian yang dijemur, Aruji-sama akan mengingatkan kami. 'Kalian boleh bermain tapi jangan sampai merepotkan orang lain.' Begitu. Apakah itu bisa dikategorikan marah, Hisao-sama?" Ia memandangku dengan penuh afrti..

"Menurutku tidak." Aku menjawab. "Aku yakin kau sudah melakukan yang terbaik, Imanotsurugi-san..." kataku. Aku bangkit berdiri lalu mengambil stik kayu yng masih ia pegang. "Aku yakin Sadaharu pasti mengerti." Kataku sambil mengacak-acak rambutnya. Aku membuang kedua stik ke api unggun, lalu bergabung dengan Yamanbagiri, Yagen, dan Konnosuke. Aku melirik ke arah Imanotsurugi sekali lagi dan melihat ia bergabung dengan para Tantou Awataguchi yang sudah terlelap.

Saat aku kembali fokus pada dua touken danshi pedang yang lain, aku sadar Yamanbagiri telah menatapku dari tadi. "Ada apa?" tanyaku. Yamanbagiri melihat sekilas ke arah Konnosuke, lalu mengeluarkan sebilah pedang pendek dari baik jaket bergarisnya. Ia memberikan pedang pendek itu kepadaku. "Itu adalah Wakizashi milik Aruji pribadi. Aruji memberikannya padaku saat aku memberi laporan mengenai misi kami sebelumnya. Aruji... mungkin secara tidak langsung memintaku untuk memberikannya kepadamu, Hisao-dono." Jawabnya sambil menurunkan kain yang menutupi kepalanya, membuat wajahnya makin tertutup.

Aku menerima pedang itu dan menginspeksinya. Sarung pedang berwarna hitam dengan ukiran sayap dan panah, juga ukiran kanji "ha" di ujungnya. Aku mengeluarkan Wakizashi itu dan mengangkatnya tepat di depan wajah. Sama seperti sarung pedangnya, ada ukiran sayap dan panah, lalu ukiran "ha" di hulu pedang. "Benar-benar pedang yang indah." Celetukku tanpa sadar.

"Uhm, Hisao-sama, kita harus mengatur strategi untuk pertempuran selanjutnya." Kata Konnosuke menyela.

Aku kembali menyarungkan pedang itu dan menyimpannya baik-baik dibalik haori yang kukenakan. Aku menatap layar hologram yang ditunjukkan Konnosuke bersama Yamanbagiri dan Yagen, lalu kembali berdiskusi tentang kelanjutan misi ini.

.

.

.

Satu minggu berlalu dengan cepat. Setelah pertempuran pertama, kami bertemu dengan satu pasukan Time Retrograde Army yang lain. Mereka mencoba untuk membunuh Kuki Yoshitaka, salah satu jenderal Nobunaga yang bertugas untuk memutus suplai bantuan klan Mori terhadap kuil Ishiyama. Selain itu, kami juga menemukan bijih besi diperjalanan. Kini, hanya tinggal satu regu lagi yang harus kami hadapi. Dan menurut informasi, mereka akan berusaha untuk mengubah sejarah pertempuran Ishiyama.

"Kira-kira mereka akan muncul dimana, ya?" Tanya Midare.

Saat ini kami sedang mengintai kuil Ishiyama, tempat regu terakhir pasukan pengubah sejarah akan muncul. Baik Akita maupun Midare telah menderita luka ringan. Sementara Yagen terkena luka yang cukup serius di bahunya. Meskipun aku sudah meminta untuk kembali ke citadel, semua masih bersikukuh untuk menjalankan misi. "Luka seperti ini bukan apa-apa, umisho!" kata Yagen. Karena itulah kami masih disini, menunggu kemunculan regu terakhir pasukan pengubah sejarah.

Matahari semakin tinggi, tapi, pasukan mereka belum datang. Aku mulai curiga. "Konnosuke, selain disini, kira-kira mereka akan muncul dimana?" tanyaku. Konnosuke segera berkutat dengan berbagai macam layar hologram, lalu menunjukkan dua layar kepada kami. "Kemungkinan target ada dua. Pendeta Kennyo, atau orang yang membawa surat kekaisaran." Jawab Konnosuke.

"Apa perlu kita membagi tugas?" aku bertanya pada diriku sendiri. Tapi kemudian Yamanbagiri menepuk pundakku. "Oi, Hisao-dono. Lihat itu." Katanya menunjuk ke atap salah satu bangunan kuil Ishiyama. "Time Retrograde Army!" Imanotsrugui berteriak. "Mina! Ayo cepat kita kejar mereka!" perintahnya. Namun sebelum kami bergerak, mata Yamanbagiri seakan menangkap pergerakan yang lain, dan ia menyuruh kami maju duluan. "Aku akan memastikan intuisiku salah. Hisao-dono, tolong kejar satu regu disana." Katanya.

Aku sedikit bimbang. Bagaimana jika yang ini hanyalah kedok untuk tujuan utama yang lain? Atau mungkin sebaliknya. Jadi aku memutuskan untuk mengikuti Yamanbagiri dan menyerahkan semua ke empat Tantou yang sudah lumayan jauh di depan. "Konnosuke-san, tolong dampingi mereka." Pintaku. Jadi kami berpisah arah. Dalam hati aku berharap semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada kami semua.

.

"Bagaimana keadaannya?" seorang pendeta bertanya. Ia duduk di depan para pendeta yang lain, yang semuanya berbaju zirah lengkap. Wajah mereka terlihat lesu. Telah banyak korban berjatuhan dari sisi mereka, sementara yang bertahan harus menahan lapar karena suplai bantuan dari klan samurai pendukung mereka sudah berhenti. Lebih lama lagi, mereka yakin sang Dewa Setan dari Owari akan membabat habis kuil pertahanan terakhir mereka.

"Tidak ada yang tersisa, Kennyo-sama. Pertempuran berikutnya adalah pertempuran hidup dan mati." Jawab salah satu pendeta lainnya. Sedetik kemudian suara berdebum keras terdengar dari luar. Seperti ada benda berat yang jatuh dari atap tepat di luar ruangan. Beberapa orang bangkit dn menginspeksi sumber suara, tapi tidak ada hal yang mencurigakan. "Apa itu tadi?" mereka bertanya-tanya. Selanjutnya mereka melihat dua ekor kucing saling mencakar. "Ah... kucing berkelahi terjatuh dari atap rupanya." Sangka mereka.

Tanpa mereka ketahui, tubuh seorang pasukan pengubah sejarah telah ditikam habis-habisan oleh Tantou Awataguchi milik Nobunaga, keduanya terdiam dibawah lantai engawa dengan ujung pedang milik sang Tantou masih menikam dada makhluk memegang Uchigatana. Setelah figur beaura hitam pekat itu hilang tak berbekas, ia bernafas lega. 'Dasar makhluk sialan.' Umpatnya.

.

Ujung mata pedang membelah manifestasi pedang gelap bertipe yari, tepat sebelum makhluk itu menikam pembawa pesan kekaisaran. Aku berdiri di belakangnya, masih berkutat dengan Uchigatana anggota pasukan pengubah sejarah. Dua makhluk seperti naga kecil bergerak cepat ke arahku, sebilah Tantou di mulut mereka siap mengoyak. Dengan sigap Yamanbagiri menebasnya hingga hancur berkeping-keping, sebelum menikam satu lagi yang berhadapan denganku.

Kulihat sang pembawa pesan masih terduduk ketakutan di jalan, kudanya berhenti tak bertuan beberapa meter di depan. Aku mendekatinya, lalu menawarkan uluran tangan. Dengan takut-takut ia menerimanya, lalu mengucapkan terima kasih berulang-ulang dengan tubuh membungkuk dalam. "Ah... sudahlah. Akan lebih baik jika anda mengantarkan pesan yang sudah dipercayakan pada Anda secepatnya." Kataku sambil mengibaskan tangan. Sang pembawa pesan segera menaiki kembali kudanya. Ia berpacu kencang menuju kuil yang tadi kami intai. "Huff... ternyata intuisimu benar, Yamanbagiri-san. Anda hebat sekali bisa menyadari pergerakan sekecil itu. Luar biasa." Kataku sambil menepuk punggung sang manifestasi Uchigatana. Tapi, Yamanbagiri malah menunduk dalam-dalam sambil memegangi kain putih lusuhnya seraya menggumamkan "Aku hanyalah barang tiruan" pelan. Aku hanya tertawa kecil mendengar responnya.

Yang tidak aku sangka adalah Konnosuke yang tergesa-gesa memanggil kami untuk meminta bantuan. Keempat Tantou tidak kuat menahan 8 orang anggota pasukan pengubah sejarah di kuil Ishiyama. Akita dan Yagen sudah terluka parah, sementara Midare, Maeda dan Imanotsurugi berusaha sekuat tenaga untuk melawan 4 anggota lain yang masih tersisa. Aku dan Yamanbagiri segera berlari menuju kuil Ishiyama. Kalau sampai ada apa-apa, aku tidak akan bisa menghadap Sadaharu.

Sekitar 10 menit kemudian kami sampai. Yagen dan Akita berada di tengah. Midare, Maeda, dan Imanotsurugi mengelilingi mereka. Empat anggota Time Retrograde Army berjalan mendekati mereka, siap menyerang. Tanpa buang waktu, aku dan Yamanbagiri merangsek maju. Jujur, ini pertama kalinya aku bertarung dengan pedang. Aku hanyalah orang biasa dari keluarga biasa. Aku tidak menyangka aku kan bertarung dengan makhluk aneh yang berusaha untuk mengubah sejarah. Berkelahi saja aku jarang, tapi sekarang aku harus 'membunuh' makhluk-makhluk ini. Yamanbagiri dengan mudahnya menjatuhkan satu Tachi musuh, sementara aku menyerang yang memegang Wakizashi. Pedang kami beradu sampai aku berhasil menanamkan pedangku ke jantung makhluk itu. Midare, Maeda dan Imanoturugi ikut bertarung. Ketiganya menghadapi dua Uchigatana yang tersisa, sebelum ikut jatuh ke tanah karena kelelahan.

Dari tempatku berdiri aku melihat sang pembawa pesan telah bertemu dengan Pendeta Kennyo, seperti yang telah dituliskan dalam sejarah. Selanjutnya ia akan menyerah, dan pengaruh Kuil Ishiyama akan selesai sampai disitu. Lonceng Konnosuke berbunyi, "Portal ruang dan waktu sudah disiapkan oleh Aruji, tepat diluar kuil ini. Belum ada perintah lain dari Aruji. Semua bisa kembali ke citadel untuk saat ini." Kata Konnosuke. Aku menggendong Akita sementara Yamanbagiri membantu Yagen berdiri. Kulihat Imanotsurugi mengambil sebilah pedang yang cukup panjang. Bentuknya menyerupai kepala Naginata. Matanya berbinar.

"Imanotsurugi-san, ayo kita pergi." Ajakku. Ia mengangguk lalu mengikuti kami semua. Tak lama, kami telah sampai di titik portal akan muncul. Lingkaran emas muncul di angkasa yang mulai berwarna jingga. Cahaya emas menyelimuti kami semua. Sedetik kemudian, kami pulang.

.

.

.