====AO SINS====

Cast : Dazai Osamu, Nakahara Chuuya.

Genre : Romance, Slice of Life, Hurt Comfort.

Rated : M for explicit content

Disclaimer : Bungou Stray Dogs belong to Asagiri Kafka-Sensei and Harukawa Sango-sensei. This FF belongs to me, Nyandyanyan desu~~~

Summary : "Menyentuhmu seperti candu buatku. Aku takkan bisa berhenti"/"Jadilah, mateku"/"Aku- tidak bisa memutuskan itu sekarang"/"Sesuatu sedang tumbuh dalam perutmu, Tuan Mafia"/SOUKOKU Omegaverse Fiction./DazaixChuuya./Soukoku./Called Yaoi because rate ._.v

Warning : Flashback di awal. Mengandung typo dan ketidakjelasan serta ke absurd an sang author yang teramat dalam /keplakkeplak/ Judul gak nyambung. Alur kecepetan. Enaena gak nganu /gaplok/ OOC mungkin, banyak umpatan, caci maki dan kata-kata kasar lainnya jadi tolong persiapkan dirimu. Terwujud dari obsesi author pada dunia omegaverse akhir-akhir ini (terbukti dari koleksi doujinshi berbagai fandom juga manga yaoi yang menggunung di history tapi kini percuma saja karena situs hasup author di blokir pemerintah LOL). Maaf atas ketidaksesuaian yang terjadi dalam fiksi ini. MPREG bhaks. Ini cuma fiksi gaes, kay? Jangan bawa sampai hati /chuu/.

Yup, penjelasan lanjutan adalah soal Bonding fufu~ (walau dalam chapter ini belum terjadi LOL)

Abaikan jika sudah paham LOL

Pernikahan/Ikatan/Bonding

Disini disebut pernikahan, tapi kata yang lebih tepat adalah bonding/ikatan, paling tepat digunakan bagi pasangan Alpha/Omega. Ketika Alpha menggigit, menempelkan bau tubuhnya, atau berhubungan seks dengan seorang Omega, maka si Alpha telah menandai "daerah kekuasaan"-nya untuk sementara waktu. Tanda tersebut dapat hilang seiring dengan berjalannya waktu, karena itu Alpha perlu untuk "mengikat" Omega mereka.

Tiap Omega memiliki kelenjar pheromon pada leher mereka. Ketika Omega sudah puber, mereka akan mendapati masa suburnya dan menguarkan feromon dari kelenjar tersebut. Cara Alpha untuk "mengikat" Omega mereka adalah dengan menggigit daerah kelenjar tersebut hingga pecah, dan Omega akan memancarkan bau yang berbeda, yaitu bau yang menandakan kalau mereka sudah menjadi "milik" seorang Alpha. Secara biologis, tidak ada lagi hubungan yang lebih kuat daripada ini.

Yosh, sekian penjelasan terakhirnya.

Happy reading btw.

===xxx===

Surai senja sebahu, wajah polos tanpa ekspresi. Raut mungilnya menatap keluar jendela. Ini adalah kegiatan yang sama untuk kesekian kalinya hari ini. Tidak. Ini sama dengan hari-hari sebelumnya. Bulan-bulan sebelumnya. Bahkan tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan lain? Tidur. Atau menggambar diatas hvs lusuh yang dia hapus isinya ketika tampak penuh kemudian mulai menggambar hal lain dan itu akan terulang lagi setelahnya. Dia sudah meminta yang baru tapi hal itu sepertinya terlalu berat buat orangtuanya. Antara mereka miskin atau kelewat pelit.

Bocah itu tidak perduli.

Saat bosan, dia akan melakukan hal lain. Hal ini sangat menyenangkan. Dia heran darimana itu berasal tapi bersamaan dengan itu dia bersyukur karena mendapatkannya. Dia bahkan tidak tahu bagaimana menggunakannya secara sengaja. Kebanyakan itu terjadi begitu saja tanpa ia kendalikan. Guru di sekolahnya bilang, itu mungkin kekuatan supranatural. Dia merasa keren setelahnya. Wajah itu akan sumringah dan tawanya lepas pecah saat tubuh kurusnya melayang diudara, melawan gravitasi. Walau hanya di dalam kamar, menurutnya berjalan dengan kaki menyentuh langit-langit adalah hal menyenangkan. Sementara fakta bahwa kekuatannya adalah salah satu alasan dia selalu terkurung di kamar dia abaikan.

Dia tidak perduli.

Dia tertarik pada dunia luar. Di luar jendela. Di sekolah. Di perjalanan pulang. Tapi tidak di luar kamarnya. Saat keluar, dia akan melihat ruang tamu yang merangkap ruang makan. Disisi kiri adalah sebuah dapur kecil. Dan area itu adalah tempat paling berisik menurutnya. Dia akan dengar seluruh caci maki dan umpatan serta pecahan barang sesekali berasal dari sana.

Dia masih tidak perduli.

Hari itu dia pulang dan membawa cetakan hasil tes strata. Dominan Omega, minor Beta, dan tidak ada tanda-tanda Alpha dalam tubuhnya. Dia tau jika seorang laki-laki berstrata Omega akan dipandang rendah. Beberapa teman mulai menjauhinya saat tahu hal itu. Dan itu juga bukan masalah besar, jadi dia putuskan untuk diam. Lagipula dia juga tidak punya banyak teman, atau lebih tepatnya ada atau tidak akan sama saja. Hasil tes itu malah disambut wajah bahagia ibunya. Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali dia dipeluk. Dia hanya ingat rasa sakit akibat pukulan dan tendangan saat dia membuat ibunya marah. Setelah itu dia kembali ke kamar dan bersandar di kusen jendela hingga petang datang.

Suara berisik itu terdengar lagi saat malam. Lewat pukul sebelas, dia belum bisa memejamkan mata sementara umpatan ayahnya terdengar makin keras dan ibunya tak berhenti mencaci. Suaranya berhenti setelah suara pecahan memilukan dan pintu kamarnya terbuka kemudian. Dia duduk di ranjang dan ibunya menghambur masuk, memeluknya. Wanita itu bilang mereka akan pergi tapi dia kebingungan saat tak ada satupun barang yang mereka bawa. Saat melewati ruang tamu, dia lihat ayahnya terkapar dengan genangan merah pekat menenggelamkan wajah.

Sekali lagi, dia tidak perduli.

Mereka pergi keluar kota dengan kereta. Ibu menggandengnya berjalan menyusuri jalanan gelap kota asing malam itu dan berakhir pada gudang gelap besar di pinggiran pelabuhan. Bocah 11 tahun itu menatap takjub sebuah bianglala yang bersinar ceria di kejauhan. Dia pikir, dia akan menaiki itu dengan ibunya nanti.

"Ini hasil tesnya. Kalian bisa memeriksanya sendiri jika tidak percaya" ibunya jauh di dekat salah satu pintu besar bersama dua laki-laki menyeramkan. Dia memandang dari sana sambil memainkan kerikil di ujung sepatu.

"Jadi berapa?".

"Tujuh juta".

"Sepuluh!".

"Itu harga tertinggi" ibunya kelihatan kesal. Tapi kemudian dia berjabat tangan dengan salah satu lelaki besar, ibunya lalu tampak menerima satu kantong darinya. Bocah itu pikir, mereka berteman. Dan teman ibunya baru saja membantunya entah dalam hal apa. Si bocah tersenyum polos saat ibunya datang menghampiri.

"Nah, Chuuya. Kaa-chan akan pergi sebentar untuk membeli makanan. Nanti Kaa-chan akan menjemputmu, jadi bisakah kau menunggu disini dengan oji-san disana?" senyuman ibunya malah membuatnya takut. Dia menggeleng, menolak. Tangan kecilnya yang kurus meraih ujung kemeja sang ibu dan matanya berair.

"Aku ikut kaa-chan".

"Tidak. Kau disini saja".

"AKU MAU IKUT".

"CHUUYA!" wajah marah itu dia lihat lagi setelah seharian ini tidak tampak. Biasanya dia akan melihatnya setiap pagi tapi hari ini, malam ini adalah yang pertama. Dia merasa perih kemudian di pipi kirinya karena tamparan keras. "KAU TUNGGU DISINI!" bentakan lagi dan dia ditarik paksa menuju dua laki-laki yang menunggu di depan pintu gudang.

"Tidak mau. Tidak mau" bocah itu meronta. Tangan kurusnya berusaha melepaskan diri tapi ibunya mencengkeram begitu kuat.

"Anak sialan. Tidak tahu diri. Sama saja dengan ayahmu" tubuhnya terhuyung karena tarikan kasar. Dia berusaha menahan tubuh. Kekuatannya aktif tanpa sadar dan ibunya kesulitan sekarang. Dia berbalik, menoleh. Wajahnya marah dan menyeramkan. "DAN KEKUATAN SIALANMU INI MEREPOTKAN!" satu tamparan lagi membuatnya tersungkur. Disusul dua tendangan ke arah perut dan tungkainya.

"HARUSNYA KAU MATI SAJA!".

"Kaa-chan-" dia sudah sering mendengar ini. Selalu menyakitkan dan membuatnya merasa tidak berguna. Bocah 11 tahun itu merasakan sakit sekali lagi, tepat di hati juga pipi. Tamparan datang lebih keras sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah. Tangannya ditarik kembali dengan kasar. Tubuhnya terseret perlahan dan seiring dengan itu perasaannya makin hancur dan kesakitan.

"Ayo ikut!" bentakan tadi adalah suara terakhir yang keluar dari bibirnya.

BRAK!

Bunyi debam keras menyakiti pendengaran. Tubuh wanita itu terhempas dan menabrak bagian teratas pintu logam berat penutup bekas gudang itu. Kantong yang terikat longgar terlempar dan isinya berhamburan, begitu banyak lembaran Yen seakan hujan. Dua lelaki itu terkejut sementara aura merah mengerikan terpancar dari bocah didalam bayangan. Seringai tampak. Darah yang mengalir dari tubuh sang ibu perlahan menggenang. Pemandangan yang indah.

"P-Pengguna kekuatan?!".

"SIALAN! WANITA ITU TIDAK MENGATAKAN SOAL INI" sementara si pelaku sudah tewas karena anaknya sendiri.

Langkahnya ringan kemudian. Satu. Dua. Tiga langkah. Diikuti suara dentuman di setiap langkah dan tapak kakinya menekan kebawah permukaan, menciptakan genangan tak berisi dan retakan menjalar di tanah tempatnya berpijak.

"Haha- HAHAHAHAH" dia tidak pernah tertawa sekeras itu. Tidak ada yang bisa membuatnya tertawa sejauh ini, apalagi sampai separah ini. Ini lebih seperti ekspresi kegilaan daripada wajah bahagia. Ah, peduli setan. Kapan lagi dia merasa begini bebas?

Kesadarannya dicuri oleh kekuatan. Kekuatan mengambil alih. Membuatnya menciptakan bola hitam penghancur yang dia lemparkan sesuka hati. Menghancurkan tiap sisi objek yang terkena. Ini menyenangkan. Dia seperti sedang bermain dodge ball dan bahagia atas kemenangannya sendiri.

"Wow" suara lain terdengar di kejauhan. Bocah itu mengacak surai kelamnya dan menatap tak yakin pada gadis berkimono di sisi kirinya. "Anee-san~~ itu mengerikan" dia berkata setengah merengek. Gadis 15 tahun itu menyembunyikan tawanya di balik lengan kimono yang menjuntai.

"Ara? Kau takut, Dazai-kun?".

"Lihat saja! Siapa yang tidak takut dengan monster penghancur begitu?!" bocah itu menunjuk sosok yang mengamuk sambil terus tertawa kesetanan. "Astaga. Kenapa sensei memperbolehkanku ikut denganmu?".

"Oh, ayolah. Niatnya kan hanya menemaniku negosiasi, tapi kau lihat? Dia sudah menyelesaikannya. Kita harus berterimakasih. Jadi gunakan kekuatanmu untuk menyelamatkan nyawanya" bocah itu menghela nafas kasar. Wajahnya merajuk, namun tungkai yang terbalut celana selutut mulai melangkah mendekat. Bocah satunya masih mengamuk, membabi buta. Suara tapak sepatu mendadak membuat pandangannya teralihkan dan satu bola hitam terbentuk lagi, berniat ia lemparkan pada sumber suara.

"Haaahh~ merepotkan".

BLAARR!

"Wow, bagaimana caranya aku mendekat?" hebatnya dia bisa menghindari serangan itu. Langkahnya melaju cepat, menghindar, menapak dengan tepat. Jaraknya semakin dekat, dan semakin jelas dia lihat darah mengalir keluar dari mulut, mata, hidung bahkan telinga bocah yang mengamuk itu. Keadaannya buruk, sangat buruk.

"Yosh!" langkah terakhir yang dia ambil mengantarkannya berada tepat dibelakang bocah bersurai senja itu. "Nah, maaf mengganggu kesenanganmu" bisikan itu tepat ditelinga. Tangan kanannya merangkul bahu mungil itu dari belakang, kemudian aura biru terpancar. Semacam penetral sebab kemudian aura merah yang tampak berkobar perlahan sirna. Bocah itu nyaris jatuh tersungkur jika si surai kelam tidak menahan tubuhnya.

"Wah, benar-benar misi yang merepotkan" dalam pelukannya, bocah senja itu terkapar tak sadar. Wajahnya begitu polos, tanpa dosa. Beberapa luka mengganggu pemandangan dan si surai kelam kini menyentuh aliran darah di sudut bibir. "Monster?".

===xxx===

"Ah, sudah sadar" bongkahan shappire itu terbuka lemah sedang tubuh si pemilik mati rasa. Bahkan ujung kelingkingnya tak bisa dia gerakkan sesuka hati. Dalam keadaan diambang kesadaran, irisnya menelisik setiap sudut pandang yang bisa tertangkap indra.

Ruangan itu temaram, nyaris gelap sepenuhnya. Tampak tirai putih mengelilingi tempatnya terbaring dan suara wanita tadi menghilang, disusul tambahan tiga atau empat suara yang datang dengan bisikan.

"Woah, benar-benar sadar".

"Jangan berisik, Dazai-kun. Dia masih linglung" satu-satunya gadis disana bersuara halus dan menyerukan peringatan. Matanya menyipit dengan cepat saat cahaya putih menyilaukan tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam pandangan. Satu orang dengan jas putih ala dokter mendekat dan mulai memeriksa disana sini tubuhnya.

"Syukurlah, dia baik-baik saja" senyum simpul dia lihat. Satu orang lagi berdiri agak jauh, tampak menyeramkan dengan janggut agak tebal dan penampilannya yang kelihatan dingin.

"Jadi- dia yang menghancurkan markas pelelangan itu?".

"Ara- boss, langsung bicara pada intinya" suara tawa khas bocah terdengar, "Begitulah".

"Aku tidak yakin, tapi kupikir jika benar begitu dia akan berguna untuk Port Mafia suatu hari nanti" dokter di sisi kirinya bicara. Anggukan ditunjukkan gadis berkimono. "Kupikir Mori-sensei benar, Boss".

Helaan nafas. Diiringi tubuh berbalik dan sibakkan pada tirai putih disana. "Kalau begitu urus dia, Kouyou-kun" pria tua itu kemudian pergi dari sana.

"Baik".

Sementara bocah surai senja itu berwajah bingung. Pandangannya bergantian, pada sang dokter, pada gadis berkimono, juga pada bocah berperban di sisi bawah ranjangnya.

"Yah, semuanya diserahkan padamu, Kouyou-kun".

"Wah, wah. Anda tidak berniat membantu sedikit, sensei?".

"Aku hanya berurusan dengan bocah perempuan, bukan laki-laki".

"Lolicon" lelaki itu hanya tertawa pelan sebelum berlalu. Hanya tinggal mereka bertiga, yang terbaring di ranjang, yang duduk di kursi, dan satu lagi sibuk memainkan seprai yang lolos di ujung ranjang.

"Dimana ibuku?" pertanyaan itu terucap dengan polos. Gadis itu tampak terkejut, wajahnya melembut dan tangannya menyentuh punggung tangan mungil yang terkulai lemah.

"Dia tidak disini".

"Lalu ini dimana? Apa kalian akan menjualku? Apa kaa-chan menjualku pada kalian? Dimana dia?" ingatannya masih begitu sempurna sampai saat dimana ibunya menarik kasar tangannya menuju gudang tua. Sisanya yang terekam dalam memori hanya kegelapan tak mendasar. Gadis itu tampak menghela nafas.

"Ibumu-".

"Dia mati. Dan kau membunuhnya" suara itu dari sosok kelam di ujung bawah ranjangnya. Bocah berperban itu menatapnya jenaka dari sana. Dia menelan ludah, wajahnya dialihkan dan tampak bahwa gadis itu tersenyum miris menatapnya.

"Oh" dia hanya tidak menyangka jika dia melakukan hal yang sama seperti yang ibunya lakukan pada ayahnya. "Dia mati kehabisan darah. Kau melemparnya dengan kekuatanmu, tubuhnya membentur keras pintu besi dan yah, pendarahannya menyeramkan sekali" penjelasan itu membuatnya meringis ngeri. Cukup untuj membuktikan bahwa yang hidup saat ini bukan Nakahara Chuuya melainkan monster berkedok bocah.

Matanya berair tanpa sadar. Disusul isakan pelan dan tangan yang mulai bisa ia gerakkan mengepal sekuat yang dia bisa. "Ini bukan sepenuhnya salahmu" suara menenangkan itu diiringi elusan lembut pada kepalan tangannya. Dia mendapat senyum menyejukkan dari gadis itu.

"Jujur saja. Kau membantu kami menyelesaikan misi. Kau tahu? Kami harusnya hanya bernegoisasi dengan organisasi ilegal yang melakukan jual beli serta pelelangan Omega di pasar gelap. Tapi sepertinya pimpinan mereka berkhianat. Dan yah, kau melenyapkan markas mereka. Ada sisi baiknya kan?".

"Aku- membunuh banyak orang?" irisnya melebar dengan aliran yang masih mengalir. "Kadang, beberapa orang harus mati demi kebaikan yang lain kan?" ada kecanggungan dalam kalimat itu, "Sebelum itu, namaku ada Kouyou Ozaki. Dan seperti yang sudah kau dengar tadi, kau akan bergabung dengan kami. Karena itu, aku akan membimbingmu".

"Jangan menghambat kami, ya?" suara menyebalkan itu terdengar lagi. Bocah itu menjulurkan lidahnya pada Chuuya, wajahnya meledek. Chuuya hanya tak habis pikir kenapa ada orang semenyebalkan itu.

"Perkenalkan dirimu dengan baik, Dazai-kun".

"Eeehhh" bocah itu tampak merajuk. Dia menghela nafas kemudian, tatapannya jatuh ke dalam shappire indah Chuuya sebelum mengucapkan satu nama. "Dazai Osamu".

"Dazai-".

===xxx===

Chuuya bangun saat suara bell apartemen terdengar. Siapa pula yang mengunjunginya sepagi ini. Oh, tapi dia ingin berterima kasih sebab suara itu membangunkannya dari mimpi buruk soal masa lalu. Yah, apa yang lebih buruk daripada pertemuannya dengan Dazai?

Chuuya menguap lebar sambil bangkit dari tidurnya, setengah sadar dia mulai memeriksa segala sesuatu. Kamarnya kosong, dia sendirian. Ponsel tergeletak di sisi atas ranjangnya. Pakaian? Hanya kemeja yang terpakai berantakan dan celananya. Vice, jaket juga coat tergantung rapi di satu sisi ruangan. Topi kecintaannya tergeletak diatas nakas. Sementara choker hitam itu masih terpasang indah walau tidak serapat biasanya.

Intinya, dia baik-baik saja.

"Chuuya-kun? Kau didalam?" suara Kouyou mengusik lamunannya. Dia bergegas menuju pintu utama untuk membukakan pintu dan barulah saat itu terasa sakit di beberapa bagian tubuh, bagian bawah terutama. Dia harus memeriksanya sendiri saat mandi nanti.

"Ah, anee-san" ucapnya bernada parau dan tangannya bergerak mengusap wajah kasar. "Ada apa pagi-pagi begini?".

"Ada apa kau bilang? Kau sadar kan sekarang kalau keputusanku kemarin benar? Astaga, aku khawatir sekali" wanita berkimono itu menggeser tubuhnya dan bergerak masuk dengan cepat. Melesat dia ke bagian dapur tempat itu sementara Chuuya masih dalam sepersekian persen kesadarannya.

"Kau baik-baik saja?" pertanyaan itu ditujukan padanya saat tiba di dapur setelah mengunci pintu. "Kau tidak muncul dan yah, kau tidak ada disana saat kami kembali" Chuuya berhasil mencerna perkataan barusan. Dia ingat soal misi terakhir yang dia dapat berakhir dengan keputusan Kouyou tidak mengikutsertakan dirinya. Sebenarnya dia diijinkan menyusul tiga puluh menit setelah keberangkatan tim utama. Hanya saja sesuatu terjadi dan-.

"Ugh" Chuuya meringis saat memorinya memutar kembali kegiatan apa saja yang terjadi setelah itu. Bagaimana dia dengan bodohnya menghubungi Dazai atau saat maniak gila itu datang atau seks gila mereka. Chuuya bergidik dalam rasa kesal.

"Chuuya-kun?" Kouyou sedang menatapnya khawatir. Senyuman canggung ditunjukan dan dia menjawab dengan jawaban klasik. "Jangan khawatir. Aku baik-baik saja".

"Kau yakin?".

"Ya, sangat" tatapan sangsi tertuju padanya. Kouyou menyibakkan bagian lengan kimononya, membuatnya terangkat sampai siku dan tangan terampilnya mulai mengerjakan hal-hal yang luput dari perhatian Chuuya sejak tadi.

"Tunggu. Tunggu- apa ini?" Kouyou bisa lihat raut bingung lelaki manis itu saat dia mengaduk isi mangkuk tanah liat dan kini mulai menyiapkan mangkuk yang lebih kecil.

"Apa lagi? Tentu saja membuat sesuatu untuk kau makan".

"Kenapa harus bubur? Aku tidak sakit".

"Apa? Tapi kau sendiri yang bilang kalau kau minta cuti karena tidak enak badan dan kau juga minta aku merawatmu" Kouyou merogoh saku dan menunjukkan sebuah pesan disana. Dari Chuuya. Isinya persis seperti yang Kouyou ucapkan barusan hanya saja eksekutif Port Mafia itu tidak pernah merasa mengirimkan pesan semacam itu.

Kakinya beranjak menuju kamar kemudian. Mengecek ponselnya dan dia menemukan satu notes yang tertinggal di wallpaper ponsel pintarnya.

'Kuminta Anee-san merawatmu. Aku harus pergi, ada misi mendadak' Chuuya nyaris meremukkan ponsel ditangannya. Bagaimana bisa dia tidak ingat jika semalaman si bodoh itu berada dirumahnya?

"Chuuya-kun?" Kouyou sudah siap dengan semangkuk penuh bubur dengan kepulan asap menguar. "Aku hanya bisa buatkan ini" bukan masalah, sungguh. Dia justru merasa tidak enak karena sudah merepotkan.

"Kau benar-benar baik-baik saja kan?" Chuuya menghela nafas. Keduanya kembali menuju dapur dan Chuuya duduk di salah satu kursi di meja makan disusul Kouyou kemudian. "Aku- tidak yakin" jawaban itu pelan hanya saja Kouyou berhasil menangkapnya.

"Apa terjadi sesuatu kemarin?".

"Tidak. Kurasa" Chuuya memainkan sendoknya setelah suapan pertama. Hangat terasa di dalam mulutnya dan bubur buatan Kouyou begitu enak. Entah efek lapar atau memang benar-benar enak. "Ini enak" gumamnya bermaksud mengalihkan pembicaraan.

"Habiskan. Masih ada lagi di dapur" Kouyou tersenyum senang. Chuuya melanjutkan makannya sambil terus berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang menghantuinya soal hal kemarin.

Dan si brengsek itu makin berbuat sesuka hati setelah perbuatan kotornya kemarin. Itu makin membuatnya gusar walau satu kalimat yang dia dengar kemarin masih terus berdengung di dalam pikirannya.

"Ne, Kouyou nee-san" Kouyou beralih sedikit dari kegiatan mengagumi kuku-kuku cantiknya. "Bagaimana jika seseorang memintamu menjadi mate-nya?" bertanya pada Kouyou yang lebih berpengalaman mungkin bisa membantu.

"Apa seseorang melamarmu?".

"B-Bukan begitu" rona sekilas tampak di kedua sudut pipinya. Chuuya berdeham, kemudian membersihkan sudut bibirnya dengan napkin. "Cuma tiba-tiba terpikir saja, kalau kau akan punya mate. Apa kau akan pergi dari Port Mafia? Atau tetap disini walau kehidupanmu sudah berubah lagi?" setelahnya Kouyou kelihatan memikirkan itu.

"Tidak juga" jawaban itu tidak membantu. Kouyou tertawa pelan dan senyuman masih menempel saat mulai bicara lagi. "Kupikir jika aku masih berada disini kenapa tidak?" yah, jika ini adalah Kouyou masih sangat mungkin dia berada di Port Mafia. Tapi bagaimana dengannya? Dazai sejak mereka bertemu lagi beberapa hari lalu selalu mengatakan soal akan membawa Chuuya pergi dari sana.

"Yah, kurasa mungkin akan beda".

"Hm, kau bicara sesuatu?" Chuuya menggeleng pelan. Dia merasa bodoh dengan ucapannya. Lagipula bagaimana bisa dia mempercayai omong kosong yang kedengaran meyakinkan itu?

"Ngomong-ngomong, Chuuya-kun. Baumu sedikit beda ya?" sendok dalam genggamannya mengambang diudara berjeda dengan mulut yang terbuka. Suapan itu tertunda, wajahnya kalut. Sedikit takut. "Atau perasaanku saja ya? Hmm".

"Ha-Hahaha, mungkin" tawa canggung itu guna menutupi kebenaran. Sialnya dia lupa jika para wanita mayoritas sensitif terhadap bau. Dia harus mandi lagi setelah ini untuk melenyapkan bau Dazai yang menempel padanya. Kenapa juga baunya menempel padahal mereka hanya sekedar seks, bukan bonding.

"Kau tidak melakukan apapun saat heat kemarin kan?" Chuuya menggeleng reflek. Tatapan curiga Kouyou sedikit membuatnya takut. "Benarkah?".

"A-Astaga. Lagipula apa yang kulakukan dan dengan siapa? Jangan mengada-ada, anee-san" Kouyou lalu mengendikkan bahu. Tidak sadar jika Chuuya menutupi rasa gugupnya. Dia tidak biasa berbohong jadi menyembunyikan sesuatu juga jadi hal sulit buatnya.

"Maaf. Aku cuma khawatir kau membuat ikatan dengan orang yang salah" helaan nafas Chuuya terdengar. Kalau soal itu dia sendiri sangat yakin jika orang yang menyentuhnya kemarin benar-benar orang yang salah.

"Entahlah. Ah, aku mungkin akan mulai kerja besok" ucapan itu sekali lagi sebagai pengalih pembicaraan. Sendok dia letakkan dalam mangkuk dan mendorong benda cekung itu menjauh kemudian. Dia tersenyum sekilas pada Kouyou setelahnya, "Terima kasih atas makanannya".

===xxx===

Masih di cuti sepihaknya. Chuuya mulai bergelung dalam selimut setelah Kouyou pamit pulang setengah jam lalu. Berguling kesana kemari dan mendesahkan keluhan betapa bosannya dia lalu mengulangi hal yang sama setelahnya. Ponselnya bergetar sejak tadi, tidak digubris sebab nama maniak bunuh diri yang tercantum disana. Si brengsek itu masih berani menghubunginya ternyata.

Layar ponsel yang mati akan menyala kembali selang beberapa detik dan nama Dazai terpampang lagi. Guratan kesal tampak jelas di wajahnya. Tangannya setengah hati meraih ponselnya dan panggilan itu ditolak. Tiga puluh detik setelahnya ada pesan masuk disana.

'Angkat teleponnya atau aku datang ke tempatmu sekarang juga untuk memperkosamu :)'.

"SI BRENGSEK INI-" tepat saat umpatannya keluar dengan lantang panggilan masuk didapatnya kembali. "JANGAN SEENAKNYA SENDIRI, BRENGSEK!".

"Ara~ Ara~ Chuuya, mana salam manisnya?" dia bisa mendengar tawa menyebalkan dari sosok di ujung sana. Chuuya mendengus kesal. Dia bangkit dari tidurnya, bersandar pada bagian kepala ranjang dan menarik nafas pelan untuk mengurangi emosi.

"Kau baik-baik saja?".

"Ini ke dua puluh tiga kalinya aku mendapat pertanyaan itu hari ini".

"Kau berlebihan".

"Aku serius" nada bicaranya agak meninggi dan tawa terdengar lagi. "Lagipula kenapa kau menelepon?".

"Aku? Tentu khawatir pada calon mate-ku. Apa Kouyou nee merawatmu dengan baik?".

"Persetan dengan itu. Jangan sekali-sekali lagi seenaknya memakai ponselku".

"Hei, aku tidak bisa merawatmu jadi tidak masalah kan meminta bantuan? Apa kau marah karena aku pergi?" Chuuya mendengus. Apa-apaan bicaranya itu? Sok sekali. Tanpa sadar wajahnya makin masam dan kakinya menendang bantal sampai jatuh dari ranjang.

"Kau benar-benar marah?".

"Kau sudah mati kalau aku serius dengan kemarahanku" Dazai tertawa lagi. Gumaman maaf terdengar darinya dan lelaki senja itu malah menghela nafas. Kenapa dia jadi luluh begini? Bukannya dia sudah bersumpah pada diri sendiri untuk benar-benar memutuskan hubungan dengan Dazai setelah hal buruk kemarin?

"Ne, Chuuya" baritone rendah Dazai tertangkap pendengaran, Chuuya merasa bodoh karena membayangkan betapa suara itu berada sangat dekat dengannya. Seperti tepat menyentuh telinganya, seakan dingin bibir tipis Dazai mengecap telinga sensitifnya dalam jarak intim. Chuuya memerah. "Aku serius dengan ucapanku kemarin. Bagaimana menurutmu?".

"A-Apanya yang bagaimana, dasar bodoh" Chuuya menyembunyikan wajahnya dibalik lutut yang tertekuk. Kebodohan yang tercermin sebab merasa tertangkap basah sedang merona hebat karena ucapan itu. "Aku-" ucapannya tertahan pemikiran. Dia bahkan tidak tahu kata-kata apa yang bakal dia ucapkan setelah ini.

"Ugh-" malah berakhir dengan ungkapan kekesalan pada diri sendiri.

"Apa heatmu belum selesai?".

"Ke-Kenapa malah membahas itu?!" dia merona sampai telinga. Bisa-bisanya si bodoh itu membahas hal ini ditengah pembicaraan serius mereka.

"Suaramu kedengaran seperti menahan sesuatu. Kau sedang masturbasi?".

"BRENGSEK. JANGAN BICARA YANG TIDAK-TIDAK!" bahunya naik turun karena teriakan barusan. Jika Dazai berada tepat di hadapannya saat itu mungkin harapan hidupnya nol persen. Sementara suara Dazai terdengar jelas dengan tawanya.

"Aku bisa bantu dari sini jika kau sulit mengeluarkannya" nada bicara itu melembut, rendah. Chuuya mengigiti bibir, merasakan sekali lagi sensasi menyebalkan yang hanya disebabkan oleh suara Dazai yang seakan menggodanya. "Kau mau lakukan?" pertanyaan bodoh itu membuat Chuuya benar-benar malu sekarang.

"JA-JANGAN BODOH! Mana mungkin aku-".

"Ssttt, turuti saja. Pertama, lepas celanamu".

"BRENGSEK! KUTUTUP TELEPONNYA!".

"Yakin? Aku tahu kau sudah hampir melakukannya?" apa Dazai punya kekuatan baru selain kekuatan penetralnya? Jujur, Chuuya sudah memegangi penisnya dari luar celana. Miliknya keras, dan dengan sedikit sentuhan lagi dia yakin akan ada cairan keluar dari sana.

"Bedebah" dia mengumpat pelan, sementara tanpa dia tahu sosok di ujung telepon sedang menyeringai senang. "Sekarang genggam milikmu, pelan saja" dia menurut. Tangannya menyusup masuk ke dalam celana dan melakukan apa yang Dazai ucapkan. Tubuhnya gemetar tak nyaman, nafasnya sedikit memburu. Kemudian menunggu perintah lanjutan dari sosok kelam itu.

"Tekan perlahan dengan telunjuk dan jempolmu, gerakan saja seperti memijat sesuatu" tangannya bergerak reflek. Seakan saraf otaknya sudah berpindah ke seluruh tubuh, dimana semua rangsangan yang diberikan Dazai hanya melalui suara berhasil membuatnya kehilangan kendali atas diri sendiri. "Terus lakukan, temukan sendiri titik puasmu" lanjutan itu membuat gerakannya makin gencar. Sementara ponsel dalam genggaman satu lagi mulai kehilangan keseimbangan dan desahan tanpa sadar dia keluarkan.

"Dazaihh- nhhhh~" ganti Dazai yang menegang. Sudah kali ke sekian dia menelan ludah, sementara desahan Chuuya makin menjadi di seberang sana. Otak kotornya sudah membayangkan pemandangan indah Chuuya bermain solo. Tangannya mengusap tengkuk canggung dan berusaha menghindari tatapan curiga kedua rekannya.

"Kau- um, sudah pada puncaknya?" Dazai bingung kenapa dia begitu kikuk sekarang. Chuuya masih bernafas berat disana, kemudian memanggil namanya lagi dalam satu nada tinggi. Membuat jakun Dazai bergerak naik turun. "Sialan" gumamnya sambil memijat pelipis.

"Chuuya?".

"A-Aku- sudah. Tapi- ng-" Chuuya memang selesai. Hanya saja sesuatu terasa kurang. Sesuatu yang pernah disentuh Dazai, sesuatu yang diterobos Dazai dulu. Chuuya menyentuhnya disana, memasukkan satu jari dan memekik pelan. "Di-Dimana kau sekarang?" pertanyaan itu membuat alis Dazai terangkat. Setelah pekik erotis barusan, rasanya dia paham dengan maksud pertanyaan itu.

"Aku? Di Tokyo".

"AP- KENAPA KAU DISANA?".

"Kubilang ada misi kan? Karena itu aku hanya bisa membantumu dari sini. Aku menahan diri sejak tadi kau tahu?".

"BRENGSEK. BODOH. BAGAIMANA SEKARANG?".

"Maaf, tapi aku akan-".

Klik.

Dazai menatap layar gelap ditangannya. Chuuya pasti sangat marah. Oh, tentu saja. Dia juga akan marah saat orgasme nya terganggu. Helaan nafas dia keluarkan dan sosok disampingnya menoleh dengan tatapan heran.

"Ada apa, Dazai-san?" bocah harimau itu bertanya dengan wajah polos. Dazai menatapnya datar, pucat. Seakan darahnya tersedot habis entah kemana dan gelengan kepala dia berikan.

"Ne, Atsushi-kun" bocah Nakajima itu menatapnya bingung, menunggu lanjutan yang kemungkinan antara pertanyaan atau pernyataan dari senpainya itu.

"Aku butuh toilet untuk menuntaskan sesuatu".

"BAJINGAN!" sementara itu, Chuuya melempar ponselnya ke sudut ranjang. Merasa jika dirinya begitu buruk sekarang. Hanya saja dia memilih tidak perduli. Jarinya masuk lagi satu, membuatnya meringis sakit. Menggerakkannya dengan ingatan soal bagaimana Dazai melakukannya kemarin.

"D-Dazai-" tercekat. Chuuya bermandikan keringat dan cairan lain keluar lagi dari kejantanannya. Jemari lentik itu menyapu bagian dalam mulutnya sendiri. Mengecapnya dengan desahan berat dan nafas seakan itu yang terakhir. Kemudian air liurnya akan mengalir erotis melewati jakun dan berakhir membasahi kemeja putihnya yang kusut tepat di bagian dada.

Satu tangan lain masih berada di titik pemuasnya sendiri. Memasukan tiga jarinya brutal ke dalam sana kemudian getaran berkala akan menyentak tubuh mungilnya yang bergerak seolah kerasukan. Panggilan akan satu nama perlahan berubah menjadi erangan, kemudian teriakan.

Dia mungkin sudah gila.

"Hnn- a-ahhh" orgasmenya keluar setelah sekian menit berlalu. Butuh waktu lama saat melakukannya sendiri. Apalagi biang masalah yang seharusnya mempermudah malah berada begitu jauh sekarang. Sungguh menyebalkan. Tubuhnya bersandar lagi di kepala ranjang, menimbulkan derit bagai cicit tikus sekarat. Ranjangnya sudah tak berupa dan barang yang berserakan di sekitarnya cukup untuk membuat seseorang enggan masuk ke kamarnya. Lebih dari 15 menit dia gunakan demi menuntaskan hasrat pribadi yang dia selesaikan sendiri.

Ini buruk.

Sangat buruk.

"Brengsek!" lemari besar di kamar itu terbanting karena manipulasi gravitasi, kekuatannya. Membuat pecahan kayunya berceceran dan kamar itu makin mirip dengan bangkai kapal. Pemuda itu menarik surai jingga miliknya kasar, dia benar-benar frustasi soal ini. Perasaannya berkata jika efek ketergantungan seksualnya pada Dazai mulai tampak walau mereka tidak membuat ikatan sekalipun. Dia menggigiti jarinya, merasa jika pikirannya berkabut dan tidak satupun jalan keluar yang dia dapat. Ini semua karena Dazai.

"Aku bersumpah akan membunuhmu, Dazai"

===xxx===

Chuuya, setengah hati bangkit dari posisi terhangatnya saat ini. Dia bersumpah, siapapun yang berada dibalik pintu akan mendapatkan umpatan tak peduli jika itu Mori ataupun Hirotsu. Ini hari ketiga cutinya, dimana dia mengingkari perkataannya sendiri soal akan segera bekerja kembali setelah kunjungan Kouyou dua hari lalu. Tangan kurusnya membuka pintu dalam satu gerakan. Sosok dihadapannya tersenyum penuh rasa bahagia sementara wajah penuh rasa jengahnya terabaikan.

"Tadaima".

"Ini bukan rumahmu, brengsek" gerakan setelah itu adalah bantingan yang cukup kuat namun sial bagi Chuuya karena Dazai berhasil menahannya hanya dengan kaki yang terselip di bagian bawah pintu.

"Kau tidak merindukanku?".

"Tidak sama sekali. Pergi dari sini!".

"Bagaimana jika aku menolak?".

"Kubunuh kau" Dazai tergelak. Tangan berperban itu terangkat, menggenggam bagian pintu yang lebih tinggi dan membukanya dengan tenaga lebih. "Mau dengar prediksiku?".

"Hah?!".

"Kau akan membiarkanku masuk dalam 30 detik" Chuuya mencerna perkataan mustahil itu. Telinganya menangkap suara riang senandung bocah serta suara obrolan antara dua pria dewasa.

"Boss!" pekik panik itu diikuti tubuh Dazai yang ditarik masuk. Dazai menyeringai. Dia cukup hebat soal menyesuaikan waktu. "Bajingan! Kau sengaja?!" Chuuya mendesis kesal setelah mengunci pintu dan berusaha meredam suaranya sendiri. "Kau bedebah sialan".

"Hei, ini kebetulan. Jangan terus-terusan menyalahkanku begitu" Dazai berwajah melas sementara suara bell kemudian terdengar dan Elise mulai menyerukan namanya diluar sana.

"Chuuya-kuuuuunnn~~" Chuuya memijit pelipis. Dia pening luar biasa dan sosok idiot di belakangnya tak ubah seperti bocah usia 6 tahun.

"Apa dia keluar ya?" kali ini Hirotsu. Tangannya mengetuk pintu kayu dan Elise mulai mengomel soal penggunaan bell yang disia-siakan.

"Bagaimana ini?".

"Buka saja" jawab Dazai enteng. "Kenapa harus takut?".

"Bukannya takut-".

"Lalu?" wajah menyebalkan itu menampakkan seringai. Chuuya ingin segera melenyapkan makhluk ini karena rasa kesal yang memuncak tapi ketukan serta suara bell yang tak kunjung henti membuat pikirannya terbagi.

"Buka" baritone rendah itu memberinya perintah dengan suara serak menyesakkan.

"Tidak" dia berucap pelan tanpa sadar. Tangannya ragu, mengapung diudara berjeda dengan gagang pintu yang dingin.

"Bukalah" sementara tangan Dazai bergerak dari belakang mengurung pinggangnya, menarik Chuuya mendekat dalam pelukannya dan dengan kurang ajar mulai berani mengendus daerah tengkuknya yang sensitif. "Ayo".

"Kau- brengsek!" bisikan itu tajam, menyayat udara. Chuuya menahan suaranya dan tangannya mengenggam erat gagang pintu guna pelampiasan emosi.

"Chuuya-kun?" bergantian antara Mori, Hirotsu juga Elise yang kini bahkan merengek kesal. Chuuya makin gusar saat sebelah tangan Dazai masuk ke balik kausnya. Membelai lembut perutnya yang sedikit terbentuk, membentuk pola-pola abstrak yang membuatnya merasa geli. Sebelum akhirnya naik, meraba dadanya. Mencubit pelan dan menggairahkan sesuatu yang menegang disana.

"A-Akh-" desahan tertahan itu lolos dan tatapan tajamnya sulit ditujukan langsung pada pelaku pelecehan seksual yang merangkap sebagai mantan partnernya itu. "Bedebah!".

"Chuuya-kun? Kau didalam?" Mori kini menempelkan telinga pada pintu, iseng. Siapa tahu ada suara tertangkap ditelinganya. "Kouyou-kun bilang dia baik-baik saja, tapi aku tidak yakin".

"Mungkin dia sedang istirahat, Boss" Hirotsu bahkan berniat mengintip dari balik lubang kunci hanya saja tertahan niat itu sebab Elise sudah melakukannya lebih dulu.

"Aku dengar sesuatu" dua lelaki itu menatap langsung ke arah bocah blonde yang kini berwajah serius. "Seperti 'Ahh' begitu" ucapnya polos dan mendapat respon kebingungan dari Mori dan Hirotsu.

"Bededah!" hening. Jelas sekali jika umpatan itu berasal dari dalam dan itu adalah suara Chuuya. Ketiganya saling tatap bergantian. "Tuh kan" Elise berucap yakin dan bocah itu menempelkan telinganya di pintu sambil memanggil Chuuya lagi.

"Chuuya-kun~ aku tahu kau didalam" nada bicaranya dibuat main-main, sebelah onyx yang mengintip lewat celah lubang kunci tidak mendapat pemandangan apapun selain kegelapan.

"Sialan! Sialan!" Chuuya masih kebingungan, berusaha mencari alasan agar mereka pergi tapi kegiatan Dazai pada tubuhnya mengganggu konsentrasi. Bagaimana tidak? Jika tangan kanan Dazai sibuk menggoda bagian atas tubuhnya, maka tangan kirinya juga ikut sibuk di bagian bawah. Kaki Chuuya melemah dan cacian nyaris ia teriakkan sekeras mungkin saat Dazai menggenggam erat kemaluannya dari luar celana pendek yang ia kenakan.

"A-Aku didalam. Maaf, tapi aku tidak bisa membukakan pintunya" gemetar dalam suaranya berusaha diredam. Tangannya yang bebas berusaha melepaskan diri dari Dazai namun berakhir dengan cengkraman Dazai pada lengannya yang berontak.

"Kau baik-baik saja, Chuuya-kun?" Hirotsu agak khawatir sebab suara Chuuya yang sedikit aneh. Tatapan Mori seakan minta penjelasan tapi pria tua itu hanya menggendikkan bahu.

"Aku sangat baik. Sungguh. Hanya saja aku tidak bisa keluar sekarang. Kondisiku sangat- AHH!" jeritan itu membuat Dazai terkikik pelan. Chuuya pasti sangat marah sekarang. Oh, tentu saja. Itu karena tangan nakal Dazai yang berhasil menyusup masuk ke dalam celananya dan menggenggam penis Chuuya yang mengeras.

"Chuuya-kun?!".

"A-aku baik. Jangan khawatir. A-Ada hmm serangga! Iya, serangga. Dan aku akan istirahat sekarang. Kalian juga istirahatlah. Terima kasih sudah menjengukku. Maaf aku tidak bisa keluar sekarang".

"Eh?" ketiganya tentu tidak percaya semudah itu. Terutama Elise. Dia cukup peka dan tahu jika sesuatu sedang terjadi. Matanya memicing, hidungnya bergerak lucu sebab mencium aroma familiar yang sudah dia lupakan. "Apa kau bersama seseorang, Chuuya-kun?".

'Sialan!'.

"TIDAK. Aku sendirian, sungguh. Aku hanya butuh istirahat- aku uhh- kumohon, Elise-chan" suara itu kesakitan. Elise berwajah sedih, khawatir. Bagaimanapun jika itu seseorang yang dekat dengannya, rasanya menyakitkan saat mendengar keadaan buruk mereka. Jadi dia berbalik lalu mengajak Mori dan Hirotsu pergi dari sana.

Dazai bersiul dibalik pintu. Dia tahu jika orang-orang itu sudah pergi tapi tetap melanjutkan kegiatannya. Mendengarkan lenguhan Chuuya disertai makian bernada lemah pasrah begini ternyata menyenangkan juga.

"Hampir saja Elise tahu" tawa diujung kalimatnya membuat Chuuya menyikutnya tepat di dada kanan. "Itu sakit".

"Lepaskan aku!".

"Kau yakin? Aku bisa membantumu menyelesaikan ini" Dazai berbisik tepat di telinganya. Menyandarkan dagunya pada bahu mungil Chuuya setelah memberi satu kecupan di pipinya. Tangan Chuuya mengepal, kesal. Dua lengan yang entah sejak kapan terkunci pergerakannya oleh Dazai mulai meronta lagi minta dibebaskan.

"Dasar keras kepala" hanya dengan satu tangan, Dazai berhasil mengunci dua lengan Chuuya dan memposisikannya diatas surai jingga yang berantakan. Sementara tangan lainnya berhasil membuat Chuuya memekik lagi sebab miliknya dipermainkan oleh Dazai. Genggaman hangat itu berubah menjadi gerakan memabukkan, membuat perasaan tak nyaman mendatangi bagian tubuh terintimnya.

"Da-Dazai- anhhh-" pria jangkung itu menikmati setiap melodi yang diperdengarkan lelaki kecintaannya. Membuatnya lebih dan lebih merasakan kenikmatan menyesakkan dan membuat rencana lanjutan saat kegiatannya saat ini berhasil dia selesaikan nanti.

"Keluarkan saja" desahnya tepat di telinga Chuuya. Sementara mafia bertubuh mungil itu seakan mengindahkan perkataan barusan. Irisnya sayu, kini terpejam indah dan bibirnya yang sedikit terbuka menghembuskan deru erotis menyenangkan. Saat berada pada puncaknya, dia berakhir dengan mengeluarkan precum yang kemudian membasahi telapak tangan Dazai. Dia bernafas lega walau tidak sepenuhnya merasa begitu.

"A-Apalagi sekarang?! Lepaskan aku!" Dazai menatapnya dari samping dengan alis terangkat. "Dazai!" desakan itu diiringi gerakan hendak melepaskan diri. Dazai melepaskan kunciannya pada lengan Chuuya dan membiarkan Chuuya menahan beban tubuh lemahnya pada pintu.

"Kalau begitu giliranmu".

"H-Hah?! Tidak! Apa maksudmu?!" mengabaikan wajah gusar Chuuya, Dazai tanpa banyak bicara membalik tubuhnya. Membuat kedua iris beda warna itu saling bertemu dengan ekspresi berbeda pula. Seringai Dazai terlihat lagi, bibirnya mengucapkan sesuatu yang membuat Chuuya merasa was-was.

"Ini akan menyenangkan. Percayalah".

"Tidak! Lepaskan aku! Kau- brengsek!".

"Kau tahu? Aku mendapat luka baru di lenganku".

"Aku tidak perduli. Cepat pergi dari sini" Dazai menggeleng dengan senyuman khas. Kedua lengan dalam genggaman dipegangnya erat. Lalu dengan gerakan pelan, dia mulai melucuti satu kaitan perban pada lengannya yang lain.

"O-Oi! Apa yang kau lakukan?! Lukamu- lihat lukamu terbuka lagi!" sekilas terlihat darah merembes dibalik bantalan kapas yang menempel di sekitaran pergelangan tangan Dazai. Mantan eksekutif Port Mafia itu hanya tertawa pelan. Tangannya bergerak lagi, mengikat pelan-pelan kedua lengan Chuuya dalam genggamannya dengan perban yang sepenuhnya terlepas dari tangannya yang terluka.

"Aku tidak masalah jika lukaku terbuka lagi karenamu".

"Jangan bodoh!".

"Aku memang bodoh. Aku meninggalkanmu. Itu bodoh sekali" Chuuya tercekat. Ucapan Dazai seperti akuan penyesalannya. Rautnya melembut, sementara kedua tangan yang sudah terikat sempurna kini dikecup dengan hangat oleh lelaki dihadapannya. "Maafkan aku".

"Aku sungguh tidak berharap kau kembali" Chuuya mulai menyuarakan pikirannya. Ingatannya berputar, mengingat kembali Dazai yang dulu begitu dekat dengannya. Kemudian jadi begitu jauh karena ambisi bodoh soal persahabatan. Yang benar saja. Garis hidup kelam mafia tak akan sekalipun berubah cerah hanya karena satu atau dua teman kan?

"Meninggalkanku? Dari awal kau sudah membuangku. Bedebah sialan! Sekarang lihat? Temanmu itu sudah mati" Chuuya tertawa mengejek di akhir pembicaraannya. Tatapannya menajam kemudian, tepat pada kakao gelap yang terefleksi pada samudera di irisnya. "Sekarang beritahu aku, apa aku semacam alkohol yang bisa membuatmu lupa sejenak soal hidup INDAHmu itu?" yang didapatnya hanya tawa miris seorang Dazai. Tangan besarnya mengangkat tangan Chuuya yang terikat, menahannya diatas kepala bersurai jingga itu sambil mendekatkan wajah padanya.

"Empat tahun tanpaku dan bicaramu semakin buruk ya. Butuh pelajaran?"

"Tidak, terima kasih. Lepaskan aku sekarang, bajingan!"

"Tidak sebelum kudapat apa yang kumau" Dazai menciumnya paksa kemudian. Mengabaikan bibirnya yang terluka karena Chuuya baru saja mengoyaknya dengan gigitan keras penuh amarah, membuat lelehan cairan merah menuruni sudut bibirnya. Kedua tangannya beralih pada bokong Chuuya, mengangkatnya hingga tubuh mereka saling menempel. Celana yang digunakan Chuuya menghilang kemana, membuat kejantanannya tertekan diantara kain pakaian Dazai dan tubuhnya yang setengah telanjang.

Chuuya bahkan mengeluarkan kekuatannya berkali-kali sebagai perlawanan walau berakhir sia-sia karena Dazai langsung menetralkannya. Ditambah kekuatan fisiknya yang seakan lumpuh sebab tubuhnya yang lemah karena perbuatan Dazai sebelumnya. Pilihan yang Chuuya miliki sekarang hanya diam dan menuruti kemauan Dazai.

"DAZAI KAU BRENGSEK! AKHH!" lagi, gerakan kasar membuat Dazai berhasil menerobos masuk ke dalam akses Chuuya yang sejak tadi dia inginkan. Membuatnya mendengar rintihan sakit dan tangan terikat dihadapannya saling menggengam erat demi pengalihan rasa sakit. "Sial-" suara lirih terdengar. Disusul satu dua aliran melewati pipi bersemu lelaki Nakahara itu.

"Maafkan aku" Dazai menunduk, menyembunyikan wajahnya pada gumpalan kemeja kusut yang Chuuya gunakan. Menyadari jika getar tubuh lawan mainnya mengisyaratkan ketidaknyamanan karena ulahnya.

"Bergerak-".

"Tapi-".

"INI SEMAKIN SAKIT! CEPAT LAKUKAN!" desakan itu berwujud cengkeraman pada kerah kemejanya. Dazai memantapkan hati. Mulai bergerak dan menumpu tubuh Chuuya, menghentak dari tempo terendah hingga alunan penuh nafsu. Menembus titik demi titik hingga erangan keras terdengar bak lantunan indah lagu opera. Suara gebrak terdengar saat gerakan demi gerakan terjadi, berasal dari punggung Chuuya yang menghentak pintu kayu apartemennya.

"AKH- Ahh~ Daz- anhhh-" Dazai merasa separuh kewarasannya lenyap ditelan udara. Satu tangannya berusaha menuntun lengan terikat itu melewati kepalanya, membuat kedua lengan kurus Chuuya memeluk lehernya.

"DAZAI-" lengkingan merdu itu terdengar. Membuat Dazai mendongak dan mendapati wajah merona hebat itu basah karena keringat. Surai indahnya tampak lembab dan berantakan. Saliva yang meleleh melewati lehernya membuat pemandangan indah itu terkesan panas. Dazai menciumnya lagi, melayani tuntutan kasar dari tarikan pada tengkuknya.

"A-Aku-".

"Keluarkan, Chuuya" detik berikutnya, bagian depan kemeja Dazai begitu basah karena Chuuya. Sementara Chuuya merasa bagian dalamnya terasa penuh karena cairan Dazai. Lelaki mungil itu terengah, menyandarkan kepalanya pada bahu Dazai, mengabaikan ikatan tak nyaman pada kedua lengannya. Dia lelah. Terbukti dari desah nafasnya yang terdengar menyakitkan di telinga Dazai.

"Kau membuat bajuku kotor".

"Persetan. Letakkan saja dan aku akan mencucinya besok. Aku kelelahan sekarang" Dazai terkekeh. Dia membawa tubuh itu ke kamar. Membaringkannya di ranjang dan melepas simpul yang mengikat kuat kedua lengan kurus milik mantan partnernya. Pandangannya menyebar ke seluruh penjuru ruang. Mendapati betapa buruknya keadaan ruangan itu. Terutama lemari besar di pojok kamar yang benar-benar hancur, membuat keadaan terlihat sangat menyedihkan.

"Tahu alasan aku meninggalkanmu?" Chuuya kehilangan mood untuk tidur. Kini malah menatap Dazai serius sementara objek tatapannya menerawang ke langit-langit bernuansa gelap disana. "Karena ini".

"Apa sih? Aku tidak paham" Chuuya duduk menghadap pada pria itu. Jarinya bergerak melepaskan kaitan kancing kemejanya sendiri kemudian. Membuka kain lembab itu dan membuat tubuh polosnya terekspos tanpa sehelai kainpun. Dazai tertawa sebentar sambil mencoba untuk tidak tergoda lagi oleh tubuh Chuuya.

"Ingat saat dulu pertama kali kubantu kau masturbasi?" Chuuya merasa jika obrolan ini makin kacau. Dia memukul kepala Dazai dan mengatainya bodoh. "Aku serius, Chuuya. Maksudku- astaga, menyentuhmu seperti candu buatku. Aku takkan bisa berhenti".

"Jadi kau bilang kau menjauh karena itu? Itu konyol. Aku tidak terima alasan bodoh begitu".

"Tapi memang begitu keadaannya" keduanya saling diam cukup lama hingga desahan nafas berat Chuuya keluarkan dan dia menarik selimut. Tidur membelakangi Dazai.

"Aku masih serius soal perkataanku. Jadilah mateku" tak ada sahutan. Dazai masih setia di sisinya, menatapi helaian jingga yang bertebar diatas bantal juga mengamati desah nafas tak teratur dari sosok yang terbaring membelakanginya.

"Aku- tidak bisa memutuskan itu sekarang".

===xxx===

Chuuya memperhatikan dua orang yang sibuk berdiskusi. Mori dan Kouyou. Ada keributan baru yang terjadi akhir-akhir ini di Yokohama dimana banyak kasus kematian karena racun. Entah itu pembunuhan atau bunuh diri, kebanyakan penyebabnya adalah racun biologis dengan bahan dasar tumbuhan langka.

"Pemerintah akan membayar banyak untuk orang yang bisa menangkap pelakunya. Semacam sayembara. Menarik sekali" Kouyou terkekeh dibalik lengan kimono yang terangkat menutupi paras cantiknya. "Tertarik, Boss?".

"Menarik juga. Yang kupikir bukan soal hadiah tapi justru pelakunya. Dia akan sangat berguna jika bergabung" Chuuya mendengus. Selalu saja yang dipikirkan Mori adalah bagaimana caranya agar orang-orang dengan kemampuan hebat bergabung di Port Mafia.

"Korban akan mati dalam waktu kurang dari satu menit setelah terjangkit. Bekas yang didapat setelah terinfeksi racun itu adalah bintik-bintik hijau kecil akan muncul di sekitaran leher korban. Karena itu, polisi menyebutnya 'Penyihir Hijau'" tawa Chuuya terdengar saat penjelasan Kouyou tuntas.

"Heh, nama konyol".

"Mungkin saja ini semacam kekuatan supranatural. Kenapa tidak mencarinya?".

"Sebenarnya, aku sudah memerintahkan Akutagawa-kun untuk penyelidikan beberapa hari lalu" Mori menyebar isi amplop besar diatas mejanya. Membuat berkas-berkas penting itu tercecer berantakan. Chuuya mengambil salah satu, tertulis grafik kematian yang naik pesat dalam waktu sebulan terakhir.

"Kalau soal pelaku, ternyata sangat banyak. Bukan hanya satu orang tapi banyak dari berbagai kalangan. Korban adalah orang-orang dekat tersangka, dan tersangka memiliki dendam pada mereka" Akutagawa muncul dari arah pintu. Suara batuk menggangu keheningan kemudian sosok raven itu berjalan mendekat. "Maaf terlambat, Boss".

"Ara~ santai saja. Lagipula belum ada yang kutunjuk untuk tugas selanjutnya" Akutagawa membungkuk sekilas pada mereka bertiga.

"Semua tersangka bunuh diri setelah tertangkap polisi. Hanya saja kejanggalan ditemukan saat autopsi. Semuanya juga mati karena racun dan terdapat bekas injeksi di sekitaran lengan" Akutagawa mengambil beberapa foto, tergambar jelas beberapa mayat dengan ciri yang dia sebutkan tadi.

"Dan orang ini dicurigai" satu foto terlihat. Seseorang bertubuh besar dengan seragam polisi dan wajahnya tertutup topi dinas. "Dia selalu ada di setiap sel tersangka sesaat setelah interogasi. Kemudian satu jam setelahnya, para tersangka ditemukan tewas".

"Jadi dia pelakunya?" pertanyaan Chuuya dibalas gelengan. Lelaki emo itu menunjuk dua foto. Satu foto pria paruh baya dan satu lagi mayat pria yang sama.

"Aku berhasil mendahului polisi untuk menemuinya. Dia berkata soal bekas gudang yang hancur di pinggiran Yokohama. Dia melakukan transaksi disana".

"Tunggu. Jadi sebenarnya pelaku utama hanya menjual racun ini pada para pembunuh itu?"

"Tepat, Kouyou-kun" Mori menyeringai, satu foto berada dalam genggamannya sekarang. "Setahuku alamat yang diberikan adalah tempat dimana kami menemukanmu dulu, Chuuya-kun" Chuuya tersentak, tangannya menyambar satu berkas dalam genggaman Akutagawa. Mencocokkan lokasi dengan lokasi tempat dia mengamuk di masa lalu. Tepat.

"Dan bocah ini adalah biang masalahnya" foto dalam genggaman ditunjukkan. Seorang gadis kecil berwajah khas eropa terpotret disana. Dalam gendongan seorang lelaki. Foto diambil dari atas, satu sudut di kejauhan area gudang yang porak poranda bersama satu orang lain yang sepertinya pembeli racun buatannya. "Aku hanya ingin dia bergabung" ucap Mori singkat.

Hening.

Sementara Chuuya masih mengamati beberapa berkas. Ragu, tapi bersamaan dengan itu dia jadi begitu penasaran. Selain itu, kenapa harus tempat itu yang menjadi destinasinya sekarang?

"Aku ambil tugas ini, Boss".

"Kau yakin?" Chuuya mengangguk. Satu berkas tentang lokasi serta foto bocah tadi sudah dia kantongi. "Akan kubereskan segera. Aku hanya harus membuatnya bergabung kan?" kemudian lelaki Nakahara itu melenggang pergi. Mori tersenyum dibalik bayangan.

"Yah, lakukan secepatnya. Chuuya-kun".

===xxx===

Chuuya benar-benar sendiri sekarang. Melihat secara langsung gersang sunyi senyap bangunan tak berupa dihadapannya. Angin laut menerpa, membuatnya memegangi topi atau benda kesayangannya itu akan terbang terbawa angin. Dulu, dia pertama kali membunuh banyak orang disini. Dalam ketidaksengajaan, dalam perasaan sakit karena dikhianati orangtuanya sendiri.

Orang-orang menyebutnya takdir, hanya saja dia lebih suka menyebutnya sebagai garis batas yang mengurungnya. Benar-benar membuatnya merasa terpenjara dalam nasib buruk. Membuatnya menerawang langit, merasa hidup panjangnya terasa akan berakhir begitu cepat setelah ini.

"Ah" irisnya menemukan sesuatu yang terbang terbawa angin, terselip diantara celah kotak-kotak kayu yang tersusun berantakan. Potongan bukti pembayaran sewa sebuah gedung. Dahinya berkerut. Kertasnya masih baru, kelihatan seperti seseorang tak sengaja menjatuhkannya. Alamatnya tertera, tak jauh dari sana. Insting membuat langkahnya tergerak menuju dua blok masuk kedalam pertokoan sepi di area pelabuhan.

Satu gedung beralamat sama. Tampak tua tapi terawat. Plang kayu bertuliskan Grüne DameGreen Lady- tergantung pada pintunya. Sempurna untuk penyamaran walau nama itu sangat mencolok bila seseorang sadar.

"Willkommen, Herr" –Selamat datang, Tuan-.

Suara riang khas bocah dengan logat kental selatan Jerman. Chuuya bisa lihat gadis dalam foto itu kini sedang tersenyum lebar ke arahnya. Pria disisinya adalah pria yang menggendong bocah itu dalam foto. Tampangnya menyeramkan dan tubuhnya yang besar tegap jujur bukan satu hal yang bisa membuat Chuuya gemetar. Oh, yang benar saja. Dia mafia. Jauh lebih buruk dari pembunuh bayaran sekalipun.

"Kupikir aku akan terkepung oleh ribuan mafia. Aku beruntung kan, Wolf?" pria itu mengangguk, menjawab perkataan kelewat riang bocah bersurai hijau zamrud tua nyaris hitam. Chuuya menatap keduanya heran sebelum terkekeh kemudian.

"Aku tidak bermaksud menangkapmu, nona. Aku diutus untuk mengajakmu bergabung".

"Oh, benarkah? Aku ikut kalau begitu" Chuuya tidak percaya jika ini akan semudah ini. alisnya terangkat, dan pertanyaan keluar setelahnya.

"Kau sudah tahu jika aku akan kemari kan?".

"Tentu saja" bocah itu tersenyum, kini melebar dan tampak seringai menyeramkan darinya. "Aku Sieglinde Sullivan, penyihir hijau" Chuuya tertawa. Nama bodoh itu benar-benar kedengaran konyol.

"Lagipula jika aku bergabung dengan Port Mafia, maka perlindungan akan segera kudapat dan pastinya lebih kuat walaupun butlerku sudah cukup. Tapi aku butuh antisipasi juga kan?".

"Kau bahkan sudah menyelidiki Port Mafia. Keputusan yang bagus. Kalau begitu aku akan pergi untuk melapor. Boss akan menghubungimu nanti" Chuuya melambai asal sambil berbalik pergi. Tangannya sudah mencapai gagang pintu dan dia mungkin sudah keluar jika saja perkataan mengejutkan dari sang penyihir tidak terdengar begitu jelas.

"Ngomong-ngomong, sesuatu sedang tumbuh dalam perutmu, Tuan Mafia" iris lautnya melebar. Dia berbalik, mendapati seringai bocah perempuan yang tampak anggun dalam gendongan butlernya.

"Seorang bayi".

=== TBC ===

MUAHAHAHAH MAKIN ABSURD ANJER! /geplak/ XD

Next chapter terakhir kok :'v

Membingungkan? Kecepetan alurnya? Gak nganu enaenanya?

MAAPIN :'v

Aku kemaren sempet kalut nerusin ini gaes, stuck. Mampet macem got depan rumah /curhat/

Selain itu, kuculik pula anaknya Yana Toboso-sensei dari fandom butler iblis haha TwT abisnya cuma dia yang cocok sama peran ini hiks. Silahkan search kalo kepo sama bocah manis bernama Sieglinde Sullivan dan butlernya si anjing Nazi bernama Wolfram :v

Thanks buat yang masih stuck baca tulisan sampah ini TwT

Thanks buat ceman-ceman sesama author muah

Terutama Cylva yang rela menghabiskan malam-malamnya untuk bercint- EHEM untuk memberiku banyak saran

Thanks buat Satsuki-san juga atas dukungan moril juga perang rebutan yang menghasilkan beberapa ide LOL

Yosh lah, tunggu aja kelanjutan cerita absurd ini

Saran kritik caci maki review follow fav nya di tunggu ya gaes :'v

Salam Despacito LOL

/N-D-12072017/