====AO SINS====

Cast : Dazai Osamu, Nakahara Chuuya.

Genre : Romance, Slice of Life, Hurt Comfort.

Rated : M for explicit content

Disclaimer : Bungou Stray Dogs belong to Asagiri Kafka-Sensei and Harukawa Sango-sensei. This FF belongs to me, Nyandyanyan desu~~~

Summary : "Tidak ada hal baik yang dunia tawarkan pada anak ini."/"Kalau begitu biarkan aku hidup dan memberinya kasih sayang. Aku akan mencintainya, seperti aku mencintaimu"/SOUKOKU Omegaverse Fiction./DazaixChuuya./Soukoku./Warning didalam.

Warning : Mengandung typo dan ketidakjelasan serta ke absurd an sang author yang teramat dalam /keplakkeplak/ Judul gak nyambung. Alur kecepetan. Enaena gak nganu /gaplok/ MPREG (tolong segera hentikan membaca jika kau muak dengan yang satu ini) OOC mungkin, banyak umpatan, caci maki dan kata-kata kasar lainnya jadi tolong persiapkan dirimu. Terwujud dari obsesi author pada dunia omegaverse akhir-akhir ini (terbukti dari koleksi doujinshi berbagai fandom juga manga yaoi yang menggunung di history tapi kini percuma saja karena situs hasup author di blokir pemerintah LOL). Maaf atas ketidaksesuaian yang terjadi dalam fiksi ini. Ini cuma fiksi gaes, kay? Jangan bawa sampai hati /chuu/. Author tidak bertanggungjawab atas efek samping berupa baper, kzl dan perasaan tidak mengenakkan lainnya karena fanfiksi ini. Sekian :'v

Ah, happy reading btw (*´∀`*)

===xxx===

Chuuya yakin jika ada yang tidak beres dengan pendengarannya. Satu-satunya gadis di ruangan itu masih setia dengan seringai manisnya. Setelah apa yang dia ucapkan barusan, rasanya tak ada hal yang salah. Bahkan seperti tak ada hal apapun yang terjadi.

"Ma-Maaf?"

"Kau seorang Omega kan? Kau sedang mengandung. Selamat~"

"Kau- tidak mungkin." Chuuya tertawa canggung. Wajahnya mengisyaratkan kesangsian pada keterangan barusan. Sementara Sullivan memiringkan kepala dengan wajah kebingungan.

"Ada apa? Semua orang bahagia saat tahu akan punya anak."

"AKU TIDAK! A-Aku-" langkahnya mundur teratur, terhuyung. Lututnya lemah hingga dia pikir mustahil jika hanya dengan beberapa kata seseorang bisa merasa begini buruk. "-tidak mungkin."

"Ah, apa kau tidak punya mate? Atau kau memang tidak ingin merasakannya? Hamil maksudku." Sullivan berbicara kemudian dengan butlernya. Menyuruhnya menuju salah satu dari deretan lemari kayu penuh ukiran rumit dan mengambil sebuah ampule berisi cairan merah pekat. "Haha, tentu saja. Omega jantan sangat tidak menginginkannya. Mungkin ini bisa membantu." Senyumnya mengembang ke arah Chuuya.

"Rasanya akan sedikit sakit. Tapi semuanya berakhir, fufu~" sebelah tangannya menutupi bibir mungilnya yang meloloskan tawa polos.

"Apa itu?"

"Kau tahu kenapa aku disebut Penyihir, kan? Aku ahli membuat ramuan. Ini salah satunya." Tabung kecil itu terangkat, terarah tepat pada iris zamrudnya yang menyala kekanakan. Menerawang cairan di dalam sana sebelum mengeluarkan senyuman iblis mempesona. "Semua Omega yang tidak menginginkan anak membelinya dariku. Bukankah aku sangat berguna?"

Chuuya mulai paham. Ini semacam saran mengakhiri masalah yang tidak dia inginkan. Dan ini sama saja dengan membunuh seseorang kan? Tak sekali dua kali dia melakukannya. Tapi bagaimana jika seseorang itu berada dalam tubuhnya?

Jakunnya bergerak saat menelan salivanya sendiri. Tatapannya turun pada perutnya yang datar. Dia tidak merasakan apapun disana. Tak ada satupun tanda kehidupan. Pikirannya meragukan perkataan gadis itu sementara sebagian lain dari dirinya merasakan ketakutan tak wajar.

"Kau masih tidak percaya? Kau mungkin harus memeriksanya sendiri. Dan, ini untukmu. Anggap saja sebagai hadiah perkenalan." Dua orang itu sudah berada di hadapannya. Tangan kecil yang terapung di udara menyodorkan ampule. Sementara Chuuya tampak ragu-ragu mengambil benda itu dari si gadis. "Ambillah." Dia menurut. Ampule itu berpindah tangan padanya, menjadi miliknya. Si gadis penyihir tertawa riang kemudian mengajak butlernya segera pergi dari sana.

"Hati-hati di jalan, Herr." Dia menghilang kemudian di balik berjuntai-juntai tirai rangkaian kerang laut. Meninggalkan pria Nakahara itu untuk tenggelam dalam pikirannya sendiri.

===xxx===

Terlalu tenang. Atsushi melirik kesana-sini ruang kerja itu. Tak ada keributan dari Kunikida karena tingkah Dazai. Atau rengekan Naomi pada kakaknya tercinta. Ranpo dan Yosano juga tak ada disana. Sementara Kenji baru saja keluar untuk misi soal hewan peliharaan yang hilang. Suasana tenang begini justru membuatnya merasa was-was.

"Ano-" Kunikida tak bergeming di kursinya. Gumaman Atsushi terabaikan. Tatapannya beralih pada Dazai yang tumben sekali sibuk dengan beberapa berkas. Oh, sungguh pemandangan langka.

"Dazai-san? Sedang sibuk?"

"Hmm." Atsushi meringis. Terlalu sering berada di suasana bising membuatnya jadi tak terbiasa dengan kesunyian macam ini. "Atsushi-kun, kau tahu soal Penyihir Hijau?" pertanyaan itu membuatnya merasa sedikit berguna. Bocah itu mengangguk sekilas.

"Kasus pembunuhan dan bunuh diri yang sedang ramai saat ini. Semua korban mati akibat racun dan tanda bintik hijau di area leher adalah efek racun. Racun bekerja satu menit untuk membunuh korbannya. Polisi tidak bisa menyelesaikan kasus ini dan mengadakan semacam sayembara untuk menangkap pelaku." dia bercerita panjang lebar dengan nada bangga.

"Oh." Dazai kini menggenggam tumpukan surat kabar. "Sangat detail. Bagus sekali. Sebenarnya aku cuma mau tanya soal hadiah sayembaranya." Atsushi ingin membanting meja, merasa penjelasannya sia-sia. Dia menggeleng kemudian, tanda jika dia tak tahu menahu soal itu dan Dazai mendesah kecewa karenanya.

"Apa kita tidak ambil kasus ini?"

"Tidak" Kunikida akhirnya bersuara. Laptopnya sudah ditutup sejak beberapa detik lalu. "Sachou menolak ikut campur."

"Ehhh, membosankan." Tubuhnya merosot, telungkup pada meja kerjanya. Mengabaikan tatapan kesal Kunikida karena tingkahnya.

"Daripada itu, kenapa kau tidak kerjakan laporanmu? Aku sudah bosan menagih laporanmu."

"Ara~ ara~ akan kukerjakan kok. Ne, Atsushi-kun?"

"Kenapa aku?"

"Terserahlah. Cepat selesaikan" Kunikida bangkit, meninggalkan keduanya entah kemana hingga kantor benar-benar sepi sekarang.

"Kenapa kau tertarik, Dazai-san? Pada kasus itu."

"Eh, kenapa ya?" Dazai mengusap dagu, kelihatan sedang berpikir walau tidak dia lakukan. Senyum jenakanya ditunjukkan kemudian. "Penasaran saja."

Dia bohong soal itu.

Entahlah. Dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Entah padanya, atau agensi. Atau seorang lain yang akhir-akhir ini selalu mengusik pikirannya. Chuuya. Sudah seminggu lebih sejak pertemuan terakhir mereka. Dan jawaban atas pertanyaannya pada Chuuya masih belum dia dapatkan.

"Aku tidak bisa memutuskan itu sekarang."

Lalu kapan dia akan dapatkan jawaban?

Hari itu berakhir dengan Atsushi yang mengajaknya pulang bersama. Langit sudah nyaris gelap sepenuhnya. Gerombolan camar terbang ke arah laut dan pelabuhan kelihatan lebih sepi dari hari-hari biasa.

Hari itu terlalu membosankan bagi Dazai.

Dia menyuruh Atsushi pergi lebih dulu sementara dia tetap berada di area pelabuhan. Memperhatikan satu persatu kapal yang menjauh atau mendekati dermaga. Dulu saat masih di Port Mafia dia sering lakukan ini. Memandangi laut, menanti matahari menenggelamkan diri. Menunjuk satu yang terbesar dari sekian banyak camar yang terbang diatas mereka.

Mereka.

Dia dan siapa?

Ada nama Chuuya yang terngiang. Membuatnya mengingat segala sesuatu yang berkaitan dengan lelaki manis itu. Senyumnya. Tawanya. Umpatan untuknya. Tangisan.

"Sudah segila apa aku sampai berani mempermainkan hatinya?" Dazai seakan menghakimi diri sendiri dengan ucapan barusan juga tawa hambar. Dalam hatinya sekarang timbul hasrat untuk bertemu atau sekedar melihat dari jauh. Seperti yang sudah-sudah. Bagaimana dia melihat dari kejauhan wajah lelah itu saat keluar markas. Sebut dia penguntit, tapi 4 tahun ini tak pernah sekalipun terlewat baginya untuk memandangi sosok indah itu dari kejauhan. Semua dia lakukan untuk melepaskan kerinduan.

Dazai termenung berjam-jam disana. Memikirkan banyak hal, entah bunuh diri ganda atau hal lain yang lebih serius. Lampu sorot menyilaukan sudah menyala disana-sini bagian pelabuhan dan jam besar di sana sudah berdentang delapan kali beberapa menit lalu. Minum sebentar di Lupin mungkin bisa sedikit meringankan pikiran. Jadi kakinya melangkah kesana.

Siapa tahu mungkin dia mendapatkan kejutan lagi disana.

===xxx===

Dazai pikir, saat bangun yang tampak adalah langit-langit sewarna gading. Pemandangan biasa yang selalu tertangkap mata kala irisnya terbuka di pagi hari. Entah sial atau beruntung, yang terlihat kini adalah temaram menyeruak pandangan. Ruang itu bukan bagian dari kamar asramanya namun dia kenal betul dimana dia berada saat ini.

Satu sisi ranjang kosong. Dia hanya ingat tertidur tak sengaja disana dengan seorang lagi yang dia bopong dalam keadaan tak sadarkan diri. Mabuk berat. Dia memuji instingnya yang mengantarkan pertemuan mereka di Lupin. Tapi sungguh dia tidak melakukan apapun. Dia tidak ingin menggerayangi orang itu dan berakhir meregang nyawa di pagi hari. Oh, itu buruk. Jika harus mati, rasanya lebih baik bunuh diri ganda dengan gadis cantik di luaran sana.

Setengah pening, Dazai memaksakan langkah keluar. Mendapati si pemilik rumah, duduk melamun di sofa maroon yang berada di pusat ruangan. Di atas meja terlihat segelas kosong wine globe juga sebotol Romanèe-Conti. Teronggok menyedihkan dan Dazai berani bertaruh jika baru satu gelas yang tertuang.

"Koleksimu bertambah ya?" Dazai bermaksud menggoda. Dia menjelajahi lemari kaca di dekat sana. Menatapi koleksi mahal Chuuya dengan wajah berbinar kekanakan. "Kau pasti habiskan gajimu untuk ini".

Aneh.

Dahi Dazai berkerut. Harusnya dia mendapat minimal lemparan barang atau cacian setelah beberapa kata barusan. Sementara yang dia dapat kini hanya desah angin pengap yang membuatnya muak. Chuuya diam, kini menuang segelas lagi dan meneguknya langsung seperti bocah kehausan.

"Aku sebenarnya tertarik pada ini sejak dulu." Iseng, Dazai mengambil sebotol wine Australia. Keluaran tahun 1951, Penfolds Grange Hermitage. Umurnya bahkan lebih tua dari mereka berdua. Dazai bisa bayangkan betapa mahal cairan merah pekat itu.

"Astaga. Aku takkan bisa membelinya bahkan dengan gajiku satu tahun."

"Dazai."

"Oh, aku bercanda. Tentu simpananku saat di Port Mafia dulu mungkin cukup untuk membelinya meski cuma satu." Dazai terkekeh dengan botol berat itu dalam genggamannya. Didapatinya kemudian tatapan tajam dari arah sofa. Membuatnya menyeringai puas, merasa jika usahanya membuat emosi mafia disana sedikit naik.

Atau mungkin tidak.

Tatapan itu berubah. Menjadi begitu kosong. Teralihkan dengan aura suram, sama dengan temaram tidak menyenangkan di ruangan itu. "Langsung saja. Aku ingin beritahu satu hal." Suara dasar gelas bertabrakan dengan meja kaca. Chuuya buka suara setelah kegiatan meletakkan gelasnya.

"Ada bayi dalam perutku."

PRANG!

Dazai bisa merasakan dingin merayap masuk ke sela-sela jari kakinya, juga perih dari pecahan botol kaca yang menancap di sana-sini. Mulutnya terbuka, kemudian terkatup lagi. Ingin bicara tapi sulit. Kepalanya kosong. Bingung bersikap. Dia akan sangat bahagia jika hubungan mereka baik tapi keadaan mereka saat ini adalah kebalikannya.

"K-Kau- sungguh-"

"Jangan khawatir. Aku tahu kau juga tidak menginginkannya. Aku akan menyingkirkannya."

"Menyingkirkan?! Apa kau gila?!" Suaranya meninggi seiring dengan langkahnya yang mendekat pada Chuuya. Persetan dengan pecahan yang terinjak atau telapak kaki yang terkoyak. Dazai terengah, setengah emosi mulai buka suara lagi. "Katakan kau tidak serius soal ini!"

"Tidak serius bagaimana? Apa kau setakut itu? Aku akan membunuhnya, sama seperti kau membunuh jutaan orang saat masih jadi mafia."

"TENTU SAJA BEDA!" Tangannya mencengkram kuat kedua bahu Chuuya. Lelaki senja itu meringis, lama tak melihat Dazai semarah ini. Dia tertawa sinis dan berakhir dengan tatapan tajam yang lurus menembus hazel sang detektif.

"Tak ada bedanya, Tuan. Kita ini pembunuh."

"Chuuya, kumohon. Anak ini, anak kita. Kumohon-"

"Kita?! Aku tidak menginginkannya! Kau yang dengan bodoh merusak ketenanganku, brengsek!" Lengannya berontak, menghempaskan Dazai yang membuatnya merasa terkurung dan mendorongnya menjauh hingga menabrak meja. Membuat benda itu mundur karena dorongan yang cukup keras. "Mau kau bicara apapun, aku akan tetap membunuhnya".

Hening, ruang kemudian hanya berisi angin hampa dan desah nafas berat keduanya. Keduanya saling bergelut dalam pikiran masing-masing. Merasakan beribu perasaan menyakitkan saling menyayat hati mereka. Dazai berakhir dengan dua kata ia ucapkan.

"Maafkan aku."

"Untuk apa? Aku tidak butuh itu." Wajahnya teralih, menatapi apapun selain Dazai adalah pilihan terbaik. Hatinya kacau. Kecewa pada semua hal terutama dirinya sendiri. Lagi, dia terlalu bodoh menghadapi pria itu. Laki-laki yang selalu membuatnya terseret masuk dalam pusaran menyakitkan.

"Aku meninggalkanmu. Menyakitimu. Aku tidak berharap kau memaafkanku. Hanya saja- kumohon, jangan lakukan itu." Chuuya bisa melihatnya sekilas, lengan terbalut perban yang terkepal erat. Menahan perasaan, menahan diri. Senyumnya mengembang penuh ejek.

"Aku sudah pernah katakan ini. Kau bukannya meninggalkanku atau apa, tapi kau memang sudah membuangku sejak awal. Ucapan maafmu kedengaran seperti omong kosong." Dazai tak membalas ucapannya. Diam, bersimpuh kemudian tepat didepannya. Bersentuhan dengan lantai dingin yang menambah nyeri pada telapak kakinya yang terluka. Tangannya bertumpu pada marmer yang terasa beku.

"Aku tahu." Suara itu gemetar. Benar-benar bukan seorang Dazai Osamu. Tubuhnya menurun, membuat kepalanya lebih tertunduk dan Chuuya makin heran dengan tingkahnya yang tidak biasa. "Aku tahu. Kau sangat membenciku. Kumohon, Chuuya-" jeda itu terisi satu tarikan nafas yang terdengar berat. Chuuya menunggu lanjutan darinya, menunggu getar tak pasti dari nada bicaranya.

"Jika kau segitu bencinya padaku. Bunuh saja aku. Hanya saja, biarkan dia hidup."

Chuuya pikir, Dazai kehilangan kewarasannya. Ini menggelikan sekali. Dia mendapati seorang mantan mafia berhati kejam bersujud demi kehidupan seseorang yang belum tentu bisa bertahan hidup nantinya di dunia yang kelam ini.

"Biar kukatakan satu hal, Dazai," Chuuya menatap dari posisi duduknya. Melihat Dazai yang tunduk lemah begitu cukup untuk membuat perasaannya bercampur antara bahagia akan kejatuhan mantan rekannya juga miris mengingat penyebab dia bersikap begitu. "Tak ada hal baik yang dunia tawarkan pada anak ini. Jika dia hidup, dia tak akan punya orang tua yang baik. Tak ada cinta untuknya. Dia jauh lebih menyedihkan ketimbang aku saat kecil dulu."

"Oh." Respon itu membuat alis Chuuya terangkat. Dazai bangkit, menatap lurus pada laut dalam sepasang iris yang berada lebih tinggi dari hazelnya. "Kau salah soal itu Chuuya."

"Aku mengatakan kenyataan. Tak akan ada hal baik untuknya walau dia hidup. Aku pasti sudah membunuhmu. Dia hidup, tapi aku tidak akan mengurusnya. Aku menganggapnya tidak ada. Aku membuangnya. Tak ada kasih sayang dan cinta untuknya!"

"Kalau begitu biarkan aku hidup juga. Aku akan memberinya kasih sayang," tubuhnya mendekat. Bersimpuh dengan kedua tangan berpegang di lutut mungil milik sosok yang duduk diatas sofa. Tak sedikitpun melepas tatapan penuh keyakinan miliknya. "Aku akan mencintainya. Seperti aku mencintaimu."

'Kau gila!' Chuuya ingin menyerukan itu tepat di depan wajah Dazai namun urung. Dazai menatapnya begitu yakin, tanpa satupun keraguan atau kebohongan yang terpantul di iris kakaonya. Membuatnya menunduk. Merasakan hatinya mulai luluh lagi. Merasakan kebodohan akan menguasainya lagi. Merasakan perasaan kuat yang membuatnya ingin menangis keras-keras.

"Ugh-" dia ingin mengutuk semua hal yang berkaitan dengan keadaan mereka saat ini. Tubuhnya beku saat tangannya berada dalam genggaman lembut Dazai. Merasakan bibir kenyal Dazai yang mengecup permukaannya penuh kasih. Mendapati wajah penuh permohonan tertuju padanya.

"Dasar brengsek." Umpatannya terucap begitu lirih. Dia lelah dengan semuanya. Chuuya ingin menghentikan waktu sebentar dan melupakan semuanya. Kepalanya turun, dahinya jatuh bersentuhan dengan milik Dazai dan hembusan nafas hangatnya menerpa wajah Dazai. Mengabaikan lelehan air yang menuruni sudut matanya.

"Chuuya-"

"Entahlah. Aku lelah." Tangannya menepis saat Dazai berusaha menggapai kedua belah pipinya. Bibirnya terbuka lagi dengan suara bergetar.

"Lakukan sesuatu, Dazai."

===xxx===

Dazai tak tahu jika Chuuya bisa terlihat seindah ini. Tidak, dia sudah indah sejak awal hanya saja kali ini sedikit berbeda. Tak ada paksaan, tak ada umpatan kasar juga gerakan untuk melukai. Tubuh itu hanya berbalut kemeja tipisnya, pemandangan yang nyaris sama dengan apa yang pernah dia lihat bertahun-tahun lalu hanya saja sosok didepannya kini benar-benar berhasil membuatnya hilang kendali.

"Chuuya-" seruannya akan nama itu tertahan. Sebelah lengannya menyentuh lembut pipi Chuuya. Mengusapnya, menurun kemudian hingga terasa rahang mengeras dari lelaki senja itu. Dazai mengecupnya di pipi kanan. Chuuya mengalihkan pandangan ke arah berbeda dengan rona yang samar karena pencahayaan kurang.

"Tatap aku." Dua kata itu penuh nada perintah. Sementara sosok didepannya ragu. Mereka saling tatap setelahnya dan mulai tenggelam dalam dasar gelap masing-masing. Pada kedalaman samudra. Pada gelap mendasar tak berujung.

Ganti Chuuya yang menangkup wajahnya. Mendekatkan diri, menyentuh bibir Dazai dengan miliknya sendiri. Gemetar. Membuat Dazai melumatnya pelan demi menghilangkan keraguan yang begitu jelas tampak. Berusaha membuat pikiran Chuuya penuh akan dirinya.

Tangan kurus itu mencengkram erat surai gelap Dazai saat ciuman mereka berubah makin kasar. Dazai mempermainkan lidahnya. Menghisapnya, menggigitnya. Menyapu seluruh bagian mulutnya, membuatnya mabuk sesaat sebelum kembali sadar sebab tautan yang terputus.

"Chuuya." Seruan kedua, diikuti gerakan menurun menuju lehernya yang tertutup choker. Mengecupnya tepat disana. Menjelajahi bagian itu dengan ciuman lembut. Chuuya menggeliat tak nyaman, Dazai tersenyum sekilas. Jilatan panas terasa di permukaan kulitnya, kemudian gigitan lembut yang seakan meledeknya juga dia dapatkan. Chuuya menggeram tertahan, berusaha mengendalikan diri atau dia akan benar-benar tenggelam dalam kelembutan yang tak pernah dilakukan seorang Dazai.

Turun lagi, fokusnya kini pada puting kiri Chuuya. Menyapukan lidahnya disana sebelum mengulumnya seperti bayi. "Akkhhhh-" Dazai menggigitnya dan pekikan Chuuya terdengar. Dadanya seakan terdorong untuk membuat Dazai melakukan lebih. Tangan Dazai berada di pinggangnya, menahan tubuh Chuuya yang bersandar pada headboard.

"Ke-Kenapa-" Dazai mengalihkan pandangan. Mendapati wajah muram dan iris indah yang rasanya bisa mengeluarkan aliran kapan saja. "Kenapa kau lembut begini?" Dazai terkekeh. Wajahnya naik mendekati Chuuya, mengecup sebentar bibirnya sebelum bicara.

"Bonding itu hal penting. Kulakukan begini supaya kau selalu mengingatnya."

"Itu bodoh sekali."

"Aku tidak perduli" Dazai turun lagi. Membuka kedua tungkai kurus Chuuya dan mendapati sesuatu yang tegang di antara pahanya. Chuuya menutup wajahnya dengan punggung tangan. Merasa malu walau sudah berkali-kali dia lakukan ini dengan Dazai.

Dazai menciumi bagian dalam pahanya. Membuat erangan tertahan akhirnya lolos memenuhi ruangan kala bibir tipis Dazai berhasil mencapai kejantanan tegangnya dan memperlakukannya sama lembut dengan bagian lain. Dia merasa hangat sebab mulut Dazai yang menyelimutinya dibawah sana.

"A-AKH!" Chuuya berteriak, mencengkram surai Dazai yang berantakan diantara selangkangannya. Gigi Dazai berkerit diantara otot-otot menegang dalam mulutnya. Wajah Chuuya merah luar biasa. Perutnya terasa penuh dengan gelitik ribuan capung.

"DAZ- annhhh~ Dazai-" Dazai terlalu memanjakannya. Chuuya merasa bisa meledak kapan saja terutama saat hisapan lembut pada penisnya terasa makin menyenangkan. "-ahhh, Da-Dazai! aku- annhh~" dia belum menyelesaikan kalimatnya saat orgasme pertamanya keluar dan memenuhi mulut Dazai. Membuat aliran dari sudut bibirnya dan Dazai mengusapnya dengan punggung tangan sebelum mencium Chuuya dengan sisa-sisa cairan di mulutnya.

Gairahnya naik pada tingkat tertinggi sekarang. Saat ciuman mereka terlepas, Chuuya mulai bersikap tak sabar. Dengan gerakan cepat membuka satu persatu kancing kemeja Dazai. Menyentuh tubuh penuh perban dengan gerakan amatir. Meraba dada bidang itu dan memukulnya pelan disana. "Bagaimana bisa- aku denganmu? Brengsek!"

"Kau masih menyesalinya? Kau masih membenciku?" Dazai berucap tepat di cuping telinganya. Basah terasa disana kemudian sebab Dazai menjilatnya sensual. "Lalu untuk apa semua ini?"

"Aku bahkan tidak mengerti dengan diriku sendiri. Kenapa aku sebodoh ini?"

"Akui saja, Chuuya. Kau mencintaiku."

"TIDAK!"

"Kalau begitu akan kubuat kau merasakan hal yang sama. Aku mencintaimu."

"Omong kos- AKHH!" Pekikannya terjadi karena dua jari yang lolos masuk ke dalam lubang intimnya. Chuuya meringis setelah tambahan satu jari berikutnya. Tangannya meremas kuat bahu Dazai. "A-Akhh-" suara sakit terdengar saat ketiga jari didalam sana bergerak. Dazai sedikit meregangkan otot ketat disana. Kini mencium Chuuya lembut sebagai upaya agar lelaki manis itu lebih tenang.

"Aku akan mulai." Chuuya yang kini terbaring di bawahnya hanya mengangguk pasrah. Bagaimana bisa dia jadi setunduk itu setelah rasa kesal yang dia keluarkan barusan? Dia pikir hanya saat bersama Dazai seluruh perasaannya bisa berubah-ubah dengan cepat.

Dazai sudah membuka celananya, mendekatkan diri pada daerah yang akan dia jelajahi. Membuat kedua tungkai Chuuya tertekuk berada diluar bagian tubuhnya yang bersiap. Sebelum melakukannya, dia sempat menatap iris berair Chuuya yang menatapnya penuh hasrat. Membuatnya sadar bahwa betapa bodoh dia selalu menyakiti pria kecintaannya selama ini.

"Da- AKHH! Annhhh- Da-Dazai!" Jari-jarinya mencengkram kedua sisi seprai di bagian kepala. Mencoba membiasakan diri saat milik Dazai yang membuatnya merasa penuh dibawah sana.

"Sakit?" Dazai meringis. Dia sudah lembut, Chuuya akui itu. Hanya saja rasa sakit itu masih terasa sama. Dia mengangguk kemudian, mengalungkan lengannya pada tengkuk Dazai yang merendah diatas tubuhnya.

"L-Lanjutkan." Permintaan itu disambut ciuman dari Dazai. Tubuh keduanya saling bergerak, saling memberi kenikmatan dengan sensasi serupa yang begitu memabukkan. Erangan keduanya teredam dalam lumatan-lumatan kasar pada bibir masing-masing. "-hmmmppphh." Desahan Chuuya terdengar saat Dazai lagi-lagi menginvasi keseluruhan bibirnya.

"DAZAIHHH!" Kali ini titik nikmatnya terpukul. Dazai mengulanginya, mendapat teriakan serupa yang makin erotis. Membuatnya merasa ingin mendengarnya lagi dan lagi.

"Kau suka ini?"

"La- annhhhh~ Lagihh- Dazai!" Chuuya menjawab dengan desah keras. Tangannya memeluk erat tengkuk Dazai, menariknya mendekat dan menggigit selangkanya yang lolos dari lilitan perban saat rasa sakit penuh kenikmatan dia rasakan tanpa henti. Dazai meringis tapi tak menghentikan tugasnya.

"Dazai- a-akhhu- nnhhh~" Dazai tahu jika Chuuya berniat mengeluarkannya sekarang namun sebelah tangannya menggenggam erat penis Chuuya dan menutupi lubang kecil disana. Mengundang tatapan protes penuh derita dari pria Nakahara di bawahnya.

"Chuuya- Chuuya!"

"DA-DAZAI!"

Erangan mereka melebur jadi satu bersamaan dengan basah membanjiri telapak Dazai juga kehangatan memenuhi liang Chuuya. Keduanya terengah. Dazai merasa justru dialah yang lebih dulu ditandai Chuuya sebab gigitan tadi. Ah, dia bahkan nyaris lupa soal itu karena terlalu mabuk sebab kegiatan barusan.

"Berbaliklah." Dazai berucap setelah melepas kejantanannya dari Chuuya. Chuuya menggeleng lemah, dia ingin ini segera berakhir dan hasratnya berhenti membuncah namun keadaan tubuhnya seakan berkhianat. Dazai tahu persis jika Chuuya tak akan bergerak jadi dia yang melakukannya. Membalik tubuh Chuuya, mengangkatnya sedikit hingga lutut Chuuya bertumpu pada ranjang.

"Kau gila? Mau apa lagi?"

"Aku belum memberimu tanda."

"Kau hanya harus menggigitku, tidak perlu- AKH! DAZAI!" Dazai sudah berusaha memasukkan miliknya lagi pada lubang Chuuya yang terbuka karena posisinya. Chuuya tersungkur, menenggelamkan wajahnya pada tumpukan seprai kusut juga meremas kasar benda itu.

Saat sudah tertanam sepenuhnya, Dazai mulai bergerak lagi. Pelan-pelan, membuat hentakan lemah satu persatu yang dibalas desah dari bibir basah Chuuya. Tangannya sedikit terangkat menahan tubuh, tulang belakangnya melengkung begitu indah. Dazai menelusuri tonjolan tulang-tulang itu dengan telunjuk sementara bagian bawahnya masih setia menjajah Chuuya.

"Akh- aanhhh-" saat hentakannya kembali menemukan kebahagiaan Chuuya, semangatnya bertambah. Pukulan terus dia lancarkan demi bisa mendengarkan lantunan indah itu. Tangannya beralih pada tengkuk Chuuya. Menyingkirkan surai senjanya. Meminta akses agar choker hitam itu diperbolehkan hengkang dari sana. Chuuya hanya mengangguk dalam lirihan liar penuh nafsu.

Saat benda itu terlepas, tengkuknya menguarkan pheromon kuat. Dazai mengecupnya, menjilatinya. Memberi beberapa tanda sebelum kini serius pada satu titik dan mulai menancapkan deretan giginya disana.

"DA- AKHH!" Hentakan terakhir darinya berbuah muntahan cairan cinta pada dua tempat berbeda. Dazai kini mengoyak tengkuk belakang Chuuya. Membuat aliran darah menurun menuju jakun Chuuya dan berakhir menjatuhkan tetes demi tetes cairan pekat itu di atas seprai putih yang kini kusam dan kusut karena ulah mereka.

"-ughh~"

"Sakit ya? Maafkan aku" Dazai menghisap darah yang keluar dari sana. Menghentikan pendarahan kecil yang cukup untuk membuat Chuuya merasakan perasaan aneh selain rasa sakit pada tubuhnya.

Tubuh Chuuya jatuh tertelungkup dan Dazai kini berbaring disampingnya. Dia sudah menyelimuti Chuuya setelah melepaskan diri tadi. Lelaki itu menghadap ke arah berlawanan dengannya.

"Setelah ini apa?" Pertanyaan itu membuat Dazai bergumam.

"Entahlah."

"Boss dan Kouyou-nee akan membunuhku, mungkin." dengusan terdengar darinya dan Dazai malah tertawa pelan karena itu. Tangannya terangkat menyentuh helai demi helai sewarna tembaga yang terurai. "Apa aku benar-benar akan berakhir begitu?"

"Tentu tidak, aku akan menculikmu. Jika sudah saatnya, kau akan kubawa menjauh dari Yokohama. Kita akan punya kehidupan baru."

"Bicaramu menggelikan. Apa kau selalu merayu gadis-gadis dengan ucapan itu?"

"Tentu tidak. Tapi kecemburuanmu itu manis sekali."

"Bedebah" rautnya tampak, menatap Dazai kesal setengah mati dan tawa Dazai pecah kembali. "Aku tidak punya perasaan semacam itu padamu."

"Oh, bukannya sudah kukatakan? Aku akan membuatmu merasakan hal yang sama." Senyuman Dazai memenuhi wajahnya. Chuuya bergeming, menghela nafas kemudian sebelum memejamkan mata. Mengabaikan ucapan barusan.

"Kalau saja bisa semudah itu."

"Memang tidak mudah, tapi akan kucoba." Percakapan mereka berakhir dengan tubuh mendekat dan nafas teratur mereka yang beradu. Mereka terlelap tanpa tahu jika masing-masing punya satu harapan yang sama.

Mereka ingin bersama sekali lagi.

===xxx===

"Jadi-" samudranya melebar. Belum cukup tatapan yang terus terarah padanya sejak masuk area markas, kini dia mendapat sesuatu yang membuat keringatnya mengalir keluar. "-bisa kau jelaskan soal ini, Chuuya-kun?" Mori hanya menyodorkan satu foto diatas mejanya. Ada Chuuya di dalam potret itu dan Dazai yang membopongnya masuk dalam apartemen beberapa hari lalu.

"Kau berkhianat juga?"

"Tidak! Tentu tidak. Oh, astaga." Chuuya mengusap wajahnya gusar. Lagipula siapa orang bodoh yang memata-matainya begitu. Tatapannya jatuh pada Kouyou yang duduk memegang cangkir tehnya. Kelihatan acuh, tidak biasanya dia bersikap begitu terutama saat mereka bersama.

"Anee-san." Chuuya seperti meminta pembelaan. Wanita itu mendongak, berwajah datar dan menusuk. "Aku tidak berkhianat."

"Tentu saja. Kami hanya antisipasi. Kau berada di misi lain sementara Akutagawa sedang memburu manusia harimau milik mereka. Bisa saja dia memanfaatkanmu."

"Aku bahkan tidak tahu soal itu. Lagipula dia hanya membawaku pulang karena mabuk di bar."

"Nah, bukankah itu kesempatan bagus untuk 'menyerang'mu?"

"Anee-san-"

"Aku tak akan bahas itu sekarang." Mori meredam keduanya sebelum berlanjut lebih rumit. "Bagaimana penyihir itu menurutmu, Chuuya-kun?" Ah, Chuuya lupa jika belum memberi laporan detail soal tugas itu.

"Dia hanya anak kecil mengerikan. Tidak beda jauh dengan Kyu."

"Tidak ada lagi?"

"Ya, hanya itu. Dia bersedia bergabung dan minta perlindungan dari kejaran polisi atau detektif. Dia bahkan sudah menyelidiki Port Mafia." Mori mengangguk sekilas. Tangannya kini menggenggam sebuah kertas berisi alamat dimana gadis itu tinggal sekarang. "Kurasa tidak perlu bertemu dengannya."

"Kenapa?" Kouyou mengalihkan pandangan pada Mori. Mendapati senyuman khas ditunjukkan pimpinan Port Mafia itu dan merasakan firasat aneh.

"Tidak perlu. Dia tidak akan bertahan lama. Dan Chuuya-kun," suara tawa polos muncul samar dari belakang kursi besar tempat Mori berada. Elise keluar dari sana, masih dengan tawa riangnya.

"Ne, Chuuya-kun~ baumu benar-benar berubah sepenuhnya." Pernyataan itu membuatnya reflek menoleh ke arah Kouyou. Wanita itu juga tentu sadar dengan bau tubuhnya. Dia menggigiti bibir, untuk apa pula dia merasa gugup begini? Ketakutan tak beralasan merasuk perlahan dalam hatinya.

"Hihi~" tawa itu sangat menganggu. Nada ejek begitu kental di dalamnya. Chuuya bersiap beranjak, merasa jika hengkang dari sana secepatnya adalah pilihan terbaik.

"Kami tidak berharap kau bersama pengkhianat itu, Chuuya-kun." Suara Kouyou memenuhi pendengarannya sebelum benar-benar keluar dari ruangan Mori dan berjalan cepat meninggalkan markas.

"Brengsek!" Umpatnya kesal entah pada siapa. Kemudian ponselnya bergetar tanda panggilan masuk. Nama Dazai berada disana, dia mengangkatnya dengan perasaan campur aduk.

"Chuuya? Kau dimana?"

"Diluar markas. Jangan ke tempatku dulu sementara waktu. Aku sedang dicurigai."

"Kau? Kenapa?" Chuuya mendesah kasar. Langkahnya berbelok, naik ke arah jembatan penyeberangan yang sepi dan berhenti pada satu sisi saat berada di atas.

"Ada yang mengambil foto saat kau membawaku pulang. Mereka pikir aku membocorkan informasi milik Port Mafia." Dazai tertawa di seberang sana, sungguh tidak membuat perasaan Chuuya membaik sedikitpun.

"Apa ada orang baru di Port Mafia?"

"Menurutmu orang dalam? Lagipula tidak ada-" jeda kalimatnya terjadi saat nama Sullivan terlintas dipikirannya. Tapi sangat tidak mungkin, mengingat mereka bahkan baru sekali bertemu. Dan untuk apa Sullivan menjatuhkannya begitu? "Tidak mungkin."

"Siapapun itu, jauhi dia. Aku punya firasat buruk. Dan temui aku nanti di pelabuhan."

"Buat apa? Sudah kubilang jangan temui aku dulu."

"Aku merindukanmu tahu."

"Masa bodoh!" Dazai pasti akan mengolok-oloknya jika tahu wajah merona Chuuya saat ini. "Baiklah. Hanya sebentar. Dan aku tidak menemukan siapapun yang bisa kucurigai termasuk orang baru itu." Chuuya merasa jika mustahil pelakunya adalah Sullivan. Langkahnya berjalan lagi berniat pergi ke sisi seberang. Sementara berlawanan arah, terlihat seorang bocah bertudung yang mendekat ke arahnya. Tapi Chuuya acuh soal itu, melanjutkan pembicaraannya di telepon kemudian.

"Dia cuma bocah aneh, jadi tidak mungkin- AH!" bocah itu menabraknya, membuat sebuah luka gores memajang pada lengan kirinya. Bocah itu tampak mendekap sesuatu di dadanya. Tudungnya turun dan wajah ketakutan terlihat jelas oleh Chuuya sekarang.

"Chuuya?!"

"Aku baik." Chuuya meringis. Saat langkahnya bergerak ingin menggapai, bocah lelaki itu mundur ketakutan dan berlari melewatinya. "HEI!"

"Chuuya? Kau yakin baik-baik saja?" Chuuya mendengar nada khawatir dalam suara Dazai. Dia memutuskan membiarkan bocah itu pergi dan kini menatap aliran darah yang turun sampai ujung jari lalu menetes kebawah.

"Nanti kuhubungi lagi. Mungkin seseorang sedang mengikutiku." Chuuya memutus sambungan. Dazai di seberang sana menatap layar ponselnya yang menggelap. Tatapannya naik ke arah Atsushi di hadapannya.

"Ketemu?"

"Tidak." Atsushi menggeleng, kemudian menyodorkan tabletnya ke arah Dazai. "Tak ada perusahaan, toko atau apapun bernama yang berkaitan dengan Penyihir Hijau. Alamat yang kau berikan tadi juga baru saja terisi sekitar 3 bulan lalu. Tapi aku temukan ini." artikel yang Dazai lihat berisi kerusakan yang terjadi 11 tahun lalu di salah satu gudang di area pelabuhan Yokohama milik perusahaan Jerman.

Pemiliknya merupakan pengusaha terkenal dari Jerman, Sieglinde Heinrich. Dalam kejadian itu ditemukan tewas karena tertimpa baja besar yang merupakan rangka bangunan. Setelah itu, perusahaan tekstilnya yang bernama Grüne Dame menghilang. Gudang yang hancur itu juga ternyata tempat bisnis gelapnya berupa jual beli dan pelelangan Omega.

Dazai ingat jika itu adalah tempat yang dihancurkan Chuuya dulu tapi belum menemukan titik terang soal keterkaitan antara Penyihir Hijau dan firasat buruknya akhir-akhir ini.

"Ngomong-ngomong. Terima kasih, Atsushi-kun." Dazai bangkit setelah menyerahkan kembali tablet itu pada Atsushi. Pergi sendiri ke alamat itu mungkin lebih membuahkan hasil. Dia tak akan begini jika saja tak dia temukan nota berisi alamat itu dan sebuah ampule yang menyembul dari saku coat Chuuya yang teronggok.

Orang-orang Port Mafia mungkin juga ikut andil dalam kasus ini walau belum ada satupun bukti keterkaitan mereka. Tapi apa yang dibawa Chuuya sudah menjadi petunjuk yang cukup buatnya. Dazai hanya tidak ingin terjadi hal buruk pada lelaki itu. Dia kini melangkah pergi, nyaris keluar dari kantor jika saja suara Ranpo tidak menginvasi pendengarannya.

"Sachou tidak ingin ikut campur karena kasus ini terlalu beresiko. Kenapa malah kau yang pergi?" Tubuhnya berbalik, mendapati wajah tak suka Ranpo memenuhi pandangan. Dazai balas menatapnya datar. Atsushi yang merasa begitu canggung jadi serba salah sekarang.

"Aku pergi untuk urusan pribadi. Aku janji tak akan libatkan agensi."

"Tetap saja. Kau itu anggota agensi. Tidak mungkin kami diam saja saat terjadi hal buruk padamu." Dazai terdiam. Dia paham betul soal itu, karenanya dia hanya membicarakan hal ini dengan Atsushi. "Kusarankan hentikan sampai disini." Lanjutan Ranpo ditolak keras oleh batinnya.

"Tidak bisa, Ranpo-san." Dazai bersuara, matanya berkilat penuh keyakinan saat bertemu pandang dengan iris gelap Ranpo. "Aku punya firasat buruk. Dan aku yakin akan menyesal jika tidak menyelesaikannya sekarang."

"Kupikir jika dia sudah berjanji tidak akan melibatkan agensi maka tidak masalah." Kunikida muncul dari balik pintu, mungkin kerasukan sesuatu karena menyerukan pembelaan untuk Dazai. "Aku ikut punya firasat buruk saat dia mengatakan itu."

"Ah, terserah padamu. Aku cuma memperingatkan." Ranpo berlalu, kembali ke mejanya dan mulai membaringkan kepala disana. "Kuharap 'kalian' baik-baik saja." Dazai tersenyum setelahnya. Bukan Ranpo jika tidak mengetahui segala hal. Dazai menjawabnya bersemangat kemudian.

"Aku akan kembali."

===xxx===

"Grüne Dame." Wajahnya bergantian memandang alamat pada lembaran nota ditangan juga plang pada pintu kayu didepannya. Dia tidak salah. Terima kasih karena tempat itu sangat mencolok dan mudah di temukan. Kakinya melangkah ke arah pintu, tanpa basa-basi membukanya dan masuk. Aroma kayu manis yang menyengat memenuhi penciumannya dan senandung kekanakan terdengar.

"Ah, willkomen" aksen asing jelas terdengar. Gadis itu sendirian di kursinya. Tangannya sedang sibuk memilah beberapa biji-bijian. "Tak kusangka detektif juga tertarik padaku."

"Wah, nona muda. Kau bahkan tahu siapa aku." Dazai terkekeh, menatap balik gadis yang menyeringai ceria ke arahnya. "Aku kemari untuk mengembalikan ini." Dazai merogoh sakunya, menunjukkan ampule merah pekat itu ke arah Sullivan. Gadis itu berwajah bingung sebelum Dazai mengatakan sesuatu lebih lanjut.

"Kau gadis nakal yang memberi racun pembunuh bayi pada seseorang yang rapuh."

"Eh-" seringainya muncul dan makin mengerikan, disusul tawa manis yang memenuhi ruangan. "Hihi~ kau mencurinya dari Tuan Mafia itu? Sesuai dugaanku, kalian punya hubungan lebih dari sekedar mantan rekan."

"Ah, ternyata tebakanku soal orang baru itu benar ya? Nona Sieglinde Sullivan." Satu lengan lainnya kini mengacung pula ke arah gadis itu. Sebuah pistol mengarah padanya dan Dazai kelihatan serius soal itu. Bukan perkara sulit membunuh gadis itu sekarang jika sesuatu memang mengharuskannya melakukan hal itu.

"Katakan tujuanmu, nona."

"Eh, bagaimana mengatakannya? Ini mungkin urusan bisnis, Herr." Ujung kaliber lain sudah menempel pada belakang kepalanya. "Tahan dulu, Wolf." Seruan manis itu diiringi senyuman manis. "Aku tidak bisa mengatakan hal lain sebelum tujuanku tercapai. Ini semua demi Papa."

"Sieglinde Heinrich. Mati saat serangan pada gudang pelelangan itu. Bukankah dia ayahmu?" rautnya berubah. Antara kemarahan dan kesedihan. Tangan Sullivan mencengkram erat renda di bagian bawah gaun victorianya. "Bisnis kau bilang? Kau hanya meneruskan pekerjaan kotor yang dilakukan ayahmu tercinta."

"Papa-" gumaman itu penuh getar. "Dia membunuh Papa. DIA MEMBUNUHNYA! DIA MEMBUNUH PAPA! MEMBUAT MAMA GILA. MEMBUATKU LUMPUH!" Dazai tahu jika kemarahan itu tertuju pada Chuuya. Dia tidak menyalahkan Sullivan soal dendamnya, diapun pasti akan begitu jika mengalami hal yang sama.

"Bertahun-tahun kupersiapkan semuanya. Dan hari ini semuanya akan berakhir."

"Tunggu- apa maksudmu?!"

"Ah, atau bisa kukatakan ini awal yang 'indah' buatnya." Gadis itu tersenyum dibalik dua jari yang menyilang didepan wajah. Dia terkikik senang sebelum kembali bicara. "Kau tahu, Herr? Harga seorang Omega sedang sangat tinggi saat ini. Terutama jantan. Dan lagi, dia punya sesuatu yang membuat nilainya menjadi berpuluh kali lipat mahalnya." Tatapan tajam Dazai sarat akan pertanyaan dan tawa riang Sullivan sama sekali tak membantunya menemukan jawaban.

"Baru berapa hari sejak dia ditandai? Aroma tubuhnya berubah, menjadi begitu manis dan membuat Alpha paling kuat sekalipun tertarik. Bagaimana bisa aku melewatkan kesempatan ini, Tuan Detektif? Aku punya aset berharga untuk dibudidayakan."

"Nona, ucapanmu benar-benar membuatku muak sampai ingin membunuhmu secepatnya."

"Oh, mengerikan sekali." Tawa kembali terdengar, membuat Dazai berusaha sekuat tenaga menahan emosi atau dia akan mengacaukan rencananya. "Sayangnya pesuruhku berhasil memasukkan racun pada tubuhnya. Ramuan pelumpuh yang spesial. Sedikit goresan bisa mempermudah penyebaran. Tunggu saja sampai dia benar-benar jatuh dan orangku akan membawanya ke pelelangan. Bukankah aku luar biasa, Tuan Detektif?"

"Ah, aku benar-benar bodoh karena sempat ragu jika kau pelakunya. Berarti ada dua kasus yang melibatkanmu, soal penjualan racun itu juga pelelangan yang ternyata masih terus bergerak." Kedua tangannya terangkat namun senjata masih dalam genggaman. "Entah ini hal baik atau buruk, tapi akan kuselesaikan secepatnya."

"Eh, sudah menyerah? Kau Alpha yang payah." Seringai tampak di wajah Dazai, Dazai memutar tubuhnya cepat sebab kelengahan butler bernama Wolfram itu. Dazai memberikan satu pukulan keras ke arahnya namun berhasil dihindari dengan tepat. Suara letusan terdengar saat benda yang mengarah padanya ditarik dibagian pelatuk.

Meleset.

Dazai menyeringai makin lebar. Satu langkah panjangnya maju, kini menyerang dengan tendangan keras ke arah tubuh pria itu namun gagal. Berakhir dengan tungkainya ditangkap telak dan tubuhnya terlempar, menabrak deretan lemari kayu berisikan buku-buku pengobatan kuno. Tubuhnya tertimpa cukup banyak buku dan pistol dalam genggamannya terlempar kearah pintu utama. Suara khas terdengar, pertanda jika senjata api yang ujungnya kini menempel di surai gelapnya siap memuntahkan peluru kapan saja.

"Urusan kita sudah selesai, Tuan Detektif. Pergilah ke neraka dan jangan ganggu kesenanganku." Mendengar itu, Dazai terkekeh. Dia bangkit perlahan sambil mengangkat tangan sejajar dengan kepala.

"Kupikir kau harusnya mencari tahu soal diriku lebih dalam lagi." Semuanya berjalan sesuai prediksinya hingga saat ini. Senyumnya mengembang saat Wolfram mulai menarik perlahan pelatuk itu. Wajah Sullivan berbinar senang karenanya.

Satu gerakan cepat membuat kakinya terangkat tinggi untuk menendang lengan yang menggenggam senjata api. Membuatnya terlepas dan terlempar ke arah yang sama dengan milik Dazai yang teronggok di dekat pintu. Keduanya saling bertatapan sejenak namun Dazai mendahului. Kakinya sudah beranjak disusul butler itu dan keduanya menyambar pistol masing-masing. Kedua benda itu berakhir dengan ujung menempel pada dahi Dazai juga dada kanan Wolfram.

"Butlermu sangat cekatan, nona. Kau harus memujinya nanti." Perkataan itu bernada jenaka. Membuat Wolfram menggeram dan tarikan pada pelatuk akan segera dia lakukan. Sullivan tampak cemas di kursinya terutama saat iris zamrudnya menangkap seringai Dazai yang kini memenuhi wajah. "Baiklah. Kita akan hitung mundur. 3, 2, 1-"

"Bang~"

DORR!

"W-Wolf?" Gadis itu berwajah terkejut. Satu lelaki disana masih pada posisinya bersimpuh dengan senjata berasap dalam genggamannya sementara satu lagi terkapar dengan dada kanan mengeluarkan cairan merah pekat.

"Oh, aku meleset. Dia bahkan tidak sadar saat pistolnya tertukar dengan punyaku yang tanpa peluru."

"WOLF!" Teriakan itu disusul bunyi debam memilukan, suara tubuh yang jatuh menabrak lantai dengan keras. Sullivan bangkit kesakitan, menyeret tubuhnya ke arah Wolfram dengan tangisan tertahan.

"Nah, nona. Kau tidak mungkin membuat racun tanpa penawar kan?" Dazai kini tepat berada di hadapannya. Membuatnya mendongak dengan tatapan penuh kebencian. Sementara wajah pria jangkung itu tak kalah dingin darinya. Dazai menghembuskan desahan resah dalam nafasnya. Setelah satu tarikan ringan untuk menenangkan diri, dia mulai bicara lagi lebih lembut. "Aku bisa patahkan leher siapa saja saat ini, nona. Tak terkecuali kau."

"Kau yakin lebih memilih mematahkan leherku daripada memikirkan mantan rekanmu itu? Ah, seingatku ini sudah lewat satu jam sejak racun itu masuk ke tubuhnya." Rahangnya mengeras penuh emosi. Dazai mencengkram erat kerah gaunnya hingga gadis itu memekik tertahan. "Cepat katakan padaku soal penawarnya." Gadis itu tertawa lemah diantara cekikan pada kerah gaun hijau hitam yang dia gunakan.

"Kau mengambilnya tanpa tahu isi sebenarnya dari benda itu." telunjuknya mengarah pada ampule yang kini tergeletak cukup jauh didekat tumpukan buku yang menimpa Dazai tadi. "Itu memang racun untuk membunuh bayi, tapi juga penetral untuk racun spesial itu. Selain itu, orang-orangku juga mulai bergerak mengikutinya." Dazai tersentak, merasakan jika firasat buruk telah mendahului langkahnya. Giginya gemeretak sekarang, penuh rasa kalut dan khawatir.

"Mari bertaruh, Herr. Siapa yang lebih cepat antara langkahmu mengantar penawar itu atau orang-orangku yang menyeret tubuhnya yang ambruk karena racun." Dazai menghempaskan tubuh gadis itu. Kemudian tanpa pikir panjang melangkah menuju ampule itu dan berniat keluar. Yang terpenting sekarang adalah menemukan Chuuya dalam batas waktu yang amat singkat ini.

"Bagaimana jika menambah satu kemungkinan lagi?" Gumaman Sullivan tersamarkan angin kencang yang masuk dari pintu utama yang dibuka lebar oleh Dazai. "Bagaimana jika kau lebih dulu mati, Tuan Detektif?" Dazai menoleh kemudian, mendapati si penyihir yang mengarahkan sebuah revolver lain dari balik lengan gaunnya yang menjuntai. Satu kata terucap untuknya sebelum tarikan pada pelatuk membuat peluru di dalam sana keluar dengan suara letusan memekik telinga.

"Tschüss, Herr." -Selamat tinggal, Tuan-.

=== END? ===

(Ini masih bacotan yang sama dengan yang kemarin LOL)

Hallo. Terimakasih masih setia membaca fanfiksi ini. Aku merasa sangat bersalah karena selalu menunda posting tapi sungguh aku punya alasan untuk itu gaes :'v

Dan karena ternyata panjang banget untuk endingnya jadi ini jatohnya 4 chapter. Maaf atas perhitunganku yang salah

Maaf juga karena cerita yg makin aneh atau kekurangan lainnya. Akan banyak yg kecewa mungkin dengan adegan panasnya, well, saya masih belajar. Hehe

Kemudian terimakasih untuk dua kawan author yang hobi ngomporin aku dengan berbagai macam hasup dan desahan. Gausah kusebut, kalian kan gamau ku cyduck. Sadar diri aja :'v XD

terimakasih juga untuk Schwarzer Hyparete-san yang bersedia membagi ilmunya padaku. Lihat lihat~~ aku sudah memperbaiki penggunaan tanda bacanyaヾ(*´∀`*)ノmungkin masih banyak kekurangan, aku akan berusaha lagi hehe

Terimakasih untuk readers bernama hitam, aku bingung membalas review karena tidak bisa langsung kirim pesan haha. Gomenasai TwT

.

(Ini bacotan yang baru XD)

Author brengsek mana yang telat update kemudian hanya reupload story? Tentu saja saya! /Tolong jangan kirim saya ke rumah sakit karena kekurangajaran ini/

Kenapa aku reupload? Sebab bagian akhir dari cerita ini kubuat sedikit lebih drama lagi. Mungkin konflik dan kebadassan Sullivan kurang jadi kutambahkan. Selain itu aku mencari kecocokan yang pas untuk chapter terakhir dan jadilah cerita yang kuubah ini.

Soal ena-ena dan awalan masih sama kok. Cuma akhir dan beberapa bagian kecil saja yang kuubah.

Udahlah wkwk.

Sudah, sekian. Chapter selanjutnya benar-benar akhir kok (kupost beberapa hari setelah reupload ini)

Sampai jumpa lagi

/N-D-31072017/~~/N-D-23092017/