CONFUSED

Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto

Warning : AU,OOC,TYPO,DLL….

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Drama, dll

.

.

Enjoy story

.

.

.

'sret….sret…...sret….'

Suara sapu yang menggema di ruangan menunjukkan seorang gadis Hyuuga yang sedang beres-beres di ruang apartmennya. Sabtu yang indah menurut Hinata karena hari itu ditetapkan sebagai hari libur kerja di toko bunga"Bintang". Hinata merapikan buku-buku sebagai referensinya untuk menulis dan membaca di waktu senggang. Dia menuju rak buku berwarna putih di sudut ruangan. Dia sengaja membuat tempat yang luas khusus rak buku. Karena sebagai mahasiswa lulusan jurusan biologi dan bekerja dengan menggeluti jurusannya, tentu Ia tidak ingin mempermalukan almamaternya sendiri. Disana terdapat dua meja kecil untuk duduk.

Setelah merapikan rak buku dan membereskan seluruh ruangan, Ia segera beranjak ke dapur untuk membuat omelet untuk sarapan paginya. Tak lupa Ia membuat teh sebagai menu tambahan. Tiba-tiba ponsel biru Hinata bergetar.

Drrttt…..drrrtt…drrrttt. Nampak nomor baru dalam layar ponselnya.

"Moshi-moshi, dengan Hinata Hyuuga. Ada yang bisa saya bantu?"

'Oh, hy. Maaf mengganggu, Aku Naruto Namikaze teman Ino kemarin. Masih ingat Hyuuga?'

"Y-ya. Ada yang bisa saya bantu Namikaze-san?" Hinata bingung tiba-tiba sang Namikaze menghubunginya.

'Bisa kita bertemu hari ini Hyuuga?'

Tanpa basa-basi sedikit pun, Putra Namikaze mengajak Hinata untuk bertemu? Hinata bingung untuk menjawab apa. Dia belum mengenal Namikaze secara dekat. Hanya sebatas teman dari temannya. Bukan berarti bisa teman dalam sekali tatap muka kan? Apa memang telah terjadi suatu hal yang tidak beres?

Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Hinata, hingga akhirnya,

' Halo…Hyuuga? Kau masih disana? Halo….' Sahut seorang pria dari seberang.

Akhirnya tersadar, Hinata menyahut,

"Oh ya. Bi-bisa Namikaze-san." Dengan suaranya yang tampak ragu.

'Tenang saja, kau tidak akan mati setelah kita bertemu. Hahaha..' Terdengar tawa bercanda setengah mengejek dari seberang. Sepertinya Naruto mengerti dengan keraguan Hyuuga. Sedikit kesal, Hinata ingin segera menyudahi percakapan.

"Baiklah Namikaze-san, kita bertemu dimana nanti?" lanjut Hinata masih setengah ragu.

'Sekaligus buat dinner aja ya Aku akan menjemputmu pukul 19.00. nanti kita menentukan tempatnya dimana. Okay Hyuuga?' kata Naruto pada akhirnya.

"Ba-baiklah, Namikaze-san. Selamat pagi."

'Sampai ketemu nanti Hyuuga.'

Tuutt….tuutt….tuutt…

Sambungan terputus.

Hinata sedikit lega dengan sambungan ponsel yang terputus. Itu berarti Dia tidak perlu bingung akan menjawab apa lagi. Tapi rasa lega nya segera sirna mengingat akan bertemu dengan orang yang baru dikenalnya dan itu adalah seorang Pria. Perlu diketahui, Hinata belum mempunyai pengalaman dengan pria. Semenjak Hinata SMP, Dia selalu berteman dengan perempuan saja, berbicara dengan laki-laki hanya pada waktu kerja kelompok atau tugas semata. Karena Hinata tipe orang yang tidak mudah bergaul. waktu kelas 2 SMA, Dia beda kelas dengan teman-temannya yang duduk di kelas 1 SMA, Ingin memulai sesuatu yang berbeda,. Hinata mencoba untuk memulai berteman dengan laki-laki. Awalnya semua berjalan lancar, Hinata baru menyadari bahwa berteman dengan laki-laki tak seburuk yang Dia pikirkan selama ini. Kebetulan Hinata mempunyai hobi yang sama dengan laki-laki itu. Akan tetapi, setelah berjalan 2 bulan, yang Dia dapatkan hanyalah ejekan dari laki-laki itu. Mengejek Hinata seolah-olah apa yang Dia perbuat semuanya salah. Bahkan satu kelas tidak ada yang peduli dengannya. Berteman dengannya hanya pada waktu ada kepentingan saja. Huft, akan bertemu dengan pria membuat nya harus mengingat masa lalu yang tidak ingin Dia ingat.

.

.

.

.

Ino baru saja keluar dari kamar mandi. Tampak rambut pirangnya yang dibungkus dengan handuk berwarna putih. Kamar yang minimalis dengan dekorasi pink menambah kesan girly nya. Ino segera berganti pakaian santai dengan tanktop berwarna putih dan hot pants berwarna kebiru-biruan. Sepertinya Dia tidak akan kemana-mana hari ini. Hanya berdiam diri di dalam apartmennya saja. Dia segera memesan spaghetti untuk sarapan paginya. Ino kurang tahu memasak sehingga Dia lebih memilih untuk memesan dari luar saja. Ia duduk di sofa sambil mengotak-atik acara televisi. Tak ada acara yang menarik.

Membayangkan hari sabtunya akan menjadi sabtu yang membosankan, membuat Dia tergoda untuk PC Hinata,

-Hinata, temani aku belanja donk. Atau pergi ke suatu tempat yang menyenangkan. Masa di apartmen saja. Bosan~~

Sent –

Tak lama kemudian Hinata membalas,

- Maaf Ino, sepertinya Aku akan berkunjung sebentar ke Sunagakure. Ada hal yang harus aku lakukan. Gomen ne, :3

Sent –

Ino cemberut dengan balasan Hinata, jika diajak ke suatu tempat memang Hinata sering menolak. Kadang Dia bingung dengan sikap Hinata. Tapi ya sudahlah, Dia unik seperti itu. Tanpa pikir panjang Ino segera beranjak dari sofa. Mengganti bajunya dengan kaos oblong warna biru dan jeans ¾ . Dia memutuskan untuk pergi ke acara pacuan kuda dekat apartmennya. Kira-kira 20 menit dari tempatnya. Mobil Retro red VW Beetle segera melaju ke arah tempat pacuan kuda diselenggarakan.

-Hinata POV-

Hari sabtu pertama, dimana Aku akan bertemu dengan orang asing. Ya, Aku menyebutnya orang asing karena hanya sebatas teman dari teman ku. Tapi, ada rasa senang dalam benakku. Karena Aku baru kali ini diajak seorang Pria untuk makan malam. Walaupun aku yakin bahwa hal ini ada hubungannya dengan Ino. Ya, Aku yakin Dia pasti akan memintaku untuk apalah yang berhubungan dengan Ino. Tapi, tidak masalah. Karena Ino adalah temanku.

Ddrrrtt…ddrrtt…

Ponselku bergetar lagi. Ternyata ada Message dari Ino.

Hinata, temani aku belanja donk. Atau pergi ke suatu tempat yang menyenangkan. Masa di apartmen saja. Bosan~~

Dia mengajakku untuk pergi ke suatu tempat. Tapi, kalau Aku memenuhinya, Aku sudah berjanji duluan dengan Namikaze. Aku tidak ingin menolak Ino kali ini walaupun sudah sering ku tolak ajakannya. Tapi…. Aku juga ingin tahu apa yang akan Namikaze katakana tentang Ino. Atau Aku mengajak Ino saja? Apa yang harus Aku lakukan? Okay , fix. maaf ino. Aku harus berbohong kali ini, demi kamu juga sih, hehee.

Maaf Ino, sepertinya Aku akan berkunjung sebentar ke Sunagakure. Ada hal yang harus aku lakukan disana. Gomen ne, :3

Maaf lagi Ino. Jujur, Aku merasa bersalah pada Ino. Kenapa Aku harus mengutamakan orang asing daripada teman ku sendiri. Tapi, ya sudahlah. Ini untukmu juga Ino.

Aku bingung akan memakai baju apa untuk malam ini. Yah, seperti yang kukatakan ini pertama kalinya. Akan lebih baik apabila aku meminta saran dari Ino terlebih dahulu. Tapi jika Aku menghubunginya untuk ini akan lebih memperburuk suasana. Lagian… huft, sudahlah. Ini hanya pertemuan biasa. Kenapa Aku harus peduli dengan penampilan ku? Biasanya Aku tidak seperti ini.

Aku masih bingung memakai gaun atau celana jeans saja. Mataku tertuju pada gaun warna biru dongker di lemari pakaianku. Kuputuskan untuk memakai gaun. Satu-satunya gaun yang aku miliki. Silahkan katakan Aku kampungan. Karena memang selama ini Aku merasa tidak membutuhkannya. Rok yang aku miliki hanya 2. Dan itu Aku pakai dalam acara formal dari sekolah atau universitas saja. Karena Aku jarang diundang pada acara ulang tahun atau sejenisnya pada masa itu. Dan juga, dalam berpakaian Aku memilih yang simple. Sampai kadang-kadang Ino sering mengomeli gaya pakaianku jika kami hang out bareng. Dia bilang Aku jadi seperti pembantunya. Yah, Aku hanya mendengarnya saja. Karena sudah terbiasa dengan sikap terbuka yang Dia miliki. Pada saat pergi belanja, kadang Dia merekomendasikan pakaian yang memang terlihat keren dan Aku menginginkannya. Tapi mengingat Aku harus berhemat, Aku menolak.

Ddrrttt…dddrrrttt..

Ponselku bergetar.

Hyuuga, Aku sudah di depan.

-Naruto –

Astaga! Aku belum melakukan apa-apa terhadap diriku. Dengan terburu-buru, Aku segera memakai gaun berwarna biru dongker selutut milikku. Aku menggerai rambutku, menyelipkan beberapa helai rambut di telingaku dan memolesi wajahku dengan pelembab saja. Dan bibirku dengan lip balm. Aku berkaca. Sungguh luar biasa. Seperti biasa, Aku terlihat kampungan sekali. Ugh! Kuharap Dia tidak menyesal mengajakku nanti. Wait! Kenapa Aku harus berharap? Tapi, entahlah. Memang ada sedikit harapan di lubuk hatiku. Silahkan tertawa. Karena memang inilah Aku. Hanya gadis biasa.

Dengan segera, Aku segera beranjak. Tidak lupa Aku mengunci pintu apartmenku. Aku segera turun dan melihat sudah ada mobil disana. Apa itu memang mobilnya? Aku bertanya. Segera Aku menghubunginya.

-Normal POV-

'moshi-moshi' jawab orang di seberang sana.

"Namikaze-san, Aku sudah di depan." Sahut Hinata

'oh ya, Aku akan keluar Hyuuga.'

Panggilan segera diputus sebelah pihak.

Naruto segera keluar dari mobilnya. Dia memakai pakaian santai. Kaos oblong berwarna putih dan celana pendek selutut. Tapi hal itu tidak mengurangi ketampanannya. Hanya saja Hinata sedikit merasa malu dengan dirinya yang berpakaian formal. Seolah-olah Hinata terlihat sangat antusias untuk bertemu dengan Naruto, sedangkan Naruto tidak.

"Hyuuga, tunggu apalagi ayo." Kata Naruto.

"a-ah, ya." Jawab Hinata.

Hinata segera memasuki mobil Naruto bagian belakang. Terdengar Naruto mendengus.

"Hyuuga di depan aja," anjur Naruto.

"I-iya, maaf Namikaze-san.

Hinata membuka pintu mobil belakang untuk segera pindah ke bagian depan. Hinata merasa sangat bodoh sekarang. Setelah memasuki bagian depan, dia duduk menyandar. Tidak lupa untuk menggunakan settle bet.

" Kemana kita akan pergi Hyuuga?" tanya Naruto.

"Aku mengikut aja Namikaze-san." Sahut Hinata.

"….."

Naruto segera melajukan mobilnya meninggalkan apartmen Hinata.

.

.

.

.

.

.

-Review corner-

ana : ini udah dilanjut, baca lagi ya gengss.. XD

guest : ^^V

xxx : maksudnya disini tuh memang "confused" yang artinya bingung. Hehhe. Tapi waktu pertama kali aku buat ceritanya, aku sok-sok an terburu-buru gitu mau . udah aku gantiin kog. makasih buat sarannya xxx. Sangat membantu. ^^V

Halohaa~

Kembali lagi dengan saya PASIR PUTIH! *kriiikkriikk - -'

XD

Makasih banyak gengs uda mau relain waktu luang kamu buat baca cerita

Review ya gengs~

XD

See you next chapter :*