CONFUSED

DISCLAIMER : Masashi Kishimoto

WARNING : AU,OOC,TYPO,DLL

GENRE : Romance, Hurt/Comfort, Drama, dll

.

.

Enjoy the story

.

.

.

-Flashback on-

Pertengahan september, di ruang makan…

Di ruang makan tampak seorang wanita paruh baya menikmati makanannya. Terlihat seorang anak kecil menghampirinya.

"Nek, kalau sudah besar apa aku akan menjadi cantik seperti snow white?" ucap seorang perempuan kecil dengan boneka Barbie di tangannya. Nenek yang disahut hanya tersenyum sambil mengelus kepala perempuan manis itu.

"Iya sayang. Bahkan lebih cantik dan istimewa dari Snow white." Jawaban singkat yang membuat perempuan kecil 7 tahun itu tersenyum girang. Nampak dari sudut matanya yang menyipit.

"Bahkan dari boneka Barbie ini nek?" masih dengan senyum yang sama

Nenek yang disahut hanya tersenyum.

"Suatu saat akan ada orang yang menganggapmu lebih dari apapun sayang. Mungkin sekarang kau tidak akan mengerti. Pergi bergegas dan temui Ibumu. Dia memanggilmu dari tadi Hime ."

"yeey! Iya nek, aku pergi dulu" masih dengan senyum yang lebar. Gadis kecil itu menunduk memberi hormat dan berlari menuju Ibunya. Ternyata bus sekolah telah menunggu dari tadi.

Ibunya segera menghampiri gadis kecil itu, memasukkan bekal ke tas kecilnya. Gadis kecil itu memberi salam kepada ibunya, menciumnya dan segera berlari menaiki bus.

"Hinata, kalau ingin ke kamar mandi ingat minta ditemani orang dewasa ya!" teriak ibunya sembari melihat gadis kecil itu menaiki bus. Hinata menoleh kebelakang dengan cengirannya.

"Siap Kaa-san ."

Bus melenggang pergi memecah jalan raya.

-flashback off-

.

.

.

Hinata melamun memikirkan masa kecilnya. Diajak seperti ini rasanya sudah ada benih menjadi snow white. Ugh, sudahlah. Apa yang Dia pikirkan? Hinata segera memfokuskan diri pada pemandangan di luar.

Di sebuah mobil dalam perjalanan yang belum jelas tujuannya, hanya lagu aliran country yang memecah kesunyian di antara dua insan yang menduduki mobil mewah itu.

"Lagunya bagus ya " sahut Naruto sambil menyetir. Tetapi tatapannya tidak beralih dari jalanan. Kenapa tidak, Selama tiga puluh menit perjalanan tidak ada yang memulai percakapan. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Naruto paling tidak suka dengan kesunyian yang berkepanjangan. Sehingga Dia harus membuat inisiatif sendiri memulai percakapan. Memang Dia juga tidak terlalu suka berbasa-basi dengan orang baru. Tapi, ya harus bagaimana. Dia yang mengajak perempuan itu untuk sesuatu hal.

"Iya." Sahut Hinata

'Gila, gadis ini pendiam sekali. Bagaimana mau minta informasi kalau begini' pikir Naruto.

"Na-namikaze san, se-sebenarnya apa yang membawa anda untuk mengajak saya?" tanya Hinata terbata dengan kalimatnya. Seolah mengerti apa yang Namikaze pikirkan. Padahal Dia sudah memantapkan hati untuk tidak gugup seperti ini. Di saat-saat situasi inilah Dia membenci dirinya.

"Aku juga tidak tahu Hyuuga. hanya ingin mengajak kamu saja." Kata Naruto dengan wajah datar tanpa menoleh Hinata. Hinata tersinggung dalam situasi yang seperti ini. Dia jadi menyesal menyetujui ajakan sang Namikaze. Hinata mengalihkan perhatiannya ke pemandangan diluar. Tampak rumput yang luas membentang disana. Sedikit memberi kesegaran pada kerumitan pikiran Hinata.

"….." selama empat puluh lima menit perjalanan, akhirnya mobil mewah itu berhenti di sebuah Cafée, tempatnya memang agak ke bukit, tetapi hal tersebut tidak membuatnya sepi. Private room disediakan disana. Oh, ada tempat karaokean juga di sebelah sudut taman disana. Benar-benar tempat yang bagus menurut Hinata. Entahlah, mungkin karena Dia jarang keluar dan berkunjung ke tempat-tempat yang seperti ini.

Ckelek..

Terdengar mobil dibuka membuyar lamunan Hinata.

"ahh, i-iya. Aku segera keluar. Ma-maaf." Sahut Hinata. Dia memperbaiki gaunnya dan segera keluar. 'Memalukan' pikir Hinata.

Naruto menuntun Hinata ke ruangan yang agak terbuka pemandangannya. Jika dilihat sekilas, seperti ruangan yang terdiri dari motif-motif yang sengaja dibuat. Ternyata, setelah masuk ke dalam, pemandangan ala bukit secara nyata terpampang disana. Rumput yang luas serta semak-semak sebagai penghias. Angin alami menggelitik kulit Hinata. Mengingatkannya pada kampong halamnnya Sunagakure. Kecanggungan Hinata membuyar seketika.

"Mau pesan apa Hyuuga?" tanya Naruto. sebenarnya Hinata bingung mau pesan apa. akhirnya,

"errr… samakan aja Namikaze san"

"Kau yakin?" tanya Hinata

"err, coba minta menunya" jawab Hinata ragu. Naruto memberi menu kepada Hinata. Hinata kaget dengan harga yang terpampang. 'mahal' pikir Hinata. Akhirnya Hinata memesan dengan menu yang paling murah disana –walaupun Hinata pikir itu sudah cukup mahal-

Setelah keduanya memesan pesanan masing-masing, Naruto memanggil pelayan yang bekerja di sana. Memberi pesanan dan memulai sedikit percakapan.

"Hyuuga… ku harap kau mengerti untuk apa ku ajak ke sini." Sahut Naruto tiba-tiba.

"Iya Namikaze san. Aku lumayan mengerti." Jawab Hinata rileks. Kalau tidak bersangkutan dengan dirinya sendiri, memang Hinata tidak akan gugup.

"Ino, aku butuh Dia. Aku…. Entahlah. Yang pasti Aku ingin kau membaut kami menjadi dekat" lebih terdengar sebagai perintah.

"Maaf Namikaze san, Aku memang teman Ino. Tapi menurutku ini menyangkut kehidupan pribadinya. Aku tidak bisa berbuat banyak." Balas Hinata dengan raut wajah menyesal.

"Hyuuga…"

"Namikaze-san sudah lama berteman dengan dia kan. Se-seharusnya Namikaze san mengerti."

"….." Naruto diam tak membalas. Lagi. Dengan wajah datar, Dia memandang pemandangan di luar.

" errr…" Hinata menatap Naruto dengan pandangan prihatin. Dia memang tidak mengenal pria itu tetapi raut wajahnya menggambarkan keinginan untuk memiliki yang besar.

'andaikan aku adalah gadis seberuntung Ino' tiba-tiba terbersit dalam benak Hinata.

"errr.. baiklah. Apa yang perlu aku bantu Namikaze-san?"

Naruto menoleh Hinata, 'seperti dugaanku, bagus' pikir Naruto

Naruto segera menegapkan badannya dan bicara serius ke Hinata. Pesanan yang mereka pesan sampai ke meja Mereka. Setelah pelayan menyamperi meja mereka dengan pesanan mereka , Dia bicara,

" Baiklah Hyuuga, sebelumnya aku berterima kasih atas kerja samanya. Jadi begini, sebelumnya Aku dengar Kau hanya karyawan biasa di sebuah toko bunga kan. Jadi, kalau kau berhasil mendekatkan Ino kepadaku. Aku akan memberimu pekerjaan. Bagaimana?" kata Naruto langsung to the point

'apa Ino seberharga itu' pikir Hinata. Jujur, kadang Hinata iri dengan keberadaan Ino.

Hinata berpikir ulang dengan pekerjaannya, memang hanya di sebuah toko bunga. Memang toko bunga yang dikunjungi orang yang perekonomian menengah ke atas. Akan tetapi, satu tahun bekerja di sana dengan keterlambatan minimal sekali seminggu dengan gaji dipotong tentu tak membawa untung baginya. Walaupun punya rencana ke depan, tapi kalau gajinya cukup makan setiap hari, untuk apa? tidak salah mencoba ini. Pikir Ino

"Kau tau Uchiha Corp? Aku akan membantu memasukkanmu ke dalam. Dan tentunya jika kau berhasil Hyuuga. " sambung Naruto.

"Dan, bagaimana kalau tidak berhasil?" menunjukkan ketertarikan.

Naruto mengangkat bahu dan,

"Mungkin aku akan tetap memberimu penghargaan dengan usahaMu. Akan ku pikirkan lebih lanjut. Dan ketahuilah, hanya sampah yang berbohong." Tegas Naruto.

'maaf Ino, sepertinya Aku akan bertingkah egois kali ini'

"Baiklah, Aku akan mencoba Namikaze –san" ungkap Hinata.

"Bagus, Hyuuga. Tenang saja. Aku tidak akan mengecewakan orang yang aku sukai. Tentu Kau hanya membantuku." Sambung Naruto.

"Aku mengerti Namikaze –san " sahut Hinata.

'semoga Aku tidak salah jalan. Kami sama, temani Aku. Semoga semua baik-baik saja.'

.

.

.

-TBC-

Terima kasih sudah membaca