Ada saatnya kau harus memilih dengan apa kau bisa hidup dan bertahan. Memang kau mengenal mereka yang kau sebut sebagai teman, pacar, sahabat atau orang asing bahkan keluarga. Tapi, sadarkah? Mereka hanya penghias hidupmu. Pada akhirnya, kaulah yang akan berperan penuh dalam situasi yang sedang kau mainkan.

CONFUSED

DISCLAIMER : Masashi Kishimoto

WARNING : AU,OOC,TYPO,alur berantakan,Dark Joke

GENRE : Romance,Hurt/Comfort, Drama

.

.

.

.

-Enjoy this story –

.

.

.

.

Daun bersimpuh embun tampak segar di halaman yang penuh dengan tanaman. Terlihat semakin menimbun berat di pucuk sehingga tampak jatuh ke permukaan tanah. Di dalam kamar yang sederhana, tampak seorang gadis masih enggan membuka mata. Rambut yang berantakan, gaun kusut yang menyingkap, mengekspose bagian paha yang putih mulus tanpa bulu. Bagian bahu terlihat jelas dengan tali bra menggantung disana. Dan sepertinya gaun itu tidak diganti tadi malam. Oh Tuhan, apa yang telah dilakukan gadis ini?

Hinata, gadis tersebut di atas, baru saja tersadar dari tempat tidurnya dengan mata yang masih tertutup sambil meraba tempat tidur. Sepertinya Dia sedang mencari sesuatu. Tapi apa?

Matanya terbuka sayu melihat sekitar sekaligus menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Mengerjap...mengerjap... hingga sepenuhnya terbuka lebar. Sambil bergumam, "Aku dimana?"

Dia bangkit duduk di tempat tidur dengan melihat sekitar. Smartphone. Nihil. Tiba-tiba teringat sesuatu yang terjadi tadi malam dan tersadar dengan penampilannya yang terkesan..sexy? Memutar otak mengingat kejadian yang mengantarnya dalam kamar kecil minimalis yang sepertinya di Villa.

"Oh Tuhan. Apa yang aku lakukan?" Desisnya, sambil memijit keningnya. Wajah panik segera terpampang dalam air mukanya. Segera, dia memperbaiki gaun kusutnya, mengikat rambut asal dengan jedai miliknya. Meraih gagang pintu keluar. Belum sempat membukanya, suara yang terdengar familiar terdengar. Cerita dan canda tawa. Pria dan wanita. Sepertinya lebih dari dua orang. Akh, lebih tepatnya 3 orang. Tapi, siapa mereka? Pertanyaan berkecamuk dalam benak Hinata. Dilema antara keluar atau tetap di kamar. Melepas tangan dari gagang pintu, beranjak ke meja rias. 'untung meja riasnya ada kaca' pikir Hinata. Kembali Dia merapikan rambutnya kuncir satu dengan tangan yang sepertinya sudah ahli perihal menyisir. Menyisakan poni depan. Terlihat manis. Setelah selesai, tampak sedikit rapi dari yang tadi. Dia menumpu kedua tangan di meja rias, menunduk. Hei, apa yang dipikirkan gadis itu?

Ceklek..

Terdengar suara pintu terbuka. Hinata melihat ke pintu, mendapati sang Namikaze memandangnya. Mata mereka saling bertabrakan dalam diam. Hinata segera memalingkan wajah. Dia takut jatuh terlalu dalam. Melihat dirinya di kaca sembari menunduk kembali.

"Maafkan aku Namikaze-san, Aku menyerah." Ungkap Hinata setengah berbisik.

"..." Naruto terdiam.

Tanpa disadari, terdengar sedikit isakan. Hinata menangis. Naruto berjalan mendekati Hinata, menangkap wajahnya dengan satu tangan. Hinata mendongak.

"Bahkan baru dimulai Hyuuga" ujarnya dengan tatapan intens merasuk dalam retina Hinata. Sepertinya waktu berhenti sebentar. Tiba...tiba...

Terkikik, Ino datang ke dalam kamar sambil merekam mereka dalam diam.

"wew~ and they lived ever after" ujar Ino tiba-tiba di depan pintu kamar yang terbuka, masih dengan smartphone di genggamannya dengan posisi ke arah Hinata dan Naruto.

Keduanya segera beralih atensi ke Ino. Dengan Naruto segera melepaskan tangannya. Hinata berterik dengan suara lembutnya, "I-Ino! Hentikan! Jangan kekanak-kanakan." Berlari kecil mengejar Ino yang segera bersembunyi di belakang pria berambut merah di ruang tamu.

"Ayo, Hinata. Tangkap Aku. Lumayan nanti bisa dipeluk sama Sasori. Hahaha" kata Ino ,"eits, tapi nanti jangan pingsan lagi lho~" sambungnya sambil bercanda. Hinata hanya tersenyum canggung dan memilih diam di tempat. Dia merasa dipermainkan oleh Ino. Seseorang yang Dia panggil teman. Sedangkan pria yang katanya bernama Sasori hanya diam tanpa menunjukkan ketertarikan memandang dengan salah satu alis terangkat dan segera beranjak duduk di sofa.

"Hahha, Hinata. Kau sangat lucu." Masih dengan tawa seorang Ino. Ino segera duduk di sofa, di samping Sasori. Mengambil potongan Pizza di meja kemudian memakannya. Hinata masih diam di tempat segera beranjak ke kamar Villa. Benar. Villa. Ternyata mereka berada di Villa, satu paket dengan restaurant tempat Naruto dan Hinata berunding. Hinata beranjak kembali ke kamar. Ia menemukan smartphone di tas kecil miliknya di meja rias. Setelah memeriksa semua barang tidak ada lagi yang tertinggal, Dia segera bergegas keluar Villa. Melewati pintu kamar, tanpa sadar tangan besar terasa menarik pergelangan tangan Hinata.

"Mau kemana?" tanya Naruto

"Pulang" ujar Hinata datar, tampak suaranya sedikit bergetar.

"Biar kuantar" sahut Naruto masih memegang pergelangan Hinata.

"Tidak, Aku bisa pulang sendiri Namikaze-san."

"Villa ini berada di puncak Hyuuga, orang yang berkunjung adalah mereka yang mempunyai kendaraan sendiri. Percuma memesan secara online. Hasilnya akan nihil." Terang Naruto panjang lebar.

"..." Hinata hanya diam tak bersuara. Sehingga akhirnya dengan gengsi ala perempuan, Hinata menghembus nafas keras seraya berkata,

" Antar Aku Namikaze-san"

Naruto tersenyum simpul.

Ino melihat Hinata berjalan melewati ruang tamu dengan pandangan yang sulit diartikan. Hinata menoleh seraya tersenyum canggung. Serasa baru kepergok aja. Tunggu, memang benar kepergok kan?

"Ino, Aku duluan ya." Sahut Hinata kemudian, diikuti Naruto.

Ino hanya mendengus kesal, memalingkan wajah. Tanpa menjawab. Naruto segera menghampiri Ino dan mengecup pipinya. Ino berontak dengan melempar bantal sofa ke arah Naruto. Sayangnya Naruto berhasil menangkis. Hinata yang kena. Tepat di dada, jatuh ke lantai.

"Naruto mesum!"

Hinata hanya diam, segera berlalu.

"Hinata!" Teriak Ino, Hinata segera berbalik.

"Kau berhutang cerita denganku" kata Ino pada akhirnya diikuti kerlingan kelopak matanya.

Hinata mendesah pelan, lalu segera berlalu menuju parkiran tempat Naruto.

Flashback on...

'semoga Aku tidak salah jalan. Kami-sama, temani Aku. Semoga semua baik-baik saja.'

"Hinata~" suara melengking Ino terdengar jelas. Tunggu, dia tidak salah dengar kan?

"wow~ ada Naruto juga!" Sahut Ino dengan wajah sumringah.

"Wahh,kamu hebat Hinata. Bisa meluluhkan pria dengan pandangan pertama." Teriak Ino dengan suara melengking.

Hinata pucat pasi di tempat duduknya. Tangannya keringat. Sambil berdiri dengan kaki gemetar, enggan menoleh Ino. Bermaksud menjelaskan sesuatu. Naruto memandang ngeri Hinata seperti itu.

"I-in..o.."

'Bruukk!' Hinata jatuh pingsan.

Naruto terdiam sesaat begitu juga Ino. Teman di samping Ino hanya bungkam. Kemudian, meminta pelayan untuk membawa Hinata ke Villa yang segera dipesan dekat restaurant untuk di booking selama satu malam. Sebenarnya Ino menawarkan untuk mengantar Hinata pulang ke apartmentnya lansung, biar Ino yang berjaga sampai Hinata sadar. Tapi Naruto menolak dengan alasan sudah larut malam. Dengan perundingan yang cukup panjang lebar, akhirnya Ino menyerah. Dan mereka berempat berakhir di Villa yang termasuk minimalis.

Flashback off...

Sesampai di daerah parkir, Naruto membukakan pintu mobil untuk Hinata. Lalu, Hinata dengan terpaksa masuk dengan tingkahnya canggungnya. Diperlakukan seperti ini suatu hal yang baru untuknya. 'Tapi, bagi Ino pasti sudah biasa kan?' sambungnya dalam hati. Wajah putihnya kembali muram.

Sejak kapan Dia menjadi seperti ini. mengukur semua hal dengan mengaitkan Ino. Yang pasti, Hinata merasa hina saat itu juga.

.

.

.

.

Hiruk pikuk suasana stasiun meramaikan pagi yang cerah. Hinata sengaja berangkat pagi untuk menghindari Ino. Padahal itu sudah tiga minggu yang lalu. Selama itu jugalah Hinata berusaha menghindari Ino, dan Naruto. Tapi, ada satu hal yang mengganjal Hinata. Pikirannya melayang akan janjinya dengan Naruto.

"Huft..." desahnya seperti memantapkan diri.

TBC

Happy Reading, just for fun