Annyeong~
Yo are back..
Apa kabarkah? Yo harap kalian baik baik saja ne.. Tetap semangat apapun mslah yg kalian hadapi..
Selamat datang bagi reader Baru.. Terima Kasih banyak sudah mau baca karya saya dan Terima kasih juga sudah mau review follow dan favorite.
Saya mau menjawab beberapa pertanyaan dari reader..
Q: Yo line brpa?
A:: Aku 92.. XD Wkwkwkwkkkk
Q:: Chanyeol itu mantan Baekhyun-kah?.
A:: Hmm... Gimana ya?. Kasih tahu jawabannya ga ya?. XD Baiklah bocorannya ada di chapter ini..
Q:: Ijin berteman di Sosmed ya?.
A:: Huaaaaaaa boleh bgt sangat boleh malah.. saya senang dapat teman baru.. Beneran..
Q:: Eon Fandomnya EXO-L kah?.
A:: Iya.. tapi fandom saya ga hanya itu aja.. B2UTY. aff(x)tion. Star1(Sistar). Sone(SNSD). Baby(B.A.P). Pink Panda (A Pink) dan msh bnyk lainnya tpi yg utama itu..
Ohh ya bagi reader baru yang baca mohon untuk baca dari chapter 1-5 ga harus review di chapter sebelumnya gpp.. langsung review di chapter ini jg gpp.. Agar kalian lebih mengerti kalau baca di chapter barunya.. :D
Apakah cerita saya membosankan? Karena Reader saya sepertinya menghilang.. XD
Ataukah reader yg sibuk?. hihihiiiii... :D
Okelah kalau begitu.. Langsung saja..
Chapter 6..
.
.
.
.
Aaaaaaaaaa~~~..
Teriakkan itu menggema di seluruh Cafe.
"Eonnieeeeeee~~~~~" Minseok, Luhan, Baekhyun, dan Tao langsung berlari dan memeluk dua orang yeoja yang baru saja datang.
.
.
.
.
Dan disinilah mereka duduk bersama untuk yang pertama kalinya kembali setelah dua tahun.
Yuri dan Hyoyeon adalah salah satu 'mantan anggota'. Semuanya tampak bergembira. Dan Kyungsoo dengan sangat cepat bisa menyesuaikan diri dengan baik.
Kecuali dua orang.
Tao. Dan Kris.
Mereka duduk bersebrangan dengan wajah yang di tekuk. Lebih tepatnya Tao yang memasang wajah cemberutnya. Saling bertatapan tajam satu sama lain.
"Tao-ya" panggil Yuri.
Tao menoleh kepada Yuri yang duduk di sebelah namja yang sangat - sangat ia hindari.
"Kau kenapa?" tanya Yuri. Dan Yuri melihat Tao dan Kris bergantian.
"Yuri Jie. Kau kenal dengan dia?" Tao bukannya menjawab. Ia bertanya dengan menatap tajam Kris dan menunjuk Kris dengan dagunya.
Yuri melirik sekilas pada Kris.
"Ya. Dia adalah salah satu bawahanku". Yuri menjawab acuh tak acuh dan meminum Lemon Tea miliknya.
Tao hanya mendengus kasar. Yuri yang sebenarnya sedari tadi mengamati Tao dan Kris hanya bisa tersenyum kecil.
.
.
.
.
.
Minseok melangkahkan kakinya menuju jurusan Designer. Sebenarnya ia sedang tidak ada jadwal kuliah dan lagi pula ia bukanlah mahasiswi jurusan Design. Hanya saja dengan tiba - tiba Baekhyun menghubunginya dan meminta bantuan padanya. Dengan cerobohnya Baekhyun meninggalkan tugas penting. Sebuah gambar Design rancangan busana musim dinginnya untuk presentasinya hari ini. Karena Ia akan pergi ke Cafe Yixing siang nanti maka Minseok memutuskan untuk pergi ke Universitas lebih dulu dan dengan senang hati ia akan membantu.
Ia telah sampai di depan sebuah Ruangan yang penuh dengan kaca dan lantai yang terbuat dari kayu. Minseok melihat ke dalam lewat jendela kaca yang ada di sana dan ia bisa melihat tubuh kecil Baekhyun sedang membantu beberapa junior-nya yang sedang belajar Cat walk bersama Baekhyun yang ia pilih untuk menjadi modelnya. Minseok beberapa saat memperhatikan kegiatan yang sedang berlangsung di ruangan tersebut.
Ia hanya memperhatikan Baekhyun. Dan terkadang ia akan tersenyum geli melihat Baekhyun menahan emosinya untuk tidak memarahi Junior-nya yang sulit untuk menyesuaikan diri dengan High Heels. Minseok dan yang lainnya mengakui bahwa Baekhyun adalah type wanita bermulut pedas, emosian, cerewet, dan tidak pernah 'menyaring' kata yang akan ia lontarkan jika ia marah. Namun itu semua adalah kejujuran hatinya. Dan satu yang mereka tahu tentang Baekhyun di balik semua sifatnya itu, ia adalah wanita yang setia, baik hati dan tidak mau menyakiti siapapun orang yang dianggapnya berarti.
Setelah 10 menit kegiatan tersebut selesai dan beberapa junior mereka sudah keluar ruangan.
Tangannya melambai kecil dikala Baekhyun melihatnya dan tersenyum padanya. Minseok melangkah masuk kedalam ruangan dan Baekhyun berjalan menghampirinya.
"Eonnie jeongmal gomawo" Baekhyun tersenyum manis sehingga matanya ikut tersenyum.
Minseok hanya tersenyum dan menyerahkan sebuah gulungan tebal kepada Baekhyun. Dan Baekhyun menerima gulungan tersebut dan tersenyum lagi.
"Kenapa tidak langsung memanggilku?" tanya Baekhyun dan ia secara tidak sadar mengkerucutkan bibirnya lucu.
"Kau sedang latihan jadi aku tidak mau mengganggu" Minseok kembali tersenyum.
"Maaf merepotkanmu Eonnie. Sekali lagi terima kasih" sesal Baekhyun. Sungguh Baekhyun merasa bersalah jika harus merepotkan orang lain karena kecerobohannya sendiri.
"Tidak apa - apa Nona Byun. Tebuslah rasa bersalahmu dengan kabar gembira nanti. Semangat" Minseok kembalu tersenyum dan mengepalkan sebelah tangannya dan menaikkannya ke atas.
Baekhyun tersenyum. "Tentu aku pasti akan memberi kabat gembira. Semangat" Baekhyun selalu merasa bersemangat jika ada orang yang memberinya sebuah semangat.
"Chaaa~ aku pergi Eonnie" dengan semangat ia melambaikkan tangannya. dan kembali menuju tempatnya tadi meletakkan barang - barangnya.
Tanpa menunggu lama Minseok langsung keluar ruangan latihan serbaguna. Ia melihat sebentar jam tangannya. Masih ada waktu satu jam sebelum ia bekerja.
Saat ia akan melangkah sudut mata Minseok melihat seorang namja yang berdiri tidak jauh darinya sedang melihat ke dalam ruangan Baekhyun berada melalui jendela kaca dan tersenyum. Namun senyum yang syarat akan kesedihan dan penyesalan. Minseok mengikuti arah mata san namja. Dan ia dapat memastikan bahwa di ruangan itu hanya ada Baekhyun.
.
.
.
.
Ini sudah jam 8 malam. Namun Minseok masih belum bersiap pulang. Karena ia adalah orang terakhir yang akan meninggalkan Cafe sebelum Yixing. Ia suka menunggu Yixing menyelesaikan tugasnya menghias Cake hingga selesai.
Ia masih sibuk memeriksa beberapa kantung biji Coffee yang baru saja datang tadi sore.
Namun ia mengalihkan pandangannya saat ia mendengar lonceng pintu berbunyi pertanda ada seseorang yang datang. Ia menegakkan badannya dan tersenyum. Ia melihat seorang namja tinggi, matanya bulat dan ia mempunyai bentuk telinga yang khas.
Dan sang namja tersenyum saat ia tepat berada di depan Minseok. Tangannya ia letakkan di atas meja pembatas antara dirinya dan Minseok.
"Maaf. Apakah aku masih bisa memesan secangkir Cappucinno?" suara berat namja itu bertanya dengan nada yang ramah dan penuh harap.
Minseok tersenyum. " Kebetulan aku belum akan pulang. Dan aku anggap kau adalah pelanggan special. Dingin atau panas?" jawab dan tanya Minseok.
"Aku pesan yang panas saja. Terima kasih banyak"sang namja kembali tersenyum dan ia melangkahkan kakinya menuju sebuah meja yang tidak jauh dari sana.
Setelah menunggu beberapa saat. Minseok membawakan dua cangkir Cappucinno panas di atas tray* yang di bawanya. Sang namja mentautkan alisnya.
"Boleh aku duduk disini? Minum bersama mungkin?" seakan mengerti dengan pikiran sang namja Minseok menawarkan dirinya untuk minum bersama.
Sang namja tersenyum dan menganggukkan kepalanya memberikan jawaban 'ya'. Minseok meletakkan satu cangkir di hadapan sang namja lalu ia mendudukkan dirinya di seberang sang namja.
Beberapa saat mereka di selimuti suasana hening dan hanya menyesap Cappucinno mereka masing - masing.
"Baekhyun" Minseok menyebut nama Baekhyun tiba - tiba.
Sang namja tersentak kaget. Mendengar nama Baekhyun. Dan ia menatap Yeoja yang berada di depannya bingung.
"Maaf?" tanya sang namja.
"Aku lihat kau selalu mengamati Baekhyun. Sudah hampir 3 minggu" jelas Minseok dan ia balas menatap sang namja.
Sang namja tersenyum sesaat dan kemudian menunduk. Senyum yang sama saat tadi siang di ruangan serbaguna siang penuh dengan kesedihan dan penyesalan.
"Kau mengetahuinya?" sang namja kembali bertanya dan kembali mengangkat kepalanya.
"Tentu. Saat Baekhyun bekerja disini. Di universitas. Saat ia pulang larut malam. Bahkan kau mengikutinya hingga apartement kami." jelas Minseok. Ia bisa melihat ekspresi terkejut dari sang namja. Seperti seorang pencuri yang ketahuan.
Sang namja menghela nafasnya lemah. Sekarang tidak ada lagi senyum. Hanya ada ekspresi penyesalan yang Minseok lihat.
"Kenapa kau melakukannya? Park Chanyeol?" Minseok menekan kata Park Chanyeol di akhir kalimatnya dan terdengar nada kesal yang sangat mendalam dari nada bicara Minseok.
"Ia sudah cerita padamu?" bukannya menjawab Sang namja -Chanyeol- kembali bertanya.
"Semuanya"Minseok menjawab lalu menyesap kembali Cappucinno-nya.
Chanyeol menghela nafasnya kembali dan menunduk dalam.
"Memang semuanya salahku." lirih Chanyeol.
.
.
.
.
Seorang yeoja bertubuh kecil menatap pantulan dirinya di sebuah cermin. Sesekali ia tersenyum menatap kembaran dirinya yang tampak begitu sempurna. Tubuhnya di balut dengan sebuah tank top pink, dan ia melapisinya dengan sebuah sweater berbahan rajut berwarna hitam yang bermodel kebesaran. Kaki kecilnya di balut oleh celana jeans pendek berwarna putih dan sebuah stocking berwarna putih transparan menutupi kakinya. Ia juga memakai sebuah flat shoes berwarna hitam pemberian seseorang. Rambut hitamnya di biarkan tergerai dengan indah, di atas kepalanya terdapat beberapa jepit rambut yang indah pemberian dari orang yang sama yang memberikannya flat shoes. Sang yeoja terlihat sangat sempurna. Dua kata yang menggambarkan dirinya. Cantik dan imut.
Umurnya 17 tahun dan ia baru saja menyelesaikan pendidikan tingkat high school-nya beberapa hari yang lalu. Sekarang ia harus tampil cantik dan mempesona. Hanya untuk seseorang. Seseorang yang sangat special baginya. Seseorang yang sudah menarik hatinya sejak pertama ia bertemu. Pertemuan singkat saat pertama kali ia memasuki high school-nya 3 tahun yang lalu.
Cinta dan kekasih pertamanya.
Sekali lagi ia mengamati kembaran dirinya di cermin. Ia memekik lucu ketika melihat bibir pink cherrynya yang tipis belum ia bubuhkan lip gloss cair beningnya. Dengan segera ia mencari Lip gloss beningnya di dalam tas kecilnya yang sedari tadi ia letakkan di atas meja riasnya. Tanpa waktu lama ia membubuhkan bibirnya dengan cairan kental bening. Dan menyatukkan bibir atas dan bawahnya dengan melakukan gerakan menggesek kecil antara bibirnya guna meratakkan Lipgloos-nya. Dan setelahnya ia kembali tersenyum bahagia sehingga kedua matanya ikut tersenyum.
Sekali lagi ia melihat dirinya di cermin dan memutar tubuhnya ke kanan dan kiri. memastikan tidak ada sesuatu yang ia lewatkan. Tangannya mengambil tas kecil yang berada di meja riasnya. Ia melangkahan kakinya keluar kamarnya.
.
.
.
.
Di sebuah taman, seorang namja tinggi nan tampan. Ia menggunakan sebuah kaos berwarna putih, dengan jaket berbahan jeans yang melapisi bagian luarnya. Celana jeans hitam yang membalut kaki panjangnya serta sebuah sepatu sneakers berwarna biru tua. Ia sangat tampan.
Di kelilingi dengan banyaknya pepohonan yang asri. Banyaknya bunga - bunga bermekaran dengan warna warni yang indah. Angin yang bersemilir seolah mengajak bunga - bungab untuk menari. Sinar matahari yang hangat di pagi hari. Membuatnya siapapun tidak akan bosan berada disini. Ia duduk di sebuah kursi kayu menikmati pemandangan indah yang di sajikan alam hanya untuknya. Ya untuknya. Karena hanya ada dia seorang di sini.
Namja itu memperhatikan setiap bunga yang dengan indahnya menari di terpa oleh angin dan ia teraenyum. Hingga semua pengelihatannya menjadi gelap karena sesuatu.
Sang namja kembali tersenyum. Indra penciumannya menangkap sebuah aroma strawberry. Aroma kesukaannya. Tangan kekarnya memegang sebuah tangan lentik yang menutupi matanya. Tangan lentik tersebut kemudian beralih memeluk leher sang namja. Dan yang bisa ia rasakan sekarang adalah benda kenyal yang menyentuh lembut pipi kanannya sekilas.
"Maaf Yeollieee~" suara imut, manja dan menggemaskan menyapa indra pendengarannya dengan lembut dan indah menurut sang namja.
Sang namja Chanyeol mengelus lembut pipi sang yeojachingu. Ia menoleh. Dan menggenggam lembut tangan sang yeojachingu-nya seolah menuntun kekasihnya untuk memutari bangku taman dan duduk di sampingnya.
"Tidak apa - apa Baek" Chanyeol tersenyum hangat menenangkan. Baekhyun adalah seorang yeoja yang penuh dengan semangat, ceria, cerewet dan emosian yang sudah menarik perhatian seorang Park Chanyeol pada pertemuan pertama mereka.
Dengan segala kekurangan dan kelebihan masing - masing yang mereka punyai Mereka melengkapi satu sama lain selama dua tahun ini. Bagi Chanyeol, Baekhyun adalan Cinta dan kekasih pertamanya. Begitu pula bagi Baekhyun.
Seperti pasangan muda lain hubungan mereka juga penuh dengan tawa, tangis, pertengkaran, kecemburuan. Namun hal itulah yang membuat mereka lebih dewasa dan lebih saling memahami satu dengan yang lain.
Bagi Chanyeol, Baekhyun adalah segalanya. Nafasnya, senyumnya, dunianya. Senyum manisnya mampu membuat Chanyeol kembali bersemangat dan tersenyum membuat dunianya kembali bersinar. Suara indahnya mampu membuat Chanyeol semakin jatuh dalam pesona seorang Baekhyun. Apapun tentang Baekhyun, Chanyeol tidak akan pernah bosan.
Kini mereka sedang menikmati waktu berkencan mereka. Bermain di sebuah taman bermain. Membunuh waktu detik demi detik Menit demi menit. Jam demi Jam hanya berdua. Hanya mereka berdua. Berjalan saling menggenggam tangan satu dengan yang lain menghantarkan rasa hangat dari tubuh masing - masing. Tersenyum bahagia satu sama lain, senyum yang tidak pernah hilang dari wajah mereka senyum yang menunjukkan bahwa mereka benar - benar bahagia. Tertawa bahagia, tawa yang mereka bagi satu sama lain.
.
.
.
Langkah mereka berhenti tepat di sebuah gerbang rumah yang berdiri dengan angkuh dan kokoh. Tangan mereka masih saling menggenggam satu sama lain. Pandangan mereka bertemu dan mereka kembali saling melemparkan senyum. Memutar tubuh mereka.
Baekhyun memeluk tubuh Chanyeol dengan erat. Seolah ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan kekasihnya. Chanyeol hanya tersenyum. Membalas pelukkan Baekhyun. Baekhyun membenamkan wajahnya pada dada bidang Chanyeol. Dan ia terus mengeratkan pelukkannya.
Chanyeol mengelus lembut surai hitam Baekhyun.
"Baekhyun?" Chanyeol memanggil lembut Baekhyun. Dan Baekhyun hanya menjawab dengan bergumam.
Chanyeol mencoba melepaskan pelukkan Baekhyun dengan lembut. Ia menatap mata indah milik Baekhyun lembut dan hangat. Baekhyun mengkerucutkan bibirnya lucu kepalanya menunduk miring, ia mengayunkan kecil sebelah kakinya. Yang Chanyeol ketahui selama 2 tahun ia menjadi kekasih Baekhyun, sekarang ia tengah merajuk. Entah apa yang ada dipikiran Baekhyun saat ini.
Tangan kekarnya menyentuh lembut dagu mungil dan halus milik Baekhyun. Menuntunnya untuk memandangnya. Mata mereka bertemu. Yang Chanyeol dapat lihat mata Baekhyun memancarkan rasa khawatir dan ketakutan yang besar.
"Ada apa Baek?" Chanyeol mengelus lembut pipi Baekhyun dan kembali tersenyum.
Baekhyun mengigit bibir bawahnya matanya sudah berkaca - kaca ingin menangis.
"Aku takut. Aku takut kau meninggalkanku" Baekhyun kembali memeluk Chanyeol dan ia mulai terisak kecil menangis. Chanyeol tersenyum, ia senang kekasih kecilnya begitu mencintainya bahkan dirinya sendiri takut kehilangan Baekhyun. Karena Baekhyun adalah dunianya.
Ia mengelus lembut punggung Baekhyun, menenangkannya dan terus membisikkan kata cinta yang hanya ia ucapkan untuk Baekhyun seorang. Ia kembali melepaskan pelukkan Baekhyun dengan lembut. Ibu jarinya yang besar dengan lembut mengelus pipi Baekhyun yang di aliri oleh sungai kecil. Menghapusnya. Dengan lembut ia mengecup kedua kelopak mata Baekhyun.
"Uljima" ucapnya lembut. Ia kembali mengecup lembut kelopak mata Baekhyun.
Menyatukan kening mereka. Saling menatap lembut dan dalam satu sama lain.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Byun Baekhyun. Aku akan menikah denganmu hanya denganmu. Dan aku berjanji sebagai pria." Chanyeol berjanji dengan sepenuh hatinya.
Dan dengan perlahan Chanyeol mengikis jarak di antara wajah mereka. Merasakan deru nafas hangat mereka masing - masing. Memejamkan mata mereka. Di awali dengan kecupan lembut. Chanyeol mulai mengubah kecupan tersebut menjadi sebuah ciuman lembut, dalam, dan hangat. Ciuman yang mengantarkan rasa saling mencintai dan saling memiliki. Ciuman penuh cinta. Ciuman yang mengakhiri hari kencan mereka yang ke99 dengan indah. Dan ini adalah hari kencan mereka yang terindah yang pernah ada.
.
.
.
.
.
Baekhyun duduk di sebuah kursi dalam Cafe. Ia terlihat sangat cantik seperti biasa. Senyum tidak pernah lepas dari wajahnya. Ia merasa senang. Hari ini ia akan kencan kembali dengan Chanyeol. Baekhyun terlalu bersemangat hingga ia datang 30 menit lebih dulu dari jam yang mereka tetapkan bersama.
Baekhyun selalu tersenyum membayangkan hal - hal yang menyenangkan nanti bersama Chanyeol. Entah mengapa ia benar - benar tidak sabar menunggu Chanyeol-nya.
Sesekali Baekhyun kembali tersenyum memandang kembaran dirinya di sebuah cermin kecil yang ia selalu bawa - bawa. Terkadang ia akan membenarkan tatanan rambutnya.
.
.
.
.
.
Senyuman manis itu sudah tidak terlihat lagi di wajahnya. Sekarang sudah pukul 12 siang. Ia sudah duduk menunggu di sana sekitar 1 jam. Baekhyun sekarang tengah sibuk menghubungi seseorang. Namun ia tetap tidak berhasil.
"Chanyeol. Aku mohon.." gumam Baekhyun. Entah ini sudah panggilan yang keberapa yang ia lakukan namun tidak ada jawaban dan bahkan nomor yang ia hubungi sudah tidak aktif. Matanya yang tadi memancarkan suasana hatinya yang senang kini mulai meredup. Tangannya yang sedari tadi menggenggam sebuah ponsel ditelinganya kini turun dengan lemah perlahan dikala sambungannya tetap tidak berhasil. Kepalanya menunduk lemah. Ia menggigit bibirnya, menahan tangisnya.
.
.
.
.
.
Ia terduduk di sebuah daun jendela kamarnya memeluk kedua kakinya. Keadaan di luar jendela sedang hujan deras. Seakan alam pun mengetahui isi dan perasaannya. Perasaan sedih, kecewa, dan. .
Di tinggalkan.
Baekhyun menenggelamkan kepala dan wajahnya di antara kedua lututnya. Ia sedang menangis seorang diri. Sungguh ia tidak akan menyangka jika ini akan terjadi pada dirinya. Kenapa Chanyeol tega melakukan ini semua padanya? Baekhyun di tinggalkan.
Setelah ia menunggu di Cafe dan merasa Chanyeol tidak akan datang, Baekhyun mencoba menghubungi Chanyeol yang tidak membuahkan hasil. Ia segera melangkahkan kakinya menuju rumah Chanyeol. Ia akan memarahi Chanyeol karena sudah membuatnya menunggu begitu lama.
Setelah ia tepat berada di depan pintu rumah kekasihnya dengan tidak sabaran Baekhyun menekan bell pintu berulang kali. Kesabaran Baekhyun benar benar di uji hari ini. Ia masih berharap jika Chanyeol melakukan sebuah kejutan untuknya.
Ia berhenti menekan bell pintu di kala pintu yang berada di hadapannya perlahan terbuka. Ia sempat tersenyum. Namun senyumnya kembali memudar di kala melihat sosok yang berada di hadapannya. Seorang yeoja cantik yang membuka pintu. Ia tersenyum kepada Baekhyun. Ia baru pertama kali melihat yeoja yang berada di hadapannya ini. Selama Baekhyun menjadi kekasih Chanyeol ia sudah mengetahui siapa saja yang tinggal di rumah ini. Bahkan para pekerjanya pun Baekhyun sudah sangat hafal dan ia mengenalnya. Namun ia merasa asing dengan sosok yang berada di depannya ini.
"Maaf. Anda mencari siapa?"tanya sang yeoja ramah.
Baekhyun sedikit tersentak dan tersadar dari lamunannya.
"Apa benar ini rumah keluarga Park?" Baekhyun bertanya memastikan. Tidak. Ia tidak salah menginjakkan kakinya. Baekhyun sangat yakin bahwa ia sedang berada di rumah Chanyeol.
"Maksudmu keluarga Park? Mereka baru saja pindah. Aku pemilik baru rumah keluarga Park." jawab sang yeoja ramah.
Sungguh jika bisa Baekhyun ingin sekali memaksa masuk kedalam melangkahkan kakinya menuju lantai dua di mana kamar Chanyeol berada. Membuka pintunya dan melihat Chanyeol sedang tertidur disana. Setidaknya itulah harapannya tadi ketika ia sedang menuju kesini.
Namun semua harapannya sirna. Bagaikan daun yang berada di puncak pohon tinggi yang di hempaskan oleh sang angin dan menjatuhkan sang daun hingga kebawah pohon. Dan sang angin kembali menerbangkan sang daun pergi menjauh dari pohon jauh. Hingga sang daun tidak dapat kembali.
Baekhyun tidak mampu berpikir lidahnya seakan kelu.
"Kemana?" hanya itu yang dapat ia katakan. Hanya kata itu yang dapat terucap dari bibirnya. Bahkan hanya untuk mengucapkan kata itu Baekhyun memerlukan keberanian yang ia kumpulkan sedari tadi.
Baekhyun menatap sang yeoja penuh harap.
Sang yeoja tampak berpikir sebentar. "hmm. mereka bilang mereka pindah ke Kanada."
Baekhyun terdiam di tempatnya. Ia sungguh bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
"Maaf Nona siapa namamu? Tadi anak dari pemilik rumah ini menitipkan aku ini. Ia bilang jika ada yang bernama Baekhyun aku harus memberikannya ini" sang yeoja memberikan sebuah surat.
"Aku Byun Baekhyun" Baekhyun menerima sepucuk surat yang di berikan kepadanya.
.
.
.
.
Baekhyun terus terisak menangis. Memeluk kedua kakinya erat.
"Hiks.. Kau jahat Park Chanyeol"
Semenjak itu Baekhyun berjanji pada dirinya sendiri ia tidak akan pernah berharap bahwa Chanyeol akan kembali ke Korea.
Tangan mungil Baekhyun meremas surat yang di tinggalkan Chanyeol tanpa membacanya. Dan membuangnya entah kemana. Ia terus menangis. Bersama dengan sang hujan yang dengan derasnya turun di malam itu.
.
.
.
.
Kris sedang beristirahat di sebuah kafetaria kantornya. Ia merasa tugasnya -sedikit- ringan. Karena Yuri sudah kembali dari tugas menyelidiki beberapa pembunuhan yang mengharuskannya -Kris- menggantikkan posisi Yuri hingga ia kembali.
Kris sedang menikmati teh hangatnya dengan damai.
Hingga sebuah tepukkan pada bahunya yang cukup pelan namun tidak bisa juga di katakan pelan, membuatnya tersedak. Ia akan memarahi siapapun yang melakukannya.
Dengan segera ia memutarkan kepalanya. Keberaniannya langsung hilang saat ia melihat sosok yeoja ini. Yuri. Entah mengapa sejak pertama bertemu dengan Yuri, Kris tidak pernah berani untuk melawan setiap ucapannya. Bukan Kris bukannya takut. Hanya saja ia tahu type wanita seperti Yuri tidak akan pernah mau mengalah pada pria meski ia salah sekalipun. Yuri adalah type wanita yang tidak akan pernah mau bertekuk lutut pada pria. Mengerikkan.
Kris hanya menatap Yuri yang saat ini merasa tidak berdosa apa yang baru saja ia lakukan terhadapnya.
"Apa?" tanya Yuri tanpa merasa bersalah. Dan ia mendudukkan dirinya di sebuah kursi tepat di sebelah Kris.
"Ahh. Benar - benar. Noona.." Kris hanya menghela nafasnya kasar.
"Baiklah. Maaf. Maafkan aku" Yuri berkata tulus setelah melihat ekspresi memelas Kris. Dan ia kemudian terkekeh pelan.
"15 menit lagi bersiaplah. Antarkan aku." Yuri kembali menjadi sosok yeoja yang tegas.
"Kemana? Memangnya Gi Kwang tidak ada?" tanya Kris bertubi - tubi.
Yuri memukul kepala Kris dengan tangan kirinya. Dan menyipitkan matanya menatap tajam Kris.
Kris hanya bisa meringis dan memegang kepalanya yang baru saja mendapatkan tanda cinta dari Yuri.
"Ck. Benar - benar! Kau mau aku turunkan kembali kebagian lalu lintas?" Yuri bertanya. Ahh.. Mungkin mengancam. Ia geram dengan Kris.
"Jika ada orang lain. Aku sudah tidak ada disini sejak 1jam yang lalu. Jangan hanya badanmu saja yang kau kasih nutrisi tapi otakmu juga" Mata Kris membulat mendengar kalimat yang sangat tidak berprikemanusiaan yang pernah ia dengar meluncur dengan indahnya dari seorang yeoja. Yeoja yang seharusnya menjaga kelakuannya. Yeoja yang baru saja sudah meninggalkannya beberapa langkah.
Baru saja Kris akan mengajukkan protesnya. Suara Yuri sudah kembali terdengar.
"Cepat kau ikut aku atau kau akan bertukar posisi dengan Gi Kwang"
Oh demi apapun yang ada di dunia ini. Ia tidak akan mau kembali menjadi polisi lalu lintas. Ia sudah mendapatkan kedudukkannya yang sekarang seperti ini karena kerja kerasnya.
Dengan langkah yang malas - malasan akhirnya Kris menyusul Yuri.
.
.
.
.
.
Seorang pria sedang duduk di balik sebuah meja kerja. Ia mempunyai rahang yang tegas, hidung besar dan mancung, rambut kehitaman. Ia menggunakan kemeja putih, dengan sebuah dasi yang terpasang dengan rapi di leher kemejanya lengkap dengan blazer hitamnya. Matanya yang tegas tidak pernah lepas dari berkas - berkas yang berada di depannya.
Ia sangat tampan.
Ia mengangkat kepalanya ketika ia mendengar suara ketukan pintu. Ia sudah bisa mengetahui siapa yang mengetuk pintu tersebut. Pasti sekretarisnya.
"Masuk" suara tegasnya mempersilahkan orang yang mengetuk pintu tersebut untuk masuk.
Dan seorang Wanita yang cukup cantik memasuki ruangan tersebut. Ia mengenakan kemeja yang di padukan dengan blazer biru muda serta celana bahan senada dengan blazernya.
"Tuan mereka sudah tiba" sang wanita memberitahukan kedatang seseorang.
Alis pria itu terangkat. "Mereka?" tanya sang pria. Namun sedetik kemudian sang pria kembali berujar.
"Baiklah. Antarkan mereka kesini" Sang pria menutup beberapa map yang sedang ia baca.
Selang beberapa menit suara ketukan di pintunya kembali terdengar. Dan sang pria kembali mempersilahkan orang yang mengetuk kembali untuk memasuki ruangannya.
Seorang yeoja dan namja memasuki ruangannya. Sang pria tersenyum melihat seorang yeoja dan namja yang kini ada di hadapannya.
Sang yeoja dan namja membungkuk hormat padanya.
Ia berdiri dan berjalan memutar meja. Menghampiri keduanya. Ia tersenyum melihat keduanya.
"Bagaimana tugasmu?" sang pria bertanya menatap sang yeoja.
"Aku melakukannya dengan semua kemampuanku" jawab sang yeoja tegas.
"Siapa namja ini?" sang pria kembali bertanya dan sekarang ia menatap sang namja.
"Dia adalah Kris Wu. Wakilku" jawab sang yeoja.
"Ahh.. Kris yang sering kau ceritakan?" tanya sang namja.
Kris sungguh binggung dengan dua orang yang ada di hadapannya saat ini. Tunggu tadi Yuri bilang apa? Sering cerita? Apa yang ia ceritakan tentang dirinya pada pria yang ada di hadapannya? Bahkan Kris baru bertemu dengan Pria ini sekarang. Ingatkan Kris untuk menanyakkan semuanya nanti.
Sang yeoja Yuri hanya terkekeh kecil melihat ekspresi Kris saat ini sungguh lucu. Inilah alasan Yuri sering mengerjai Kris. Karena Kris adalah pria yang -sok- cool dan jarang mengeluarkan ekspresi. Jadi Yuri sering dan senang membuat Kris menjadi Out Of Character.
"Oppa~ bogoshipoyo" tanpa perduli dengan Kris saat ini. Yuri langsung memeluk tubuh pria tegap yang ada di hadapannya saat ini.
"Ya Kwon Yuri. Apa yang kau lakukan?" sang pria terlihat gugup dengan pelukka tiba - tiba dari Yuri. Dan sang pria beralih melihat Kris yang saat ini mengeluarkan ekspresi terkejut. Mata membulat dan mulut yang terbuka.
Oke hari ini Kris pertama kali dalam hidupnya melihat Yuri bersifat manja.
Tidak mendapatkan jawaban apapun akhirnya Yuri melepaskan pelukkannya dan menatap pria yang ada di hadapannya yang terlihat salah tingkah.
Sang pria berdehem kecil dan mengusap tengkuk lehernya.
Yuri kembali terkekeh mengingat bahwa ia kesini tidak sendiri.
"Baiklah. Ada apa Tuan Huang memanggil saya kemari?" Yuri kembali berubah.
Ohh tolong siapapun bantu Kris mencerna beberapa adegan yang ada di depannya saat ini.
"Aku mendapatkan surat ancaman." Sang pria atau yang bisa kita panggil dengan Huang Zhou Mi. Ia adalah Hakim tinggi di Seoul, Korea Selatan. Ia adalah Ketua Hakim yang jujur dan bersih. Serta umurnya yang masih muda. Sudah 10 tahun ia menjabat menjadi Ketua Hakim. Semua petinggi pemerintahan yang 'kotor' dan di ketahui memiliki kasus kriminal apapun itu maka tidak akan pernah bisa lepas dari genggaman mautnya. Ia tidak peduli jika itu adalah keluarga Presiden ataupun Presiden itu sendiri yang terlibat maka ia akan tetap menghukumnya sesuai dengan hukum negara yang berlaku.
Dulu ayahnya juga merupakan Ketua hakim sepertinya. Namun karena sebuah kasus yang di tanganinya. Dan ada beberapa petinggi yang terlibat maka Ayahnya meninggal karena di celakai secara sengaja.
Zhou Mi memberikan beberapa berkas map yang berada di mejanya kepada Yuri.
Zhou Mi mendudukkan dirinya di sofa yang berada di ruangannya. Yuri juga melakukan hal yang sama ia mendudukkan dirinya dan mulai melihat beberapa lembar berkas yang juga terdapat beberapa foto.
Sedangkan Kris yang tidak mengerti apa - apa hanya diam memperhatikan kedua orang yang ada di hadapannya. Namun kali ini Kris berubah menjadi sosok yang serius karena kali ini ia sudah bisa menangkap keadaan yang ada di hadapannya adalah pembicaraan yang serius.
Mata Yuri membulat ketika melihat berkas terakhir yang ada.
"Ini..." Yuri tidak bisa melanjutkan kata - katanya.
"Aku mendapatkannya 3 hari yang lalu. Aku mohon..." lirih Zhou Mi.
"Aku mohon tolong jaga adikku. Hanya ia yang aku punya saat ini" mohon Zhou Mi kepada Yuri.
Yuri menghela nafasnya. "ini akan sulit oppa. Kau sudah tahu bagaimana sifatnya." Yuri kali ini terlihat putus asa.
"Aku sudah memikirkan cara agar ia setuju. Aku hanya mohon padamu untuk mencarikan seseorang yang bisa menjaganya hingga aku bisa menemukan siapa dalang di balik ini semua" Zhou Mi menatap Yuri dengan percaya diri dan penuh keyakinan.
Yuri nampak berfikir sebentar. Lalu ia menoleh ke belakang dan melihat Kris dengan seksama. Dan Zhou Mi melakukan hal yang sama melihat Kris dengan seksama.
Kris merasa bingung. "A... Ada apa Ketua?" Kris bertanya dengan gugup. Bagaimana tidak gugup jika kau di lihat oleh dua orang dengan pandangan serius seperti di kuliti oleh sebilah pisau.
.
.
.
.
Luhan melangkahkan kakinya di koridor kampusnya. Entahlah hari ini ia selalu tersenyum. Hatinya sedang merasa senang. Ia berjalab sambil sesekali menyesap minuman Bubble Tea-nya. Langkahnya terhenti dikala sudut matanya melihat seorang namjanamja yang ia kenal. Seorang namja yang selalu saja ada dalam pikirannya. Seorang namja yang sudah menolongnya. Seorang namja yang dapat membuat degub jantungnya berdetak lebih cepat. Seseorang yang selalu membuatnya tersenyum.
Sehun.
Luhan kembali tersenyum. Ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan latihan serbaguna. Yang dimana Sehun sedang latihan menari. Ia berjalan mendekati Sehun.
Sehun menghentikan kegiatannya. Ia melihat seorang yeoja berjalan ke arahnya. Sebenarnya Sehun sudah melihat seseorang memasuki ruangan ketika ia berlatih hanya saja ia mencoba untuk mengabaikanya. Karena Sehun pikir mungkin saja itu salah satu teman kelasnya yang ingin berlatih juga. Namun ia terkejut saat 'seseorang' itu adalah Luhan.
Luhan adalah sunbaenya yang ia kagumi. Sosok Luhan yang ia sudah menyita perhatiannya.
Ia tersenyum lewat cermin besar yang berada di depannya. Dan ia bisa melihat Luhan kembali tersenyum padanya.
Sehun memutar tubuhnya.
Cantik.
Sangat cantik.
Sehun melihat Luhan mengenakan tanktop berwarna pink, dan ia melapisi tanktop tersebut dengan sebuah kemeja berwarna hitam yang tidak di kaitkan dan juga rok mini berwarna putih. Sungguh Sehun bisa melihat sebagian paha Luhan yang putih dan mulus. Sehun dengan susah payah bernafas. Bolehkan Sehun melepaskan kemeja Luhan?.
"Sehun?" Luhan memanggil Sehun. Luhan sungguh bingung. Ada apa dengan Sehun? Kenapa Sehun melamun?. Apakah Sehun kerasukan sesuatu?.
Karena tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya Luhan mencoba menyentuh bahu Sehun. Dan memanggil Sehun kembali.
"Kyaaaaa.." Sehun berteriak dan mundur beberapa langkah. Dengan refleks ia memegang dadanya. Seperti melihat hantu saja.
Luhan bingung. Ia memasang wajah merajuknya.
"Ya! Oh Sehun. Kau kenapa?" Luhan bertanya layaknya anak kecil. Bibir yang mengerucut lucu. Dan kedua lengannya yang ia lipat di depan dada. Ia kesal. Apakah ia menyeramkan seperti hantu?. Atau ia seperti tokoh putri Viona dalam film Sherk?.
"N-noona?" Sehun bertanya dengan gugup. Bolehkah Sehun merasakan bibir yang sedang mengerucut lucu itu? Lalu melepaskan kemeja itu dan mengecup leher putih mulus itu sekarang. Tolong siapapun selamatkan Sehun. Sehun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sudahlah! Aku kesini hanya ingin memberikan mu ini." Luhan dengan kesal memberikan satu cup Bubble Tea yang sengaja ia beli dan ia bawa hanya untuk Sehun sebagai tanda terima kasihnya.
Sehun hanya melihat bergantian Bubble Tea dengan wajah Luhan yang tengah cemberut.
Karena Sehun tetap tidak menjawab atau bergerak akhirnya dengan perasaan yang masih kesal Luhan menarik tangan Sehun dan memindahkan Bubble tea-nya.
Dan tanpa mengeluarkan kata apapun Luhan pergi beranjak meninggalkan Sehun yang masih mencoba mengatur degub jantungnya yang berdetak keras.
"Noona! Noona tunggu!" Sehun mencoba memanggil Luhan yang sudah tidak terlihat dan berlari mengejarnya.
.
.
.
.
.
Kyungsoo melangkahkan kakinya menuju kafetaria kampus. Ia menggenggam beberapa buku. Beberapa jam yang lalu setelah ia mengumpulkan tugasnya. Ia mendapatkan permintaan tolong dari Dosenya untuk memeriksa beberapa tugas juniornya. Perutnya pun merasa lapar.
Ia melihat sekeliling. Kantin tampak sepi hari ini. Hanya ada beberapa juniornya saja. Ia berjalan menuju Stand penjual makanan. Memesan beberapa makanan dan membawa tray makanannya menuju meja yang berada di tengah.
Kyungsoo mengambil smartphonenya. Sebelum menuju kantin ia sempat mengirimkan beberapa pesan kepada Luhan dan Tao. Karena seingatnya hanya Luhan dan Tao yang mempunyai beberapa kelas hari ini.
Ia tersenyum dikala ada sebuah pesan masuk yang tertera nama Luhan dan Tao. Namun beberapa saat kemudian ia mendesah kecewa ketika membaca isi pesan tersebut. Tao akan bertemu dengan Gege-nya, dan Luhan langsung menuju Cafe.
Jika begitu maka Kyungsoo makan di Cafe saja tadi. Akhirnya setelah memasukkan kembali smartphonenya ke dalam tas, Kyungsoo berniat melanjutkan kegiatannya.
Saat Kyungsoo akan memasukkan sepotong kecil ayam goreng sebuah suara mengintrupsi kegiatannya.
"Maaf noona, Boleh aku bergabung?" Kyungsoo mengangkat kepalanya. Suara ini suara yang ia kenal.
Jongin. Kyungsoo tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Jongin pun mendudukkan dirinya di kursi seberang Kyungsoo.
Mereka akhirnya makan dengan hening. Kyungsoo yang sudah sangat lapar hanya fokus terhadap kegiatannya. Sedangkan Jongin memakan makananannya namun sesekali ia akan melirik ke arah Kyungsoo dan tersenyum.
Sepertinya Yeoja imut bermata bulat ini tengah kelaparan.
"Noona"Jongin memanggil Kyungsoo.
Kyungsoo menatap Jongin. Namun Jongin hanya terkekeh kecil. Alisnya bertautan. Jongin menatap Kyungsoo dan ia menggerakkan telunjuknya dan menunjuk sudut bibirya sendiri.
Menunjukkan bahwa di sudut bibir Kyungsoo ada sebuah saus.
Namun sepertinya Kyungsoo sedang tidak bisa berfikir sekarang. Yang ada ia memiringkan kepalanya dan memperhatikan Jongin dengan ekspresi wajah yang bingung - imut menurut Jongin-.
Akhirnya dengan inisiatifnya jari - jari Jongin terulur menuju sudut bibir Kyungsoo dan menggerakkannya, mengusap noda saus yang berada di sana. Lalu tersenyum hangat.
"Apa noona sangat lapar? Lihat. Ada saus yang tersisa" Jongin berbicara dan kembali tersenyum. Ia memakan sisa saus yang berasal dari sudut bibir Kyungsoo yang berada di jempolnya. Lalu melanjutkan makannya.
Kyungsoo hanya diam mematung. Namun beberapa saat kemudian ia menunduk dan menyentuh sudut bibirnya yang baru saja di sentuh Jongin dan tersenyum. Mungkin wajahnya sekarang sedang memerah.
.
.
.
.
.
Minseok memiringkan kepalanya. Bingung. Tentu saja.
Cemberut?.
Tersenyum sendiri?.
Mari kita lihat apa yang Minseok lihat. Baiklah.
Beberapa menit yang lalu Minseok sedang bekerja seperti biasa dan membantu Yixing di Cafe.
Lalu Baekhyun datang tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Biasanya jika Baekhyun datang maka ia akan menyapa siapapun. Namun ia langsung menuju meja yang berada diberanda Cafe. Duduk dan meletakkan kepalanya,memasang wajah memelas dan lelah.
Tidak selang beberapa lama Luhan datang. Berbeda dengan Baekhyun. Luhan masih menyapanya dengan berkata 'aku datang'. Namun wajahnya di tekuk, dan tanpa menoleh langsung menyusul Baekhyun duduk di meja yang sama dengan Baekhyun. Wajahnya di tekuk. Dan kedua lengannya di lipat di depan dadanya.
Dan 5menit kemudian Kyungsoo datang. Seperti biasa Kyungsoo datang, tersenyum, menyapanya. Hanya saja sedari tadi Kyungsoo tersenyum sendiri dan memegang kedua pipinya. Lalu menunduk malu - malu.
Baiklah ia sangat bingung sekarang. Tunggu. Apa ini hari kebalikan? Seperti kartun Spongebob yang Luhan suka lihat?.
Dentingan Lonceng kembali terdengar. Minseok bisa melihat Tao datang. Seperti biasa ia yang paling modis. Tao tidak jauh dari Luhan dan Baekhyun. Ia menghentakkan kakinya yang memakai high heels sehingga menciptakan suara berisik dan wajahnya juga di tekuk. Lalu duduk bersama dengan yang lainnya. Namun Tao meletakkan kepalanya di atas meja seperti Baekhyun. Hanya saja wajah Tao menghadap ke bawah.
Oke. Baiklah.
Baekhyun. Minseok sangat tahu mengapa Baekhyun bisa seperti ini. Karena seorang Park Chanyeol.
Kyungsoo. Dari yang ia lihat sangat bisa di pastikan Kyungsoo seperti sedang...
jatuh cinta.
Tapi..
Tao dan Luhan?.
Biarkan Minseok menerka apa yang terjadi dengan Tao dan Luhan.
Dentingan lonceng kembali berbunyi. Jongdae berjalan menghampiri Minseok yang sedang bertingkah lucu menurutnya. Melihat sesuatu dan memiringkan kepalanya, dan sedang berfikir keras.
Mungkin.
Ia berdiri di samping Minseok dan memperhatikannya.
"Noona?" Jongdae mencoba memanggilnya.
Minseok sedikit tersentak dan menoleh. Ia melihat Jongdae yang sedang menatapnya dengan sangat dekat. Untuk sesaat Minseok tertegun.
"Oh.. Hai.. Jongdae" Minseok mencoba terlihat biasa saja. Dan tersenyum. Lalu kembali dengan kegiatannya -mari melihat ekspresi wajah-.
"Ada apa?" tanya Jongdae dan ia mengikuti arah pandang Minseok. "Mereka kenapa noona?" tanya Jongdae lagi. Kali ini Jongdae melakukan hal yang sama dengan Minseok.
"Jongdae" panggil Minseok tanpa memandang Jongdae.
Jongdae hanya bergumam menanggapi panggilan Minseok.
"Menurutmu Tao dan Luhan kenapa?" tanya Minseok lagi.
Jongdae nampak berfikir.
"Hmm.. Jika Kyungsoo sepertinya ia sedang jatuh cinta. Baekhyun.. Karena Chanyeol." jawab Jongdae.
Mendengar nama Chanyeol dan juga kalimat yang di katakan Jongdae. Minseok menoleh kepada Jongdae terkejut.
Seolah mengerti tatapan Minseok. Jongdae tersenyum. "Kemarin Chanyeol cerita padaku semuanya".
Minseok menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kalau Tao...-"
Belum sempat Jongdae mengutarakan pendapatnya sebuah tepukkan di pundaknya mengintrupsinya. Minseok dan Jongdae menoleh ketika mendapati sebuah tepukkan.
Minseok mendapati Yixing tersenyum padanya.
"Ada apa?" tanya Yixing. Ia ikut melihat kearah pandangan Jongdae dan Minseok tadi.
"Ahh.." Yixing berujar. Seperti mengerti apa penyebab teman dan adik - adiknya seperti itu.
Jongdae dan Minseok saling pandang. Hingga akhirnya Jongdae mengangkat pundaknya acuh.
"Noona buatkan aku Cappuccino ya" Jongdae berujar dan ikut duduk di meja yang sama bersama Luhan dan yang lainnya. Dan mulai menyibukkan dirinya dengan smartphone-nya.
"Buatkan aku juga dan yang lain ya Minseok Jie - jie" Yixing ikut menyusul Jongdae.
"Nde?!" protes Minseok. Sungguh ia bingung dengan hari ini.
.
.
.
.
.
"Kalian kenapa?" akhirnya. Yixing membuka suaranya. Semenjak Minseok membuatkan beberapa minuman untuk mereka ber-7 dan ikut mendudukkan dirinya bersama. Mereka semua terdiam. Dan tetap seperti posisi awal.
Terdengar helaan nafas dari 3 yeoja yang hari ini sedang Out Of Character. Sedangkan Kyungsoo ikut memperhatikan 3 eonnie-nya yang baru saja ia sadari seperti orang yang habis di tagih penagih hutang.
Eoh? Kyungsoo sepertinya kau terlalu polos atau... Entahlah.
Yixing dan Minseok hanya terkekeh geli. Ini pertama kalinya ia melihat ketiga adiknya kompak.
"Jie? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Luhan membuka suaranya dan menatap Minseok, Yixing dan Jongdae bergantian dengan wajah merajuk lucunya.
Sedangkan yang di tanya menatap Luhan dari atas hingga bawah. Tidak ada yang terlewatkan sedikitpun.
"Noona cantik seperti biasa. Hanya saja jika seorang lelaki muda berada di hadapanmu pasti akan mengira bahwa kau malaikat yang jatuh dari surga. Tapi..." Jongdae menjelaskan. Dan menggantungkan kalimatnya.
Sungguh Minseok sepertinya merasa kecewa mendengar penjelasan Jongdae. Entah mengapa ia merasa seperti itu.
Ya memang ia mengakui bahwa Luhan lebih cantik dan langsing darinya.
"Tapi apa?" Luhan bertanya tidak sabaran dan nadanya menaik satu tingkat.
"Tapi jika aku adalah anak muda yang baru saja mengalami masa muda. Maka aku akan berfikiran menyingkirkan kemeja mu dan bercinta dengamu" Jongdae menjawab dengan jujur. Dan ia kembali menyesap Cappuccino-nya.
Luhan memasang wajah terkejutnya. Tunggu. Apakah itu yang ada di pikiran Sehun tadi? Sehun berpikiran bercinta dengannya? Oh tidak! Luhan mau disimpan di mana wajahmu itu?. Dengan kau marah padanya bukankah berarti kau ingin di ajak bercinta dengan Sehun? Luhan kau terlihat seperti seorang wanita yang butuh belaian lelaki saja.
"Ahh.. Jinca!" Luhan merutuki dirinya, mengacak rambutnya frustasi dan menjatuhkan kepalanya di atas meja.
"Jie" Kini Tao yang memanggil.
"Ne. Baby panda" Yixing menjawab dan tersenyum manis.
Sebelum Tao melanjutkan bicaranya ia menghela nafas terdahulu.
"Bagaimana ini? Aku harus apa?" tanya Tao. Matanya mulai berkaca - kaca ingin menangis. Sungguh ia ingin menangis sekarang.
Kyungsoo beranjak dari kursinya dan duduk di sebelah Tao lalu memeluknya menenangkan.
.
.
.
Tao baru saja menyelesaikan mata kuliahnya beberapa menit yang lalu. Ia berencana akan langsung ke apartement dan tidur karena beberapa hari ini ia kurang tidur mengerjakan beberapa tugasnya.
Ia berhenti berjalan ketika merasakan getaran smartphone di sakunya. Ia tersenyum mendapati nama yang ia rindukan menelponnya. Zhou Mi Gege(koko).
Tanpa ragu ia mengangkat panggilan dari sang gege tercintanya. Setelah beberapa menit mereka berbicara akhirnya sambungan tersebut mereka putus.
Dan dengan segera Tao kembali berjalan dengan hati yang senang. Karena sang gege mengajakknya makan siang hal itu jarang mereka lakukan. Karena mengingat Zhou Mi sang gege sangat sibuk sebagai hakim yang setiap harinya bisa menghadiri sidang kasus - kasus dari pagi bahkan hingga malam. Dan Tao yang sibuk dengan kuliah, membantu di Cafe Yixing, dan juga kegiatan -mari mengerjai playboy- bersama Bunny Girls.
Tao membayangkan ia akan bermanja - manja dengan gege-nya dan hanya makan berdua. Lalu bercerita ini dan itu.
.
.
.
.
.
Namun harapannya makan bersama dengan sang gege hanya berdua dan penuh canda tawa sirna sudah setelah mendengar apa yang dikatakan sang gege padanya barusan.
Ia akan di awasi selama 24jam oleh seorang polisi. Karena teror yang di dapat sang Gege beberapa hari yang lalu. Dimana terdapat surat ancaman dan foto Tao di dalamnya.
"Tidak! Aku tidak akan mau. Gege. Aku bahkan menangkap beberapa penjahat beberapa waktu silam." Tao berusaha meyakinkan Zhou Mi dan membujuknya.
"Tidak bisa Tao. Kau tetap harus di awasi. Lagi pula kita tidak tahu penjahat seperti apa yang mengincarmu" Zhou Mi tetap pada pendiriannya. Ia mencoba memberikan pengertian kepada Tao. Karena Tao mempunyai sifat yang keras kepala seperti Mama-nya dulu. 90% sangat mirip.
"Di tambah lagi kau mempunyai kegiatan mengerjai lelaki Tao. Tidakkah kau berpikir bisa saja salah satu di antara semua lelaki yang pernah kau beri pelajaran ingin membalas dendam padamu dan teman - temanmu?" Zhou Mi masih menjelaskan dengan sabar dan sesuai dengan akal sehatnya. Mencari alasan yang tidak di buat - buat.
Bukannya Zhou Mi tidak tahu kegiatan sang adik yang tergabung dengan Bunny Girls. 'Organisasi' yang dulu sang kekasih Yuri. Juga ikut tergabung di dalamnya bahkan Yuri salah satu pendiri.
Zhou Mi sempat menentang sang adik karena dulu Yuri hampir saja di 'perkosa' saat menjalani 'misi'-nya. Dan ia tidak mau itu terjadi kepada Tao. Namun dengan keras kepalanya Tao maka ia tidak bisa berbuat banyak.
Ingatkan Zhou Mi mengapa ia selalu di kelilingi oleh wanita dengan sifat keras kepala.
"Tapi ge. Itu sangat kekanakan" kini Ia merajuk dan mengeluarkan aegyonya.
Biasanya Zhou Mi akan menuruti Tao jika ia sudah melakukan aegyo.
Zhou Mi menggelengkan kepalanya.
"Tidak Tao. Kau tahu kan. Hanya kau yang aku miliki saat ini Tao." Zhou Mi menatap Tao dengan tegas namun matanya menyiratkan kesedihan.
Tao terdiam. Untuk beberapa saat mereka terdiam.
"Baiklah. Hanya mengawasi dari kejauhan dan bertindak jika ada sesuatu yang mencurigakan. Biarkan aku melihat dulu orangnya" Akhirnya setelah perdebatan yang sangat lama Tao menyetujuinya. Dan Zhou Mi masih belum bisa bernafas lega. Karena ia sangat tahu maksud dari kata 'melihat' yang di katakan Tao tadi.
Bukan berarti melihat dalam artian melihat orang yang akan mengawasinya. Tetapi kemampuan, prestasi dan juga ketanggapannya.
Zhou Mi tersenyum menang. Karena Zhou Mi sendiri sudah melihat semua kemampuan sang penjaga Tao secara langsung.
"Kau akan menyukainya Baby Panda" ujar Zhou Mi.
"Aku akan terus memegang kata - katamu ge" Tao menjawab lalu memakan makananya yang sedari tadi mereka diamkan.
.
.
.
.
.
"Lalu kau sudah melihat orangnya?" Kini Kyungsoo angkat bicara. Karena sedari tadi ia juga cukup penasaran.
Tao kembali menghela nafasnya berat. Dan ia menggelengkan kepalanya lemah.
Kyungsoo hanya terus mengusapkan kepala Tao. Luhan sudah kembali menjadi dirinya ketika Tao memulai ceritanya. Kini mata mereka semua menuju pada satu orang. Baekhyun yang sudah duduk seperti biasa. Namun matanya hanya menatap sebelah kanan-nya menatap sebuah pot kecil yang terdapat bunga yang layu.
Merasa suasana menjadi hening, Baekhyun menolehkan kepalanya. Dan semua mata menuju padanya.
Baekhyun mengigit bibir bawahnya dan menatap satu persatu teman - temannya ragu.
"Aku..." ia menjeda ucapannya dan menghela nafas.
"Aku dijodohkan oleh orang tuaku" cerita Baekhyun akhirnya.
Jongdae tersedak minumannya dan terbatuk. Tao dan Kyungsoo membulatkan matanya. Luhan menutup mulutnya terkejut. Sedangkan Yixing dan Minseok saling berpandang lalu tersenyum penuh arti.
"Kau sudah tahu siapa orangnya?" Luhan bertanya antusias.
Baekhyun mengangguk kecil dan tersenyum masam. "Ya. Orang yang paling aku benci di dunia ini. Park Chanyeol" Baekhyun mengacak rambutnya.
"Ahh.. Sungguh jika aku bisa aku ingin mati saja. Kenapa harus namja dengan tinggi di atas rata - rata itu. Namja dengan kuping lebar aneh. Mata bulat yang jelek. Dan senyumnya yang seperti orang idiot? Aku menyesal menolak perjodohan dengan Yun Ho ajjhusi. Kenapa? Kenapa Ia harus kembali lagi? hiks. Aku benar - benar membencinya hiks.. " meledak sudah. Sedari tadi Baekhyun mencoba menahan semuanya. Namun sepertinya kali ini Baekhyun harus meluapkannya. Perasaannya sungguh campur aduk. Marah kesal kecewa kali ini Baekhyun tidak bisa menolak perjodohannya. Karena selama ini ia selalu menolak dengan alasan 'sang calon' untuk dirinya terlalu tua, tidak tinggi, matanya kecil, berwajah datar. Dan Chanyeol ia muda, tinggi, matanya bulat besar, dan selalu tersenyum. Dan untuk pertama kalinya Baekhyun kembali menangis karena Chanyeol.
Luhan memeluk Baekhyun erat. Dan mencoba menenangkannya.
.
.
.
.
.
TBC
hUaaaaaaa aku harap ini sudah panjang. aku sudah berusaha dengan sekuat tenagaku..
aku masih nelakukan vote untuk couple yang akan ada adegan ranjangnya. XD
huahahahahaaaa..bagaimana dengan bahasa. kalimat dan gaya penulisanku? makin absrud?. atau masih ada yang aku harus perbaiki?.
adakah di antara kalian yang tinggal di daerah bogor atau punya teman?. yang suka dan bisa dance SNSD karena saya mau buat group Cover Dance SNSD.. :D
Thanks To: :
alit dwi astrini/ junghyema/ bellakyu/ diahmiftachulningtyas/ al-phabet di/ .39/ exindira/ Re-Panda68/ istrinya suho/ TKsit/ ayp/ Riho Kagura/ Nasumichan Uharu/ Oh Lana/ ayu lindasari/ nur991fah/ kyungkyung/ Amechan95/ Linkz account/ Oh chaca/ Inno Shunkies/ Kimhyera96/ chanbaekshipp/ yoyoye
Special thanks to::
Lady Azhura / Shin Ji Woo 920202 / Chenma / Baeklinerbyun / rizka0419 / babyazul / Odult Maniac /
.
.
.
See you in chapter 7.. ~^^~
