/.\
hueeeeee.. Sebelumnya saya minta maaf dengan beberapa reader yang namanya tidak tercantum di Thanks To chapter 6 kemarin.. saya benar benar minta maaf. Itu murni kesalahan saya ketika saya check review kalian masuk hanya saja saya yang ngetiknya dengan kondisi mengantuk jadi terlewat.. XD
#di cekek reader#
wkwkwkwkwkkk..
oke seperti biasa saya akan menjawab beberapa pertanyaan dulu.
Q:: Kok bagian Hunhannya sedikit terus perasaan?. jangan jangan author anti hunhan?. selalu susah di mengerti alurnya dan menggantung..
A:: Huaaaaa.. aniyoooo ~°.°~ justru saya chanbaek hunhan kaisoo taoris chenmin sulay shipper. Knp menggantung itu karena saya sengaja dan biasanya ke habisan ide atau sengaja biar reader bingung. XD *Di cekek hunhan* Mian ne. Terima kasih atas perhatian reader-nim. Aku akan coba yang terbaik dan terus akan perbaiki semua kekuranganku dlm menulis.. :D
Q:: Kok aku ngerasa ini jadi ff Chanbaek ya?.
A:: Iya ya. Kok aku juga ngerasa gitu. :p engga deh.. kemaren itu kenapa banyak Chanbaek momentnya?. Karena reader yang lain sudah sangat penasaran sama masa lalu Chanbaek. Kenapa Baekhyun segitu bencinya sama Chanyeol.. Begitu sayang.. Nanti ada kok setiap ukenya akan di ulas masa lalu mereka.. (bocorin rahasia) XD
Q:: Tao sama Kris kenapa sih?.
A:: Oke aku nemu banyak sm pertanyaan ini.. Aku sudah bilang bagi reader baru harap membaca dari chapter 1 hingga 1chapter sebelum chapter terakhir update.. Ga usah review di chapter sebelum - sebelumnya jg gpp kok sayang. Langsung review di chapter yang langsung update gpp. agar kalian lebih mengerti jalan ceritanya. :D
jadi bagi reader yang baru nemu ff antah berantah ini.. *eh(?) XD hihihiii.. mohon baca dulu chapter sebelum"-nya.. ga harus review gpp kok sprti yang aku jelasin tadi.. Oke?. *wink
Q::Yo eonnie aku nemu typo.. harusnya itu mengerikan bukan mengerikkan.
A:: Huahahahahaaa.. Iya aku baru sadar ternyata saya kelebihan ngetik huruf 'k'. kau jeli sekali saeng makasih atas koreksinya.. lain kali aku lebih berhati - hati..
Dan juga Sebuah jadi sepasang.. XD Mungkin pas ngetik saya ga sadar.. XD
Q:: Aku minta sosmed author donk.. Boleh kok..
Line id :: Yovanka92) Fb:: Yovanka Kristiani IG:: Yovanka92 Nomor HP:: 089697973289
Hmm.. soal alur cerita katanya bnyk bgt yang bilang kalau terlalu lambat.. XD
kAlau banyak yang aku lompatin takutnya nanti yang ada ceritanya akan aneh dan ga nyambung.. XD
tApi aku coba untuk di perbaiki lagi dan lagi.. oleh karena itu aku butuh review kalian yang bisa membantu aku.. :D
Ohh ya saya dapat masukkan dari beberapa reader.. Dan saya mencoba untuk buat satu chapter satu atau dua couple agar lebih kena feel-nya dan juga para shipper lebih puas tetapi saya tetap mencoba agar couple lain tetap muncul dan alur ceritanya ga aneh..
soo this chapter for Taoris and Hunhan Shipper..
Chapter 7
.
.
.
.
.
Yixing berada di ruangannya. Ia berdiri di menghadap jendela besar. Ia dapat melihat langsung pemandangan kota Seoul yang indah. Sesekali ia menyesap Teh hangatnya.
Ia sedang memikirkan sesuatu. Dan sesekali ia menghela nafasnya.
Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Hanya saja hatinya merasa seperti akan kehilangan. Entahlah ia sendiri merasa bingung.
"Mungkinkah?" Yixing bergumam sendiri dan pandangannya tetap menuju pada jalanan yang tampak sepi.
Ia tersentak ketika mendapati seseorang memeluknya dari belakang. Namun sedetik kemudian ia tersenyum.
Aroma parfume yang ia sangat kenal menyapa indra penciumannya.
"Apa yang nona cantik ini pikirkan?" suara ini. Suara yang sangat ia rindukan. Dan dapat Yixing rasakan kecupan mesra ia dapatkan di pipi kanannya.
Yixing memutar tubuhnya perlahan dan mengalungkan kedua lengannya di leher Suho Ia tersenyum hingga menampilkan dimple manisnya. Dengan perlahan ia meletakkan kepalanya di dada tegap Suho. Memejamkan matanya perlahan.
Suho hanya tersenyum dan mengecup puncuk kepala Yixing. Tangannya dengan perlahan mengelus surai kecoklatan Yixing.
"Aku rasa sudah waktunya" gumam Yixing.
Suho mengkerutkan alisnya bingung. Namun ia menunggu Yixing melanjutkan ucapannya.
"Sepertinya mereka akan menemukan Cinta mereka" Yixing kembali melanjutkan ucapannya. Kini jari - jari lentiknya membuat pola - pola tidak beraturan pada dada Suho.
Suho kembali tersenyum. Kini ia mengerti kemana arah pembicaraan kekasihnya. Ia melepaskan pelukkan Yixing. Menatap mata Yixing dalam. Lalu mengecup sekilas bibir Yixing.
Tangannya mengelus poni Yixing lembut.
"Mungkin memang sudah waktunya bagi mereka untuk pergi. Sama seperti dirimu dulu." Suho kembali mengecup kening Yixing.
.
.
.
.
.
Tao hanya memasang wajah datarnya menatap pria yang ada di hadapannya. Orang ini. Orang yang sudah berurusan dengannya.
Entah sudah yang keberapa kali ia menghela nafas.
Dan pria yang ada di hadapannya hanya menatap kembali Tao dengan pandangan yang sulit di artikan.
Tao kini sedang berada di kantor sang gege. Namun sang pemilik ruangan belum juga kembali. Setelah meninggalkannya di ruangan ini sendirian.
Beberapa menit kemudian datang Namja yang di hadapannya. Dan seperti saat mereka bertemu sempat terjadi peperangan kecil. Namun Sang Namja mengalah mengingat bahwa yeoja yang di hadapannya ini adalah orang yang harus ia lindungi.
Dan akhirnya mereka memilih untuk diam dan sibuk dengan pemikiran masing - masing.
Mereka menoleh di saat mendengar suara pintu terbuka.
Sang namja -Kris- membungkuk hormat. Sedangkan Tao masih memasang wajah datarnya. Kembali merajuk.
"Kalian sudah datang?" tanya Zhou Mi yang baru saja menyelesaikan sidangnya.
"Ya. Tuan Hakim" Kris menjawab dengan sopan.
Zhou Mi menggerakkan tangannya mempersilahkan Kris untuk kembali duduk. Zhou Mi memilih untuk duduk di single sofanya agar dapat melihat Tao dan Kris yang duduk bersebrangan. Ia melipat kakinya dan meletakan kedua tangannya di atas perutnya.
"Tao. Dia adalah..-" belum selesai Zhou Mi mengucapkan kalimatnya. Tao mengangkat tangan kanannya. Meminta Zhou Mi berhenti berbicara. Tao sungguh kurang ajar kepada oppanya kali ini.
"Aku tahu. Wu Yifan atau Kris Wu. Lulusan kepolisian Van Couver, Kanada. Berasal dari divisi polisi lalu lintas selama satu tahun. Lalu berhasil menangkap beberapa perampok dan pencegahan pelechan seksual di jalanan pada saat berdinas. Lalu selama 3 tahun ia kembali bersekolah di sekolah khusus divisi Kriminal. Dan selama 2 tahun ia kembali berhasil menungkapkan beberapa kasus besar. Dan selama 2 tahun ia masuk sekolah khusus kepengawalan Petinggi negara. Dan kembali meraih prestasi yang luar biasa dalam pengawalan beberapa Presiden di berbagai negara. Namun ia kembali memilih divisi Kriminal" Tao bercerita dengan satu tarikkan nafas dan pandangan matanya yang tidak pernah lepas dari Kris.
Zhou Mi hanya tersenyum mendengar penuturan sang adik.
"Baiklah.. Kris akan tinggal di seberang apartement mu dan teman - temanmu. Ia juga akan memasang kamera di segala sudut dan penyadap. Aku sudah bicara dengan teman - temanmu dan mereka setuju. Lalu ia akan menyamar menjadi mahasiswa di kampusmu" Zhou Mi menjelaskan kepada Tao yang sedari tadi hanya diam dan masih menatap tajam Kris.
"Baiklah. Apa gege sudah memberi tahu Kris apa saja kegiatanku?" Tao bertanya memastikan. Ia tidak ingin jika ia sedang melakukan kegiatannya maka Kris tidak siaga.
Zhou Mi hanya tersenyum. Adiknya benar - benar seseorang yang perfectsionis.
"Tentu Baby Panda. Semuanya. Tidak ada satupun yang terlewat" Zhou Mi menenangkan Tao. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Tao. Tao berdiri dan memeluk Zhou Mi. Sungguh Tao merindukan sosok yang ia peluk. Merindukan aroma maskulin gege-nya, merindukan pelukan hangat ini. Tao semakin mengeratkan pelukkannya. Zhou Mi hanya kembali tersenyum.
"Gege. Jangan lupa untuk makan dan istirahat. Aku tahu kau sangat sibuk. Atau aku harus menyuruh seseorang untuk memata -mataimu?. Dan datanglah sesekali ke apartementku. Baekhyun jie pasti senang" Tao mengingatkan dan sedikit mengancam. Kini Tao menjadi Tao yang manja namun penuh perhatian. Hanya kepada gege dan eonnienya ia bersikap seperti ini. Orang - orang yang sudah ia sangat sayangi.
Zhou Mi kembali tertawa kecil. Ia mengusap lembut surai hitam Tao.
"Tentu. Sebenarnya Yuri jie sudah melakukannya sedari dulu. Ia bahkan melakukan apa yang aku lakukan padamu kepadaku." Zhou Mi melepaskan pelukkannya. Dan mengecup kening Tao.
"Kris. Aku titipkan ia padamu. Aku menpercayaimu" Zhou Mi menatap Kris dan menepuk pundak Kris lalu tersenyum.
Kris hanya menunduk hormat sebagai jawabannya.
"Baiklah gege aku harus pergi sepertinya hari ini kau harus bersiap membayar tagihan kartu kreditku." Tao kembali berubah menjadi Tao yang perfectionis dan ia meninggalkan Zhou Mi yang memandang punggung Tao yang di susul Kris di belakangnya.
Zhou Mi kembali menghela nafasnya. Sepertinya ini akan menjadi bulan yang berat bagi Zhou Mi.
.
.
.
.
"Nona sekarang kita akan kemana?" Kris bertanya tanpa memandang Tao. Ia sedang fokus mengendarai mobil. Setelah keluar bersama dari kantor Zhou Mi mereka tidak berbicara sama sekali.
"Tolong antarkan aku ke pusat pembelanjaan." Tao menjawab tanpa memandang Kris. Ia sedang sibuk dengan smartphone-nya.
Tanpa menjawab lagi Kris mengendarai mobilnya -Tao- menuju tempat tujuan mereka selanjutnya.
.
Kini mereka memasuki sebuah pusat pembelanjaan besar. Langkah kaki Tao menggiringnya menuju bagian 'Pakaian'. Ia berhenti sejenak lalu tersenyum melihat bagian dari pakaian di pusat pembelanjaan tersebut.
Sedangkan Kris hanya memandang bingung Tao.
Tunggu.
Tao adalah wanita. Lalu mengapa ia menuju bagian pakaian pria?.
Ahh.. Mungkin ia akan berbelanja untuk kekasihnya atau untuk Zhou Mi kakaknya.
Entahlah Kris tidak ingin mencampuri urusan Tao. Bagaimana pun ia akan tidak boleh lengah dalam menjaga Tao.
Mereka berjalan memasuki bagian pakaian pria. Seorang pramuniaga menghampiri Tao dan Kris -yang selalu- berjalan di belakang Tao.
Sang pramuniaga tersenyum ramah.
"Selamat datang Nona. Apa kabar?" sapa sang pramuniaga.
Tentu saja. Semua pekerja di sini sudah sangat mengenal Tao dengan baik. Karena selain ia sangat suka berbelanja di sini. Pemilik dari pusat pembelanjaan ini adalah milik pamannya Choi Siwon.
Tao tersenyum dan meminta sang pramuniaga mendekatkan dirinya. Kemudian ia berbisik kepada sang pramuniaga. Dan ia mengangguk mengerti meninggalkan Tao dan Kris berdua.
Sedangkan Kris hanya memantau keadaan sekitar dengan mata tajamnya.
"Tidak perlu terlalu serius Kris-ssi" Tao berkata dengan tersenyum kepada Kris.
Kris menolehkan kepalannya dikala namanya di panggil oleh Tao. Baru kali ini ia melihat Tao tersenyum.
Manis.
Seperti anak kucing.
"Maaf Nona?" tanya Kris memastikan. Tidak. Ia bukannya tidak mendengar apa yang Tao katakan tadi hanya saja ia ingin memastikan bahwa tadi Tao berkata ia tidak perlu terlalu serius?
"Tidak perlu terlalu serius denganku. Kau boleh memanggilku Tao seperti Zhou Mi gege atau temanku. Ayo lupakan kejadian pertama kita berjumpa." Tao kembali tersenyum dan ia mengulurkan tangannya mengajak Kris berjabat tangan.
Kris menghela nafas.
"Tidak. Seharusnya aku yang minta maaf padamu Nona Tao" Kris menyesal.
Setelah mereka berjumpa dengan tidak baik dan Kris mengakui itu adalah salah dirinya. Mengapa ia tidak menghargai Tao yang sudah membantu pekerjaannya menangkap seorang pencuri waktu lalu. Dan setelah beberapa jam Tao menunggu dan di mintai keterangan Kris malah mengusirnya dengan tidak sopan.
Kris tersenyum dan menjabat tangan Tao.
"Lupakanlah Kris Ge. Mari bekerja sama" ucap Tao riang.
"Sekali lagi maafkan aku Nona Tao" Kris kembali meminta maaf pada Tao.
"Jangan panggil aku Nona jika kita sedang berdua. Aku tidak suka. Aku seperti anak manja saja." Tao memberenggut imut. Dan menampilkan ekspresi kesal -lucu- menurut Kris.
Sang pramuniaga kembali mengampiri mereka. Menghentikan perbincangan mereka.
"Buka jasmu" perintah Tao.
Kris mengangkat alisnya tidak mengerti.
"Maaf?"
Tao berdecak kesal dan memutar bola matanya malas. Ia memanggil dua pramuniaga pria dan memegang tubuh tegap Kris dari arah belakang. Kris yang tidak siap hanya menatap Tao dengan tatapan -apa yang kau lakukan Nona- terkejut.
"Aku serahkan ia pada kalian" perintah Tao lagi dan ia melangkahkan kakinya menuju sebuah sofa dan membaca beberapa majalah. Mengabaikan Kris yang sedang di tarik paksa dan berteriak padanya.
.
.
.
.
.
Tao tertegun melihat namja yang sekarang sedang ada di hadapannya. Bagaimana tidak? Namja yang tadi bersamanya. Namja dengan rambut hitam kelam yang menggunakan kemeja dan jas yang di kancingkan rapat. Kini berubah 360°.
Rambut hitamnya berubah menjadi blonde. Lalu kemeja dan jas yang membuatnya terlihat seperti seorang 'paman genit' sudah tergantikan dengan celana jeans yang pas menutupi kaki panjangnya dengan corak seperti kain yang rusak. Ia mengenakan sebuah kaos hitam dengan design tulisan -I'm a BAD BOY- dan sebuah sweater berwarna putih.
Apa lagi kini Kris memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya membuatnya terlihat lebih cool, muda, tampan.
Ohh tidak! Tao sulit bernafas sekarang.
"Ada apa?" tanya Kris kesal.
Setelah ia ditarik paksa oleh pramuniaga tadi dan di paksa untuk membuka bajunya. Demi wajah tampannya Kris baru kali ini merasa seperti orang yang akan dilecehkan. Bahkan walaupun ia memberontak Tao mengancam padanya bahwa ia akan melaporkan kepada Zhou Mi jika Kris melakukan tugasnya dengan tidak baik.
Bukannya menjawab Tao berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Kris. Ia mengamati Kris dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Dengan memegang dagunya dan memasang ekspresi berpikir. Berjalan mengelilingi Kris. Ia berhenti tepat di hadapan Kris.
Dengan tiba - tiba Tao memegang bahu tegap Kris dan mendekatkan wajahnya pada wajah Kris.
Demi dewa Neptunus. Kris sangat gugup sekarang. Bagaimana tidak? Jika wajah mereka sekarang hanya berjarak 10cm. Tatapan mata Tao yang tajam menatapnya. Dan tangan Tao yang halus memegang tengkuknya. Dan dengan gerakan cepat Tao menarik tengkuk Kris.
.
.
.
.
.
Sehun terlihat sedang berdiri dengan gelisah. Sesekali ia melihat jam tangannya dan membasahi bibirnya yang terasa kering. Ia sedang menunggu 'seseorang'.
Seharusnya seseorang yang sedang ia tunggu sudah melewati koridor dimana Sehun sedang berdiri.
Senyumnya terlukis di kala ia menolehkan kepalanya dan ia melihat seseorang yang ia tunggu..
Seorang yeoja yang berjalan menundukkan kepalanya serta bibirnya yang di kerucutkan. Dan menurut Sehun itu sangat lucu.
Dengan semangat ia menghampiri seseorang tersebut.
.
.
.
Hari ini Luhan sangat tidak bersemangat seperti biasanya. Ia sedang memikirkan Sehun. Bagaimana nanti jika ia bertemu dengan Sehun. Ia tidak siap. Tunggu. Kenapa ia harus tidak siap. Memangnya ia ada hubungan apa dengan Sehun.
Memang Luhan akui. Ia sudah tertarik dengan Sehun sejak ia di tolong oleh Sehun. Dan melihat senyum Sehun yang menurutnya menawan.
Langkahnya terhenti di kala ia melihat sepasang sepatu kats biru menghalangi langkah kakinya. Karena Luhan sedang malas mengangkat kepalanya maka ia bergerak kearah samping. Namun sepasang sepatu itu juga bergerak ke arah kanan.
"Maaf aku mau lewat" ujar Luhan tanpa mengangkat kepalanya. Dan ia bergerak ke arah kiri dua langkah. Namun seseorang yang berada di hadapannya melakukan hal yang sama.
Luhan menghela nafasnya. apakah orang yang ada di hadapannya ini tidak mengerti bahasa manusia? atau ia dari negara lain?
Luhan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Noona" sebuah suara yang khas menyapa pendengaran Luhan. Ia sangat mengenal suara ini.
Dan Luhan seolah tidak bisa bernafas. Bahkan seluruh badannya terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Oh tidak! Jangan. Jangan dia. Aku mohon jangan -
"Luhan noona ini aku"
-Sehun.
Sontak Luhan mengangkat kepalanya. Ia melihat Sehun tersenyum padanya. -Tampan-. Sangat tampan dengan bias cahaya yang menyinari tubuh tinggi dan tegap Sehun.
"Noona?."
Luhan tersadar di kala Sehun memanggil dirinya dengan ekspresi wajah bingung dan khawatir.
"Noona kau baik - baik saja? Apa kau sedang sakit?" Sehun terlihat sangat khawatir bahkan sekarang ia meletakkan punggung tangannya pada kening Luhan.
Luhan tersenyum. Dengan lembut Luhan mengenggam tangan Sehun yang berada di dahinya dan tersenyum lembut pada Sehun.
"Aku baik Sehun. Ada apa kau mencariku?" Luhan bertanya.
"Apakah kau sibuk? Jika tidak, aku ingin mengajakmu kencan hari ini" Tanpa menunggu jawaban Luhan. Sehun langsung menarik tangan Luhan dan membawanya pergi.
.
.
.
Luhan menatap Sehun yang duduk bersebrangan dengannya. Dengan wajah yang polos seperti anak kecil, wajahnya yang bingung dengan posisi kepala yang di miringkan. Sesekali ia mentautkan alisnya bingung. Dan baru saja ia akan membuka bibirnya untuk bicara. Seorang yeoja mengintrupsinya. Yeoja yang ia ketahui adalah seorang waitress di kedai Bubble Tea ini. Ia memberikan dua buah cup besar Bubble Tea satu kepada Sehun dan yang satunya lagi pada Luhan.
Tanpa menunggu,Sehun langsung menancapkan sebuah sedotan diatas cup bubble teanya dan meminumnya dengan ekspresi wajah sangat senang. Seperti seorang anak kecil yang mendapatkan sebuah permen.
Dan tanpa sadar Luhan terkikik geli melihat tingkah polos Sehun. Kini Sehun yang menatap Luhan bingung yang sedang tertawa di hadapannya.
"Kenapa?" Sehun mentautkan alisnya dan dengan gerakan yang cepat kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri bergantian mencari 'penyebab' seorang boneka cantik -Luhan- yang berada di hadapannya ini tertawa.
Beberapa detik kemudian Luhan menghentikan tertawanya dan dengan gerakan refleks ia menghapus air matanya yng ikut turun di saat ia tertawa.
"Kau" seru Luhan.
Sehun menatap Luhan tidak mengerti. Tanpa berbicara Luhan berdiri dan membungkukkan tubuhnya mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sehun. Dan menarik kedua sisi pipi Sehun gemas.
"Kau lucu Oh Sehun. Sangat Lucu." Luhan berujar dengan nada manja yang gemas. Seolah ia berbicara dengan seorang anak kecil berumur 5 tahun. Dan dengan senyum yang menawan bagi Sehun.
Melihat senyum seorang Luhan, Sehun merasakan bahwa dunianya berhenti berputar. Jantungnya kembali berdetak cepat dan darahnya berdesir menghangat. Tanpa sadar ia pun ikut tersenyum melihat yeoja yang ada di hadapannya ini tersenyum.
Luhan kembali duduk di kursinya lalu mulai meminum Bubble Tea. Sesekali ia berteriak tertahan dengan ekspresi wajah yang lucu seperti anak kecil. Karena menyesap minuman yang bagi Luhan sangat menarik. Ini adalah pertama kalinya Luhan meminum Bubble Tea.
"Noona suka?." Sehun bertanya memastikan. Memandang serius Luhan. Menanti jawaban dari bibir pink indah Luhan -menurut Sehun- sangat menegangkan. Sehun takut jika pilihannya bukanlah yang Luhan sukai.
Hei! Oh Sehun tenanglah.
"Maksudmu ini?. Aku sangat suka. Rasa apa ini?. Rasanya unik." Luhan berkata dalam satu tarikan nafas. Dan ia menatap Cup miliknya yang sudah tinggal ¼. Dan ekspresinya menampilkan wajah anak kecil menyesal. Luhan menyesal meminumnya terlalu cepat. Karena ini pertama kalinya ia meminumnya dan dengan rasa yang unik ia jadi terlalu bersemangat dan meminumnya dengan cepat.
"Rasa Taro. Jika noona ingin. Aku akan membelikan untuk Noona berapa banyak cup yang Noona mau" Sehun berucap jujur dan berjanji.
Luhan menatap Sehun berbinar.
"Kau serius?" Luhan memastikan.
Satu anggukkan kepala Sehun dan senyum tulusnya sudah berarti persetujuan bagi Luhan.
Dengan cepat Sehun mengangkat tangannya kepada seorang waitress dan kembali memesankan Bubble Tea untuk Luhan 2Cup besar sekaligus.
Mungkin ini adalah hari terbaik bagi Luhan dan Sehun.
.
.
.
Teriakan yang baru saja melengking hebat di sebuah toko aksesoris menyita beberapa pengunjung Mall yang melewatinya. Teriakan lengkingan yang tinggi dengan suara bass yang khas keluar begitu saja dari kerongkongan Kris.
ini adalah pengalaman pertamanya. Sakit, malu dan juga kepalanya merasa pusing. Telinganya memerah dan terasa panas. Tangannya terulur untuk menyentuh daun telinganya.
"Jangan kau sentuh"
Dan Kris hanya memasang wajah menahan rasa sakit dan menatap tajam sosok Tao lewat cermin.
"Jika kau sentuh itu akan semakin sakit" Tao menatap krmbali Kris lewat cermin.
Ia mencari suatu benda dalam tasnya.
"Kenapa?"
tanpa melihat Kris, Tao memberikan sebuah obat.
"Karena kau akan menjadi mahasiswa di universitasku maka kau juga harus menyamar" Tao memberikan gerakan agar Kris meminum sebuah tablet obat yang ia berikan.
Kris hanya menatap obat yang ada ditangan Tao. Tao memutar bola matanya malas.
"Demi Tuhan. Paracetamol. Penahan rasa sakit dan nyeri"
Dengan segera Kris mengambil dan menelan tablet tersebut.
"Kemana lagi kau akan pergi Tao?." Kris berdiri dan melihat cermin merapikan penampilan barunya.
"Aku harus membawamu ke apartement dimana aku tinggal dengan teman - temanku".
.
.
.
.
.
Kyungsoo berada di cafe. Matanya tidak pernah lepas dari buku yang berada di hadapannya. Dan sesekali ia menulis beberapa kalimat. Telinganya terdapat sebuah earphone yang terhubung dengan sebuah Tab. Dan sesekali ia mengetuk layarnya. Kyungsoo sudah melakukannya selama 4jam.
Ia menyentuh tengkuknya dan memijatnya sebentar. Memejamkan matanya lalu kembali lagi dengan kegiatannya. Ia bahkan tidak memperhatikan sekitarnya.
Hingga sebuah ice cup Cappucino berada di depan wajahnya. Matanya yang bulat membulat sempurna di kala ia melihat sepasang tangan berada diatas mejanya. Dan ketika ia menegakkan kepalanya tepat di hadapannya.
"Hallo" seorang pria yang sangat tampan. Sedang tersenyum sangat tampan.
Tanpa bisa berkata - kata, Kyungsoo hanya bisa tercekat.
"Apa yang kau lakukan?" Kyungsoo berkata dingin.
"Apa kabar Kyungsoo-ya?"
Tanpa berkata - kata lagi Kyungsoo berdiri dan hendak meninggalkan sang namja. Namun tangannya di tahan oleh sang namja.
"Aku mohon Kyungsoo"
"Lepaskan aku oppa. ini sudah berakhir"
"Tidak bisakah memberikan aku kesempatan?" sang namja menatap Kyungsoo memohon.
Ketika Kyungsoo hendak berbicara terdengar seseorang memanggilnya.
"Noona"
Dengan cepat Kyungsoo melepaskan tangan sang namja.
"Annyeong Kai" sapa Kyungsoo dengan senyumnya.
"Ohh. Apakah noona sedang ada tamu?" Kai baru menyadari kehadiran seseorang. Dan ia dengan ramah menyapanya.
"Tidak Kai. Aku baru akan pergi. Maaf aku tidak bisa membantumu hari ini Kai. Aku mohon maaf" Kyungsoo merasa sangat menyesal.
"Tidak apa - apa Noona, aku sebenarnya ke sini untuk mengatakan aku juga akan membatalkan hari ini. Sehun memaksaku untuk kerumahnya." Kai mengusap tengkuknya dan tersenyum kikuk.
.
.
.
Entah apa yang ada dalam pikiran Kyungsoo. Kai yang sedari tadi menyetir mobil hanya bisa melirik sesekali ke arah Kyungsoo yang menurutnya sedang melamun.
Kai berdehem mencoba memecahkan suasana hening yang tercipta di mobilnya.
"Noona.. Kau ingin aku antarkan kemana? Kampus atau ke rumah noona?"
Kyungsoo seakan sadar dari acara melamunnya mendengar Kai memanggilnya.
"Hmm.. Aku turun di kampus saja. Ada beberapa barang yang harus aku ambil dahulu." Kyungsoo memaksakan senyum di wajahnya.
Entah mengapa Jong In tidak memyukai senyum Kyungsoo yang seperti ini. Dan Jongin memutarkan kemudinya menuju arah kampus mereka.
.
.
.
.
.
Sehun menatap sahabatnya dengan aneh. Termenung dan diam. Biasanya dia tidak bisa diam. Bukan ini rencananya. Rencananya Sehun akan bercerita tentang hari indahnya kepada Jongin.
"Ya Jongin, kau ini kenapa?." Dengan serius ia menatap temannya dan menunggu sebuah suara keluar dari mulut temannya.
"Jika seorang wanita bertemu pria, lalu ia menjadi melamun dan diam siapakah pria itu?" dengan serius Jongin bertanya dan menatap Sehun. Dan Sehun hanya berkedip - kedip. berpikir. Dengan segera ia berdehem.
Sehun tiduran di atas kasur Jongin dan menghela nafasnya.
"Kemungkinannya sang pria adalah ex-boyfriend sang wanita dan aku yakin sang wanita sedang berpikir bagaimana ia bisa melupakan sang EX." Sehun berucap sangat serius kali ini.
"Tetapi jika sang pria adalah cinta pertamanya, bukankah kita sulit melupakan cinta pertama?" Sehun kembali melanjutkan.
"Apa? Aku tidak salah dengar? Kau bahkan bisa melupakan kekasih pertamamu dengan sangat mudah." Jongin mengungkit masa lalu Sehun.
"Ya! Kekasih yang mana?" Dengan bodohnya Sehun bertanya.
"Cinta pertamamu yang kau bilang berada di Tiongkok saat kau umur 8 tahun" Jongin berujar gemas
Sehun terdiam dan berpikir.
.
.
.
.
.
Suara pintu terbuka menghentikan kegiatan 4orang yang berada di ruang TV.
"Aku pulang"
"Ohh Tao pulang. Ohh.. Tao kau pulang dengan siapa?" Baekhyun melihat seorang pria yang berada di belakang Tao. Ia menghampirinya berdiri di depannya. Melihatnya dari atas hingga bawah dan menggelilinginya.
"Hmm. Tampan. Tinggi. Dan.. Tao ini selera priamu. Kau kekasih Tao yang baru?" Dengan sembarangan Baekhyun berucap.
"Ya nona Byun! Tidak bisakah kau tidak mengambil kesimpulan sendiri?" Tao berucap marah.
Baekhyun hanya menyengir tidak berdosa.
"teman - teman ini adalah Kris. Ia akan menjadi pengawal pribadiku. Dan Kris perkenalkan. Mereka adalah Baekhyun ,Kyungsoo ,Xiumin ,dan Luhan -ge.. Mereka sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri." Tao memperkenalkan satu persatu temannya.
"Maaf nona Huang. Tadi kau bilang pengawal pribadi?" Luhan memastikan pendengarannya.
Tao menghela nafas. Ia menceritakan semuanya. Dan ketika Tao bercerita Kris mulai melakukan pekerjaannya. Memasang beberapa kamera tersembunyi dan penyadap di telpon.
Saat Kris memasang kamera tersembunyi di dekat meja di kamar mandi. Dengan sembunyi - sembunyi Baekhyun mendekati Kris. Belum sempat Baekhyun mengejutkan Kris. Kris menoleh dan menatap Baekhyun seolah bertanya 'ada apa'.
"Huuuu. Aku tidak menyangka responmu akan secepat itu." Baekhyun memuji keahlian Kris. Dania bersandar pada sebuah meja.
Kris kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sebuah ide muncul di otak iseng Baekhyun.
"Berapa banyak kamera yang kau pasang Kris?" Baekhyun bertanya tetapi ia tidak mendapatkan jawaban dari Kris. Maka ia terus melanjutkannya.
"Apa kau tau? Kau adalah type pria Tao. Aku sudah kenal dia lama. Pada saat aku lihat kau datang dan berpakaian seperti ini. Aku yakin Tao yang melakukannya." Baekhyun tersenyum senang ketika melihat Kris menghentikan pergerakkan tangannya. Rencananya berhasil.
"Apa kau memasang di kamar Tao juga?" Baekhyun kembali bertanya.
"Tentu saja aku memasangnya Hakim yang memintanya." Dengan tegas Kris menjawab pertanyaan Baekhyun yang menurut Kris sendiri tidak bermutu.
Baekhyun memegang pundak Kris dan mensejajarkan wajahnya dengan telinga Kris dan berbisik.
Sehingga wajah Kris memerah seperti buah Strawberry yang biasa ia makan.
.
.
.
.
.
TBC..
Haaaaa... Maaf.. Ide saya habis.. wkwkwkwkk...
Mohon maaf juga karena udah setahun ga update.. dan baru update lagi.. karena Real Life saya benar - benar sibuk.. -.- Chapter 8 saya usahakan secepat mungkin updatenya..
Banyak kabar yang beredar tentang EXO yang engga - engga..
Kalau bisa jangan fanwar. Bagaimanapun juga kita penggemar kpop itu suka di pandang sebelah mata.. Kalau sesama kpop fans aja fanwar gimana jadinya.. ^o^
Music makes One..
Bye see you..
Thanks To::
:: baexian ree :: Odulct Maniac :: Re-Panda68 :: neli amelia :: Initial D 0326 :: xingmae30 :: Amechan95 :: kmskjw21 :: Lady Azhura :: ruixi :: guest :: follow baek :: junghyema :: Nasumichan Uharu :: kaisoolovers :: LVenge :: wellcum :: rilakkuchaan :: HunHan Cherry1220 :: myunicorn91 :: hunhan aegy :: ChelVL :: exindira :: ayp :: Baeklinerbyun :: fujijump910 :: ShalowLin :: gttk0000property :: rizka0419 :: devrina :: Lady Soojong :: Ibna Nurulbaiti1 :: J :: dazzle :: yoyoye :: TKSit :: kaisoo :: Vioolyt :: Oh Lana :: chenma :: Brigitta Bukan Brigittiw :: :: Shin Jiwoo 920202 :: diahmiftachulningtyas :: Kimhyera96 :: .39 :: Lee Eunin :: Guest :: septhaca :: Debby Jongong :: Tiara anindita :: DIENAENAINPCY :: Guest :: Guest :: Candra :: Indi1004 :: xxsly ::DZL-an :: Parkbaekyoda :: ccdtksexoot12 :: mamik :: :: Taman Coklat :: Rkim :: karwurmonica :: Rly. :: Little Deer Chanie94 :: VampireDPS :: Guest :: Sehan9 :: Park minra :: mila.:: Ahn Sunyoung :: KimZuki :: :: loovyjojong :: :: :: chen banana :: kim673 :: faz fazira44 :: DBSJYJ :: wenxiuli12 :: rismooyu741 :: caramesso ::
Terima kasih untuk reader yang masih setia nungguin cerita ini. walaupun updatenya lama banget..
Terima kasih banyak buat Maya Aprilya yang selalu ingetin aku buat lanjut ff ini dan semangatin aku.
Lovely saengie..
See you next Chap.
27 April 2016..
