Title :: Playboy Trap
Cast :: Chan Baek
HunHan
Kaisoo
Taoris
Chenmin
Sulay
Genre :: Romance, Hurt, Humor(Little bit), Yadong (Maybe) GS
Rated:: M ( jaga – jaga jika author lagi kumat) XD
Disclamer::Chanyeol itu suami saya.
EXO Member is MINE (Di kejar - kejar EXO-LXD)
This story is mine..
Summary:: Sekumpulan Yeoja yang merasakan sakit hati terhadap pria masa lalu mereka, yang telah mempermainkan hati dan perasaan cinta tulus mereka. . Mereka membantu para yeoja yang bernasib sama seperti mereka terhadap Namja – namja Playboy. Namun apa yang terjadi jika mereka bertemu dengan Namja yang tulus mencintai mereka? Akankah mereka percaya?
.
.
.
.
#Chapter 8#
.
.
.
.
Kris harus benar - benar menahan diri dan hasratnya kuat - kuat. Baru beberapa jam dia mengawasi Tao dan teman - temannya lewat camera yang dia pasang sendiri, ia benar - benar tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang.
Entah mereka sengaja atau tidak yang pasti sekarang ia sedang bergairah. Tao setelah mandi tadi dan keluar dari kamar mandi ia membuka saja handuknya tanpa sehelai benang apapun tepat di depan kamera yang ia pasang di vas di meja nakas. Ia bisa dengan jelas melihat tubuh indah, putih bersih, dan juga dada Tao yang sintal. Dan Kris menelan air liurnya kasar.
Ia juga melihat Tao sedang menggunakan pakaian tidur tipis 'benar - benar tipis'. Tidak hanya sampai di situ teman - temannya juga mengenakan pakaian yang sama pakaian tidur tipis. Dan tubuh mereka tercetak jelas dengan pakaian setipis itu.
Di camera nomor 3 Baekhyun sedang berada di dapur dan ia hanya mengenakan pakaian dalam atas atau Bra berwarna hitam dan celana hotpants merah. Sungguh sexy dan menggoda. Ia melihat ke Camera yang di pasang Kris yang berada di Vas di meja dapur.
Baekhyun sengaja melihat ke arah vas dan melambaikan tangannya berharap Kris melihatnya. Dan ia melakukan wink kepada Kris. Tentu saja ia melihat semuanya. Ia melihat Baekhyun membuka Kulkas dan mengambil sesuatu. Lalu ia mengambil ponsel yang berada di saku celananya dan memasang headset dan menekan beberapa nomor.
Sedetik kemudian ponsel Kris berdering ia mencoba untuk tidak mengangkatnya. Namun setelah ia melihat kamera kembali Baekhyun membulatkan matanya meminta Kris mengangkat. Dengan berat hati Kris menjawab panggilan Baekhyun. Belum sempat ia berkata - kata Baekhyun menyela.
"Kris kau melihatnya? Tubuh indah Tao? Jika sudah jangan tutup teleponya dan lihat aku! Dan jangan matikan sambungannya" Baekhyun memerintahkan Kris dan ia kembali melihat kamera sedikit membungkukkan badannya hingga belahan dadanya terlihat. Lagi - lagi Kris harus menekan hasratnya kuat - kuat dan entah mengapa mata Kris tidak bisa lepas dari sana.
Ia melihat Baekhyun sedang memegang sebuah timun besar dan panjang. Ia menjilat timun tersebut dari ujung hingga ujung. Ketika lidahnya berada di atas ujung timun ia memutarkan lidahnya di sana dan ia memasukan timun itu ke dalam mulutnya dan ia menaik turunkan kepalanya dengan timun yang berada di mulutnya perlahan dan juga beberapa kali dengan tempo yang cepat. Baekhyun terus melakukannya. Dan dengan sengaja ia membuat decakan - decakan halus tertahan.
Kris sudah tidak bisa berfikir jernih lagi sekarang ia menyalakan mode speaker di ponselnya dengan terpaksa ia mengeluarkan dirinya dan menggenggamnya lalu mendesah kecil. Ia menaik turunkan tangannya dan melakukan hal seperti yang Baekhyun lakukan. Ia mencari kenikmatannya sendiri. Membayangkan Tao yang melakukannya. Baekhyun tersenyum senang ketika ia mendengar samar - samar suara desahan Kris. Lalu Baekhyun melihat ke arah kamera lagi dan memasukan timun yang sedari tadi ia kulum ke antara belahan dadanya dan menaik turunkannya dan mendesah mencoba membuat Kris yang berada di seberang sana menjadi - jadi.
Dan benar dugaanya ia mendengar suara Kris semakin kencang dan sering mendesah. Ia tersenyum jahil dan dengan sengaja ia mendesah juga dan menyebut nama Kris memintanya untuk lebih cepat dan keras. 5 menit kemudian Kris mendesah panjang dan melenguh puas. Dan dengan lantang Baekhyun tertawa puas.
"Kris kau disana? Apa kau puas? Apa kau membayangkan Tao yang melakukannya? Jika aku benar... I Gotcha!" Baekhyun berkata lagi di headsetnya dengan Kris dan melakukan wink di kamera lagi lalu memutuskan sambungan telponnya dan tertawa geli. Ia berhasil mengerjai Kris.
Sedangkan di sana Kris mengatur nafasnya dan ia merasa tertipu dengan seorang wanita yang berhasil mengerjainya. Ia melihat mejanya yang sekarang penuh dengan cairan miliknya sendiri dan merutuki perbuatannya. Seharusnya ia tidak terjebak dengan kejahilan Baekhyun.
Tapi mengapa tadi ia malah membayangkan Tao. Mungkin ia harus mandi agar pikirannya segar kembali. Maka ia memutuskan untuk merapikan hasil perbuatannya dan mandi.
.
.
.
.
Kedua insan ini berada di atas ranjang. Mereka sedang berbagi hasrat mereka dalam udara yang panas dan aura yang menggairahkan mereka saling bercumbu, nafas mereka terengah larut dalam ciuman yang mematikan. Mereka saling menyatu - satu sama lain. Wanita yang berada di bawahnya terus melenguh di kala pria yang berada diatas terus menyentuh dan menyentuh tubuh sang wanita.
Tanpa berkata - kata lagi sang pria membuka semua pakaiannya dan juga melepaskan pakaian sang wanitanya. Lalu mereka kembali bercumbu panas. Tanpa melakukan foreplay yang lebih. Sang pria memasukan dirinya kepada sang wanita dan memulai temponya dari pelan dan pelan hingga cepat.
Sang wanita terus mengeluarkan suara bergairah menggoda sang pria. Yang membuatnya semakin bersemangat akan kegiatannya. Sang pria terus melakukan kegiatannya tanpa henti memendamkan lagi dan lagi dirinya lebih dalam kepada sang wanita. Dan sang wanita terus menerus mendesah dan melenguh nikmat. Di tambah pula sang pria mengecup dan menghisap beberapa bagian tubuhnya yang sensitif.
Keduanya mencapai puncak mereka. Sang pria mengeluarkannya di dalam tubuh sang wanita. Mereka berdua lelah dan senang. Sang pria merebahkan badannya di samping sang wanita dan ia memeluknya erat.
"Apa rencanamu?" Sang pria bertanya lalu mengecup kening sang wanita.
"Aku sudah membuat rencana. Menunggu mereka beraksi kembali dan aku akan membunuh mereka satu persatu" Sang wanita mensterilkan kembali nafasnya dan ia kembali mendesah di kala sang pria mencumbu leher, pundak, dan dadanya.
Dan mereka kembali melakukan kegiatan sebelumnya. Terlarut dalam kenikmatan dunia dan gairah mereka masing - masing.
.
.
.
.
Chen seperti biasa mengunjungi Cafe Yixing untuk meminum secangkir kopi buatan Xiumin. Menurut Chen kopi buatan Xiumin yang paling enak. Dan menurutnya Xiumin adalah Barista terhebat di Korea.
"Kau datang?" Xiumin sedikit terkejut ketika ia membalikkan tubuhnya dan tiba - tiba Chen sudah berada di balik meja kasirnya.
"Maaf noona aku mengejutkanmu" Chen tersenyum hangat seperti biasa. Ia memesan Americano seperti biasa. Dan duduk di sebuah meja menghadap pot tanaman bunga yang sengaja di letakkan di sana.
Tidak lama kemudian Xiumin datang membawa pesanannya. Dan juga roti. Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
"Noona apa kau sibuk?" Chen mencegah Xiumin yang hendak kembali ke meja kasir. Ia tampak berfikir lalu duduk di seberang Chen yang memangku sebuah buku.
"Ada apa?" Tanpa menunggu lama Xiumin langsung bertanya.
Chen menyeruput Americano-nya. Dan meletakkan cangkirnya lalu menutup bukunya.
"Noona, ayo kita berkencan" Chen langsung to the point dan tanpa membuang waktu. Ia menatap Xiumin yang menunduk dan terlihat ragu untuk menjawab.
"Kau tahu... Aku..." Xiumin ragu untuk melanjutkan kata - katanya. Chen mendekatkan dirinya menarik tangan Xiumin dan menggenggam-nya hangat ia mengusap tangan Xiumin lembut menghantarkan ketulusan hatinya.
"Yakinlah padaku. Aku sudah mengetahui semuanya. Oleh karena itu aku ingin kau percaya kepadaku. Aku tidak peduli dengan masa lalumu" Chen menatap mata Xiumin dalam dan hangat. Chen bersungguh - sungguh.
Xiumin menggerakkan bola matanya tak menentu.
"Maafkan aku Chen.. Aku..."
"Tidak apa. Kau tidak harus terburu - buru, aku menunggumu Noona." Dengan berani Chen berdiri dan mengecup pipi Xiumin. Dan entah mengapa Xiumin tidak menolak bahkan ia memejamkan matanya menikmati kecupan Chen.
Hingga suara seseorang menginterupsi kegiatan mereka. Dan mereka serentak menoleh dan bersikap seolah - olah tidak terjadi apapun.
Tao menghampiri mereka dan duduk diantara mereka. Menatap Chen yang kembali membaca bukunya dan Xiumin yang sedang duduk memandang pot tanaman. Lalu tidak lama berselang Xiumin kembali ke balik meja kasirnya. Tao hanya memandang Chen tanpa bertanya apa - apa.
Chen hanya melirik Tao sekilas lalu membaca bukunya merasa risih di pandangi Tao terus menerus dan juga namja yang berada di sebelah Tao. Ia baru melihat namja ini.
Chen menutup buku dan menatap Tao bergantian dengan namja yang berada di sebelah Tao. Kini Tao yang merasa risih dengan tatapan aneh Chen.
"Apa?" Tao memukul pundak Chen dan protes.
"Kalian bertunangan?" Chen menyeruput lagi kopinya dengan tenang.
Tao menegakkan badannya dan melipat tangannya di dada dan mengerucutkan bibirnya.
"Ya! Oppa!" Tao protes keras. Tao menghela nafasnya kesal.
"Lalu?" Chen menaikkan sebelah alisnya melihat Tao. Menantikan jawaban.
Tao lebih memilih diam dan memandang keluar jendela.
"Apa hubungan kalian? Maaf tapi aku jarang melihat Tao dengan seorang pria" Chen mencoba bertanya kepada Kris. Dan Tao membulatkan matanya menoleh ke arah Chen.
Tao kembali berteriak protes kepada Chen. Dia menarik telinga kiri Chen dengan agak keras. Dan dapat di pastikan mereka bertengkar.
.
.
Chen membulatkan bibirnya ketika Xiumin menjelaskan siapa Kris. Memang tidak semuanya ia hanya menjelaskan jika Kris adalah mahasiswa pindahan dari Kanada. Dan keluarga mereka saling mengenal jadi Tao dan Kris bersama.
"Kau harus bertemu dengan temanku Chanyeol" Chen menarik pundak Kris dan merangkulnya hangat. Secara kebenaran Chanyeol memasuki Cafe dan matanya membulat ketika melihat Chen, bukan, bukan Chen tetapi namja dengan wajah blasteran dan berambut blonde.
"Kris?!" Chanyeol menghampiri namja tersebut dan memanggilnya terkejut.
Chen dan Tao mengkerutkan alis mereka bingung. Melihat Chanyeol dan Kris berpelukkan dan menanyakan kabar masing - masing.
Chanyeol dan Kris adalah sahabat. Mereka bertemu ketika di Kanada dan mereka sekolah di sekolah yang sama. Karena di kelas mereka hanya mereka orang Asia maka mereka cepat dekat satu dengan yang lain.
Chanyeol menyeruput kopinya dan mengangguk mengerti. Dengan kondisi Kris sekarang. Kris menceritakan semuanya kepada Chanyeol ketika Chen berpamitan untuk kembali memasuki kelasnya dan pergi.
"Bagaimana denganmu Chan?" Kris balik bertanya kepada Chanyeol dengan bahasa Inggris. Tao hanya melirik mereka. Dan ia mengkerucutkan bibirnya lucu dan memilih untuk sibuk dengan ponselnya.
"Aku menemukannya. Ia tinggal bersama dengan Tao. Baekhyun" Chanyeol kembali menjawab dengan bahasa inggris.
Kris tersedak di kala Chanyeol menyebut nama Baekhyun. Chanyeol menatapnya dengan tatapan -ada apa- menyelidiki dan bingung kepada Kris.
"Maksudmu seorang Yeoja dengan rambut panjang kecoklatan, kecil, dengan dada yang lumayan besar?" Kris bertanya dan berdiri secara mendadak.
Chanyeol membulatkan matanya mendengar kalimat terakhir Kris. Dan Tao menahan tawanya sambil mengetik pesan.
.
.
.
.
Kai sedang berada di perpustakaan. Ia sedang mencari sesuatu. Bukan, ia berada di sini bukan untuk membaca atau meminjam buku tetapi ia mencari Kyungsoo. Karena minggu kemarin mereka seharusnya mengerjakan sebuah tugas dan batal karena seseorang yang ia temui, dan juga entah mengapa ia merindukan sosok Kyungsoo.
Ia berjalan menyusuri lorong perpustakaan melihat ke arah kanan dan kiri. Dan matanya berbinar ketika ia melihat sosok Kyungsoo yang sedang membaca dan juga menulis sesuatu. Kai menghampiri Kyungsoo dan duduk di depannya. Kyungsoo tetap tidak menyadari kehadiran Kai. Kai melipat tangannya di atas meja lalu ia memandangi Kyungsoo lekat - lekat. Bagaimana pun juga Kyungsoo tetap menarik di matanya.
Sepuluh menit kemudian Kyungsoo menutup bukunya dan merapikan peralatannya. Ketika ia mengangkat kepalanya. Ia terkejut mundur kebelakang dan memegang dadanya. Ia menghela nafasnya dan melepas headasetnya.
"Berapa lama kau di sana?" Ia menetralkan nafasnya. Memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya.
"20 menit" Kai tersenyum dan masih menatap Kyungsoo seperti tadi.
Kyungsoo mengkerutkan keningnya melihat Kai. Ia mengambil ponselnya lalu bercermin. Ia takut ada sesuatu yang salah dengan wajahnya.
"Hentikan! Jangan menatapku seperti itu!" Kyungsoo merasa aneh dan juga risih hanya satu orang yang suka menatapnya seperti itu.
"Mau minum coffee?" Kai bangkit dan mengulurkan tangannya untuk Kyungsoo. Tanpa ragu Kyungsoo bangkit dan memilih untuk memeluk buku - bukunya dari pada tangan hangat Kai.
Kai dengan senang menyusul Kyungsoo entah mengapa ia senang. Padahal Kyungsoo menolak pegangan tangannya.
.
.
.
Disinilah mereka menikmati Coffee buatan Xiumin seperti biasa. Dan Kai meletakkan kedua tangannya yang di lipat diatas meja lalu meletakkan kepalanya dan menatap wajah Kyungsoo.
Kyungsoo menyeruput Ice Latte-nya dan sesekali melirik Kai yang sedang memandanginya sambil tersenyum. Ia menghela nafasnya dan meletakkan Ice Cupnya ke meja.
"Sudah ku katakan hentikan Kai" Sudah berapa kali ia mengatakannya tapi Kai masih saja melakukannya.
"Tapi aku menyukainya. Noona kau sangat cantik" Kai mencoba untuk merayu Kyungsoo kembali.
"Untuk apa kau melakukan ini?" Kyungsoo to the point. Ia melipat tangannya di dadanya dan menatap serius Kai.
Kai bangkit dari posisinya dan menatap Kyungsoo serius.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Nadanya serius dan ia melihat Kyungsoo juga serius.
"Tanyakan saja" Ia menjawab dengan tegas.
"Siapa pria kemarin?" Kai To The Point
Kyungsoo tersentak dan matanya menolak untuk memandang Kai. Ia menghela nafasnya lalu kembali menatap Kai yang masih menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Mantan Tunanganku" Kyungsoo kembali menjawab tegas dan kembali menatap Kai.
Kini Kai yang menolak untuk melihat Kyungsoo, ia memilih untuk melihat cangkir kopinya. Ia merasa kecewa namun lega karena Kyungsoo sudah jujur.
"Kau masih mencintainya?" Kai kembali berani menatapnya.
"Menurutmu? Apakah mudah melupakan seseorang yang kau cintai begitu saja walaupun ia sudah berselingkuh di belakangmu?" Matanya berkaca - kaca dan ia mencoba untuk tidak emosi
"Bisakah aku menggantikannya di hatimu?" Hatinya menghangat mendengar kalimat Kai namun ia masih takut untuk menerima seseorang di hatinya kembali. Sesungguhnya ia sudah berjanji untuk lulus dan menjadi penyanyi dan tidak memikirkan seseorang.
Lalu apakah pria di hadapannya ini seserius ucapan dan tatapannya saat ini? Bisakah ia mempercayainya? Ia menatap wajah Kai lamat - lamat.
"Biarkan aku memasuki hatimu perlahan - lahan Kyung" Entahlah bagi Kyungsoo itu sebuah perintah atau permintaan.
"Aku mohon biarkan aku merubah semua pecahan lukamu menjadi bintang" Kai benar - benar serius dengan ucapannya.
"Seumur hidupku aku tidak pernah seserius ini dan mengatakan hal seperti ini" Kai tetap meyakinkan Kyungsoo. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap pipi bulat Kyungsoo.
"Benarkah? Bagaimana jika kau membuatku menangis walaupun hanya sekali?" Kyungsoo mencoba menjatuhkan pertahanan Kai.
"Kau mempunyai teman - teman yang menyayangimu dan aku yakin mereka tidak akan membiarkan itu terjadi. Bahkan Kim Jong Dae kakakku juga pasti akan menghukumku jika aku melakukannya" Kai mempertahankan pendiriannya mencoba meyakinkan perempuan yang sudah mencuri hatinya.
"Entahlah.. Aku..." Ia ragu. Benar - benar ragu. Ia kembali menatap mata Kai dengan dalam walaupun Kai menunjukkan sikap berani, tangguh, dan yakin. Namun Kyungsoo masih belum yakin sepenuhnya.
Mereka menatap mata masing - masing mencari kesungguhan dalam diri. Kyungsoo tidak bisa berfikir jernih saat ini. Ia takut jika ia akan tersakiti kembali.
.
.
.
.
Yixing menatap kembaran dirinya di cermin. Ia sedang mencoba gaun pernikahannya dan Suho. Ia mengenakan gaun putih dengan rok pendek di depan dan panjang di belakang dengan payet berwarna putih dan juga adanya corak segitiga di belakang pinggangnya sehingga menampakkan punggungnya yg putih. Ia tersenyum. Menampilkan dimplenya yang manis.
Suho memeluknya dari belakang ia juga sedang mencoba kemeja dan jas yang akan di kenakan ketika pernikahan. Mereka tersenyum menatap diri mereka lewat cermin.
"Mengagumkan" Suho mengecup pipi Yixing dan kembali menatap cermin dan tersenyum. Mengagumi diri mereka masing - masing.
"Kita ambil yang ini bagaimana?" Suho meminta persetujuan Yixing. Tanpa berkata - kata Yixing tersenyum dan menganggukan kepalanya setuju. Seseorang menginterupsi kegiatan mereka. Dengan berdehem.
"Kau tidak akan salah pilih Jie. Aku memang membayangkanmu pada saat membuat design-nya" Baekhyun bersandar pada sebuah meja dan ia melipat tanganya di dada dan memperhatikan kedua sejoli yang ada di hadapannya. Ia tersenyum puas.
Yixing dan Suho memang meminta Baekhyun untuk membuatkan Design gaun dan juga Tuxedo untuk mereka. Walaupun hanya design-nya tetapi Baekhyun sangat puas dengan hasil yang di buat oleh temannya.
Himchan adalah senior Baekhyun di falkutas design ia sudah lulus beberapa tahun yang lalu dan membuka sebuah butik dan Baekhyun terkadang bekerja sama dengan Himchan dan berbagi ide satu sama lain.
"Suho oppa aku sengaja membuat pinggangnya terbuka agar semua pria yang ada nanti sangat iri denganmu karena malaikat ini" Baekhyun membenarkan sedikit beberapa bagian Gaun Yixing. Menatap Suho dan Yixing bergantian.
"Aku sangat iri denganmu Jie. Coba aku juga bisa menikah" Entah mengapa Baekhyun berbicara seperti itu. Dan ia tersadar dengan ucapannya maka karena itu ia hanya tersenyum menyadari kebodohannya.
"Baekhyun-ah aku tahu kau masih mencintainya. Tidak bisakah kau memaafkannya?" Yixing mengusap lembut pundak Baekhyun. Matanya berkaca - kaca menahan tangis.
Baekhyun hanya tersenyum. "Aku akan mengatakan kepada Himchan oppa ada beberapa bagian yang harus di perbaiki" Baekhyun berlalu begitu saja dan berjalan menundukkan kepalanya.
.
.
.
.
Yixing dan Suho kembali ke rumah mereka. Ya mereka sudah membeli rumah bersama. Dan tinggal bersama. Mereka memutuskan untuk membersihkan diri mereka dan setelahnya Yixing memasak untuk makan malam.
Ia mengenakan tanktop hitam yang menempel sempurna menampilkan lekuk tubuhnya yang indah. Dan juga mengenakan celana tidur tipis pendek di atas pahanya sehingga pakaian dalamnya yang berwarna merah terlihat.
Ia sedang menata makanan yang ia buat dan tersenyum. Suho datang hanya dengan mengenakan celana pendek rumahnya dan rambutnya yang setengah basah sedang di keringkan dengan handuk kecil yang di bawanya.
Ia tersenyum dan duduk di kursi. Dengan cepat Yixing menghampiri Suho dan mengambil alih handuk yang ada di tangan Suho dan membantu mengeringkan rambut Suho lalu merapikannya dengan jari - jarinya yang lentik dan tersenyum.
Mereka duduk di kursi masing - masing dan memulai acara makan malam, mereka sesekali berbincang dan bersenda gurau dan menceritakan kegiatan masing - masing.
Kini mereka sedang duduk di taman belakang rumah mereka. Yixing duduk di pangkuan Suho dan merangkul leher Suho menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Suho yang hanya bisa ia lihat ketika mereka di rumah. Terkadang telunjuknya bermain - main di atas kulit badan Suho.
"Itu menggelikan" Suho tertawa ringan di saat Yixing memainkan Niplenya.
Bukannya berhenti, Yixing terus melakukannya dan membuat Suho tertawa lepas. Yixing juga ikut tertawa ketika Suho membalasnya dengan menggelitik pinggangnya. Dan mereka tertawa bersama.
Inilah saat - saat yang paling di nikmati oleh mereka. Hanya ada mereka berdua. Saling menatap dan mengagumi. Suho menatap Yixing dalam dan tersenyum. Ia menggenggam telapak tangan Yixing dan mengecupnya lembut.
"Aku benar - benar jatuh kedalam duniamu" Suho mengelus wajah Yixing lembut. Dan mengecup pipi Yixing. Mereka saling menatap kembali menyatukan dahi mereka. Dan tersenyum.
Hingga Suho mendekatkan bibirnya dengan bibir Yixing perlahan dan mengecupnya. Awalnya hanya mengecup namun Suho mulai mengulum bibir Yixing perlahan dan lembut. Tanpa sadar mereka mulai bercumbu dengan lembut dan perlahan. Saling menikmati dan tidak terburu - buru.
Suho mengangkat tubuh Yixing ala Bridal dan berjalan memasuki rumah mereka sambil terus bercumbu mesra. Menuju kamar Suho. Selama mereka tinggal bersama mereka tidak pernah tidur bersama atau melakukan hal yang macam - macam. Bahkan kamar mereka terpisah. Suho adalah type pria yang akan sopan jika berkencan.
Setelah susah payah Suho membuka pintu dan menutupnya kembali mereka terus bercumbu dan meletakkan tubuh Yixing di atas kasurnya tanpa melepaskan bibir mereka sama sekali. Mereka masih melakukan ciuman mereka dengan lembut dan tidak tergesa - gesa.
Suho menurunkan cumbuannya dengan lembut menuju leher Yixing. Dan tanpa sadar Yixing mengangkat kepalanya memudahkan Suho mencumbu lehernya dan ia mendesah memanggil Suho menjambak rambutnya lembut dan ciumannya turun menuju dada Yixing yang di busungkan.
Namun Suho berhenti. Ia tersadar dengan perbuatannya. Dan mengusap wajahnya kasar. Pikirannya kembali. Ia melihat Yixing yang sedang mengatur nafasnya di bawah tubuhnya dan memejamkan matanya. Ia melihat beberapa tanda di bagian atas dada Yixing dan lehernya.
"Maafkan aku Yixing. Aku tidak sadar" Ia duduk di samping kasur dan memegang sisi kepalanya dengan kedua tangannya. Yixing beranjak dari tidurnya dan memeluk Suho dari samping.
"Tidak apa - apa" Yixing berbisik dan mengecup leher Suho mesra. Ia mencumbu leher Suho dan membuat beberapa tanda di sana.
"Aku rasa kita bisa melakukannya. Bukankah suasananya sedang bagus?" Yixing mencoba meyakinkan Suho bahwa ia tidak salah. Dan mereka memang menginginkannya.
"Tapi kita sudah berjanji" Suho menatap Yixing yang berada di sampingnya.
Ya mereka memang sudah berjanji tidak akan melakukan hubungan sexual sebelum mereka menikah dan Suho adalah orang yang sangat berkomitmen dengan ucapannya. Dan ia benar - benar memegang teguh ucapannya. Bahkan mereka hanya saling berciuman tidak lebih.
Yixing memeluk Suho hangat. Ia sangat mencintai pria ini. Ia selalu menjadi pendengar yang baik, perhatian, dewasa, dan selalu melindungi dirinya.
"Baiklah kalau begitu bagaimana jika hari ini aku tidur disini. Bersamamu" Yixing mengusap pipi Suho dan mengecupnya lalu ia berbaring dan menghadap Suho yang duduk memunggunginya
Suho hanya menatap Yixing ragu. Ia tidak yakin jika ia bisa menahan hasratnya seperti saat ini. Yixing hanya tersenyum dan menepuk kasur di sebelah dirinya meyakinkan Suho untuk tidur dengannya.
"Aku yakin kau tidak berbuat macam - macam. Aku ingin tidur dalam pelukkan hangatmu" Tanpa bertanya lagi Suho menidurkan dirinya di sebelah Yixing dan memeluk Yixing mendekatkan diri mereka. Suho mengecup kening Yixing dan juga bibirnya. Lalu mereka tertidur.
.
.
.
.
To Be Continue..
Note::
Huaaa.. akhirnya ada juga adegan nista nya.. wkqkqkkkkk.. walaupun blm benar - benar full nc tapi aku harap kalian suka. Dan mohon maaf atas ketidak nyamanan kalian pada saat membaca FF ini dan ada typo-nya. Dan terima kasih banyak atas koreksinya.. *bow*
Hp ku error hiks . ToT Baterainya melendung jadi suka mati sendiri dan aku harus masukkin baterainya ke kulkas seharian baru bisa di pake lagi.. ToT..
Dan baru bisa ngetik FF lagi..
Ada yang tanya sama aku kenapa Tao tiba- tiba tarik tengkuk Kris. Dan kenapa kris teriak?
Oke Tao itu narik leher Kris pake lengannya ke toko Perhiasan dan Kris teriak itu karena dia di tindik.
Apa itu Paracetamol?
Paracetamol itu jenis obat penghilang rasa sakit. Biasanya buat pusing penurun panas dan penghilang rasa sakit. Kalau perempuan yang biasanya haid itu obatnya Femin*x. Trus obat pusingnya P*nad*l, B*drex dkk.. kalau obat panasnya S*nmol.. Sebenarnya sama aja kok.. cuma beda nama..
Next Chapter secepat yang aku bisa..
Thanks To ::
:: Kim Zuki * ParkBy * narsih556 * LVenge * fakkpark * YuRhaChan * Real ParkHana * devrina * Aiko Vallery * byunolaf * rizka0419 * exindira * chenma * fuckyeahSeKaiYeol * derpwhiteboy * HunHanCherry1220 * Arifahohse * ruixi1 * misslah * taolinna6824 * nina Oh * Oh Grace * Choi U Na * Sone729 * fanform malaysia * Nopwillinekaisoo * Lady Azhura * * SunHan38 * JungHunHan * Luhanssi * AmeChan95 * Houran Wu * Rly. * pcyckh * Maya Apriliya *
28 April 2016
