Title :: Playboy Trap

Cast :: Chan Baek

HunHan

Kaisoo

Taoris

Chenmin

Sulay

Genre :: Romance, Hurt, Humor(Little bit), Yadong (Maybe) GS

Rated :: M ( jaga – jaga jika author lagi kumat) XD

Disclamer::Chanyeol itu suami saya.

EXO Member is MINE (Di kejar - kejar EXO-LXD)

This story is mine..

Summary:: Sekumpulan Yeoja yang merasakan sakit hati terhadap pria masa lalu mereka, yang telah mempermainkan hati dan perasaan cinta tulus mereka. . Mereka membantu para yeoja yang bernasib sama seperti mereka terhadap Namja – namja Playboy. Namun apa yang terjadi jika mereka bertemu dengan Namja yang tulus mencintai mereka? Akankah mereka percaya?

.

.

.

.

#Chapter 10#

.

.

.

.

Xiumin menatap datar apartement-nya. Gelap dan sepi. Kemana semua orang? Dengan kondisi badannya yang lelah ia merebahkan tubuhnya di sofa, ia mengambil ponselnya dan ia menerima beberapa pemberitahuan bahwa Baekhyun, dan Luhan tidak akan pulang malam ini. Sedangkan Tao bilang ia ada urusan dengan Kris. Maka ia menghubungi Kyungsoo. Ia menunggu dan mendengar nada dering. Ketika Kyungsoo menjawab maka mereka berbincang.

Kyungsoo menunggu ujan agak reda maka ia akan langsung pulang. Ia sedang di perpustakaan mengerjakan tugas kuliahnya dengan Kai. Dan mereka akan pulang bersama. Setelah itu Xiumin memasak makan malam untuknya ia merasa kesepian.

Ketika ia selesai menata makan malam. Ia memutuskan untuk mandi. Dengan cepat ia mandi dan menggunakan pakaian daster tipis khusus tidurnya yang berwarna putih dan menampakkan jelas tubuhnya yang di balut bra berwarna merah muda senada dengan celana dalamnya.

Ia mengerutkan alisnya ketika seseorang menekan bel apartementnya. Apakah itu Kyungsoo? Jika benar lalu kenapa tidak langsung masuk saja?. Ia melihat di layar monitor belnya dan seorang namja yang tidak asing baginya sedang memeluk dirinya dengan keadaan badan dan bajunya yang basah.

Maka dengan cepat ia membuka pintunya. Dan ia melihat Chen sedang menggigil kedinginan. Ia kehujanan. Tanpa berkata - kata Xiumin membuka lebar pintunya dan menarik Chen masuk ke dalam apartementnya. Ia mendudukkan Chen di sebuah kursi dan mencari sebuah handuk lalu memberikannya kepada Chen.

Chen menumpang mandi di sana. Dan ia mengenakan handuk persediaan di sana. Entah handuk siapa tapi yang jelas ia mengenakkan sehelai benang untuk menutupi daerah pribadinya.

Xiumin menyiapkan satu lagi piring untuk Chen hujan sedang lebat oleh karena itu ia meminta Chen untuk makan malam bersamanya. Lagi pula yang lainnya sedang keluar.

Mereka makan malam bersama Chen melirik Xiumin beberapa kali. Dan tersenyum.

"Aku seperti sudah mempunyai pendamping hidup" Chen mengatakannya tanpa melihat Xiumin ia menelan makannya.

Xiumin hanya tersenyum. Dan memakan makanannya.

"Dan masakan pendamping hidupku sungguh lezat" Chen kembali mengatakan kalimat memuji Xiumin. Jika saja Chen melihat Xiumin sekarang, wajahnya memerah dan ia tersenyum.

"Kau sedang berbicara dengan Spaghetti atau denganku?" Xiumin menutupi dirinya yang bersemu malu. Chen tersedak dan ia meminum airnya dengan cepat. Lalu menatap Xiumin yang tertawa tertahan.

"Noona~~" Chen protes. Dan ia meletakkan sumpitnya ke atas piringnya.

"Menikahlah denganku" Chen menatap serius Xiumin. Xiumin tersedak lalu ia tertawa.

"Kau ingin menikah dengan Spaghetti?" Xiumin mengira tadi Chen berbicara dengan Spaghetti-nya lagi.

Xiumin membulatkan matanya ketika ia merasakan bibirnya bersentuhan dengan bibir Chen. Ia tersentak dan ia tidak bisa berfikir. Kejadiannya begitu cepat karena ia sibuk tertawa tadi. Tangannya di kunci oleh Chen dan ia merasakan bibirnya sedikit di lumat oleh Chen.

Xiumin perlahan menutup matanya merasakan hangat dan lembutnya sentuhan bibir Chen. Entahlah mengapa ia menikmatinya apakah ia sudah jatuh cinta dengan pria yang ada di hadapannya sekarang yang sedang menciumnya.

### Flashback###

Minseok berekspresi datar, sedatar - datarnya ia menatap sungai Han. Ini tengah malam. Rambutnya sedikit acak - acakan dan baju yang di kenakannya kusut. Beberapa orang di jalan menatapnya aneh. Matanya membengkak karena habis menangis. Ia memegang dadanya yang sesak sangat menyakitkan. Ini terlalu sakit dan ia sudah tidak bisa menanggung semuanya. Malu, tersakiti, di khianati.

Hanya satu yang ada di fikirannya saat ini. Ia menaiki dinding yang hampir setinggi dadanya dengan susah payah dan berdiri di pinggirannya ia kembali menangis. Angin kencang yang bertiup sangat dingin. Mengapa dunia ini begitu kejam?

Beberapa jam yang lalu ia memberikan pesta kejutan kepada kekasihnya di apartement kekasihnya. Dan apa yang ia dapat. Ketika mereka selesai merayakannya tiba - tiba saja kekasihnya mengikat tangannya paksa dengan sebuah dasi dan mendorongnya ke sofa di sana. Ia meronta dan dengan paksa kekasihnya mencumbunya. Dan memukul Xiumin agar ia diam kekasihnya kembali mencumbunya dan membuka paksa pakaiannya.

Ia kembali meronta dan memohon agar ia menghentikannya namun kekasihnya tetap saja melakukannya. Dan ia di paksa melayani kekasihnya. Bahkan ketika Minseok berteriak kesakitan karena ini pertama kalinya ia tidak memperdulikannya. Minseok terus menangis bahkan ketika kekasihnya selesai melakukan perbuatannya ia tidak memperdulikannya dan mengusir Minseok

Ia berjalan sambil terus menangis ia menahan sakit dan perih yang di rasakannya dan beberapa tetes darah yang mengalir dari paha hingga kakinya.

.

.

Chen baru saja pulang dari ujian sekolahnya. Ia menaiki sepedanya dan mengayuhnya dengan perlahan. Setiap hari ia memang pulang melewati sungai Han. Karena ini hari terakhir ujiannya ia memutuskan untuk menikmati pemandangan malam kota di pinggiran sungai Han.

Ia menutup matanya dan menghirup udara segar. Ia melepaskan Stress. Ia menoleh ketika ia mendengar suara isak tangis dan ia terkejut melihat seorang wanita berdiri di atas pembatas jembatan. Ia panik apa yang harus ia lakukan.

Ia menoleh daerah sekitarnya dan tidak ada siapapun kecuali dirinya. Ia mencoba berbicara dengan wanita yang ada di hadapannya namun yang ia dapatkan hanyalah suara tangisan yang semakin menjadi - jadi. Minseok membulatkan tekadnya dan ia bersiap melompat. Namun ia di tarik oleh Chen yang jatuh kedalam pelukkannya. Dan Chen melihat Minseok tidak sadarkan diri dalam pelukkannya.

Chen menghela nafasnya khawatir ia berada di rumah sakit menunggui wanita yang tadi sempat mencoba terjun ke sungai Han. Ia juga sedang menunggu sepupunya Suho untuk datang. Ia tidak bisa mengetahui siapa perempuan ini karena ia tidak membawa dompet atau tas.

Dan satu yang membuatnya kesal dari kata Dokter yang memeriksanya wanita ini mengalami trauma dan juga kekerasan sexual. Ia mengalami sedikit pendarahan.

Chen menoleh ketika pintu kamar rawat inap terbuka. Ia mendapati Suho menghampirinya dengan jas Dokternya. Suho menatap Chen sendu lalu beralih menatap sang wanita.

"Aku sudah dengar semuanya. Aku mempunyai kenalan psikiater dan psikolog dan mereka banyak memberikanku saran" Suho menghela nafasnya kasar ia duduk di sebuah kursi di sana dan menopang wajahnya dengan ledua tangannya. Chen ikut duduk di sana.

Lalu ponsel Suho berbunyi Yixing menghubunginya. Suho berbincang sebentar dan memutuskan sambungan telponnya. Chen menatapnya penuh harapan.

"Namanya Kim Min Seok. Aku akan mengirimkan pesan kepadamu tentang alamat rumahnya" Suho kembali berkata ia bangkit dan juga berjalan menuju kasur dimana Min Seok terbaring.

"Apa yang harus aku lakukan hyung?" Chen menatap punggung Suho. Ia berharap. Ia ingin membantu wanita ini.

Suho hanya tersenyum memberikan semangat kepada Chen.

.

.

.

.

Chen kembali ke kamar ini lagi. Sudah tiga hari ia selalu membeli bunga yang sama mawar biru dengan jumlah yang tidak sedikit. Ia meletakkannya di vas bunga yang berada di sana.

Ia melihat Min Seok duduk di tepi jendela dan memandang jendela melihat langit yang berwarna biru. Ia masih diam dan tidak beranjak dari tempatnya. Chen selalu mengajaknya berbicara walaupun ia tidak mendapatkan jawaban apapun.

Seperti hari ini. Chen duduk di pinggiran jendela bersebrangan dengan Minseok dan bersama - sama menatap langit biru yang indah.

"Kau ingin ketaman? Udara di luar sangat sejuk dan hangat Noona kau pasti jenuh di sini terus" Ia menoleh ke arah Minseok dan seperti kemarin - kemarin wajahnya pucat dan tatapan matanya kosong. Maka ia memutuskan untuk kembali menatap langit.

"Tolong" Chen terkejut dan menoleh kearah Minseok. Apakah ia tidak salah dengar. Ia mendengar kata 'tolong'.

"Aku mohon... tolong aku" Minseok kembali berucap kali ini ia menatap Chen dan matanya berkaca - kaca. Minseok kembali menangis.

Chen memegang pundak Minseok hangat dan menatapnya dalam. Ia memeluk Minseok yang terisak. Sejak saat itu Chen selalu menjadi orang pertama bagi Minseok. Ia yang selalu menyemangati Minseok dan selalu berada di sisinya. Setelah Minseok sembuh dengan traumanya ia masuk dalam group Bunny Girls dan kenal dengan Yixing dan Yuri.

Dan mereka melancarkan aksi mereka membalaskan perbuatan kekasih Minseok dulu. Dan melaporkannya kepada polisi dan ia di tangkap dan ditahan seumur hidupnya.

Dan Minseok memulai hidupnya yang baru kembali menjadi dirinya yang dulu. Dengan kehidupan dan kegiatannya yang baru dan juga orang - orang yang baru. Dan namanya yang baru.

### ### ###

.

.

.

Chen melepaskan ciuman hangatnya memegang pipi Xiumin dan menatapnya. Mereka mengatur nafas mereka yang sedikit terengah - engah. Menikmati nafas hangat mereka masing - masing.

"Menikahlah denganku. Hiduplah bersamaku selamanya" Dengan tegas Chen meminta Xiumin. Xiumin tidak bisa berkata apapun ia hanya berkaca - kaca. Menahan tangisnya. Entahlah. Ia bahagia, sedih dan bersyukur.

"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang" Chen melepaskan sebuah cincin di jari kelingkingnya dan memberikannya kepada Xiumin.

"Jika kau setuju maka kenakan cincin ini. Aku akan menunggu" Chen mengusap bibir Xiumin dengan ibu jarinya dan tersenyum. Ia berpamitan untuk menumpang tidur dan menuju sofa di sana. Xiumin hanya menatap cincin yang berada di telapak tangannya dan menggenggamnya menatap Chen yang sudah akan tertidur di sofa.

.

.

.

.

Kyungsoo membulatkan matanya dan juga bibirnya sedikit terbuka terkejut. Begitu pula Kai yang mengantarnya pulang dan Kyungsoo meminta Kai untuk sarapan bersama. Ia baru saja sampai dan di dalam apartement Xiumin sudah sangat ramai. Kyungsoo memilih menginap di perpustakaan karena semalaman badai dan seluruh jalan di tutup.

Kini Ia melihat Tao dengan kaos tipis yang ia kenakan kemarin sore sebelum ia pergi dan Kris di sampingnya. Lalu di sebelahnya ada Baekhyun dengan pakaian yang kemarin dan juga Chanyeol. Di seberang bangku mereka terdapat Luhan dengan baju yang kemarin juga dan di sebelahnya ada Sehun. Lalu di sebelah Luhan ada Xiumin yang memakai baju rumahnya dan juga Chen yang hanya menggunakan handuk. Mereka saling menatap satu sama lain.

"Baik aku dulu" Xiumin menyesap cokelat hangatnya.

"Nona Xi kemana kau semalaman?" Semua orang menoleh kepada Luhan dan Sehun.

"Menginap di rumah Sehun. Bagaimana denganmu Nona Byun?" Dengan ekspresi datarnya dan dengan santainya Luhan menanggapi Xiumin dan ia bertanya kepada Baekhyun.

"Aku bersama calon suamiku. Lalu bagaimana dengamu Nona Kim? Kenapa Chen bisa ada disini?" Baekhyun melipat tangannya di depan dadanya dan menyandarkan badannya ke belakang. Sedangkan Chanyeol hanya mengusap tengkuknya entah ia harus senang atau berekspresi apa karena Baekhyun menyebutnya 'calon suami'.

"Aku kehujanan menunggu Kai menjemputku dan aku ingat tempat terdekat berteduh adalah disini. Bajuku basah dan disini tidak ada baju pria" Dengan santai Chen menyesap cokelat hangat buatan Xiumin.

"Aku menginap di seberang dan melakukan Sex!" Dengan girang Tao bercerita dan merangkul lengan Kris. Sedangkan semua orang di sana menatap horor Kris dan Tao bergantian.

Mereka tersadar ketika Kai menompang tubuh Kyungsoo dan ia memanggil nama Kyungsoo. Ia tidak sadarkan diri. Kyungsoo pingsan karena perkataan Tao. Dan seketika suasana di sana ricuh.

.

.

.

.

Setelah mereka 'sedikit menukar isi hati' mereka di apartement. Kini mereka kembali membantu Yixing dan Xiumin. Dan tidak seperti biasanya Cafe sangat ramai hari ini. Bagaimana tidak ramai jika pramusaji mereka adalah 5 wanita cantik dan sexy. Serta pakaian mereka yang bisa di bilang minim.

Tao mengenakan Tanktop berwarna hijau tosca dan juga rok mini berwarna biru muda. Sehingga kulitnya serta pahanya yang putih mulus terlihat jelas dan juga sepatu high heels tentunya.

Luhan mengenakan kaos biasa namun sangat pas di badannya sehingga mencetak jelas bentuk tubuhnya. Ia mengenakan celana pendek di atas paha dan juga high heels.

Xiumin mengenakan kaos yang biasa dan juga celana panjang ketat hanya saja kaosnya sangat tipis sehingga menampilkan pakaian dalamnya yang berwarna pink.

Kyungsoo mengenakan tanktop hitam ketat dan juga rok mini berwarna hitam. Ia sangat sexy. Dengan wajahnya yang lugu.

Baekhyun mengenakan Tanktop berwarna pink dengan pola tali di belakang punggungnya sehingga punggungnya bisa terlihat. Dan ia mengenakan rok mini berwarna merah.

Iya tentu saja bagaimana tidak banyak pengunjung hari ini jika pramusaji di Cafe ini begitu sexy dan juga ramah mereka terus tersenyum melayani pengunjung.

Tetapi berbeda dengan 5 pria yang sedang duduk sebuah meja dekat kasir di sana. Semuanya berwajah datar dan kesal. Tentu saja mereka kesal jika kekasih, atau calon kekasih mereka menggunakan pakaian minim dan dirayu oleh pria lain di depan mata mereka sendiri dan kekasih mereka atau calon kekasih mereka juga sepertinya tampak menggoda beberapa pengunjung dan kembali merayu pengunjung.

Ayolah. Mereka hanya sedikit berbincang untuk pelayanan keramahan disini. Jika tidak maka tidak akan ada pengunjung. Walaupun sebenarnya beberapa pengunjung yang datang sudah sering datang.

Semua orang menoleh ketika 5 anak laki - laki dengan serentak memanggil anggota Bunny Girls secara bersamaan.

Mereka menyebut diri mereka adalah fans dari Luhan dan kawan - kawan.

Zelo, Jung kook, Min Woo, Mark dan juga Lee Chan. Mereka adalah fans dari Baekhyun, Luhan, Kyungsoo, Xiumin dan juga Tao. Setiap hari mereka memberikan bunga, cokelat dan juga boneka. Terkadang mereka suka mengikuti Tao dan yang lainnya jika pulang. Bukannya mereka tidak mengetahuinya hanya saja menurut Luhan mereka tidak melakukan sesuatu yang berlebihan.

Mereka memasuki Cafe dengan wajah bersinar. Dan menghampiri Tao dan yang lainnya. Mereka memberikan mawar merah dan seluruh pengunjung di sana menjadi ricuh mereka menerialkan kata - kata 'terima'.

Luhan tersenyum kepada Jungkook dan menerima bunga yang di berikan. Begitu juga yang lainnya. Baekhyun mengecup pipi kiri Zelo dan memberikan wink kepada Zelo. Ohh.. Bisakah kalian bayangkan bagaimana perasaan Zelo sekarang. Ia senang bukan main.

Tetapi tidak dengan Kris dan yang lainnya. Mereka tertegun dan terkejut. Tidak! Kekasih mereka mengecup pria lain di depan mata mereka. Jika saja ini adalah komik. Kalian bisa melihat wajah konyol Sehun dan yang lainnya.

"Noona kalian sedang sibuk? Bolehkah kami membantu?" Mark menawarkan diri untuk membantu. Minseok menatap yang lainnya lalu ia tersenyum.

Mark dan Lee Chan membantu mencuci gelas dan piring di dapur. Zelo dan Jungkook membantu mengantarkan pesanan ke beberapa meja dan membantu membersihkan meja dan juga lantai yang kotor.

Sedangkan Minwoo dengan senyumnya yang manis membantu Baekhyun menerima pesanan. Sehingga Xiumin bisa membantu Yixing di dapur.

"Eonnie aku tidak menduga selain mereka muda mereka juga cepat tanggap" Kyungsoo menatap Minwoo yang sedang melayani beberapa pengunjung dan senyumnya tidak pernah lepas. Kyungsoo menatap berbinar Minwoo yang terlihat tampan dan manis dengan apron yang di gunakannya.

"Kau benar! Tidak seperti beberapa pria yang hanya bisa duduk dan tidak peduli dengan kita yang sedang sibuk" Luhan melirik kesal ke meja Sehun yang tersedak dengan minumannya dan Luhan berlalu begitu saja kembali kepada tugasnya.

.

.

.

.

Malampun datang. Setelah selesai dengan pekerjaan mereka yang cukup melelahkan mereka duduk di meja bundar di sana. Kyungsoo membawakan 11 gelas minuman dan juga beberapa Roti manis. Mereka duduk bersama dan melepas lelah mereka.

Yixing sungguh berterima kasih kepada lima pemuda yang mau membantu mereka tadi.

"Apa kalian mau kerja part time disini?" Yixing menawarkan pekerjaan kepada Lee Chan dan yang lainnya.

Tentu saja mereka mau bagaimana tidak jika kalian bisa bersama sama dengan wanita yang kalian kagumi. Dan bisa menatap mereka sepanjang hari.

Dan Yixing akan memberikan bayaran yang lumayan besar bagi anak muda seperti mereka.

"Tentu saja aku akan menabung untuk menikah dengan Tao Noona." Lee Chan mengucapkan dengan lantang dan percaya diri. Ia menggenggam tangan Tao dan menatapnya. "Noona menikahlah denganku. Aku mohon" Lee Chan secara resmi meminta Tao menikah dengannya.

Begitu pula dengan Zelo dan Baekhyun. Jungkook dengan Luhan. Minwoo dengan Kyungsoo. Dan Mark dengan Xiumin. Semuanya terkejut dan hanya bisa tersenyum.

Mereka tersentak ketika Kris dan yang lainnya datang dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.

"Kalian siapa?" Jungkook bertanya dengan polos.

"Kami kekasih mereka" dengan tegas Chen menjawab. Dan dengan serentak Minwoo dan kawan - kawan menatap pujaan hati mereka dengan tatapan menuntut jawaban.

"Bukan!" Dengan serentak Tao dan yang lainnya menjawab.

Chanyeol dan yang lainnya hanya menatap protes para gadis.

"Bagaimana kalau kita bertanding?!" Zelo menantang Chanyeol dan yang lainnya.

"Hei bocah! Kau kira kalian bisa menang dari kami?" Kris kembali menantang. Sedangkan para wanita hanya menatap datar ke 10 namja yang ada di hadapan mereka.

Baekhyun menghela nafasnya. "Dasar pria. Memangnya kami boneka?" Baekhyun pergi bersiap pulang. Sedangkan Xiumin hanya tersenyum canggung dan menyusul Baekhyun pergi di ikuti dengan yang lainnya. Yixing hanya menyemangati para pria yang berdiri saling menatap.

.

.

.

.

Sejak di Cafe menerima Mark dan yang lainnya pengunjung Cafe semakin ramai bukan hanya pengunjung pria namun para wanita muda juga sering berkunjung. Mungkin wajah mereka terbilang tampan dan seperti Idol. Kyungsoo memegang sebuah tongkat pembersih lantai. Namun bukannya ia membersihkan lantai ia menopang wajahnya dan menatap Winwoo yang sedang melayani anak sekolah dan tersenyum manis.

Xiumin menghampiri Kyungsoo dan menatap Kyungsoo dan arah pandangnya. Xiumin tersenyum.

"Minwoo manis sekali". Xiumin memuji Minwoo. Kyungsoo mengenggukkan kepalanya. "Iya dia memang manis dan typeku" Sedetik kemudian Kyungsoo tersadar dan menoleh protes dengan Xiumin.

Zelo membantu Baekhyun menata beberapa roti di sebuah pendisplay makanan. Dan mereka bercanda bersama.

Lee Chan dan Tao mereka membersihkan kaca dan beberapa meja bersama. Sesekali Lee Chan melirik Tao yang menurutnya sexy jika di lihat dari manapun.

Mark dan Xiumin membantu Yixing membuat beberapa roti dan kue.

Sedangkan Jungkook sedang memandangi Luhan yang sedang menyiram beberapa Bunga. Baginya Luhan adalah Noona paling indah ia benar - benar seperti seorang dewi.

Semuanya menoleh ketika ada suara bel yang keras bertanda seseorang membuka pintu dengan keras. Semuanya mematung ketika melihat Kris, Chanyeol, Chen, Sehun dan Kai berpakaian layaknya anak SMA.

Sungguh mereka tidak pantas sama sekali. Mungkin Kai dan Sehun masih bisa di toleransi karena mereka memang masih seumuran anak SMA tidak dengan Kris, Chanyeol, dan Chen.

Mereka bertiga terlihat aneh. Baekhyun hanya menatap datar ketiganya. Dan berlalu. Xiumin mencoba menahan tawanya. Namun gagal, ia tertawa melihat penampilan Chen dan memegang perutnya yang sedikit sakit. Tao menghampiri ketiganya lebih tepatnya berdiri di hadapan Kris. Ia mengamati dari atas hingga bawah mengelilingi Kris.

Tao menyentuh telinga Kris dan menjempitnya dengan jari telunjuk dan jempolnya, menarik telinga Kris ke atas dan membawanya kebelakang Cafe. Kris hanya bisa menahan sakit akibat tarikan di telinganya.

Baekhyun kembali kehadapan Chanyeol ia membawa apron dan juga sebuah kain. Ia memberikannya kepada Chanyeol. Dengan bingung Chanyeol menerimanya. Tanpa berkata - kata ia menunjukkan jarinya ke lantai dan juga jendela lalu tersenyum sebentar dan pergi lagi.

Sedangkan Chanyeol hanya menatap dirinya sendiri dan menghela nafas. Xiumin berdiri ke hadapan Chen dan ia mengusap matanya sesekali karena air mata yang keluar akibat ia tertawa. Ia menepuk pundak Chen.

"Lebih baik kau seperti biasa. Dan tolong bantu Mark mengeringkan piring dan gelas di dapur" Xiumin tersenyum lalu menepuk pundak Chen beberapa kali dan kembali ke dapur. Chen hanya menundukkan kepalanya lemas.

.

.

.

.

Tao sangat marah. Kenapa bisa Kris berpakaian seperti anak SMA padahal ia sudah bukan 'Remaja' lagi. Ia menatap Kris mengintimidasi. Ia menghela nafasnya dan tidak bisa berkata apa - apa. Ia memegang kepalanya sakit.

Ia sudah memperbaiki penampilan Kris beberapa bulan lalu dan sekarang ia merusaknya lagi. Ia kesal sungguh kesal.

"Kau kenapa marah?" Tao berhenti melakukan kegiatan mari berjalan berbolak - balik dan menatap tajam Kris.

Tao bersandar pada tembok yang berada di belakangnya melipat tangannya di dadanya.

Padahal Kris adalah orang dengan peringkat kepintaran luar biasa menurut data yang ia baca. Dan ia sekarang dengan 'polosnya' bertanya mengapa ia marah.

"Sudahlah lupakan! lagi pula aku juga bukan kekasihmu!" Tao beranjak pergi hingga ia di tarik oleh Kris dan ia di kunci di antara tembok dan juga badan Kris.

Kini Kris menatap Tao dalam dan sepertinya ia sedikit marah.

"Setelah kita melakukannya kau bilang kita bukan pasangan?"Kris terdengar marah dan Tao menoleh ke arah samping.

Kris bukanlah pria yang hanya bermain - main dengan wanita lalu pergi tidur dengannya dan meninggalkanya.

"Menikahlah denganku" Tao membulatkan matanya terkejut dan menoleh kepada Kris. Tanpa persiapan Kris mencumbu Tao dalam dan penuh cinta. Tao bisa merasakannya. Jantungnya berdegub keras dan ia membalas ciuman Kris.

.

.

Kyungsoo membulatkan matanya tanpa berkedip. Ia dan Luhan sedang membuang plastik sampah ke samping bangunan Cafe dan yang mereka lihat sekarang adalah pemandangan Tao sedang bercumbu mesra dengan Kris.

Luhan dengan sengaja melemparkan kantung yang ia bawa dan menghasilkan bunyi benda jatuh dengan sangat keras. Ia menahan tawanya. Tao dan Kris menghentikan kegiatannya dan dengan canggung Tao sedikit mendorong tubuh Kris menjauh.

"Jika kalian ingin melanjutkannya, lakukanlah nanti malam ketika pulang. Kembali bekerja sana!" Dengan kejam Luhan mengataknnya dan melipat tangannya di dada.

Tao memutar bola matanya kesal dan berjalan melewati Luhan dan Kyungsoo dengan menghentakkan kakinya kesal. Sedangkan Kris mengusap tengkuknya dan berjalan menyusul Tao.

"Eonnie~" Kyungsoo memprotes kelakuan Luhan. Namun Luhan tertawa dengan lantang.

.

.

Kai mencoba membantu Kyungsoo yang sedang melipat kertas tissue untuk pengunjung sesekali ia melirik Kyungsoo yang sesekali memperhatikan Minwoo yang sedang mengeringkan beberapa tray yang basah. Dan sesekali Kyungsoo tersenyum ketika Minwoo tersenyum.

Dan mengetahui hal itu Kai memasang wajah tidak sukanya kepada Minwoo. Minwoo datang dan membawakan segelas air putih es untuk Kyungsoo. Dengan imut Kyungsoo meminumnya dan menatap Minwoo yang kembali menuju meja kasirnya. Kyungsoo sambil tersenyum.

"Minwoo ya~ Kenapa kau sangat manis?" Minwoo tersenyum kepada pelanggan dan itu membuat Kyungsoo semakin jatuh hati.

Kai mnciba mengalihkan perhatian Kyungsoo. Ia berdehem dan pura - pura batuk tetapi tidak menarik perhatian Kyungsoo.

"Ya!" Kai mulai kesal. Kyungsoo akhirnya menoleh dan menatap Kai seolah bertanya 'apa?'. Kai tersenyum kesal.

"Noona kau tahu aku lebih manly dan juga lebih baik dari anak itu" Kai menatap Kyungsoo kesal. Sudah jelas Kyungsoo tahu bahwa Kai mengajaknya berkencan. Tetapi ia malah melihat pria lain dan memuji di depannya.

"Ohh benarkah?" Kyungsoo menjawab dengan polos dan menatap Kai dengan wajah tanpa dosanya.

Kai mengacak rambutnya kesal. Apa yang harus ia perbuat?

"Jika kau yakin bisa mendapatkanku kenapa kau harus khawatir dengan pria lain yang berada di sisiku? Lagi pula sifatnya sangat dewasa dan mengerti diriku" Kyungsoo berdiri dan menepuk pundak Kai beberapa kali. Ia pergi meninggalkan Kai yang sedang berperang dengan hatinya.

.

.

.

.

Seharian mereka melayani pengunjung yang datang. Dan seperti biasa mereka sedang beristirahat. Beberapa orang dari mereka sedang sedikit sibuk merapikan Cafe. Luhan sedang menghitung pemasukan dan mempersiapkan biaya untuk pembelanjaan besok.

Suara Bel pintu mereka berbunyi, mereka sudah memasang tanda tutup tetapi mereka belum mengunci pintu. Seorang wanita masuk dan berdiri di hadapan Luhan.

"Maaf kami sudah tutup" Dengan lembut Luhan menolak pengunjung tersebut dan ia belum melihat pengunjung tersebut sama sekali.

Ia sedikit terisak. Dan Luhan menegakkan kepalanya. Yang Luhan lihat wanita ini cantik dan juga imut namum ia seperti habis menangis matanya memerah dan ia mencoba menahan air matanya.

"Bisakah aku bertemu dengan Bunny Girls?" Luhan menatapnya sedih. Ia menatap Xiumin yang baru saja datang dari dapur mereka berbicara lewat tatapan mata mereka.

Luhan tersenyum. "Tunggulah di meja sebelah sana kami akan kesana 10 menit lagi" Luhan berujar lembut dan menyentuh tangan wanita tersebut mengusapnya lembut.

Setelah Mark dan yang lainnya pulang, mereka menutup Cafe mereka dan duduk di satu meja bersama wanita yang sekarang menangis lagi.

Namanya adalah Bang Min Ah. Ia mempunyai kekasih bernama Jangn Hyun Seung. Seperti biasa Tao mencari profile 'korban' mereka.

"Kami sudah berkencan selama 2tahun.. Dan kemarin aku melihatnya bersama wanita lain masuk ke dalam rumahnya.. Aku mengikutinya dan mereka..." Min Ah kembali menangis dan ia terisak pilu. Kyungsoo juga ikut menangis. Kisahnya sama seperti ia dulu.

Xiumin menenangkan Min Ah. Dan Tao menenangkan Kyungsoo. Min Ah melihat Kai dan yang lainnya duduk tidak jauh dari mereka. Baekhyun melihat arah pandang Min Ah.

"Tenang saja mereka bisa di percaya Min Ah-ssi" Baekhyun mengetahui isi pikiran Min Ah. Ia mencoba meyakinkan Min Ah.

Setelah mereka berbincang cukup lama. Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan misi mereka beberapa hari lagi. Karena ada beberapa dari mereka masih harus mengerjakan tugas mereka.

Luhan dan Baekhyun mengantarkan Min Ah yang hendak pulang hingga pintu Cafe. Dan Luhan terus menatapnya hingga punggungnya jauh tidak terlihat.

"Ada apa? Kenapa kau diam saja?" Baekyun menatap curiga Luhan. Biasanya jika sudah membahas misi Luhanlah yang paling antusias. Tetapi sedari tadi ia diam saja. Tanpa menjawab perkataan Baekhyun, Luhan memasuki kembali Cafe dan meninggalkan Baekhyun yang melihat sebentar jalanan yang di lewati Min Ah tadi. Dan ia mengangkat bahunya lalu menyusul masuk.

.

.

.

.

TBC

Note:: Terima kasih buat reader yang udah mau meluangkan waktu untuk baca FF ku ini.. Dan mau Review.. Terima kasih juga untuk reader yang follow atau favorite FF atau Akunku.. ^^

Dan terima kasih untuk reader yang mau kasih masukkan sama aku.. Kalau kuang detail aku akan coba untuk perjelas lagi situasi atau kondisinya.

Bagi reader baru dimohon untuk membaca dari awal agar mengerti ceritanya walaupun di chapter sebelumnya cara penulisanku masih banyak kekurangannya.. Banyak yang bilang Kak Couple ini tambahin donk yang ini kurang.. Aku akan coba seadil mungkin kok sama couple yang lainnya.. ^^ Oke?

Gomawo untuk kritik saran dan masukkannya. Tetap baca karyaku ya.. *Bow*

Thanks To::

/ Maya Aprilya /fakkpark/ chenma / misslah / Lovesoo / narsih556 / Arifahohse / rizka 0419 / Aiko Vallery / Nkhaairunnisa / LVenge / exindira / Vampire DPS / Meli channie / viola sandra / ruixi1 / NopwillineKaiSoo / fuckyeahSeKaiYeol / mrsbunnybyun / Rahma993 / Firdha 858 / Yeun / AmeChan95 / Linkz account / Houran Wu / Rly C Jaekyu / The Darkness Queen /

14/06/2016