Title :: Playboy Trap
Cast :: Chan Baek
HunHan
Kaisoo
Taoris
Chenmin
Sulay
Cameo :: Jang Hyung Seung (EX BEAST)
Son DongWoon (BEAST)
Choi Seung Hyun (T.O.P)
Jeong Ji Hoon (RAIN)
Kim Jong Hyun (SHINee)
Genre :: Romance, Hurt, Humor(Little bit), Yadong (Maybe) GS
Rated :: M ( jaga – jaga jika author lagi kumat) XD
Disclamer::Chanyeol itu suami saya.
EXO Member is MINE (Di kejar - kejar EXO-LXD)
This story is mine..
Summary:: Sekumpulan Yeoja yang merasakan sakit hati terhadap pria masa lalu mereka, yang telah mempermainkan hati dan perasaan cinta tulus mereka. . Mereka membantu para yeoja yang bernasib sama seperti mereka terhadap Namja – namja Playboy. Namun apa yang terjadi jika mereka bertemu dengan Namja yang tulus mencintai mereka? Akankah mereka percaya?
.
.
.
.
#Chapter 12#
.
.
.
.
Luhan hanya menatap Sehun datar di hadapannya. Sudah satu jam mereka di sini namun mereka tidak bicara atau melakukan apapun hanya saling menatap. Setelah Luhan di tarik paksa oleh Sehun ia di bawa menuju rumah Sehun.
"Jika tidak ada urusan maka aku akan pergi" Luhan beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan. Menuju pintu, namun Sehun menarik tangannya dan memeluknya.
"Aku mohon Noona. Jadilah kekasihku" Sehun mengeratkan pelukkannya kepada Luhan. Ia sungguh mencintai Luhan. Sejak pertama ia bertemu dengan Luhan saat masih kecil ia mulai menyukai Luhan.
Senyumnya dan tawanya ia selalu mengingatnya. Bagaimana sifat dewasanya yang selalu melindunginya. Bahkan saat Sehun menangis karena kejahilan teman - temannya Luhanlah yang membantunya memarahi temannya dan melaporkannya kepada guru mereka.
"Sehun" Luhan memanggil dengan lembut. Sehun melepaskan pelukkannya dan menatap Luhan.
"Aku... Entahlah" Luhan ragu dengan apa yang akan di ucapkannya. Ia sendiri masih bingung dan sulit untuk memastikannya. Sehun menatapnya tajam dan tanpa ragu Sehun mencium Luhan. Ia kembali memeluk Luhan dan menciumnya. Luhan hanya memejamkan matanya ia tidak membalas ciuman Sehun.
Sehun dengan sengaja meremas payudara Luhan hingga ia mendesah dan membuka bibirnya. Sehun mencumbu Luhan dengan sedikit kasar dan tangannya bermain - main dengan tubuh Luhan. Sehun memasukkan tangannya dalam baju Luhan dan meremas payudara Luhan. Sehun hampir membuka seluruh pakaian Luhan. Dalam lubuk hati Luhan berteriak ini tidak benar. Ia takut dengan Sehun yang sekarang ada di depannya.
Luhan mendorong tubuh Sehun dengan tenaganya. dan memukul wajah Sehun. Pipi Sehun terasa panas. Luhan memukulnya untuk yang pertama kalinya. Hati Luhan bergetar takut, marah, sedih dan tanpa ijin Luhan air matanya mengalir. Ia terisak menangis. Tubuhnya jatuh terduduk di lantai.
Sehun hanya mematung di sana. Ia membuat Luhan menangis. Ia marah pada dirinya sendiri atas tindakannya tadi. Ia mengacak rambutnya sendiri.
Luhan beranjak dari duduknya ia menghapus air matanya dan membenarkan sedikit penampilannya. Ia pergi dari sana. Dan Sehun tidak mencegahnya, ia hanya memandangi punggung Luhan yang menghilang di balik pintu.
Untuk yang pertama kalinya Sehun menangis ia sungguh menyesali perbuatannya.
.
.
.
.
Hari ini Kyungsoo mendesah kesal setelah tadi Luhan di bawa paksa oleh Sehun. Ia harus menutup Cafe sendiri dan sekarang ia sedikit kesulitan salahkan tubuhnya yang terbilang mungil. Ia tidak bisa memasukkan kunci pintu kacanya pada bagian atas. Ia melompat - lompat agar bisa mencapainya, hingga sebuah tangan menggenggam tangannya. Ia menjerit takut. Ini tengah malam dan ada sebuah tangan yang menggenggam tangannya. Ia benar - benar takut. Ia tetap menghadap pintu kaca dan menunduk takut. Mengatakan kalimat 'aku mohon pergilah jangan ganggu aku'. Dan terus bergumam.
Hingga sebuah suara menyadarkannya, bahwa ia tidak melihat hantu atau apapun. Ini suara yang sangat ia kenal. Ia dengan segera membalikkan tubuhnya dan ini adalah kedua kalinya ia melihat dada bidang yang sama di hadapannya. Ia menegakkan kepalanya dan melihat Kai yang sedang tersenyum.
"Butuh pertolongan?" Kai mengunci pintu dan memberikkan Kyungsoo kuncinya. Kyungsoo memasukkan kuncinya kedalam tas. Dan ia mengucapkan terima kasih dan melihat wajah Kai yang dekat dengannya.
Kyungsoo baru menyadarinya. Wajah tegas Kai, matanya yang tajam namun terdapat kelembutan di dalamnya. Bibirnya yang menurut Kyungsoo sexy dan menggoda.
Kyungsoo dan Kai saling bertatap wajah. Entah siapa yang memulainya sekarang Kai sedang mengecup bibir penuh Kyungsoo dan Kyungsoo tidak menolak atau melakukan apapun. Kyungsoo hanya menutup matanya dan meremas tali tasnya. Jantungnya berdegub dengan keras benar - benar keras mungkin ia akan terkena serangan jantung.
Sekarang ia merasakan Kai memegang dagunya dan mempersempit jarak mereka, tubuh mereka bersentuhan dan Kai mulai mencumbu Kyungsoo. Kyungsoo mengangkat kepalanya dan mulai membalas ciuman mesra Kai. Tanpa sadar ia memeluk leher Kai, dan Kai memeluk pinggang Kyungsoo.
Kyungsoo bisa merasakannya perasaan Kai terhadapnya. Lewat ciuman ini benar - benar terlihat jelas. Tidak ada gairah di dalamnya hanya kelembutan dan perasaan cinta.
Kai melepaskan ciumannya. Ia menayap mata Kyungsoo dalam. Dan matanya memancarkan tanda tanya besar untuk Kyungsoo.
"Kenapa kau membalasnya?" Kai masih menatap Kyungsoo. Ia tidak menjawab. Dengan cepat Kyungsoo kembali mencium Kai. Kai terkejut dan otaknya tidak dapat berfikir. Ia kembali memejamkan matanya dan kembali mencium Kyungsoo.
Kyungsoo dan Kai melepaskan ciumannya ketika ia mendengar suara isak tangis. Ia terkejut ketika menemukan Luhan yang terduduk di bawah dan terisak memegang dadanya. Kyungsoo mencoba bertanya namun Luhan hanya terus menangis. Ia memeluknya menenangkan.
Kai hanya melihat Luhan yang diam dan Kyungsoo yang terus memeluk Luhan dan mengusap rambutnya menenangkan. Ia tersenyum mengingat Sehun. Ia pasti telah berbuat sesuatu kepada Luhan dan ia hanya tersenyum.
Setelah Kai mengantarkan Luhan dan Kyungsoo pulang. Ia segera menuju suatu tempat. Tempat dimana ia seseorang telah berbuat masalah hari ini.
.
.
.
.
Mereka semua berkumpul bersama hening dan tidak ada yang bicara. Suasana canggung dan tegang tergambar dengan jelas di antara mereka. Baekhyun merasa bosan ia meneggakkan badannya.
"Bicaralah" Baekhyun sedikit kesal dan berteriak. Ia tidak mau membuang waktunya begitu saja. Bahkan setelah ia bicara tidak ada satupun di antara mereka yang bicara ia hendak pergi.
"kami mohon hentikkan kasus kalian kali ini" Baekhyun membeku di tempat ketika Chen mengeluarkan suaranya.
Luhan dan Xiumin menghela nafasnya.
"Ini yang aku tidak suka" Tao melemparkan rambutnya yang panjang ke belakang. Ketika pria memasuki dunia wanita maka mereka akan mulai memaksa apa yang tidak pria sukai kepada wanita mereka.
"Kami tidak melarang kalian. Hanya kali ini saja" Chanyeol memohon mentap Baekhyun dalam, penuh arti.
"1 alasan. Berikan aku satu alasan" Xiumin melipat tangannya di depan dadanya dan menatap ke lima pria yang berada di depannya.
Mereka diam saling menatap satu sama lain.
"Sampai kapan kalian akan melakukannya?"
Kini para wanita tidak bisa berkata apa - apa. Mereka tersentak dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Kris.
Benar mereka tidak bisa melakukan hal ini terus. Ada waktunya mereka harus berhenti.
"Kami tidak bisa berhenti sekarang. Sudah satu minggu ini kami melakukan pengintaian tanpa sepengetahuan kalian. Dan kami sudah menentukan tanggal eksekusinya" Luhan memijat pelan pelipisnya.
Sehun memandang Luhan sedih ia tidak bisa berkata apa - apa. Inilah hukuman untuknya ia yang melakukan kesalahan.
"Aku rasa pembicaraan kita selesai. Kali ini aku yang akan melakukan eksekusinya." Luhan bangkit dan meninggalkan teman - temannya ia butuh menenangkan dirinya.
"apa? Luhan jie akan melakukannya?" Tao terkejut matanya membulat dan ia saling memandang dengan Baekhyun yang juga berekspresi sama sepertinya.
.
.
.
.
"Setidaknya kita harus melakukan sesuatu" Chanyeol entah mengapa merasa sangat gusar. Ia berkeringat dan kepalanya sedikit pusing memikirkan Baekhyun dan yang lainnya.
Chen meletakkan ponselnya di atas meja. Ia mendesah lelah diantara semuanya Chen lah yang paling dekat dengan Luhan dan yang lainnya sudah bertahun - tahun mereka berteman dan Chen sangat mengetahui bagaimana sifat mereka masing - masing.
"Mereka sudah menatapkan tanggalnya kita tidak bisa berbuat apa - apa" Chen memengang kepalanya dengan dua tangannya.
"Kita bisa" Kris tersenyum berarti.
.
.
.
.
Luhan sudah bersiap hari ini adalah hari dimana ia akan bertemu 'tersangka' mereka. Baekhyun terlihat sangat resah.
"Luhan Jie biarkan aku saja yang melakukannya" Baekhyun mencoba membujuk Luhan entah mengapa Baekhyun merasa Luhan mengambil keputusan dengan jiwa yang sedang emosi.
Luhan hanya tersenyum dan memegang pundak Baekhyun meyakinkan.
"Ayo kita pergi. Kalian cukup mengawasi. Apa kau sudah menghubungi Min Ah?" Luhan memakai sepatu tingginya.
"Sudah katanya ia akan menyusul nanti. Ia sedang ada tugas kuliah dan juga beberapa tes" Tao baru saja menutup sambungan teleponnya.
Dan mereka berangkat menuju sebuah Klub malam.
Luhan duduk sendirian mengawasi setiap orang yang berlalu di hadapannya dan banyaknya pria yang mencoba mendekatinya dan mengajaknya kencan namun ia selalu menolaknya.
Ia masih bisa melihat Tao dan yang lainnya berpencar di sana. Dan menikmati alunan musik di sana. Ia meminum minumannya.
Ia sedikit terkejut ketika seorang pria dengan rambut berwarna silver, berbadan ideal, mengenakan kemeja yang tidak di kancingkan dengan rapi dan juga jas berwarna biru tua memandangnya kagum.
"Bolehkah aku bergabung nona?" Ia mengangkat gelas berisi red winenya dan juga botol yang di genggamnya.
Luhan tersenyum. "Tentu".
Sang pria duduk di samping Luhan. Dan menanyakan namanya. Ia membelai rambut Luhan dengan lembut. Mereka sedikit berbincang dan minum bersama.
"Jadi Hyunseung-ssi kau belum punya kekasih?" Luhan mencoba memancing Hyunseung. Agar semua pembicaraan mereka juga terdengar dan di rekam oleh yang lainnya.
"Kekasih?" Ia tersenyum.
"Aku punya banyak. Kau mau jadi salah satu dari mereka?"
"Aku jarang menemukan pria jujur seperti dirimu. Jika aku menjadi salah satu dari mereka apa yang akan kau berikan kepadaku?" Luhan bersandar kepada dada Hyunseung dan memainkan jari - jarinya di sana.
Hyunseung meminum winenya dan tersenyum kembali.
"Aku bisa memuaskanmu di ranjang. Aku yakin kau tidak butuh uang atau tas dan baju mahal. Karena kau sudah memilikinya" Hyunseung melirik tas yang di bawa Luhan yang berada di atas meja.
Luhan tertawa. "Kau benar. Tapi satu hal. Aku tidak bisa memuaskan seorang pria" Luhan menegakkan tubuhnya dan menatap Hyunseung menggoda.
Hyunseung tertawa. "Tidak mungkin. Kau belum pernah melakukannya?" Dan ia menepuk telapak tangannya. Ia menatap Luhan tidak percaya.
"Kau serius?" Hyunseung meyakinkan dirinya sendiri.
Luhan hanya tersenyum berarti.
"Kalau begitu kau bertemu dengan orang yang tepat yaitu aku" Hyunseung membelai pipi Luhan lalu turun menuju lehernya dan menyentuh bagian atas dadanya yang tidak tertutupi sehelai benang pun.
Tanpa berbicara apapun Hyunseung mencium Luhan dan mencumbunya dengan penuh gairah. Luhan hanya mengikuti alur permainannya. Mereka bersandar pada sofa yang mereka duduki. Hyunseung membelai leher dan pundak mulus Luhan. Ia terus mencumbu Luhan. Ia kembali membelai Luhan dan mencoba membuainya..
Hyunseung meremas buah dada Luhan di luar pakaiannya. Luhan mendesah tertahan. Hyunseung terus melakukannya. Ia menurunkan cumbuannya menuju leher Luhan. Dan dengan bebas Luhan mendesah penuh gairah.
Tidak ini gawat Hyunseung adalah player sejati. Dan ia mulai terjebak. Entah mengapa tubuhnya terasa begitu panas dan bergairah sekarang. Seluruh tubuhnya seakan tidak bisa di gerakkan. Apa yang terjadi dengannya. Ia harus memanggil Tao atau Baekhyun. Ia butuh penyelamatnya.
Hyunseung kembali mencumbu Luhan. Dan ia sudah memasukkan tangannya di balik rok mini Luhan. Menyentuh daerah pribadinya di sana dan bermain - main di sana. Luhan hanya terus mendesah dan mendesah ia meletakkan kepalanya di pundak Hyunseung ia sungguh lemas. Dan juga ini sungguh nikmat.
Ia tidak bisa berbuat apa - apa yang kini ia rasakan Hyunseung sudah memainkan lidahnya di atas payudaranya.
Luhan sudah tidak bisa berpikir kepalanya pusing. Dan ia seperti sulit bernafas. Karena ia sedang sibuk mendesah. Dan ia mendesah panjang ketika ia mencapai puncak dari dirinya memeluk erat Hyunseung. Ini gila sungguh gila di ruangan terbuka seperti ini Hyunseung bisa membuatnya mencapai kenikmatan seperti ini dan ia hanya menggunakan kedua jarinya dan itu ia lakukan di luar pakaiannya.
Hyunseung berdecak kagum. "Kau sungguh luar biasa Luhan. Bagaimana jika kita melanjutkannya? Aku sudah memesan kamar." Belum sempat Luhan menjawab pandangannya memudar dan beberapa detik kemudian ia tertidur.
.
.
.
.
"Kau sudah menemukan mereka?" Kai bertanya kepada Kris ia baru saja dari kantor polisi meminta bantuan Yuri.
Mereka berada di sebuah Cafe untuk melakukan rencana mereka. Mengikuti Luhan dan yang lainnya untuk membantu mereka jika terjadi sesuatu dengan mereka.
"Belum tetapi teman - temanku sedang mencari mereka. Dan kita harus menunggu kabar mereka" Kris meminum air dingin yang di bawanya. Ia lelah berlari kesana kemari dan menelpon setiap teman yang satu profesi dengannya.
Kini mereka hanya bisa duduk dan menunggu.
Chanyeol memperhatikan seorang wanita yang sedang berjalan memasuki Cafe di mana mereka berada. Ia merasa tidak asing dengan wanita tersebut. Ia memasuki Cafe dan ia duduk di meja sebelah Chanyeol dan yang lainnya. Berabung dengan ketiga wanita yang sedari tadi sudah berada di sana.
"Kalian sudah lama?" Wanita yang baru saja datang bertanya kepada ketiga temannya.
"Tidak begitu lama" Salah satu temannya menjawab.
Ia mendesah.
"Mereka benar - benar melakukannya dan aku benar - benar di bayar 3juta won. Aku rasa mereka benar - benar kaya raya."
"Benarkah?"
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya di minta berakting di depan Bunny Girls dan mereka membayarku"
Mereka berbincang satu sama lain tanpa mereka sadari Chen dan yang lainnya mengamati pembicaraan mereka. Dan Sehun naik pitam ketika ia mendengar semuanya.
Ia menghampiri meja tersebut dan menarik tangan wanita yang ia kenal.
"Hai. Min Ah-ssi lama tak berjumpa" Sehun menyapa wanita yang ada di hadapannya dengan kasar. Dan suasana di sana menjadi sangat tegang sekarang.
"Jawab pertanyaanku! Dimana mereka sekarang?!" Kai memukul meja dan menatap marah Min Ah yang sekarang sedang menunduk takut dan sedikit menangis.
Dengan memberanikan diri ia menatap kelima pria yang sekarang menuntut jawaban darinya.
"Aku tidak tahu banyak hal. Mereka hanya memintaku meminta bantuan kepada Bunny Girls dan tugasku selesai" Ia menunduk takut dan menangis.
"Kau di ancam mereka? Aku bisa memberikanmu uang yang lebih banyak jika kau mau. Bahkan aku bisa memberikanmu 10juta won sekarang juga" Chanyeol meletakkan tangannya di meja dan menatap marah.
.
.
.
.
Luhan melenguh dan ia membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah teman - temannya di ikat di sebuah kursi di hadapan mereka. Dan ia tersadar. Ia juga sama seperti teman - temannya. Ia juga terikat di sebuah kursi. Ia mencoba melepaskan dirinya tetapi ia tidak bisa. Tangannya terikat bagitu pula dengan kakinya.
"Kau sudah sadar manis?" Ia menoleh dan terkejut ketika ia mendengar suara pria yang tidak asing baginya. Dan Hyunseung berada di hadapannya. Menghampirinya dan mengecup bibirnya.
"Apa yang kau lakukan?" Luhan menatap marah Hyunseung dan benci.
"Sayang, kita akan melakukan sex selama 3jam dan aku tidak akan pernah bosan denganmu. Aku rasa kita bisa melanjutkan yang tadi." Hyunseung kembali mengecup leher Luhan.
"Kau menjijikan" Luhan menatap marah dan benci Hyunseung yang menatapnya penuh gairah.
Tidak lama berselang datang 4 orang namja dari belakang bangku dimana Baekhyun dan yang lainnya di ikat.
Luhan membulatkan matanya ketika melihat ke 4 namja tersebut.
"Kalian" Luhan tidak bisa berbicara apapun. Mereka adalah pria yang pernah mereka jebak. Sepertinya ini tidak baik. Apakah mereka akan melakukan balas dendam kepada Luhan dan yang lainnya.
Baekhyun dan yang lainnya mulai sadar. Baekhyun memahami situasinya dengan cepat dan mereka di culik. Ia tidak begitu terkejut ketika seorang namja yang sangat ia kenal ada di hadapannya.
"Kim Jonghyun. Lama tak berjumpa" Baekhyun menyapa pria yang berada di hadapannya dan tersenyum manis.
Sedangkan pria yang ia panggil Jonghyun hanya tersenyum meremehkan. Dengan cepat ia memegang pipi Baekhyun dan menatapnya tajam.
"Hyung bolehkah aku memperkosanya? Aku sudah lama ingin melakukannya. Dia begitu angkuh" Jonghyun berbicara kepada Hyunseung yang berada di belakangnya. Tetapi ia menatap tajam Baekhyun. Dan Baekhyun menatap tajam kembali Jonghyun.
Tao menatap pria yang ada di hadapannya. Ia tidak akan pernah lupa sampai kapanpun.
"Choi Seung Hyun!" Pria yang berada di hadapan Tao hanya tersenyum dan menyentuh leher Tao dengan kedua jarinya lalu turun menuju dada Tao.
Ia tersenyum. "Kau semakin menggoda nona manis. Lama tak berjumpa".
"Jeong Ji Hoon" Xiumin tidak akan pernah lupa dengan pria yang ada di hadapannya, dia yang telah membuat hidup Xiumin berubah 360° seperti sekarang.
Sedangkan pria yang berada di hadapannya hanya menjilat bibirnya sendiri dan menatap Xiumin.
"Oppa" Kyungsoo menangis menatap pria yang ada di hadapannya. Ia masih tidak percaya mantan tunangannya melakukan ini kepadanya.
Dongwoon menatap iba Kyungsoo. Namun ia ingin memiliki Kyungsoo ia merasakan kehilangan atas Kyungsoo dan malam ini ia akan menjadikan Kyungsoo miliknya selamanya.
.
.
Seorang wanita dengan tubuhnya yang bisa di bilang sangat perfect memasuki ruangan. Ia mengenakan mini dress dan rambutnya yang di gerai panjang membuatnya semakin terkesan sexy. Ia tersenyum.
"Apa aku ketinggalan sesuatu Luhan-ssi?" Ia memberikkan sesuatu kepada Jonghyun.
Luhan mencoba mengingat - ingat siapa wanita ini. Ia menoleh kepada Baekhyun atau Xiumin. Namun mereka menggelangkan kepala mereka.
"Kau tidak kenal aku?" Ia berjalan mengitari Luhan memegang rambutnya dan menariknya kebelakang membuat Luhan memekik sakit.
"Kau kenal Kim Daehyun?" Ia berbisik dan tersenyum puas.
Baekhyun memekik terkejut membuat suara. Ia ingat sekarang.
"Sepertinya Nona Byun ingat sekarang. Apa kalian tahu? Karena kalian ia terbunuh ketika menyelamatkan kekasih tercintanya yang mencoba bunuh diri. Itu semua karena kalian!" Sang wanita mengeluarkan sebuah pisau lipat berjalan menuju Baekhyun dan menggores sedikit kulit tangan Baekhyun. Darah segar keluar dari lengannya.
"Adikku Kim Daehyun. Ia sangat baik hati. Kalian yang membuatnya meninggal. Dan seperti yang di ketahui ketika pacarnya terjun dari jembatan sungai Han ia pergi menyelamatkannya dan mereka di temukan dalam keadaan tidak bernyawa. Bukankah itu tragis? Cinta sehidup semati" Sang wanita menggores kulit paha Luhan seperti Baekhyun. Dan ia tertawa keras.
"Kim Hyunah" Xiumin memanggil wanita tersebut.
"Ada apa? Kau mau mencoba mengatakan sesuatu?" Ia berjalan menuju Xiumin.
"Kau salah. Daehyun yang meminta bantuan kami..." Xiumin menjelaskan kepada Hyunah. Hyunah menutup pendengarannya dan ia menggores lengan atas Xiumin.
"Diam!" Hyunah sedikit histeris.
"Kalian pikir aku percaya dengan semua ucapan kalian? Dasar wanita murahan!" Hyunah memukul pipi Tao. Kini semua orang menjadi korban kemarahannya. Bahkan Kyungsoo juga mendapatkan perlakuan kasar Hyunah.
Hyunah memegang kepalanya. Dan ia tertawa lepas.
"Aku serahkan mereka kepada kalian. Terserah kalian mau berbuat apa atau melakukan apa. Hancurkan saja mereka. Bunuh saja jika perlu." Hyunah kembali tertawa dan ia menuju Hyungseung mencumbunya sebentar lalu pergi.
.
.
"Aku rasa kita harus sedikit bersenang - senang Hyung Dan kalian pasti membutuhkan ini" Jonghyun membuat semua Hyungnya tersenyum. Ia memberikan sebuah suntikan tanpa jarum.
Dengan paksa mereka memasukan alat tersebut kedalam mulut Tao dan yang lainnya dan mendorong cairan yang berada di dalamnya memasuki tenggorokkan mereka.
Dalam waktu lima menit mereka merasakan tubuh mereka panas dan dingin secara bersamaan. Dan mereka ingin di sentuh. Mata mereka sayu dan mereka merasa lemas. Hyunseung membuka ikatan kaki Luhan dan membuka lebar kali Luhan ke samping.
Ia menarik pakaian dalam Luhan. Luhan mencoba melawan pikirannya sendiri dengan lemah ia mengatakan 'tidak'. Hyunseung tentu saja tidak memperdulikannya dan ia mencumbu kembali Luhan. Bibir, leher dan payudaranya tidak lepas dari sentuhan Hyunseung.
Tidak hanya Luhan, tetapi Kyungsoo dan yang lainnya juga seperti dirinya. Mereka tidak bisa berbuat apapun. Mereka hanya bisa berharap ada seseorang yang menolong mereka.
.
.
Dongwoon menutup indra pendengarannya. Kyungsoo memohon agar Dongwoon menghentikannya. Kini Dongwoon menopang seluruh tubuhnya dengan kedua lututnya ia menaikkan rok mini Kyungsoo dan menarik ke bawah pakaian dalam Kyungsoo.
Ia tersenyum Kyungsoonya masih menjaga keperawanannya. Tanpa ragu Dongwoon membelai daerah pribadi Kyungsoo dengan ibu jarinya. Dan Kyungsoo memekik hebat dan nafasnya menderu - deru. Ia mendesah dengan kuat di kala Dongwoon menaik turunkan ibu jarinya.
Daerah pribadi Kyungsoo sekarang sudah sangat basah dan ia terus melakukannya. Ia menjilat dan mencumbu daerah pribadi Kyungsoo tanpa ampun. Hingga Kyungsoo berteriak dan ia mencapai puncaknya.
Dongwoon mencium paksa Kyungsoo dan mengusap air mata Kyungsoo yang jatuh di pipi dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis Kyungsoo aku ingin kau menjadi milikku selamanya" Dongwoon berbisik dan menjilat cuping telingan Kyungsoo. Kyungsoo hanya bisa menangis. Dan entah mengapa dalam hatinya ia menyebut nama Kai. Dan Dongwoon kembali mencumbu Kyungsoo.
.
.
"Baekhyun sang primadona lihat dirimu sekarang tidak berdaya dan aku bisa melaksanakan balas dendamku padamu" Jonghyun membelai wajah Baekhyun dan mermas payudara Baekhyun hingga ia memekik sakit. "Aku akan melakukam apa yang kau lakukan kepadaku" Jonghyun mencumbu Baekhyun dengan paksa.
Ia merusak baju Baekhyun dan memperlakukannya dengan kasar. Jonghyun memasukan jarinya kepada Baekhyun hingga berteriak sakit.
Jonghyun menatap marah Baekhyun dengan kasar dan cepat ia memasuk mundurkan jari - jarinya. "Siapa? Jawab aku" Jonghyun berteriak di depan Baekhyun, ia tidak berhenti melakukannya dan dengan kasar ia menarik rambut Baekhyun kebelakang.
"Siapa yang sudah mendahuluiku? Kau sudah melakukannya dengan siapa Baekhyun?" Baekhyun tidak bisa menjawab ia hanya bisa mendesah dan memekik kesakitan atas semua perbuatan Jonghyun.
"Kau tidak mau menjawabku? Baiklah. Aku akan membuatmu menikmati perbuatanku" Jonghyun melepaskan ikatan Baekhyun dan mendorongnya ke lantai. Dengan cepat ia kembali mengikat tangan Baekhyun dengan sebuah tiang di sana.
Ia membuka celananya dan memasukkan dirinya kepada Baekhyun. Baekhyun hanya bisa berteriak dan memohon kepada Jonghyun untuk berhenti. Namun bukannya berhenti Jonghyun semakin cepat memasuk mundurkan dirinya dengan Baekhyun. Baekhyun hanya bisa menangis.
"Kau ingin aku mengeluarkannya di mana? Didalam? Baiklah. Kau akan mengandung anakku" Jonghyun berbisik bertanya namun ia juga yang menjawab Ia tidak membiarkan Baekhyun berhenti mendesah sedikitpun.
.
.
.
.
Entah ini sudah keberapa kalinya Xiumin mencapai puncaknya. Ji Hoon benar - benar hebat. Atau memang pengaruh obat yang diberikannya. Nafasnya menderu - deru seperti ia habis berlari sangat jauh. Ji Hoon hanya mencumbu dirinya namun sudah bisa membuatnya mencapai puncaknya berkali kali.
Ia menangis mengingat kejadian yang pernah di alaminya. Luka yang sudah ia tutup rapat selama bertahun - tahun, kini harus terulang kembali.
"Kau begitu manis Minseok, aku menyesal telah membuangmu begitu saja dulu." Ji Hoon kembali mencumbu Xiumin dan ia hanya bisa menangis.
Ji Hoon kembali membuat Xiumin mendesah dan melenguh. Xiumin ingin bisa membebaskan dirinya lalu menyelamatkan teman - temannya, ia berusaha kuat untuk membuka ikatan tali di tangannya. Namun ia tidak berhasil. Tetapi tangannya menjadi iritasi karena bersentuhan dengan tali.
.
.
Tao berusaha keras melepaskan dirinya. Ia menggesekkan tali yang berada di pergelangan tangannya dengan sebuah besi yang berada di belakangnya. Ia masih bisa bertahan dari efek obat yang di berikan. Walaupun Seung Hyun sedang mempermainkan dirinya sekarang ia tetap berusaha agar tisak terpancing.
Menjijikan itulah yang berada di benaknya sekarang. Seung Hyun membuka ikatan tali kakinya dan pada saat itu pula ikatan tangannya terlepas. Dengan cepat ia memukul wajah Seunghyun dengan lututnya dan berhasil membuatnya terlempar jauh.
Tao menghampiri Baekhyun dan menarik Jonghyun lalu memukul wajahnya dengan kakinya. Ji Hoon, Dongwoon, dan Hyunseung menghentikan kegiatan mereka dan bersikap waspada. Tao dengan cepat melepaskan Luhan, dan ia bersikap siaga.
Lalu Luhan melepaskan Kyungsoo dan juga Xiumin. Dan secara tiba - tiba Tao berlutut entah mengapa ia menjadi lemas. Kepalanya berputar dan ia berkeringat. Mungkin efek dari obat tadi sudah tidak bisa ia kendalikan.
Mereka tertawa dan kembali menghampiri para wanita. Mereka kembali mendapatkan wanita mereka masing - masing.
"Sial! Aku hampir saja sampai dengan Baekhyun" Jonghyun memgusap sudut bibirnya yang berdarah ia kembali menuju Baekhyun yang sudah setengah sadar. Dan kembali melanjutkan kegiatannya dengan Baekhyun.
Begitu pula yang lainnya. Dan tampaknya mereka sudah tidak bisa menunggu lama. Maka dari itu mereka memutuskan untuk memasuki permainan inti mereka.
Sebelum mereka melakukannya. Suara pintu terbuka dengan paksa mengalihkan perhatian mereka dan mereka mendapatkan pukulan.
Chanyeol, Kris, Chen, Kai, dan Sehun datang tepat pada waktunya.
Kris dan yang lainnya memukul kelima pria yang berada di hadapan mereka dengan tenaga penuh dan tiada ampun. Mereka melihat kekasih mereka sudah tidak berdaya dan sebagian dari mereka tidak berpakaian.
"Apa yang kau lakukan kepada Baekhyun!" Dengan tatapan marah dan penuh emosi Chanyeol memukul Jonghyun dan membuatnya tidak sadarkan diri. Dengan cepat ia menuju arah Baekhyun membuka jaketnya dan mengambil sehelai kain yang berada di ruangan tersebut. Ia mengenakan kain dan jaketnya kepada Baekhyun, belum selesai ia melakukannya Baekhyun menjadi histeris dan berteriak memberontak.
Dengan erat Chanyeol memeluknya dan membisikkan kata 'ini aku Chanyeol. Tidak apa Baekhyun'. Dan Baekhyun sadar menatap Chanyeol lalu menangis sejadi - jadinya.
Sehun memeluk Luhan dan mengatakan 'maaf karena terlambat'. Luhan hanya bisa menangis dan memeluk Sehun erat.
Chen memakainkan jaketnya kepada Xiumin.
"Kau tidak apa - apa?" Bukan jawaban yang di dapat Chen tetapi isak tangis dan pelukkan yang ia dapatkan. Chen hanya bisa kembali memeluk Xiumin dan mengucapkan bahwa ini sudah berakhir untuk selamanya.
"Maafkan aku karena terlambat Noona" Kai memeluk Kyungsoo dengan erat dan dalam diam ia menangis.
"Kai sudah menelpon polisi?" Tao tetap mencoba mengendalikan dirinya. Ia berusaha untuk tetap kuat. Tetapi ia tetap saja tidak bisa bertahan. Dengan sigap Kris membantu dirinya untuk berdiri. Dan ia tidak sadarkan diri.
Tidak lama kemudian Yuri dan sebagian polisi lainnya datang. Membekuk Jonghyun dan yang lainnya.
Yuri menghampiri Kris dan yang lainnya. Ia menghela nafasnya, ia bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada kekasihnya Zhoumi tentang Tao dan semuanya. Ia memegang kepalanya tiba - tiba saja kepalanya menjadi pusing.
"Sunbaenim kepala dari semua ini adalah Kim Hyunah. Ia ada di dalam mobilku aku sudah mengikatnya dan ia tidak bisa kabur" Kris memberikan kunci mobilnya kepada Yuri.
.
.
.
.
TBC..
PS:: Aku bener bener minta maaf sama kalian yang nungguin ff ini.. Aku hukannya ga mau lanjut.. Ff ini udah hampir beres.. Tapi.. Aku makin kesini makin sibuk.. Kerja pulang kerja istirahat kerja lagi.. Dan aku sempet bgt mentok ide.. Dan ga mood untuk nulis.. DAN.. Sekarang aku main rp di Line.. Mungkin kalian ada yg main juga?. Atau mau tau rp itu apa sih? Bisa searching di google.. Aku bener bener minta maaf yangbsebesar besarnya sama kalian.. Aku lanjutin kok ff ini.. Udah sampe berapa tahun ini ff.. Hehehe.. Maaf bgt sekali lagi..
PSS:: Maaf aku ga tulis thanks to nya.. Ini juga ga aku edit lagi.. Maaf untuk typonya.. Maaf untuk kalian yang udah mau nungguin aku.. Maaf kalau kecewa.. Aku harap kalian ttp mau review ff aku.. Makasih.. Love you all..
Btw.. Kalau mau add line aku..
Id :: yovanka92
Thx
