Taeyong tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya, saat dia menjadi lulusan terbaik saat SMA dia biasa saja. Dan ketika dia mendapatkan pujian karena berhasil mendapatkan nilai tertinggi saat distase jantung, dia juga merasa biasa aja. Dan saking bahagianya, disinilah dia sekarang setiap hari menjemput seorang gadis bermarga kim, Kim doyoung.
Taeyong melihat jam yang bertengger ditangannya, sudah 10 menit dia menunggu didepan rumah gadis itu. Taeyong bukanlah orang yang suka menunggu, tetapi untuk gadis ini dia akan sedikit menurunkan rasa egoisnya. Tepat setelah melihat jam, sesosok gadis keluar. Rambutnya diikat, menggunakan kemeja berwarna hitam dengan rok tosca.
"Lama menunggu?" tanya doyoung ketika dia sudah selesai duduk
"Tidak juga, kau pasti telat bangun lagi yakan? Kebiasaan" kata taeyong sambil mengambil kotak makan dibawah meja
Sesaat pintu rumah itu terbuka lagi, menampilkan gadis boneka dengan kemeja berwarna putih dengan aksen bunga-bunga. Dia membuka pintu dibelakang taeyong dan menimbulkan debaman keras.
"Yak, kim heechan. Kau mengangetkan saja" saut taeyong kaget , dia tidak jadi mengambil kotak itu.
"Sorry oppa, aku takut kau meninggalkanku" jawab heechan menunjukkan cengirannya.
Taeyong memutar bola matanya malas, dan hal itu sukses membuat doyoung terkekeh.
"Sepertinya aku tau apa yang membuat kim doyoung telat pagi ini" kata taeyong menunjukkan cengirannya, dia melirik spion dan dihadiahi tatapan membunuh kim heechan.
"Apa?" tanya heechan merengut
"Kau pasti putus lagi? Dan kau curhat pada dia" goda taeyong, doyoung yang mendengarnya tertawa.
"Ais, oppa berhentilah. Dan segera jalankan mobilnya! Kau tidak ada jadwal pagi hari ini?" perintah heechan ketus
Taeyong yang mendengarnya malah terkekeh, dia segera menjalankan mobilnya sebelum gadis boneka dibelakangnya lebih marah.
Sesampainya dirumah sakit, taeyong segera memarkirkan mobilnya diparkiran khusus dokter. Mereka bertiga keluar bersama, dan saat itulah sepasang mata bunny milik seseorang bertemu dengan mata almond coklat yang begitu dia rindukan. Hanya sesaat karena salah satu dari mereka segera mengalihkan fokusnya pada yang lain.
"Yak kim doyoung, berhentilah melamun" seru taeyong. Ternyata laki-laki itu sudah berjalan meninggalkanya dengan heechan yang memberikan tatapan bertanya padanya.
Doyoung pun mengejar mereka, dan tersenyum malu kepada mereka. Taeyong yang melihatnya hanya mengusak kepala doyoung, membuat rambut gadis itu berantakan. Dan segera berlari ketika gadis itu mulai berseru marah. Tanpa sadar mata almond milik orang lain memandang aneh pada mereka.
Pemandangan pagi ini adalah pemandangan yang biasa, sudah beberapa hari ini lee taeyong selalu menggandeng gadis yang sama. Beberapa orang mulai berasumsi, mungkin lee taeyong sudah lelah mencari dan gadis inilah yang nantinya menjadi pelabuhan terakhirnya. Apalagi taeyong juga sudah dekat dengan heechan jadi apalagi yang harus dikhawatirkan, pikir orang-orang.
"Kalau, dilihat-lihat kalian serasi sekali" tukas heechan sambil tersenyum. Kedua orang yang dibicarakan hanya tersenyum. Seakan sudah biasa dengan pernyataan tersebut.
"Kawan-kawanku penasaran pada kalian dan selalu bertanya apa hubungan kalian?" tanya heechan berbinar.
Taeyong hanya tersenyum memandang heechan, tidak ingin menjelaskan. Sedangkan doyoung hanya terkekeh.
"Kau atau kawanmu?" tanya doyoung
Heechan hanya merengut, dia bertanya tapi sepupunya malah balik bertanya. Taeyong yang melihat heechan terkekeh.
"Daripada kau penasaran dengan hubungan kami! Mending kau cari pengganti untuk menggantikan mantanmu tersayang" ejek taeyong yang sukses membuat doyoung terkekeh.
Heechan yang mendengarnya segera menjauh dari mereka sambil menghentakkan kakinya tanda sebal pada mereka.
YUTA POV
Sudah beberapa hari ini jaehyun aneh, dia sering melamun dan lebih sering menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Walau dia masih sering tersenyum tapi senyumnya tidak memancarkan kehangatan seperti sebelumnya. Dan sekarang ini, kami sedang beranngkat berdua menuju rumah sakit. Aku minta dia menjemputku karena mobilku sedang berada dibengkel.
"Aku tidak tau kau menyukai lagu seperti ini?" tanyaku pada jaehyun, jaehyun yang mendengarnya hanya tersenyum.
"Aku menyukai lagu seperti ini, ketika moodku jatuh aku selalu mendengarkannya" jawab jaehyun tanpa mengalihkan fokusnya.
Aku yang mendengarnya hanya terkekeh " Lagu ini keluar saat kita masih SMA jae, dan kau masih menyukainya? Kau begitu lucu" sambil kucubit pipinya.
Jaehyun hanya terkekeh mendengar gerutuanku, kemudian aku ikut bernyanyi mengikuti alunan lagu tersebut. Jaehyun yang mendengarnya juga ikut bernyanyi dan sedikit menggerakan kepalanya heboh. Kalau ada yang bertanya lagu apa yang sedang kudengar denganya, lagu itu adalah lagu milik twice berjudul cheer up. Aku senang bisa melihat jaehyun heboh seperti anak kecil kembali. Aku selalu menyukai jaehyunku yang seperti ini, dan tidak ingin ada yang berubah.
Sesampainya dirumah sakit, dia segera memarkirkan mobilnya. Dia bertanya padaku sesaat setelah aku melepaskan sabuk pengaman.
"Apa yang akan kau lakukan hari ini?"
"Aku? Hanya memeriksa beberapa pasien dan praktik. Aku tidak ada jadwal operasi hari ini" jawabku.
Kulihat dia menghela nafas " Sepertinya aku tidak bisa menemanimu makan siang, aku begitu sibuk hari ini. Maafkan aku"
Aku hanya tersenyum memaklumi "Tidak apa jae"
Kulihat dia tersenyum memandangku, senyum tanda rasa terima kasih. Dia segera keluar dalam mobil untuk membukakan pintuku. Tapi setelah beberapa detik pintuku, tidak juga terbuka. Kulirik spion dan kekasihku masih berdiri dibelakang mobil, sepertinya memandangi objek lain. Segera kubuka pintu itu dan kupanggil namanya. Tetapi dia sama sekali tidak berpaling. Kuikuti fokusnya dan aku terkejut seketika, laki-lakiku sedang memperhatikan fokusnya pada gadis lain. Seketika hati terasa sakit, dan nafasku sesak. Sudah beberapa hari seperti ini, kekasihku sering mencuri pandang pada wanita lain dan ini sangat menyakitkan.
Setelah mengumpulkan tenaga yang tersisa, kupanggil namanya cukup keras. Dan berhasil dia menoleh dan bertanya canggung "kau sudah keluar? aku baru saja akan membukakan pintumu"
Aku hanya tersenyum, " Habis kau begitu lama dan aku bukanlah orang yang cukup sabar iyakan?"
Kulihat dia memalingkan wajahnya, sepertinya merasa bersalah dan memandang objek lain. Setelahnya kami berdiam canggung, sangat tidak menyenangkan. Aku hanya bisa menunduk berpikir ada apa? Apa yang terjadi?.
Selanjutnya tanganku ditarik meninggalkan tempat parkir itu, dan ketika aku mengangkat kepalaku. Aku bisa melihat dengan jelas wajah kekasihku mengeras, tanda marah. Dan itu membuatku semakin bersedih, apa yang sebenarnya terjadi.
Kemarahan jaehyun membuatku tidak bisa fokus dengan pekerjaanku, pikiran apa yang membuatnya marah terngiang-ngiang dipikiranku. Dan berakhirlah aku disini, didepan ruangan bertuliskan Jung Jaehyun dan Lee Taeyong. Ketika aku ingin meraih gagang pintu tersebut, pintu itu sudah terbuka terlebih dahulu. Menampilkan Lee Taeyong yang sudah rapi dengan jas putihnya.
Kulihat dia menaikkan alisnya tanda bingung "Kenapa kau disini"?
Akupun salah tingkah "ekh ya, aku mencari jaehyun"
"Dia tidak ada disini, dia sedang ada jadwal operasi" jawab taeyong acuh
"benarkah?" kulihat dia memutar bola matanya malas
"Kaukan kekasihnya, harusnya kau tau apa yang dia lakukan dan apa yang terjadi padanya!" omel taeyong
Aku yang mendengarnya hanya menghela nafas, mungkin taeyong benar. Aku memang kekasihnya tapi entahlah dia berubah, mungkin dia sudah tidak mencintaiku pikirku dalam hati.
AUTHOR POV
Taeyong yang melihat gadis didepannya termenung, segera mengguncang bahu yuta untuk menyadarkan gadis itu.
"Kau ada masalah dengannya?" tanya taeyong
Yuta hanya bisa terdiam, bingung menjawab pertanyaan laki-laki dihadapannya. Melihat gadis dihadapannya gelisah, taeyong bisa menyimpulkan pasti mereka bertengkar.
Taeyong segera mengacak rambut gadis itu bermaksud menghibur "Selesaikan masalahmu, semuanya akan baik-baik saja"
Membuat gadis didepannya terenyuh, taeyong yang melihat yuta terenyuh segera teringat kotak makan untuk doyoung.
"Tolong berikan ini pada kim doyoung, kalau kau ingin tau itu adalah kota bekal dan isinya adalah makanan" ucap taeyong meninggalkan yuta.
Dan segera setelah taeyong meminta tolong pada yuta, yuta segera mencari gadis bermarga kim tersebut. Menurut jadwal, doyoung hanya praktik dan melakukan bimbingan terhadap residen tahun kedua.
Yuta berfikir, gadis itu pasti ada diruangan residen. Dan benar, setelah pintunya terbuka yuta bisa melihat jaemin dengan tumpukan paper dan heechan yang sepertinya sedang sibuk dengan laptopnya. Doyoung sedang tertawa memperhatikan jeno dan mark yang berengkar mendebatkan bahan diskusi.
"Doyougie"
Gadis yang disapa mengalihkan fokusnya " ada apa yuta-ya?"
"Seorang pria memberikan ini padaku untuk diberikan padamu"
Doyoung hanya mengernyit, diapun menerima kotak itu dan membuka isiya. Setelahnya doyoung tersenyum, dia tau siapa pemberi ini lee taeyong.
"Apakah kau mau cemilan yuta ya?" tawar doyoung pada yuta
"Tidak, aku masih kenyang" jawab yuta.
Doyoung hanya mengangguk-angguk tapi setelahnya tertawa, bagaimana tidak? Yuta menolak ajakannya dan beberapa detik kemudian perut gadis itu berbunyi. Membuat mark dan jeno yang berdebat seketika tertawa. Wajah yuta seketika memerah malu, dia melakukan hal memalukan didepan temannya dan juniornya.
Selanjutnya doyoungpun mengajak heechan, jaemin, jeno dan mark untuk menikmati cemilan yang dibuat taeyong.
"Aku tidak tau, kalau taeyong hyung punya bakat memasak?" ucap mark sambil memilih makanan yang ingin dia makan
"Eonni, ini bukan racunkan?" tanya jaemin sambil mengamati makanan tersebut
"Wahh, aku tidak tau kalau oppa berbakat" hebo heechan dengan mulut penuh
Yuta yang melihat juniornya heboh, tiba-tiba tersenyum dia ingin segera merasakan masakan seorang lee taeyong. Dia menyuapkan sedikit makanan kemulutnya dan seketika merasa takjub, lee taeyong memang benar-benar terbaik. Rasa masakannya seperti masakan toko pas dan punya sensasi menyenangkan. Tiba-tiba yuta teringat seseorang, seseorang dimasa lalunya selalu membuatkan bekal untuk dimakan bersama denganya.
Seseorang yang sampai saat ini yuta rindukan atau mungkin masih dicintai yuta. Acara melamun yuta berakhir ketika salah satu mengintrupsi.
"Berhenti melamun noona, kau bisa-bisa tidak kebagian" ucap jeno acuh sambil mengarahkan sumpitnya kesalah satu makanan
Yuta yang mendengarnya hanya tersenyum malu, lagi-lagi dia terlihat bodoh
"Kulihat akhir-akhir ini noona banyak melamun" khawatir mark
"tidak juga" jawab yuta asal
"mungkin karena woojae begitu sibuk, dan tidak bisa menemani eonni makan malam iyakan?" goda jaemin
Doyoung hanya terkekeh, mendengar juniornya menggoda yuta "siapa itu woojae?"
Tepat saat doyoung bertanya, pintu terbuka menampilkan jung jaehyun.
"itu noona, yang namanya woojae aka jung jaehyun" tunjuk mark sambil terkikik
Tanpa sadar 2 pasang bola mata saling memandang khawatir, karena sepertinya bencana akan terjadi.
"Jadi kalian sepasang kekasih?" tanya doyoung santai
Yang ditanya hanya diam, membuat suasana begitu canggung.
"hah sepertinya ada yang bertengkar" goda mark
"tidak" jawab jaehyun cepat
"ya kami sepasang kekasih" jawab yuta walau ada nada ragu didalamnya
Doyoung yang mendengarnya hanya tersenyum simpul, sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu. Beberapa orang sebenarnya merasa tidak nyaman tapi ya bagaimana lagi, bagaimana cara untuk menghentikan suasana canggung ini.
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan taeyong, mark yang melihatnya bersiul bermaksud menggoda
"kalian sedang apa?" tanya etaeyong setelah duduk
"berdiskusikah"
Taeyong yang melihat kotak makannya sudah kosong tersenyum.
"Masakanmu tidak berubah" ucap doyoung, taeyong hanya tersenyum
"Sepertinya oppa dan noona sudah lama mengenal ya?" goda jaemin
"mmm bagaimana ya" canda taeyong
Seketika jawaban taeyong membuat ruangan menjadi gaduh akan teriakan mark dan jaemin karena begitu penasaran tentang hubungan doyoung dan taeyong. Membuat taeyong tertawa tapi tawanya terhenti ketika melihat doyoung, mata itu menunjukan kegelisahan walau ekspresinya biasa.
"Doyoung mau temani aku kesuatu tempat?" tanya taeyong sambil mengulurkan tangannya pada doyoung. Selanjutnya teriakan menggoda semakin riuh didengar.
"Ya" jawab doyoung sambil menerima uluran tangan taeyong.
Taeyong sangat mengenal gadis yang ada disebelahnya, setelah pertemuan pertama mereka taeyong berusaha untuk memahami gadis ini. Gadis ini selalu tersenyum walau badai menghadang, walaupun tertekannya gadis ini tidak menunjukkan ekspresi yang berlebih selalu seperti itu. Doyoungnya adalah orang yang akan menekan semua perasaannya dan kadang itu yang membuat taeyong khawatir, tapi mata daeyong tidak pernah berbohong sehingga cara membaca perasaannya adalah dengan menilik kedalam matanya. Dan disinilah taeyong membawa doyoung, diatap rumah sakit.
"Menangislah" pinta taeyong setelah mereka ada ditengah-tengah atap
Doyoung yang mendengar sontak terkekeh "aku baik-baik saja"
Taeyong tau gadisnya berbohong, "aku akan meninggalkanmu beberapa saat setelah kamu cukup untuk menangis. Hubungilah aku, aku akan mengajakmu makan setelahnya" kata taeyong sambil mengangkat handphonenya
"Terima kasih" ucap doyoung
Dan setelah itu taeyong meninggalkan doyoung diatap.
DOYOUNG POV
Aku benci perasaan ini, bagaimana bisa perasaan ini masih ada? 12 tahun bukanlah waktu yang cepat. Itu adalah waktu yang cukup untuk melupakan dia, tapi nyatanya mataku masih tertuju kepada dia. Aku sudah mengantisipasi perasaanku, mempersiapkan kemungkinan terburuk tapi nyatanya aku tetap kalah.
Dan sinilah aku diatas atap, menangisi masa laluku. Selalu saja kata seandainya, terlintas dikepalaku. Mungkin memang aku yang bodoh, hanya terpaku pada satu pria tanpa sadar dia bisa dengan mudah melupakanku.
Ingin sekali aku menyerah akan perasaan ini, tapi nyatanya aku kalah. Aku tidak bisa atau mungkin usahaku yang kurang? Entahlah. Setiap kali aku berusaha, kenangan itu akan terlintas. Semakin berusaha, semakin kuat arus kenangan itu membawaku.
Sudah lama aku tidak menangis seperti ini, jadi aku membiarkan diriku menangisi semuanya. Aku sudah tidak peduli lagi berapa lama aku akan menangis karena seorang pria yang sama. Biarlah aku melepaskan semua perasaanku, mungkin dengan cara ini aku bisa melupakannya.
Tiba-tiba kurasa seseorang memelukku dari belakang, menenggelamkan wajahnya dipundakku yang sempit. Aroma maskuliannya menguar, memberikan rasa aman, nyaman dan kesakitan secara bersamaan. Ingin sekali aku melepaskan tangan yang sedang memelukku ini, tapi nyatanya aku tidak ingin. Aku sangat merindukan pelukan ini, tanpa terasa aku semakin terisak dan orang itu malah mengeratkan pelukannya.
Menenggelamkan wajahnya semakin dalam dan tanpa terasa pundak sempitku juga basah. Pria itu masih sama, dia bahkan masih merasakan hal yang sama dan masih dengan rela menangis bersamaku dalam diam. Tapi pikiran inilah yang harus segera dihilangkan, karena aku harus segera sadar. Diposis manakah aku sekarang berada.
TBC/END?
