"Asshh…"
Luhan meringis untuk terakhir kalinya sebelum menutup salep milik Baekhyun yang baru saja ia gunakan. Salep milik sahabatnya itu memang sering digunakan manakala Baekhyun sukses digempur habis-habisan oleh Chanyeol, pacarnya. Reaksi obatnya tidak buruk, bagian bawahnya kini terasa dingin karena salep.
Ia pun berdiri, merapikan kembali celananya dan membuka pintu kamar mandi untuk menemukan senyum konyol Baekhyun.
Luhan memutar matanya malas. "Kenapa cengengesan begitu?" lalu melewati Baekhyun begitu saja untuk menuju kasur, ingin mengistirahatkan diri.
"Kau belum cerita detailnya."
Luhan naik keatas ranjang. Ia melepas branya dari luar kaus, lantas menaruhnya di bawah bantal sebelum menaruh kepalanya untuk berbaring.
"Si brengsek itu sudah merebut keperawananku dengan jarinya. Apalagi yang kurang jelas?" jawab Luhan ketus seraya menarik selimut.
Baekhyun mendecak gemas sebelum naik melompat ke ranjang hingga menyebabkan guncangan. Gadis mungil itu menarik turun selimut yang menutupi wajah Luhan.
"Bukan itu maksudku. Ceritakan tentang dia! Siapa, nama CEO itu… Sehun, katamu?"
Mata Luhan terbuka malas. Ia mengerang malas sebelum memutuskan untuk duduk di kepala ranjang, untuk meladeni mulut bebek Baekhyun. Kenapa sahabatnya itu seantusias ini, sih?
"Dia masih muda. Kutebak usianya masih awal dua puluhan, belum sampai ke angka dua lima." Luhan kembali menatap Baekhyun. Sahabatnya itu tersenyum sangat lebar. "Memangnya kenapa?"
"Apa dia tampan? Apa warna rambutnya? Oh, apa dia menggunakan jas saat mewawancaramu? Aaah, membayangkannya saja sudah membuatku tersipu."
Luhan mencubit gemas tangan Baekhyun untuk menghentikan khayalan konyol sahabatnya itu. "Kau mengincarnya? Astaga, Baek. Kurang apa Chanyeol untukmu? DIa bahkan bersedia menggempurmu setiap malam kalau kau meminta."
"Tidak, bukan begitu Luhan sayang," Baekhyun menggeleng gemas, poninya dibuat bergerak-gerak mengikuti gelengannya. "Pertanyaan yang tepat adalah, apa dia mengincarmu?"
Mata Luhan membulat. Ia tak habis pikir dengan Baekhyun yang mengira Sehun mengincarnya. Bahkan yang ada di kepala Luhan, Sehun hanyalah sebatas calon bosnya yang memiliki kemesuman diatas rata-rata.
"Mengincar tubuhku, mungkin. Sehun sialan itu benar-benar melecehkanku tadi, Baek, asal kau tahu."
"Jangan pesimis begitu." Baekhyun berkata simpati, entah untuk menghibur entah untuk menggoda. "Kau itu menarik, Lu. Mana mungkin lelaki muda semacam Sehun itu tidak terjerat dalam pesonamu? Apalagi kau memakai pakaian seksi tadi."
"Kalaupun benar begitu, aku tidak ada niatan untuk memacari bos sendiri. Lelaki itu terlalu kasar, aku tidak suka cara mainnya."
"Cara main, katamu? Wow, Luhan… Bicaramu itu seperti kau sudah sering bermain seks saja."
Luhan mendengus malas saat sadar ia sudah salah mengucap kata. Kini bukannya mereda, ocehan Baekhyun malah semakin beruntun memenuhi telinganya. Luhan yang sudah terlanjur mengantuk pun memilih untuk masuk ke dalam selimut, mengabaikan cerewetnya Baekhyun.
"Astaga, dia tampan atau tidak? Tinggal jawab saja! Hey, Lulu!"
.
.
.
.
.
Luhan bangun dengan aroma masakan dari arah dapur. Gadis itu melirik sebelah kasurnya, untuk memastikan bahwa yang memasak adalah Baekhyun. Benar, ranjang di sebelahnya sudah kosong.
Ia mendesah sebelum mengangkat kepalanya dan duduk bersila. Kemaluannya sudah tidak begitu sakit, terima kasih pada obat Baekhyun yang semalam ia gunakan.
Kebiasaan, Luhan meraih ponselnya dari atas nakas untuk mengecek akun SNS-nya. Barangkali ibunya yang berada di China menelponnya, untuk melarangnya mencari pekerjaan karena Luhan tidak perlu sedepresi itu demi mendapatkan uang. Luhan tidak perlu bekerja untuk setahun ini, karena tabungan ayahnya bahkan tidak akan habis sampai Luhan memiliki cucu sekalipun.
Tapi memang Luhan saja yang ingin berubah dewasa, sehingga memutuskan untuk mulai mencari uang sendiri demi memenuhi kebutuhan make up dan fashionnya.
Luhan berhenti meng-scroll layar ketika ada satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Dari : Unknown number
Selamat pagi, Luhan. Aku ingin memberitahumu bahwa kau bisa mulai bekerja dari minggu depan. Langsung saja datang ke atas, ke ruangan kemarin tempatmu diwawancara. Oke?
Dan satu hal lagi. Aku menyesal untuk tindakanku kemarin. Aku tidak dalam mood baik dan menyalurkan hasratku padamu merupakan cara yang tidak professional. Aku mengaku salah dan kuharap kau bisa memaafkanku. Jangan takut untuk menjadi sekretarisku, aku janji tidak akan mengulangi kejadian yang sama.
Luhan membeku di tempatnya. Pesan singkat itu ia baca berulang-ulang, untuk memastikan isinya. Apa ini pesan dari Sehun? Lagipula siapa lagi kalau bukan dia?
Tanpa disadari, Luhan tersenyum. Satu permohonan maaf memang tidak bisa menghilangkan rasa nyeri dan emosi yang ia rasakan hari kemarin. Namun permintaan maaf Sehun terkesan tulus, sehingga ia tak punya pilihan lain selain merona.
Merona?
Tidak, tidak!
Luhan menepuk-nepuk pipinya gemas. Ia tidak bisa secepat itu merubah pandangannya terhadap sosok lelaki bernama Sehun. Sehun adalah lelaki brengsek, dan ia tetap harus waspada kalau-kalau nanti Sehun kembali menjamahnya.
.
.
.
.
.
"Selamat pagi, Luhan. Disana itu adalah meja milikmu, kuharap kau bisa bekerja dengan baik. Oh, iya, apa kau sudah sarapan?"
Luhan ingin mengorek telinganya. Apakah yang barusan tadi adalah Sehun, si CEO berjas hitam, menyambutnya di pintu masuk, dengan senyum tampan yang mampu menggoda setiap wanita di muka bumi?
"Pagi juga, bos. Dan ya, saya sudah sarapan tadi." jawab Luhan seraya menunduk canggung. Dalam hati mempertanyakan sejak kapan ada dua meja di ruangan ini? Karena seingatnya hanya ada satu, dan itu milik Sehun.
"Aku keberatan kalau kau panggil 'bos' seperti itu. Lagipula aku masih muda. Panggil Sehun saja, oke?"
Luhan lagi-lagi dibuat ingin mengorek telinga. Haruskah Sehun mengedipkan matanya diakhir kalimatnya tadi? Bosnya itu sedang kelilipan atau bagaimana?
"Baik, Sehun."
"Kalau begitu aku sarapan dulu. Siapkan saja agenda untukku hari ini."
.
.
.
.
.
Luhan benar-benar seorang fresh graduate. Maksudnya, ia tak memiliki pengalaman apapun dalam pekerjaannya kali ini. Terlebih posisinya sekarang terbilang tinggi sebagai sekretaris sang CEO.
Dari sekian banyak tugas yang seharusnya bisa ia kerjakan dengan baik, hampir seluruhnya tidak lancar terlaksana. Ia masih kebingungan, kadang harus membolak-balik beberapa tumpukan berkas hanya untuk menemukan kertas jadwal Sehun yang sudah ia susun.
Sementara saat ini, lagi-lagi ia gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Ia mengoprek meja kerjanya, sampai menunduk ke empat sisi kaki meja barangkali berkas yang ia cari terselip disana. Di depan meja miliknya, ada Sehun yang berdiri menunggu berkas tersebut.
"Sebentar, Sehun. Kurasa aku menaruhnya disini." ujar Luhan kikuk.
Sehun mengangguk sabar dan kembali diam memerhatikan Luhan yang bergerak kesana kemari mencari sebuah map berkas. Dua tangan lelaki itu masuk ke saku celana, mengepal erat seakan-akan ia tengah menahan diri akan sesuatu.
Oh, ya, tentu saja ia tengah menahan diri. Menahan diri untuk tidak terangsang dengan pemandangan puting Luhan yang tercetak dibalik kemeja. Bagaimana bisa puting susu gadis itu mencuat jelas, padahal kemeja yang digunakan sama sekali tidak ketat.
Gluk
Sehun menelan ludahnya saat melihat belahan dada Luhan tatkala gadis itu merunduk ke kolong meja. Daging payudara itu terlihat putih, kenyal, dan padat. Tanpa bisa ditahan bibirnya tersenyum, mengingat kejadian seminggu lalu saat dirinya sempat mempermainkan puting si gadis.
"Luhan." panggil Sehun berniat ingin menyuruh Luhan berdiri. Ia tak bisa lama-lama menatap belahan payudara Luhan seperti ini.
"Maaf, Sehun. Sebentar…"
Luhan justru bergerak semakin cepat, yang mana membuatnya—oh, tuhan—daging payudaranya bergoyang kesana kemari.
"Luhan."
"Kuyakin aku menaruhnya disini. Ya, seharusnya berkas itu—"
"Luhan!"
Luhan menegak tiba-tiba saat mendengar sentakan Sehun. Ia berkedip heran melihat wajah berkerut Sehun. Apakah bosnya itu marah? Apa ia sudah dicap sebagai sekretaris tak berkompeten?
"Berhenti menunduk seperti itu kalau kau tak ingin aku meremas dadamu."
Mulut Luhan terbuka. Gadis itu tergagap beberapa saat. Lalu tangannya menekan bagian atas dadanya, baru tersadar bahwa sejak tadi ia sudah memamerkan bagian tubuhnya itu.
"M-maaf."
Sehun meremas rambutnya frustasi. Lelaki itu menatap Luhan lurus. "Aku akan keluar sebentar. Kau lanjutlah cari berkas."
Luhan mengangguk kaku ketika Sehun mulai berbalik untuk menuju pintu keluar. Gadis itu menampar jidatnya, merasa malu sudah pamer dada seperti tadi. Huh, untung saja Sehun sungguhan memegang janjinya untuk tidak melecehkannya lagi.
.
.
.
.
.
Sehun berbalik di toilet. Sebenarnya ia bisa saja memasuki toilet di ruangannya sendiri. Namun ia tak ingin desahannya didengar Luhan karena ia tak bisa diam selama bermain solo.
Solo? Ya, tentu saja! Bagaimana bisa Sehun mendiamkan penisnya yang berdiri sesak di bawah sana? Pemandangan erotis payudara Luhan yang bergoyang-goyang berhasil membangunkan adik di selangkangannya. Jika sudah seperti itu, ia pun hanya punya dua pilihan. Antara menggauli Luhan, atau bermain solo.
Kalau saja ini bukan hari pertama Luhan bekerja, Sehun pasti sudah berani menangkap dada menggelayut Luhan tadi. Tapi ia sudah terlanjur berjanji. Dan ia pun tak bisa segegabah itu kalau ingin Luhan tetap bekerja sebagai sekretarisnya.
"Sabar, penisku. Suatu saat kau akan masuk dalam vagina Luhan." ujarnya bodoh, sambil mulai memijat pangkal kemaluannya. Ia mendesah, kepalanya mendongak nikmat. Yang ada di kepalanya kini adalah bagaimana indahnya payudara Luhan menggelayut.
"Aaahh…"
Bagaimana rasanya jika penisnya dijepit diantara belahan daging itu. Bagaimana rasanya jika ia langsung menusuk belahan payudara Luhan tiba-tiba dengan penisnya, disaat gadis itu masih sibuk menunduk mencari berkas.
"Aaash Luhann…"
.
.
.
.
.
Luhan merenggangkan otot tangan dan lehernya. Sudah jam lima sore, waktu bekerjanya sudah berakhir. Gadis itu melirik ke meja Sehun. Sang CEO nampak masih sibuk dengan berkas yang menumpuk di mejanya. Posisi kepalanya disangga dengan satu tangan, sementara rambutnya sudah terlihat acak-acakan akibat sudah berkali-kali disisir dengan jari. Kaitan dasinya pun tak rapi lagi, sudah melonggar.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
Luhan mengatupkan bibirnya yang sempat terbuka. Astaga, apa dia baru saja melamuni wajah rupawan sang CEO? Kenapa pula Sehun harus menangkapnya basah sedang menatap seperti itu? Nanti lelaki itu akan berpikiran yang tidak—
"Kau baru sadar aku setampan itu? Kau baru sadar aku pantas untuk mendapatkan lubang perawanmu?" Sehun tertawa melihat wajah Luhan yang memerah. Gadis itu terlihat ingin menyangkalnya, namun tak ada satupun yang keluar dari bibirnya.
"Aku tidak keberatan kalau harus menggangahimu dulu. Lagipula, Lu, jam kerja sudah usai." Sehun menutup map yang belum selesai ditandatangani. Lelaki itu berjalan kearah Luhan yang masih membeku diatas kursi, yang wajahnya semerah stroberi.
"Karena kita sudah tidak dalam jam kerja, maka, aku tidak janji untuk tidak menyentuhmu seperti seminggu lalu." telunjuk Sehun mengangkat dagu Luhan perlahan-lahan. "Satu ronde sebelum pulang, hm, bagaimana? Nanti kuantar kau ke apartemenmu."
Luhan menepis telunjuk Sehun ketika lelaki itu mulai mendekat ke bibirnya. Ia berpaling, mencoba memberi penolakan halus. Meskipun Sehun tak sama sekali memaksanya kali ini, namun tetap saja ia masih ingin mempertahankan vaginanya yang bersih dari penis manapun.
"Kalau begitu blow saja. Oke?" tawar Sehun, lelaki itu semakin mendekati wajah Luhan. "Kumohon, Lu, penisku sudah berdiri tegak semenjak melihat putingmu ini." dua telunjuk Sehun menekan pas dua puting Luhan sehingga membuat si gadis mendesah kelepasan.
Mendengar desahan itu, Sehun pun tersenyum miring. Telunjuknya menekan semakin dalam, semakin menenggelamkan puting di dalam payudara Luhan.
"Sehuun, jangan…"
"Kau menyukainya, Luhan. Apa yang salah jika kita berhubungan seks sekarang?" Sehun tertawa, ia mencubit gemas puting Luhan yang tadinya sudah tenggelam. "Putingmu tidak bisa berbohong, Luhan. Mereka sudah mengeras sejak tadi." ujar Sehun, semakin semangat memilin-milin puting Luhan yang sudah sedikit tertarik ke depan.
"M-mereka kedinginan." Luhan tidak bohong. AC di ruangan ini memang terlalu dingin untuknya, sehingga putingnya mengerut secara natural. Namun Sehun menyalahartikannya sebagai aksi terangsang.
"Kedinginan? Kalau begitu izinkan kuberi kehangatan dari lidahku."
Sehun mendadak sudah berlutut di depan kursi Luhan. Lelaki itu merobek bagian atas kemeja Luhan, menghasilkan robekan besar hingga ke perut rata si gadis. Ia menarik kursi Luhan mendekat, sampai wajahnya berhadapan pas dengan bra Luhan.
"Pantas saja putingmu tercetak. Bra ini terlalu tipis untuk payudaramu, sayang."
Selang berapa detik kemudian, Sehun menenggelamkan hidungnya pada belahan payudara Luhan, otomatis membuat tangannya memeluk pinggang Luhan. Ia mengesap aromanya seperti sedang membaui aroma makanan kesukaannya. Begitu rakus.
"Sehun… ah, geli… aaah.." Luhan mulai mendesah sembari meremas pegangan kursi. Jilatan Sehun benar-benar basah dan hangat di garis payudaranya.
"Ini sangat kenyal. Aku suka." puji Sehun sebelum menggerakkan hidungnya yang tenggelam dengan gemas. Ia mencoba menekan wajahnya agar bisa merasakan getaran payudara Luhan yang diakibatkan olehnya.
Tidak sabar, Sehun pun langsung meloloskan dua tali bra Luhan. Ketika diturunkan, nampak payudara Luhan yang bergoyang seperti hendak tumpah kebawah akibat kehilangan penyangga dari bra.
"Sialan. Dadamu benar-benar cantik, Lu."
Luhan tidak yakin apakah ini waktu yang tepat untuk merona. Namun sedikitnya ia tersipu ketika Sehun memuji penampilan dadanya. Sedikitnya ia senang mendapati Sehun menatap payudaranya penuh puja.
Sehun mengapit kedua daging payudara Luhan dari samping, mencoba membuatnya memadat ketengah hingga putingnya pun berdempetan menghadap wajahnya. Payudara Luhan yang didempetkan ia gerakkan keatas bawah, membuatnya terguncang-guncang erotis. Lidah Sehun terjulur, membuat puting Luhan yang berayun keatas bawah mengenai hangat lidahnya.
"Bagaimana? Masih dingin?" tanya Sehun disela kegiatannya. Ia menaik turunkan payudara Luhan semakin kencang, membuat daging itu terasa lebih kenyal di tangannya.
Luhan menggeleng, tidak mampu menjawab pertanyaan Sehun. Ia mendongak, suara mendesah mulai keluar beruntun dari mulutnya yang terbuka.
"Ooh, aku lupa putingmu semerah ini." Sehun berdecak kagum melihat betapa tegak dan merahnya puting Luhan sekarang. Tangan kanannya bergerak mengambil ponsel di saku celana, sedangkan tangan kiri tetap menahan payudara Luhan.
Kamera ponsel ia arahkan pas ke puting bengkak Luhan yang sudah mengkilat terkena liurnya. Tak lupa tangan kirinya mencengkram semakin kuat agar payudara itu semakin membusung ke depan.
Selesai mengambil foto, Sehun mencampakkan ponselnya dan kembali ia memainkan dua buah payudara Luhan. Kali ini ia meremasnya secara sembarang, membuat Luhan mendesah-desah keenakan.
"Kau suka ini, hm? Kau suka aku memantulkan payudara kenyalmu seperti ini?" goda Sehun ketika ia mulai memantul-mantulkan dada Luhan dengan mendorongnya dari arah bawah. Daging kenyal itu dipantulkan semakin cepat, seakan-akan Sehun sedang memainkan sebuah permainan.
"Sehuuun… Putingnya, kumohon…"
"Kau ingin kuapakan putingmu, hm? Kutekan?" Sehun menekan kedua puting keras Luhan dengan ibu jarinya. Sukses membuat puting itu tenggelam hingga ke dasar.
"Kupilin?" Sehun memainkan puting yang tenggelam itu dengan telunjuk dan ibu jarinya. Ia tertawa puas melihat reaksi Luhan yang menggeliat diatas kursi.
"Atau kutarik?"
Puting Luhan yang masih dipilin mendadak ia tarik ke depan hingga membuat dada Luhan membusung. Sehun merubah posisinya menjadi berdiri, namun tetap menarik puting Luhan sehingga puting itu mengikuti gerakannya.
"Sehunaaahh.. Ah, lepaass.."
Sehun terkekeh, ia tidak langsung serta-merta menuruti permohonan Luhan. Puting merah Luhan ditarik semakin jauh, membuat payudara sang gadis berubah memanjang.
"Aku suka putingmu, sayang. Apalagi ketika kutarik memanjang seperti ini."
Sepuluh detik setelahnya, Sehun melepas mendadak puting yang tadi ia tarik. Puting itu turun kebawah begitu lepas dari tarikannya, namun langsung kembali tegak seperti semula karena otot dada si gadis yang masih kencang.
"Sekarang giliran penisku yang mendapat jatahnya."
Sehun melepas sabuk celananya dengan tergesa. Resletingnya ditarik turun, lalu diambil keluarlah penis besarnya yang sudah berdiri keras minta dijamah.
Mata Luhan tak bisa berkedip melihat pemandangan itu. Ini adalah kali pertama Sehun menunjukkan penisnya, sehingga tidak heran jika kini wajahnya memerah panas karena malu. Apalagi dengan ukuran kejantanan Sehun yang ia tebak, 6 inchi? Belum lagi diameternya. Penis itu benar-benar gemuk.
"Kenalkan, penisku, Nona Lu. Teman kecilku yang sering terbangun saat aku merasa tergoda olehmu." Sehun berujar konyol seakan memperkenalkan teman masa kecilnya. Ia memegang pangkal penisnya yang bersih tak ditumbuhi bulu, lalu mengarahkannya pas ke atas, ke arah hidung Luhan.
"Berikan salam perkenalanmu, Lu. Jilat lubangnya."
Luhan mendongak sebelum kembali menatap penis putih dengan kepala jamur pink kemerahan itu. Lidahnya ia julurkan ragu-ragu, begitu pelan mendekati puncak kepala penis Sehun.
Sehun yang tidak sabar pun maju selangkah untuk mempertemukan lidah terjulur Luhan dengan kepala penisnya. Ia mendesah, lalu mencoba menggerakkan kepala penisnya untuk mengusap-usap permukaan lidah Luhan.
"Kau menyambut penisku dengan pintar." puji Sehun saat melihat Luhan mengikuti gerakan kepala penisnya. Gadis itu malah menjilat keseluruhan kepala jamur penis Sehun, dengan pandangan yang tetap terpaku pada Sehun.
"Buka lebar mulutmu. Penisku ingin masuk ke tenggorokanmu." titah Sehun sembari mulai menyiapkan penisnya tegak lurus menuju mulut Luhan. Luhan menurut dengan membuka mulutnya selebar mungkin, mencoba menyamakan ukurannya dengan diameter batang penis Sehun.
"Satu… dua… tiga, makan ini." Sehun tersenyum ketika mendorong penisnya masuk dengan cepat. Luhan sedikit terbatuk, sehingga membuat Sehun kembali mengeluarkan penisnya yang kini sudah dilumuri saliva Luhan.
"Tidak apa-apa. Kau akan terbiasa nanti." Sehun menyisir poni Luhan dengan sayang, sebelum kembali mengangkat dagu Luhan. Mulut Luhan terbuka seperti sebelumnya, dan kali ini Sehun mendorong penisnya lebih keras dari sebelumnya.
"Tahan dulu, sayang. Tahan." Sehun menahan kepala Luhan ketika gadis itu ingin memundurkan wajahnya. Beberapa detik setelahnya, penisnya ditarik keluar. Kali ini jauh lebih lengket dari sebelumnya, bahkan beberapa benang putih nampak saling terhubung antara mulut dan kepala penis Sehun.
"Ya, tarik napas. Kali ini aku akan menusukmu lebih keras."
Entah ada dorongan dari mana, Luhan malah mengangguk antusias sembari kembali melebarkan mulutnya. Ia menatap penis lengket Sehun dengan lapar, seolah-olah dirinya lah yang meminta untuk diperlakukan seperti ini.
"Bagus. Satu.. dua.. tiga, lahap penisku." Sehun tidak tanggung-tanggung mendorong penisnya. Sekarang penis panjangnya berhasil tenggelam, bahkan bibir atas Luhan sudah mentok melahap pangkal penisnya.
Luhan menggumam protes. Tenggorokannya terasa dipenuhi oleh batang besar sehingga membuatnya kesulitan bernapas. Bukannya melepas, Sehun malah semakin mendorong belakang kepala Luhan. Semakin membuat penisnya masuk ke tenggorokan si gadis.
"Hmm, yaah… tenggorokanmu memijat penisku, Lu.. aah…"
Luhan otomatis berpegangan ke pinggang Sehun begitu merasakan ia mulai kesulitan bernapas. Ketika Sehun menarik sedikit penisnya, Luhan kira lelaki itu ingin mencabut keluar penisnya. Namun rupanya Sehun justru memulai gerakan sodokannya. Membuat cairan precumnya keluar sehingga suara becek pun terdengar di ruangan.
"Tenggorokanmu seperti menghisapku. Kau ini lapar penisku ya?"
Sehun bergerak semakin cepat, tidak peduli sudah banyak saliva yang mengalir keluar menjuntai dari dagu Luhan. Ia mempercepat tusukan dan juga dorongan pada belakang kepala Luhan. Sialan, mulut Luhan terasa sangat sempit karena tak pernah dimasuki satu penis pun.
Begitu merasakan penisnya berkedut, Sehun langsung mencabut tancapan penisnya pada mulut Luhan. Lelaki itu mengocok batang penisnya dengan sangat cepat, di depan Luhan yang menganga menunggu cairan masuk kesana.
"Terima spermaku." Sperma putih kental mulai menyemprot keras kearah Luhan. Sukses masuk ke mulut, beberapa diantaranya mengotori pipi dan sebelah mata Luhan. Sehun juga mengarahkan semprotan spermanya ke dada Luhan, tepatnya ke kedua putingnya, tepat sasaran.
Diakhir, Sehun menamparkan penisnya ke kedua payudara Luhan bergantian. Berniat ingin membuat dada sang gadis terkena cairannya secara merata. Penisnya juga ditepuk-tepukkan ke bagian atas payudara Luhan.
"Nah, foto terakhir sebelum permainan selesai."
Sehun lagi-lagi mengambil beberapa gambar dengan menggunakan ponselnya. Dua dada Luhan yang mengkilat, puting yang kini berwarna putih sperma, dan tak lupa wajah seksi Luhan yang seperti tengah dilapisi masker sperma.
Begitu selesai dengan fotonya, Sehun menunduk untuk mengecup lembut bibir Luhan. "Mari kita bersihkan dirimu. Kuantar kau pulang."
.
.
.
.
.
To be continued?
Nah, at least, gw tau seberapa banyak yang suka dan nungguin kelanjutan ff gw. Bukannya apa-apa, tapi kalo gw tau banyak yang doyan, ya pasti gw pun apdetnya lebih cepet. Akhirnya kalian juga yg dapet untungnya, kan?
Sama seperti chap kemarin, gw berharap kalian nyempetin waktu untuk review. Untuk yg gak mau ff ini dilanjut, ya gak usah review. Untuk yg gak suka sama ff ini, ya gak usah review. Gw terima masukan tp gw ga terima bash dan hinaan. Jadi, tuan hajjcaicuake (basher yang beraninya review tanpa login) silakan close tab dan gausah repot2 untuk nyampah di review gw, oke?
