"Luhan, astaga kemana saja—S-siapa kau?"

Baekhyun menghentikan jilatannya pada eskrim di sendok. Ada seorang pria asing di depan pintunya, sangat tampan, dengan stelan kemeja putih dan jas abu tanpa lilitan dasi. Metropolis sekali. Baekhyun sampai lupa untuk bernapas.

"Aku Sehun, rekan kerja Luhan."

Mata Luhan berkedip gugup ketika Baekhyun melotot kearahnya. Pasti sahabatnya yang satu itu kaget dengan kepulangannya yang kali ini bersama dengan sang atasan, sang pelaku pelecehan yang seminggu lalu Luhan ceritakan. Ditambah lagi posisinya yang sekarang sedang diangkat gaya bridal oleh Sehun.

"O-oh Sehun… Luhan sudah cerita tentangmu. Masuklah."

Baekhyun langsung mengekor begitu Sehun menuju ke sofa di ruang tamu. Dilihatnya pemuda itu menaruh Luhan perlahan-lahan seolah-olah Luhan adalah gadis yang rapuh.

Sedangkan Luhan hanya bisa mengatup mulutnya. Perlakuan Sehun dari semenjak mereka selesai bermain di kantor menjadi berubah drastis. Luhan tidak ingin terlalu percaya diri, tapi perlakuan Sehun untuknya terkesan sangat istimewa dan juga lembut.

"Masih mual?" tanya Sehun sambil mengusap rambut Luhan.

Luhan menggeleng dengan wajah terbakar. Ia teringat kejadian di mobil Sehun tadi, ketika ia mengeluh mual karena sudah menenggak cairan Sehun.

"Kalau begitu aku pulang dulu."

Napas Luhan berhenti saat gadis itu merasakan kecupan di keningnya. Sehun mengusap pipinya dua kali sebelum pamit pergi kepada Baekhyun dan juga dirinya. Setelah kepergian Sehun, Baekhyun langsung berubah menggila dan menggoyang-goyang tubuh lemas Luhan.

"Ceritakan semuanya!"

.

.

.

.

.

Hari kedua Luhan bekerja, lagi-lagi ia disambut oleh senyum dan perhatian manis dari Sehun. Atasannya itu nampak sangat senang hari ini, entah Luhan pun tak tahu ada apa sebenarnya.

"Kau nampak bahagia sekali, Sehun."

Sehun tertawa sambil mengekor Luhan dari belakang. Mata pemuda itu tidak bisa lepas dari bokong seksi Luhan yang nampak kenyal untuk diremas.

"Tentu saja. Ada yang membuatku senang pagi tadi."

Luhan terkekeh. Gadis itu memutari meja untuk mulai menyusun berkas-berkas serta agenda yang harus atasannya kerjakan hari ini. "Apa itu?" tanyannya penasaran.

Sehun memajukan wajahnya hingga napasnya menerpa wajah Luhan. Kemudian terdengar suara berbisik yang sangat rendah. "Malam tadi aku memimpikanmu." ujarnya. Matanya kemudian mengarah ke payudara Luhan dari atas. Posisi yang pas untuk melihat kedua daging kenyal Luhan beserta garis tengahnya yang menggoda. "Dan juga memimpikan payudaramu."

Luhan menutup dadanya yang terbuka dengan satu tangan. Mukanya mulai merona dan Sehun nampak puas sudah berhasil menggodanya.

"Kau tahu? Kau sangat manis ketika aku menggodamu seperti sekarang." bibir Sehun mendekat ke daun telinga Luhan. "Apalagi kemarin sore. Saat aku menahan kepalamu, penis besarku di mulutmu, dan matamu yang memohon agar aku terus memberimu penisku."

"Sehun…" tubuh Luhan gemetar terangsang. Lidah Sehun sudah mulai menyapu daun dan cuping telinganya bergantian.

"Kau sangat seksi, Lu. Sangat seksi sampai-sampai aku bisa membayangkan bagaimana rupamu jika kau kutelanjangi sekarang."

Luhan bergerak mundur saat merasakan kancingnya mulai dilepas. Yang benar saja, ini masih pagi demi tuhan! Ia baru datang kurang dari lima menit lalu dan Sehun sudah dengan beraninya menggoda seperti itu.

"Sehun, ini masih jam kerja."

"Masa bodoh. Perusahaan ini milik ayahku, lagipula aku bisa mengerjakan map sialan itu di rumah nanti." Sehun menarik tengkuk Luhan dan pemuda itu mulai menghirup leher Luhan dengan rakus. Ia terlihat seperti vampire yang membaui leher mangsanya demi mencari aliran darah. Sehun terlihat sangat tidak sabar untuk segera menerkam Luhan.

"Aaaahhnnn.."

"Aku suka aroma tubuhmu." Sehun mengendus leher Luhan semakin rakus. Gadis itu ingin mundur tapi tengkuknya masih ditahan oleh Sehun sehingga membuat tubuhnya terpaksa condong ke depan.

"Sehuunhhh, kau sudah berjanji.."

Mendengar itu, Sehun pun mulai menjauhkan wajahnya pelan-pelan. Luhan benar, ia sudah berjanji untuk tidak menyentuh atau bahasa kasarnya melecehkan Luhan apabila masih jam kerja.

"Argh!" Sehun menggeram marah. Merutuki lidahnya yang saat itu mengucap janji busuk untuk tidak bermain dengan tubuh Luhan. Karena sungguh, pada akhirnya pun Luhan pasti akan berakhir dibawah tubuhnya, mengangkang, serta menerima penisnya entah dengan sukarela maupun tidak. Dan kelak nanti, itulah yang akan menjadi pekerjaan Luhan yang sesungguhnya.

Tanpa mengucap sepatah kata apa-apa, Sehun berbalik lantas berjalan gusar menuju pintu keluar. Luhan di belakangnya tampak ingin menahan, namun gadis itu nyatanya hanya membeku dengan tangan yang terangkat di udara. Ia tidak bohong apabila agaknya ia menyukai sentuhan Sehun, permainan Sehun, dan segala kata-kata vulgar yang teruntai dari bibir lelaki itu. Namun apa daya, Luhan masihlah seorang gadis yang ingin menjaga kehormatannya. Menerima Sehun secepat ini, tentu bukan pilihan yang tepat.

Pintu dibanting cukup keras dengan Luhan yang masih bergeming di berdirinya. Gadis itu memejam matanya erat-erat, menelan ludah, lalu memutuskan untuk duduk dan memulai aktivitas kerjanya.

.

.

.

.

.

Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada tidak bisa mengeluarkan sperma. Sehun mengayunkan kepalanya ke belakang, sehingga sedikit mengantuk tembok. Ia pikir ia sudah menyerah dengan keadaan penisnya yang masih menegak, meskipun sudah dimainkan oleh tangannya sendiri semenjak dua puluh menit yang lalu.

Ia sungguh terangsang. Kegiatan solonya tidak berakhir indah karena nyatanya tak setetes pun sperma keluar dari penisnya. Bayangan Luhan dengan kemeja tipis dan putingnya yang mencuat tidak berhasil membuatnya klimaks. Astaga, apa ada yang lebih buruk dari ini?

Sehun mendesah kasar sembari menatap penisnya yang masih betah berdiri. Ia benar-benar frustasi. Mungkin beberapa tenggak alkohol akan berhasil mengurangi kesadarannya sehingga ia akan terlelap nantinya. Well, itu lebih baik daripada mengerjakan tugas kantor dengan kondisi ereksi yang luar biasa kerasnya.

Dengan memasukkan kembali penisnya, tanpa memedulikan seberapa besar benjolan di depan resleting celana hitamnya, Sehun pun keluar dari bilik. Ketika baru membuka pintu toilet, ia dikejutkan dengan keberadaan Luhan di depannya.

Luhan sama-sama terkejut. Gadis itu nampak salah tingkah ketika bertatap muka dengannya.

"A-anu… itu…"

Sehun menelan ludah melihat tingkah Luhan yang tak biasa. Sekarang gadis di depannya ini sangat menggemaskan. Dengan pipi merona, jari yang bertaut, juga mulut yang tergagap seakan-akan gadis itu ingin mengatakan suatu rahasia besar.

"Kau ada rapat jam setengah delapan. Sudah terlambat lima menit, sebenarnya." Luhan terkekeh canggung diakhir kalimat. Tatapan Sehun sangat tajam mengarah padanya, sehingga Luhan pun teringat adegan di ruangan kantor tadi.

Melihat Sehun yang tak kunjung bereaksi, Luhan pun kembali mendongak dan memberanikan diri menatap mata Sehun. Oh, dia harus melakukannya.

"U-untuk yang tadi… aku minta maaf… bukan maksudku untuk… yah, untuk…."

"Aku baru saja memutuskan untuk melupakan itu dan juga melupakan penisku yang masih berdiri." Sehun menunjuk tonjolan di celananya. Alis lelaki itu mengerut melihat reaksi Luhan yang mengatupkan mulut dengan tangannya. "Tapi dengan kemunculanmu yang tiba-tiba, kurasa aku tak bisa lagi menahannya."

"S-sehun—"

"Diam, dan jadilah asisten yang baik. Oke?" Usai memotong kalimat Luhan, Sehun mengambil tangan gadis itu untuk ditarik menuju ruangan kerjanya. Masa bodoh, Sehun sudah terlanjur terpancing dan ia tak peduli apapun selain seks bergairah yang akan mereka lakukan.

.

.

.

.

.

"Sehun! Jangan lakukan—Ouch!"

Luhan meringis merasakan pergelangan tangannya yang terpelintir. Sehun terlalu kasar melepas tangannya sehingga kini ia merasa terkilir.

Sehun, setelah membanting dan mengunci pintu, kembali mendekati Luhan yang masih mengaduh nyeri. Lelaki itu menarik sebelah tangan Luhan yang lain, mengarahkannya ke sofa sehingga Luhan sedikit terhuyung lalu terduduk dengan posisi tidak nyaman.

"Aku tidak bisa bertele-tele lagi, sayang."

Luhan melotot horror menyaksikan Sehun yang kini membuka ikat pinggang kulitnya dengan tergesa. Lelaki itu tak nampak main-main. Ada kesungguhan di matanya dan Luhan kini mulai merasa takut.

"Aku akan memperkosamu. Disini. Sekarang. Tidak peduli kau menyukainya atau tidak."

Usai berkata begitu, Sehun mendekat dan langsung menahan kedua tangan Luhan di sisi kepala. Niat Luhan yang ingin kabur terhalang, gadis itu terperangkap di bawah kungkungan Sehun. Jantungnya berdegup cemas tatkala Sehun menatapnya dengan buas.

Ketika wajah Luhan berpaling, Sehun memanfaatkan itu untuk menggigit pertengahan leher Luhan dan menghisapnya. Gigitannya berjalan turun, menuju payudara Luhan yang naik turun akibat napasnya yang cepat.

Sehun menjilat bibirnya sendiri sebelum mengalihkan lidahnya untuk menjilat area itu. Kemeja dan juga bra yang tipis membuat ia bisa merasakan tekstur payudara beserta puting yang ia jilat, meskipun terhalang dua lapisan tadi.

"Lepass! Sehun—lepaskan aku!"

Luhan belum menyerah untuk berteriak. Gadis itu menggerakkan kaki sebisanya, untuk menendang Sehun dan menjauhkan lelaki itu dari atas tubuhnya.

"Jadilah gadis penurut!" raung Sehun ketika salah satu tendangan Luhan berhasil mengenai pinggangnya. Ia mendecih. Ikatan rambut Luhan yang sudah berantakan ia tarik ke belakang, membuat kepala gadis itu kini mendongak menatapnya.

Sehun berubah berang. Penolakan Luhan membuat amarahnya memuncak dengan tiba-tiba. Padahal kemarin gadis itu jelas-jelas menyukai sentuhannya.

"Jangan munafik, Lu."

Dengan satu tangan, Sehun mulai menarik turun kerah kemeja sampai membuat kancingnya terlepas sembarang. Bra krem Luhan pun ditarik turun, menyebabkan gundukan payudara kenyal itu terhimpit keatas dengan puting yang jauh mencuat.

"Putingmu bahkan sudah berdiri." Sehun terkekeh sebelum mencubit daging kecil itu dengan menggunakan telunjuk dan ibu jari. Bukan hanya keras, tapi puting itu juga membengkak dan memerah. Bukti kuat bahwa Luhan pun sama terangsang dengan dirinya.

"Sehuun…"

"Bagus, Luhan. Bagus." Sehun berujar senang mendengar desahan pertama dari bibir gadisnya. Ia menatap puting di tangannya dekat-dekat, sebelum ganti menghisap benda itu dan menariknya menggunakan gigi.

"Jangaaan.. Aaakh!"

Sehun yang baru saja stabil kembali terpancing emosi saat lagi-lagi mendengar penolakan. Puting di gigitannya ditarik ke kanan dan kiri, digoyangkannya keras sehingga membuat payudara kenyal Luhan turut bergoyang-goyang, terkocok ke dua arah.

"Akh! Aaakh…."

Sehun mengeratkan kunciannya pada dua pergelangan tangan Luhan yang semakin bergerak liar. Sementara satu tangan lainnya yang bebas mulai menarik rok span Luhan keatas, kemudian langsung menusuk bagian lubang vagina Luhan dengan telunjuknya. Meskipun terhalang dalaman yang kini lembab serta tanpa melihat langsung ke bawah, Sehun dapat dengan mudah mengelus-elus garis belahan vagina Luhan. Menyebabkan kain lembab itu tenggelam sebagian, membentuk belahan vagina yang tembam.

"Berhenti merengek. Vaginamu sudah sangat becek." ujar Sehun setelah melepas gigitannya.

Melihat Luhan yang kini tak lagi memberi perlawanan, Sehun pun semakin semangat menggosok garis vagina Luhan hingga kain dalamannya semakin tenggelam.

"Haha, aku bisa merasakannya. Cairanmu vaginamu, merembes keluar dari celanamu."

Sehun menekan semakin ke dalam ketika jarinya menerima kedutan dari belah vagina yang ia gosok. Ia yakin si gadis sudah sangat amat terangsang. Kedutan lubang vaginanya sampai terasa di ujung jarinya yang masuk menusuk.

"Slut."

Sedetik setelahnya, Sehun mendadak menarik bagian tengah dari celana dalam Luhan. Menyebabkan vagina Luhan terbelah akibat kain celana yang ditarik keatas. Kini daging kelamin sang gadis terpisah dua, juga terangkat naik karena Sehun menariknya cukup keras.

Luhan mendongakkan kepalanya kuat-kuat. Gesekan kain yang membelah vaginanya membuat klitoris miliknya berdenyut-denyut. Ini memberinya kenikmatan dan sakit sekaligus.

"Bagus. Dengan begini vaginamu akan lebih cepat melebar." Kain dalaman Luhan semakin ditarik. "Sebagai persiapan untuk penisku."

Mendengar kata 'penis', Luhan pun sontak membuka mata dan kembali mencoba berontak. Tangannya berusaha ia bebaskan, tak peduli jika Sehun malah semakin mencengkramnya kuat-kuat. Tidak, ia tidak mau kehilangan keperawanannya!

"Sehun—Aaaakh! Apapun selain seks… Hhh… Kumohon, apapun selain itu…"

Mata Sehun yang tadinya mengarah ke vagina terjepit dan merah milik Luhan, kemudian menatap ke wajah si gadis yang kini memohon-mohon. Ia mendekat dan menatap lamat-lamat, menikmati wajah tersiksa Luhan yang penuh keringat, sebelum melepas tarikannya pada celana dalam yang menyebabkan pinggul Luhan ambruk kembali ke atas sofa.

"Baiklah."

Luhan pun akhirnya bernapas lega. Tangan Sehun juga tak lagi mengunci pergelangannya.

"Aku ingin payudara." Sehun menatap payudara kenyal Luhan yang nampak mengkilat berkat keringat. Dipantulkannya payudara kanan Luhan satu kali, membuat dada itu menggelayut naik turun. "Puaskan aku dengan dada kenyalmu itu."

.

.

.

.

.

Posisi Luhan saat ini adalah merangkak dengan menghadap kaca. Seluruh pakaiannya sudah ditanggalkan, menyisakan dirinya yang kini telanjang bulat, berpose layaknya seorang model majalah pria dewasa.

"Sekarang merunduk. Bersiku di lantai sampai putingmu menyentuh lantai."

Luhan menggigit bibirnya sendiri sebelum kembali mengikuti arahan dari lelaki di sampingnya. Ia merundukkan badannya, masih di posisi merangkak. Perlahan-lahan puting susunya mulai menyentuh lantai serta pantatnya semakin menungging keatas.

"Tahan."

Sedangkan Sehun tengah mengambil gambar dari berbagai sudut, mengabadikan payudara menggelayut, bokong yang besar nan kenyal, hingga vagina yang kali ini sudah lagi tak ditumbuhi bulu.

"Buka sedikit." titah Sehun sembari mencoba melebarkan paha Luhan. Lelaki itu juga membuka belahan vagina Luhan, menarik sebelah daging dengan satu tangannya sehingga lubang becek Luhan mampu ditangkap kameranya dengan baik.

"Ini sudah sedikit melebar. Kuharap penisku bisa menancap nanti."

Sehun semakin membuka belahan vagina Luhan. Lendir-lendir basah serta kedutan disana ia rekam pula dalam video. Tak ada yang lebih menggairahkan dibanding vagina seorang gadis ketika tengah terangsang.

Tak bisa menahan diri melihat betapa licinnya lubang vagina Luhan kini, terlebih posisinya yang kini membuka dekat wajahnya, Sehun pun memasukkan jari tengahnya tanpa aba-aba. Luhan terkejut hingga punggungnya bergetar.

"Oh-ho, maaf. Vaginamu terlalu licin."

Masih sambil merekam, kini Sehun memutarkan jarinya. Mencoba menjamah seluruh sisi dinding yang bisa ia gapai dan ia tertawa setiap dinding tersebut berkedut genit.

"Benar, lubangmu sudah sedikit longgar." Ia pun mengeluarkan jari tengahnya, lalu menjilat cairan lengket yang tertinggal di jarinya.

Luhan mendesah lega begitu melihat Sehun yang meletakkan kameranya diatas meja. Itu artinya sesi merekam sudah selesai dan semua ini bisa selesai lebih cepat.

PLAK

"Angkat kepalamu."

Luhan melenguh saat Sehun menampar bokongnya tadi. Lantas ia memperbaiki posisi merangkaknya. Kini payudaranya tak lagi menyentuh lantai.

Dari arah samping, Sehun mulai menurunkan celana. Lelaki itu berlutut, menyejajarkan tinggi pinggulnya dengan Luhan, kemudian menggenggam penisnya untuk diarahkan ke payudara yang menggantung bebas.

Lantas penisnya menampar payudara Luhan, dari arah bawah. Daging kenyal itu ditampar dari kanan ke kiri dan juga sebaliknya, dibuat bergoyang-goyang dengan sangat seksi.

"Buah dadamu sangat kenyal." ujar Sehun ketika melihat goyangan payudara Luhan melalui cermin. Disana nampak jelas penisnya memainkan payudara Luhan, membuatnya terpantul-pantul dalam keadaan menggelayut.

"Aaah… Sehun…" Luhan mendesah, tak membohongi rasa nikmat yang datang dari arah penis Sehun. Payudaranya ditampar dengan batang keras itu, yang seharusnya membuatnya merasa sakit. Tapi bukannya sakit, sensasinya malah membuat Luhan ketagihan.

"Angkat kepalamu." Sehun menarik kunciran rambut Luhan ketika gadis itu menunduk sehingga ia tak bisa menyaksikan gelayutan payudara Luhan. Ia pun kembali menampar, kali ini dari bawah ke atas. Ujung kepala penisnya akan menekan langsung ke puting Luhan, dan lelaki itu melakukannya berulang kali sehingga dada kenyal Luhan naik turun seperti hendak tumpah ke bawah.

"Penisku seperti mengocok payudaramu."

"Aaahn…" Luhan mendesah semakin keras ketika Sehun menaikkan kecepatan goyangan penisnya. Payudaranya naik turun tak karuan, bahkan precum Sehun kini sudah membasahi seluruh daging payudaranya. Sebagian dari cairan kental itu mengalir ke bawah, menjuntai dari puting sebelum menetes ke lantai di bawah. Dan semua itu nampak jelas di cermin sehingga Sehun pun semakin semangat memantulkan dadanya menggunakan penis.

Merasa gemas, Sehun pun menampar payudara itu dengan telapak tangan besarnya. Luhan meringis merasa sakit, namun tidak begitu lama karena kemudian Sehun merubah posisinya menjadi telentang. Lelaki itu segera mengangkangi perut Luhan, lantas kembali menampar payudara Luhan dari atas secara bergantian antara kanan dan kiri. Membuat dada sang gadis semakin lengket terkena cipratan spermanya.

"Payudaramu akan semakin besar setelah ini."

Usai puas dengan menampar, Sehun kembali merubah posisi Luhan. Gadis itu kini duduk dengan kaki terjulur, sementara Sehun berlutut di depannya. Sebelah payudaranya yang lengket dicengkram Sehun, lalu kepala penis lelaki itu mendekat ke ujung puting merah miliknya.

Wajah Luhan serasa terbakar ketika melihat bagaimana kepala penis lelaki itu menggosok pucuk putingnya yang mengacung. Bagaimana putingnya yang membengkak mengisi celah di kepala penis Sehun, menutupi lubang jalur sperma lelaki itu.

"Bahkan putingmu, Luhan, tercipta untuk lubang penisku."

"Aaangh.."

Luhan menjenjangkan lehernya. Punggung membusur, dada membusung, seakan menyambut gerakan penis Sehun yang masih menabrak puting susunya. Sensasi panas dari tusukan penis beserta lengket dari cairan precum Sehun malah membuatnya keenakan.

"Sialan, Luhan. Payudaramu benar-benar sialan." umpat Sehun sembari kembali menampari payudara kenyal Luhan secara sembarang. Buah dada yang makin membesar itu dimainkan Sehun dengan sesuka hati.

"Mulutmu."

Sehun menjauhkan penisnya yang masih bergoyang akibat baru saja selesai menampari dada Luhan. Lelaki itu menahan rahang Luhan untuk sedikit mendongakkan kepala, lalu memasukkan penisnya yang diterima Luhan dengan sukarela. Satu kali masuk, Sehun menancapkan penisnya dimulai dari rongga mulut hingga tenggorokan. Lelaki itu tertawa ketika melihat bagaimana jelasnya penisnya mengganjal di tenggorokan si gadis, itu nampak dari luar. Sungguh erotis.

Dan juga Luhan, yang kini tengah bernapas cepat, menggunakan hidungnya yang tenggelam di pangkal penis Sehun.

"Aku takjub." Sehun meraih ikatan rambut Luhan. Diarahkannya kepala gadis itu agar menatap kearahnya, bukan penisnya. "Gadis perawan sepertimu, bisa berlaku sejalang ini."

Lalu Sehun menekan pinggulnya. Memenjara kepala Luhan diantara penis dan dinding di belakangnya. Luhan jelas tak bisa kemana-mana dengan posisi seperti ini.

"Aah.. Bahkan tenggorokanmu lebih nikmat daripada pelacur professional."

Penis Sehun semakin mengisi kerongkongannya. Luhan menggeram, mencoba menahan Sehun agar lelaki itu tak masuk lebih dalam lagi. Sehun mengerti, ia menghentikan pinggulnya begitu merasakan cengkraman tangan mungil Luhan pada pinggangnya.

Sehun mendiamkan penisnya. Ia menikmati cara kerongkongan Luhan menghisap penisnya, seakan menariknya untuk masuk lebih dalam. Memijat seluruh bagian penisnya—karena kerongkongan Luhan terlalu kecil untuk penisnya yang luar biasa besar dan gemuk.

"Aku akan menyodokmu."

Luhan menganggap itu sebagai peringatan. Gadis itu pun mengeratkan pegangannya pada pinggang Sehun, lalu mulai memejam mata saat ketika penis Sehun mulai keluar lalu menyodok kerongkongannya dalam-dalam.

"Ngh!" Rasanya mual.

"Ya, melenguhlah. Beri penisku getaran." Sehun tersenyum puas, kecepatan tusukannya meningkat pesat. Hal itu berimbas pada Luhan yang semakin sering melenguh. Dan Sehun tidak berhenti, lelaki itu melecehkan mulut pegawainya sembari menggeram penuh kenikmatan.

Sehun memutuskan untuk berhenti ketika airmata mulai keluar dari sebelah mata Luhan. Sebenarnya ia masih ingin memborbardir mulut Luhan, tapi ia tak ingin Luhan terlalu mual hingga gadis itu merasa benar-benar tak nyaman.

Penisnya didiamkan diluar mulut Luhan yang masih terbuka. Gadis itu mengais napas satu-satu, menatap lemah pada penis yang menunjuk wajahnya dengan sombong. Basah, dialiri liur yang beberapa diantaranya sudah menjuntai jatuh hingga ke lantai. Sama dengan mulutnya, yang kini becek dan dipenuhi cairan campuran precum dan saliva.

"Lagi, Luhan."

Sehun menitah begitu merasa Luhan sudah mulai terbiasa. Diluar dugaan, Luhan malah mengantisipasi kedatangan penisnya. Sehun tak perlu menarik rambut Luhan, karena gadis itu dengan sendirinya mendongak serta melebarkan mulut agar penis Sehun dapat masuk dengan mudah.

"Seperti jalang, Luhan." Sehun pun kembali merojok tenggorokan Luhan. Nafsunya membuas, tingkah lacur Luhan sukses membuatnya ingin melecehkan si gadis lebih jauh lagi. Dalam keadaan menyumpal mulut Luhan dengan penis besarnya, Sehun menggeser lututnya sehingga tempurung lelaki itu mendarat pas di vagina Luhan. Yang mana hal itu membuat belahan vagina Luhan terbuka dengan sendirinya. Melebar, membiarkan lutut lelaki itu menggosok klitorisnya ke kanan dan kiri.

"Mmmmh… Nghhhh.."

Luhan memejam matanya mendapat rangsangan dari bawah. Ia tak pernah membayangkan sensasi luar biasa yang didapatnya ketika merasakan lutut Sehun memainkan bibir vaginanya hingga melebar. Itu benar-benar seksi, Luhan kian menuju ujung gairah.

Gadis itu pun melebarkan selangkangannya tanpa disuruh. Ia menyambut sodokan lutut di belah vaginanya, membiarkan vagina rapatnya yang basah dilebarkan dengan benda tumpul sebesar lutut.

"Angh!"

Sehun membuka rahang atasnya hingga Luhan mendongak. Jari lelaki itu membuka mulut Luhan melalui rahangnya, membuat pemandangan penisnya yang masuk ke tenggorokan nampak jelas di matanya.

"Dinding mulutmu memijat penisku." Sehun tertawa setiap melihat dinding pangkal tenggorokan Luhan yang berkontraksi. Pemandangan itu mirip dengan kontraksi dinding vagina yang tengah disodok penis.

"Juga vaginamu, berkedut di lututku." Sehun terkekeh, lututnya mengocok belahan vagina di bawah. Menghasilkan suara becek khas vagina yang terdengar keras.

"Jangan telan spermaku." Ketika saatnya mulai tiba, tanpa merapatkan mulut Luhan yang tengah ia buka, Sehun pun menyemprotkan spermanya. Lututnya menekan vagina lebih keras sehingga mungkin saja vagina Luhan menjadi sedikit melebar setelah ini. Matanya menatap ke pangkal tenggorokan Luhan, sampai orgasmenya selesai dan penisnya ditarik keluar, Sehun masih membuka mulut Luhan.

Ia melihat bagaimana spermanya keluar dari tenggorokan gadis itu, sebelum kemudian menggenang di mulutnya dan mengalir keluar dari sisi bibirnya yang terbuka keatas.

Sehun berdesis bergairah. "Spermaku menggenang di mulutmu, sayangku."

Dua jari tangan lelaki itu masuk. Ditutupnya mulut Luhan, dan Sehun mulai memainkan spermanya sendiri di mulut gadis itu. Cairannya diaduk, membuat sedikit demi sedikit masuk dan diteguk oleh Luhan.

"Pintar. Kau pintar, Luhan. Teguk sampai habis."

Mengeluarkan jari yang awalnya bersarang di mulut Luhan, akhirnya lelaki itu menutupnya dengan cumbuan di bibir Luhan. Seluruh rongga mulut Luhan ia sesap, ia jilati sisa-sisa cairan orgasme yang tertinggal disana. Luhan melenguh, memeluk leher Sehun hingga akhirnya lelaki itu mneggendongnya menuju kamar mandi ruangan.

.

.

.

.

.

To be continued?

Karena ff ini pwp, jadi konflik yang ada ngga bakal terlalu berat, atau mungkin gabakal ada konflik? Ya seperti itulah. Ini bukan genre angst atau hurt. Thankyou yang sudah mau review, jangan lupa untuk terus tinggalkan jejak. Tanggapan kalian sangat diterima dan berharga untuk gw /smile emot/