Luhan sedang di posisi duduk sila diatas sofa sembari menyuap camilan ke dalam mulutnya. Tampilannya tidak seperti sedang di kantor. Bahkan dia tak memakai dalaman bra di balik kemeja longgar Sehun. Ah, itu disebabkan kemeja miliknya sendiri sedang dikeringkan setelah dicuci karena secara tidak sengaja terciprat cairan Sehun.

Huh. Membayangkannya saja sudah membuat Luhan merona.

Baru hendak menyuap ke sekian kalinya, seorang office boy mendadak datang membuat Luhan gelagapan mencari bantal sofa untuk menutupi kakinya yang tidak tertutupi bawahan apapun selain celana dalam. Sehun sudah menawarkannya celana ganti namun lingkar pinggang lelaki itu terlampau longgar untuk muat di pinggang ramping Luhan. Lagipula Sehun bilang tidak akan ada tamu selama dirinya tengah rapat. Sedangkan Luhan sendiri, dipaksa Sehun untuk tetap berada di ruangan saja. Karena selain bajunya yang sedang dikeringkan, Luhan sendiri tampak letih setelah diserang pagi tadi.

Luhan bergerak kikuk saat memerhatikan sang office boy menaruh secangkir teh hangat diatas meja di hadapannya. Luhan hendak bertanya namun pemuda berseragam tersebut lebih dahulu bersuara, "Saya disuruh Tuan Sehun untuk membawakannya."

Luhan membalas senyum tipis. Kemudian melirik teh hangat mengepul di depannya. Ia tersenyum, tangan kanannya meraih pegangan cangkir untuk ia hirup aromanya. Hm, chamomile. Sehun benar-benar hebat bisa menebak kesukaannya.

.

.

.

.

.

Sehun baru kembali ke ruangan sekitar pukul satu siang. Pria tampan itu melepas lilitan dasinya yang mencekik seraya membuka pintu ruangannya. Lesu di wajahnya hilang berganti senyum kala menemukan Luhan, sedang berdiri di depan mejanya sendiri, sambil memakan camilan dengan santai. Pandangan Luhan ikut terarah padanya, dan si perempuan tersenyum sekilas sebelum muncul kemerahan di pipinya.

Sehun masuk dan menutup pintu. Berjalan kearah belakang Luhan dan langsung memeluk perut sekretarisnya. "Apa yang kau lakukan?"

"Aku?" Luhan menatap berkas yang menumpuk diatas mejanya. "Bekerja. Ngapain lagi?"

Terdengar kekehan singkat dari Sehun. Lelaki itu makin merapatkan posisi keduanya sedangkan tangan kanan mulai berani merayapi paha lembut terekspos milik Luhan. "Maksudku ini. Apa yang kau lakukan dengan paha telanjang ini?"

Luhan bergidik merasakan bisikan Sehun semakin mendekati telinganya. Ia menggeleng, seraya mencoba menggerakkan kaki mencoba menyingkir dari sentuhan intim Sehun. "Rok milikku belum kering. Salah siapa yang membuatnya basah tadi?"

Sehun menyeringai makin lebar. "Basah? Apa maksudmu 'basah'?" dengan tanpa ragu sebelah tangan lelaki itu sudah tiba di hadapan vagina tembam Luhan. "Ini yang basah? Hm?"

Luhan mendesah pelan, melirik kearah bawah dimana vaginanya sedang ditekan kuat oleh dua jari nakal atasannya. Ia mendesis, lidah Sehun kembali beraksi di tengkuknya. "Se-hun…"

"Dasar nakal. Sudah basah lagi ya?" Sehun semakin gencar menekan jarinya untuk merasakan celana dalam lembab Luhan. Ia menggeram samar, lalu segera mengambil posisi agar wajahnya sejajar dan berhadapan dengan belah pantat Luhan. Tanpa aba-aba, celana dalam dipelorotkan. Tanpa ada perlawanan berarti dari Luhan.

"Mana sini coba kulihat vaginanya." jari-jari terampil Sehun mulai membuka belahan pantat Luhan sehingga nampak lubang sempit vagina gadis itu yang nampak sempit. Saking sempitnya hanya terlihat seolah itu adalah garis pink yang diapit dua bibir vagina.

Luhan sedikit membungkukkan badannya sehingga vaginanya lebih mudah dieksplor oleh mata nakal Sehun. Sehun tersenyum bangga. Ia suka melihat bagaimana vagina itu mudah merapat setelah dilebarkan jari jarinya. Pasti nikmat jika disodok berkali-kali, pikirnya.

"Basah, Lu. Biar kukeringkan." setelah berbicara seperti itu, Sehun segera meniup niup tembam becek milik Luhan yang menggoda. Membuat Luhan merasakan angin dingin membelai vaginanya. Tanpa sadar alat kelaminnya itu berkedut-kedut cepat, seperti tengah mengantisipasi masuknya sebuah batang penis. Tapi nihil, yang ia dapat hanya sekedar tiupan yang bukannya mengeringkan, justru makin membuat vagina Luhan tambah becek.

"Sehun~"

"Apa cantik?" dari gelagat Luhan, sebenarnya Sehun sudah paham bahwa gadis itu sudah gatal ingin dijamah. Vagina nakal itu sudah berkedut minta digaruk oleh jarinya.

Luhan tidak mampu menjawab lagi saat merasakan gesekan hidung mancung Sehun di belah vaginanya. Ia bisa mengetahui itu dengan mudah setelah merasakan tekstur hidung tinggi Sehun yang menggelitik vagina tanpa bulunya. Sesekali ujung hidung pria itu akan bergerak kekanan kiri, seperti mencoba menelusup ke tengah belahan sempit vaginanya. Kadang ujung hidungnya hanya bersentuhan dengan klitoris milik Luhan, membuat Luhan nyaris gila.

Sehun sedang mengendus aroma vaginanya.

"Aku suka aroma vagina. Lembab dan hangat."

Luhan semakin menahan kenikmatan dikala Sehun sengaja menggesekkan belah vaginanya dengan ujung hidung. Lelaki itu sengaja menggodanya!

"Sehuun…" lagi-lagi ia merengek.

Senyum Sehun berganti seringai menyeramkan. Lelaki itu sengaja menjauhi vagina berkedut milik Luhan dan hanya memainkan belah pipi pantat milik sekretarisnya itu. "Kenapa? Kau mau apa?"

Paha Luhan ditampar dua kali.

"T-tolong…"

Sehun menarik kasar tangan Luhan, lelaki itu langsung mencumbu bibir terbuka Luhan dengan rakus. Menghisapnya ganas seperti biasa. Membuat bibir ranumnya bengkak dan basah karena saliva.

"Memohonlah, Luhan."

Luhan terbakar nafsu. Bisikan Sehun di depan mukanya ia respon dengan anggukan, lalu tanpa pikir panjang ia duduk diatas meja setelah menyingkirkan beberapa berkas ke samping. Kedua kakinya naik, membuat posisi mengangkang dengan vagina merah yang kini terbuka mengarah ke Sehun.

"Tolong hisap, jilat vaginaku." Luhan sudah kehilangan akal sehat. Permainan sederhana dari Sehun seperti mengendusi vaginanya dengan lembut berhasil membuat sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi Luhan yang menolak Sehun.

Sehun, disisi lain, hanya bisa menatap kagum pada belah bibir vagina yang membuka-mengatup karena dimainkan oleh Luhan sendiri. Seolah gadis itu ingin menunjukkan betapa laparnya vagina miliknya akan sodokan kasar.

"Aku tidak mau menjilatnya. Lendir vaginamu masih sedikit."

Ujaran Sehun membuat Luhan mendesah frustasi. Gadis itu nyaris menyerah ketika melihat Sehun menyodorkan sebuah pulpen dari saku jasnya.

"Gunakan ini, buatlah vagina jalangmu itu becek. Baru akan kuhisap sampai lendirnya habis."

Usai berkata seperti itu, Sehun duduk di hadapan si gadis. Menumpu sebelah kakinya ke lutut dan menatap penuh minat pada lubang vagina merah muda di depannya. Vagina yang sudah diperawani kelima jarinya.

Luhan merasa tak punya pilihan. Pulpen mulai ia dekatkan pada ujung klitoris, lalu digesekkan keatas bawah dengan gerakan lembut.

"O-oh.. oh.."

Luhan tidak pernah tahu rasanya senikmat ini memainkan vagina sendiri.

Sehun mulai menuangkan cairan kopi ke dalam cangkir. Kopi dalam cangkir ia sesap khidmat sembari mengamati bagaimana Luhan asik memanjakan vagina jalangnya sendiri.

"Akan lama jika hanya kau gesekkan seperti itu."

Tanpa aba-aba, Sehun merebut pulpen dari tangan Luhan. Lalu segera dimasukkannya benda panjang itu ke dalam vagina Luhan yang semakin berkedut kencang. "Lihat, kasihan vaginamu sudah kelaparan." ia terkekeh diakhir kalimat.

Luhan tanpa bisa mengendalikan diri, segera menggantikan tangan Sehun dalam memasukkan pulpen ke liang vaginanya. Nikmat, nikmat. Hanya itu yang ada di pikirannya sekarang. Ahh, ia suka saat ujung pulpen yang tumpul dan membentuk lonjong itu menyentuh seisi vaginanya. Tanpa sadar kocokannya ia percepat. Semakin membuat vaginanya melebar selebar pulpen dan membiarkan lendir beceknya mengalir hingga ke permukaan meja. Luhan semakin menggila saat mengingat bagaimana jari-jari kasar Sehun menggaruk dinding vaginanya seminggu lalu. Saat vaginanya dilecehkan hingga melar, entah bagaimana kali ini memori itu malah membuatnya makin terangsang.

"Ahh Sehun! Sehuuun!" persetan dengan suaranya yang mungkin terdengar hingga keluar ruangan. Ia hanya butuh Sehun!

Sehun tidak melepaskan matanya dari vagina yang tengah dikocok pemiliknya sendiri. Perut Luhan terlihat bergetar, saking cepatnya tangan wanita itu menyodokkan pulpen. Sehun memerhatikan itu semua dengan detil, sampai ke pergerakan lendir vagina Luhan yang membasahi mejanya.

"Tsk, kau mengotori mejaku."

Sehun berdiri, lantas menarik rambut Luhan, memaksa wanita itu turun tanpa menyuruhnya mencabut keluar pulpen dari vagina. Lelaki itu mendesis berbahaya, membalikkan posisi Luhan dan menekan kepala sang gadis hingga nyaris mengenai permukaan meja.

"Bersihkan. Jilat."

Luhan, di bawah aura dominan Sehun, hanya bisa mengangguk pasrah dan mulai menjulurkan lidah untuk mengecap cairan miliknya sendiri. Sehun menatap puas, kepala Luhan ia arahkan ke kanan kiri untuk membersihkan mejanya.

"Bagus, jalang. Lain kali jangan kotori mejaku dengan lendirmu, mengerti?"

Usai bicara itu, Sehun merobek kemeja di badan Luhan dari belakang. Luhan menunduk, memerhatikan dadanya berguncang saking kerasnya Sehun merobek kemeja. Branya tidak dibuka, melainkan hanya ditarik keatas hingga dadanya yang berukuran sedang itu menggelayut tanpa penyangga.

Sehun lantas menekan punggungnya hingga dadanya terhimpit di permukaan meja. Puting kerasnya tenggelam ke dalam daging payudara, membuat Luhan keenakan sendiri.

Sehun menekan punggung Luhan agar diam di posisinya. Tangannya yang sudah gatal ingin membobol vagina, ia arahkan untuk mengambil pulpen yang masih tertancap di dalam sana. Pulpen ia gerakkan memutar, seperti ingin melebarkan lubang merah basah kesukaannya.

"Enak, Lu?"

"Hngh… ahh…" desahan itu sekiranya sudah menjadi jawaban jelas. Luhan sudah terbuai pada permainannya.

Sehun mengeluarkan pulpen, membuat Luhan merasa kehilangan di vaginanya. Sehun tatapi lendir yang menempel di batang pulpen, lantas ia hirup banyak-banyak sebelum akhirnya ia jilat hingga bersih.

"Baru segini saja sudah nikmat.."

Sehun yang ingin kembali merasakan lendir vagina Luhan pun lantas memasukkan tiga jari panjangnya. Dinding vagina Luhan ia garuk hingga memutar, jarinya ia tekuk, merasa tergoda oleh kedutan dinding vagina itu sendiri.

"Sabar, sayang. Vaginamu berkedut cepat sekali."

Lantas mulai ia gerakkan keluar-masuk, bringas. Sehun seolah lupa bahwa vagina Luhan masih sempit seperti gadis pada umumnya. Ia hanya ingin melebarkan vagina nakal itu, dengan jari ataupun penis, dan mainan kalau diperlukan.

"Berkedut-kedut ingin disetubuhi hahaha.."

Sehun tertawa seperti seorang pemerkosa. Lubang vagina Luhan yang perlahan melebar malah semakin menghisap kelaparan di dalam sana. Jari Sehun sampai didorong mentok pun tetap saja si vagina berkedut kencang. Terlihat lendir vagina wanita itu sudah berceceran ke paha hingga beberapa kali menetes ke bawah lantai. Jalang erotis.

Ekspresi wajah Luhan, tidak perlu ditanya. Gadis itu terang terangan menunjukkan kenikmatannya dilecehkan oleh si CEO Oh. Kadang ia meringis sakit, tapi kemudian mengerang puas seolah frustasi akan sodokan di vaginanya.

Di tengah kegiatan panas mereka, terdengar suara dering ponsel Sehun dari arah sofa. Sehun mengangkat kepala, mendecak atas panggilan sialan yang berhasil menginterupsinya. Ia melirik ke bawah, tempat jari-jarinya bersarang nyaman dalam vagina lembab hangat kesukaannya. Bibirnya tersenyum jahat.

"Kemarilah."

Tanpa melepas tancapan jari di vagina Luhan, Sehun berjalan perlahan kearah sofa. Terlihat seperti dia menarik Luhan melalui vaginanya. Dan Luhan benar-benar nampak seperti jalang dengan berjalan mengangkang, mengikuti langkah Sehun. Tancapan jari Sehun terasa makin dalam setiap ia melangkah.

Setibanya duduk di sofa, Sehun mencabut jarinya dan menampar payudara Luhan tiba-tiba dengan tangan lengketnya. Luhan mendesah sambil mendongak, sedangkan Sehun mulai mengambil ponsel dan mengangkat panggilan. Ayahnya.

"Ya?"

Luhan mengangkang kearah Sehun. Memamerkan vaginanya yang minta dipuaskan. Mukanya sudah merah dan berkeringat. Sehun melihat itu dan tersenyum. Empat jari yang sebelumnya digunakan mengocok vagina, ia jilat dan kembali mengusap lingkaran lubang vagina melar Luhan dari luar. Tidak sampai masuk.

"Apa? Dimana?"

Sedikit sulit untuk berkonsentrasi dengan telpon disaat keadaan Luhan terlihat siap diterkam. Persis pelacur murah yang kekurangan penis besar. Lihatlah vagina basah itu. Sudah pasti menginginkan tusukan penis.

Luhan mencubit putingnya sendiri. Desahan ia tahan dengan menggigit bibir. Ah…

"Kurasa itu bukan tanggung jawabku, Ayah."

Sehun menyingkirkan tangan Luhan. Tangan lelaki itu langsung menggantikan Luhan untuk menarik puting. Tidak tanggung-tanggung, Sehun menariknya hingga ke depan dan kemudian mengocoknya sembarang arah. Ia terkekeh tanpa suara. Luhan menutup mulutnya menahan erangan nikmat yang hendak keluar.

"Kecuali kau membiarkan aku membawa sekretarisku."

Luhan samar-samar mendengar Sehun membicarakan dirinya. Tapi masa bodoh. Jari Sehun yang kini sudah kembali mengobok isi vaginanya berhasil membuat kesadarannya nyaris hilang. Rasanya seperti terbang. Sementara Sehun terkesan professional dengan berbicara tenang di telepon ketika jari-jarinya mempermainkan vagina wanita.

"Minggu depan. Ya, dimengerti."

Telepon dimatikan. Kini ia menambahkan jari, dua jari dari tangan kiri, untuk ikut masuk memenuhi lubang vagina Luhan. Ah.. Vagina Luhan ia tusuk dengan jari tangan kanan dan kiri. Membuatnya semakin melar kesamping.

"Astaga, Luhan. Makin tidak sabar aku ingin menyetubuhi vaginamu. Menghukum vagina nakalmu dengan sodokan penis besarku."

"Aaah jarimu sudah cukup nikmat… Kau menggaruknya dengan hebat sshh…"

Sehun menyeringai puas. Makin hari Luhan terkesan semakin nakal, semakin menggodanya untuk melakukan lebih. Mungkin gadis itu baru sadar betapa hebatnya ia dalam hal memuaskan wanita.

"Sehun.. sebentar lagi ahhhh.." pinggul Luhan terangkat keatas ketika merasakan gejolak orgasme datang. Sehun menangkap pinggul si gadis dan langsung saja mengganti jarinya dengan mulut. Ia sedot vagina Luhan, meminta lendir vagina. Pipinya sampai cekung, ketika Luhan orgasme di mulutnya, pria itu segera menghisapnya rakus sambil menusuk lubang Luhan yang berkedut dengan menggunakan lidah. Aroma vagina Luhan menjadi berkali lipat lebih kuat saat si gadis orgasme.

Selanjutnya gadis itu terbaring lemas di sofa. Payudaranya nampak berkeringat, puting merahnya ikut mengkilat. Sehun tersenyum, lantas melepas jasnya untuk dijadikan selimut, menutupi tubuh polos sekretarisnya.

"Tidurlah. Nanti saat jam pulang kubangunkan."

Luhan hanya bergumam sesaat sebelum tertidur lelap. Permainan Sehun hari ini berhasil menguras tenaganya.

.

.

.

To be continued

.

.

a/n : ULALA IM BACK. Ada yang masih inget cerita ini? Sorry for really really really late update :)