.

Ch 02: Maji Maju

Oleh SUICCHON

.


.

Kalau Aomine punya uang seribu untuk umpatannya hari ini yang ia kutip dari nama nama hewan, Aomine pasti sudah punya uang cukup untuk membeli Majiba si restoran burger dan mengganti namanya menjadi MAJU BURGER.

Aomine pikir, nama itu lebih cocok disematkan di papan nama bagian atas restoran cepat saji itu. Pertama, karena Aomine yakin nama adalah doa. Dengan nama begitu, restoran itu niscaya makin laris dan makin berkembang. Dahulu saja ada tukang jual cilok di depan Teiko dengan gerobak bertuliskan 'Mother Wish'. Lihat sekarang apa yang terjadi. Yang jualan sudah membuka kafe cilok sendiri. Lengkap dengan usaha waralaba segala. Itulah mengapa nama yang baik itu penting.

Yang kedua merupakan faktor kekesalan Aomine atas tempat itu.

Sejak jaman ia masih anak SMP yang sok gahar, Aomine sudah tahu tempat itu tidak menjual cilok. Cilok saja tidak jual, apalagi burger udang atau sajian bertopping ebi. Aomine kira, setelah terlewat beberapa tahun, ketika ia sudah sedewasa dan seganteng ini, restoran itu sudah memberikan inovasi di sana-sini sehingga paling tidak bisa sedikit cocok untuk dimasuki Aomine. Tahunya, restoran itu sama sekali tidak ada kemajuan. Maji tidak maju-maju, tahu?

Sepanjang yang Aomine lihat, kemajuan yang ada cuma menambah sabun cuci tangan wangi stroberi di wastafelnya, memberikan paket mainan anak berwujud Lightning McQueen untuk pesanan paket anak, dan inovasi gagal lain seperti bikin nasi uduk, ayam saos coklat, dan rendang krispi. Semuanya gagal. Pantas saja kemarin banyak yang bikin review makanan dari Majiba. Reviewnya jelek semua lagi. Tidak ada yang Aomine suka lagi.

Sebetulnya, Aomine hanya mencari kambing hitam untuk ia persalahkan atas kegagalannya mengikuti sebuah tips di Wikihow.

Begini ceritanya sebelum Aomine bercita-cita ingin membeli Majiba dan mengganti namanya.

Hari itu, Kagami menawarkan Aomine untuk datang ke apartemennya ketika ia sedang bosan. Inginnya Aomine mengiyakan dengan keras, berhubung Aomine adalah tipikal lelaki yang jujur dan gentle. Tapi untuk kali ini, Aomine tak bisa seiya sekata dengan bisikan hatinya untuk ikut sang Macan pulang ke kandang. Rasanya tidak etis saja tiba-tiba ikut pulang begitu ditawari untuk datang.

Ia malah mengajak Kagami jajan di Majiba. Yang mana kemudian Aomine sesali sampai mati. Apa artinya menyesal sampai mati? Yaitu ketika Aomine ingin mati karena menyesal kemudian hidup lagi untuk kemudian menyesal lagi. Semacam itulah.

Awalnya pembicaraan mereka santai saja. Saling mengejek dan membicarakan pemain basket dari sekolah lain. Hingga kemudian Kagami pamit ke kamar mandi sebentar.

Saat itulah bencana seperti tengah berdiri di garis start, kemudian didor untuk berlari sekencang-kencangnya dalam mengobrak-abrik hari Aomine

.


.

'Bicarakan persamaan antara kamu dan dia. Pembuka percakapan yang baik adalah dengan membicarakan hal-hal yang kamu rasa kamu punya persamaan dengan dia. Jangan ragu untuk membicarakan soal hal yang sama antara kamu dan dia. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain membicarakan persamaan kalian berdua!'

Sekembalinya Kagami dari kamar mandi, Aomine sudah menyiapkan amunisinya untuk bermanuver secara lincah. Yang ia takutkan hanya kemungkinan pembicaraan jadi awkward saja.

"Kagami. Kamu tahu kan kita ini sama-sama Man?" Aomine mengawali dengan senyum penuh arti.

Kagami mengalihkan pandangannya dari kafe bernama Mother Wish di seberang jalan.

"Itu dilafalkan 'Men', Aomine. Bukan 'Man' dengan huruf A jelas seperti melafalkan nama Kagami Taiga."

"Aku suka bilang 'Man' daripada 'Men'."

Kagami menautkan alisnya.

"Kenapa?"

"Man itu kan ya cuma singkatan. Singkatan dari kata 'Manuk'."

Aomine tersenyum. Kagami tersedak.

"Eh ini minum dulu, Kagami. Ya ampun. Aku cuma bilang manuk kok kamu sampai segitunya."

Kagami tidak berkata-kata.

"Kamu suka burung ngga Kagami?"

Aomine lumayan suka burung. Di rumah bapaknya punya burung. Sering diikutkan di lomba-lomba tingkat nasional, tapi tidak pernah menang. Malah sebetulnya menurut Aomine, burung Aomine lebih pantas diikutkan lomba. Secara, burungnya lincah dan gesit. Dan Aomine ingin tahu apakah Kagami suka burung. Kalau suka, mungkin suatu saat Aomine ingin menunjukkan burungnya yang gesit dan lincah pada Kagami.

"Hmm.. Tidak. Aku sukanya olahraga."

"Ohh Olahraga. Sama. Aku juga suka Olahraga. Basket sih yang jelas. Hehe. Kamu juga kan?"

Aomine seperti tukang pipa yang ditempatkan dalam sebuah panggung stand up comedy. Dipaksa mencari obrolan dan bahasan yang menghibur atau acaranya batal. Sedangkan Aomine hanya tahu cara menyambung pipa dan sistem drainase perkotaan. Aomine tidak tau bahwa membicarakan persamaan antara ia dan Kagami bisa sesulit ini.

Ini juga yang alasan pertama mengapa ia lantas bercita-cita ingin membeli Majiba dan mengubah namanya. Gara-gara komunikasinya dengan Kagami sama sekali tidak ada langkah maju ke depan. Mogok.

Entah mana yang salah. Langkah Aomine atau langkah dari Wikihow. Sepertinya Aomine sudah mengikuti sama persis. Cuma dikopas dan tetap saja tidak berjalan mulus.

Aomine dulu pernah melakukan hal ini. Menyalin PR dari buku Momoi. Disalin dengan sama persis ke titik komanya. Kemudian ia ketahuan telah menyalin dan disetrap. Mungkin sebaiknya Aomine belajar dari kesalahan. Mungkin sebaiknya Aomine sedikit mengubah gaya saja. Agar tidak sama persis dari Wikihow. Melenceng sedikit mungkin tidak apa-apa.

Aomine kembali merogoh ponsel pintarnya yang sayangnya tidak pintar pintar amat. Ingin segera melompati langkah ini berhubung sepertinya tidak ada kemajuan sama sekali.

'Cobalah untuk mendekatinya. Biasanya lelaki tidak terlalu peka untuk menyadari bahwa seorang wanita tengah mendekatinya. Namun bukan berarti hal ini menuntutmu untuk bersikap agresif dalam masa pendekatan. Kamu bisa ajak dia untuk melakukan suatu hal bersamamu. Atau minta bantuannya untuk membantu aktivitas yang tidak terlalu kamu kuasai. Lakukan dengan halus dan jangan tampak memaksa ingin memasuki zonanya.'

"Aomine?"

"Eh Y-ya?"

"Kamu sibuk?"

Aomine paham apa yang Kagami maksud. Melihat ponselnya terus menerus membuat Kagami mempertanyakan apa yang ada di layar itu.

"Ah tidak. Cuma chatting sama temen sekelas."

Satu kalimat ini adalah alasan nomer dua mengapa Aomine mengkambinghitamkan Majiba dan bercita-cita ingin mengubah namanya. Jujur saja. Setelah kalimat itu, pendekatan Aomine malah seperti dipukul mundur. Sangat susah untuk bangkit.

Saat itu, Kagami nampak berekspresi seperti beberapa hari yang lalu ketika mereka tengah berkelakar soal orang-orang yang menyukai Aomine. Wajahnya keras, kaku, dan seperti sangat terganggu dengan hal itu. Kagami tidak pandai cepat-cepat menyembunyikan ekspresinya, jadi Aomine bisa mengetahui dengan mudah bahwa ada yang salah dengan ucapannya.

"Oh. Kukira kamu ngga suka chatting. Mengingat terakhir kali chatmu padaku hanya berupa huruf Y."

Kalau Aomine pernah ikut berperang dalam perang dunia kedua, Aomine mungkin akan merasakan bahwa situasi saat ini sama sulitnya dengan situasi peperangan. Bedanya dahulu susah sejahtera dan susah merdeka, sekarang mau memerdekakan jalur komunikasi antara ia dan Kagami saja susahnya bukan main.

Pilihan antara mengakui bahwa ia membuka Wikihow untuk dijadikan petunjuk dalam mendekati Kagami atau berbohong bahwa ia tengah chatting dengan seseorang di kelasnya sama sama memberi dampak buruk dan membuat Aomine pening.

Sampai Aomine kalah berkali-kali dalam Interhigh dan Wintercup pun Aomine tidak sudi mengakui bahwa ia menggunakan langkah dari internet untuk petunjuk mendekati Kagami. Akan terasa sungguh beraib bagi Aomine yang biasanya nampak keren. Terlebih jangan sampai Kagami tahu bahwa ia tengah melakukan pendekatan pada Kagami. Aomine tidak ingin semuanya jadi kacau. Ingin mengatakan ia tsundere? Kali ini, ia mengakui ia memang sedang tsundere.

Aomine juga sebetulnya tidak ingin menimbulkan jalur pemahaman yang tidak bertemu dengan berbohong bahwa ia tengah chatting dengan seseorang. Kagami mungkin saja jadi merasa bahwa ia tidak penting bagi Aomine. Aomine sudah terlanjur berkata seperti itu, dan tidak mungkin ia tarik kembali.

Andaikata langkah kali ini adalah langkah dalam rencana peperangan, Aomine sudah kalah bahkan sebelum melancarkan peluru dari magasinnya. Sekarang Aomine hanya bisa berdoa semoga ia tidak mengacau ataupun menginjak ranjau di langkah berikutnya.

"Akhir pekan ini aku ulangan bahasa inggris."

Aomine memancing pembicaraan.

"Nilaimu bakal jelek, Aomine. Percayalah."

"Yakin sekali kamu, Kagami. Begini begini aku pernah dapat nilai 9!"

"Tapi bukan dalam ulangan bahasa inggris. Sudahlah. Kamu bahkan tidak bisa membaca 'Man' dengan benar."

Aomine tahu Kagami sudah masuk dalam sebuah 'bait'. Mungkin langkah ini masih punya secercah cahaya.

"Aku harus minta bantuan Satsuki kalau gitu. Satsuki tuh sering baca manga humu. Jadi dia pemahaman berbahasa Inggrisnya pasti tidak diragukan."

Aomine tahu Kagami sudah terpancing dengan cengiran macan girangnya itu.

"Loh. Jauh jauh ngomongin Momoi. Di depanmu ini lhoh. Bule."

Sip. Ini bisa menutupi kesalahpahaman barusan. Aomine terus maju.

"Kalau begitu besok aku akan datang ke apartemenmu."

"Boleh, boleh, boleh. Jam berapa?"

"Waktu menyusul ya."

Bagus. Sejauh ini lancar meski agak tersandung.

Aomine terus menerus tersenyum padahal itu tidak biasanya Aomine lakukan. Senyumannya tak kunjung hilang sampai Kagami membayar makanannya di kasir dan ia manfaatkan untuk membuka langkah selanjutnya.

'Lakukan kontak fisik. Mulailah untuk menunjukkan kalau kamu tertarik padanya dengan menyentuh di bagian-bagian tubuh yang aman namun mengesankan.'

Pada titik ini, Aomine sudah tahu daerah mana yang bisa ia sentuh. Bahkan ia sudah lama membayangkan ingin menyentuh bagian itu.

Sekembalinya Kagami dari kasir, mereka memutuskan untuk pulang. Sudah habis sesi jajan-jajannya. Menghabiskan senampan penuh burger dan dua langkah yang gagal. Langkah berikutnya, tak akan Aomine biarkan gagal lagi.

"Hari kemarin aku one-on-one dengan Kise."

Kise? Aomine tidak salah dengar?

"Aku menang tiga kali berturut-turut, Aomine!"

Aomine tersenyum. Ini dia pertanda langkah ketiga harus segera ditamatkan sebelum jauh dari Majiba.

"Hahah. Kerja bagus, Bakagami."

Dan inilah yang sudah Aomine tunggu. Mengatakan sesuatu yang apresiatif berhubung ia pernah dapat protes dari Kagami bahwa ia tidak pernah mengapresiasi usaha seseorang, sambil menepuk puncak kepala Kagami.

Rambutnya ternyata sungguh halus meski kadang bentuknya nampak sangar.

Aomine masih tersenyum sambil berjalan. Baru beberapa langkah kemudian ia sadar bahwa Kagami tertinggal di belakang.

"Kagami? Ada apa?"

"Anu, aku ada acara keluarga. Harus cepat pulang." Katanya. Namun tak menatap mata Aomine.

Tiada pamit tiada ijin, Kagami berbalik dan berlari berlawanan arah dari arah apartemennya yang seharusnya ia lalui.

Dengan hilangnya punggung Kagami di tikungan yang diparkiri truk dengan tulisan 'Susumu mambu Samsu', Aomine mengantongi 2 pertanda kebohongan Kagami dan 2 pertanda langkahnya gagal.

Yang pertama, Kagami berbalik menuju arah yang salah untuk pulang menuju apartemennya. Ini jelas-jelas penipuan. Yang kedua, sejak kapan Kagami punya keluarga di sini yang membuat acara? Ini juga penipuan.

Dua hal lagi yang membuat Aomine jiper melakukan langkah selanjutnya adalah : Kagami tidak suka disentuh, dan langkah pendekatan Aomine sudah gagal hingga sampai di langkah nomer lima ini.

Sepulang dari Majiba, Aomine akan mandi keramas, merenungi perbuatannya, dan memikirkan bagaimana harus bersikap saat datang ke rumah Kagami besok.

.

.

.

TBC