A/N: Selamat Aokaga Day bagi yg cinta our hottest couple. Semoga bisa menghibur & menambah bahagiaaa
.
.
Ch 03: Cur-hate
Oleh Nejumi
.
.
Jika kamu takut mendengar jawabannya, ajaklah ia berkencan. Ini adalah metode yang bagus untuk mencoba karena kamu tidak secara terbuka menunjukkan ketertarikanmu, hanya kemungkinan ketertarikan selanjutnya. Pertanyaan yang harus kamu tanyakan adalah apakah ia ingin pergi keluar bersamamu.
Malam Jumat...
Sebenarnya, Kagami sama sekali bukan tipe orang penyabar. Ini juga bukan rahasia, seisi Seirin bahkan sepenjuru Tokyo tahu. Tapi, entah kenapa dan apa penyebabnya 'Kagami bisa tahan menghadapi Aomine' masih menjadi misteri.
Jika dipikir, siapa juga yang kemarin menawarkan diri menjadi tentor english seorang Aomine Daiki? Iya, Aomine Daiki—manusia yang tidak bisa mengucap 'Man' dengan tepat dan akurat, malah si murid sekarang sama sekali tidak bisa diajak fokus. Sebentar-sebentar melirik ponsel, diajari pronounce matanya malah jelalatan ke mana-mana. Ditanya, jawabannya ngawur.
Kagami sampai geregetan mengucap "Oh my God, Aomine. Lihat bibirku!" waktu Aomine diajari mengucap no-now-know-known.
"Dari tadi juga aku lihat." Si Biru membantah.
"Lihat apaan. Kalau betulan lihat, kamu tidak akan bicara no-no-no-no begitu."
"Ya ya ya... lanjut yang lain kalau begitu." Aomine membalik buku, sama sekali tidak mempermasalahkan ucapan Kagami.
Dan lagi, di sini siapa gurunya? Kenapa malah Aomine yang menentukan lanjut atau tidaknya? Ibarat berenang, Aomine masih di kolam balita, belum boleh ke mana-mana. Duh.
Kagami menghela napas, mengingat bahwa bagaimanapun juga sepatu pemberian Aomine sangat berjasa bagi hidupnya. "Sebenarnya english-mu masih sangat basic. Kita mulai dari tulis saja kebiasaan sehari-hari dari bangun tidur—"
Aomine sedang berkutat pada ponselnya lagi.
Jika tidak ingat bahwa sepatu pemberian Aomine sangat berjasa bagi hidupnya, Kagami sudah melempar ponsel Aomine dari balkon apartmennya (lantai 3) lalu menendang si Biru keluar.
"Aomine—"
"Kagami..."
Kagami malah menyahut panggilan Aomine "Apa?"
"Sabtu ada acara?"
Mata Kagami memicing "Tidak. Dan berarti kamu tidak boleh bolos training English denganku."
Jelas terlihat, tadinya Aomine akan mengucap sesuatu atau malah mendebat ucapan Kagami. Tapi kemudian si Biru hanya berdecak kesal, menulis sesuatu pada buku tulisnya.
"Kamu kenapa?" tanya Kagami heran.
"Thirty." Jawab Aomine singkat.
"Apaan yang tiga puluh?"
Mata biru berputar jengah "Aku haus."
Maksudnya thirsty.
"Oh..." Kagami bangkit, menuju dapur. Sungguh jika dipikir, harusnya Kagami yang jengah dengan Aomine. Lagian, kenapa juga ia mau saja mengambilkan minum untuk Aomine? Biasanya saja sudah menanggap rumah sendiri, berlaku seenaknya.
Mengambil air minum, Kagami bisa melihat jelas Aomine malah sibuk dengan ponselnya. Raut wajah Aomine serius, benar-benar serius. Tidak seperti saat diajari, malah ogah-ogahan.
Menaruh botol minum, Kagami kembali duduk lesehan di samping Aomine "Chatting dengan siapa sih?" nada bicaranya yang terdengar kesal sama sekali tidak ia sadari.
"Teman." Aomine menaruh ponselnya di atas meja. Memulai untuk menulis... eh tadi disuruh menulis apa?
"Teman siapa? Momoi? Kuroko? Kise?" Kagami mengabsen nama 'teman' Aomine yang ia kenal.
"Teman yang bukan mereka bertiga." Jawab Aomine tanpa menatap Kagami.
Aomine punya teman selain Momoi, Kuroko, Kise dan dirinya, yang betul-betul bisa membuat tidak fokus? Dan Kagami makin kesal, mengingat jika chat dengannya, jawaban Aomine selalu singkat dan tidak jelas.
Kagami mengintip buku tulis Aomine yang hanya berisi 'Saturday, what about movie?'
Sabar, sabar... Kagami mengelus dada nelangsa.
"Keluar yuk." Kagami bangkit, mengambil bola basket di pojokan lemari "Belajar di lapangan."
Aomine mendongak "Mana ada belajar di lapangan? Itu namanya main..."
"Ya sudah sih, ikuti saja ucapanku. Aho..."
Jadi, rencananya Kagami akan menerapkan metode belajar yang biasa ia lakukan. Menghapal sambil mencetak angka. Iya, sekaligus membuat tangan Aomine sibuk, tidak lagi bolak-balik melihat ponsel. Kurang berfaedah.
"So, what did you do yesterday?"
Aomine mencuri bola dari Kagami, melewatinya sambil menjawab "I practice basketball with my friend."
Kagami mengejar, berusaha mencuri bola "Practiced, gunakan verb 2."
Berhasil...
Kagami melompat, mengincar ring.
DUK..
Bola terpental ke tanah, karena dihalangi oleh Aomine.
"Ya.. ya.. ya... I practiced basketball with my team." Aomine berbalik mengambil bola yang menggelinding keluar lapangan.
Kagami tersenyum "Tumben." Ucapnya untuk dua hal. Satu, tumben Aomine berlatih basket bersama Touo. Dua, tumben Aomine menyebut Touo sebagai 'team'.
Aomine mulai men-dribble lagi. Kagami melesat, mencoba merebut bola namun digagalkan fake Aomine. Mereka berhadapan sengit saling antisipasi.
"And, with whom did you chatting just then?"
Kanan, kiri, kanan. Kagami gagal mengikuti gerak tangan Aomine. Si Biru melesat ke ring.
DUK.
Kagami masih bisa menghalang, bola memantul di garis.
"Teman. Kan aku sudah bilang."
"English, Ahomine..." ucap Kagami mengambil bola. Namun bukannya kembali bersiap, ia malah duduk di pinggir, meraih botol minum. Kalau Aomine yang bilang sih... thirty.
"Friend. Bakagami." Si Biru ikut duduk di samping Kagami. Menunggunya selesai minum.
"Tidak bawa minum?"
"Iya, mana aku tahu kalau kita akan main. Lagian tadi juga kan dari rumahmu, kenapa tidak membawa untukku juga?"
"Lah, kan aku keluar bawa bola, ya pasti main." Kagami mendebat sambil menyerahkan botol minum.
"Tadi yang bilang 'belajar di lapangan' siapa?" jawab Aomine sebelum meneguk botol minum Kagami hingga nyaris habis.
Kagami tidak mendebat lagi, ia malah tiduran dengan tangan dan kaki direntangkan. Angin membuat badannya terasa lelah tapi segar di saat bersamaan. Dan ketika baru saja sedetik memejamkan mata, terasa tangan besar seseorang mengelus keningnya.
Membuka mata, Kagami mendapati wajah Aomine menutupi silau lampu lapangan.
"Sabtu sore ada acara?" tanya Aomine.
"Kenapa memang?" Entah kenapa, suara Kagami tidak lagi terdengar meledak-ledak. Seolah tangan Aomine yang menempel di keningnya adalah rem.
"Kita nonton?"
"Nonton apa?"
"Berack Pantheru." Jawab Aomine. Iya, kali ini Kagami tahu maksudnya Black Panther.
"Dengan yang lain juga?"
Aomine menggeleng. "Hanya kita berdua."
Kening Kagami mengernyit. Iya, mereka memang sering sekali one on one berdua. Atau seperti tiga hari belakangan ini, belajar bersama. Menonton juga pernah berdua, NBA di rumah Kagami. Bukan menonton film di bioskop, berdua.
Kagami bangkit, duduk menatap Aomine "Kenapa berdua denganku?" ia ingin tahu, alasan Aomine. Itu saja.
Aomine sempat terlihat berpikir sebelum menjawab "Kamu tahu kan, aku sering dibilang mirip Panther?"
"Iya?" Bukan jawaban, sebenarnya Kagami masih bingung dengan korelasi ucapan Aomine.
"Eum.. aku sudah beli dua tiket, tapi temanku tidak bisa ikut nonton, ada acara."
Oh.
"Temanmu yang chatting tadi?"
Kening Aomine sempat mengernyit sebelum menjawab "A... iya."
Hening, yang terdengar suara daun bergesekan kemudian disusul suara helaan napas Kagami.
"Kamu mengajakku karena temanmu—yang dari tadi chatting—tidak bisa ikut?" Ini juga hanya sebuah pertanyaan untuk penegasan. Iya, penegasan bahwa Kagami hanya pengganti teman nonton.
"Iya?" Aomine terdengar tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
Oke, cukup. Sepertinya Kagami tidak bisa sabar dengan yang satu ini. Ia meraih bolanya, lalu berdiri. Ia berniat melangkah sebelum bahunya ditahan.
"Hei Baka, Sabtu jam tujuh?"
Kagami nyaris saja berkata 'Cari saja orang lain!'. Namun ia menahan diri, mengucap "Besok kukabari." Sebelum benar-benar melangkah pergi dari lapangan.
Sampai di apartemen, Kagami menggelindingkan saja bola basketnya ke pojok ruangan. Ia langsung menuju balkon sambil tangan sibuk menekan ponsel, menelpon seseorang.
Tidak diangkat.
Kagami memutar memandang tanpa kedip ponsel di tangan. Jika panggilan kedua masih tidak dijawab, terpaksa ia akan mencari orang lain untuk dimintai tolong.
"Halo, Tatsuya. Sabtu ada acara?" Ucap Kagami begitu telpon tersambung.
"Halo, Taiga. Kabarku baik by the way." Jawab Himuro. Ia terdengar santai sekali menyindir Kagami.
"Good then. Sabtu tidak ada acara kan?" Kagami, pihak yang disindir masih belum peduli tentang urusan 'basa-basi pada teman yang sudah lama tidak bertemu.'
"Ada apa memangnya?" terdengar suara sendok di sela ucapan Himuro. Anak kelas tiga memang beda, belajar sampai baru sempat makan malam.
"Iya... tidak ada apa-apa." Kagami mungkin bohong, tapi tidak tahu sebelah mananya yang bohong.
"Tidak ada apa-apa, but you asked me to come from Akita to Tokyo?" jika saja ini video call, Kagami pasti bisa melihat Himuro meletakkan sendok di piring lalu mengabaikan makan malamnya.
"Aku hanya... kan kita sudah lama tidak bertemu."
"Kalau begitu kau yang datang kemari. And literally, Sabtu itu besok." Himuro jarang sekali ngotot sebenarnya, tapi kali ini beda kasus. Anak kelas tiga yang makan pun sering tidak sempat, diminta datang jauh-jauh tanpa tahu alasan dan faedahnya? A big no.
"Atau aku yang ke sana?" tanya Kagami.
"Aku tahu kamu tidak akan pernah minta tolong jika bukan amat darurat. Ada apa sebenarnya?"
Kagami melangkah menuju sofa lalu duduk, niatnya supaya lebih santai bicara "Jadi... sebenarnya ada yang mengajakku nonton..."
"...Okay." Himuro menggumam, memberi tanda ia menyimak. Kali ini sambil tangannya menyendok kari.
"...bukan karena dia ingin mengajakku, tapi karena teman yang janjian nonton dengannya tidak bisa ikut." Dari suaranya, terdengar bahwa Kagami yang biasa teriak-teriak kini malah terdengar seperti bocah merajuk.
"Orang ini Aomine Daiki?"
"Heum... Padahal kamu tahu kan, aku yang mengajari si Aho itu English."
Iya, mana mungkin Himuro tidak tahu, Kagami sering sekali cerita tentang si Biru "Padahal nonton ini nanti, dia yang akan mentraktirmu?"
"Iya. But, it feels like i am just a replacement."
"And you hate it?"
"Yeah..."
"Why?"
"Huh?"
Himuro berdecak, menaruh lagi sendoknya "Maksudku, kenapa kamu harus begitu bencinya merasa menggantikan orang lain. Kamu tidak rugi apapun kan?"
"Aku hanya—"
"Atsushi... kuenya kan untuk besok." Terdengar Himuro bicara dengan orang lain. "Sorry Tai, bayi besar baru datang. Lanjutkan..."
Sebenarnya jeda itu memberi waktu bagi Kagami untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Himuro, nyatanya ia hanya bisa menjawab "Aku hanya... kesal mungkin."
Himuro tersenyum "Kamu tidak pernah begini lho. Selama aku mengenalmu, kamu tidak pernah bereaksi seperti ini pada apapun, bahkan padaku." Ucapannya yang tenang kini benar terasa menyindir.
"Ya... memang kenapa?"
"Iya, memangnya kenapa? Kenapa kamu harus kesal hanya karena ia awalnya berniat pergi dengan orang lain, lalu ganti mengajakmu? Coba bayangkan, jika itu aku atau Kuroko misal. Apa reaksimu begitu?"
Kagami diam. Ia bingung antara tidak punya jawaban yang tepat dan sama sekali tidak bisa menjawab. Jujur, ia merasa sedang dikuliti.
"Belakangan kamu cerita tentang Aomine, membuatku berpikir... dulu kamu tidak pernah sebegitunya denganku?"
"Dulu kan kita masih kecil..." Bantah Kagami yang dari nada suaranya tidak terdengar seperti bantahan sama sekali.
"Justru itu... kamu yang dari kecil terbiasa mandiri dan cuek, sekarang kesal sampai ubun-ubun hanya karena perkara sepele begini?"
Kagami menghela napas "Tatsuya, aku kesal hanya karena urusan nonton."
"Iya, bagaimana jika kasusnya denganku, apa reaksimu akan begini? Coba pikirkan deh, ada apa sebenarnya dengan Aomine? Atau ada apa denganmu?"
Hening, Kagami sedang berpikir keras. Membuat perandaian lebih tepatnya. Jika orang lain, apa ia akan bereaksi begini? Apa ia akan sekesal ini?
"Oh my god. Atsushi, es krimnya belum keras, belum bisa dimakan." Terdengar suara Himuro disusul langkah kaki buru-buru.
"Tapi, Muro-chin..." Disusul dengan suara Murasakibara.
"Okay, Taiga. Intinya aku tidak bisa ke sana. Dan saranku hanya... Eum, aku tidak punya saran sebenarnya."
Rupanya, menelpon Himuro malam itu malah membuat Kagami tidak bisa tidur.
.
.
.
TBC
