Haikyuu (c) Haruichi Furudate

Sekonyong-konyong Koder (c) Didi Kempot

.

.

BAKUL LEMPER BIKIN BAPER

"Le,tolong bawa kesini ayam suwir yang di wajan" pinta seorang wanita paruh baya pada anaknya,sambil tetap mengepal-ngepal adonan ketan jadi pipih. Rambut hitamnya dicepol sederhana.

"Ya,bu" jawab pemuda berambut kelabu (asli,bukan semiran,apalagi uban). Setelah meletakkan ayam suwir disamping ibunya,ia melanjutkan pekerjaannya. Angin pagi buta tak menyurutkan niatnya untuk membantu sang ibunda di dapur,walau hawa dingin sisa hujan semalam sejatinya membuat ingin bergelung di selimut lagi. Pemuda tersebut nampak telaten memotong dan mengelap daun pisang,kemudian membungkus adonan lempernya.

Beberapa menit kemudian,seorang pria paruh baya menyusul ke dapur,hanya dengan singlet dan sarung. Di pelipisnya terdapat plester putih dengan bau menyengat khas koyo. Rambutnya yang senada dengan si anak nampak berantakan. Terdapat bekas kerokan di lengan dan punggungnya.

"Kalau masih mau tidur,tidur aja. Biar bapak yang bantu ibu,bapak masih kuat kalau ngelap daun pisang. Lagian kamu balik ke rumah buat liburan,bukan kerja" ucap bapak sembari ikut mengelap daun pisang.

"Kou gak apa-apa,pak. Bapak aja yang tidur lagi,istirahat. Kou nganggur kok ini." Jawab si anak sambil tersenyum lembut. Sedang bapaknya hanya bisa geleng kepala.

"Yasudah,bapak balik ke kamar dulu". Kou mengangguk,memerhatikan dengan sedikit khawatir bapak yang menghilang ke dalam kamar.

Sugawara Koushi,atau Kou,adalah anak dari bakul gorengan dan lemper. Tanpa sadar sering bikin orang baper. Dia memang terlahir baik hati,tidak sombong,dan rajin membantu ibu.

Koushi itu blasteran tulen—banTUL & klatEN. Dari segi fisik, Koushi mewarisi muka manis dari ibunya. Sedang rambutnya copy paste dari bapak. Kenapa bisa abu-abu Kou juga gak tau,mungkin waktu nenek hamil bapak,kebanyakan minum air putih,jadi itemnya agak luntur. Singkat kata Sugawara Koushi itu tipe menawan—MENAntu rupaWAN. Jadi jangan heran tiap dia pulang kampung,di depan rumah mendadak penuh kembang desa. Dari yang masih mekar-mekarnya sampai yang udah layu.

.

.

Jam menunjukkan pukul 4.30 pagi. Suara ayam jago berlomba-lomba membangunkan orang dari buaian mimpi mulai terdengar.

"Kou,mandi dulu sana,lalu sarapan. Nanti kita berangkat jam 5. Ibu sudah janjian sama pak Wal buat nebeng becaknya ke pasar." ucap ibu sambil memasukkan lemper yang sudah jadi kedalam kardus. Koushi yang keasyikan menggulung bungkusan lonjong nan padat mengerjap,kemudian memerhatikan jam dinding diatas kulkas. Sudah hampir terang rupanya.

"Sebentar lagi bu,nanggung"

"Uwis,itu biar ibu lanjutin. Kamu mandi sana,terus siap-siap. Nanti kalau pak Wal udah dateng,kamu angkatin lempernya ke becak."

"Lah ibu gak mandi?"

"Gampang,ibu mandi 5 menit gak nyampe" ucap ibu sambil menyuruh keluar. Koushi nyengir mendengar jawaban ibunya,kemudian bergegas mandi. Ini akan jadi kali pertama Koushi kembali ikut jualan di pasar,setelah beberapa lama kuliah di kota orang.


"Barangnya taruh sini aja bu?"tanya seorang pemuda yang memanggul karung besar pada ibu-ibu disebelahnya. Diletakkannya karung tadi di pinggir trotoar dekat sebuah pasar.

"Iya mas,sini aja. Bentar lagi jemputan saya dateng"jawab si ibu sembari mengulurkan beberapa lembar uang pada mas-mas tadi. Tak lama kemudian sebuah sedan hitam mengkilat datang,menjemput si ibu.

'Buset dandanannya aja yang macem bakul pasar,tunggangannya sedan kinclong. Bakul zaman now'.

Pemuda tersebut menggelengkan kepala seraya kembali ke dalam pasar. Tubuh tegapnya hilang dibalik kerumunan orang.

Pemuda tadi bernama Daichi. Bukan,dia bukan anaknya Emak Icih yang jual keripik pedas. Tampilannya gagah. Rambut cepak,rahang tegas,bahu lebar,dan yang tak ketinggalan : Roti sobek penggoda iman—yang bisa terlihat jelas,terutama kalau kaosnya lagi basah,seperti sekarang.

Pekerjaannya ada dua. Pagi hari jadi kuli panggul,kalau sore sampai malam jadi musisi jalanan. Siang sampai sore dia kuliah. Kata orang suaranya melelehkan hati,ngebass sekseh gimana gitu. Namun kadang suara ngebasnya bikin hati ngejleb—sering dia dikira udah bapak-bapak,padahal baru kemarin dia ulang tahun ke 21.

Daichi sering ditanya orang,kenapa milih jadi kuli panggul dan pengamen?padahal dia cakep begitu. Kalau udah ditanya begitu,Daichi cuma senyum sambil bilang

'Saya ingin mewujudkan impian mbak-mbak dan emak-emak yang pingin ketemu kuli atau pengamen cakep,macem di sinetron'

Daichi ada bibit narsis rupanya.

.

.

Daichi duduk di depan bakul es dawet,sambil mulutnya sibuk mengunyah dawet unyu warna-warni. Sesekali dia mengibaskan kerah kaosnya. Pagi ini cukup gerah,padahal belum ada jam 11. Saat asyik minum es dawet,punggungnya ditubruk tiba-tiba dari belakang,alhasil dawet unyu nyembur keluar. Sambil terbatuk-batuk dia menoleh ke belakang—siap memaki si penabrak,saat dilihatnya jambul kuning dan cengiran lebar.

"Yo,bro! Baru nyantai?" tanya nya sembari memamerkan cengiran lebarnya. Daichi mengelus dada,berusaha gak emosi sama temennya satu ini. Namanya Nishinoya Yuu,biasa dipanggil Noya. Orangnya memang agak ngegas—terutama menyangkut cewek dan tinggi badan. Mereka berteman sejak SMA sampai merantau kuliah. Noya juga satu pekerjaan dengannya.

"Lagi makan ini woy! Kalau keselek trus aku koit gimana?!" Kesabaran Daichi putus seketika kalau berhadapan sama makhluk satu ini. Kadang dia heran,bagaimana bisa dia punya teman macem ini? Yang bersangkutan masih tetap nyengir tanpa dosa

"Sori,bro. Habis kayaknya situ menghayati banget ngunyah dawetnya." Daichi hanya menggeleng dan melanjutkan acara makan es dawetnya.

"Bro,udah makan belum? laper nih! cari makan yok!"

"Laper sih,tapi ntar aja makan nasinya. Aku pengen ngemil dulu,buat ngeganjel"

"Bukannya udah makan es dawet?itu bukan ganjel perut emang?"

"Kalau ini cuma pelepas dahaga,bro" Kali ini giliran Noya yang geleng kepala. Perut Daichi itu macem karet,tapi roti sobeknya gak pernah ilang walau makan banyak. Banyak orang yang heran,termasuk Noya.


Mentari makin terik menyinari. Beberapa pedagang di pasar bersiap pulang,termasuk Koushi dan ibunya. Saat sedang membereskan dagangan,dua orang pemuda datang menghampiri. Satunya kecil dengan jambul kuning,satunya tipe Hot Daddy.

"Yu,jangan tutup dulu! Kita mau beli lempernya"

Ibu Koushi mengangguk,menyuruh Koushi membuka dagangan lemper dan gorengan yang sudah dimasukkan kardus. Saat itulah...dunia Daichi serasa berhenti

Di hadapannya terdapat sosok rupawan,yang sedang menata dagangan sambil bertanya pesanan pada Noya. Rambut abu-abu lembut tertiup angin,senyum yang ngalahain terangnya mentari,suara semerdu nyanyian dewi,wajah rupawan yang bikin lupa diri...

'Gusti...apa aku udah mati? Kenapa ada malaikat disini'

"...chi?"

"..."

"...ichi?"

"..."

"DAICHI ! ! "

"BUSET WOI ! ! Ini kuping,bukan toa masjid!"

Protes Daichi sambil ngelus kupingnya-yang terancam budeg dadakan. Kadang dia lupa,teriakan Noya bisa mencakup satu RT.

"Ya habis dari tadi dipanggil gak nyaut-nyaut. Tuh ditanyain mau beli lemper berapa."

Noya manyun-manyun. KZL tau,daritadi manggil dicuekin. Macem pesan yang cuma di Read doang.

"Eh?"

"Iya mas. Tadi saya nanya,mas nya mau beli lemper berapa buah?" tanya Kou

Suara malaikat—ah bukan,suara merdu mas lemper menyapa gendang telinga Daichi. Dan APA PULA ITU SENYUM KOK MANIS BANGET?! DAICHI JADI PENGEN –eh

"O-Oh..Ahahaha. Ehem. I-itu,saya be-beli dua"

Daichi mendadak gagap. Malu-malu meong. Lagian siapa yang gak dag dig dug dipandangi muka unyu begitu? Jadi pengen makan—lemper maksudnya,lemper! Bukan orangnya *EHEM*

Kou mengangguk,dengan cekatan membungkus pesanan Daichi. Sedang yang bersangkutan asik memandangi Kou. Kalau kata kids jaman now,Daichi lagi di mode tersepona. Daichi masih ngambang di lalaland saat Kou menyodorkan bungkusan berisi lemper padanya.

"Mau nambah apa lagi,mas?"

"Nambah kamu,boleh?"

.

.

.

Krik...krik...krik...krik

'...Eh?'

"AH! A-Anu... ..I-Itu..M-Maksudnya..Anu.."

Kou cuma bisa bengong melihat pemuda dihadapannya gelagapan dengan muka semerah orang kena tabok sw*llow. Otaknya masih loading mencerna kata-kata Daichi barusan.

'Huh?Yang barusan itu...aku di gombalin? Serius?' begitu kira-kira jeritan batin Koushi yang digombalin sesama pejantan.

Kou tersadar saat Daichi menyambar bungkusan,dan menjejalkan uang ke tangannya,sebelum kabur sambil teriak ''KEMBALIANNYA AMBIL AJAAAAAA''

"Tapi—"

"EH?! WOI DAICHI ! ! TUNGGUIN GUWEEEEEEHHH!" teriak Noya sambil lari menyusul Daichi.

Kou hanya bisa memandangi dua sekawan yang...agak emejing tadi menjauh. Kemudian pandangannya jatuh ke uang 500 rupiah di tangannya.

'Tapi ini kan kurang'

"...Bu,emang pengunjung pasar emejing semua ya?"

Kou menoleh pada ibunya dengan raut bingung,dan agak syok. Ibunya cuma terkekeh sambil geleng-geleng.

"Yang tadi sih belum seberapa,pernah dulu ada orang tampang preman tapi ternyata hatinya halo katy" si ibu tertawa mengingat kejadian absurdnya dulu.

Kou gak bisa bayangin,kalau yang tadi aja masih biasa,yang emejing gimana coba? Kou menghela napas. Yaudah lah...anggep aja rejeki yang tertunda.

'Tapi mas tadi cakep juga btw. Coba kalau aku cewek,udah ku embat kali ya?'

Kou geleng-geleng. Mikir apa sih dia barusan. Kou buru-buru kembali merapikan dagangan ke kardus dan bersiap pulang bersama ibunya. Mungkin batinnya lelah gara-gara kejadian barusan.


Sementara di tempat lain,dua orang pemuda tengah duduk di kursi taman pinggir jalan dengan kondisi mengenaskan,yang satu ngos-ngosan macem habis kabur dari *coretdeadlinecoret* penagih utang bulanan (baca: bapak kos) yang satu lagi napas senin-kemis plus muka merah-merah delima pinokio..siapa yang baik hati cinderella~ tentu disayang mam—/plak/

Maap author mendadak nostalgia. Oke kembali ke laptop.

"Woi bro,kenapa...mendadak...kabur...gitu?" tanya Noya dengan napas putus-nyambung

Daichi tidak menanggapi pertanyaan sohibnya itu. Pikirannya masih sibuk sama kejadian aneh bin ajaib barusan

'Gusti..maafkan hamba. Mikir apa aku barusan bisa nekat gombalin anak orang?! Mana baru ketemu pula!'

Sumpah kejadian tadi malu-maluin banget! Gimana kalau habis ini dia di cap orang mesum? Atau lebih parah,om-om pedo? Secara dari tampang,si manis *EHEM* si mas bakul lemper tadi masih muda banget.

Tapi dia tadi beneran unyu kok,demi tuhaaaaan /plak/

Disampingnya,terdengar lagu dari radio abang tukang kaos,yang entah kenapa cocok sama keadaaanya sekarang

Cintaku sekonyong-konyong koder~

Karo kowe cah ayu sing bakul lemper~

Lempermu pancen super resik tur anti laler~

Yen ra pethuk sedino neng sirah nggliyer~

.

'Coba bisa ketemu lagi. Siapa tau bisa lebih dari sekedar kenalan gitu. Biar deh dikira banting setir,kalau bisa dapet yang bening macem tadi. Mwehehehe'

Daichi terkekeh geli dengan pemikirannya barusan, tanpa menghiraukan Noya yang kini panik komat-kamit baca doa,dikira Daichi kesambet badut spongebob seberang jalan.

.

.

TBC


Dictionary

Le= dari kata Tole,panggilan buat anak cowok

Uwis=Udah

Yu= dari kata Mbak yu,kepanjangan dari panggilan Mbak,dipake buat manggil perempuan yg lebih tua


Holaaaaaa saya AKHIRNYA update lagi ahahahahaha *dikeroyok*

Maap lagi sibuk ngerjain ujian yang tertunda (baca : skripsi) iya,saya emang mahasiswa tua..tapi tampang masih unyu ^w^ *terdengar suara muntah di kejauhan*

Maaf bagi yang menunggu kelanjutan cerita absurd ini,udah up lama,tbc pula TT_TT *sujud* berhubung ternyata cerita chap ini panjang (waktu nulis gak sadar ternyata panjang :P) jadi saya bagi 2. BTW,Ada yg tau lokasi cerita ini dimana? :P

Makasih buat yang udah sudi mampir buat baca2 cerita aneh ini! ^w^/ & yg udh komen juga makasih! \^w^/ maaf belum bisa bales

Cerita ini may be/ maybe not nyambung sama chapter sebelumnya,jadi siapkan hati dan mental kalian...yg mungkin akan "ternistakan" mwehehehe /plak/

Oke,sekian dari saya! sampai ketemu entah kapan~! ^w^/ *dibantai penonton*