Setelah Jean mengirim pesan untuk temannya yang dijamin hangover, ia memasukkan kembali handphone miliknya ke dalam saku dan mulai memperhatikan dosen yang bercuap-cuap di depan kelas. Baginya, materi mata kuliah ini tidak akan menjadi rintangan yang berarti.

Ia memang termasuk golongan mahasiswa pintar, namun, mata kuliah ini terbilang gampang karena memang ditujukan bagi murid-murid semester pertama. Jean sengaja mengambil mata kuliah ini karena ingin mengisi jatah elektif yang kosong.

Tak lama, ada seseorang yang menyentuh pundaknya berkali-kali. Ada panik yang tersirat pada pertanyaannya.

"Pssst, hei! Boleh pinjem pulpen gak?"

Jean menoleh sebentar, untuk mendapati seorang murid yang ia tidak kenal. Ia hanya mengangguk sebentar sebelum akhirnya meminjamkan salah satu pulpen kepada murid itu.

"Terima kasih!" Jean hanya mengangguk lagi.

Tidak banyak catatan yang ia ambil dari materi yang diberikan dosennya. Ia lebih banyak menggambar alat kelamin pria di lecture pad miliknya. Ada sketsa wajah dosen yang tidak mirip pula di sudut kanan kertasnya. Ia sudah mempelajari makroekonomi dasar ketika SMA, ia mulai menyesal mengapa ia mengambil kelas yang sudah ia pernah pelajari semasa sekolah.

Grafik-grafik mulai memenuhi papan tulis, membuat anak-anak semester awal menelan ludah karena tidak sanggup mencerna semua teori dalam waktu singkat. Jean mencuri pandang murid di sebelahnya yang tadi meminjam pulpennya. Ia terlihat tidak kesusahan, malah riang gembira tidak memperhatikan dosen dan menggambar sawah lengkap dengan dua gunung dan matahari.

"Astaga," Jean tertawa kecil memperhatikan betapa detil sawah yang digambar murid itu. Padinya lengkap digambar satu persatu. Burungnya juga bukan sekedar huruf 'W' terbalik dan diberi garis.

Sadar bahwa diperhatikan, pemuda itu meringis sambil menutupi kertasnya. "Oops."

"Gue juga kok," tak mau kalah, Jean menunjukkan kertasnya yang juga penuh dengan coretan tidak berarti. Pemuda itu kini tertawa lega, merasa bahwa ia tidak sendirian.

"Nice."

Mereka berdua kembali larut kepada coretannya masing-masing, berusaha membunuh waktu yang terasa lebih lama ketika ada seorang dosen yang menerangkan materi di depan. Tak lama, murid di sampingnya merogoh tas ransel yang ia bawa. Dikeluarkannya satu tas besar berisi yupi, dan langsung ditawarkannya kepada Jean.

"Gue sewa pulpen lo, bayarnya pake ini aja ya," candanya, "Mau yang mana?"

Terlihat Jean memperhatikan kumpulan yupi itu dengan seksama, mencari bentuk favoritnya. "Ada yang burger, gak?"

"Ada dong!" layaknya seorang pesulap. murid itu mengeluarkan yupi yang diinginkan Jean dengan mudah. Jean agaknya kagum, memberi centang kepada murid ini di dalam hatinya untuk dijadikan teman.

"Strateginya bagus untuk cari teman baru."

Murid itu agak terkesiap sebelum membalas perkataan Jean, "Straight to the point, ya?"

"Iya, dan pulpennya," Jean mengendikkan bahunya, "Gue tau lo bawa kotak pensil."

Tertangkap basah, pemuda itu sekalian mengeluarkan kotak pensil dari tasnya.

"You got me!" tawanya, sembari menawarkan tangannya.

"Gue Marco. Marco Bott."

"Jean Kirstein," ia menjabat tangan Marco Bott. "Kalo lo mau temenan sama gue cuma untuk contekan, good luck."

"Oh please!" kini Marco tersenyum manis, "Gue pinter, kok."

Tanpa sadar Jean mengangguk kecil mengiyakan pernyataan Marco yang terkesan blak-blakan. Pede. Ia menyukai dirinya dikelilingi orang yang unik seperti Sasha, agaknya Marco termasuk dalam kategori itu. Hanya saja namanya terdengar aneh bagi Jean. Terasa begitu familiar walaupun baru pertama kali bertemu.

"Kita pernah ketemu?"

"Kayaknya gak," Marco setengah menoleh ke arahnya, sibuk dengan padi-padinya yang sedang ia gambar, "Memang kenapa?"

"Nama lo gak asing soalnya, lo terkenal apa gimana?"

Marco tanpa sadar menggigit pulpen yang ia pinjam dari Jean, terlihat berpikir sebentar. Namun hanya butuh waktu singkat untuk mengira-mengira kejadian apa yang melibatkan mereka berdua.

"Mungkin karena gue ngalahin nilai lo di mata kuliah business studies semester lalu?"

Jean mengernyit, hatinya masam mengingat ia dikalahkan oleh seseorang dengan perbedaan nilai 0.02 saja. Dan orang itu adalah Marco, murid yang menduduki peringkat satu.

"You're THAT guy!"

.

.

Sasha memutuskan untuk tidak menghadiri kelasnya.

Tidak masalah baginya ataupun Jean untuk melewati kelas pada minggu pertama. Palingan tidak penting, batin Sasha yang perasaannya semakin tidak karuan. Ia ingin sekali menceritakan apa yang terjadi kepada Jean, namun ia tahu sahabatnya itu sedang menghadiri kelas.

Ding ding!

Tidak perlu menunggu lama bagi Sasha untuk langsung membuka pesan yang baru saja masuk. Pesan itu ternyata dari Jean.

'Gue bolos, sekarang lagi di kafe. Ikut gak?'

Kecepatan mengetik Sasha memang di atas rata-rata, 'Ikut! Gue sampe di sana sekitar lima belas menit lagi!'

'Oke. Oh, gue bawa teman.'

Sasha terperangah dengan kata 'teman' pada pesan yang dikirim oleh Jean. Bukannya ia merasa dinomorduakan—Sasha juga memiliki teman lain, kok—tapi tidak biasanya Jean mempunyai teman. Orang macam apa yang dapat meluluhkan hati Jean?

Penasaran, Sasha hanya merapihkan rambutnya dengan asal dan langsung berjalan menuju kafe tempat Jean berkerja, yang tidak jauh dari tempat mereka tinggal. Kafe tempat Jean berkerja adalah sebuah kafe kecil dengan dekorasi yang homey, membuat anak-anak kampus, orang kantoran maupun yang sekedar mampir betah duduk di sana berjam-jam.

Kafe itu cukup ramai, kadang antriannya mengular hingga ke luar toko. Bila jam brunch tiba, kafe itu akan dipenuhi dengan anak-anak muda yang ingin mengunggah foto makanan yang memang elok. Selain itu, harga terjangkau juga menjadi daya tarik kafe ini.

Begitulah dinamika kafe tempat Jean berkerja, lumayan sibuk. Sasha sesekali mampir untuk sekedar membeli kopi—double shot cappuccino adalah minuman favoritnya—sambil berbincang dengan tetangga dan beberapa rekan kerja Jean yang juga ia kenal.

Baru saja kakinya memasuki kafe itu, ia sudah disapa dengan suara manager yang sangat hangat. "Hei, Sash! Sini-sini, kita ada sirup baru dikirim dari supplier. Mau coba?"

"Mina!" tergesa-gesa, Sasha menghampiri manager kafe tersebut yang menggunakan celemek dengan warna berbeda daripada staf lain. "Sirup apa itu?"

"Citrus!" Mina tersenyum lebar sambil memamerkan botol sirupnya, "Mau coba dicampur sama minuman lo yang biasa?"

"Memangnya enak?"

"Enak!" sahut Mylius, staf yang sedang berkerja. Ia adalah barista utama di kafe tersebut. Lain lagi bagi Jean, yang lebih efisien bila ditempatkan untuk menjadi kasir dan preparasi makanan.

"Gue berani jamin, deh! Gue udah coba, danternyata memang terkenal loh di beberapa daerah."

"I mean, yeah, kalo Mylius yang ngomong pasti gue percaya lah," tawa Sasha, kemudian mengiyakan untuk menambah sirup itu ke dalam cappuccino yang biasa ia pesan. "Ngomong-ngomong, lihat Jean?"

Mina mengangguk, ia menunjuk salah satu meja yang terletak di sudut kafe itu, "Lagi sama pacarnya, tuh."

"Pacar?!"

Sasha tersentak. Kini arah pandangnya mengikuti arahan jemari Mina. Gadis itu kembali terkesiap ketika mengetahui dengan siapa Jean berbincang.

"Tapi nilai gue lebih tinggi di mata kuliah finance! Dua semester lalu!"

Marco hanya bisa tertawa melihat lawan bicaranya yang tidak mau kalah, "Gak ada yang mau coba ngalahin lo, kok. Kita bersaing sehat, kan?"

Jean terdiam, ia bersungut tidak tahu ingin membalas apa.

"Jean?" panggil Sasha yang menghampiri meja mereka berdua, "Kok lo bisa kenal sama Marco?!"

Jean menoleh bingung, "Tunggu, lo KENAL sama Marco?!"

Marco mengerjapkan matanya berkali-kali, tidak percaya apa yang dilihatnya, kemudian segera berdiri dari tempat duduknya untuk memeluk Sasha yang baru saja datang.

"Astaga, Sasha! Lama gak ketemu. Apa kabar?"

"I'm good! Lo apa kabar?" Sasha balas memeluknya dengan erat.

"I'm fine!" ia kembali berpaling ke Jean yang terlihat tidak mengetahui apa-apa, "Kita ketemu di klub masak di kampus, tapi gue udah keluar. She bakes a mean brownie. Slightly gooey on the inside, my favorite! Gue bahkan sampai minta resepnya."

"I do, actually," Sasha menyikut perut Marco, "Dan gue tau apa yang lo masukkin ke dalem brownie itu."

Lelaki itu hanya meringis ketika Sasha mengangkat alisnya berulang kali. Sedangkan Jean tidak menangkap apa yang disugestikan oleh Sasha hingga membuat Marco sampai mengernyih sendiri.

"Eh," Sasha menarik salah satu kursi terdekat dan duduk di samping Jean, "Kalo kalian gimana ketemunya?"

"Di kelas, dan dia merendah untuk meninggi gitu!" protes Jean sembari menunjuk-nunjuk Marco, "Ternyata dia yang rankingnya di atas gue kemaren, Sha."

"Oh? Iya gue inget, lo kesel banget waktu itu pas tau ada orang yang nilainya di atas lo."

"Ssssttt!"

Marco mengangkat kedua alisnya, lalu berusaha meniru ucapan yang dilontarkan Jean beberapa waktu lalu, "Masa, sih? Dia bilang gue biasa aja tuh. Gitu."

"Ugh! Kalian ini combo yang ternyata ngeselin, ya?"

"Oh iya, gue harus cerita sesuatu. Ini penting banget," Ia mengucapkan terima kasih kepada Mina yang mengantarkan minumannya ke meja, kemudian nadanya berubah serius, "Tapi harus dari awal, karena Marco belum tau tentang ini."

"Ada apa? Ini hal yang serius, ya?" Marco mendengarkan dengan seksama, ia memajukan kursinya agar dapat mendengarkan cerita Sasha dengan lebih jelas.

Jean hanya mendengus, "Paling tentang cowok, dia naksir sama orang yang baru pindah."

"Denger dulu!" omel Sasha, gemas dengan kelakuan sahabatnya.

"Jadi, kemarin malam gue minum-minum sama Jean, dan kita mabok—"

"Lo doang, gue gak mabok."

"Fine! Iya!" Sasha mengacak-ngacak rambutnya sendiri, yang disambut tawa oleh Marco.

"Gue mabok terus dipapah balik ke kamar sama Jean. Di hari yang sama, ada orang baru pindahan ke gedung apartment gue dan Jean. Tinggi, ganteng. Tipe gue banget pokoknya!"

"Terus?"

"Terus, pas gue lagi pusing-pusingnya nih kemaren, ada orang geret-geret barang gitu di unit atas gue. Kan gue kesel ya, jadi gue jalan tuh ke balkon, mau gue marahin."

Sasha megambil nafas, "Eh, pintu atas juga kebuka dong. Terus ada suara orang main gitar, suaranya bagus banget. Gue gak inget gue ngomong apa ke dia, tapi tadi pagi dia personal chat gue lewat Facebook. Nanyain gue udah sembuh apa belum. Baik banget, kan?!"

"Tunggu, tunggu," Jean menggeleng, "Jadi orang yang tinggal di atas lo itu cowok yang baru pindahan, yang ketemu di lobby?"

"Iya!" dengan semangat, Sasha menujukkan chat tersebut kepada Jean, "Kita lanjut chat sekarang. Kira-kira ini bisa diseriusin gak, ya?"

"Hmmm, Bertolt. Namanya unik, ga pasaran," Jean membaca sekilas chat mereka berdua yang menurutnya tidak bermutu.

Lain lagi reaksi Marco. Setelah mendengar nama lelaki itu disebut oleh Jean, ia langsung meraih handphone miliknya dan mengetik dengan sangat cepat. Tak lama, ia menunjukkan layar handphone kepada kedua kawan barunya.

"Yang ini?" tanya Marco, was-was.

Sasha mengangguk heran, "Wah, lo kenal banyak orang, ya?"

Marco hanya dapat menggaruk pipinya yang tidak gatal sama sekali, sedangkan Jean memperhatikan gelagat Marco yang tidak biasa, tak sabar untuk menunggu kejutan apa lagi yang akan keluar dari mulutnya.

"Gue ada kabar buruk dan baik, mau yang mana dulu?"

"Buruk!" sela Jean dengan semangat, walaupaun ia tahu persis pertanyaan itu tidak ditujukan kepadanya. Sedangkan yang ditanya hanya bisa menahan nafasnya, ingin cepat-cepat tahu apa yang disembunyikan.

"Kabar buruknya, dia sumber pendapatan utama gue. Klien kesayangan karena kalo beli barang pasti banyak banget, dan dihabisin sendiri," Marco menghela nafasnya, "Kabar baiknya, lo gak perlu beli lagi kalo mau pake, tinggal minta aja sama dia."

"Sebenernya lo ini kerja apa sih?" Jean terheran-heran mengapa dirinya dan Sasha kerap menggunakan kata-kata yang terdengar sugestif di telinganya. "Kayak bandar narkoba aja, hahaha!"

Sasha memucat, sudah mengetahui ke mana arah pembicaraan ini. Sedangkan Marco hanya merogoh sakunya sebelum mengeluarkan satu plastik kecil berisi dedaunan kering, dan menunjukkannya ke arah Jean hanya untuk beberapa detik saja.

Ada tawa canggung yang keluar dari mulutnya setelah menyadari bahwa, ya, Marco adalah seorang bandar ganja.

"Hahaha, oh. Jadi ini bumbu spesial yang lo tambahin ke brownie itu?"

Tidak butuh lama bagi mereka bertiga untuk memutuskan kembali ke unit milik Jean, ingin mencicipi tester produk yang diberikan oleh Marco secara cuma-cuma.

.

.

Agar unit milik Jean tidak penuh sesak dengan asap dari yang mereka hisap, mereka membuka balkon unit tersebut. Baunya yang menyengat sampai juga ke balkon unit atas milik Reiner, tetangga Bertolt.

"Oi, Bert?" Reiner mengendus-ngendus, berusaha memastikan apa yang ia hirup, "Ini kok baunya kayak kenal, ya?"

Bertolt—yang kebetulan sedang berada di unit milik Reiner—ke luar ke balkon menghampiri Reiner. Kemudian ia menghirup juga untuk memastikan bau apa yang Reiner maksud.

"Oh?"

Bertolt mengangkat alisnya, kemudian Reiner hanya mengangguk tanda tahu.

"Iya ya, kayak kenal baunya."