Oneshot

.

BOYFRIEND

.

Sehun tahu Luhan sudah tidak sanggup dengan kekasihnya.

Maka dari itu, Sehun menawarkan dirinya sebagai penggantinya.

.

Happy reading!

.

Kantin. Jam istirahat.

Sehun mengeluarkan senyuman kecil tampannya ketika melihat di seberang sana Luhan sedang memasang senyum apresiatif karena sepertinya kekasihnya, Yifan, sudah mulai acara mari-memuji-memuja-menggoda-Luhan yang dia adakan setiap jam makan siang.

Lihat mata rusa itu.

Lihat bibir itu.

Lihat bulu mata yang lentik itu.

Lihat tangannya.

Lihat–

"Berhenti memakan Luhan dari kejauhan dan mulailah memasukkan apapun yang kau beli itu ke dalam mulutmu, Hun"

Sehun melepaskan pandangannya dari Luhan –yang terlihat lebih lezat daripada makanan yang sudah terlanjur mendingin di depannya– untuk mengalihkan fokusnya pada Chanyeol yang duduk setelah pemilik telinga unik itu meletakkan nampannya yang penuh berisi fast food.

"Aku tidak menyukai si angry bird"

"Kau tidak perlu melakukannya. Luhan yang melakukannya"

"Aku rasa Luhan membutuhkan kekasih baru"

"Yap, rasa. Itu hanya perasaanmu"

Sehun memutar bola mata malas. Dengan kedua tangannya, dia mengarahkan kepala Chanyeol agar dia juga bisa melihat Luhan yang kentara sekali langsung mengalihkan pandangan dari arah Chanyeol dan Sehun ke arah kekasihnya sendiri –yang masih belum berhenti bicara.

Dalam hitungan detik Chanyeol memandang Sehun dengan serius. Membuat si kulit pucat tersenyum miring. "Katakan itu hanya perasaanku, Yeol"

"Holy shit, Sehun" ucap Chanyeol terperangah.

Mengangguk, Sehun mengangkat bahunya santai. "Sekarang kau tahu, kan?"

"Ini tidak mungkin!"

Sehun mulai merasa gatal ingin menjambak Chanyeol yang sama sekali tidak suportif. "Kau ingin bukti a–"

"Aku sudah punya Baekhyun! Katakan pada Luhan aku menolaknya meskipun mata rusanya melihatku diam-diam!"

Sehun merasa dia harus mengganti sahabatnya dengan seseorang yang lebih suportif. Ya.


Baekhyun, kekasih Chanyeol, suka sekali menggoda Sehun menggunakan obsesi sang kulit pucat kepada Luhan.

"Aku sudah mengatakan bahwa ini bukan obsesi. Apakah kau dan otak kacangmu tahu apa itu definisi obsesi, Byun Baek?"

Baekhyun dengan dramatis menyibak rambutnya –yang sangat pendek sehingga dia berakhir menyibak udara di sekitar bahunya. "Pertama, Park Baekhyun untukmu, muka datar"

Sehun heran kenapa Chanyeol bisa betah sekali menjalin hubungan dengan bebek di depannya yang benar-benar ingin Sehun ikat mulutnya.

Sebelum Sehun bisa membalas, Baekhyun lebih dahulu melanjutkan perkataannya yang sejujurnya sama sekali tidak ingin Sehun dengar. "Kedua, kalau tidak obsesi, apa yang tepat untuk mendeskripsikan obsesimu kepada Luhan?"

"Bukankah sudah jelas?" Sehun berdecak tidak sabar. "Apapun selain obsesi, bodoh"

"Kau melihatnya seakan kau adalah serigala dan dia adalah rusa mangsa–"

Hei! Sehun senang dengan ide itu! Dia nyaris melompat dari kursinya membayangkan betapa manis, lucu, cute, fluffy, soft Luhan dalam kostum bambi.

"–Lihat! Kau pasti memikirkannya!"

Tersadar, Sehun berusaha keras mengembalikan kedataran wajahnya.

"–Sudahlah! Wajahmu menunjukkannya! Kau selalu memikirkannya. Setiap kata mengingatkanmu akan Luhan. Bahkan mungkin kata sampah!"

Sehun memutar bola mata malas mendengar yang satu ini. Yang akan aku pikirkan ketika mendengar kata 'sampah' adalah dirimu, Byun.

"Well, maafkan aku jika aku tidak bisa berhenti memikirkan seseorang semenawan Luhan" ucap Sehun final.

Merasa sebal Sehun tidak memakan pancingannya untuk marah supaya dia bisa menertawakan sifat Sehun yang kekanakan, Baekhyun pura-pura santai ketika menyatakan "Kau positif mengidap kecanduan Luhan, Hun. Kau akan dikeluarkan sekolah karena terkena kecanduan terlarang"

Di saat-saat seperti ini Sehun mengerti kenapa Chanyeol dan Baekhyun bisa menjalin hubungan selama bertahun-tahun.


"Ini"

Melemparkan senyuman mautnya, Sehun memandang dengan intens lelaki yang sedang mengambil buku yang dia ambilkan karena sang lelaki tidak sanggup menggapainya.

Dengan senyuman maut ini dia pasti bertekuk lu

Dengan senyuman sejuta watt yang menyilaukan mata sipit Sehun, sang lelaki mengucapkan. "Terima kasih, Sehun"

Damn, aku kalah! Sehun merasa ingin langsung menyambar bibir itu. Dia berjanji akan memberikan ciuman terbaik yang tidak mungkin pernah Luhan dapatkan sebelumnya –meskipun bibir Sehun masih virgin dia sudah berlatih selama seminggu dengan boneka bambinya yang dia beri nama Lulu.

Masih ingin mencoba, Sehun tanpa menggaruk kepala –dia tidak ingin memberi kesan kepada Luhan bahwa dia memiliki kutu rambut– melemparkan senyuman termautnya –yang kata Baekhyun secara literal mengundang malaikat maut karena kau jadi ingin memuntahkan isi perutmu, sialan memang Baekhyun. "Apakah kau sepulang sekolah ini ada acara?"

"Eh?" Sehun menari-nari di dalam hati karena dia berhasil membuat Luhan merona dan salah tingkah. "Ti–Tidak juga sih..."

"Bagus!" Sehun menggenggam tangan Luhan, tarian di dalam hatinya semakin intens sampai membuat inner Sehun merasa lelah. Salahkan wajah Luhan yang semakin coret–manis–coret merah dan lirikannya kepada pertautan tangan mereka. "Kalau begitu temani aku minum bubble tea di toko langgananku, ya. Hari ini Chanyeol dan Baekhyun berkencan, jadi aku sendirian"

Kalau dia mengatakan 'ya' berarti aku benar bahwa dia menyukaiku. Jika yang lain itu berarti aku salah.

"Ah...itu..."

ASDFGHJKL! YANG BARUSAN DIANGGAP TIDAK ADA!

Senyuman Sehun semakin lebar. "Bukankah Yifan ada jadwal basket sepulang sekolah? Kau biasanya menunggu di kelas saja kan? Kita bisa pergi saat itu"

Ayolah, aku tidak mungkin salah kan? Kau menyukaiku 'kan?

"Eh..."

Sekali lagi, sekali lagi! Benar-benar sekali lagi!

"Ya?" memiringkan kepalanya dan memberikan poutnya –yang pasti akan membuat Baekhyun benar-benar memuntahkan isi perutnya dan Chanyeol menjadi panik tidak terkira–, Sehun berusaha membuat Luhan mengatakan 'Ya'.

YA? YA? YA?

"Ba–Baiklah"

ITU SAMA SAJA DENGAN 'YA'! WOO-HOO!

Selelah apapun inner Sehun, toh dia masih bisa melompat-lompat kegirangan di dalam hati Sehun. "Okay. Aku tunggu di depan sekolah~"

Setelah melambaikan tangan kepada Luhan yang mematung, Sehun berjalan keluar dari perpustakaan dengan senyuman tipis yang membuat baik siswa maupun siswi berbisik-bisik terpesona.

Sehun sengaja melirik ke arah mereka dan menebarkan senyuman mautnya. Membuat wajah mereka menjadi kepiting rebus –dan beberapa dengan dramatisnya mengipasi diri seolah lupa ini musim gugur dan koridor terasa dingin.

Puas, Sehun meninggalkan kerumunan orang yang masih terpesona dengan keberadaannya.

Hell yeah, I'm a precious motherfucking prince.

Sedangkan jauh di belakang sana, Luhan masih terdiam sembari memandang punggung Sehun yang sudah menghilang.

"Kenapa dia bisa tahu jadwal latihan basket Kris? Jangan-jangan–" Luhan meneguk ludahnya. "–dia menyukai Kris?"

Oh, malangnya Sehun! Bahkan yang disukai olehnya mirip dengan Chanyeol dan Baekhyun!


"Jadi benar Luhan lagi-lagi membicarakan tentang Sehun?"

Sehun nyaris memaksa masuk dan berteriak 'OH TUHAN AKU TAHU AKU BENAR! SEORANG SEHUN TIDAK PERNAH SALAH', tetapi dia mengurungkannya karena dia tahu dia harus mendengarkan lebih lanjut apa yang Baekhyun bicarakan dengan seseorang ini.

Menerobos masuk atau masuk baik-baik dan meminta izin mendengar apa yang Baekhyun dan seseorang ini bicarakan hanya akan membuat Sehun kehilangan kesempatan mendapat informasi berharga karena Byun–satan–Baekhyun tidak mungkin membiarkan seorang yang memesona seperti Sehun bahagia karena pasti si bebek bereyeliner itu iri dengan Sehun dan kilauannya.

Sehun tidak sadar jika dia mirip dengan Baekhyun dalam beberapa hal.

"Ya"

Sehun tahu suara ini! Suara Yixing! Teman satu kamar Luhan di asrama mereka!

"Damn, kenapa harus Sehun?!" Baekhyun terdengar frustasi. "Dia memiliki Yifan! Yifan yang bak supermodel, pintar, kaya raya, jago olahraga, dan oh astaga, Sehun yang super narsis dan menyebalkan dengan muka datarnya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Yifan!"

Di sisi lain, Sehun sedang berusaha menahan diri dan mengutuk Baekhyun dengan segala sumpah serapah karena apa-apaan Baekhyun itu?!

"Jangankan kau" Yixing terdengar membagi sentimen yang sama dengan Baekhyun. "Aku juga lelah melihatnya curi-curi pandang ke arah Sehun dan jika dia tidak sedang melakukannya dia sedang memikirkan si wajah aku-tidak-tertarik-dengan-kehidupan itu!"

Oke, mungkin Sehun perlu menendang dua orang hari ini. Apa-apaan si unicorn itu?!

"Sejak kapan?"

"Sejak Sehun membuatnya tertawa. Alasan Luhan menyukai Sehun adalah karena Sehun membuatnya tertawa. Yifan memang sempurna, tetapi dia tidak membuat Luhan bahagia"

Hening. Bahkan Sehun juga tidak tahu harus mengatakan apa di dalam hatinya. Jantungnya berdetak dan wajahnya memerah sendiri mendengar bahwa Luhan menyukainya karena Sehun membuatnya bahagia.

Apakah ini tidak seperti kisah-kisah romantis di fiksi-fiksi? Ya ampun, Sehun juga bahagia karena Luhan.

"Okay, yang itu cukup mengejutkan" sepertinya bibir Baekhyun telah pulih kembali dari keterkejutan dan menemukan kembali sifat aslinya.

"Ya, siapa yang sangka? Peristiwa di mana Sehun terpeleset ketika dia memaksa menggendong Luhan karena kaki Luhan terkilir dan mereka malah tercebur di kubangan lumpur, yang seperti itu akhirnya membuat Luhan beralih dari seorang seperti Yifan ke Sehun. Siapa saja pasti tidak menyangka"

Meskipun Baekhyun yang tertawa terbahak dan Yixing yang mengatakan 'Aku serius!' tidak melihatnya, Sehun ingin mengubur dirinya hidup-hidup.


Sehun tidak tahu apa yang harus dia katakan melihat seseorang, yang paling ingin dia lenyapkan dari sisi Luhan, kini berdiri di depan lokernya –sebuah tanda yang sangat jelas jika laki-laki tinggi itu sedang menunggunya.

Sedikit menaikkan dagu dan membusungkan dada supaya terlihat tidak kalah keren dari si laki-laki tinggi, Sehun menuju ke arah lokernya. "Bisa minggir?"

Melihat ketidaksukaan yang terpancar dari kedua iris laki-laki tinggi di depannya, Sehun membalas dengan percikan yang sama. Tanda bahwa dia mengatakan "Perasaan kita sama, tahu!"

Sama-sama menyukai Luhan. Sama-sama tidak menyukai satu sama lain.

Dan sekarang sama-sama menjadi pusat perhatian orang-orang di sekeliling mereka yang ingin melihat ledakan visual tanpa tahu bahwa ada kemungkinan untuk terjadi ledakan yang sebenarnya dari dua sosok tampan yang berhadap-hadapan ini.

"Hannie, ah, Luhan bilang kau mengajaknya minum bubble tea beberapa hari lalu?"

Dahi Sehun berkedut karena sebal. Dia tidak seperti salah mengucapkan nama. Sehun yakin dia sengaja menyebutkan petnamenya ke Luhan untuk menunjukkan bahwa dia lebih dekat dengan Luhan daripada Sehun. Maaf saja! Sehun juga punya sebutan Lulu –meskipun baru diterapkan di boneka bambi yang dia anggap Luhan. "Ya. Lalu?"

"Terima kasih telah menemani Luhan selama dia menungguku selesai latihan basket"

Memberikan senyuman tipisnya, Sehun membalas penekanan Yifan pada kata '-ku'. "Ya, tidak masalah. Toh kami menghabiskan waktu dengan baik dan menyenangkan"

HA! Makan itu! 'Aku' dan 'Kami'. Kau sendiri dan aku dengan Luhan!

Tangan Yifan yang mengepal tidak luput dari pandangan Sehun. Meskipun Sehun tahu dia akan menjadi bubur jika harus beradu fisik dengan Yifan, Sehun tidak takut.

Sehun adalah pria berprinsip. Prinsipnya adalah tidak akan menunjukkan dia takut di depan orang yang –sayang sekali– berhasil mendapatkan Luhannya terlebih dahulu.

"Tetapi, Sehun, aku akan sangat menghargai jika kau tidak pergi berdua saja dengan kekasihku" membalas senyuman tipis Sehun, Yifan mengeluarkan smirk yang bisa membuat siapapun terbujur kaku saking silaunya. Sehun merasa tahu apa yang dikatakan Baekhyun tentang makna senyuman maut bagi orang-orang yang tidak menyukainya.

"Tenang saja, Yifan, aku tidak berusaha menjadi selingkuhannya atau apa" Sehun tahu apa yang akan dia ucapkan berisiko tinggi, tetapi Sehun benar-benar tidak bisa menyukai Yifan. "Luhan yang akhirnya akan memutuskanmu dan datang ke pelukanku tanpa aku harus membuatnya bermain di belakangmu"

Dan itulah yang membuat kepalan tangan Yifan mendarat mulus di pipi Sehun.

Sehun mungkin menyesali pilihannya untuk terus memicu kemarahan Yifan, mungkin, jika bukan karena Luhan yang berlari mendekatinya sambil meneriakkan namanya dan dengan sangat khawatir menanyainya apakah dia baik-baik saja begitu Luhan sampai di dekatnya.

Semua itu tepat di depan Yifan yang memandang kejadian di depannya dengan amat sangat tidak senang.

Aku tidak akan mendengar namamu disebut oleh Luhan lagi, Yifan.


Luhan sedang duduk dengan lesu di bangku penonton lapangan sepak bola sekolahnya.

Ini sudah sore hari, tetapi dia benar-benar tidak ingin pulang jika mengingat kejadian hari ini.

Datang di sekolah hanya untuk melihat Yifan memukul Sehun. Diseret ke lapangan hanya untuk dituduh berselingkuh dengan Sehun oleh Yifan. Dan akhirnya memutuskan hubungan dengan Yifan dengan tidak baik-baik.

Sungguh, Luhan selalu ingin mengakhiri hubungan percintaan–yang tidak mutual–nya dengan Yifan tanpa menyakiti satu pihak.

Luhan tahu itu tidak mungkin karena dia tahu Yifan masih sangat menyukainya. Namun, Luhan yakin jika memberi pengertian baik-baik kepada Yifan bahwa dia tiba-tiba saja disadarkan bahwa dia menyukai Sehun lebih dari dia menyukai Yifan, mantan kekasihnya itu mungkin akan mengerti.

Bagaimanapun Luhan percaya ini salahnya Yifan akhirnya mengetahui lebih dahulu sebelum dia bisa mengakui –tetapi sungguh sesuka apapun Luhan pada Sehun, Luhan tidak berniat berselingkuh!

Dan ini salahnya melibatkan Sehun yang tidak mengerti apa-apa. Berbaring di kursi sembari menutup mata, Luhan menghembuskan napas. Hah. Dia pasti membenciku karena melibatkannya.

"Apakah kau masih akan bersedih karena putus dengan dia?"

Luhan membuka matanya dan refleks bangkit dari berbaringnya–

DUK.

–"AW!" dan kepalanya terbentur dengan sesuatu yang keras.

Dia lalu bisa melihat Sehun yang sedang mengusap dahinya yang memerah. Ke–Kenapa dia ada di sini?!

"Kepalamu keras, Lu" ucap Sehun, masih sambil mengusap dahinya.

Luhan masih mengedipkan mata tidak mengerti dengan apa yang dia lihat. "Ke–Kenapa kau ada di sini?"

Mencebikkan bibirnya, Sehun berdiri dan berlagak seolah dia perlu membersihkan debu dari kerah bajunya. "Aku harus memastikan calon suamiku tidak terlalu lama menangisi kandasnya hubungannya dengan mantan kekasihnya"

A-APA?!

Luhan tidak tahu harus mengucapkan apa selain "Ka–Kau terbentur terlalu keras, Hun" sambil mengalihkan wajahnya yang merah padam. Apa maksudnya calon suami? Aku? Calon suami Sehun?!

"Tidak hanya terbentur terlalu keras, Lu" Sehun mengedipkan sebelah mata, membuat Luhan semakin merona. "Kita berdua sama-sama jatuh terlalu keras. Jatuh cinta~"

Luhan terpaksa menutupi wajahnya. "Ka–Kau memalukan"

Tersenyum lebar, Sehun duduk di samping Luhan sambil memeluknya erat. "Kau menyukai aku yang seperti ini"

Berusaha melepaskan Sehun, Luhan mencebikkan bibirnya. "Siapa yang bilang aku menyukaimu"

"Tenang saja, dalam hitungan detik kau akan menyukaiku dan benar-benar menyukaiku sampai kau tidak mungkin menolakku"

Tertawa, Luhan memukul Sehun pelan. "Kau percaya diri sekali"

"Aku serius. Kita harus menjadi sepasang kekasih" Sehun menganggukkan kepalanya mantap. "Semua orang berkata seperti itu"

"Siapa itu semua orang?" tanya Luhan geli.

"Aku" Sehun tersenyum miring. "Karena aku adalah duniamu, maka aku adalah semua orang"

Mata Luhan menyipit dan dia memegang perutnya erat. Tertawa lepas. "Sehunnn kau benar-benar memalukan!"

Tetapi, baik Luhan dan Sehun tahu, kalau jantung mereka berdetak dengan kencang dan perasaan mereka penuh dengan rasa bahagia yang membuncah.

End.


Gimana melihat Sehun clumsy gini? Wwwww saya jujur suka nulis Sehun yang sok-sokan tapi gagal gini. Cute.

Tadinya mau bikin Sehun yang punya pacar dan Luhan yang jadi sok pede, tapi kok dipikir-pikir lagi lucuan Sehun (dan supaya bisa masukin Chanbaek sih mwehehehe)

.

Inspirasi utama cerita dari Girlfriend - Avril Lavigne

Because Sehun knows Luhan like him and Sehun does want to be his boyfriend.