Another DxD

Summary : Sudah 3 bulan lebih, sejak 666(Trihexa) dikalahkah oleh tim DxD dengan dibantu oleh sekutu lainnya. Hyoudou Issei, sang Sekiryuutei, sedang merasa kebosanan dan meminta saran kepada Ddraig untuk melakukan apa. Ddraig pun menyarankan untuk berkunjung ke dimensi lain dengan bantuan Great Red. Apakah yang akan terjadi? Saksikan sendiri!

Pairing : Issei x ?

Rating : T

Genre: Action, Adventure, Fantasy, Ecchi, Romance, Humor, Demons, School, Harem

Disclaimer: Highschool DxD bukanlah milik saya, itu milik Ichie Ishibumi

Warning : Godlike!Issei Canon!Issei AU! Gaje! Mainstream!

AN : Untuk yang bingung sama gaya penulisan saat Issei ama Ddraig ngomong, itu author pakai gaya penulisan LN DxD. Ichie Ishibumi juga bilang, dia buat seperti itu untuk mempermudah pembaca dalam membaca. Satu hal lagi, tokoh utama bukan Naruto tapi Issei dan Issei ada di dimensi dxd, bukan dimensi shinobi lagi. Dah, gitu aja, Ciao~!


Chapter 02 : Aku bukan lagi Hyoudou Issei!

Saat ini aku telah menyaksikan suatu hal yang luar biasa. Dejavu yang mengerikan tapi mengesalkan bagiku. Ya, aku Hyoudou Issei, sang Sekiryuutei merasa ekstensiku tergantikan oleh seseorang ketika aku tiba di dimensi lain ini.

Dimensi lain? Ya, saat ini aku berada di dimensi lain gara-gara menutupnya lubang dimensi yang dibuat oleh Great Red saat memindahkanku kemari hanya karena aku bosan dan ingin pergi mengunjungi dimensi lain yang menyebabkan diriku dan sobat terbaikku ini, terjebak di sini.

Di depan mataku, saat ini aku melihat seorang perempuan berambut surai merah seperti darah, yaitu rambut panjang berwarna crimson. Wajahnya yang terlihat cantik dan elegan, membuatku terpana sebentar meskipun aku sudah pernah atau sering sekali melihatnya.

Hembusan angin yang dihasilkan dari ritual pembangkitan menjadi iblis yang dilakukan olehnya, membuat rambut panjang bersurai merahnya terhembus dan bagai melambai-lambai. Terasa dan terlihat kalau rambutnya sedang menari dengan senangnya.

Tanpa kusadari, 'Rias', mengalihkan pandangannya ke tempatku bersembunyi dan menatapnya dengan tatapan tajam.

"Siapa di sana?!"

Sialan, aku sepertinya ketahuan. Mau tak mau, kelihatannya aku harus menunjukkan wajahku.

Aku lalu turun dari pohon tempatku bersembunyi dan berniat menyapa 'Rias' dengan nada ramah.

"Ah, hai yang di sana. Maaf mengganggumu, Ahahaha."

"Siapa kau? Aku merasakan aura yang bukan manusia berasal darimu."

Astaga. Dia benar-benar tajam dalam merasakan sesuatu seperti aura.

Mendengar itu, aku lalu menjawab pertanyaannya dengan senyum kikuk dan menggaruk kepalaku.

"Ah. Ya, aku Hibrid Iblis-Naga. Kau juga bukan manusia kan?"

"Ya. Itu benar dan apa yang sedang kau lakukan di sini?"

"Aku hanya kebetulan lewat saja."

Aku mengatakan itu padanya. Sebisa mungkin, aku harus merahasiakan apa yang kulakukan tadi. Tapi bodohnya, aku malah mengatakan padanya kalau aku bukan manusia.

Ah, dasar bodoh! Bodoh, bodoh, bodoh, bodoh! Dasar Hyoudou Issei bodoh! Aku jadi bingung, aku ini bodoh ya?

[Ya Partner, kau adalah Sekiryuutei terbodoh yang pernah kutemui.]

Diamlah, Naga! Kau benar-benar kejam padaku, wahai sobatku!

[Kau kan juga mengaku, kalau kau itu bodoh tadi? Apa salahnya?]

Diamlah, Ddraig! Aku bersumpah, akan membuatmu trauma lagi di dimensi ini!

[Ap-! S-Semoga saja hal itu tidak terulang lagi di dimensi ini. Aku bisa-bisa tambah stres ketika mendengarnya.]

Huahahaha! Rasakan itu! Makanya, jangan macam-macam dengan Issei-sama!

[Oke-oke, aku mengerti. Cih.]

Setelah mendengar perkataanku itu, Ddraig menjadi diam dan menurut. Meskipun nada bicara yang dia keluarkan agak dipaksakan. Aku agak tidak senang ketika mendengarnya, tapi jika diteruskan… mungkin masalahnya tambah rumit dan panjang.

Lalu, 'Rias' pun menganggukkan kepalanya meski kulihat ada sedikit tatapan mencurigai dari matanya.

"Begitu ya? Baiklah, aku mengerti. Oh ya, namamu siapa? Aku Rias Gremory."

Ditanya begitu, otakku langsung bekerja dengan keras. Seperti sebuah kereta yang disuruh untuk ikut balapan dengan mobil balap! Kecepatan berpikir dari otakku sudah melaju dengan cepat!

Nama?! Apakah aku harus pakai nama Hyoudou Issei? Tapi laki-laki yang tadi…. Namanya adalah Hyoudou Naruto. Tidak mungkin kan, aku mengatakan : Halo, namaku Hyoudou Issei. Nama keluargaku sama dengannya, tapi aku berasa dari dimensi lain.

Terdengar bodoh dan aneh! Tidak bisa dijadikan sebuah alasan. Mana ada orang bodoh yang akan percaya hal itu begitu saja? Tidak-tidak, aku harus merahasiakannya.

Tapi nama apa yang cocok? Ddraig itu naga merah… naga merah ya… Baiklah, sudah kudapatkan!

"Namaku Akairyuu Issei, senang bertemu denganmu, Gremory-san."

"Ah, senang berkenalan denganmu juga, Akairyuu-san."

Aku mengangguk lalu tersenyum ke arahnya, mencoba untuk berusaha menghilangkan tuduhan curiga padaku terhadapnya. Aku lalu mengalihkan pandanganku ke laki-laki tadi dan menunjuknya sambil menanyakan sesuatu ke 'Rias'.

"Anu Gremory-san… ada apa dengan laki-laki ini? Apakah terjadi suatu pertarungan?"

Dia yang mendengar perkataanku menggelengkan kepalanya, lalu menoleh dan menatapku sambil menjawab pertanyaanku.

"Ah tidak. Dia tadi baru saja dibunuh oleh kekasihnya, yaitu malaikat jatuh. Karena dia tiba-tiba memanggilku lewat surat kontrak yang disebarkan oleh peliharaanku, aku jadi di sini dan membangkitkannya sebagai iblis reinkarnasi."

"Begitu ya? Jika kau menghidupkannya kembali sebagai iblis, dia pasti punya sesuatu yang begitu berharga kan?"

Aku menanyakan itu ke Rias dan dia mengangguk. Dia lalu menjawab pertanyaanku sambil menyilangkan kedua tangannya di bawah dadanya itu.

"Ya. Dari yang kutahu, dia mempunyai Sacred Gear yang begitu kuat dan luar biasa. Tapi aku belum bisa memastikan dengan jelas, Sacred Gear seperti apa yang dimiliki olehnya."

"Begitu ya? Masuk akal juga."

Aku mengangguk paham ketika mendengar perkataan Rias itu. Aku jadi memikirkan suatu kemungkinan di dalam kepalaku. Apakah dia juga punya Sacred Gear naga? Seperti Sekiryuutei? Jika benar, berarti dia adalah Sekiryuutei di dimensi ini dan kenapa namanya harus kue ikan?!

Bah! Namanya jelek sekali, kue ikan? Memangnya ada, orang tua yang mau menamakan anaknya dengan nama kue ikan?

[Partner, kurasa nama Naruto memiliki arti lain.]

Berisik, aku tahu itu! Tapi kue ikan juga termasuk dalam salah satu artian nama itu. Hyoudou Naruto? Sepertinya ekstensiku digantikan oleh laki-laki ini.

[Oh ya Partner, aku baru sadar satu hal penting tentang kekuatan kita.]

Apa itu?

[Kau tidak bisa menggunakan Illegal Move Triaina di sini.]

…..

Apaaaaaaaaaa?! Kenapa tidak bisa, Ddraig?! Bukankah aku masih pelayan iblisnya Rias?! Katakan padaku, naga sialan!

[Sabar-sabar, Partner. Secara fisik, kau memang masih seorang iblis dan naga tapi sistem Evil Piece di dalam tubuhku tidak berfungsi di dimensi ini. Karena kau berasal dari dimensi lain. Tapi untuk mode lainnya, kau masih bisa. Ascalonmu juga masih ada, yang tidak bisa digunakan hanyalah Illegal Move Triaina.]

Begitu ya? Tapi itu mengurangi daya tempurku! Memang sih, aku sudah mengalahkan 666 tapi tetap saja aku merasa daya tempurku menurun.

[Dan satu hal lagi Partner, kau tidak bisa menggunakan Cardinal Crimson Promotion mau pun Diabolos Dragon.]

Tunggu, kenapa Diabolos Dragon juga? Bukankah mode itu aku dapat karena tubuh nagaku itu terbuat dari potongan daging Great Red dan sebagian kekuatan dari yang Ophis berikan.

[Bukan itu. Memang benar, tapi syarat untuk membuka Diabolos Dragon adalah kau harus menggunakan Cardinal Crimson Promotion. Itu juga termasuk dalam sistem Evil Piece. Evil Piece-mu hanya tersegel saja karena kau berada di dimensi lain.]

Yang benar saja, Ddraig! Jika begitu, yang kubiasa hanyalah Balance Breaker biasa dan yang lainnya dong?

[Maaf Partner, tapi itu hanya bercanda. Kau bisa menggunakannya kok.]

….Ddraig. Kau benar-benar akan merasakan traumamu lagi… disini!

[P-Partner… M-Maafkan aku.]

Aku menghiraukan perkataan dari naga merah yang bersemayam di Boosted Gear-ku ini. Saat aku mengalihkan pandanganku ke Rias, dia melihatku dengan tatapan bingung.

Oh baiklah, kelihatannya Rias bingung dan diam ketika aku berbicara dengan Ddraig. Hehe, dia belum tahu kalau aku adalah Sekiryuutei.

"Ah, maaf ya Gremory-san karena membuatmu bingung."

"Tidak, tidak apa-apa. Memangnya kau tadi sedang melakukan apa? Tertidur?"

Ahahaha, tertidur. Oke, itu alasan yang konyol dan kenapa Rias menanyakan kalau aku tadi tertidur. Apakah tidak ada pertanyaan yang lebih berbobot selain tertidur? Haah… Biarlah, lebih baik aku menjawab pertanyaannya saja.

"Ah, tidak kok. Aku dari tadi diam karena terpana oleh wajahmu yang cantik itu, Gremory-san."

Ketika aku mengatakan itu, entah kenapa… rona merah muncul di kedua pipinya. Imut! Imut sekali menurutku!

Tapi kenapa aku bisa menggombal sehebat ini? Apakah ini karena hasil didikan dari Azazel-sensei dan apakah Azazel-sensei pernah mengajarkan hal ini padaku? Aku tak bisa mengingatnya! Otakku yang kecil dan bodoh ini susah untuk mengingatnya!

Sudahlah, lupakan hal itu. Dipikirkan juga, aku tidak mengingatnya.

"B-Begitukah… Ehem. Terima kasih atas pujiannya, Akairyuu-san."

"Sama-sama. Oh ya Gremory-san, apakah kau tahu dimana letak SMA Kuoh?"

"SMA Kuoh?"

Aku mengangguk mendengar pertanyaan Rias itu, meski sebenarnya aku sudah tahu dimana SMA Kuoh berada tapi agak tidak menimbulkan kecurigaan lagi, aku harus bersikap seolah-olah tidak tahu.

"Oh. Aku tahu tempatnya dimana, Akairyuu-san. Tapi sekarang hari libur, jadi sekolah sudah tutup. Apakah kau mau mendaftar di SMA Kuoh?"

"Ya, aku mau mendaftar di SMA Kuoh. Tapi tutup ya? Sayang sekali, kalau begitu bisa tunjukkan saja dimana tempatnya? Agar besok aku bisa kesini tanpa tersesat."

"Baiklah Akairyuu-san, dengan senang hati."

Akhirnya, Rias pun mau untuk mengantarku ke SMA Kuoh. Ya, aku memang sudah tahu dimana letak SMA Kuoh berada, tapi biarkan sajalah… sekalian mau bernostalgia sedikit.

Aku juga kepikirkan akan sesuatu. Aku tidur dimana? Tidak mungkin kalau aku tidur di rumahku yang dulu, yaitu kediaman keluarga Hyoudou karena tadi aku sudah memperkenalkan namaku sebagai Akairyuu Issei dan juga laki-laki tadi adalah penggantiku.

"Oh ya Akairyuu-san, sebelum itu… perkenankan aku membawa pulang dulu laki-laki ini ke rumahnya."

"Oh, baiklah."

Ya, sebelum pergi menuju SMA Kuoh, aku harus menemani Rias untuk membawa pulang laki-laki ini ke rumahnya atau lebih tepatnya rumah kediaman keluarga Hyoudou. Hanya butuh 10 menit jalan kaki untuk sampai kesana dan anehnya, aku lupa akan itu.

Aku membopong laki-laki itu, tapi ketika Rias mau melarangku untuk membopongnya karena dia merasa kalau itu adalah tanggung jawabnya, aku menolaknya meski aku agak kesal karena harus membopong si penggantiku di dimensi ini.

Hening. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi di antara kami berdua saat ini. Karena merasa tidak enak kalau dibiarkan hening saja, aku pun menanyakan sesuatu ke Rias.

"Hei Gremory-san. Kau dari bangsawan iblis Gremory ya?"

"Iya. Kok kau bisa tahu, Akairyuu-san?"

"Bukankah Gremory itu klan bangsawan iblis terkenal di dunia supranatural? Wajar kalau aku tahu itu."

"Haha. Benar juga, aku sampai lupa."

Aku dan Rias tertawa ketika mendengar itu. Kami masih melanjutkan berjalan ke rumah si laki-laki ini. Langkah kami lambat dikarenakan aku harus membopong laki-laki ini, yaitu Hyoudou Naruto.

Sepanjang perjalanan, kami terus mengobrol satu sama lain. Tak disangka-sangka, selama kami mengobrol satu sama lain… kami akhirnya sudah sampai di kediaman Hyoudou, atau rumahku.

Ya, tapi di sini tidak bisa dikatakan rumahku, karena aku ada di dimensi yang berbeda. Agak sedih juga sih, tidak bisa masuk ke rumah sendiri, hanya karena berbeda dimensi.

"Oh. Maaf Akairyuu-san, kelihatannya aku tidak bisa mengantarmu ke SMA Kuoh."

"Begitukah? Tidak apa-apa."

"Maaf ya, aku harus segera menyembuhkan anak ini."

"Baiklah. Akan kucari sendiri tempatnya, terima kasih karena mau membantuku, Gremory-san."

Aku mengangguk dan tersenyum ke Rias, yang dibalas oleh anggukan minta maaf kepadaku. Aku lalu berbalik dan segera berangkat menuju SMA Kuoh. Sebenarnya aku tahu dan agak tidak mau kesana, tapi mau bagaimana lagi… aku harus kesana.

Haah… Sepertinya Rias mau menyembuhkan laki-laki itu dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan padaku dulu. Agak tidak senang saat melihatnya, tapi itu bukan urusanku karena aku bukanlah orang dari dimensi ini.

Sambil berjalan dengan wajah malas, aku melangkahkan kakiku selangkah demi selangkah menuju SMA Kuoh. Tak terasa, meskipun aku berjalan secara malas, sampai juga di SMA Kuoh tapi dengan waktu yang lumayan lama juga, yaitu 20 menit lamanya.

Aku lalu berjalan ke arah kelasku dulu, kelas 2-1. Ya, tapi sekarang aku sudah bisa dibilang senpai karena sudah menjadi kelas 3.

Ketika aku sampai di kelasku dulu, aku melihat seorang perempuan berambut coklat panjang sedang berada di sana dengan memakai seragam perempuan SMA Kuoh. Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh perempuan itu di hari libur begini.

Apakah dia ada tugas yang berhubungan dengan OSIS dan sebagainya? Coba kusapa dia.

"Um… Halo."

"Ah! Siapa ya?"

Dia lalu menoleh ke arahku. Wajahnya cantik. Itulah yang bisa kukatakan saat pertama kali melihat wajahnya. Dengan diiringi oleh hembusan angin, yang membuat rambut coklat panjangnya berkibar-kibar itu dan mata berwarna coklat muda, membuat kecantikannya menjadi bertambah.

Apa yang kupikirkan?! Ingat, dia adalah manusia dari dimensi ini! Kau sudah punya perempuan sendiri yang menyukaimu di tempat asalmu itu, Hyoudou Issei!

"Ah maaf, namaku Akairyuu Issei. Aku calon murid baru di SMA Kuoh dan aku mulai masuk besok begitu juga dengan mendaftarnya. Kalau kau… siapa nona?"

"Ah, maaf lupa memperkenalkan diri. Namaku Hyoudou Elis, senang berkenalan denganmu, Akairyuu-san."

Hyodou lagi? Apakah di dimensi ini, aku digantikan oleh dua orang? Satunya laki-laki berambut coklat duren dan satunya seorang bishoujo berambut coklat panjang? Sudahlah, lupakan dulu itu dan fokus ke yang sekarang.

"Senang berkenalan denganmu juga, Hyoudou-san."

"A-Ah, sama-sama…"

Hm? Entah kenapa, aku seperti melihat ada Asia kedua di perempuan ini. Sifat dan tingkah lakunya hampir sama dengan Asia! Tunggu, jika Asia ada di dimensi ini juga… bagaimana jadinya jika dia dan perempuan ini tinggal satu atap? Pasti merepotkan nantinya.

Dan juga satu hal. Aku baru tahu kalau perempuan ini juga bermarga Hyoudou dan laki-laki tadi juga bermarga Hyodou. Apakah mungkin… dia ini saudara perempuan dari laki-laki itu tadi? Sialan! Sungguh beruntung sekali nasibmu wahai diriku di dimensi ini!

Kau punya seorang saudara bishoujo! Ya, aku juga punya sih… Asia sudah kuanggap seperti adikku sendiri, tapi itu tetap saja mengesalkan! Aku dari dulu ingin punya seorang saudara bishoujo! Sial, takdir memang benar-benar tidak adil!

"Oh ya, apa yang sedang kau lakukan di sini, Hyoudou-san? Bukankah sekolah sedang libur?"

"A-Ah. Itu karena aku ada tugas di sini. Aku disuruh untuk merawat peralatan olahraga karena sekarang adalah jadwalku merawatnya."

"Begitu ya? Tugas rupanya."

"Kalau Akairyuu-san sendiri, kesini mau ngapain? Bukankah tadi Akairyuu-san bilang kalau besok Akairyuu-san akan masuk sebagai murid baru di SMA Kuoh ini? Lantas, kenapa kesini pada saat ini?"

Wah. Dia menanyakan hal itu dan persis seperti yang kupikirkan. Kalau kujawab karena nostalgia, bisa dipercaya oleh dia tidak ya? Sebaiknya kucoba saja.

"Begini. Kalau tidak salah, 2 tahun yang lalu aku pernah menjadi murid SMA Kuoh, tapi hanya sebentar, yaitu sekitar 1 bulan. Setelah itu aku pergi keluar negeri untuk belajar di sana selama 1 tahun 11 bulan. Ya, mungkin orang-orang di sini sudah lupa semua denganku, tapi tidak apa-apa."

"Maaf ya sudah menanyakan itu, Akairyuu-san."

"Tidak, tidak apa-apa kok. Dengan begitu, aku masuk kembali ke SMA Kuoh sebagai anak kelas 3. Kemungkinan aku bisa dapat teman baru di sini, meskipun sekolah di tempat yang sama."

"Kelas 3? Ah, berarti nanti Akairyuu-san akan menjadi kakak kelasku. Maaf karena sudah tidak sopan, Akairyuu-senpai."

"Tidak apa-apa. Aku malah aneh kalau dipanggil begitu. Hahaha."

Maaf ya, aku harus membohongi perempuan seperti Asia ini dengan kebohonganku yang aneh itu. Hyoudou Elis, entah kenapa… dia agak mirip denganku, seperti wujud perempuanku.

Ah, aku jadi mengingat Kiba. Bweeek. Najis amat sampai mikirin bishounen sialan itu! Ini gara-gara Azazel-sensei yang memakai Pistol Pengubah Kelamin! Dia yang membuatku terus memikirkan Yumi, sosok Kiba Yuuto dalam wujud perempuan!

Terkutuklah kau, Azazel-sensei! Kuharap kau selamanya akan jomblo! Huahahahaha!

[Partner, kelihatannya kau mulai menjadi gila.]

Hah? Apa maksudmu itu, Ddraig?

[Entahlah… pikirkan sendiri. Maaf Partner, aku mau tidur, dah.]

Ah, hei…! Sialan, dia malah tidur.

Karena sobatku, si naga merah Ddraig, tertidur, aku pun mencoba mencari sesuatu sebagai bahan obrolan.

"Oh ya, apa kau itu saudaranya dari Hyoudou Naruto, Hyodou-san?"

"Ah. Iya benar, kenapa Akairyuu-san bisa tahu?"

"Itu… tadi aku kebetulan lewat dan mendengar sesuatu tentang saudaramu. Dia itu… orangnya seperti apa?"

"Oh, Onii-sama ya… Onii-sama itu orangnya baik, ramah dan pengertian tapi kadang-kadang membuat bingung dengan apa yang dikatakannya, dia juga sering dijuluki sebagai Hentai Ouji karena dia sering berkumpul bersama Matsuda-san dan Motohama-san yang dikenal sebagai Trio Mesum."

Wow. Aku kaget kalau ternyata di dimensi ini, mereka berdua juga masih dikenal sebagai gerombolan dari Trio Mesum. Aku juga kaget kalau ternyata si Naruto ini juga masuk kedalam kumpulan Trio Mesum tapi entah kenapa, julukannya agak membuatku kesal.

Aku kesal kenapa? Karena julukannya lumayan bagus, yaitu Hentai Ouji atau Pangeran Mesum. Jika dia dijuluki begitu, pasti dia orang yang tampan dan mungkin lebih tampan dariku! Cih. Benar-benar orang yang beruntung, sangat-sangat beruntung!

"Begitu ya? Sepertinya Onii-samamu orang yang hebat. Aku agak iri dengannya."

"Iri? Iri kenapa, Akairyuu-san?"

"Begini. Dulu aku juga hampir mirip dengan kakakmu, tapi bedanya aku dijuluki sebagai orang mesum, orang rendah dan bahkan binatang. Kakakmu masih beruntung, tidak… dia benar-benar beruntung."

"Akairyuu-san…"

Ya, meskipun aku menjadi iblis, mendapatkan Boosted Gear, tapi itu tidak mengubah fakta kalau aku orang yang dianggap rendah di sekolahku. Sekuat apa pun diriku dalam pertarungan yang melibatkan hal supranatural, itu tidak berguna dalam kehidupan sekolahku.

Mereka tidak akan tahu dan tidak akan mau tahu. Intinya aku cuma hebat dan terkenal di dunia supranatural saja, tidak di dunia keseharian biasa seperti ini.

Bahkan kau juga setuju dengan pemikiranku tadi kan, Ddraig?

[Partner… tidak usah kau paksakan seperti itu. Meskipun kau dianggap seperti itu di kehidupan sekolah mau pun kehidupan biasa, kau adalah partner terbaik dan terunik yang pernah kutemui. Tak usah pedulikan cemohan mereka, buktikan saja kalau kau bisa membalikkan pemikiran mereka.]

Terima kasih Ddraig, kau memang partner terbaik yang kumiliki.

[Haha, sama-sama Partner. Sudah sewajarnya rekan saling membantu dalam kesulitan.]

Ya, begitulah.

"Itu tidak benar, Akairyuu-san!"

"E-Eh… apa maksudmu, Hyoudou-san?"

"Semua orang itu dilahirkan dengan keberuntungan. Jangan bilang kalau kau tidak beruntung hanya karena hal itu. Begitu juga dengan Akairyuu-san, kau juga dilahirkan dengan keberuntungan. Ingat-ingatlah, kalau kau juga memiliki suatu keberuntungan meski sekecil apa pun itu."

Aku terkejut lalu diam ketika mendengar kata-kata itu dari perempuan ini, yaitu Hyodou Elis. Aku terpaku saat mendengarnya. Dia benar, aku mempunyai keberuntungan, meski tidak besar, tapi itu adalah sebuah keberuntungan.

"Terima kasih atas perkataannya, Hyoudou-san. Aku senang."

"S-Sama-sama… Akairyuu-san."

Saat aku mengatakan itu sambil tersenyum karena sudah berhasil membuat kembali normal lagi dan sadar dengan perkataannya, tiba-tiba rona merah terlihat di kedua pipinya. Oh sial, sepertinya aku salah langkah lagi.

Harusnya diriku yang di dimensi inilah, yang mendapat peran menjadi harem seperti ini. Jika begini, bisa kacau. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur. Kuharap diriku yang ada di dimensi ini, yaitu Hyoudou Naruto, bisa mendapatkan harem juga.

"Baiklah, Hyoudou-san. Aku mau pergi pulang dulu. Kutinggal sendirian, tidak apa-apa kan?"

"Ah, tidak apa-apa kok, Akairyuu-san. Aku bisa menjaga diriku."

"Begitukah? Baiklah dan oh ya… apa kau tahu, dimana tempat untuk menyewa sebuah kamar kos yang dekat dari SMA Kuoh dan harganya terjangkau?"

"Kamar kos yang dekat dengan SMA Kuoh dan harganya terjangkau ya? Kuingat-ingat dulu…"

Aku mengangguk dan menunggu jawaban balasan dari Hyoudou Elis, yang berusaha mengingat-ingat dimana tempat kos yang murah dan dekat dengan SMA Kuoh.

Jika begitu, aku harus mencari pekerjaan, mungkin kerja sampingan yaitu kerja paruh waktu dan mungkin aku harus mencari banyak kerja paruh waktu. Mengingat mahalnya menyewa sebuah kamar kos.

Sekitar 10 menitan mengingat, ekspresi dari Hyoudou Elis menjadi berubah. Yaitu ekspresi senang seperti sudah mengingat sesuatu. Mengetahui ekspresinya itu, membuatku senang.

Dia lalu mengatakannya padaku.

"Ada kok, Akairyuu-san."

"Benarkah? Dimana tempatnya?"

"Lumayan dekat, jika ditempuh dengan jalan kaki… memakan waktu hanya 30 menit."

"Oh. Lumayan cepat juga ya? Terima kasih kalau begitu, aku akan segera kesana."

"Eh. Lebih baik kuantar saja, Akairyuu-san. Apa Akairyuu-san tahu betul letaknya?"

Aku yang mendengar itu memasang ekspresi senyum kikuk sambil menggaruk pipiku.

"A-Ahahaha… Tidak."

"Haah… Baiklah. Kalau begitu, Akairyuu-san mau kuantar?"

"Eh. Apa boleh? Nanti merepotkanmu, Hyoudou-san."

"Tidak kok. Daripada nanti Akairyuu-san tersesat, lebih baik aku ikut mengantarmu."

Aku menghela nafas ketika mendengar itu, lalu mengangguk. Ekspresi senang terlihat di wajahnya ketika aku mengangguk. Aku berusaha menghiraukannya dan berjalan bersama dengan Hyoudou Elis ini menuju tempat kos yang dimaksud tadi.

Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, kami akhirnya sampai di tempat kos tersebut. Sebuah bangunan berlantai 5 yang lumayan bagus, kokoh dan serta rapi. Aku baru sadar akan hal itu. Apakah ini berarti ada perbedaan sedikit dengan dimensi asalku?

Ah sudahlah. Kalau dipikirkan tambah pusing. Lebih baik lupakan saja, hal sepele semacam itu tidak perlu dipikirkan.

Kulihat, Hyoudou Elis atau Elis, sedang berbicara kepada seorang ibu-ibu. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi kulihat jari Elis menunjuk ke arahku sekali ketika berbicara ke ibu di depannya itu.

Ibu itu hanya mengangguk-angguk ketika melihat apa yang Elis lakukan, lalu bicara lagi dan membuatku bingung, apa yang sebenarnya mereka bicarakan?

Setelah pembicaraan yang lamanya mencapai 15 menit, akhirnya selesai juga. Kulihat Elis dan ibu itu menghampiriku. Si ibu itu lalu menanyakan sesuatu padaku.

"Kau mau menyewa kamar kos ya?"

"Ya, tante. Apakah ada, kamar yang masih kosong?"

Wanita itu mengangguk ketika aku bertanya begitu padanya.

"Ya, masih ada kok. Sekitar 5 buah kamar."

"Begitukah? Syukurlah. Di lantai berapa dan nomor berapa saja, tante?"

"Oh. Di lantai 1, kamar nomor 106. Lantai 2, kamar nomor 216 dan kamar nomor 225. Lantai 3, kamar nomor 330. Lantai 4, kamar nomor 412. Mau pilih yang mana?"

Hm… Aku jadi bingung ketika ditanya begitu oleh ibu ini. Aku pilih kamar yang mana ya? Jika di lantai 4, membuat kelelahan karena harus naik-turun tangga. Lantai 1, enak karena dekat tapi agak tertutup.

Baiklah, sudah kuputuskan aku akan memilih kamar itu!

"Aku pilih… lantai 2 nomor 225."

"Begitu ya? Baiklah. Akan tante ambil dulu kunci serta berkas sewanya. Tunggu ya."

Aku mengangguk mendengarnya, lalu aku dan Elis pun menunggu diluar. Menunggu kunci dan berkas sewa kamar datang.

"Sepertinya aku juga harus mencari pekerjaan paruh waktu agar bisa membayar uang sewanya."

"Lho? Apakah kau tidak mendapat kiriman uang dari orang tuamu, Akairyuu-san?"

"Tidak. Orang tuaku… meninggal. Aku tidak mau merepotkan saudara-saudaraku serta kerabatku diluar sana. Aku mau mencoba hidup mandiri."

"Maaf karena sudah menanyakannya, Akairyuu-san…"

Aku menggeleng mendengar perkataan Elis itu.

"Tidak apa-apa, lagipula itu adalah masa lalu."

Ya… sebenarnya bukan seperti itu. Aku dengan terpaksa… harus membohongimu lagi, Elis-san! Awalnya aku tidak ingin membohongimu tapi keadaan memaksa. Seperti yang kulakukan kepada Asia.

Kulihat, pandangan dan tatapan sedih terlihat di wajahnya. Aku berpikir kalau mungkin ini salahku juga karena mengatakan hal itu.

Tak disangka, setelah lama menunggu… ibu kos itu datang juga dengan membawa sebuah kunci kamar dengan nomor 225 dan berkas untuk sewa kos.

"Maaf tante lama. Carinya susah."

"Tidak apa-apa tante. Kami sudah terbiasa menunggu."

Elis-san mengangguk ketika mendengar perkataanku. Ibu kos itu lalu memberikanku kunci kamar nomor 225 dan berkas yang kelihatannya harus kutandatangani.

Aku yang menerima berkas itu lalu menandatanganinya. Setelah selesai menandatanganinya, aku menerima kunci kamarnya. Ibu kos itu lalu berkata sesuatu padaku.

"Baiklah… Akairyuu Issei-san, selamat menikmati tinggal di kamar kos ibu ya?"

"Ya, tante."

Haah… Akhirnya aku dapat tempat tinggal juga, yang tersisa hanyalah pekerjaan… aku harus mencari kemana ya? Apa aku tanya ke Elis-san lagi? Tidak-tidak, aku harus mencarinya sendiri. Tidak enak merepotkan orang lain terus!

Saat aku sedang memikirkan itu, Elis-san menanyakan sesuatu padaku.

"Anu, Akairyuu-san… Apa kau mau kucarikan juga kerja paruh waktu?"

"Eh. Tidak-tidak! Aku akan mencarinya sendiri. Aku merasa tidak enak kalau merepotkanmu terus-terusan."

"Tapi biar sekalian. Ingat, menembak dua burung dengan satu batu."

Haah… Peribahasa itu. Ya, aku tahu peribahasa itu tapi memang benar seperti apa yang dikatakan oleh Elis-san. Biar sekalian, menembak dua burung dengan satu batu.

Aku lalu mengangguk pasrah dan membuat ekspresi Elis-san senang ketika melihat anggukkanku itu.

"Baiklah tante, kami akan pergi dulu mencari sebuah pekerjaan paruh waktu agar aku bisa membayar uang sewa kamar kosnya."

"Hm? Begitukah? Tunggu sebentar… sepertinya tante punya kenalan yang sedang butuh seorang pekerja paruh waktu di sebuah restoran."

"Restoran?"

"Ya. Apa kau mau, Akairyuu-san? Dia bilang akan menggaji pekerja paruh waktu itu gaji yang lumayan besar, karena dia selalu kesusahan saat melayani orang di restorannya."

"Aku mau, tante! Tolong perkenalan aku padanya!"

"Haha… Baiklah. Tempatnya ada di dekat stasiun, nama restorannya adalah Kuoh Rich Restaurant. Pemiliknya adalah keponakanku dan namanya adalah Yamaguchi Raiku. Bilang saja padanya kalau aku, Yamanaka Saeko, yang merekomendasikanmu. Dia pasti akan bilang ya dan menerimamu kok jika kau bilang aku yang merekomendasikanmu."

"Terima kasih tante! Aku benar-benar merepotkanmu."

"Tidak apa-apa. Itu juga tante lakukan supaya nanti kau bisa membayar uang sewanya kepada tante kok. Hahaha."

Hahaha… ibu kos ini benar-benar aneh. Idenya hebat juga melakukan itu agar penghuni kosnya bisa membayar uang kosnya. Ide yang licik sekaligus bagus, dapat membuat penghuni kosnya terpaksa harus melakukannya sepertiku.

Tapi untung saja, berkat rekomendasi dari ibu kos Saeko-san ini, aku bisa mendapatkan pekerjaan. Selain sebagai membayar uang untuk kos, aku juga bisa menggunakannya untuk keperluan lain.

Kami berdua pun berangkat ke restoran itu. Saeko-san tidak mengantar kami, karena kelihatannya dia sibuk dengan sesuatu dan menyuruh kami kesana sendiri tapi untung saja dia sudah memberikanku jaminan rekomendasi untuk menjadi pekerja di salah satu restoran punya keponakannya.

Setelah 40 menit jalan kaki, kami akhirnya sampai juga di tempatnya yaitu Kuoh Rich Restaurant. Aku tidak tahu kenapa nama restorannya seperti itu. Apakah pelanggannya orang-orang kaya semua? Jika begitu, aku harus berhati-hati dalam bekerja nanti dan tidak boleh membuat kesalahan saat melakukannya.

Kami akhirnya masuk ke dalam restoran itu dan bertanya ke penjaga mesin kasir, dimana pemilik restoran mereka saat ini berada. Setelah itu, penjaga tadi menyuruh kami untuk menunggu, karena pemilik restoran ini akan datang sebentar lagi dan kami pun menurutinya.

Setelah menunggu selama 10 menit, orang yang ditunggu akhirnya sudah datang. Dia adalah seorang laki-laki muda berumur sekitar 30-an dengan rambut pendek sebahu berwarna merah dan bermata hitam. Wajahnya cukup terbilang tampan juga, itu yang membuatku kesal.

"Ah. Maaf sudah membuat kalian menunggu."

"Tidak apa-apa. Kami paham akan kesibukan anda sebagai seorang pemilik dari restoran yang lumayan terkenal ini."

"Begitukah? Haha. Terima kasih, aku saja tidak tahu kalau restoran yang kukelola ini menjadi terkenal."

"Baiklah. Saya ingin melamar sebagai pekerja paruh waktu di sini, apakah ruangnya masih ada?"

"Oh. Masih ada kok. Jika begitu, anda harus melewati tes dulu."

Nah. Inilah saatnya memainkan kartu andalan yang sudah disiapkan tadi.

"Begitu ya? Tapi sebelum itu, saya diberi pesan oleh Yamanaka Saeko-san kepada anda."

"Saeko-san? Pesan apa?"

"Beliau berkata… "Jika ada seorang laki-laki berambut coklat dan bermata coklat datang melamar sebagai pekerja paruh waktu, kau harus menerimanya, Rai-chan."… begitulah."

"Begitu ya? Jika dilihat dari apa yang dikatakan oleh Saeko-san, sepertinya andalah orang yang dimaksud. Baiklah… saya menerima anda sebagai pekerja paruh waktu disini tapi saya harap anda bisa melaksanakan tugas anda dengan baik. Siapa nama anda…?"

"Nama saya, Akairyuu Issei. Senang bekerja bersama anda, Raiku-san."

Dengan itu, kami bersalaman dan tak lupa juga aku mentandatangani kontrak kerja sebagai pekerja paruh waktu. Setelah menyelesaikan semua urusan itu, kami lalu pamit pulang kepada Raiku-san.

Saat ini, kami masih berjalan menuju rumah Elis-san, yaitu kediaman keluarga Hyoudou. Lagi-lagi aku harus kesana. Nostalgia yang tidak pernah berakhir.

"Anu Elis-san. Aku boleh tanya sesuatu padamu?"

"Eh. Apa itu, Akairyuu-san?"

"Apakah kau percaya kepada hal supranatural seperti iblis, malaikat jatuh, malaikat dan sejenisnya?"

"Hm? Aku percaya tapi aku tak pernah melihat sesuatu yang seperti itu, Akairyuu-san."

"Begitu ya? Haha. Memang itu sebuah kejadian yang langka, makanya kita pasti susah jika ingin menemui kejadian yang seperti itu."

"Hihi. Benar juga, tapi aku kaget saat Akairyuu-san menanyakan hal itu kepadaku. Kukira ada apa, ternyata cuma itu."

Aku dan Elis-san yang mendengar itu saling tertawa dan berjalan menuju rumahnya. Setelah 30 menit jalan kaki, akhirnya kami sampai di depan rumahnya, yaitu kediaman Hyoudou. Dia lalu melambaikan tangan padaku untuk berpisah, aku juga membalas lambaian tangannya lalu pergi dari sana dan menuju kosanku.

Mulai besok… aku akan kembali bersekolah di SMA Kuoh. Tapi bukan sebagai murid kelas 2, melainkan kelas 3! Besok pagi, aku harus mengurus semua dokumen sekolahnya dengan cepat. Andai saja ini bukan hari libur, aku pasti sudah mengurusnya dan bersantai di kamar kosanku. Biarlah, sekarang lebih baik aku segera kembali.


Pojok SBS

A zoldyck : Makasih gan

Kyosuke Kitsune : Ya, dia masuk ke dimensi yang alurnya sama dengan dimensinya, tapi ada sedikit perbedaan

ValiLucifer : Itu terserah author :v #plak

Shinn The Star King : Um... untuk masalah pair, ane agak bingung dan cuek. Soal tebakan anda, emang salah :v. Naruto jadi Sekiryuutei. Bukan Time Traveler, Dimension Transfer dan makasih

iibjunior : Haha, tebakan anda salah! #plak

TheFourtySeventh : Entahlah kalau mereka berdua ketemu. Haha

Hyuuhi Ga Ara : Naruto jadi peran pembantu. :P #plak

AN : Makasih untuk yang udah review, gitu aja. :v #plak

To be continued... To the next chapter.