Oneshot

.

When I Was Your Man

.

Saat itu Luhan terlalu muda dan terlalu bodoh untuk menyadari bahwa dia bukan sedang mengejar mimpinya, melainkan sedang membuangnya.

.

Happy reading!

.

Cahaya matahari yang mengintip dari sela antara tirai dan jendela menyinari orang yang masih setia menyelami alam mimpi.

Panas sang surya berhasil mengalahkan pria yang masih ingin melanjutkan tidurnya. Membuat dia akhirnya membuka mata, menampilkan kedua iris yang indah.

Masih memandang langit-langit, tangannya dengan sendirinya bergerak ke arah sisi lain ranjang. Seakan mencari kebereadaan sesuatu di sisi yang kosong itu.

Menyadari apa yang dia lakukan, dia segera duduk dan memandang sisi yang kosong itu.

Kesedihan terpantul di iris mata rusa itu.

Sudah lima tahun berlalu. Namun, dia masih mendapati dirinya tertidur di satu sisi ranjang dan menyisakan sisi yang lain.

Sudah lima tahun berlalu. Namun, dia masih mencoba mencari kehangatan seseorang ketika dia bangun dari tidurnya.

Sudah lima tahun berlalu. Namun, Luhan masih terjebak di masa lalu.


"Kau benar-benar akan datang kan?"

Luhan melemparkan senyuman lebarnya, mengangguk dengan semangat sebelum melesapkan diri ke dalam pelukan pria di depannya. "Tentu saja aku akan datang! Ini adalah kompetisi yang kau nanti-nanti!"

Pria itu tersenyum dan mengusak surai Luhan. "Kau berjanji?"

Mulai merasa terlalu nyaman dengan pelukan kekasihnya, Luhan membalas dengan gumaman. "Aku janji, Sehun. Aku akan datang sepulang kelas profesor Ahn"

"Aku bahkan akan membawakan bunga untukmu" ucap Luhan sambil memandang Sehun dengan berbinar. "Lalu kita bisa pulang sambil bergandengan tangan!"

Sehun menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. "Aku belum tentu menang dan kau sudah menjanjikanku bunga"

Luhan melepas pelukan mereka dan mengangkat bahunya. "Menang atau kalah aku yakin kau akan memberikan penampilan yang luar biasa"

"Ya" Sehun memandang Luhan dengan penuh cinta. "Aku akan memberikan penampilan terbaikku karena aku tahu kau melihatnya"

Rona di kedua pipi Luhan membuat Sehun mengecup bibir kekasihnya itu dengan lembut.


Pesta ulang tahun Jongin diadakan terbuka di halaman rumahnya. Semak-semak yang mengelilingi taman dihiasi lampu-lampu belukar kecil berwarna-warni.

Meja-meja yang tersedia dilapisi dengan kain putih yang menjulur sampai bersentuhan dengan rumput-rumput di bawahnya. Sedangkan di atasnya terdapat hidangan untuk para tamu yang mulai berdatangan.

Suara musik mengalun dengan tenang. Membuat mereka yang datang bisa mengobrol dengan santai.

"Aku tidak menyangka Jongin benar-benar menuruti Kyungsoo untuk membuat pesta formal. Ini tidak seru"

Luhan tersenyum kecil mendengar keluhan Chanyeol. "Kau bisa merayakan sendiri dengan Jongin di klub nanti, Yeol"

"Tetap saja" Chanyeol mencebikkan bibirnya. "Aku merasa seperti yang mengadakan pesta ini adalah bapak-bapak tua pemimpin perusahaan yang ingin sekalian mengumumkan pertunangan anaknya"

"Well, kau tidak salah dengan bagian pemimpin perusahaan" Jongdae menanggapi setelah menelan potongan semangka.

Menghela napas, Chanyeol mau tidak mau mengungkapkan alasan yang sebenarnya. "Tapi Baekhyun tidak mungkin datang ke pesta membosankan seperti ini"

"Sudah kuduga itu alasanmu" balas Joonmyeon malas sambil memutar bola matanya, sebelum pergi ke arah meja yang menyediakan minuman.

Luhan menggelengkan kepala. "Dia tetap akan datang untuk Kyungsoo, kau tahu itu kan?" ucapnya yang diikuti anggukan dari Yixing.

Sebelum Chanyeol bisa membalas sebuah suara menginterupsi mereka semua. "Di sini kalian rupanya" semua orang menolehkan kepala untuk melihat Minseok yang tersenyum lebar. "Aku kira aku harus terjebak dengan Sehun selamanya"

Sehun.

Mendengar namanya saja masih membuat jantung Luhan bertalu-talu tanpa kendali.

"Oh, dia datang?" tanya Yixing tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Apa-apaan itu, Xing? Tentu saja dia datang. Dia tidak pernah melewatkan pesta" komentar Jongdae sambil melihat Yixing seakan Yixing baru saja melupakan pengetahuan umum seperti tempat pemberhentian kereta disebut stasiun.

Chanyeol terlihat berpikir sebentar sebelum tertawa. "Kau pasti tertukar antara Sehun dengan Luhan, ya? Yang terlalu sibuk sampai tidak pernah ke pesta-pesta saat kuliah kan Luhan"

Luhan hanya bisa memberikan senyuman kecut yang tidak disadari oleh siapapun. Jantungnya semakin berdetak kencang karena Chanyeol mengingatkan akan masa lalu yang masih menghantuinya.

"Ah, kau benar" Yixing mengangguk. "Sehun suka menari di pesta"

"Yah, bagaimanapun Sehun dan Luhan memang mirip bahkan mereka–"

Kaki-kaki Luhan begitu saja membawanya pergi dari lingkaran teman-temannya. Meskipun begitu, detakan jantungnya masih tidak terkendali dan dia masih merasa sesak.

Di tengah ruangan terbuka yang dikelilingi pohon ini, Luhan merasa tidak bisa bernapas.

Padahal Luhan sudah mempersiapkan diri. Luhan bahkan sudah mempersiapkan hati untuk berjaga ketika nanti dia bertemu dengan Sehun.

Padahal Luhan sudah mempersiapkan diri. Namun, hanya mendengar Sehun dibicarakan saja jantungnya sudah nyaris keluar dan dia sudah merasa ingin menangis.

Padahal Luhan sudah mempersiapkan diri. Sayang sekali, yang ada adalah Luhan akhirnya harus berlari.


"Apakah kau bisa menemaniku?"

Luhan tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop dan buku-buku referensi yang bertebaran di sekitarnya. "Ke mana?"

"Mencari udara segar. Tidakkah terus berada di ruangan dari pagi sampai malam membuatmu sesak?"

Luhan masih tidak mengalihkan pandangannya. "Sehun, maaf sekali, tapi kau tahu kan aku sangat sibuk? Persiapan ujian akhir dan praktek benar–"

"–Benar-benar menggerogoti kesehatanmu, Lu. Kau menjadi telat makan, kau hanya belajar dan mengerjakan laporan tanpa henti" potong Sehun dengan nada tak sabar yang kentara.

Luhan akhirnya memandang ke arah Sehun yang berdiri dengan tangan bersedekap. Luhan dapat melihat kekasihnya yang memandangnya dengan tatapan mata menusuk. Luhan tidak mengerti kenapa Sehun harus semarah itu. Ini tidak seperti dia mengabaikan Sehun untuk bersenang-senang sendirian atau dengan yang lainnya. Ini demi masa depannya. Demi masa depan mereka. "Sehun, aku benar-benar tidak punya waktu untuk berdebat"

Sehun menghela napas dan memijit kepalanya. "Dan aku tidak memintamu untuk berdebat"

Semester ini adalah semester yang berat untuk Luhan. Dengan ujian praktek dan banyaknya laporan yang harus dia selesaikan, Luhan benar-benar dibuat lelah secara fisik maupun secara batin. Itu semua ditambah dengan kenyataan bahwa dia harus terus maju. Oleh karena itu, Luhan kembali ke pada pekerjaan awalnya. "Kalau kau terus memaksa tanpa memikirkanku, itu hanya akan menimbulkan perdebatan"

"Aku memikirkanmu!" Sehun mulai meninggikan suaranya. "Aku tidak memintamu datang ke kompetisiku lagi karena aku tahu kau tidak akan bisa! Apakah kau ingat kapan terakhir kita berkencan atau bersenang-senang?! Dan aku selalu tidak mempermasalahkannya karena aku paham kau sibuk! Aku paham ini demi masa depanmu! Ini mimpimu! Tapi justru karena aku memikirkanmu, karena aku memikirkan kesehatanmu, aku menjadi tidak tahan denganmu yang seperti ini dan sekarang mengajakmu mencari udara segar! Itu saja! Bagaimana caranya aku mengajakmu berdebat hanya dengan berlaku seperti ini?!"

Luhan menggigit bibirnya kuat selama beberapa detik sebelum menghela napas. "Sehun, aku tidak memiliki waktu untukmu jadi kau bisa memikirkan alasannya sendiri"

Luhan tidak perlu menengok ke belakang untuk tahu bahwa Sehun langsung keluar dari kamar mereka.


Luhan berhenti berlari karena dia tanpa sengaja menabrak seseorang hingga orang itu menjatuhkan gelas yang dia pegang.

"Ma–Maafkan aku" ucap Luhan panik melihat ke arah gelas yang menumpahkan isinya sebelum melihat ke arah orang yang dia tabrak.

Orang itu juga sedang melihatnya. "Ah, Luhan, rupanya!"

"Baek–Baekhyun?" ucap Luhan menyadari bahwa yang dia tabrak adalah temannya.

Pria bereyeliner itu langsung menepuk bahu Luhan keras. "Apa-apaan kau? Seperti melihat hantu saja! Iya, aku Baekhyun. The one and only"

Luhan hanya bisa tersenyum kecil. "Maaf"

"Lagipula kenapa kau berlari seperti sedang dikejar hantu? Malah aku yang kaget melihatmu datang ke pesta!"

Aku dikejar masa lalu. "Aku hanya ingin ke toilet"

"Wah rupanya spesialis jantung ternama kita juga bisa jantungan karena ingin buang air kecil" ucap Baekhyun yang kemudian terkekeh dengan leluconnya sendiri. "Jangan lama-lama, Lu, kau tidak ingin melewatkan acara dansanya bukan? Lihat semua orang sudah mulai berkumpul"

Mengikuti arah jari Baekhyun yang menampilkan keramaian orang yang menunggu acara dansa, iris rusanya entah bagaimana menangkap pemandangan orang yang namanya saja dapat menghancurkan pertahanannya.

Orang itu sedang diapit seorang laki-laki sependek Baekhyun. Laki-laki yang manis. Mereka sedang membicarkan sesuatu, sebelum yang lebih tinggi tertawa.

Wajah tertawa itu memang selalu menggetarkan hati Luhan. Namun, getaran kali ini berbeda.

Getaran kali ini memaksa seluruh tubuh Luhan untuk ikut bergetar.

Getaran kali ini mendesak air mata untuk keluar dari iris rusa Luhan.

Getaran kali ini tidak menghangatkan hati Luhan, namun berusaha meremukkan jantungnya.


"Aku dengar dari Baekhyun kau datang ke pesta yang diadakan di klub kemarin?"

Luhan menggigit bibirnya melihat Sehun yang dengan santai melanjutkan bacaan komiknya. "Hn"

"Dan kudengar kau juga datang ke pesta lain yang diadakan oleh seseorang di luar kampus kita"

Tangan Luhan mulai mengepal ketika Sehun hanya menggumam lagi.

"Benar-benar enak ya, hidup tanpa kesibukan sepertimu"

Luhan tidak tahu apakah dia bangga dengan dirinya atau tidak setelah dia berhasil menarik perhatian Sehun dengan sindiran yang baru saja dia lontarkan. "Sejujurnya apa masalahmu?"

Mengangkat bahunya, Luhan tertawa kosong. "Aku tidak memiliki masalah apa-apa. Bukankah yang bermasalah di sini, kau, Sehun?"

Sehun mengabaikan komik yang dia pegang begitu saja. Mata Luhan bertemu dengan mata tajam Sehun yang menatapnya dengan dingin. "Memangnya apa masalahku?"

Pria beriris rusa itu mendengus. "Pergi ke pesta-pesta mana pun tanpa sepengetahuanku"

Sehun mendecih. Luhan dapat melihat tatapan meremehkan yang ditujukan untuknya. "Aku memberitahukan kepadamu pun, apa yang akan berubah? Kau tetap tidak akan menemaniku"

"Hahahaha" Luhan tertawa meskipun tidak ada yang lucu dari jawaban Sehun. "Apakah hanya karena aku tidak bisa menemanimu, karena aku memang sibuk berusaha mengejar mimpi, kau lalu mau pergi ke sana ke sini semaumu tanpa memedulikan aku yang mengkhawatirkanmu?"

Sehun mendengus menahan tawa. "Mengkhawatirkan? Kau selalu fokus dengan pendidikanmu. Kau bahkan tidak memedulikan kesehatanmu sendiri bagaimana caranya kau sempat memikirkanku?"

Mungkin karena Luhan lelah dengan kegiatan mengejar gelar spesialisnya. Mungkin karena Luhan tertekan melihat tatapan tajam dan dingin Sehun. Mungkin karena Luhan muak terus berdebat dan bertengkar dengan Sehun. Apapun alasannya, itu membuat Luhan berdiri dengan kepalan tangan erat. "Aku benar-benar tidak mengerti lagi! Aku melakukan semua ini demi kita! Kau hanya tinggal memberitahuku tentang dirimu tanpa aku harus mendengarnya dari orang lain! Kenapa itu seperti sulit bagimu?!"

"ITU SULIT!" jantung Luhan berhenti ketika mendengar Sehun ikut berdiri untuk membentaknya. "ITU SULIT KETIKA AKU TAHU KAU TIDAK MEMILIKI WAKTU UNTUKKU, UNTUK KITA! MASA DEPAN KITA, KATAMU?! MASA DEPAN SEPERTI APA? MASA DEPAN DI MANA KAU AKAN TERUS MENGABAIKANKU?! MASA DEPAN DI MANA KAU TIDAK AKAN MENDENGARKANKU? MASA DEPAN DI MANA KAU AKAN SELALU MARAH KETIKA AKU MENGKHAWATIRKANMU?!"

Luhan memejamkan matanya dan membalas kemarahan Sehun dengan energi yang sama. "KALAU KAU TIDAK BISA YAKIN DENGAN MASA DEPAN KITA HANYA KARENA AKU SEDANG FOKUS MENGEJAR MIMPIKU KALAU BEGITU KAU MUNGKIN TIDAK PANTAS BERSAMAKU!"

Tidak sampai sedetik Luhan langsung membuka matanya dan melihat ke arah Sehun setelah dia selesai meluapkan amarahnya. Luhan dapat melihat raut wajah Sehun yang menunjukkan percampuran rasa murka dan rasa sakit.

"Se–"

"Sudahlah Luhan" Sehun memandang Luhan dengan tatapan kosong. Luhan seperti tidak mengenal dirinya. "Kau benar. Aku tidak pantas bersamamu"

Luhan merasa selama ini dia tidak mengerti apa itu rasa sakit sesungguhnya.

Seluruh rasa sakit yang selama ini dia rasakan tidak pernah sesakit saat mendengar Sehun mengatakan;

"Kita akhiri saja semuanya"


Luhan tidak tahu berapa lama dia berada di sini, tetapi suasana sepi dan cahaya bulan yang menemaninya cukup untuk menenangkan jantungnya.

Pria beriris rusa itu merasa lelah. Lelah secara fisik karena pekerjaannya maupun secara psikis karena masa lalu yang terus menghantuinya.

Sudah lima tahun berlalu, tetapi masa lalunya terus bisa mengacaukan dirinya. Membuatnya kesulitan tidur, membuatnya bangun dengan rasa hampa, membuatnya tidak bahagia meskipun mimpinya menjadi nyata.

Jika saja dia bisa memutar kembali waktu, jika saja dia mau memohon kepada Sehun untuk tidak pergi, jika saja Luhan tidak dengan bodohnya berpikir bahwa tanpa Sehun pun dia bisa mendapatkan mimpinya, maka semuanya tidak akan seperti ini.

Membaringkan diri di kursi panjang itu dengan niat menghentikan air matanya yang tidak berhenti, Luhan memandang sang bulan yang seperti mengasihaninya.

"Kau tahu, bulan?"

Jantung Luhan kembali berdetak kencang, rasa sedih yang menerpa seluruh tubuhnya mendesak air mata untuk keluar lebih banyak.

"Aku tahu aku sangat terlambat. Aku sudah tidak bisa meminta maaf kepadanya atau memohonnya kembali kepadaku"

Satu tangan Luhan mencengkeram jas dan kemeja di bagian jantungnya.

"Memang rasanya sakit, tetapi aku sadar aku salah. Aku hanya ingin Sehun tahu..."

Ironis, bagaimana seorang spesialis jantung ternama tidak tahu bahwa dadanya bisa sesesak dan sesakit ini hanya karena kenangan lama dan luka hati yang tidak kunjung sembuh.

"Aku harap dia memberikanmu bunga setelah kau tampil, menggenggam tanganmu ketika kalian pulang bersama"

Ironis, jika mengingat bagaimana dia membuang hidup bahagia bersama Sehun –mimpinya yang sebenarnya– untuk mengejar cita-citanya menjadi spesialis jantung.

"Aku harap dia memberikan seluruh waktunya untukmu kapanpun dia bisa"

Ironis, bagaimana Sehun semakin bebas dari kenangan mereka seiring berajalannya waktu, sedang Luhan semakin dikejar dan ditekan oleh memori-memori permanen itu.

"Aku harap dia membawamu ke setiap pesta, karena kau suka menari di pesta"

Ironis, jika melihat bagaimana sekarang Luhan mengharapkan seseorang untuk menjaga dengan baik sumber kebahagiaannya yang hilang darinya.

"Aku harap dia melakukan semua yang harusnya aku lakukan ketika aku masih menjadi pemilik hatimu"

Ironis adalah bagaimana ketika mereka masih bersama, Luhan tidak bisa menunjukkan bahwa dia mencintai Sehun, dan kini ketika mereka sudah berpisah, Luhan masih tidak bisa menunjukkan bahwa dia mencintai Sehun.

End.


Kenapa polanya jadi seperti sedih - nggak sedih - sedih ya?

Btw ini pokoknya kumpulan oneshot jadi ngga ada rencana pasti sampai chap berapa. Pokoknya kalau denger lagu, dapet inspirasi buat nulis, ya tulis gitu

.

Inspirasi utama cerita dari When I Was Your Man - Bruno Mars