Another DxD
Summary : Sudah 3 bulan lebih, sejak 666(Trihexa) dikalahkah oleh tim DxD dengan dibantu oleh sekutu lainnya. Hyoudou Issei, sang Sekiryuutei, sedang merasa kebosanan dan meminta saran kepada Ddraig untuk melakukan apa. Ddraig pun menyarankan untuk berkunjung ke dimensi lain dengan bantuan Great Red. Apakah yang akan terjadi? Saksikan sendiri!
Pairing : Issei x ?
Rating : T
Genre: Action, Adventure, Fantasy, Ecchi, Romance, Humor, Demons, School, Harem
Disclaimer : High School DxD dan Naruto bukanlah milik saya
Warning : Goodlike!Issei Canon!Issei AU! Gaje! Mainstream
Chapter 03 : Kembalinya orang 'itu'
Aku akhirnya sudah menyelesaikan 1 dari 2 masalahku, yaitu mencari tempat tinggal di dimensi lain ini. Meskipun 1 masalah lainnya belum terselesaikan, yaitu mendaftar sebagai murid SMA Kuoh.
Sekarang aku mau berjalan pulang menuju kosanku dan beristirahat sejenak. Karena kulihat belum ada kejadian apa pun yang membahayakan nyawa seseorang. Jika kalian bertanya kepadaku, kenapa aku tidak mulai bekerja paruh waktu di restoran tadi? Karena Raiku-san mempunyai kebiasaan untuk membiarkan pegawainya yang baru diterima kerja di restorannya untuk datang bekerja di hari yang ditentukan.
Aku bekerja pada hari Senin, Kamis dan Sabtu. Jam kerjanya dimulai dari 18.00 PM – 22.00 PM. Cukup lama juga ya, jam kerjanya? Aku tak peduli! Sekarang aku sudah lumayan bebas, karena tidak ada tugas sebagai seorang pelayan iblis.
Jika jam kerjanya begitu lama, kemungkinan restorannya selalu penuh akan pelanggan! Jika begitu, berarti nanti gaji yang kuterima lumayan besar. Semoga saja, dengan itu… aku juga bisa membiayai kebutuhan sekolahku nanti dan jika tidak cukup, sepertinya aku harus mencari kerja lain.
Aku juga sempat berpikir sesuatu. Kelihatannya ketika aku berada di dimensi ini, sifatku agak dewasa ya? Bagaimana menurutmu, Ddraig? Apakah benar aku menjadi agak dewasa?
[Ya, kupikir begitu. Kau sudah agak menjadi dewasa sesudah memasuki dimensi ini. Padahal kukira kau akan sama saja seperti dulu.]
Hah? Apa maksudmu aku akan sama saja seperti dulu? Jelaskan.
[Ya, kau tahu sendiri kan? Dulu kau itu tidak bisa diandalkan, ceroboh, keras kepala, bodoh, otak udang dan mungkin kalau mesumnya aku tidak tahu.]
Gaaah…! Maaf deh kalau aku seperti itu!
Setelah mengatakan itu, dia tertawa keras di dalam Sacred Gearku dan entah kenapa aku benar-benar ingin menghajarnya jika bisa tapi itu tak bisa dilakukan karena dia hanyalah berupa jiwa yang bersemayam di dalam Sacred Gearku.
Aku mencoba menahan amarahku dan melupakan perkataannya tadi. Tapi apa yang dikatakan oleh Ddraig itu ada benarnya. Aku memang tidak bisa diandalkan, ceroboh, keras kepala, bodoh, otak udang dan mesum.
Hal itu pula yang selalu melibatkanku kedalam sebuah masalah berbahaya. Hal itu yang juga membuatku selalu dijauhi dan dihina oleh teman-temanku yang lain selain anggota Klub Peneliti Gaib, Matsuda, Motohama dan yang sekutu-sekutu supranaturalku.
Mungkin jika aku tidak menjadi iblis dan tidak mempunyai Boosted Gear, aku bukanlah siapa-siapa selain diriku sendiri. Hidupku juga akan normal dan berjalan seperti biasa, melewati hari-hari biasa penuh hinaan dan cemohan dari orang-orang yang membenciku selain Matsuda dan Motohama, meskipun mereka berdua juga kadang pernah menjauhiku hanya karena iri.
Tapi… aku tak boleh memikirkan hal itu. Itu adalah hal yang harus kulupakan, meski aku hanya sebentar menetap di dimensi ini, sebisa mungkin aku harus memperbaiki sifatku agar kejadian seperti dulu tidak terulang lagi.
Hari ini, aku terlahir kembali sebagai orang baru, yaitu Akairyuu Issei, sang Sekiryuutei dari dimensi lain yang sudah mengalahkan 666 meski dengan bantuan teman-temanku dan sekutu kami yang lainnya. Lupakan Hyoudou Issei dan sambutlah Akairyuu Issei!
Tak kusangka, setelah aku memikirkan itu… aku merasakan ada aura iblis di dekatku. Jaraknya lumayan dekat dan asalnya kira-kira dari taman di sebelah sana. Aku lalu berjalan mendekati taman itu.
Dekat… dekat dan semakin dekat. Aku semakin mendekat ke sumber aura iblis itu. Letaknya berada sekarang semakin jelas, dia ada di balik pohon besar di tengah-tengah taman itu.
Saat aku mau mendekat ke pohon besar itu, sesosok orang pun muncul dari balik pohon besar itu sambil menyeringai.
"Heeh… Tak kusangka kau menyadari kalau aku ada disini. Kau pasti bukan manusia biasa, kan?"
"Kau…"
Aku agak terkejut ketika melihat orang yang ada di depanku saat ini. Dia berambut perak pendek, mata biru es, memakai baju hijau gelap disertai jaket kulit hitam dengan memakai celana jean hitam yang disertai rantai juga memakai sepatu hitam.
"Namaku Vali. Senang bertemu denganmu. Kau terlihat kuat."
Ya, dia adalah Vali Lucifer. Rival abadiku, sang Hakuryuuko atau Ketsuryuuko. Pemilik Sacred Gear Divine Dividing dan juga keturunan dari iblis Lucifer asli dengan ibu seorang manusia, jadi singkatnya dia adalah manusia setengah iblis tapi dengan darah iblis Lucifer murni.
Orang yang benar-benar beruntung namun juga tidak sangat beruntung. Dia mempunyai misi untuk membunuh kakeknya sendiri, Rizevim Livan Lucifer, orang yang membunuh kedua orang tuanya. Ayahnya adalah keturunan dari Lucifer dan Lilith, dua iblis terkuat dan terhebat.
"Aku kuat? Entahlah, kau bisa buktikan itu sendiri."
"Menarik. Jadi kau mau menantangku bertarung ya?"
"Kelihatannya begitu. Mau membuktikannya atau tidak?"
"…Baiklah. Ayo kita mulai."
Aku mengangguk lalu mempersiapkan kuda-kuda bertarungku. Untuk pertama-tama, dia langsung berlari memukulku dengan pukulan biasa tanpa menggunakan Sacred Gear-nya. Aku menahan pukulannya.
Pukulannya lumayan kuat, tapi tidak membuatku kesakitan. Aku lalu mendorong tanganku yang menahan serangannya sampai terpental jauh. Dia berhasil terpental dan aku langsung dengan cepat berada di depannya dan memukulnya.
Pukulanku kena tepat di pipi kanannya. Dia yang melihat itu lalu mencoba membalasnya dengan memukul tepat ke arah wajahku, tapi kutahan. Kami lalu beradu pukulan secara beruntun.
Setelah sekitar 10 menit kami beradu pukulan yang tidak berhenti dan menemukan hasil, dia langsung mengeluarkan Sacred Gear-nya yaitu Divine Dividing.
"Sepertinya aku harus menggunakan Sacred Gear-ku."
Sayap mekanik berwarna putih keluar dari punggungnya. Itu adalah tanda kalau dia sudah mengeluarkan Sacred Gear Divine Dividingnya. Aku hanya menghela nafasku ketika melihatnya.
Walah-walah. Dia benar-benar serius sampai mengeluarkan Sacred Gear-nya. Ddraig, apakah menurutmu aku harus menggunakan Boosted Gear untuk melawannya?
[Resikonya tinggi Partner jika kau menggunakan Boosted Gear. Ingat, di dimensi ini kau adalah Sekiryuutei dari dimensi lain. Akan gawat jika ketahuan, tapi jika kau merasa ingin menggunakannya dan mengabaikan resikonya, terserah saja. Aku tidak akan menghentikanmu.]
Begitu ya? Resikonya berat juga. Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu seperti menyembunyikan Boosted Gear saat aku mengeluarkannya agar tidak terlihat oleh mata orang lain, Ddraig?
[Aku bukanlah penyihir, aku adalah seorang naga, Partner. Aku tak bisa melakukan sesuatu yang seperti itu.]
Ah. Benar juga. Berarti aku harus mengeluarkan Boosted Gear-ku jika ingin menggunakannya ya?
[Benar. Tapi apa kau yakin, Partner? Resikonya berat lho.]
Jika dia melawanku menggunakan Sacred Gear, maka aku juga harus melawannya menggunakan Sacred Gear. Mata dibalas mata, Sacred Gear dibalas Sacred Gear.
[Haah… Sudah kuduga kau akan bilang begitu. Baiklah, ayo Partner!]
Owh! Itu yang sudah kunanti-nantikan!
"Boosted Gear!"
[Boost!]
"Boosted Gear? Jadi kau rival abadiku ya, Sekiryuutei?"
Aku hanya diam ketika dia menanyakan itu padaku. Langsung ku serang dia dengan pukulanku, tapi dia membalas seranganku dengan membagi kekuatanku.
[Divide!]
"Cih. Merepotkan saja kau, Vali."
[Boost!] [Boost!] [Boost!] [Boost!] [Boost!] [Boost!] [Boost!] [Boost!] [Boost!] [Boost!]
Dengan mengaktifkan Boost sebanyak 10x, aku memukul tepat ke perut Vali sambil bergerak dengan kecepatan yang mungkin bisa menyamai kecepatannya Kiba. Pukulanku pun terkena tepat di perutnya dan membuat Vali memuntahkan darah.
Dia tidak sempat membagi kekuatanku tadi. Dia lalu mundur untuk menghindar dariku. Aku juga mundur melihat itu.
"Heh. Ternyata kau kuat juga ya, Sekiryuutei. Siapa namamu?"
"Namaku… Akairyuu Issei."
"Akairyuu… Issei ya? Akan kuingat itu, rival abadiku. Aku, Hakuryuuko, rival abadimu, akan kembali lagi suatu saat nanti, jadi tunggulah."
Aku hanya diam saja ketika dia mengatakan itu. Dia lalu terbang dan pergi dari hadapanku.
Lagi-lagi, aku menjadikan dia rivalku meskipun di dimensi ini. Apa salahku memangnya?! Bukankah Vali di dimensi ini rivalnya adalah si Hyoudou Naruto? Kenapa kau malah menjadikanku rivalmu, Vali?!
Oh ya Ddraig, kau tadi tidak ketahuan oleh Albion kan?
[Kelihatannya aku sudah ketahuan sejak kau menggunakan Boosted Gear, Partner.]
Ah sial. Maafkan aku ya, Ddraig. Dengan begini, kemungkinan diketahuinya ada 2 Sekiryuutei di dimensi akan semakin tinggi!
[Tidak apa-apa Partner. Ini adalah salah kita berdua. Mau bagaimana lagi? Kau kan tadi berkata, Sacred Gear balas dengan Sacred Gear?]
Benar juga. Aku yang mengatakan itu. Nasi sudah menjadi bubur, mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk situasi saat ini.
[Kau benar, Partner. Hal itu sudah terlanjur dan kita hanya harus mengikutinya saja dan melihat sampai dimanakah kejadian ini membawa kita.]
Begitu ya? Kurasa yang kau katakan ada benarnya juga, Ddraig.
[Begitulah. Sebaiknya kita pulang, kau pasti kelelahan dan segera ingin tidur kan?]
Benar juga. Lagipula satu masalah yang terjadi secara mendadak, sudah agak mereda. Saatnya pulang~!
Aku lalu berjalan dengan santai dan senang menuju kosanku untuk beristirahat. Mencoba untuk mengistirahatkan tubuhku yang sudah lama tidak pernah bertarung tadi dan dipaksa bertarung sebentar atau sparring dengan Vali.
Setelah berjalan dengan santai selama 34 menit, akhirnya aku sampai juga di bangunan kosku. Aku lalu berjalan ke arah tangga kosan yang menuju lantai 2 dan di kamarku, yaitu kamar 225.
Untung saja kamar dan lantai tujuanku tidak begitu tinggi, aku jadi lega karena tidak harus capek-capek menaiki tangga hanya untuk bolak-balik dari luar ke kamar. Akhirnya setelah berhasil menaiki tangga menuju lantai 2, aku sudah sampai di lantai 2 dan lalu mencari dimana kamarku.
"Kamar 225… ini dia!"
Setelah menemukan dimana kamarku, aku lalu memasukkan kunci kamar ke lubang kunci lalu membukanya dan masuk kedalamnya. Kesan yang kudapat ketika berada di dalam kamarku ini, normal.
Seperti kamar kos kosong lainnya, hanya ada wastafel, meja persegi saja di tengahnya, satu futon dan lantai bertatami. Kosong melompong. Aku hanya menghela nafas saja ketika mengetahuinya.
Memang benar-benar murah. Tapi tidak apa-apa lah, nanti juga pasti akan terisi sendiri jika aku sudah mendapatkan uang dari kerja paruh waktu.
[Hahahaha! Kamarnya kosong melompong, Partner! Kau seperti orang miskin saja! Hahahaha!]
Ddraig…! Kau benar-benar minta diberi pelajaran ya?
[Hahahaha! Pelajaran apa, Issei-sensei? Matematika? Fisika? Sejarah atau Bahasa Jepang? Hahahaha!]
Sialan kau, Ddraig! Aku akan menyebarkan pengaruh mesumku di dimensi ini juga dan membuatmu merasakan penderitaan yang berskala panjang!
[Gaah…! J-Jangan lakukan itu, Partner! Kau benar-benar kejam! Aku lebih memilih untuk melawan Albion, Ophis dan Great Red daripada merasakan hal itu lagi! Huhuhuhu…]
Wuahahahaha! Makanya, sudah kubilang jangan macam-macam denganku! Kau akan rasakan akibatnya jika macam-macam denganku, wahai naga merah! Wuahahahaha!
[…Baiklah. Aku berjanji tidak akan melakukan itu, Partner.]
Yakin nih? Aku masih tidak yakin dengan ucapanmu itu, Ddraig.
[Cih. Oke-oke, aku berjanji, sebagai Sekiryuutei, tidak akan melakukan itu padamu, Partner.]
Baiklah. Aku percaya padamu, Ddraig.
Aku dan Ddraig menyudahi debat argumen kecil kami itu, lalu aku mengambil futon yang hanya ada satu di kamar ini. Kusiapkan futon itu untuk kupakai tidur, setelah selesai menyiapkan. Aku lalu bersiap untuk tidur dan mataku tak sengaja menangkap sebuah pintu di dalam kamar ini selain pintu depan kamar.
Aku yang penasaran sambil menelan ludah lalu mendekati pintu itu dan membukanya, lalu aku melihat…. kamar mandi.
Yap, itu adalah kamar mandi. Tak kusangka, ada kamar mandi di dalam kamar ini. Padahal kosan ini harganya murah, meskipun tidak begitu murah tapi bisa dibilang terjangkau.
Setelah rasa penasaranku yang telah hilang, aku lalu kembali mendekati futonku dan tidur untuk mengistirahatkan tubuhku.
Selamat tidur, Ddraig. Semoga mimpi indah.
[Ya Partner. Selamat tidur juga.]
Aku lalu memejamkan mataku dan memasuki alam mimpi setelah mengatakan itu. Saat aku sedang bermimpi, aku melihat sesuatu… suatu figur beberapa orang. Tubuh mereka babak belur dan penuh luka.
Dihadapan mereka, ada suatu figur yang sangat besar. Besar sekali sampai-sampai setinggi bangunan 5 lantai. Beberapa lingkaran sihir muncul di sekitar figur besar itu lalu mengarahkannya ke orang-orang yang babak belur itu.
Aku juga berada disana. Disana melawan figur itu yang ternyata juga ditemani oleh figur lainnya, aku tak terlalu jelas melihatnya karena buram saat kulihat. Saat salah satu dari figur yang kuanggap musuh karena berada di samping figur yang besar itu menembakkan sesuatu ke arah seseorang.
Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku yakin kalau dia adalah perempuan dan aku berusaha mencegahnya sambil memasang ekspresi terkejut dan kesal sambil berlinangkan air mata.
Pagi hari
"Huaah… Huaah… M-Mimpi apa itu tadi?"
Aku terbangun dari tidurku. Badanku berkeringat. Aku lalu menyeka keringat itu dan melihat ke arah jendela yang ternyata sekarang sudah pagi.
"Sudah pagi ya? Sebaiknya aku segera mandi dan berangkat ke SMA Kuoh untuk mendaftar."
Aku berdiri dari futonku dan merapikannya. Setelah itu, aku melangkah ke kamar mandi. Saat di kamar mandi, aku sedang memikirkan mimpi yang kualami tadi.
Apa maksudnya dari mimpiku tadi? Kenapa juga mimpi seperti itu bisa kualami? Apakah aku mengalami mimpi itu karena aku sudah mulai terseret ke masalah di dimensi ini? Dan aku tidak tahu pada siapa aku menangis tadi.
Pada Rias, Asia, Akeno-san, Xenovia, Koneko-chan, Irina atau Ravel kah? Aku tidak tahu! Aku tidak tahu karena gambaran yang kudapat saat bermimpi tadi begitu buram!
"Ah sudahlah. Dipikirkan juga, tidak ada hasilnya."
Setelah memikirkan itu dan pusing karenanya, aku lalu keluar dari kamar mandi. Sudah lengkap dengan bajuku tadi malam. Aku tidak membawa seragam SMA Kuoh dari dimensiku ke dimensi ini.
Lagipula, aku juga datang kesana untuk menjadi murid baru di SMA Kuoh. Jadi aneh dong, kalau aku sudah punya seragam SMA Kuoh? Nanti malah jadi timbul adanya kecurigaan dari mereka semua.
"Baiklah. Saatnya pergi ke SMA Kuoh. Aku harus cepat, karena keburu jam pelajaran pertama."
Aku dengan cepat lalu segera memakai sepatuku, keluar dari kamar dan menguncinya. Aku tidak sarapan, karena aku memangnya sarapan dengan apa? Uang saja tidak punya. Aku kesini hanya bermodalkan badan saja.
Saat aku keluar, aku disambut oleh Saeko-san. Dia menyapaku saat melihatku dan aku pun menyapanya balik lalu pamit ke Saeko-san untuk segera pergi ke SMA Kuoh. Dia mengangguk dan melambaikan tangannya kepadaku, aku lalu membalas lambaian tangannya.
Hari baru, awal baru. Itulah yang bisa kukatakan. Hari ini, Hyoudou issei yang baru akan terlahir kembali sebagai Akairyuu Issei. Semoga saja, aku tidak bernasib seperti dulu.
Setelah berlari kurang lebih 25 menit, aku akhirnya sampai di depan gerbang SMA Kuoh. Banyak murid perempuan yang berlalu-lalang di sekitar SMA Kuoh. Tentu saja, karena SMA Kuoh dulunya adalah sekolah swasta elit khusus perempuan saja yang pada tahun berikutnya, berubah menjadi sekolah campuran.
Ya, sekolah ini bisa dibilang adalah tempat awalku untuk mencari perempuan untuk dijadikan haremku. Juga sebagai markas kami, para iblis dan makhluk yang berhubungan dengan supranatural lainnya.
Sampai-sampai, rapat antar pemimpin 3 fraksi saja diadakan di sekolah ini. Meskipun saat malam sih, tapi itu benar-benar mengejutkanku. Tak kusangka sekolah tempatku belajar ini, dikuasai oleh makhluk supranatural.
Baiklah. Lupakan hal itu sejenak dan fokus ke masalah sekarang.
Aku memasuki SMA Kuoh dan melihat seorang perempuan berambut bob dan berkacamata yang kukenal. Ya, dia adalah Souna Shitori atau nama aslinya Sona Sitri. Dia adalah iblis bangsawan dari klan Sitri yang mempunyai kakak perempuan seorang Maou Leviathan, yaitu Serafall Leviathan.
Dia lalu melirikku dan menghampiriku masih dengan tatapan datar namun serius di wajahnya.
"Kau… bukan murid SMA Kuoh kan? Apa yang kau lakukan disini?"
"Ah. Aku hanya mau mendaftar sebagai murid baru di SMA Kuoh, apakah boleh?"
"Mendaftar sebagai murid baru? Boleh. Kalau begitu, akan kutunjukkan dimana ruangan kepala sekolah berada."
"Terima kasih. Anu…"
"Oh. Namaku Souna Shitori, kau bisa memanggilku Souna."
"Ah. Terima kasih Souna-san, namaku Akairyuu Issei."
"Baiklah, Akairyuu-san. Aku akan mengantarmu ke ruang kepala sekolah."
Aku mengangguk mendengar perkataan Ketua OSIS ini dan mengikutinya dari belakang untuk pergi ke ruang kepala sekolah. Ketika aku dalam perjalan menuju ruang kepala sekolah, banyak murid-murid disini menatapku dan berbisik.
Aku hanya bingung dengan itu dan berusaha menghiraukannya tapi aku penasaran dengan apa yang mereka bisikkan itu. Aku berharap, semoga aku tidak mendapat kejadian yang sama seperti dulu.
Setelah berjalan menuju ruang kepala sekolah selama 10 menit, kami akhirnya sampai di depan ruang kepala sekolah. Ketua OSIS mempersilahkanku untuk masuk kedalam dan menemui kepala sekolah. Aku mengangguk, lalu mengetuk pintu.
"Masuk."
Mendengar suara itu, aku mengangguk lalu membuka pintu. Kulihat Ketua OSIS pamit kembali ke kelasnya karena tugasnya untuk mengantarku sudah selesai. Aku mengangguk melihat itu dan mengalihkan pandanganku ke depan sekarang.
"Oh. Ada urusan apa, nak?"
"Maaf pak, saya mau mendaftarkan diri sebagai murid kelas 3 SMA Kuoh."
"Murid baru? Oh. Baiklah. Isi dan tanda tangani dulu formulir pendaftaran murid baru ini ya, nak."
Aku mengangguk, lalu mengisi dataku kedalam formulir pendaftaran yang diberikan oleh kepala sekolah itu. Setelah mengisi semua datanya yang menghabiskan waktu 5 menit itu, aku menyerahkannya kepada kepala sekolah.
Dia menerimanya dan mengecek data formulir itu. Apakah sudah benar.
"Hm… Akairyuu Issei ya? 18 tahun, kedua orang tua meninggal dan sekarang tinggal sendirian. Baiklah, saya menerimamu. Ini seragamnya dan buku panduannya, selamat menjadi murid SMA Kuoh."
"Terima kasih pak. Saya di kelas berapa dan dimana ya, pak?"
"Oh. Kau kelas 3 dan di kelas 3-1. Nanti kau akan diantar oleh seorang guru perempuan untuk kesana. Jadi tidak usah khawatir untuk tersesat."
Aku mengangguk, lalu pamit keluar. Saat aku keluar dari ruangan itu, aku melihat seorang guru perempuan yang terlihat sedang menungguku.
"Kau murid baru itu ya? Pak kepala sekolah sudah memberitahukanku tadi lewat telepon saat kau mengisi data formulirnya."
"Ya, nama saya Akairyuu Issei. Saya mohon bimbingannya, sensei."
Aku membungkuk hormat ketika mendengar itu, lalu sensei itu mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah. Ayo kita segera menuju kelasmu, Akairyuu-san."
Aku mengangguk, lalu berjalan mengikutinya menuju kelasku, yaitu kelas 3-1. Saat berjalan menuju kelas 3-1, kami mengobrol hal-hal sepele atau bisa dibilang basa-basi.
Akhirnya, tak terasa 10 menit berlalu, kami akhirnya sampai di depan pintu kelas 3-1.
"Baiklah. Sensei akan masuk duluan ya Akairyuu-san? Kau tunggu aba-aba dari sensei untuk masuk ya?"
"Baik, sensei."
Aku mengangguk, lalu kulihat sensei masuk ke kelas dan murid-murid kelas itu menyapa sensei. Sensei mengangguk, lalu tangannya memberikan aba-aba kepadaku karena pintu kelas belum ditutup.
"Baiklah anak-anak, kita punya murid baru di SMA Kuoh. Ayo, silahkan masuk."
"Baik, sensei."
Aku yang mendengar itu lalu masuk kedalam kelas dan menatap mereka semua lalu memperkenalkan diriku pada mereka.
"Salam kenal semuanya, namaku Akairyuu Issei. Hobiku, kalian tidak berhak mengetahuinya. Cita-citaku, belum kupikirkan."
Saat aku mengatakan itu, pandangan dari mereka semua berubah. Aku seperti melihat ada keringat besar yang menempel di belakang kepala mereka.
"B-Baiklah. Perkenalan yang menarik, Akairyuu-san. Kau bisa duduk di…"
"Disebelahku kosong, sensei."
Orang yang mengatakan itu adalah perempuan bersurai merah panjang seperti darah atau lebih tepatnya crimson. Dia adalah Rias Gremory. Raja-ku di peeragenya, peerage iblisnya. Tapi sekarang berbeda, karena dia bukanlah rajaku lagi.
Kenapa aku mengatakan itu? Karena aku ada di dimensi yang berbeda dari tempat asalku, jadi wajar kalau disini, dia bukanlah rajaku.
"Ah. Gremory-san ya? Bagaimana, Akairyuu-san? Kau mau duduk disana?"
"Baik sensei, saya mau. Lagipula Gremory-san kelihatannya tidak keberatan."
"Benarkah itu, Gremory-san?"
Rias mengangguk ketika ditanya begitu oleh sensei.
"Baiklah. Kalau begitu, kau bisa duduk disebelahnya Gremory-san, Akairyuu-san."
Aku mengangguk, lalu berjalan mendekati bangku di sebelah Rias.
"Baik sensei. Permisi ya, Gremory-san."
"Ya, tidak apa-apa, Akairyuu-san."
Aku yang mendengar itu lalu segera duduk di bangku sebelah kanan Rias, yaitu bangku paling pojok dan belakang yang dekat dengan jendela.
"Baiklah anak-anak. Buka buku pelajaran kimia kalian di halaman 134. Akairyuu-san, kau bisa meminjam pada orang disebelahmu karena kau adalah murid baru."
"Baik sensei."
Aku mengangguk, lalu menoleh ke Rias.
"Gremory-san, bolehkah aku melihat buku pelajaranmu? Aku tidak punya bukunya. Hehehe."
"Baiklah, Akairyuu-san. Ini kukasih lihat."
"Terima kasih, Gremory-san."
"Sama-sama, Akairyuu-san dan oh ya… bisakah saat istirahat nanti, kau ikut denganku?"
"Hm? Baiklah."
Aku menyetujui tawaran Rias itu untuk pergi bersamanya saat istirahat nanti. Aku tidak tahu, apa yang menungguku disana tapi kelihatannya aku akan diajak ke ruang Klub Peneliti Gaib.
Aku senang jika bisa bertemu mereka lagi dan melihat mereka. Meskipun mereka bukan orang yang kukenal seperti di tempat asalku, tapi tidak apa-apalah.
Pelajaran pun berjalan seperti biasa. Aku sekilas memperhatikannya tapi kadang juga tidak dan itu membuat Rias memasang ekspresi cemberut ketika melihatku kadang tidak memperhatikan.
Berkat paksaan sedikit dari Rias itu, aku akhirnya memperhatikan secara penuh pelajaran yang ada di depan. Memperhatikannya dengan serius, sampai-sampai otakku yang kecil dan bodoh ini seperti bisa mengeluarkan asap berwarna hitam.
Jam Istirahat
Gaah…! Otakku serasa dipanggang! Pelajaran tadi benar-benar membuatku kesulitan. Kalau saja Rias tidak memaksaku, aku pasti tidak akan mau memperhatikannya! Kumpulan angka-angka dan simbol sialan di kimia itu benar-benar membuatku pusing!
Kulihat Rias sudah berdiri dari bangkunya, menyimpan buku pelajarannya di laci meja dan terlihat mau pergi sambil menoleh kepadaku.
"Baiklah Akairyuu-san, ayo ikut denganku."
"B-Baik… Gremory-san…"
Dengan kepala yang otakku habis pusing karena pelajaran tadi, aku berdiri dari bangku dan mengikuti Rias di belakangnya. Pandangan aneh dari para murid yang kami lewati bermunculan. Kalau dari murid laki-laki, kelihatannya pandangan iri.
Sudah bisa kutebak karena kebanyakan dari mereka memasang wajah kesal dan ada juga yang sampai menggigit bajunya sambil menangis kecil. Kalau dari para perempuan, kelihatannya hanya kaget dan sesekali kulihat mereka seperti menggosipkan sesuatu tentang kami.
Setelah berjalan selama 30 menit, kami akhirnya sampai juga di tempat yang kami tuju. Tepat seperti yang kuduga, Rias membawaku ke ruang Klub Peneliti Gaib.
"Baiklah. Ayo masuk, Akairyuu-san."
Aku mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam ruang Klub Peneliti Gaib. Kelihatannya akan terjadi dejavu yang sama seperti dulu ketika aku berada disana.
Pojok SBS
Vanargandr : Makasih
TheFourtySeventh : Begitu ya? Maaf kalau terlihat mainstream dan terima kasih atas pujiannya
ValiLucifer87 : Begitulah
Dsevenfold : Oh maaf, apartemen itu mahal banget lho. Kos itu lebih murah, lagipula Issei kan cuman tinggal sendiri, ngapain sewa apartemen?
Forneus787 : Ya, Elis-nya masih sama dengan yang di pict fb ane dan ane masih belum tahu apa Issei ngebangun harem atau gak
Shinn The Star King : Begitu ya? '-') Sudah kuduga dan benarkah sama? '-') Ane gak nyontoh idenya lho '-')
iijunior : Haha, maaf ya dan kelihatannya benar kesannya agak dewasa
Who : Makasih
AoiKishi : Maaf, hanya Naruto yang ada karena ane pingin banget menjadikan tuh anak side-chara
To be continued... To the next chapter.
