Oneshot
.
The Only Exception
.
Karena bagi Sehun, Luhan adalah pengecualian
.
Happy reading!
.
Sehun baru saja memasuki kelasnya. Kedua matanya menangkap pemandangan para siswa dan siswi yang sudah mulai saling memperkenalkan diri dan mencoba mencari teman baru di tahun pertama mereka ini.
Tidak berniat untuk melakukan hal yang sama, Sehun mengeluarkan hembusan napas lega setelah dia berhasil duduk tanpa ada orang yang mencoba menyapanya.
Sedari kecil, Sehun adalah sosok yang menyukai kesendirian. Sejak berada di sekolah dasar, dia sudah menjaga jarak dengan siswa dan siswi yang lainnya.
Sekarang, di tingkat sekolah menengah atas ini, Sehun tidak berencana mengubah kebiasaannya. Oleh karena itu, sekarang ini dia hanya memandang ke arah pemandangan lapangan sekolah yang ditampilkan oleh jendela.
Entah sudah berapa lama Sehun menjalankan kegiatannya tanpa gangguan, tetapi suara decitan kursi yang berada di sebelahnya terpaksa membuatnya berhenti mengamati langit biru dan lapangan sekolah yang hijau. Memandang ke arah sang pelaku, Sehun mendapati seseorang bermata seperti rusa sedang tersenyum lebar kepadanya.
Pandangan Sehun yang menyapu seluruh sudut kelas membuatnya mengerti kenapa laki-laki ini memutuskan untuk duduk di sampingnya. Seluruh bangku sudah penuh dan hanya yang berada di sebelah Sehun inilah yang tersisa.
Mata Sehun lalu kembali memfokuskan diri pada laki-laki yang masih setia menampilkan senyuman lebarnya.
"Hai, aku Luhan!" laki-laki bernama Luhan itu mengulurkan tangannya.
Sedangkan yang diberi uluran tangan hanya bisa memandang tangan itu dan wajah sang pemiliknya bergantian.
Sang pemilik tangan memiringkan kepala melihat tingkah Sehun, tetapi seketika matanya menyipit senang karena berhasil menangkap deretan hangul di depannya.
"Namamu Sehun, ya?" Luhan melemparkan senyuman lebarnya lagi setelah membaca nametag di seragam Sehun yang masih tidak memberi ekspresi apa-apa. Kemudian, tanpa aba-aba, dia menggenggam tangan Sehun. "Mulai sekarang kita berteman, ya!"
Dari melihat penampilan Luhan saja, dari melihat bagaimana Luhan bersikap sejauh ini saja, Sehun tahu bahwa dia dan Luhan memandang dunia secara berbeda.
Namun, dia mendapati dirinya membalas jabatan tangan Luhan dan memberikan anggukan kepada laki-laki dengan kerlipan mata dan senyuman menyilaukan itu.
Hanya formalitas seperti biasanya.
Beberapa bulan sudah berlalu. Sekarang adalah jam istirahat dan Sehun berada di kelas sendirian. Anak-anak lain memutuskan untuk memenuhi perut mereka di kantin, tetapi Sehun yang membawa bekal memilih untuk menikmati kesunyian kelas.
Sejak dulu, Sehun selalu menyukai jam istirahat siang karena dia bisa merasakan bagaimana dia menjadi pemilik tunggal kelas. Sehun selalu membawa bekal supaya dia bisa tinggal di kelas yang sepi dan menenangkan.
Meskipun begitu, Sehun tahu sekarang kesepian dan ketenangan yang dia sukai ini tidak akan bertahan lama. Ini semua karena–
Brak!
"Sehun! Dengar! Dengar! Hari ini mereka memberikan porsi tambahan untukku! Aku senanggggg sekali!"
–Luhan dengan segala percakapan tanpa lelahnya akan datang dan mengganggu waktu sendirinya.
Sehun memandang Luhan yang dengan bersemangat menarik kursi dan duduk di samping Sehun.
Dari plastik yang dibawanya, Luhan dengan senyuman lebar mengeluarkan kotak plastik berisi nasi, daging bulgogi, tumis sayur-sayuran, dan sekotak jus apel. "Lihat! Nasinya lebih banyak bukan?! Huwaaa, senangnya!"
Sehun memberikan senyuman tipis dan membuka kotak bekalnya. Menunjukkan omelet nasi goreng dengan sup ayam dan sekotak susu.
"Hari ini omelet nasi goreng? Uwahh, sepertinya enak, ya!" Luhan memandang bekal Sehun dengan mata berbinar. "Ayo kita makan bersama-sama!"
Sehun memakan bekalnya dalam diam. Sedangkan Luhan akan mengeluarkan suara untuk bercerita ringan setiap suapan berhasil dia telan.
"Oh, ya, Sehun" Sehun memandang ke arah Luhan yang mengeluarkan dua buah pudding dari tas plastik yang tadi dibawanya dari kantin. "Aku juga mendapat ekstra pudding!"
Sehun memandang ke arah pudding yang didekatkan kepadanya oleh Luhan. "Ini, satu untukmu, Sehun"
"Terima kasih" ucap Sehun pelan.
"Santai saja!" Luhan mengusak kepala Sehun dengan cengiran yang tak kalah lebar dari senyumannya. "Kau kan pendek, Sehun! Butuh banyak kalsium! Pudding ini mengandung susu jadi kau memerlukannya!"
Sehun memandang ke arah puddingnya dan ke arah Luhan yang kini menyuapkan pudding ke mulutnya sendiri dengan semangat.
Sejak hari pertama bertemu, mereka selalu seperti ini. Luhan akan duduk di sebelahnya, akan mengganggunya, terus berbicara tanpa henti. Lalu ketika istirahat siang, Luhan akan pergi ke kantin untuk membeli makan siangnya, memberikan Sehun makanan atau minuman ekstra yang dia dapatkan...
...dan Luhan tidak pernah lupa memberikan senyuman lebar menyilaukan tanpa lelah.
Sehun memang tidak mengerti kenapa Luhan tidak pindah tempat duduk atau makan dengan anak-anak sekelas lain yang senantiasa mengajaknya untuk makan bersama, tidak mengerti kenapa Luhan tidak memedulikan kurangnya respon dari dirinya, tidak mengerti kenapa dia mau berbagi dengan Sehun yang selalu menutup diri.
Namun, yang lebih Sehun tidak mengerti adalah sejak kapan dia menunggu Luhan untuk duduk di sebelahnya.
Tidak tahu kenapa dia menjadi menanti Luhan sebelum membuka bekalnya.
Tidak mengerti alasan kenapa dia tidak merasa terganggu oleh kedatangan Luhan selama jam istirahat siang.
Bagaimana bisa Luhan dan segala celotehan tanpa lelahnya menjadi lebih nyaman daripada kesunyian dan ketenangan yang selalu menjadi favoritnya, masih menjadi pertanyaan sendiri bagi Sehun.
Mungkin karena Luhan adalah orang yang baik.
"Sehun, nanti datang ke latihanku, ya?" Luhan sedang berbaring memandang langit yang cerah. Angin yang terus berhembus pelan di atas atap sekolah di musim semi membuatnya mengantuk dan akhirnya menjadikan paha Sehun sebagai bantal seperti saat ini.
Sedangkan Sehun sedang memegang satu buku yang dia baca sembari memainkan surai rambut Luhan dengan tangan yang lainnya. Sehun tidak tahu kapan tepatnya, tetapi begitu sadar tangannya sudah memainkan rambut Luhan. Luhan sendiri seperti tidak mempermasalahkannya, malah wajahnya berseri-seri seperti menikmatinya.
Mereka seharusnya berada di kelas untuk mendengarkan pelajaran dari Profesor Park. Namun, guru mereka itu harus menemani suaminya yang sedang dirawat di rumah sakit, sehingga jam ketiga kali ini kosong.
Sehun yang diam-diam keluar kelas dan menuju ke atap sekolah tahu bahwa Luhan mencoba mengikutinya tanpa dia ketahui. Hanya mengeluarkan senyuman kecil sembari menggelengkan kepala, Sehun membiarkan Luhan mengikutinya. Sama seperti biasanya sejak mereka pertama berkenalan, Sehun membiarkan Luhan mengganggu waktu sendirinya.
Sudah satu tahun berlalu. Sebuah keajaiban bagaimana Sehun dan Luhan masih bisa berteman sampai sekarang. Sehun masih tidak mengerti kenapa seseorang seperti Luhan betah berteman dengannya dan menemaninya ke mana saja, ketika Luhan memiliki banyak teman yang dengan senang hati akan membalas seluruh celotehannya dengan energi yang sama.
Sehun tahu bisik-bisik para siswa dan siswi yang menyatakan keheranan mereka akan sifat Luhan yang mau 'dekat dengan penyendiri tertutup seperti Sehun'.
Namun, begitulah kenyataannya. Di sinilah mereka sekarang. Berdua dalam jarak yang dekat.
Sehun mengalihkan pandangan dari buku yang dia baca untuk melihat Luhan yang memandangnya dengan binar terang mata rusanya. "Latihan?"
"Ya!" mata Luhan menyipit senang. "Aku memutuskan untuk ikut klub basket dan sepak bola tahun ini!"
"Bukankah tahun lalu kau bilang ingin masuk klub musik?" pertanyaan Sehun dibalas anggukan antusias oleh Luhan. Sehun menggelengkan kepalanya membayangkan bagaimana sibuknya Luhan nanti di tahun kedua mereka ini. "Baiklah"
"Yey!" Luhan mengangkat kedua tangannya, membentuk pose menyatakan kemenangan. Sehun harus menghindarkan bukunya agar tidak terlempar oleh juluran mendadak tangan Luhan. "Kau harus menemaniku setiap latihan, ya!"
Selama satu tahun berteman dengan Luhan, Sehun menyadari, bahwa dia terlalu banyak membiarkan Luhan membuatnya merasakan pengalaman baru. Terkadang pengalaman itu mengharuskan dirinya berhadapan dengan situasi yang tidak menyenangkan baginya.
Seperti sekarang ini.
Sehun bisa membayangkan betapa ramainya lapangan basket atau sepak bola tempat Luhan berlatih. Basket dan sepak bola adalah olahraga populer. Anggota-anggota dari kedua klub itu selalu memiliki banyak penggemar. Apalagi, Luhan memang pada dasarnya sudah populer karena wajah dan sikapnya yang sama-sama dinilai menawan. Guru-guru juga menyukainya karena nilai akademiknya selalu bagus.
Sehun benci tempat dengan banyak orang. Sehun tidak menyukai suara riuh dari permainan olahraga. Namun, Sehun mendapati dirinya mengiyakan permintaan Luhan yang masih memandangnya dengan binaran yang lebih menyilaukan dari sang surya.
Entah mengapa, Sehun percaya bahwa bersama dengan Luhan selalu bisa membuatnya nyaman apapun keadaannya.
Karena menghabiskan waktu dengan Luhan adalah hal yang menyenangkan.
Musim gugur sudah tiba. Seperti yang sudah Sehun duga, Luhan menjadi manusia yang kesibukannya mengalahkan ketua siswa sekolah mereka, Suho.
Seusai pelajaran hari Senin dan Rabu dia akan mengikuti latihan basket, di mana dia adalah pemain penting bagi klubnya. Setiap seusai pelajaran hari Selasa dan selama hari Jum'at dia akan sibuk memimpin latihan sepak bola karena dia ketua klub itu. Setiap seusai pelajaran hari Kamis dan setelah latihan sepak bola, dia akan mengikuti kegiatan klub musik. Luhan selalu pulang larut malam.
Lebih dari sering, Sehun akan menemani Luhan menjalankan kegiatannya dan pulang ketika Luhan pulang. Luhan selalu memintanya menemani dirinya dan Sehun selalu mendapati dirinya mengiyakan permintaan Luhan.
Sekarang ini, seperti janjinya, Sehun sedang menunggu Luhan untuk menyelesaikan latihan sepak bola. Mereka akan pulang bersama seperti biasanya –meskipun di tengah-tengah perjalanan mereka akan berpisah karena arah rumah yang berbeda.
"Luhan-oppa! Tendanganmu bagus! Ahhh! Kau keren sekali" "Kyaaa! Luhan-hyung tampan sekali!"
Sehun seharusnya terganggu dengan suara teriakan para penggemar Luhan dan penggemar anggota-anggota klub sepak bola yang lainnya. Namun, seperti biasa Sehun bisa mengabaikannya. Hanya dengan melihat kelincahan Luhan di lapangan, melihat Luhan meneriakkan strategi kepada teman-teman sekelompoknya, melihat Luhan melemparkan senyuman lebar khasnya ke arah Sehun setiap dia berhasil mencetak gol, Sehun bisa menganggap bahwa di sini hanya ada dia dan Luhan.
"Yak! Sampai di sini!" pelatih klub sepak bola sekaligus wasit mereka dalam permainan kali ini menghentikan permainan setelah meniup panjang peluit yang kini menggantung bagai kalung di lehernya.
Semua anggota sepak bola menghentikan permainan mereka. Termasuk Luhan. Laki-laki pangeran sekolah itu melemparkan senyuman lebarnya ke arah Sehun, dengan banyaknya teriakan dari penggemarnya di belakang Sehun.
Di tengah suasana musim gugur ini, Sehun merasa hangat seperti dia yang sedang berolahraga.
Luhan memang memesona.
.
"Ahhh, Sehunnnn, aku lelah sekali" Luhan meletakkan kepalanya di atas bahu Sehun yang kini sedang membantu Luhan mengelap keringatnya dengan satu tangannya yang bebas. "Hmmm. Kau benar-benar jadi lebih tinggi dariku, ya, Sehun"
Sehun tersenyum tipis. Teringat bagaimana Luhan sempat tidak bisa diam selama tiga hari, terus mengulang ketidakterimaannya atas lebih tingginya Sehun darinya.
"Aku terus bersama denganmu! Kenapa kau bisa tiba-tiba saja lebih tinggi begini?! Mengakulah Sehun! Kau suntik hormon, ya?!"
"Bahumu juga lebih lebar" Luhan mengamati Sehun yang sudah selesai mengelap keringatnya. Kini Sehun sedang membuka ikatan kecil rambut Luhan, masih dengan satu tangannya yang bebas. "Apakah kau tahu kalau kau sangat tampan?"
Sehun menggelengkan kepala. "Kau terlalu lelah"
"Hey!" Luhan mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Sehun dengan pipi menggembung. "Aku serius! Banyak dari penggemarku yang malah sibuk curi-curi pandang ke arahmu. Dan kau menerima surat cinta juga, kan? Itu karena mereka berpikir kau sangat tampan dan tipikal pangeran es negeri dongeng"
Sehun mendengus geli mendengar 'pangeran es negeri dongeng' keluar dari mulut Luhan. Dia mengusak rambut Luhan yang masih sedikit basah karena keringat. "Aku tidak memikirkannya"
Sehun tidak berbohong. Setiap membuka lokernya dan mendapati keberadaan surat cinta, Luhan yang akan heboh. Luhan juga yang akan membuka surat-surat itu saat jam istirahat siang –mengabaikan miliknya sendiri yang jauh lebih banyak. Sehun berpikir tingkah Luhan yang bersemangat karena surat cinta untuk Sehun lebih berkesan daripada surat-surat cinta itu sendiri.
"Apa..." Luhan memandang Sehun dengan serius. "...kau tidak berpikir untuk memiliki kekasih, Sehun?"
Sehun terdiam sejenak. Sebelum menggelengkan kepala. "Tidak"
"Begitu..." Luhan mengangguk paham, sebelum menarik tangan Sehun dan mengeluarkan senyuman lebarnya. "Ayo pulang!"
Sehun seperti enggan berjalan. Dia hanya memandang pertautan tangan mereka dan Luhan dalam diam.
Menyadari keanehan Sehun, Luhan memandang ke arahnya. "Kenapa, Sehun?"
"Apakah kau berpikir untuk memiliki kekasih?" Sehun akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganggunya.
Yang Sehun dapatkan adalah cengiran lebar milik Luhan. "Kalau orang yang kusukai mau menjadi kekasihku!"
Sehun merasa angin musim gugur yang baru saja berhembus terasa lebih dingin dan genggaman tangan dari Luhan seketika tidak bisa menghangatkannya lagi. Sehun tidak mengerti kenapa setiap langkah yang diambil Luhan, yang sudah mendahuluinya, membuatnya merasa tidak nyaman.
Hingga akhirnya Sehun sadar akan satu hal, bahwa dia sudah terjatuh pada apa yang dihindarinya.
Orang yang kau sukai? Siapa?
Tahun ini adalah tahun terakhir bagi Sehun untuk menempuh studi di jenjang SMA. Seluruh siswa dan siswi memperpanjang jam belajar mereka untuk persiapan ujian masuk universitas, sehingga sampai petang seperti ini pun, mereka masih berada di sekolah.
"Kalian akan melangkah menuju tahap selanjutnya dari kehidupan" suara profesor Park yang hendak menutup sesi belajar tambahan menggema di seluruh penjuru kelas. "Kuharap, selama berada di tahap ini, kalian mengalami banyak pengalaman berharga dan pelajaran penting untuk kalian simpan dalam memori kalian"
Pengalaman berharga dan pelajaran penting...
Sehun menengok ke arah Luhan yang ternyata juga sedang memandang ke arahnya. Laki-laki dengan titel Pangeran Sekolah yang terpaksa berhenti dari semua aktivitas klubnya itu melemparkan senyuman lebar khas miliknya, sebelum kembali menghadap ke arah profesor Park.
"Kuharap kalian juga berhasil menemukan teman dekat di sini. Semoga kalian juga tidak akan lupa kepadaku"
Teman dekat...
Sehun memutar kembali memori dari awal dia menapakkan kaki di SMAnya hingga sekarang ini. Tidak bisa dipungkiri, di tahap SMA ini dia memang mengalami banyak hal dan menyadari hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dia sadari.
Dan di seluruh pengalaman dan pelajaran berharga itu ... ada Luhan.
Luhan yang membuatnya menjadi lebih bisa terbuka seperti sekarang, meskipun hanya di antara siswa-siswa yang termasuk dalam lingkaran kecil pertemanan milik mereka berdua saja.
Luhan yang meruntuhkan pertahanannya, membuatnya menjadi bisa menoleransi seluruh celotehan Baekhyun dan Chanyeol sama seperti bagaimana dia menoleransi celotehan Luhan, meskipun bagi Sehun suara Luhan lebih nyaman didengar daripada suara berisik Baekhyun dan Chanyeol.
Luhan mengajaknya melakukan ini dan itu, membawanya ke sana dan ke sini, memberikannya banyak hal dari yang berupa benda sampai memori berharga.
Sayang sekali, di antara pengalaman dan pelajaran menyenangkan yang Sehun syukuri itu, Luhan juga yang mengajarkannya seperti apa rasanya jatuh cinta.
Sehun tidak pernah ingin jatuh cinta. Maka dari itu, dia selalu menutup dirinya sendiri. Menjauhkan diri dari orang lain, supaya tidak merasakan ikatan yang terlalu kuat dengan mereka.
Namun, Luhan datang dan menjadi sosok yang mampu membuat Sehun melupakan kebiasaannya. Sebelum Sehun menyadari akhirnya, Luhan telah membuatnya jatuh cinta kepada lelaki bermata indah layaknya rusa itu.
Sehun mencintai Luhan, tetapi bagai pungguk merindukan bulan, Sehun tidak akan pernah bisa mencapai Luhan.
Ikatan yang kuat suatu saat akan rapuh juga.
"Sehun"
"Ya?"
Sehun melihat Luhan menggigit bibirnya. Salju yang menumpuk di atap sekolah di musim dingin sekarang ini sangat kontras dengan bibir merah Luhan.
"Sebentar lagi kita akan berpisah..." kedua mata Sehun menangkap gerak-gerik Luhan yang memainkan jari-jarinya, tanda bahwa Luhan sedang memiliki keraguan dan hal yang dia pikirkan saat ini. "...a–ku ingin kita bisa terus dekat meskipun kita berbeda universitas"
Sehun memang biasanya tidak memiliki emosi, tetapi dia bisa merasakan ada hawa dingin mencekam yang seakan menyelimuti jantungnya yang berdetak dengan sangat kencang. Hawa dingin itu bukan berasal dari suhu rendah musim dingin.
"Aku tidak bisa berjanji" Sehun merasa bersalah membuat Luhan menjadi menunjukkan raut keterkejutan seperti ini. Dia juga tidak menyukai kilat kesedihan pada mata rusa Luhan yang selalu menampilkan keceriaan. Namun, bagaimanapun juga Sehun harus jujur.
Ikatan mereka sekarang ini suatu saat akan melemah. Itulah yang dialami sebuah ikatan, pelemahan, hingga akhirnya terputus begitu saja.
Mengalihkan pandangan ke arah apapun selain Luhan, Sehun menghembuskan napas. "Suatu saat kita akan semakin jauh, kita akan saling melupakan"
Sehun dapat merasakan kedua tangan Luhan yang menangkup pipinya. Kedua mata Sehun dapat menangkap senyuman kecil Luhan. Ini pertama kalinya Sehun melihat bagaimana senyuman Luhan tidak selalu lebar. "Kita tidak akan seperti itu Sehun"
Mengalihkan pandangan lagi ke arah langit yang biru, Sehun merasa iri dengan kejernihan yang dipandangnya. Dia merasa iri karena hatinya seperti langit yang dipenuhi dengan awan mendung. "Kau tidak mengerti, Lu"
"Aku takut–" Sehun memejamkan matanya. "–jika meskipun kita berusaha keras, pada akhirnya kita akan menjadi orang asing bagi satu dengan yang lainnya"
"Percayalah Sehun" meskipun masih enggan melihat Luhan, Sehun tahu laki-laki di depannya itu sedang menatap Sehun dengan pandangan yang mencoba meyakinkan. "Kita tidak akan seperti itu..."
Sehun tersenyum kecut. Membuka matanya untuk memandang Luhan dengan serius. "Orang tuaku bercerai meskipun mereka masih saling mencintai"
"Dan aku mencintaimu, Luhan" Sehun menggenggam kedua tangan Luhan yang masih berada di pipinya. "Tapi aku tahu pada akhirnya kita akan berpisah. Perpisahan di awal seperti ini dapat membantuku melupakanmu"
Sehun menghapus air mata Luhan yang menggenang. Ini pertama kali Sehun melihat Luhan meneteskan air mata karena dirinya. Lagi, Sehun tidak menyukainya dan merasa sangat bersalah telah membuat orang yang dia cintai menangis. "Maafkan a–"
"Bodoh" Sehun melihat bagaimana Luhan melepaskan genggaman tangan mereka, melihat bagaimana Luhan kemudian menghapus genangan air mata dari iris rusanya. "Kalau kau memang mencintaiku–"
Iris rusa itu kemudian memandang Sehun dengan kilatan yang berbeda dari biasanya. Tajam dan serius. "–percayalah padaku. Kita tidak akan seperti orang tuamu"
"Lu–"
"Aku juga mencintaimu!" Sehun tahu bahwa Luhan menahan diri untuk tidak berteriak sekeras mungkin. "Aku mencintaimu karena itu aku... a–aku..."
Suara Luhan tiba-tiba menjadi lirih, tetapi Sehun dapat mendengarnya. "...ingin kita terus dekat. Aku ingin kita mencobanya. Kita saling mencintai kan? Kita pasti bisa"
Sehun tidak tahu apakah dia harus merasa senang mengetahui bahwa perasaannya terbalas. Sehun tidak yakin itu akan mempermudah semuanya.
Ini semua karena–
"Maaf Luhan" air muka Luhan menggelap ketika Sehun mengatakannya. Sehun merasa kehilangan cahayanya. "Aku tidak percaya pada cinta. Aku tidak percaya kita akan berbeda dari orang tuaku"
–mereka saling mencintai atau tidak, tidak mengubah kepercayaan Sehun bahwa di waktu yang akan datang mereka akan berpisah.
Aku takut, Luhan.
Luhan sedang membereskan gudang rumahnya. Hari ini dia mendapatkan libur kerja dari perusahaannya. Kesempatan ini dia gunakan untuk membersihkan rumah.
Selembar kertas terjatuh dari kardus yang sedang dibawanya. Terpaksa meletakkan kardus, Luhan memungut selembar kertas usang itu.
Ada deretan tulisan di sana. Tinta yang digunakan sudah mulai berubah warna menjadi kecokelatan.
"Ketika aku masih muda, aku melihat ayahku menangis
Dia mengutuk angin yang berhembus sembari mencoba menyatukan kembali hatinya yang dia remukkan
Di sisi lain, Ibuku bersumpah dia tidak akan melupakan sakitnya perpisahan
Pada hari itu, aku berjanji aku tidak akan mengagungkan cinta
Karena cinta tidak pernah benar-benar ada
.
Jauh di dalam hatiku, aku percaya cinta tidak pernah bertahan lama
Aku berpikir aku harus melewati dunia ini sendirian
Tanpa melibatkan emosi apapun, aku hidup menjaga jarak
Aku bersumpah bahwa aku puas dengan kesendirian
Karena tidak ada sesuatu yang layak diperjuangkan hingga harus terluka
.
Tetapi dia kemudian hadir di dalam hidupku
Aku seharusnya terus menggenggam erat kenyataan
Namun, aku juga tidak bisa membiarkan apa yang di depanku pergi
Tidak ketika dia selalu meninggalkan jejak untuk meyakinkanku
Bahwa dia tidak akan meninggalkanku
Bahwa dia adalah pengecualian
Dan aku harus berusaha mempercayainya
-Oh Sehun"
Luhan tersenyum kecil membaca puisi yang ditulis oleh Sehun.
Sehun.
Meskipun Luhan tahu bahwa dia dan Sehun berbeda ketika mereka pertama kali bertemu, entah kenapa Luhan tidak merasakan ada yang aneh dengan perbedaan mereka yang sangat jauh itu.
Luhan tetap merasa nyaman berbicara kepada Sehun mengenai banyak hal meskipun Sehun tidak banyak meresponnya. Itu karena Luhan tahu Sehun selalu mendengarkannya dengan baik.
Selama berteman, Luhan juga menyadari bahwa Sehun bukanlah sosok yang dingin. Sehun adalah teman yang perhatian dan selalu memperlakukan Luhan dengan sangat baik.
Hingga akhirnya, pada suatu titik dalam hidupnya Luhan disadarkan bahwa dia sudah jatuh cinta pada Sehun. Dia selalu ingin berada di dekat Sehun dan merasa senang setiap Sehun menunggu kegiatannya hingga larut sore atau malam dan mereka berjalan pulang bersama.
Walau begitu, ketika Luhan menyinggung masalah surat cinta yang diterima Sehun atau menanyakan kepada Sehun pendapatnya mengenai kekasih, Luhan sadar bahwa Sehun tidak memikirkan apapun mengenai cinta. Oleh karena dia takut semuanya akan berubah jika dia menyatakan perasaannya kepada Sehun, Luhan akhirnya menyatakannya baru di detik-detik terakhir mereka akan berpisah.
Sayang sekali, kendati Luhan mendapati Sehun merasakan perasaan yang sama, tetapi Luhan tidak mendapati Sehun membalas perasaannya. Itu semua karena Sehun tidak percaya dengan cinta.
Kembali membaca puisi Sehun yang dimuat di koran di hari pertama kuliah mereka, Luhan memejamkan mata. "Ah, aku jadi merindukannya"
Sedang apa laki-laki itu sekarang?
"Kita terakhir berpisah pagi ini, Lu" Luhan membuka matanya, sedikit terkejut mendapati kekasihnya sedang tersenyum kecil kepadanya. "Kau mudah sekali merindukanku"
Luhan nyaris melompat untuk memeluk erat kekasihnya yang sedang mengendurkan dasinya. "Sehun! Kau sudah pulang!"
"Hm" Sehun menggumam. "Aku baru saja tiba, dan melihat gudang ini terbuka, aku menduga kau berada di sini"
"Dan kau benar! Karena libur aku membersihkan rumah kita!" Luhan mengeluarkan senyuman lebar yang tidak pernah berhenti membuat perasaan Sehun menghangat.
"Aku membawa Chinese take out" Sehun mengusap rambut Luhan. "Ayo, kita makan bersama"
"Tunggu!" Luhan menunjukkan kertas yang dia temukan pada Sehun. "Lihat apa yang kutemukan"
Ekspresi tidak mengerti Sehun ketika disodorkan kertas usang oleh Luhan, perlahan berganti menjadi raut memahami setelah yang lebih tinggi menangkap gaya tulisan yang familiar berikut dengan isi kertas yang sangat dia ingat. Laki-laki itu kemudian memberikan senyuman tipis. "Puisi itu, ya"
"Iya" Luhan memandang selembar kertas usang di genggamannya dengan penuh rasa nostalgia. "Yang kau kirimkan ke koran untuk dimuat di hari pertama kita berkuliah, supaya aku terus mengingat bahwa hari itu adalah hari pertama aku tidak bisa mengganggumu di kelas"
Sehun memeluk Luhan dari belakang. Meletakkan dagunya di sebelah bahu Luhan, dia ikut memandangi selembar kertas itu. Seluruh kenangan mengenai masa SMAnya dan Luhan berputar di kepalanya.
"Aku sudah benar-benar percaya sekarang" ucapnya dengan penuh keyakinan.
Luhan menggumam lembut. "Hm, syukurlah"
Sehun memiringkan kepalanya untuk dapat melihat Luhan. Dia mendapati Luhan yang juga sedang memandangnya.
Tersenyum, keduanya saling memosisikan diri hingga bibir mereka dapat menyambut satu dengan yang lainnya.
Baik Luhan maupun Sehun bersyukur, bahwa di hari itu Luhan tidak menyerah. Setelah hari itu, Luhan terus menemui Sehun. Meskipun jarak apartemen mereka jauh, di waktu libur Luhan terus datang ke tempat Sehun. Terus mengunjunginya hingga malam menjelang perkuliahan. Melihat bagaimana Luhan selalu menjadi yang pertama untuk memulai apapun di antara mereka dan Luhan selalu bertahan, Sehun akhirnya merasa bahwa dia perlu percaya kepada Luhan.
Oleh karena itu, Sehun mengirimkan puisinya ke koran, mengetahui bahwa Luhan akan menemukannya karena laki-laki yang Sehun cintai itu suka membaca koran. Sehun membiarkan Luhan tahu jawabannya. Bahwa dia juga akan berusaha untuk mereka berdua.
Dan meskipun mereka beberapa kali beradu argumen, meskipun kesibukan perkuliahan di semester-semester akhir membuat mereka jarang bertemu atau berkomunikasi, Luhan selalu menyempatkan diri untuk meyakinkan Sehun bahwa mereka akan baik-baik saja.
Kelulusan Sehun dengan Luhan yang memberikan senyuman lebar dan menyilaukan di sampingnya membuat Sehun menyadari bahwa Luhan benar.
Mereka tidak akan menjadi seperti orang tua Sehun.
Karena dari awal sampai seterusnya, Luhan selalu menjadi pengecualian dari segala kebiasaan Sehun.
"Aku mencintaimu" bisik Sehun, tangannya menangkup wajah Luhan, kedua matanya menatap kedua iris rusa Luhan.
Dengan senyuman lebar yang paling Sehun sukai dari Luhan, orang yang menjadi pengecualian terbesar di dalam hidup Sehun itu kembali mencium Sehun. "Aku juga mencintaimu"
Aku percaya pada cinta karena dirimu adalah pengecualian.
End.
Karena memang konsepnya oneshot, maaf sekali tidak bisa memberi sekuel. Untuk sudut pandang Sehun di chapter kemarin, mau ditulis pun ceritanya mungkin akan diakhiri dengan Sehun yang berhasil menemukan pengganti Luhan.
.
Inspirasi utama cerita dari The Only Exception - Paramore
