"Ta..tapi, bisakah k..kau menjauhkan tubuhmu?" ucap Jihoon sembari menunduk. Soonyoung terkekeh mendengarnya.

"Tidak bisa," jawab Soonyoung singkat. "Bisakah kau menatapku?" Soonyoung mengangkat dagu Jihoon. Hatinya berdesir. Darahnya mengalir sangat deras dan bertumpu pada jantungnya, menyebabkan debaran dahsyat itu. Debaran saat setiap kali Jihoon menatapnya.

"Ada apa?"

"Maukah kau…" Soonyoung mendekat pada Jihoon dan berbisik, "…jadi milikku?"

GROWL

Author : WandaPark

Main Cast :

Lee Jihoon

Kwon Soonyoung

Hong Jisoo

Rating : T

Genre : Romance, Fantasy, Lit comedy

Warning : GS!UKE, Typo(s) bertebaran, alur kecepetan, gak jelas.

N/A : Cerita ini pernah aku upload di akun fbku dengan cast Sehun dan oc. Jadi kalo ada yang merasa pernah baca, itu cerita aku juga.

.

.

.

.


"Step away from my girl, or you'll get hurt."


Jadi, jangan ada seorangpun yang boleh melirikmu. Tidak akan pernah.

Akan kusembunyikan kau dalam pelukanku. Aku serius.

Setiap tatapan mereka untukmu.

Saat itu tornado kuat bergemuruh dalam diriku.

Jihoon berjalan menuju pintu gerbang rumahnya setelah mengikat tali sepatunya. Saat membuka gerbang, betapa terkejutnya ia ketika melihat Kwon Soonyoung sudah bertengger manis di atas Ninja hijaunya.

"Bagaimana bisa?" tanya Jihoon, lebih kepada dirinya sendiri.

"Kau sudah siap? Ayo kita berangkat." Soonyoung tersenyum ceria ke arahnya. Jihoon hanya diam mematung memandangi Soonyoung yang tiba-tiba berada di depan rumahnya. Bukannya itu mustahil? Bagaimana Soonyoung bisa tahu rumahnya? Bahkan teman sekolahnya yang tau hanya Wonwoo. Mustahil.

"Hey, kenapa melamun? Ayo naik," ucap Soonyoung membuyarkan lamunan tidak bergunanya.

Jihoon mengerjapkan matanya berusaha mengembalikan kesadarannya. "Tidak usah, Soonyoung-ssi. Nanti merepotkanmu."

Soonyoung tersenyum. "Tidak apa-apa. Cepat naik. Atau…" Soonyoung mendekatkan wajahnya pada wajah Jihoon. "…aku akan menciummu."

Jihoon terbelalak. "Apa?" Kenapa akhir-akhir ini Soonyoung selalu mengatakan hal aneh? Kejadian semalam saja sudah membuatnya tidak bisa tidur. Dan ditambah Soonyoung berbuat hal aneh hari ini.

"Jadi, kau mau kucium, hm?" tanya Soonyoung tersenyum jahil.

"Ba..baiklah. Aku akan naik." Jihoon cepat-cepat naik ke atas motor Soonyoung sebelum laki-laki itu berbuat mesum.

Soonyoung memberi Jihoon helm dan menyalakan motornya. "Pegang pinggangku."

"Kenapa?"

"Agar kau tak jatuh."

"Tidak akan jatuh."

"Baiklah. Terserah padamu." Soonyoung menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi membuat Jihoon mau tak mau memeluk pinggang Soonyoung.

"Kau gila! Kau ingin aku mati, huh?!" sungut Jihoon kesal.

"Bukankah aku sudah memperingatkanmu?" ucap Soonyoung santai.

Jihoon hanya bisa berdecak kesal. Dasar laki-laki berdarah dingin!


"Wah lihat itu!"

"Soonyoung pergi ke sekolah bersama Jihoon?"

"Lihat! Soonyoung menggandeng tangannya!"

"Apa mereka pacaran?"

"Ah aku iri pada Jihoon!"

"Apa bagusnya gadis itu?!"

"Kenapa Soonyoung mau dengan gadis cupu seperti itu?"

Jihoon menghela nafasnya ketika mendengar siswa-siswi di koridor berbisik-bisik membicarakan dirinya dan Soonyoung.

Harusnya tadi aku menolak ajakannya untuk berangkat bersama, batin Jihoon merutuk dirinya sendiri.

Sekarang ia tengah berjalan di koridor sekolah bersama Soonyoung yang menggandengnya, ah ralat, lebih tepatnya menyeretnya. Sedari tadi ia terus memberontak, tapi Soonyoung terlalu kuat untuk ia lawan.

"Soonyoung-ssi, bis–"

"Jangan memakai embel-embel itu. Aku tak suka." Jihoon memutar bola matanya malas ketika perkataannya dipotong oleh Soonyoung.

"Soonyoung, bisakah kau melepaskan tanganku?"

"Tidak," jawab Soonyoung singkat masih menggandeng tangannya.

"Aish! Kau ini!" sungut Jihoon kesal. "Lep–"

"Diam."

Jihoon diam seketika. Percuma melawannya. Dasar pangeran berhati es!

"Jangan mengataiku."

Jihoon membelalakkan matanya kaget. Soonyoung bisa membaca pikirannya? Bagaimana bisa? Apa hanya kebetulan?

"Sudah sampai. Cepatlah masuk." Jihoon mengerjap-ngerjapkan matanya. Ternyata sudah sampai di depan kelasnya.

Matanya kini tertuju pada Soonyoung yang berjalan pergi meninggalkannya. Alisnya mengkerut melihat punggung Soonyoung yang lama-kelamaan menjauh dari pandangannya. Bukankah dia sekelas denganku? Kenapa tidak masuk ke dalam kelas? Kenapa malah pergi? Ah apa peduliku?

Jihoon menggidikkan bahunya lalu segera masuk ke dalam kelasnya dan ia memutar bola matanya malas ketika melihat apa yang terjadi di dalam kelasnya. Apa yang terjadi? Tentu saja teman-teman di kelasnya berbisik–bisik seperti apa yang dilakukan siswa-siswi di koridor tadi, bahkan sekarang mereka menyerbu Jihoon yang baru duduk di bangkunya dengan pertanyaan yang menurut Jihoon memuakkan.

"Hey, Jihoon! Kau berangkat bersama Kwon Soonyoung?"

"Apa kau berpacaran dengannya?"

"Wah kau beruntung sekali!"

"Ah… Aku iri padamu!"

"Ceritakanlah pada kami!"

"Ji-"

"Cukup!" teriak Jihoon keras yang berhasil membuat seluruh orang di kelas itu terdiam. Hening. Jihoon menghela nafas. "Aku akan mengatakan pada kalian semua. Aku hanya akan mengatakannya sekali. Jadi dengarkan baik-baik. Aku, Lee Jihoon, tidak berpacaran, dan tidak akan pernah berpacaran dengan Kwon Soonyoung," ucap Jihoon dengan penekan di kalimat terakhir yang ia ucapkan.

Masih hening. Dan sedetik kemudian suasana kelas kembali ricuh.

"Kau bohong."

"Tidak mungkin."

"Kau dan Soonyoung pacaran, bukan?"

"Jujur saja pada kami."

"Benar. Akan kami rahasiakan."

"Kami mendukung hubungan kalian, kok."

Jihoon kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Hey! Sudah kubilang aku tidak berpacaran dengan Kwon Soonyoung! Aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa!" teriak Jihoon kemudian pergi menerobos siswa-siswi yang mengelilinginya. Ia pergi keluar kelas.

"Awas kau, Kwon Soonyoung! Kau membuat hidupku tidak tenang sekarang! Mati kau!" rutuk Jihoon sembari berjalan mencari Soonyoung. Ia berjalan ke atap sekolah karena firasatnya mengatakan bahwa Soonyoung ada disana. Dan benar, Soonyoung sedang berbaring di bangku panjang dengan mata tertutup dan kedua tangannya dijadikan bantal. Sepertinya ia tidur.

Jihoon segera berjalan cepat ke arah Soonyoung masih dengan umpatan-umpatannya. Ia memandang Laki-laki itu geram. Bisa-bisanya ia tertidur disaat aku sedang sengsara karenanya?! Jihoon menyeringai ketika mendapatkan ide untuk membangunkan si brengsek Kwon.

Jihoon menunduk dan mensejajarkan bibirnya dengan telinga Soonyoung. Kemudian, "HEY, TUAN KWON! BANGUN!" teriak Jihoon di samping telinga Soonyoung yang berhasil membuat laki-laki itu terlonjak bangun sambil mengusap-usap telinganya yang terasa berdengung.

Soonyoung memandang geram ke arah Jihoon yang tengah tersenyum puas di depannya. "Hey! Kau bisa membuatku tuli, bodoh!" teriaknya kesal.

Jihoon menyilangkan tangannya di depan dada. "Apa peduliku?"

Soonyoung menggeram. "Kau!"

"Apa?"

"Beraninya kau mengganggu acara membolosku!"

"Oh ternyata murid terpintar seantero sekolah ini sering membolos? Bagaimana bisa kau selalu menjadi juara umum pertama? Kau curang, ya?"

Soonyoung menarik nafasnya dan membuangnya kasar. Ia berdiri berhadapan dengan Jihoon dan sedikit membungkukkan tubuhnya, mensejajarkan wajah dan bibir mereka. "Diam. Atau kau akan kucium," bisik Soonyoung tepat di depan wajah Jihoon. Soonyooung segera berlalu meninggalkan Jihoon yang tengah mematung di tempatnya.

Berkali-kali Jihoon mengedipkan matanya, berusaha menyadarkan kembali dirinya. Oh tidak! Jantungnya berpacu begitu cepat sampai-sampai rasanya akan menerobos tulang rusuknya saat itu juga.

"Apa itu? Kenapa rasanya dadaku ingin meledak setiap kali laki-laki itu mendekatkan wajahnya pada wajahku? Oh Tuhan! Mungkin aku sudah gila! Sebaiknya aku kembali ke kelas." Jihoon berbalik dan berjalan menuruni tangga menuju kelasnya setelah bermonolog ria.


"Menyebalkan sekali. Kenapa hari ini aku makan siang sendiri? Ish!" gerutu Jihoon. Sedari tadi ia terus menggerutu karena hari ini ia harus makan sendiri.

Tadi setelah bel istirahat kedua berbunyi, Jihoon mengajak Wonwoo makan siang di kantin. Tapi dengan wajah menyesal, Wonwoo mengatakan kalau ia tak bisa menemaninya makan karena ada tugas Fisika dari Yoo Sonsaengnim yang harus ia kerjakan saat itu juga. Jadilah ia makan sendiri saat ini.

Ia menyangga pipinya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengetuk-ngetuk sumpit yang ia pegang ke dasar mangkuk berisi jajjangmyeon yang masih tersisa setengah. Ia benci makan sendiri, karena menurutnya itu menyedihkan. Belum lagi hal-hal menyebalkan yang ia dengar dari tadi pagi. Apalagi kalau bukan soal dirinya dan si Tuan Kwon itu?

"Hey, lihatlah si gadis tidak tahu diri itu. Apa yang Soonyoung lihat dari dirinya? Bahkan tubuhnya pun rata seperti papan."

"Benar. Mungkin Soonyoung hanya mempermainkannya."

"Atau mungkin, ia melakukan sesuatu agar Soonyoung tertarik padanya."

"Ugh! Gadis menjijikan!"

Jihoon mengepal tangannya ketika mendengar empat orang siswi yang duduk di belakangnya berbisik-bisik tentang dirinya. Jihoon dapat dengan jelas mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka. Ia mengenal suara itu. Itu adalah suara Minah, Yura, Sojin, dan Hyeri. Mereka berempat cukup terkenal di sekolah ini karena tubuh mereka yang –katanya– sexy, dan wajah mereka yang –katanya– cantik. (a/n: Aku gak ada maksud buat ngejelek-jelekin mereka loh ya. Aku juga GDstan :v)

Jihoon terkekeh sinis. Cantik? Bahkan Jihoon berani bertaruh kalau make up mereka yang super duper tebal itu dihapus dari wajah mereka, akan banyak jerawat dan flek hitam di wajah mereka. Eww, mereka hanya sekumpulan gadis pesolek yang sombong. Tidak lebih.

"Kau sendirian?"

Jihoon mendongak dan melihat seorang laki-laki tengah duduk di hadapannya dengan segelas caffe lattedi tangannya. Wajah kusut Jihoon berubah cerah ketika melihat laki-laki itu. Ia tersenyum ceria. "Jisoo oppa!"

Hong Jisoo terkekeh ketika melihat reaksi berlebihan yang Jihoon berikan padanya. Gadis itu selalu bertingkah kekanakkan jika sudah menyangkut tentang dirinya. "Hey, kenapa se-exited itu melihatku?"

Senyum ceria masih tidak lepas dari wajah Jihoon yang cantik. Ia bersyukur, setidaknya ada moodbooster yang akan membuat harinya lebih baik. "Tidak. Aku hanya merasa bersyukur."

Tangan Jisoo terangkat untuk mengelus lembut surai hitam gadis yang satu tahun lebih muda darinya itu. "Dasar."

Jihoon terpaku. Ia menatap tangan Jisoo yang mengelus rambutnya lembut. Ugh, seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Menciptakan debaran sialan itu.

Jisoo menarik kembali tangannya dan melipatnya di atas meja. "Omong-omong, Jihoon Benarkah kau berpacaran dengan Kwon Soonyoung?" tanyanya dengan nada… tak suka, mungkin?

Senyum di wajah cantiknya hilang seketika. Darah di dalam pembuluh darah Jihoon serasa mendidih ketika mendengar pertanyaan sialan itu lagi. Oh Tuhan, bahkan Jisoo oppanya yang begitu ia percayai pun mempercayai gossip picisan itu? Cih! "Apa oppajuga mempercayai gossip itu?" tanya Jihoon memelas.

"Emm, sebenarnya tidak. Tapi kelihatannya begitu."

"Oppa," ucap Jihoon dengan memelas. "Kenapa oppa juga mempercayainya?" Oh sungguh! Kalau Jihoon tak malu, ia ingin menangis sekarang juga.

"Tapi," Jisoo menyesap caffe latte yang terlihat mengepulkan asap tipis. "Kenapa tadi pagi kau berangkat bersamanya? Bahkan kalian berdua bergandengan tangan."

"Itu karena laki-laki mesum itu memaksaku!" ucap Jihoon gemas.

"Apa?" tanya Jisoo seraya mengubah posisi duduknya. Ia menatap Jihoon dengan mata memicing. "Dia memaksamu?"

Jihoon mengangguk membenarkan. "Kalau aku tidak berangkat bersamanya, dia akan–" Jihoon berpikir sejenak. Merasa tidak nyaman dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya. Jihoon menunduk, menghindari tatapan Jisoo yang meminta penjelasan lebih lanjut. "–dia akan menciumku."

Jisoo merutuk dalam hati. "Aish, sial!" gumamnya pelan.

Kepala Jihoon terangkat ketika mendengar sesuatu terucap dari bibir Jisoo. "Apa?"

"Tidak apa-apa. Sudahlah, aku mempercayaimu. Kau bukan tipe gadis yang menyukai laki-laki seperti Kwon Soonyoung," ucap Jisoo sembari tersenyum lembut.

Jihoon ikut tersenyum. Entah ia tersenyum karena apa. Tersenyum karena Jisoo mempercayainya, atau tersenyum karena Jisoo tersenyum padanya? Entahlah. "Gomawo, oppa."

Jisoo mengelus rambut Jihoon dengan sayang. "Sama-sama."


"Hey! Kau kenapa, Kwon Soonyoung?" Laki-laki dengan tubuh kelewat tinggi bernama Kim Mingyu itu mendengus sebal ketika melihat temannya sedari tadi marah-marah tidak jelas.

Oh, tadi saat ia sedang bermain game bersama Seokmin dan Junhui di kelas, tiba-tiba Soonyoung datang dan membalikkan mejanya sendiri. Lalu ia duduk dengan wajah memerah menahan amarah, tidak lupa dengan sumpah serapah yang terus terlontar dari bibirnya.

Soonyoung mendengus kesal. "Apa mata gadis itu bermasalah? Apa yang kurang dariku?"

Laki-laki berdarah China bernama Wen Junhui itu memutar bola matanya. Ia paling malas jika Soonyoung sudah seperti ini. Childish. "Hey, maksudmu gadis yang membuatmu menghajar anak pemilik sekolah sampai babak belur itu?" tanya Junhui sembari mendudukkan tubuhnya di bangku di depan Soonyoung.

Soonyoung menyenderkan tubuhnya dan melipat tangannya di bawah dada. "Ya. Dia menolakku hanya karena mencintai laki-laki seperti itu? Cih! Aku merasa terhina! Jelas-jelas lebih tampan aku darinya!"

Seokmin, Junhui, dan Mingyu kompak membulatkan mata mereka ketika mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Soonyoung. "Dia menolakmu? Kau menyatakan perasaan padanya?" Seokmin menangkup pipi Soonyoung dengan kedua tangannya. "Oh God! Apa aku salah dengar? Seorang Kwon Soonyoung menyatakan cinta kepada seorang gadis? Ini sulit dipercaya!" ujar Seokmin yang langsung diamini oleh Mingyu dan Junhui.

Soonyoung menepis tangan Seokmin dari pipinya dengan kesal. "Hey!"

"Ceritakan pada kami!"


"Maukah kau…" Soonyoung mendekatkan wajahnya pada Jihoon dan berbisik tepat di depan wajah gadis itu. "…jadi milikku?"

Jihoon terbelalak. "Jadi milikku?" Jihoon membeo. Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia menatap Soonyoung dengan tatapan tak percaya. Apa laki-laki di hadapannya saat ini sudah gila? Jadi miliknya? Hell! Bahkan baru tadi siang mereka berbicara satu sama lain.

Soonyoung mengangguk. "Bagaimana?" tanya Soonyoung sembari menaikkan sebelah alisnya.

Jihoon meneguk air liurnya dengan susah payah. Kepalanya terasa pening mendengar ucapan Soonyoung. Jihoon tertawa meremehkan. "Apa aku termasuk dalam permainanmu?"

Alis Soonyoung berkerut tak mengerti. "Permainan?"

"Jangan pura-pura bodoh, Tuan Kwon. Apa ini hanya tantangan dari teman-temanmu?" tanya Jihoon sinis. Sungguh. Ia merasa seperti orang bodoh disini.

"Tantangan? Tidak. Aku bersungguh-sungguh."

Jihoon tertawa sinis. "Dan apa kau pikir aku akan dengan mudah mempercayaimu?"

Soonyoung menghela nafas. Mencoba meredakan amarahnya yang serasa ingin meledak. Sabar, Kwon Soonyoung. Sabar. Gadis ini adalah gadis yang kau cintai. Jangan membuatnya takut. "Aku bersungguh-sungguh, Lee Jihoon." Soonyoung menekankan setiap perkataannya.

"Sudahlah." Jihoon mendorong dada Soonyoung pelan agar laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya itu menjauh. Ia menatap Soonyoung tajam. "Lagipula, aku sudah mencintai orang lain," ucap Jihoon enteng. Tidak taukah kau, Lee Jihoon? Laki-laki di hadapanmu itu sedang tersulut amarahnya.

Soonyoung mengepal tangannya erat sampai buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Ia mencoba meredam amarahnya. Ugh, semoga saja matanya yang berwarna merah menyala itu tidak muncul sekarang. "Siapa?" desisnya.

Jihoon memutar bola matanya malas. "Apa aku harus memberitahumu?" Jihoon membenarkan rok dan bajunya yang sedikit berantakan. "Jadi mulai sekarang, hentikan omong kosongmu itu," ucap Jihoon kemudian berjalan melewati Soonyoung.

Soonyoung membalikkan badannya dan dengan cepat menarik pergelangan tangan Jihoon sehingga tubuh gadis itu terpental ke dalam pelukannya. Ia segera mencegah Jihoon untuk kembali kabur dengan melingkarkan tangannya di pinggang ramping gadis itu.

Jihoon terbelalak kaget. Jantungnya berdegup dengan cepat sampai-sampai ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Darahnya terasa medidih dan wajahnya terasa memanas. Ugh, pasti wajahnya sudah sangat memerah seperti kepiting rebus sekarang.

"Aku tidak peduli kau mencintai orang lain atau tidak. Aku akan mendapatkanmu–" Bulu kuduk Jihoon meremang ketika mendengar suara berat Soonyoung tepat di samping telinga kirinya. Soonyoung menyesap aroma cherry mint yang menguar dari leher Jihoon. "–bagaimana pun caranya."

Mata Jihoon kembali terbelalak. Nafasnya tercekat sedangkan darahnya mengalir dengan sangat cepat dan bertumpu pada jantungnya ketika merasakan sesuatu yang lembut dan basah mendarat di lehernya dengan lembut. Ia tahu itu bibir Soonyoung yang mengecup lehernya. Sialan! Berani-beraninya! Jihoon mendorong tubuh Soonyoung kencang dan menatap laki-laki itu dengan tajam. Lagi-lagi Soonyoung menunjukkan smirknya itu.

Dengan cepat Jihoon membalikkan badannya dan berjalan dengan cepat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia tak mau Soonyoung melihat wajahnya yang bisa dipastikan sudah memerah. "Sial!" rutuk Jihoon.

Sedangkan Soonyoung hanya menatap punggung Jihoon yang lama-kelamaan menghilang di balik persimpangan jalan. Ia tersenyum. Ugh, tadi itu menyenangkan. Melihat bagaimana gadis itu membeku dan menahan nafasnya ketika Soonyoung mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu. Melihat bagaimana wajah gadis itu memerah ketika ia memeluknya dan mengecup lehernya. Ah pikiran itu membuat wajahnya sendiri memerah. Ia mengingat bagaimana bibirnya mengecup leher gadis itu yang lembut bukan main. Bahkan aroma gadis itu seperti masih tertinggal di bajunya. Ugh, benar-benar memabukkan.

Wajah Soonyoung yang semula lembut, dengan cepat mengeras ketika mengingat apa yang Jihoon katakan padanya. Tangannya mengepal dengan kuat dan matanya perlahan berubah menjadi merah menyala. Taring-taringnya muncul dengan perlahan, menyembul dibalik bibir tipisnya. "Siapa pun itu, akan kuhabisi dia."

-TBC-

Hai! aku balik lagi dengan membawa ff GROWL Chapter 2! yeay! /sukuran/

BIG THANKS BUAT KALIAN YANG UDAH REVIEW DI CHAP 1 MAKASIH BANGET :"v terhura aku :"v /susut ingus/ maaf gak bisa bales satu-satu.

kemarin pada bilang itu gak ada pembatas antar POV ya? ya ampun itu typo say :" di udah ada. pas di doc manager ternyata gak ada dan aku gak ngecek lagi :" maaf ya /sungkem/ tapi udah aku edit kok. btw aku gak pernah pake semacam "Soonyoung POV" or "Jihoon POV" gitu :v karena ini sudut pandang orang ketiga serba tahu atau sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat /sok/ /g/

oke gimana chap 2nya? membosankankah? :"v reviewnya makanya biar aku tau letak membosankannya dimana.

Tangerang Selatan, 12 September 2016

WandaPark