Another DxD
Summary : Sudah 3 bulan lebih, sejak 666(Trihexa) dikalahkah oleh tim DxD dengan dibantu oleh sekutu lainnya. Hyoudou Issei, sang Sekiryuutei, sedang merasa kebosanan dan meminta saran kepada Ddraig untuk melakukan apa. Ddraig pun menyarankan untuk berkunjung ke dimensi lain dengan bantuan Great Red. Apakah yang akan terjadi? Saksikan sendiri!
Pairing : Issei x ?
Rating : T
Genre: Action, Adventure, Fantasy, Ecchi, Romance, Humor, Demons, School, Harem
Disclaimer: Highschool DxD bukanlah milik saya, itu milik Ichie Ishibumi. Naruto bukanlah milik saya, itu milik Masashi Kishimoto
Warning : Godlike!Issei Canon!Issei AU! Gaje! Mainstream!
Chapter 05 : Satu sekolah dan satu kelas denganku!
Hari ini, aku bertemu dengan seorang perempuan berambut merah twintail yang tiba-tiba ada di dimensi ini dan tidak ada di dimensiku. Yap, dia adalah Naruse Mio. Seorang perempuan cantik berdada besar, berambut merah twintail dan bermata merah muda.
Sebenarnya warna rambutnya agak mirip Rias, yaitu crimson. Mungkin bisa dibilang dia versi lain dari Rias. Bukan seperti Sirzechs-sama yang seperti versi laki-laki dari Rias, mungkin versi Rias tapi sangat beda.
Kami berjabat tangan lumayan lama dan kulihat semburat merah muncul di wajahnya. Itu membuatku bingung. Aku lalu menanyakannya padanya, kenapa wajahnya bersemburat merah.
"Anu… kenapa dengan wajahmu? Apakah sakit?"
"T-Tidak. Itu… um, tanganmu…"
"Tanganku? Kenapa memangnya?"
"Jabat tangannya… tidak dilepas."
Aku baru sadar akan itu dan kulihat semburat merah diwajahnya menjadi makin melebar. Dia malu! Dia malu karena jabat tangan kami yang terlalu lama dan terkesan seperti… pacaran? Tidak. Aku tidak boleh berpikir seperti itu.
"Ah. M-Maaf."
"T-Tidak apa-apa selama kau mengerti…"
Sial, pasti sekarang wajahku juga ikut-ikutan bersemburat merah karena malu. Apa yang kau lakukan, Issei? Kau itu sudah punya! Kau sudah punya Rias dan yang lainnya di dimensimu sendiri! Sadarlah, kau malah ingin ikut-ikutan membangun harem disini? Serahkan itu kepada dirimu yang lain!
"Lain kali berhati-hatilah ya, Naruse-san. Makhluk supranatural seperti mereka itu kadang berkeliaran disekitar sini."
"T-Terima kasih atas peringatannya, Akairyuu-san."
"Ya, tidak apa-apa. Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang dulu. Sampai bertemu lagi, Naruse-san."
Aku pun pamit pulang kepada Naruse-san karena kurasa urusanku untuk menyelamatkannya sudah selesai. Aku berbalik dan melangkah pergi, menjauh darinya.
"A-Ah. Tunggu dulu, Akairyuu-san…"
Aku menoleh dan mendengar suara Naruse-san yang memanggilku. Karena bingung dan penasaran, aku bertanya kepadanya kenapa memanggilku."
"Hm? Apa ada yang lain lagi, Naruse-san?"
"I-Itu… anu…"
"Hm? Ya, ada apa?"
"A-Aku…."
"Ya…?"
"B-Bisakah… aku tinggal denganmu…?"
"…."
JDEEER!
Seketika aku seperti merasakan adanya kilatan listrik yang menjalar dan menyambar ke tubuhku ketika mendengarnya. Tubuhku jadi diam mematung dan mulutku tidak bisa digerakkan untuk bicara. Ini… dejavu kah? Entah kenapa aku merasa kalau kejadian ini agak mirip meskipun sangatlah berbeda dari yang kuingat.
Sepertinya ini sangatlah berbeda dari tempatku berasal. Aku harus terbiasa dengan semua perbedaan ini agar bisa beradaptasi cepat dengan dimensi ini dan menemukan cara untuk kembali ke rumah.
"B-Boleh saja sih, tapi tempatku itu sempit. Aku tinggal di kamar kos, jadi kurasa… Naruse-san tidak akan betah dan merasa sempit jika tinggal di tempatku."
"T-Tidak apa-apa kok, Akairyuu-san. Habisnya… aku tidak tahu harus tinggal dimana."
Setelah mengatakan itu, Naruse-san menitikkan air mata kesedihan dari matanya. Dia menangis! Aku menjadi panik dan kaget saat melihatnya.
"N-Naruse-san… kenapa kau menangis? A-Apa itu karena salahku, kau menangis?"
Naruse-san mengangguk saja ketika mendengar perkataanku itu dan itu membuatku semakin panik.
"W-Waah… apakah ini karena masalah tempat tinggal tadi?"
Dia mengangguk lagi ketika mendengar itu dariku.
"B-Baiklah. Jika Naruse-san tidak keberatan dan memaksa, Naruse-san bisa tinggal denganku."
"Benarkah…?"
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum memaksa dan setelah itu bisa kulihat kalau ekspresi dari Naruse-san berubah. Ya, kini bukan ekspresi menangis lagi tapi ekspresi senang dan gembira yang terpancar di wajahnya itu.
Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa kalau ekspresi dari wajahnya saat ini membuatku senang dan tiba-tiba tertarik. Kuyakin, kalau saat ini wajahku muncul semburat merah ketika melihatnya.
Untuk mengabaikan hal itu dari kepala dan pikiranku, aku berusaha untuk mencari hal lain untuk dibahas.
"B-Baiklah. Kalau begitu, ayo sekarang kita ke kamar kos-ku."
"Baik!"
Dengan begitu, aku dan Naruse-san… tinggal seatap! Ya, meski dulu Rias dan yang lainnya juga tinggal seatap denganku, tapi ini rasanya… agak berbeda! Seperti ada pahit-manisnya gitu. Pahitnya adalah karena aku tidak merasa enak kalau Naruse-san tinggal di kamar kos sempit bersamaku dan manisnya adalah… aku bisa tinggal seatap dengan seorang perempuan cantik selain Rias dan yang lainnya. Hehehehe.
[Dasar. Rupanya kau belum berubah juga ya, Partner? Kau masih saja bersikap seperti itu.]
Oh, kau rupanya Ddraig. Itu wajar untukku tahu, aku juga seorang laki-laki yang penuh akan nafsu! Apalagi hormonku bertambah karena sekarang tubuhku adalah tubuh dari naga dan tubuh iblis. Hormon laki-laki ku serasa mau menjerit ketika mengetahuinya, tahu!
[Ya-ya, terserah kau sajalah partner. Aku mau kembali tidur. Kalau ada masalah atau sesuatu, panggillah aku ya.]
Baik-baik, dasar naga pemalas.
Aku dan Naruse-san pun berjalan menuju kos-ku. Tidak begitu jauh tapi tidak begitu dekat. Bisa dibilang, jaraknya pas lah. Kalau terlalu dekat, tidak enak dan juga kalau terlalu jauh juga tidak enak. Pokoknya begitulah, aku juga tidak terlalu mengerti karena aku bodoh.
"Oh ya Naruse-san, kenapa mereka tadi mengincarmu?"
"Itu…"
"Aku mengerti. Kau tidak mau menceritakannya karena aku ini orang yang baru kau kenal kan? Tidak apa-apa."
"T-Tapi bagaimana kalau aku ini orang jahat? Apakah Akairyuu-san akan masih bilang tidak apa-apa?"
"Ehm… aku tidak bisa bilang apa pun jika seperti itu tapi kulihat kalau Naruse-san bukanlah orang jahat bagiku."
"K-Kenapa? Kenapa Akairyuu-san bisa berkata begitu dan mempercayaiku semudah itu?"
"Karena tidak mungkin ada orang jahat yang berbicara dengan nada sedih seperti itu serta menangis secara sungguhan dan tidak direkayasa."
Setelah aku mengatakan itu, Naruse-san terdiam. Entah kenapa dia terdiam. Aku berpikir, apakah aku mengatakan sesuatu yang membuatnya marah atau apa? Kurasa aku telah membuat kebodohan dan kesalahan yang fatal lagi kepada seseorang, apalagi seorang perempuan.
Aku mencoba melirik sejenak ke Naruse-san dan kulihat dia menitikkan air matanya… lagi! Itu membuatku panik dan khawatir lagi. Pasalnya dia menangis setelah aku mengatakan kata-kata itu kepadanya.
"A-Ada apa, Naruse-san? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah atau aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Naruse-san menggeleng ketika aku menanyakan itu kepadanya dan itu membuatku bingung.
"Tidak kok, Akairyuu-san. Akairyuu-san tidak melakukan atau pun mengatakan sesuatu yang salah."
"T-Terus kenapa kau menangis?"
"Aku hanya senang saja. Tak kusangka kalau Akairyuu-san sampai bilang begitu dan mempercayaiku meski baru bertemu."
"B-Begitu ya?"
Naruse-san mengangguk disertai senyuman senang ketika mendengar perkataanku. Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku saja serta tertawa kecil ketika melihatnya. Tak kusangka, kalau kami tiba-tiba sudah sampai di depan pintu kamar kos-ku.
Mengetahui itu, aku langsung membuka pintu itu tanpa lupa memasukkan kuncinya ke lubang kunci dan membuka pintunya. Setelah terbuka, aku lalu masuk kedalam dan mempersilahkan Naruse-san juga masuk.
"Silahkan masuk, Naruse-san. Maaf kalau sempit dan tidak nyaman."
"Tidak apa-apa kok. Terima kasih ya, Akairyuu-san."
Setelah Naruse-san dan aku masuk kedalam, entah kenapa aku merasa gugup. Gugup karena mengajak Naruse-san? Sepertinya begitu. Karena ini pertama kalinya atau mungkin tidak, aku mengajak masuk seorang perempuan!
Tidak-tidak. Ini bukan pertama kalinya karena Rias dan yang lainnya sudah sering masuk apalagi menyelinap ke kamarku secara diam-diam. Apalagi saat aku sedang tertidur pulas.
"Silahkan duduk dimana saja, karena tempat ini tidak mempunyai kursi untuk duduk dan maaf kalau tidak menyuguhi apa pun, karena aku baru saja pindah kemarin dan tidak mempunyai peralatan serta bahan-bahan makanan atau cemilan untuk disuguhkan."
"Tidak apa-apa, Akairyuu-san. Nanti akan malah merepotkanmu kalau begitu."
"B-Begitu ya?"
"Ya, begitulah."
Untuk sesaat, suasana menjadi sepi dan sunyi. Pembicaraan menjadi terhenti. Aku bingung mau membicarakan apa agar suasana tidak sesunyi serta sesepi ini. Ketika aku mau mengatakan sesuatu, tiba-tiba Naruse-san menyerobot dengan mengatakan sesuatu terlebih dahulu dariku.
"Hei-hei, Akairyuu-san. Apakah kau… manusia? Karena biasanya manusia tidak berhubungan dengan iblis dan yang lainnya."
Ah, dia menanyakan itu ya? Apa yang sebaiknya kukatakan sebagai jawabannya ya?
"Um… aku seorang Hibrid."
"Oh. Hibrid apakah itu, Akairyuu-san?"
"Err… Hibrid Iblis-Naga."
"Wow! Hebat sekali! Ternyata ada orang yang Hibrid Iblis-Naga! Tak kusangka."
Tak kusangka kalau Naruse-san senang dan kagum seperti itu ketika mendengarku adalah seorang Hibrid Iblis-Naga. Ekspresinya agak beda dari Rias dan yang lainnya di dimensi ini. Memang ada yang kagum tapi ada juga yang biasa saja.
"B-Begitukah?"
"Ya, itu benar-benar hebat! Kau benar-benar luar biasa, Akairyuu-san."
"Hehehe… terima kasih. Baiklah, aku tadi lupa membeli makanan karena kejadian tadi. Jadi kurasa aku akan keluar untuk membelinya."
Mendengar itu dariku, kulihat ekspresi Naruse-san berubah. Dia memasang ekspresi sedih dan seperti merasa bersalah. Aku menjadi kaget dan panik saat melihatnya.
"A-Ada apa, Naruse-san? Apakah aku berbuat salah padamu?"
"U-Um… tidak kok, Akairyuu-san. Aku yang salah kok."
"Hah? Maksudnya? Kenapa kau bilang kalau kau yang salah, Naruse-san?"
"Itu karena… jika Akairyuu-san tidak menyelamatkanku serta membawaku kesini, pasti Akairyuu-san tidak capek-capek masuk-keluar hanya untuk membeli makanan."
Ah. Karena itu tadi ya? Memang benar sih dengan apa yang dikatakan oleh Naruse-san tapi entah kenapa instingku mengatakan kalau aku harus menyelamatkannya.
"Ah. Jika kau merasa bersalah seperti itu, bagaimana kalau ikut denganku untuk membeli makanan?"
"Ikut dengan Akairyuu-san membeli makanan?"
"Ya. Ini juga bisa dihitung sebagai permintaan minta maafmu padaku. Bagaimana?"
"Um… baiklah. Kalau begitu, aku akan ikut denganmu untuk membeli makanan, Akairyuu-san."
"Oh. Bagus, kalau begitu… ayo kita kesana!"
Aku yang mendengar itu langsung senang dan tanpa sadar aku langsung menggenggam tangannya lalu menariknya menuju supermarket untuk membeli makanan.
Oh ya, kalian pasti bingung darimana aku mendapatkan uang itu? Ya… tak kusangka kalau aku membawa dompetku dan tersimpan di saku celanaku. Aku tidak menyadarinya. Untung saja uang yang ada di dompetku cukup untuk membeli makanan.
Jika untuk 1 orang, mungkin cukup selama 5 hari makan dengan makanan cepat saji seperti onigiri supermarket. Kalau untuk 2 orang, sekitar 4 hari. Ya, aku tidak menyalahkan Naruse-san tapi ini karena aku hanya membawa uang segini.
Tak kusangka kalau kami sudah sampai di supermarket yang kami tuju. Kami yang mengetahui itu lalu masuk kesana dan saat masuk, aku menoleh ke Naruse-san dan kulihat kalau wajahnya merona merah. Itu membuatku bingung.
Tapi untuk beberapa saat aku mulai menyadarinya, karena genggaman tangan tadi belum kulepas darinya. Aku yang menyadari itu lalu melepas genggaman tangan dan meminta maaf sambil malu padanya.
"M-Maafkan aku, Naruse-san!"
"T-Tidak apa-apa kok, Akairyuu-san."
Sial! Kenapa aku melakukan itu? Ah kau bodoh, Issei! Ingat, kau tidak boleh membuat harem atau apa pun di dimensi ini!
Jika aku membuat harem disini, mungkin sejarah dari dimensi ini berubah dan… sepertinya sejarah dimensi ini sudah membengkok sejak aku ada disini. Ah, sebuah kesalahan yang sangat fatal. Jika tahu begini, aku tidak akan menunjukkan Boosted Gear kepada Vali dan bertarung dengannya!
"B-Baiklah, kalau begitu… ayo kita segera mengambil makanan yang kita butuhkan dan segera membayarnya lalu pulang."
"B-Baik!"
Aku dan Naruse-san lalu dengan cepat segera mengambil kebutuhan kami dan langsung membayarnya serta kembali karena saat ini jantungku berdetak dengan kencang dan perasaanku menjadi tidak karuan.
Perasaan tidak karuan ini muncul hanya gara-gara kami menggenggam tangan satu sama lain. Detak jantungku berdetak begitu kencang! Perasaan ini sama saat aku melihat Rias dan menyukainya. Apakah ini artinya… aku menyukai Naruse-san? Tidak-tidak! Itu tidak mungkin dan tidak boleh terjadi!
Ingatlah, Issei! Kau itu tidak tinggal di dimensi ini, tapi di dimensi yang berbeda jadi kau tidak boleh merasakan hal yang namanya jatuh cinta disini!
Setelah berjalan dengan cepat, tak disangka kalau kami tiba-tiba sudah sampai di depan kamar kos-ku. Aku lalu langsung membuka pintu kamar kos-ku dan kami lalu mengeluarkan semua belanjaan kami. Kami berbelanja makanan ringan, semacam bento sudah jadi di supermarket.
Tanpa basa-basi, kami pun memakannya dengan lahap dengan diiringi suasana diam dan hening di antara kami berdua karena kejadian tadi. Makan malam yang agak suram, itu menurutku… suasana diam dan hening yang mencekam ini, membuatku serasa tidak nyaman.
Aku yang merasakan ini, jadi tidak enak karena situasi menjadi seperti ini lalu aku mengawali pembicaraan ditempat ini dengan membuka mulutku agar tidak terasa sepi.
"B-Bagaimana makanannya, Naruse-san? Enak?"
"U-Uhm… enak sih tapi karena kita beli bento yang sudah jadi, ada yang kurang. Lebih enak lagi kalau kita bisa masak sendiri atau… Hah, maafkan aku ya, Akairyuu-san. Aku mengatakan sesuatu yang menyinggungmu!"
"A-Ah, tidak apa-apa. Itu wajar karena aku baru tiba disini dan uangku hanya cukup untuk makan saja saat ini."
Saat mengatakan kata-katanya, Naruse menutup mulutnya dengan tangan dan wajahnya memerah malu. Aku yang melihat ekspresi Naruse-san itu menjadi gemas karena lucunya wajah malu Naruse-san tadi.
Kulihat Naruse-san melirik-lirikku sebentar ketika aku memasang wajah gemas karena lucunya wajah malu Naruse-san itu.
"A-Ada apa, Naruse-san?"
"B-Bukan apa-apa… tapi kenapa Akairyuu-san melirik-lirikku? Apakah… ada yang salah denganku?"
"Ah tidak. Hanya saja… lucu saja melihat ekspresimu seperti itu. A-Ahahaha…."
Saat aku mengatakan itu, dia diam dan wajahnya semakin memerah. Aku agak bingung, apa mungkin dia malu saat aku bilang begitu? Gawat. Itulah hal yang bisa kukatakan. Ini benar-benar gawat, aku melakukan kesalahan lagi!
[Seperti biasa, kata-katamu menjadi sebuah rayuan bagi para perempuan, Partner.]
Berisik kau Ddraig. Aku saja tidak tahu kalau kata-kataku bisa diartikan sebagai itu.
[Hahaha. Jangan marah, itu sebuah pujian. Meski kadang aku berpikir, kalau tidak mungkin bagimu untuk merayu seorang perempuan tapi setelah melihatnya sendiri… voila. Kau berhasil melakukannya.]
Haah… terima kasih atas pujiannya.
Setelah berdebat kecil dengan sobatku Ddraig, yaitu sang Sekiryuutei dan jiwa yang mendiami Boosted Gear, aku dan Naruse-san melanjutkan lagi perjalanan kami menuju kost-anku.
Sesekali, aku melirik sekitar dan mencoba waspada dengan kemungkinan adanya serangan terhadap Naruse-san ini. Mataku dengan jeli dan teliti memeriksa sekeliling. Aku masih belum tahu apa yang para cecunguk yang kuhadapi tadi bicarakan.
Mereka mengatakan kalau Naruse-san itu berasal dari keluarga Bael! Bukankah keluarga Bael itu berambut coklat? Kenapa Naruse-san berambut merah? Apakah dia juga anggota keluarga Gremory?
Tidak-tidak. Kalau dia dari keluarga Gremory, kenapa namanya Mio Bael dan bukan Mio Gremory? Lagipula dia memakai nama jepang seperti Naruse Mio. Aku jadi bingung, kenapa dia memakai nama itu? Apakah dia berusaha menyamarkan dirinya dan namanya agar tidak dikejar serta diburu oleh mereka? Kurasa begitu…
"Akairyuu-san, kita sudah sampai di kamar kost-mu."
"Ah. Begitu ya? Aku tak menyadarinya. Ahahahaha…"
"Dasar Akairyuu-san. Apakah kau melamun? Hihihi."
Astaga. Aku benar-benar lupa akan itu dan malah membuat diriku bodoh!
Aku menggaruk bagian belakang kepalaku sambil tertawa kikuk dan melihat Naruse-san yang tertawa kecil ketika mendengar perkataanku dan tingkahku tadi.
Aku malah menjadi gugup dan kikuk ketika mendengar suara tawanya dan wajahnya yang saat ini tertawa karenaku tapi aku tersenyum senang karena kurasa aku bisa membuat Naruse-san agak tenang dan melupakan tentang dirinya yang diserang tadi.
Aku lalu membuka pintu kamar dan masuk dengan diikuti oleh Naruse-san dibelakangku. Setelah selesai masuk kedalam, aku dengan dibantu Naruse-san menyiapkan makan malam kami ini. Makan malam berdua…. Gaaahhh! Apakah ini benar-benar terjadi? Aku merasa kalau kami ini seperti sepasang suami-istri yang baru menikah dan hidup bersama sambil saling membantu dalam suka mau pun duka.
[Partner, jangan kau lakukan. Ingat, pikiran mesummu bisa meracuni semua orang, apalagi ini dimensi yang berbeda. Kuharap kau juga tidak begitu meracuni dirimu yang lain di dimensi ini.]
Gaaah! Kenapa kau berpikiran seperti itu, sobatku? Memangnya aku separah apa sampai-sampai kau berpikiran begitu, hah?
[Em… bagaimana menjelaskannya ya? Secara sifat, kau memang parah dan terburuk. Mesum, egois, bodoh dan tidak tahu malu.]
Jleb!
Ohok! K-Kata-katamu sungguh menusuk…
[Begitu juga secara fisik, kau begitu menyedihkan. Badan lemah, tidak bisa bertarung, wajah pas-pasan dan malah terlihat mesum karena sifatmu.]
Jleb-jleb-jleb!
Guuhh! Gaahhk! H-Hentikan itu, Ddraig! Kumohon…! Jantungku… jantungku… sudah hampir tidak kuat mendengarnya…!
[Partner, kenapa kau menjadi begitu lebai? Aku bingung denganmu. Apakah ini akibat dari pengaruh perpindahan dimensi?]
Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin ini sudah bawaan dari lahir, Ddraig tapi baru keluar disaat-saat seperti ini. Ya sudahlah, kau tidur saja dulu. Aku akan memanggilmu jika ada masalah atau butuh bantuan.
[Baik-baik. Hoaaam…]
Setelah mengakhiri percakapan singkat kami itu, aku menyuruh Ddraig untuk tidur karena saat ini aku tak begitu perlu bantuan Ddraig. Tanpa Ddraig bangun pun, aku bisa melawan musuh atau lawanku. Bukan bermaksud sombong tapi aku mungkin hanya akan melawan mereka di mode biasa yaitu menggandakan kekuatan.
Aku duduk di meja bundar kecil bersama Naruse-san dan membuka kotak bekal makanan yang kubeli dari supermarket tadi. Bento atau kotak bekal makanan instan dari supermarket memang tidak hangat tapi untung saja aku diperbolehkan untuk menghangatkannya di supermarket tadi.
Kenapa aku tidak menghangatkannya di kamarku? Karena aku tidak punya apa-apa! Sudah jelas sekali aku tidak punya apa-apa karena niatku ke dimensi ini hanyalah satu… liburan! Ya, apakah ada orang normal yang pergi berlibur dengan mengunjungi dimensi lain? Tidak ada, karena hanya orang-orang yang begitu ruar-biasaaa saja yang bisa. Seperti orang yang bisa sihir atau terlibat dengan urusan dunia supranatural seperti diriku lah yang bisa melakukannya.
"Selamat makan."
Kami berdua mengucapkan salam disaat akan makan secara bersamaan dan mulai mengambil sumpit lalu memakan serta mengunyah lauk dan nasi yang ada di kotak bekal itu. Rasanya biasa saja dan tidak seperti buatan ibuku tapi tidak apa-apa lah, namanya juga kotak bekal supermarket.
Aku jadi kepikiran, apakah aku juga harus pandai memasak? Supaya aku bisa menghemat pengeluaran untuk biaya hidupku dan Naruse-san? Meski aku sudah mendapatkan kerja paruh waktu atau sambilan dengan gaji yang lumayan, tetap saja aku harus menjadi mandiri.
Ya, selama ini aku selalu dimanjakan dan diurus oleh orang lain seperti ibu, ayah, Rias, Akeno, Koneko, Asia dan lainnya. Terutama Rias, dia selalu memanjakanku. Keluarganya juga, keluarga Gremory, begitu baik padaku dan sudah kuanggap sebagai keluarga kedua bagiku.
Bahkan rumahku saja direnovasi dengan gratis, aku juga menjadi artis dunia bawah dalam acara tokusatsu-ku sendiri dengan judul Chichiryuutei Oppai Dragon! Sialan, hanya gara-gara aku selalu berkata dada atau Oppai saja, mereka menjulukiku Oppai Dragon dan sampai membuatkan acara tokusatsu-nya segala!
Ya, meskipun anak-anak juga menyukainya sih. Aku tak bisa begitu saja membuat anak-anak itu kecewa, lagipula aku juga menyukai anak-anak tapi aku bukanlah lolicon atau pedofil! Sudahlah, lupakan itu dan itu malah akan membuat Ddraig tambah stres serta depresi.
Kurasa aku benar-benar harus memasak sendiri. Berarti aku harus membeli peralatan memasaknya. Kuharap harganya tidak mahal, kalau bisa sih yang murah dan terlihat masih bagus. Aku tidak mau membeli mahal-mahal tapi tidak bagus.
"Terima kasih atas makanannya."
Akhirnya… selama 10 menit, mungkin, kami makan tadi… selesai juga. Lumayan untuk mengisi perut. Kulihat Naruse-san sebentar… cantik dan… dadanya begitu besar, ehehehe. Ukurannya mungkin sebesar punya Rias atau lebih besar sedikit?
Ah, aku ingin sekali meremas dan menghisap dadanya yang besar dan bergelantungan seperti balon dan melon itu. Dadanya seperti melon yang segar dan manis, besar dan berisi. Idaman para laki-laki diseluruh dunia!
"A-Akairyuu-san? Ada apa denganmu?"
"A-Ah! T-Tidak ada apa-apa kok, Naruse-san. A-Ahahahaha!"
Sial! Kenapa aku begitu gugup dan kikuk ketika menjawabnya. Bahkan, mimisanku terjadi lagi. Darah segar mengalir dari kedua lubang hidungku.
Kulihat Naruse-san menjadi panik dan kaget ketika melihatku yang mimisan. Dia lalu mencoba mencari sesuatu yang bisa dia pakai sebagai lap atau serbet. Kelihatannya dia mau menghentikan mimisanku dengan mengusapnya.
"N-Naruse-san, tidak usah…! Ini hanya hal yang biasa terjadi kok!"
"B-Benarkah itu, Akairyuu-san?"
Aku mengangguk ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Naruse-san. Dia menghela nafas lega sejenak tapi kekhawatiran sepertinya masih ada padanya.
"Apakah kau mengkhawatirkanku, Naruse-san?"
"J-Jangan salah paham dulu, Akairyuu-san. A-Aku mengkhawatirkanmu karena… k-kau adalah penyelamatku."
"A-Ahahaha… begitu ya?"
Agak kecewa juga mendengar kata-kata itu dari Naruse-san. Kukira dia mengkhawatirkanku karena alasan lain tapi ternyata… ya sudahlah, kelihatannya ini sudah takdirku. Lagipula ini adalah dimensi yang berbeda dari dimensi tempatku berasal. Kurasa aku tidak akan bisa memulai kehidupan haremku di dimensi ini.
Begitulah… kejadianku hari ini bersama dengan seorang perempuan berambut merah twintail, yaitu Naruse Mio, sudah selesai… kurasa. Karena aku agak malas menjelaskan lagi kejadian yang akan terjadi sekarang.
Kejadian biasa seperti mandi sejenak dan lalu tidur sampai besok pagi lalu bangun dan berangkat sekolah. Oh ya, aku lupa menanyakan satu hal kepada Naruse-san.
"Naruse-san, apakah kau mau bersekolah di sekolahku?"
"Bersekolah di sekolah yang sama denganmu?"
"Ya. Kurasa dengan itu, aku bisa melindungimu dari orang-orang yang seperti tadi. Bagaimana?"
"Hmm…"
Naruse-san memasang pose berpikir ketika mendengar tawaran dariku itu. Memang sih, jika dia masuk ke sekolah yang sama denganku, aku bisa dengan mudah menjaganya dari sekumpulan orang seperti tadi.
Setelah sekitar 3 menit dia berpikir dan aku yang masih menunggunya, ekspresinya berubah dan dia menganggukkan kepalanya. Dia lalu menatapku dengan tatapan serius dan berkata sesuatu padaku.
"Aku mau, Akairyuu-san."
"Begitu ya? Baiklah. Terima kasih ya, Naruse-san."
"Sama-sama, Akairyuu-san. Aku senang bisa disekolah yang sama denganmu, aku jadi merasa tenang."
"Benarkah? Terima kasih. Besok akan kuantarkan dan kudaftarkan, semoga saja kita mendapatkan keringanan biaya untuk sekolah. Ahahahaha…"
Aku menggaruk pipiku sambil tertawa garing ketika mengatakannya. Naruse-san hanya tertawa kecil ketika mendengar kata-kataku itu. Ketika aku ingin menanyakan kenapa dia tertawa, dia malah berkata tidak ada apa-apa.
Bingung. Itulah yang kurasakan saat ini, ketika aku mau menanyakan lagi… dia malah masuk ke kamar mandi dan berkata ingin menghilangkan lelah serta letih dari badannya itu.
Aku hanya menghela nafas sambil menempelkan kepalaku di meja dan menunggunya selesai mandi karena aku juga ingin membersihkan badanku ini. Entah kenapa, tiba-tiba mataku menjadi berat… berat sekali dan serasa ingin tidur untuk membuatnya ringan kembali.
"Zzz… Zzz…"
Aku pun tertidur pulas dan mendengkur karena mataku begitu berat dan perlu diistirahatkan sejenak agar menjadi segar dan ringan kembali.
30 menit kemudian…
Aku merasakan pipiku disentuh oleh sesuatu. Kuabaikan saja dan masih tidur tapi pipiku kembali disentuh berulang-ulang sekitar 10x. Karena ini benar-benar menggangguku, aku pun mencoba membuka kelopak mataku secara perlahan dan melihat apa yang menyentuh pipiku tadi.
"Naruse… -san?"
"Hehehe, maaf ya, Akairyuu-san."
Ya, orang itu ternyata adalah Naruse-san. Seorang perempuan berambut merah twintail berdada besar dan mirip dengan Rias. Dari penampilannya, kelihatannya dia sudah selesai mandi.
"Tidak apa-apa, aku akan mandi juga kalau begitu."
"Baik. Selamat mandi, Akairyuu-san."
Aku mengangguk mendengar itu lalu mengambil handuk darinya yang sudah selesai mandi. Handuk yang kupunya hanya 1, jadi… di handuk ini pasti masih tersisa dan menempel bau harum dari tubuh Naruse-san. Uehehehehe…
Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi dan kubuka pintu kamar mandi lalu masuk kedalamnya. Semua baju kulepas dengan cepat sampai melebihi kecepatannya Kiba, begitu juga dengan mandiku. Kupercepat sampai melebihi kecepatan dari mode Welsh Sonic Boost Knight.
10 menit kemudian…
Setelah 10 menit mandi, akhirnya aku sudah selesai juga mandinya. Oh, jangan lupa dengan bajuku tadi. Dimana dia? Ah, ini!
Setelah berhasil menemukan bajuku yang kutaruh di keranjang baju kecil dan tidak terlalu besar itu, aku lalu memakainya. Kupakai dengan hati-hati dan teliti, karena pakaian yang kupakai saat ini adalah pakaian santai kemarin dan hanya satu-satunya yang kumiliki dengan keuanganku sekarang.
Seragam SMA Kuoh sudah kutaruh ditempat yang aman, yaitu dibawah meja kecil tempat kami makan tadi. Untung saja lantai kamarnya bersih dan tidak kotor, jadi aman-aman saja serta saat kami makan tadi, makanannya tidak berjatuh dan tidak mengenai baju seragamku. Untung saja, hanya itu yang bisa kukatakan.
"Baiklah Naruse-san, lebih baik kita tidur, karena besok kita harus bangun agak pagi untuk mendaftarkanmu ke sekolah."
"B-Baik, maaf merepotkanmu."
"Tidak apa-apa, aku akan menyiapkan semuanya. Dengan sihir, apa pun bisa."
Naruse-san yang mendengar kata-kataku itu hanya tersenyum senang saja. Dia lalu segera tidur… bersampingan denganku karena futonnya hanya 1 saja! Jangan salahkan aku, ini bukan tindakan dan keinginanku!
Aku pun juga segera tidur dengan futon itu. Futon itu dibagi berdua dan kami tidur dengan saling membalikkan badan ke arah lain.
Deg-Deg-Deg
Jantungku berdetak begitu kencang! Sial, ini pasti karena aku gugup tidur dengan Naruse-san. Padahal aku sudah sering tidur dengan Rias dan lainnya. Ada apakah denganku? Apakah karena Naruse-san adalah orang asing bagiku, karena kami baru pertama bertemu? Kurasa karena baru pertama bertemu.
Ya sudahlah, kurasa aku hanya akan tidur saja dan bangun dikeesokan harinya. Selamat tidur.
Keesokan harinya, pagi hari…
"Akairyuu-san, bangun…"
"Ngghh… 5 menit lagi…"
"Ini sudah jam 6 pagi, Akairyuu-san. Kau harus mendaftarkanku dulu sebagai murid disekolahmu."
Mendengar kata-kata itu dari Naruse-san, aku langsung bangun dan kaget.
"Hah! Benar juga, apa kau sudah mandi dan makan?"
"Sudah, Akairyuu-san. Tinggal dirimu saja yang belum."
"B-Baiklah. Aku akan mandi lalu makan dengan cepat!"
Setelah mendengar kata-kataku itu, Naruse-san mengangguk dan menghela nafas sambil tersenyum simpul. Dengan buru-buru dan dikejar waktu, aku lalu berlari ke kamar mandi dan segera mandi. Aslinya aku bisa saja berangkat ke sekolah hanya dengan membasuh wajahku tapi kelihatannya tidak enak jadi kuputuskan untuk mandi saja.
11 menit kemudian…
Akhirnya aku selesai mandi juga dan kenapa aku merasa seperti merasakan déjà vu ya? Ah sudahlah, sekarang waktunya makan. Apa yang kubeli kemarin ya? Ah, apakah ada roti? Kuharap ada.
Aku lalu mencari-cari dimana kemarin kantong plastic berisi makanan yang sudah kubeli dari supermarket. Setelah mencari-carinya, akhirnya kutemukan dan kurogoh isinya, berharap ada roti atau apa pun yang bisa dimakan dengan cepat karena meskipun jam pelajaran pertama belum dimulai, aku harus mendaftarkan Naruse-san ke SMA Kuoh dulu.
"Dapat! Ayo Naruse-san, kita ke SMA Kuoh!"
"B-Baik, Akairyuu-san."
Setelah berhasil mendapatkan makanan dan untung saja roti, aku lalu segera menyuruh Naruse-san untuk segera pergi ke SMA Kuoh dengan cepat dan tidak membuang-buang waktu. Setelah keluar dari kamar, tak lupa ku kunci kamarku agar tidak membuatnya mudah dijadikan sasaran bagi para rampok.
Lagipula, apa yang akan dirampok dariku ini? Kamarku kan isinya tidak begitu mewah dan banyak, apalagi berharga. Kalau dirampok atau mungkin lebih tepat disebut diculik, yang diculik adalah Naruse-san atau diriku yang notabenenya adalah Sekiryuutei.
Kami pun langsung berlari. Aku menyuruh Naruse-san berlari karena kalau menggunakan sihir teleportasi nanti akan mengundang kecurigaan dari orang-orang. Dia pun mengerti dan ikut-ikutan berlari.
Boing-boing-boing-boing
Suara dada besarnya yang memantul akibat dari dirinya yang tengah berlari ini, membuat nafsu mesumku menjadi naik. Ah, jangan… jangan…! Tahan hasrat mesummu, Issei! Jika tidak, itu bisa bahaya! Tahan… huff… tahan… huff…
Setelah berlari selama 10 menit, kami akhirnya sampai di depan gerbang sekolah SMA Kuoh. Masih sepi dan kulihat yang masuk ke area sekolah hanyalah pegawai dan para guru serta lainnya. Aku menoleh ke Naruse-san.
"Naruse-san, ayo masuk kedalam."
"Baik, Akairyuu-san."
Dengan anggukan dari Naruse-san, kami pun melangkahkan kaki kami memasuki area dalam sekolah untuk berjalan menuju ruang kepala sekolah agar bisa mendaftarkannya ke SMA Kuoh. Sepertinya nanti aka nada keributan luar biasa yang terjadi, seperti para murid laki-laki akan iri padaku… semoga saja tidak.
10 menit kemudian…
Kami akhirnya sampai di ruang kepala sekolah. Suasana sekolah masih begitu sepi, aku mengetuk pintu ruang kepala sekolah lalu tak lama kemudian, pak kepala sekolah membuka pintunya. Setelah aku menjelaskan alasan kenapa aku menemuinya, dia mengangguk setuju.
Aku dan Naruse-san lalu masuk kedalam untuk membicarakan masalah Naruse-san menjadi murid baru disekolah ini. Entah kenapa, aku jadi seperti orang tua, saudara atau pamannya karena aku yang mengurus segalanya tentang keperluan sekolahnya saat ini.
Setelah bicara panjang lebar meski tadi ada sedikit ketidaksetujuan, aku dan kepala sekolah akhirnya mencapai kesetujuan dengan bermodalkan sedikit sihir tapi hanya sihir untuk mengubah sedikit ingatannya.
Kepala sekolah memberikan keperluan yang dibutuhkan untuk sekolah padaku, aku lalu memberikannya kepada Naruse-san dan dia berkata kalau dia ingin memakainya sekarang ini disini. Aku menjadi kaget akan itu, kubuat dulu pak kepala sekolah pingsan dan aku membalikkan badanku ke arah lain untuk tidak mengintip Naruse-san berganti baju.
8 menit kemudian…
"Sudah selesai, Akairyuu-san."
Aku yang mendengar itu lalu membalikkan badanku dan melihat baju Naruse-san berganti menjadi seragam SMA Kuoh. Oooh, cocok juga jika dia memakai begitu.
"Baiklah, kalau begitu aku ke kelas dulu, Naruse-san. Nanti ada guru pembimbing yang sudah dipanggil pak kepala sekolah datang dan memandumu menuju kelasmu."
"A-Ah. B-Baiklah…"
Aku berdiri dari dudukku dan mengangguk lalu melambaikan tanganku padanya. Kakiku melangkah keluar dari ruangan itu dan bersiap meninggalkan Naruse-san sendirian. Kurasa dia ada di kelas yang berbeda denganku tapi tidak apa-apa lah, aku bisa melindunginya meskipun berbeda kelas.
Oh ya, aku baru sadar kalau sekarang aku sekelas dengan Rias dan Akeno. Ya, sekelas dengan dua Great Onee-sama itu memang hal langkah yang jarang terjadi. Sekelas dengan dua orang cantik dan berdada besar itu adalah suatu anugrah!
Tak disangka, selama aku berpikiran itu saat berjalan menuju kelas… ternyata aku sudah sampai di depan ruang kelas. Tanpa basa-basi, aku lalu membuka pintu dan masuk kedalamnya. Kakiku melangkah menuju tempat dudukku, yaitu disebelah Rias.
Setelah sampai, aku lalu duduk dan merenggangkan badanku lalu tidur sejenak. Jam 06.29 AM… hampir waktunya jam pelajaran pertama. Kurasa tidak sia-sia aku bangun pagi tadi.
10 menit kemudian…
Zzz… Krr…
Sreg!
Ng? Aku mendengar suara pintu dibuka… apakah sudah waktunya guru datang.
Saat mendengar suara itu, yang kurasa adalah suara pintu dibuka… aku juga mendengar suara langkah kaki seseorang, bukan… tapi dua orang. Aku jadi bingung, siapa satunya? Bukankah guru yang mengajar hanyalah satu.
Aku juga mendengar kalau ternyata disekitarku mulai menjadi ramai akan para murid kelasku. Bahkan aku sedikit melirik Rias dan Akeno yang ternyata sudah ada di sampingku. Mereka mengobrolkan sesuatu.
Lalu, tiba-tiba mereka memandang ke depan. Aku jadi bingung, ada apa di depan dan mereka langsung bersikap normal lalu memperhatikan guru mereka.
"Nah. Perkenalkan dirimu kepada mereka."
"Baik."
Tunggu… suara ini… oi-oi…
"Salam kenal semuanya, namaku Naruse Mio. Semoga bisa berteman baik dengan kalian."
Apa kau bercanda?! Kenapa Naruse-san bisa sekelas denganku?!
Mataku membulat kaget ketika melihat adanya Naruse-san disini. Dia menjadi murid di kelas yang kutempati ini. Apakah ini kebetulan atau takdir? Aku tidak tahu tapi yang pasti… keterkejutanku tidak bisa hilang! Oh Satan, kuharap nanti tidak ada keributan karena masalahku dan Naruse-san.
Pojok SBS
Forneus787 : :v
iibjunior : akan dicoba untuk bumbu emosinya dan mungkin akan jelek karena baru pertama buat. kalau untuk itu, lihat aja sendiri, hohohoho
Falling in Time : :v
Vali992 : nguahahaha, begitulah
kamprettama : ok-ok
Guest : ya, makasih atas sarannya dan pujiannya
Shinn Kazumiya : '-'
fahri uchiha : terima kasih
feba anata : sedap kayak mie sedap? :v
arafim123 : wahahaha, kebiasaan ane
Issei07 : biasa kalau alur lambat, dua sekiryuutei karena dia udah nunjukin sebentar BG-nya kepada Vali.
47 : hahahaha, lihat aja sendiri nanti apakah naruto akan lebih kuat dari issei canon S1. untuk kemenangan, itu masih rahasia dan bacodnya dihilangin sedikit aja
monkey D nico : begitukah? maaf ya :D
ardnet lucifer : alasannya adalah karena sudah selesai melakukan percobaan kepada fanfic dengan MC Naruto. ingin mencoba menjadikan Issei MC yang dikenal banyak orang dan tidak dihina. ingin juga membuat cerita non-mainstream dari MC Issei.
Untuk yang review lanjut doang, makasih tapi masa cuman review lanjut doang? :v Kasih dong review yang bagus kek :v
To be continued... To the next chapter.
