Another DxD
Summary : Sudah 3 bulan lebih, sejak 666(Trihexa) dikalahkah oleh tim DxD dengan dibantu oleh sekutu lainnya. Hyoudou Issei, sang Sekiryuutei, sedang merasa kebosanan dan meminta saran kepada Ddraig untuk melakukan apa. Ddraig pun menyarankan untuk berkunjung ke dimensi lain dengan bantuan Great Red. Apakah yang akan terjadi? Saksikan sendiri!
Pairing : Issei x ?
Rating : T
Genre: Action, Adventure, Fantasy, Ecchi, Romance, Humor, Demons, School, Harem
Disclaimer : High School DxD dan Naruto bukanlah milik saya
Warning : Goodlike!Issei Canon!Issei AU! Gaje! Mainstream
Chapter 06 : Sampai jumpa!
Kucoba untuk mengambil tanpa permisi buku pelajaran Rias yang ada disampingku itu lalu menutupi wajahku dengan buku itu dan berpura-pura belajar serta tidak mengenal Naruse-san.
Sumpah. Bisa-bisa akan terjadi sesuatu yang gawat jika Naruse-san mengenalku dan kuharap aku tidak akan merasakan yang namanya déjà vu lagi. Meski aku sudah pernah merasakannya ketika Hyoudou Naruto atau Naruto pertama kali mati lalu dihidupkan lagi atau tepatnya direinkarnasikan menjadi budak iblisnya si Rias.
[Hahahaha. Sepertinya keberuntungan berada di pihakmu ya, partner?]
Berisik! Keberuntungan apanya, hah? Yang kudapat malah nanti kesialan. Aku tidak mau kejadian di dunia asalku terulang lagi disini.
Aku hanya menghela nafasku saat selesai mengatakan itu dan bisa kudengar suara tawa dengan nada berat dari sang naga merah ini. Kurasa aku tak bisa menganggap hal ini keberuntungan, melainkan sebuah kesialan.
Memang sih aku selalu ingin disukai dan dicintai banyak perempuan tapi sekarang kan aku sudah berada di dimensi yang berbeda. Apalagi sekarang ekstensiku dipecah menjadi 2 dan juga sepasang saudara! Laki-laki dan perempuan. Laki-laki tampan dan perempuan yang cantik, apalagi mereka terkenal di SMA Kuoh.
Sungguh beruntung sekali, diriku yang ada di dimensi ini. Apakah nasib diriku di berbagai dimensi juga berbeda? Apa penampilan dan hal lainnya juga berbeda? Apakah hanya aku saja, yaitu Hyoudou Issei, yang selalu sial? Gah. Dasar! Aku bahkan harus mati-matian untuk mendapatkan harem, meski hanya satu atau dua saja!
Bahkan aku sudah pernah mati sebanyak dua kali! Pertama, dibunuh saat berkencan oleh si brengsek Raynare. Kedua, karena tubuhku terkena racun Samael saat melawan si bajingan Shalba Beelzebub. Yah, meskipun pada akhirnya aku mendapatkan tubuh baru berkat bantuan Great Red dan diberi kekuatan oleh Ophis.
Lebih parah lagi ketika aku menggunakan mode [DxD] – Diabolos Dragon, aku tak bisa mengatakan atau melihat dada besar! Sebuah rasa sakit luar biasa yang selevel ketika terkena tombak cahaya kurasakan tiap kali memikirkan dan mencoba mengatakan kata-kata itu.
Bahkan kedua orang tuaku jadi mengetahui tentang dunia supranatural. Aku merasa bersalah namun mereka menerimanya, meski aku tidak terima ketika melibatkan kedua orang tuaku! Haah. Entah kenapa aku kesal tiap kali mengingat hal itu.
"Baiklah Naruse-kun. Kau bisa duduk di depan Akairyuu-kun. Akairyuu-kun, silahkan angkat tanganmu."
Mendengar itu, aku pun mengangkat tangan kananku. Naruse-san berjalan menuju arahku! Dia memasang sebuah senyuman ramah meski tadi dia terkejut ketika melihatku. Aku yakin dia pasti tadi terkejut karena berada di kelas yang sama denganku.
Sial-sial-sial. Naruse-san disini. Dia duduk didepanku lagi! Ddraig sobatku, apa yang harus kulakukan?!
[Hm… diam saja dan perhatikan pelajaranmu. Ingat, kau sudah kelas 3 sekarang. Belajarla yang rajin.]
S-Sialan kau. Baiklah kalau itu maumu, akan kuturuti.
Dan begitulah perbicangan sejenakku dengan sobatku Ddraig. Kurasa aku harus menerimanya. Semoga aku tidak diperlakukan seperti dulu lagi karena berkenalan dengan Naruse-san yang notabenenya adalah seorang gadis yang cantik dan seksi itu.
Haah. Waktu istirahat, sungguh waktu yang menyenangkan dan biasa kugunakan untuk mengintip para gadis di klub kendo. Namun kelihatannya sekarang aku tak bisa melakukannya. Bisa-bisa aku mendapatkan sebuah reputasi yang buruk disini.
Aku tak mau di dimensiku dan dimensi ini mendapatkan reputasi yang buruk. Cukup di dimensiku saja. Lagipula… aku hanya sebentar saja berada disini. Mungkin hanya sekitar 1 tahun saja.
Kuhela nafasku sambil menatap ke arah jendela kelas disebelahku itu dengan tatapan kosong. Mataku tak sengaja melirik ke arah dimana terlihat 3 sosok orang yang terlihat buru-buru. Ya, mereka adalah Naruto, Matsuda dan Motohama.
Mereka bertiga bergegas menuju spot mengintip di ruang ganti klub kendo. Ya, kelihatannya kebiasaan mengintip mereka tak pernah hilang bahkan di dimensi ini namun yang lebih menjengkelkan adalah dengan adanya si Hyoudou Naruto ini.
Hyoudou Naruto, dia salah satu orang yang menggantikan ekstensiku, Hyoudou Issei di dimensi ini. Dia adalah seorang pemuda berambut oranye jabrik dengan mata safir dan wajah rupawan yang bisa dibilang tampan. Dia dikenal sebagai Pangeran Mesum karena meskipun dia mesum tapi disegani dan disukai banyak perempuan namun dia juga anggota dari Trio Mesum.
Saudarinya dia, ya dia punya saudari, adalah seorang gadis cantik dan imut bernama Hyoudou Elis. Dia bisa dibilang adalah diriku versi perempuan tapi dengan sifat seperti Asia, yaitu polos dan penyayang. Sungguh tidak adil sekali, aku merasa diriku yang ada di dimensi ini begitu beruntung.
Sekali lagi, aku menghela nafas berat. Merenungkan hal itu tak ada gunanya juga. Aku harus segera mencari cara untuk pulang ke dimensiku sendiri.
Oh ya, bagaimana kalau pergi ke Dimensional Gap dan menemui Great Red? Hah! Aku jenius! Wahahahaha! Masalah terpecahkan dan selesai tanpa hambatan! Tinggal gunakan sihir teleportasi dengan titik koordinat yang Ddraig simpan, masalah tuntas!
Bagus. Setelah pulang sekolah aku akan kesana. Bisa gawat kalau aku membolos.
Dengan penuh percaya diri, aku tersenyum senang. Namun tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari depan yang memanggilku. Ternyata itu adalah Naruse Mio-san! Perempuan cantik berambut merah twintail, bermara merah muda dan berdada besar.
"A-Ada apa, Naruse-san? Apa ada perlu denganku?"
"Anu… bisa temani aku berkeliling sekolah, Akairyuu-san? Aku belum begitu kenal lingkungan sekolah."
"Eh. Tapi kan kau bisa minta ke teman-teman sekelas. Ya kan, teman-teman?"
Mereka, teman-teman sekelasku, mengangguk mendengar kata-kata dariku namun kulihat ekspresi wajah Naruse-san menjadi aneh. Ya, dia cemberut, kedua pipinya mengembung tanda cemberut sambil melirik ke arahku dengan tatapan sebal.
Astaga. Kesalahan apa lagi yang kuperbuat? Ddraig, tolong beritahu diriku ini!
Mendengar permintaan tolongku itu, membuat sang Kaisar Naga Merah yang mendiami Boosted Gearku terbangun. Tentu saja aku dan Ddraig berbicara lewat telepati, jadi tidak akan dikira aneh oleh orang-orang disekitar.
[Hm? Hoaam… selamat pagi, Partner. Maaf aku bangun kesiangan.]
Tidak apa-apa. Sekarang jawab pertanyaanku! Kenapa Naruse-san cemberut dan menatapku dengan tatapan sebal? Aku butuh bimbinganmu, wahai sobatku!
[Hm… tidak disini dan di dimensi asalmu, kau sama bodohnya ya? Sudah jelas-jelas dia sebal karena kau tidak mau menuruti keinginannya.]
Keinginannya? Eh… tapi kan dia bisa menyuruh teman-teman sekelas daripada aku. Aku sebisa mungkin ingin dia bisa bergaul dengan orang-orang di sekolah, seperti di kelasnya. Lagipula dia kan penghuni dimensi ini, sedangkan aku tidak.
[Partner… ya, kau benar juga sih tapi tak ada salahnya juga kau ikutan bergaul dengan mereka meski dirimu bukan penghuni dimensi ini. Kau tahu, sendirian itu tidak enak, meski ada beberapa orang yang lebih suka sendiri tapi kuharap kau tidak seperti itu.]
…Ddraig. Yah tapi apakah tidak apa-apa? Kau tahu, masalahnya aku bukanlah penghuni dimensi ini. Jika aku kembali, mereka pasti akan melupakanku. Itu lebih menyakitkan daripada sendirian. Melihat teman-teman yang sudah kau dapat dengan susah payah, menangisi kepergian dan menunggu kedatanganmu yang bisa dibilang mustahil.
[Pikirkan hal itu nanti! Kau ingin merubah dirimu menjadi lebih baik kan? Maka sekaranglah saatnya. Aku tahu ini mungkin tak berpengaruh begitu besar di masa depan karena kau pasti akan kembali lagi, namun jangan sia-siakan! Mungkin saja ini berpengaruh lebih baik ketika kau sudah kembali!]
Begitu ya… entah kenapa apa yang Ddraig katakana serasa masuk akal. Ya, memang aku pasti akan dilupakan dan tidak mungkin kembali ke dimensi ini bila urusanku selesai. Aku tahu itu dan sangat mengerti.
Baiklah Ddraig. Aku mengerti hal itu dan oh ya… sepulang sekolah, aku akan pergi ke Dimensional Gap. Mencoba memeriksa apakah kita bisa kembali lagi! Kau masih ingat koordinat lokasinya kan? Jangan bilang tidak!
[O-Oke. Aku masih ingat sih tapi seperti kataku, aku tak bisa menjamin 100% lho.]
Tidak apa-apa. Meski aku masih tidak percaya padamu setelah membuat kita terjebak disini, namun kesampingkan dulu hal itu. Lebih baik aku mengantar Naruse-san berkeliling area sekolah. Terima kasih atas saranmu Ddraig!
[Owh. Sama-sama. Semoga beruntung dan aku akan kembali tidur~.]
Ya-ya. Selamat tidur Ddraig.
Dengan begitu, obrolanku dengan Ddraig berakhir. Aku lalu menoleh ke Naruse-san dan menatapnya sambil tersenyum.
"Baik-baik, Naruse-san. Akan kuantar. Jangan marah begitu. Oke?"
Seketika, ekspresi cemberut dan tatapan sebalnya berganti menjadi ceria. Dia memasang wajah senang dan tersenyum sambil mengangguk setuju padaku.
"Um! Terima kasih, Akairyuu-san."
"Sama-sama. Ayo, Naruse-san."
Aku lalu berdiri dari tempat dudukku sambil menjulurkan tangan kiriku padanya dengan sebuah senyuman. Dia pun menerima uluran tanganku dan kami lalu berjalan keluar kelas dengan tujuan untuk mengenalkan lingkungan sekolah kepada Naruse-san.
Naruse-san begitu senang sekali ketika kuajak berkeliling sekolah. Aku hanya bisa tertawa pelan saja ketika menanggapi tiap kata-kata dan ekspresi yang dia keluarkan itu. Ya, meski dia sempat marah-marah karena malu padaku tapi itu menyenangkan.
Beberapa menit kemudian, kami akhirnya sudah selesai berkeliling sekolah. Untung saja tak ada hambatan, jadi selesai tepat waktu sebelum pelajaran berikutnya.
"Baiklah. Sepertinya sudah selesai. Bagaimana Naruse-san? Apa kau sudah puas?"
"Hmm… sebenarnya sih belum tapi aku tak mau merepotkanmu, Akairyuu-san. Jadi kapan-kapan saja! Bagaimana?"
"Ah, begitu ya? Ya sudahlah. Lebih baik kita segera masuk ke kelas atau kita akan dimarahi."
"B-Baik!"
Aku mengangguk sambil tersenyum simpul sembari berjalan menuju kelas dengan ditemani oleh Naruse-san. Ya, meski kami sudah berkeliling sekolah untuk mengenalkannya kepada Naruse-san, tapi dia masih belum puas.
Itu membuatku bingung. Yah, kesampingkan saja hal itu dan pikirkan kapan-kapan.
Bel pelajaran terakhir pun sudah berbunyi. Artinya menandakan waktu pulang sekolah sudah tiba. Para murid dan guru berhamburan keluar dari kelas atau ruangan lainnya dengan tujuan untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
Begitu juga denganku, Akairyuu Issei. Ya, itu adalah namaku sekarang di dimensi ini. Aku berniat untuk pulang, namun ada satu hal yang masih belum kulakukan.
Hngghh! Akhirnya pulang sekolah! Bagus-bagus. Sekarang saatnya berangkat ke Dimensional Gap! Oke Ddraig, bangunlan! Berikan aku koordinatnya.
[Nghh… baik-baik. Hoaam… ini kuberikan.]
Setelah membangunkan Ddraig si Naga Pemalas ini dan diberikan koordinat lokasi Dimensional Gap, aku langsung bergegas pergi dari kelas dan menuju ke halaman belakang sekolah.
"A-Akairyuu-san!"
"Eh?"
Aku tiba-tiba merasakan tangan kiriku dipegang oleh seseorang dan namaku dipanggil. Ketika aku menoleh untuk mencari tahunya, itu adalah Naruse-san! Ya, dia menatapku dengan tatapan bingung sambil masih memegangi tangan kiriku.
"Um. Ada apa, Naruse-san?"
"Kau mau kemana? Bukankah arah ke kos'anmu itu bukan disana?"
Ah. Begitu rupanya ya? Hm… sepertinya harus kuberitahukan kepadanya.
"Aku ada urusan sebentar, Naruse-san. Kau bisa pulang duluan. Ini, kuberikan kuncinya padamu."
Aku tersenyum lembut kepadanya sambil memberikan kunci cadangan kamarku. Saat kulihat tatapannya, dia memasang tatapan sedih dan khawatir. Entah kenapa aku merasa aneh ketika melihatnya.
"B-Benarkah? Baiklah. Akan kutunggu kalau begitu."
"Bagus-bagus. Oh ya, ini juga kuberikan uang untuk membeli makanan. Dah ya."
Setelah memberikan uang dan mengatakan itu, aku langsung bergegas menuju halaman belakang sekolah. Naruse-san mengangguk dan melambaikan tangan padaku, tak lupa kubalas juga.
Maaf Naruse-san, kelihatannya ini hari terakhirku berada di dimensi ini.
Setelah berlari menuju halaman sekolah selama 5 menit, aku sudah sampai. Kuperiksa sekitarku untuk mencegah apakah ada orang atau tidak? Bagus! Tidak ada orang. Tanpa basa-basi aku langsung melakukan sihir teleportasi, berpindah menuju Dimensional Gap, dimana sang Great Red berada.
Kumohon… biarkan aku kembali!
Lingkaran sihir berlambang Gremory pun tercipta di bawah kakiku. Sebuah sinar berwarna crimson menyelimutiku. Lama-kelamaan sinar itu menutupi seluruh tubuhku saat aku memejamkan mata.
Disinilah diriku, berada di Dimensional Gap. Dapat kulihat seekor naga merah raksasa yang berenang dengan bebasnya di tempat itu. Begitu tenang, sunyi dan tak diganggu siapa pun.
Akhirnya! Aku berada disini juga! Oh, aku bisa melihat si Great Red dan… Ophis! Itu Ophis kan? Entah kenapa dia sedikit berbeda. Lebih baik kupanggil saja.
"Permisi! Apa kau Great Red sang Kaisar Naga Merah Sejati dan Ophis sang Naga Ouroboros?"
Mendengar panggilanku itu, mulut besar Great Red terbuka dan mengaum. Tentu saja aku tak tahu apa yang dikatakannya tapi untung saja Ophis, entahlah dia tak mirip dengan Ophis yang kukenal, mengatakan sesuatu.
"Itu benar! Namaku Ophis, sang Naga Ouroboros! Ada apa ya? Apa kau ada perlu? Bagaimana kau bisa disini dan baumu… serasa tidak asing."
W-Whoa. Entah kenapa Ophis yang berada di hadapanku lebih mirip seperti Serafall-sama. Penampilannya Ophis tidak jauh berbeda dari yang kutahu. Sifatnya begitu berbeda dan dia tidak menjadi seorang gadis kecil atau loli lagi!
Ah, kurasa aku pernah melihat penampilan ini. Ya-ya, ini adalah penampilan dewasa Ophis. Entah kenapa aku agak heran saja ketika mengetahui sifat Ophis disini berbeda 180 derajat dari yang kukenal.
"A-Ahahaha. Mohon maafkan diriku. Namaku Akairyuu Issei. Aku hanya seorang campuran Iblis-Naga. Soal bau yang tidak asing itu, aku tak bisa memberitahukan detailnya padamu, Ophis-san."
"Uhm… begitu ya? Sayang sekali~! Jadi, ada keperluan apa dirimu datang kesini? Kau tahu, tak banyak orang yang datang kesini dan jarang sekali karena ini seperti tempat tersenyembunyi. Jadi aku dan Baka-Red terkejut ketika mengetahui ada orang selain kami berada disini."
"Begitukah? Hm. Anggap saja aku mendapatkan titik koordinat tempat ini dari kenalanku. Yah, dia adalah orang yang tak bisa kusebutkan namanya. Privasi-privasi. Soal kedatanganku disini, apa bisa aku berpindah dimensi dengan bantuan Great Red?"
"Ah, maaf ya Ise. Boleh kupanggil begitu kan?"
Aku mengangguk saja sambil mendengarkan lanjutan dari perkataannya.
"Tidak sembarang orang bisa berpindah dimensi. Apalagi orang asing macam dirimu, tak mungkin Baka-Red izinkan, bukan?"
"Hmm… sudah kuduga."
Begitu ya? Tch. Beresiko juga kalau aku membeberkan identitasku pada mereka. Apalagi Vali sudah mengetahuinya. Tapi bagaimana ini? Kalau tak memberitahukan itu padanya, aku tak mendapatkan izin untuk berpindah dimensi.
Aku menghela nafas ketika selesai memikirkan itu lalu menatap mereka, khususnya Ophis, dengan sebuah senyuman pasrah.
"Aaah. Begitu ya? Maaf kalau begitu. Aku pamit dulu."
Kulambaikan tanganku pada mereka dan berbalik pergi, namun tiba-tiba bahu kiriku merasakan sebuah tangan. Ya, sebuah tangan memegang bahu kiriku dan dapat kurasakan sebuah aura yang luar biasa kuat dan mematikan.
Aku lalu menoleh kebelakang dan melihat Ophis yang 'tersenyum'. Sebuah senyuman mematikan dan aura naga yang dia keluarkan sampai membuatku berkeringat dingin dan bulu kudukku merinding ketakutan.
Dengan nada gemetaran ketakutan sambil berkeringat dingin, aku bertanya kepadanya.
"A-Ada apa ya, Ophis-san? Urusanku sudah selesai."
"Nein-nein. Aku ingin menantangmu untuk bertarung, Ise. Sudah kubilang bukan? Aku mencium bau yang tak asing darimu."
"Ehm. Aku hanyalah iblis biasa dan tak begitu hebat, kenapa kau bisa beranggapan begitu?"
Mengabaikan perkataanku, Ophis mulai mengendus-endus tubuhku. Membuatku agak risih dan malu. Setelah puas dan selesai mengendus tubuhku, dia lalu menjawabnya dengan berkata.
"Tuh kan. Aku tak asing dengan baumu. Mirip seperti baunya Baka-Red!"
"Eh?!"
Gaah! O-Ophis mengetahuinya? Sial-sial-sial. Bagaimana ini? Apa harus kuberi alasan yang pantas untuk mengelabuinya? Aku tak mau berurusan dengan hal merepotkan! Baiklah, aku akan membohonginya saja!
"Ya kan? Kenapa kau bisa memiliki bau sama persis seperti Baka-Red? Apa kau anaknya atau semacamnya? Seingatku Baka-Red tak mempunyai anak, apalagi istri."
"Ehem. Singkat kata saja, aku adalah keturunan dari naga tersembunyi."
"Hm? Naga tersembunyi? Ah, kau bohong. Memang naga jenis apa?"
Geh. Tak mempan juga rupanya. Satu-satunya cara adalah… kabur!
"Ah. Sepertinya sudah malam, aku pamit dulu. Dah ya, Ophis-san!"
Dengan cepat, aku langsung menepis tangan Ophis dari bahuku dan melakukan teleportasi untuk kembali ke kota Kuoh. Meninggalkan Ophis yang sekilas memasang ekspresi cemberut dan marah-marah persis seperti Serafall-sama!
Sekarang aku sudah berada 10 meter dekat area bangunan kos yang kutinggali. Ya, sebuah bangunan dengan lantai bertingkat 4. Bangunan sederhana atau bisa dibilang dihuni oleh para penyewa kos-kos'annya.
Kedua kakiku lalu melangkah menuju kamar kosku, yaitu kamar 225. Harusnya hanya aku yang tinggal di kamar itu tapi karena suatu kejadian, penghuninya bertambah 1. Dia adalah Naruse Mio, siswi baru di SMA Kuoh yang juga berada di kelasku itu.
Entah aku harus senang atau tidak tapi lebih baik kuabaikan saja. Aku heran kenapa Rias dan teman-temannya tidak menemuiku. Apakah mereka ada urusan? Kalau pun ada, itu bukan urusanku, itu urusan mereka.
"Aku pulang."
Dengan nada malas dan lelah, aku masuk kedalam kamar kosku. Sebuah suara yang nyaman dan enak didengar terdengar oleh kedua gendang telingaku. Suara itu menyambut kedatanganku.
"Selamat datang, Akairyuu-san! Habis darimana?"
"Ah. Hanya sekedar latihan saja."
Naruse-san mengganguk paham mendengar kata-kataku lalu melanjutkan kembali kegiatan memasaknya. Tunggu, memasak? Memangnya kita punya peralatan masak ya? Untuk sejenak, kupicingkan kedua mataku memeriksa apakah penglihatanku yang salah atau tidak.
Di mataku sekarang terlihat satu set lengkap alat memasak! Ya, seperti panic, penggorengan, wajan dan lainnya. Siapa yang membelinya? Uang siapa? Uang yang kuberikan tadi tidaklah cukup! Apa jangan-jangan Naruse-san merampok?
"N-Naruse-san… itu alat-alat memasaknya, dapat darimana? Seingatku tadi pagi tidak ada."
Mendengar kata-kataku, Naruse-san pun memasang sebuah senyuman ceria.
"Oh! Ini tadi ibu kos yang memberikannya. Katanya ini peralatan memasak lamanya. Dia baru saja mendapatkan peralatan memasak yang baru. Katanya sih dibelikan oleh suaminya sebagai hadiah."
Aku yang mendengar itu hanya bisa tertawa heran saja. Apakah ini keberuntunganku juga? Lebih baik kuanggap begitu saja.
"Begitu… ya? Ya sudahlah. Kita beruntung dan oh ya, apa ibu kos tidak menegurmu? Misal menegurmu karena sekarang kau tinggal seatap denganku."
"Ah. Untuk masalah itu aku sudah mengaturnya. Ya, meski aku harus menghipnotisnya sedikit agar lebih mudah."
Dia sama seperti Rias dulu! Begitu tenang dan melakukan apa pun agar tidak terbongkar rahasianya dan membuat orang panik. Entah kenapa aku merasakan déjà vu darinya. Sungguh kebetulan yang mengerikan, membuatku takut saja.
Aku hanya mengangguk heran saja sambil duduk menunggu Naruse-san selesai memasak. Namun aku baru sadar satu hal, yaitu Naruse-san begitu cocok menggunakan celemek itu! Dia terlihat seperti ibu rumah tangga muda. Ya, istri muda.
Aah~ Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati. Ya, itu menyejukkan hatiku. Meski di tempat asalku selalu disuguhi pemandangan yang lebih luar biasa dari ini, namun aku tak merasa bosan akan pemandangan seperti ini.
Ekspresi wajahku sekarang berganti menjadi senyuman bahagia. Saat-saat tenang dan damai seperti inilah yang kudambakan sejak dulu. Saat ini aku penasaran akan suatu hal. Yaitu, apakah identitasku akan terkuak begitu cepat oleh Ophis dimensi ini? Semoga saja tidak.
Ya, kalau terkuak begitu cepat ada kemungkinan aku bisa mempengaruhi keseimbangan dimensi ini.
[Partner, dengan adanya kita disini, itu sudah membuat keseimbangan dimensi ini runtuh. Apa kau tahu dengan yang namanya Butterfly Effect?]
Butterfly Effect? Ah! Sekarang kau mengingatkannya. Ya, aku pernah mempelajari hal itu di sekolah dan beberapanya di internet. Jadi bagaimana ini Ddraig? Kita tak bisa pulang dengan mudah dan jika berada disini terus, ada kemungkinan perubahan yang besar terjadi di dimensi ini.
[Err… begitu ya? Mau bagaimana lagi… kita terus jalani saja kehidupan disini namun sebisa mungkin, meminimalisir dampak dari Butterfly Effect tersebut. Bagaimana? Ya, singkatnya seperti bekerja dibalik baying-bayang seperti Pembunuh atau Ninja.]
Gah! Entah kenapa aku agak tidak suka dengan bekerja dibalik bayang-bayang. Itu sama sekali tidak keren, tidak jantan!
Benar. Bekerja dibalik bayang-bayang itu sama halnya seperti pengecut! Tidak akan ada yang menghargai kerja keras dan usahamu kalau begitu. Tak ada yang mengakuimu dan bahkan peduli padamu.
[Haah. Baiklah. Akan kuberikan dua pilihan padamu. Pertama : Menghindari sekecil mungkin dampak Butterfly Effect dengan bekerja dibalik bayang-bayang. Kedua : Mengabaikan resiko dan dampak Butterfly Effect dengan melakukannya secara terang-terangan. Pilih yang mana, Partner?]
Gaaaaah! S-Sulit sekali pilihannya. Tak ada pilihan lain kah? Misal kalau aku terpaksa bekerja secara terang-terangan karena suatu kondisi mendesak.
Mendengar penawaranku itu, Ddraig pun berpikir sebentar. Berusaha mencerna dan memikirkannya dengan baik. Aku hanya bisa memasang wajah dan senyum penuh penasaran, tak sabaran, menunggu jawaban Ddraig ini.
"Selesai! Makanannya sudah jadi, Akairyuu-san!"
Disaat aku menunggu jawaban dari Ddraig yang tertunda itu, Naruse-san ternyata sudah selesa memasak makanannya. Mendengar itu aku langsung berdiri dan mendekatinya untuk melihat dari dekat.
"Hoooh. Sudah selesai kah? Ya sudah, boleh kubantu menyiapkannya?"
"E-Eh. B-Boleh… kok…"
Aku mengangguk senang ketika mendengar ucapan malu-malu dari Naruse-san itu sambil memalingkan wajahnya. Dengan begitu, aku dengan segera menyiapkan peralatan makannya. Ternyata aku baru sadar kalau selain peralatan masak, ibu kos juga memberikan beberapa piring, sendok, mangkuk, garpu, sumpit dan lainnya.
Ya meskipun bekas mereka sih. Ah, bekas maksudku itu bekas yang sudah bersih. Jadi aman saja kalau digunakan dan memang masih layak kalau kulihat-lihat.
"Oke. Semua sudah siap, saatnya makan!"
Dan begitulah. Kami berdua pun memakan makan malam kami dengan lahap. Ternyata Naruse-san memasak sebuah hidangan yang sederhana namun bergizi. Ikan goreng dan beberapa sayuran serta nasi hangat. Ada juga sup sebagai tambahannya.
Uuh! Enak sekali. Apakah ini hari keberuntunganku? Kalau pun benar, aku sungguh bersyukur, oh Satan!
"Hahahaha. Akairyuu-san, jangan buru-buru kalau makan."
Eng? A-Ah. Sial, aku melakukan sesuatu yang memalukan di hadapan Naruse-san!
Mendengar itu, aku pun berhenti sejenak sambil melihat Naruse-san yang tertawa geli itu. Kugaruk belakang kepalaku sambil tersenyum kaku.
"A-Ahahaha. M-Maafkan aku, Naruse-san."
"Tidak apa-apa. Memangnya kenapa kok begitu buru-buru makannya? Apa kau ada urusan sebentar lagi?"
"Oh. Tidak kok. Hanya saja makanan buatanmu begitu enak! Lezat sekali, aku sampai tak bisa berhenti memakannya!"
"E-Eh. B-Benarkah?"
Aku mengangguk sambil tersenyum setuju dan melihat Naruse-san yang wajahnya memerah padam. Dia merasa malu ketika mendengar pujianku. Sial, bagaimana ini? Apakah kata-kataku super efektif untuk menaklukan perempuan? Tidak-tidak! Itu tidak mungkin, Ise! Jangan terlalu percaya diri!
Dan begitulah. Ini adalah makan malam keduaku bersama Naruse Mio, sang gadis twintail berambut merah berdada besar yang tinggal seatap atau sekamar denganku karena alasan tertentu. Entah karena keberuntungan atau apa, kami mendapatkan satu set peralatan memasak dan peralatan makan.
Pagi hari yang baru muncul dan menggantikan hari sebelumnya. Entah kenapa mataku begitu berat, masih terasa mengantuk. Aku bahkan merasa tidak ingin masuk sekolah untuk hari ini.
Haaah… makan malam kemarin sungguh lezat sekali. Aku bahkan sampai menambah nasinya sekitar 3x. Ya, untung saja nasinya cukup… untuk 3 hari kedepan. Sungguh, aku benar-benar tak tahu apakah kemarin itu memang hari keberuntunganku.
Aneh sekali. Kami berdua diberikan peralatan memasak dan makan oleh ibu kos. Ya, meskipun bekas sih tapi itu sangat-sangat berguna sekali! Aku jadi tak perlu repot-repot untuk membeli kedua hal tersebut. Masalah itu sudah tuntas, jadi yang kupikirkan sekarang adalah masalah lain.
Ophis, sang Naga Ouroboros. Sifatnya berbanding terbalik dengan yang ada di dimensiku. Sifatnya begitu mirip Serafall-sama dan penampilannya bukanlah loli lagi, yaitu penampilan dewasanya.
"Akairyuu-san! Bangun! Ini sudah pagi dan kita harus sekolah!"
Mendengar suara seseorang yang memanggilku, yap itu adalah Naruse-san, aku menjadi begitu lemas dan tidak punya niatan untuk bangun. Aku mencoba menolak dirinya yang terus-menerus berusaha membangunkanku itu.
Namun tiba-tiba aku merasakan sebuah aura yang luar biasa menakutkan. Agak mirip dengan aura Power of Destruction milik Rias dan Sirzechs-sama tapi… ini jauh lebih mengerikan! Aura itu membuatku merinding ketakutan!
"Kalau kau tidak bangun, maka… bersiap-siaplah untuk musnah dalam hitungan ke-10, Akairyuu-san."
Hii! B-Bisa gawat kalau itu terjadi! Baiklah, aku harus bangun! Dia mulai menghitung mundur!
"B-Baik! Aku akan bangun, jangan lakukan itu!"
Dengan cepat, aku pun langsung bangun untuk menghindari amukan dari Naruse-san ini kalau dalam 10 detik tidak dilaksanakan. Aura menyeramkan yang keluar dari tubuh Naruse-san itu perlahan memudar dan menghilang dengan sendirinya. Aku menghela nafas lega ketika mengetahuinya.
Setelah selesai membangunkanku, dia mengambil sesuatu dari wastafel dan dia memberikannya padaku.
"I-Ini, Akairyuu-san. Aku membuatkanmu bekal."
E-Eeeeeeeeeeh? B-Bekal? Naruse-san membuatkanku bekal? Dan apa-apaan itu ekspresi malu-malunya yang sesekali melirik ke arah lain saat memberikannya padaku? Uuuh! Apakah aku harus senang? Haruskah, haruskah?!
"T-Terima kasih, Naruse-san. Aku jadi merepotkanmu, ahahaha."
Dia menggelengkan kepalanya ketika aku menerima bekal itu dan tersenyum manis kepadaku.
"Tidak kok, Akairyuu-san. Justru aku yang merepotkanmu karena menumpang tinggal denganmu. Anggap saja ini sebagai biaya penggantiku untuk tinggal denganmu."
Ooooooooh! S-Sialan. Senyumannya yang begitu manis dan tanpa tambahan pemanis buatan itu membuatku bahagia! Sungguh, aku benar-benar bahagia melihat seorang gadis cantik peduli padaku, bahkan di dimensi ini, jadi aku merasa tidak sendirian.
Dengan merasa segan, kugaruk pipi kananku sambil mencoba tersenyum kepadanya.
"Begitukah? Aku juga terbantu dan oh ya, aku akan mandi dulu. Tunggu aku ya?"
"Baik, Akairyuu-san."
Setelah mengatakan itu, aku langsung bergegas ke kamar mandi. Meninggalkan Naruse-san yang tentunya selalu bangun lebih awal dariku dan membangunkanku. Beruntung sekali! Hahahaha! Apakah pengaruh dari Sekiryuutei begitu menempel erat padaku? Naga benar-benar luar biasa! Sembah Naga!
Pojok SBS
Emiya 07 : Bacod aja lu njeg :v 9 sini gelut *digebukin reader*
diandraraya : Makasih :D
Vali992 : Spam lu :v
Yustinus225 : wwwwww. udah dilanjut
Hyuuki Ga Ara : wah, gak bisa ngejamin
arafim123 : gpp ea xD dia salah satu heroine di fanfic ini
Hercule Poirot12 : silahkan :D
To be continued... To the next chapter.
