BACK IN TIME

Disclaimer: I don't own Harry Potter. I only own the original characters and this story.

Summary: Kebohongan. Pengkhianatan. Kegelapan. Kesendirian. Harry merasa dirinya mati secara perlahan dengan cara yang paling menyakitkan. Bagaimana jika Harry kembali ke tahun 1943 dan terbangun di tubuh seorang anak berumur lima belas tahun bernama Ganymede Moon. Akankah Harry dapat pulih dan mendapatkan kehidupan yang sepantasnya ia dapatkan? Pairing's not decided yet.

Note: Terimakasih bagi yang sudah menunggu!

Warning: Bears with Typos, Ocs, OOCness, Time Travel, etc. There is some discussion about rape and torture. So, It's up to you.

000

"Bagaimana perasaanmu, tuan Moon? Apakah ada yang sakit atau terasa tidak wajar?"

Harry menahan kekesalannya kala Healer Wendy menanyakan berbagai macam pertanyaan kepadanya. Sejujurnya, ia tidak ingin apapun lebih dari mendapatkan beberapa jawaban dari semua pertanyaannya, tapi wanita itu nampak pintar sekali dalam menghindari topik yang ingin ia bahas. Setiap kali Harry mulai angkat bicara, wanita itu dengan cakapnya menyela perkataannya.

Semua orang pasti tidak ingin berada di posisi di mana tanpa ada satupun fakta dasar mengenai keberadaan mereka, dan di sinilah Harry bahkan tanpa mengetahui tanggal atau tahun saat ini. Dia sangat mengerti betapa pentingnya untuk mengetahui mengenai kondisi kesehatan tubuhnya saat ini, namun bukan berarti ia akan menyukainya.

Harry memandang Healer Wendy penuh perhitungan. Tetapi apapun yang wanita itu katakan selama beberapa jam ini benar adanya. Ia butuh terbiasa dengan tubuhnya, dan itu butuh waktu. Dia hanya baru terbangun beberapa saat yang lalu, dan tak lupa ia masih belum terbiasa menjadi lebih kecil.

Berjalan saja benar-benar sulit, ia terus-terusan mengambil langkah yang lebih besar daripada kemapuan kaki dan tubuhnya saat ini. Dan koordinasi antara tangan dan matanya hanya sedikit lebih membaik. Bukan salahnya, ia terbiasa dengan mata minus dan kacamata tebalnya, bukan mata yang sehat dan jernih.

Untuk seorang veteran perang, ia benar-benar menyedihkan.

Mereka baru saja melakukan beberapa latihan ringan selama kurang dari setengah jam, dan hanya mendapat sedikit perkembangan. Dia merasa benar-benar asing dengan tubuhnya dan itu membuat gemas untuk tak dapat melakukan tugas mudah sekalipun.

Sebuah tangan menepuk menenangkan pada bahu sempit dan kurusnya. Dia mengadah untuk melihat healer wanita yang baik hati itu menatapnya dengan senyum lembut.

"Jangan khawatir, hal ini sudah kami duga akan terjadi, apalagi untuk beberapa hari ke depan, tuan Moon. Anda berada dalam fase koma selama tiga bulan lamanya. Itu adalah waktu yang sangat lama. Tubuh Anda hanya beradaptasi pada perubahan barunya."

Ia menuntun Harry ke kursi terdekat. Harry menatap ke arah telapak kaki kecilnya dengan penuh konsentrasi, mengira-ngira jarak dan mengambil langkah kecil. Ia kemudian duduk, senang akhirnya tidak perlu lagi khawatir tersandung kakinya sendiri. Healer Wendy duduk di seberangnya, mengamatinya dengan dekat.

Harry mencoba menghindari tatapan wanita itu dengan memfokuskan diri kepada telapak tangan mungil dan halusnya serta jari-jari lentik miliknya.

"Tuan Moon... Ganymede." Healer Wendy berucap halus. "Saya tahu ini sangat menakutkan untuk Anda. Tetapi Anda perlu tahu, bahwa kami di sini akan melakukan apapun yang kami bisa untuk membantu Anda pulih."

Sungguh, Harry sangat mengapresiasi hal itu dan dapat menangkap ketulusan dibalik perkataan Healer Wendy. Wanita itu adalah orang yang tulus.

"Dapat Anda ceritakan padaku, mengapa aku koma dalam waktu yang lama?", tanyanya sambil menatap wanita itu.

Healer itu berkedip tak percaya, dan Harry pun bertanya-tanya kalau ada yang aneh dengan pertanyaannya. Tentu saja wanita itu dapat mengatakan hal itu padanya, bukan? Tetapi Harry dapat melihat penolakan yang akan Healer Wendy ucapkan dan menyela sebelum wanita itu dapat berbicara.

"Aku telah membaca berkasku.", ujarnya polos. "Berkas-berkas itu ditinggalkan di ruanganku. Aku tahu apa yang terjadi kepadaku."

Healer Wendy mengerutkan dahinya, Harry yakin bahwa wanita itu sedang mengasumsikan perawat mana yang melakukan hal seceroboh itu. Meninggalkan berkas penting pasien di ruangan mereka adalah sebuah pelanggaran serius, tidak peduli pasien itu koma atau tidak.

Healer itu mengangguk meski ragu.

"Ketika Anda ditangkap," ia memulai dengan pelan, matanya menatap Harry penuh perhitungan. "Kemungkinan besar Anda menjadi objek beberapa kutukan dan mantera jahat. Tubuh Anda secara otomotis berada dalam kondisi koma sebagai mekanisme pertahanan diri."

Harry mengangguk paham, Healer Wendy kembali berbicara ketika melihat respon Harry yang kelewat biasa saja. "Tubuh Anda pulih dengan baik, dan kami dapat mengangkat semua kutukan serta menyembuhkan efek mantera jahat dari tubuh Anda.Tetapi pikiran Anda...", nada ragu terselip di sana. "...itu seakan Anda telah pergi. Tak satupun hal yang kami lakukan dapat menarik Anda kembali, Anda tidak merespon terhadap apapun."

Healer Wendy menggosok kedua tangannya, sebuah kilat gugup hadir di sepasang mata sapphire miliknya. "Kalau boleh jujur, kami terkejut Anda dapat terbangun."

Harry mengalihkan pandangannya, mencoba terfokus ke arah pola garis di lantai. Ia tidak menyukai hal ini. Cara sang healer mengatakan hal itu seakan Ganymede sudah benar-benar mati dalam hal apapun kecuali tubuhnya. Dan sekarang di sinilah Harry, menempati tubuhnya bagaikan parasit tak diinginkan. Ia merasa sakit.

"Baiklah." Dia membalas tanpa emosi.

Wanita itu kini berlutut di hadapannya, tersenyum lagi, meski kali ini tampak sedikit sedih.

"Kita akan melalui semua ini," Wanita itu mencoba menenangkannya. "Saya yakin bahwa hal ini hanya sementara saja. Sangat mungkin bagi seseorang yang mengalami trauma berat untuk mengalami amnesia buruk. Anda dapat pulih kembali, meski tidak semua memori kembali."

Harry hanya mengangguk setuju saja.

Amnesia membuat segalanya lebih mudah baginya. Dengan menggunakan amnesia sebagai alasan, ia dapat menutupi kekurangan dalam kehidupan Ganymede sebelum ini, di saat yang bersamaan ia masih dapat mengingat beberapa detail tanpa menimbulkan kecurigaan.

Kepala mereka menoleh ketika mendengar suara ribut dari luar ruangan. Harry menatap ke arah Healer Wendy dengan pandangan bertanya.

Wanita itu berdehem pelan dan berdiri, senyum canggung hadir di wajahnya. "Itu pasti orang tuamu."

Orang tua.

Harry menutup kedua matanya pada pengingat itu.

Apa yang harus kulakukan?

Tentu saja Ganymede Moon masih memiliki orang tua. Dan tentu saja mereka akan segera diberi tahu ketika ia terbangun. Dia mencoba mengatur napasnya yang mulai tak beraturan.

Ini terus saja menjadi semakin lebih baik.

"Sekarang saya akan memberitahu mereka tentang situasinya." Wanita itu tak sadar dengan Harry yang nampak sedikit panik. "Akan lebih baik jika mereka mempersiapkan diri dengan reaksi Anda."

"Ya, Anda seharusnya memang melakukannya." Ia berkata pada Healer Wendy, perhatian tetap tertuju ke arah pintu. Suara yang terdengar semakin meninggi nyaris seperti teriakan.

Sang healer pergi dari hadapannya, dan Harry tahu ia sudah sangat tidak sopan kepada wanita itu. Namun, apa yang seharusnya normal pasien rasakan saat ini? Cemas? Takut? Harry tak tahu lagi.

Sebelum Healer Wendy dapat membuka pintu, pintu kantor itu terbuka lebar dan dua orang tergesa masuk ke dalam.

Seorang wanita—nampak seperti di akhir tiga puluhan, berambut pirang dan berpakaian dengan sangat baik—menatap langsung ke arahnya. Dia mulai mengambil langkah ke arahnya. Harry bingung, bagaimana ia seharusnya bereaksi? Namun sebelum memikirkan semua itu, kedua lengan wanita itu sudah melingkari tubuh mungilnya dan memeluknya erat.

Ini hangat.

"Oh, Nyme." Dia berbisik di telinganya dengan nada lirih. Ia terdengar begitu lega. "Kamu akhirnya sadar."

"Lady Moon..." Healer Wendy mencoba memanggilnya, terdengar putus asa. "Sebelumnya... ada sesuatu yang perlu Anda ketahui."

Harry membiarkan wanita itu memeluknya sedikit lebih lama. Ini adalah Ibu dari Ganymede. Hatinya turut merasakan sakit untuk wanita cantik ini karena apa yang akan segera diketahui olehnya. Bahkan meski hal itu benar-benar sangat penting.

"Ada apa?" Pria yang nampak sangat tegas itu bertanya dari belakang Lady Moon, kentara sekali kalau ia adalah suaminya jika dilihat dari cincin di jarinya.

Sang healer menunjuk ke arahnya dengan ekspresi sulit ditebak. "Ganymede... dampak buruk pada pikirannya ternyata lebih serius dari yang kami duga sebelumnya." Ia memulai.

Lady Moon mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil Harry.

"Saya takut bahwa ia tidak mengingat apapun."

Harry memperhatikan dengan jeli saat paras ayu wanita itu seakan mengisyaratkan kehancuran. Kedua tangan yang tadinya memeluknya terkulai lemas di kedua sisi tubuh. Lady Moon mulai megambil langkah mundur menjauhi Harry. Ia terus menatap ke arah Healer Wendy lalu ke arah Harry sendiri. Harry menatap semua itu dengan khawatir.

Wanita ini mungkin bukan Lily, ibunya. Tapi ia tetaplah seorang ibu yang bari saja dihadapkan kenyataan pahit akan anaknya yang berharga. Dan Harry mengerti semua perasaan itu. Kedua manik jernih sewarna emerald miliknya mulai berkaca-kaca.

"Tidak." Gumam wanita itu lemah, kepalanya menggeleng seakan menolak kenyataan yang ada. "Tidak!" Ia mengulanginya dengan lebih keras. Kedua tangan halus itu menangkup wajah Harry. "Tidak, dia harus mengingatnya. Kau tahu aku siapa diriku, iya kan Nyme? Kamu pasti mengingatku, Nak."

Harry menatap ke belakang wanita itu untuk melihat sepasang manik sewarna azure menatap balik ke arahnya dengan penuh harap.

"Maaf..." Bahkan suara tenor halus milik Harry bergetar. Ia tak tega. "Aku tidak mengingatnya."

Harry melihat saat wanita itu berlari ke arah suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada sang suami. Demi Merlin, Harry merasa sangat buruk.

Ini adalah hal yang sangat buruk, untuk mereka menunggu begitu lama demi bangunnya anak tersayang mereka, kemudian harapan mereka melambung naik saat berita mengenai bangunnya Ganymede sampai ke telinga mereka. Hanya untuk mengetahui bahwa anak mereka itu mengalami amnesia—dan bahwa ia sebenarnya bukanlah anak mereka.

Harry menunggu dalam diam, mencoba menahan isakannya saat mereka berdua mencoba menenangkan dan meyakinkan satu sama lain. Ia mencoba mengusir perasaan berdosanya, meski terdengar mustahil.

"Apakah ada cara untuk menyembuhkannya?" Lord Moon bertanya, terdengar sama menderitanya dengan sang istri.

Healer Wendy menawarkan senyum lemah. "Hanya waktu yang akan menyembuhkannya. Ada beberapa cara untuk menyembuhkannya, namun ia masih terlalu muda dan ditakutkan akan melukai Ganymede sendiri. Hal terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah menunggu dan secara perlahan mengenalkannya kembali dengan kehidupannya yang lama."

Pria itu menoleh kearah Harry dan mengangguk ke arahnya. "Memaksakan masalah ini tidak akan berbuah baik, dan kita semua harus bersabar dengan Nyme, untuk membantunya melewati semua ini."

Harry menundukan wajahnya, jari-jari mungil nan lentiknya bermain dengan ujung atasan baju rumah sakitnya.

"Saya berharap untuk menunggu hingga Anda sampai di sini untuk menyampaikan fakta-fakta penting dengan Tuan Ganymede, untuk mendukungnya." Healer cantik itu berbalik ke arah pasangan suami istri itu dan menunjukkan kepada mereka di mana mereka dapat duduk.

"Ya, tentu saja." Lady Moon angkat bicara, ia dan suaminya mendudukan diri mereka berseberangan dengannya. Harry masih memainkan atasan bajunya. "Aku..." Wanita itu berhenti untuk menarik napas dalam.

"Apa yang seharusnya kita katakan?" Tanyanya pelan.

"Bagaimana jika kita membiarkan Ganymede sendiri bertanya?" Tawar Healer Wendy dengan senyuman.

Harry hampir menghembuskan napas lega saat diberi kendali atas kontrol dalam masalah ini. Perasaanya juga menjadi sedikit tertata. "Hari ini... tanggal berapa?" Tanyanya penasaran.

Lady Moon memejamkan matanya berat, seakan sebuah pertanyaan sederhana itu telah menghisap semua energinya. "Januari tanggal dua puluh sembilan." Bahkan suaranya terdengar bergetar.

Harry mengangguk paham, "Dan tahunnya?"

"1943."

Apa?!

Harry memejamkan matanya dan menghela napas pasrah.

Bagaimana bisa ia terlempar lima puluh lima tahun ke masa lalu?!

Setidaknya ia tahu berapa usianya saat ini, empat belas tahun, lima belas tahun tak lama lagi. Itu berarti Ganymede ada di tahun ke empatnya. Dia menyimpan informasi itu baik-baik dalam otaknya, fokus mendapat lebih banyak informasi.

"Di mana kita?" Mereka seharusnya berada di Britania. Aksen mereka lebih dari cukup baginya untuk mengatakan hal tersebut. Dan walau Harry tahu di mana mereka berada saat ini, tidaklah salah untuk menanyakannya.

Healer Wendy menjawab pertanyaan yang satu ini, "Kita berada di St. Mungo's, Tuan Moon. Ini adalah rumah sakit bagi para penyihir. Lebih tepatnya kita berada di departemen yang menangani kasus sama seperti yang Anda alami."

Harry setidaknya bisa menarik sedikit napas lega. Lega bahwa ia berada di tanah yang familiar. Meski beberapa dekade jauh di belakang, Britania tetaplah Britania baginya.

Harry menatap kedua orang yang mulai saat ini akan menjadi orang tuanya. Meski merasa bersalah atas kehilangan anak mereka, setidaknya Harry harus berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka walau tanpa mereka ketahui. Ia melihat bagaimana tekanan di tubuh mereka, remasan tangan mereka satu sama lain, dan cara mereka menatap dirinya dengan pandangan rindu di mata mereka.

"Siapa nama kalian?" Ia bertanya sehalus mungkin, melembutkan suaranya agar tidak melukai perasaan dua orang di hadapannya.

Lady Moon tersentak mendengarnya, sepasang manik amethyst nya mulai berair. "Kami kedua orangtuamu, Nak." Dia memulai, suaranya tertahan. Harry menatap wanita itu dangan hangat dan sendu. Tangan wanita itu nampak bergetar hebat. "Aku... Namaku adalah Cordelia Moon. Aku adalah ibumu, Ganymede."

"Dan aku adalah Janus Moon, ayahmu." Lord Moon menambahkan dengan nada halus dan hati-hati.

Harry memandang di antara mereka berdua bergantian, menandai beberapa hal yang dapat ia tangkap. Mereka benar-benar nampak frustasi dengan keadaan ini, tetapi Harry mencoba melihat lebih dekat.

Pakaian mereka terbuat dari bahan terbaik. Ditambah lagi dengan gelar yang mereka sandang berdasarkan panggilang Healer Wendy. Harry dapat menyimpulkan bahwa mereka adalah keluarga bangsawan yang kaya dan terhormat.

Janus lebih tua di antara keduanya dan memiliki garis wajah yang mengeras lebih karena pengalaman hidupnya selama ini. Ia memiliki rambut putih lurus dan sepasang mata berwarna azure.

Cordelia sendiri nampak awet muda dan segar, kecantikannya memukau dengan rambut pirang bergelombang.

...Dan Harry kembali mengingat kehidupan menyedihkannya sebagai Harry Potter.

Bagaimana rasanya memiliki kedua orang tua yang masih hidup?

Gelombang penderitaan meningkat dalam dirinya dan itu memukulnya telak. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan mencoba mengatur napasnya.

Ia mendengar suara gesekan pelan, dan kemudian ada dua pasang lengan memeluknya lagi. Dia mengenali suara lembut Cordelia dan suara berat Janus, membisikkan kata-kata menenangkan di telinganya. Perlahan, Janus menaikannya ke atas pangkuannya sedangkan Cordelia mengusak rambutnya pelan.

Dia masih dapat mendengar suara Janus meminta untuk privasi, dan kepergian Healer Wendy dari ruangan itu.

Harry melengkungkan tubuhnya untuk lebih bersandar kepada tubuh kekar sang Ayah dan membiarkan usakan halus Cordelia menenangkannya. Harry menghela napas senang, mengusap kedua matanya yang nampaknya mulai kelelahan. Tetapi masih banyak yang harus ia ketahui sebelum ia tertidur.

"Apa yang terjadi?" Tanyanya pelan, ia terdengar sangat lelah. Ia mengadah menatap ke arah Janus dan Cordelia bergantian. "Mengapa aku ada di sini?"

Dia mendapati kilat marah yang membara di mata Janus dan badai menggelora di mata Cordelia, wajah mereka sama-sama nampak khawatir. Mereka berbagi pandangan dengan maksud tertentu.

"Apa kamu benar-benar ingin tahu?" Janus bertanya dengan lembut. "Ini bukanlah hal yang baik. Sangat buruk malah."

"Ya." Harry berkata dengan yakin. "Tolong katakan padaku."

"Baiklah, jika itu keinginanmu..." Cordelia berkata, dan saat itulah Harry melihat wanita itu memasang topengnya dengan rapi dan tanpa celah. Itu adalah ciri khas pureblood, untuk dapat menghapus emosinya dengan efektif. Dan ia mengetahuinya dari pengalaman, sebuah mekanisme pertahanan diri yang amat sempurna. "Kau diserang, Nyme."

"Dan...?"

Janus mengambil alih ketika melihat istrinya yang mulai nampak hancur itu. "Dan mereka melakukan hal yang buruk padamu."

Harry mengadah menatap mereka, "Aku mengerti maksud kalian."

Sungguh, Harry bukanlah keramik cina yang mudah pecah. Dia adalah veteran perang, dia telah menjadi saksi dari hal-hal yang jauh lebih mengerikan dari ini. Di sisi lain, Harry mengerti seberapa sulitnya hal ini untuk mereka. Dan ia tak menyalahkan sepasang suami istri itu untuk mencoba melindungi anak kesayangan mereka.

"Aku sudah berada di sini selama tiga bulan..." Dia melanjutkannya tanpa emosi. "...Apa mereka berhasil menangkap pelakunya?"

Di sini sihir Janus terasa bergerak menjadi sangat agresif. "Tidak." Dia menggeram. "Tidak ada saksi, dan Knockturn Alley, tempat di mana... semuanya terjadi, bukanlah tempat yang paling memiliki predikat baik." Janus berkata dengan nada mengejek sambil tersenyum sarkastik. Seolah-olah ia tahu bahwa semua itu adalah nyata kebohongan.

Harry menekan tangannya ke arah dadanya yang mulai terasa sesak, mengelusnya perlahan. Dia dengan jelas dapat mengingat mimpinya, tidak ada pelaku, ya? Yang benar saja!

Harry tidaklah terlalu terkejut dengan luapan amarah yang mengalir dalam tubuhnya. Seluruh hidupnya telah dipenuhi dengan tragedi dan tragedi, ketidakberuntungan diikuti ketidakberuntungan. Dia bukanlah orang asing bagi kerasnya dunia ini, dan dia tahu tak mungkin untuk menyelamatkan semua orang.

Tetapi dia sangatlah lelah. Jika ini memanglah kesempatan kedua yang diberikan kepadanya... Untuk memiliki orang tua, keluarga, hidup yang jauh lebih baik... Maka dengan senang hati, Harry akan mengambilnya. Biarlah waktu menjawab semua pertanyaannya.

Tapi ini bukan berarti Harry akan melupakan Lily dan James Potter, atau Sirius Black, atau Remus Lupin. Tidak. Harry hanya kembali menambah orang yang berharga baginya.

Biarlah ia mencoba mencintai keluarga barunya, dan memeluk takdir yang telah digariskan untuknya sekali lagi. Harry tidak tahu apa yang terjadi di masa depan, tetapi ia dengan sepenuh hati akan menanggung resikonya. Bukankah itu yang selama ini ia lakukan?

Bedanya kali ini adalah kemauannya sendiri, bukan paksaan dari siapapun.

Harry tersenyum hangat ke arah kedua orangtua barunya.

"Dapatkah aku keluar dari rumah sakit ini sesegera mungkin?"

000

Semua itu hanya membutuhnya waktu tiga hari untuk ayah dan ibunya meyakinkan pihak rumah sakit untuk mengeluarkannya dari rumah sakit sesegera mungkin. Healer Wendy menginginkan pengawasan lebih lanjut mengenai keadaannya, dan begitulah cerita singkat dari Healer Wendy yang kini menjadi Healer pribadinya. Harry sangat menghargai apapun yang mereka lakukan, dan ia akui ia menghormati Healer Wendy sebagai seorang pasien yang berada dibawah kepengurusannya.

Dan pagi ini, hari ke empat ia berada di sini—Ya, Harry sudah sepenuhnya menerima nasibnya terlempar jauh di masa lalu, setidaknya keadaannya menjadi lebih baik daripada jadi gelandangan di gang sempit London—Harry dikawal keluar dari St. Mungo's oleh ayah dan ibunya.

Tidak ada halangan sepanjang perjalanan mereka, yang mana membuat Harry sangat bersyukur. Setelah ini Harry harus mencari segala macam informasi yang ia butuhkan, dan perpustakaan keluarga Moon mungkin adalah tempat terbaik. Tetapi untuk sementara ini, ia akan tetap pada hasil pengamatannya sejauh ini.

Harry melepaskan mantel yang mereka berikan kepadanya dan menyampirkannya di lengannya sementara sepasang netra mengedar ke sekeliling lobi rumah.

Dan Harry terpukau. Keluarga Moon haruslah benar-benar sangat kaya jika mansion super mewah ini adalah kediaman mereka. Harry menjadi bertanya-tanya mengapa ia belum pernah mendengar nama keluarga berpengaruh ini sebelumnya. Segera kemudian ia menyadari bahwa ia memilih untuk tidak mengetahuinya.

Banyak hal dapat terjadi dalam waktu lima puluh tahun, dan meski baru menemui mereka, ide tentang sesuatu tragis telah terjadi pada dua orang berhati baik ini sangatlah tidak menyenangkan.

Cordelia dan Janus berdiri dengan tenang di belakangnya, meski Harry bisa merasakan tatapan penuh pengharapan mereka mengelilinginya.

Mereka ingin melihatku mengenali tempat ini. Mereka ingin aku melihat ruangan ini dan berpikir tentang rumah.

Ya, mungkin saja ini akan menjadi rumahku. Namun untuk sekarang, belum.

Harry berbalik menghadap mereka dan menawarkan senyum sendu, menggelengkan kepalanya dengan pelan.

Cordelia nampak menjadi lesu, dan sebelah lengan Janus merangkulnya memberika dukungan tanpa kata-kata.

"Tidak apa-apa, sayang." Cordelia berkata padanya, mengusap lembut pipinya. Harry memberikan senyum lembut dan tatapan teduh. "Oberon dan Callisto seharusnya ada di sini sekarang..." Cordelia menatap ke arah sang suami dan mengangguk isyarat persetujuan. "...Kita sudah bercerita pada mereka tentang dirimu yang amnesia, tetapi Callisto sangat khawatir untuk berjumpa denganmu kembali jadi kami membiarkannya pulang untuk hari ini. Sedangkan Oberon, ia menolak kembali ke Beauxbatons sebelum melihatmu bangun dan sehat kembali."

Harry mengangguk pelan, matanya mengisyaratk pengertian tentang situasi yang terjadi. Ayah dan ibunya sudah bercerita tentang kakak tertuanya dan saudara kembarnya. Harry berdo'a pada siapapun yang mendengar, agar hal ini tidak berakhir bencana.

Harry berusaha terlhat antusias di samping rasa cemasnya yang luar biasa. "Aku tak sabar untuk bertemu mereka."

Kedua orang tuanya menuntunnya melelui lobi dan menuju ke ruangan di sisi seberangnya, sesekali menunjuk pada beberapa tempat yang memiliki kenangan tersendiri bagi Ganymede.

Janus berpisah dari mereka entah ke mana, untuk bertemu kembali beberapa menit kemudian di koridor lain.

Ia dan ibunya tengah asyik mengobrol dengan lukisan sang nenek, Ophelia, saat ayahnya kembali bersama dua orang lainnya.

Berbeda dengan Ganymede, pria muda di belakang ayahnya memiliki tubuh tinggi tegap meski tidak sekekar ayah mereka dan wajah tampan yang mempesona, dengan rambut putih lurus dan sepasang manik amethyst, ia bisa dikatakan lebih mirip sang ayah, Janus.

Dia pasti adalah si kakak tertua, Oberon Moon, pikir Harry, mengarahkan tubuhnya agar berhadapan dengan mereka. Perhatiannya teralihkan kepada anak laki-laki di sebelahnya.

Meski mereka kembar, mereka sama sekali tidak bisa dikatakan mirip. Remaja lelaki itu memiliki rambut pirang sang ibu dan sepasang manik azure milik sang ayah. Ia adalah perpaduan yang sempurna antara kedua orang tuanya. Ia memiliki mata, kulit, dan struktur wajah ayahnya, serta rambut, hidung, dan bibir ibunya.

Dan ini pasti Callisto Moon, kembarannya.

Cordelia menyudahi pembicaraanya dengan sang nenek, sebuah senyum hangat nan manis hadir si wajah cantiknya. "Oberon, Callisto." Ia menyapa keduanya, tanpa perlu mengatakannya Harry tahu seberapa besar cintanya untuk mereka.

Harry menunggu untuk beberapa petunjuk tentang bagaimana harus bertindak, ketika Callisto tiba-tiba berlari ke arahnya dan memeluknya dengan sangat erat. Ia menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Harry.

Karena bingung harus melakukan apa, Ia ikut melingkarkan kedua lengannya ke tubuh kembarannya yang sedikit lebih besar darinya, dan menepuk lembut punggungnya untuk menenangkannya.

"Aku sangat senang kau kembali!" Callisto berkata sambil menangis, lalu melepas pelukannya dan tersenyum lebar ke arahnya. "Aku benar-benar sangat khawatir, Ganymede."

Harry balik memberikan senyum manis, menemukan kepedulian Callisto kepada Ganymede sangat manis.

"Terimakasih, Callisto."

Kini giliran Oberon memeluknya. Pelukan itu seakan membuatnya meleleh saking hangatnya, pelukan itu juga tidak terlalu erat maupun longgar. Harry dengan cepat menyukai Oberon.

"Ayah dan ibu telah mengatakannya tentang segalanya..." Oberon berkata lirih dengan nada yang lembut dan hangat. "...Jadi adik kecilku ini tidak mengingat apapun, hum?"

Harry menggeleng pelan di dekapan hangat sang kakak. "Sayangnya, tidak satupun."

"Ah..." Harry bisa merasakan senyum hadir di wajah kakanya yang tengah meyembunyikan wajahnya di rambut ikal tebalnya. "...Tidak masalah, ku rasa. Apa gunanya seorang saudara kalau tidak dapat berada di sisi saudaranya ketika kesulitan? Aku akan terus berada di sisimu."

Cordelia bertepuk tangan, kegembiraan memenuhi wajahnya."Callisto sayang, dapatkah kau mengantar Ganymede ke kamarnya? Ayahmu dan aku masih harus mengurus beberapa hal di St. Mungo's dan kementrian. Kami baru akan kembali saat jam makan malam."

"Tentu, Ibu." Callisto menyetujuinya. Menggandeng tangan Harry dengan erat.

"Kalau begitu aku akan membawakan barang-barangmu ke kamar, Nyme.", sahut Oberon dan berjalan ke arah lobi mansion.

Harry mengangguk dan berujar pelan, "Terimakasih." Oberon menyambutnya dengan anggukan dan senyum tipis.

Harry sibuk menatap kepergian sang kakak yang kemudian membuatnya tersentak keras saat merasakan ciuman di keningnya.

Sepasang manik amethyst Cordelia melebar, ekpresi horor terlukis jelas di paras ayunya. "Oh, maafkan aku, Nyme." Suaranya terdengar antara cemas dan bingung. "Aku bahkan tak berpikir—

"Tak apa." Harry tersenyum lembut ke arahnya. Dia bahkan tak bisa menyalahkan wanita itu untuk melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya. Seorang ibu mencium kening anaknya sebelum pergi—bukan salahnya untuk lupa. "Maafkan aku, aku mungkin hanya butuh waktu."

Janus menggenggam sebelah tangan sang istri dengan lembut. Harry melepas gandengan tangannya dengan Callisto dan mendekat ke arah sang ibu. Dengan sedikit kesulitan ia berjinjit mencium pipi sang ibu, membuat sepasang mata Cordelia berkaca-kaca dengan senyum bahagia terukir di wajahnya. "Baiklah, kami akan kembali sore nanti." Pamit Janus dengan senyum kecil.

Harry mengangguk lalu mencium pipi sang ayah juga dan kemudian melempar senyum manis ke arah sang ibu. Ia segera kembali ke sisi Callisto, tak ingin saudara kembarnya menunggu lebih lama lagi.

Mereka merasa sakit, dan keberadaanku sama sekali tidak membantu mereka. Maafkan aku, pikir Harry sedih. Oh, Harry dear... Betapa salahnya pikiranmu itu. Yang terjadi justu sebaliknya.

Tarikan pada tangannya membuat perhatiannya kembali kepada saudara kembarnya.

"Ayo." Callisto memberi perintah, menariknya ke arah yang sebaliknya. Langkah remaja itu terlihat begitu percaya diri dan nyaman.

Harry harap ia juga merasakan hal seperti itu.

Dia mengikuti dengan patuh, otaknya berusaha mengingat jalan dan memetakan mansion besar ini dalam pikirannya. Itu sampai mereka berhenti di depan pintu kayu ek dengan dua daun pintu dan ukiran rumit yang cantik.

"Ruangan ini adalah milikmu." Kata Callisto kepadanya.

Tiba-tiba Harry merasa gugup. Pantaskah ia mendapat semua ini?

Ia ingin sekali pergi dari sana, tetapi Harry tahu itu adalah tindakan bodoh yang sia-sia. Dengan perlahan ia membuka pintu itu.

Itu adalah sebuah ruangan yang indah, diisi dengan warna pastel yang hangat dan lembut serta jejak emas dan siver di perabotan dan atap. Di ujung tengah ruangan terdapat kasur empat poster yang sangat besar dan meja nakas sederhana namun memiliki ukiran yang sangat cantik. Tidak. Semua yang ada di ruangan ini benar-benar sangat berkelas.

Yang paling Harry sukai adalah jendelanya, sangat besar dan terbuka, menawarkan pemandangan menawan dari hutan, sungai, hingga tebing dan perbukitan.

Dia melangkah ke dalam dengan hati-hati, merasa senang akhirnya dapat berjalan dengan benar sejauh ini tanpa mempermalukan dirinya sendiri dengan terjatuh tidak elit.

Sepasang manik emerald cantik itu kembali kepada sosok Callisto, yang kini tengah memandangnya dengan tatapan dingin dari tempatnya di dekat pintu.

Ada sesuatu di mata saudara kembarnya itu yang menyebabkan perhatian Harry tertuju kepadanya.

Senyum Callisto kini nampak pahit dan buruk dibandingkan dengan senyum kelegaan dan kasih sayang yang diberikan kepadanya sebelumnya. Perubahan itu membuat Harry memundurkan tubuhnya beberapa langkah ke belakang.

"Kau tahu? Kuharap kau tidak akan pernah terbangun, tetapi kamu selalu menjadi penghalang, saudaraku." Callisto menghela napasnya kasar, matanya menggelap. "Selalu berada di tengah jalan, selalu menjadi pusat perhatian. Tiga bulan terakhir ini telah menjadi waktu-waktu terbaik dalam hidupku, tetapi kau hanya harus bangun. Menyebalkan!"

Harry mengerjapkan matanya beberapa kali, terkejut sejujurnya. Dia tahu dari pengalamannya dengan keluarga Weasley bahwa sesama saudara tidaklah selalu akur, tetapi ini jauh lebih ekstrim daripada yang ia ketahui. Dia menyipitkan matanya, tiba-tiba dapat melihat kemiripan antara Callisto dan Ronald.

"Maksudku, pasti haruslah ada sesuatu yang salah denganmu jika kamu sebenarnya ingin kembali hidup. Aku akhirnya berpikir bahwa kau akhirnya menangkap fakta bahwa tak ada seorangpun yang menginginkanmu apalagi setelah apa yang terjadi denganmu. Tetapi nampaknya aku terlalu merendahkanmu, eh, saudaraku yang menjijikan?"

Harry melangkah mendekati Callisto, dia adalah orang dewasa dan sudah melewati peperangan, dan dia tidaklah memiliki waktu atau kesabaran lagi untuk sekedar berurusan dengan anak semacam Ronald Weasley sepertinya.

Callisto tersenyum sinis kepadanya.

"Kau benar-benar tidak berguna, Ganymede Moon."

Harry menggapainya dan menarik kerah pakaian Callisto dengan mudah meski dihadapkan dengan perbedaan tinggi keduanya. Hal ini membuat Calisto tersandung sedikit dengan kedua mata melebar.

"Tolong dengarkan baik-baik, tuan Callisto." Harry memulai, suara sedingin dengan matanya. "Kamu dapat berdiri di sini dan mengatakan segalanya yang ingin kau katakan, tetapi aku akan memberimu sebuah peringatan..." Dia mendorong Callisto keluar ruangan.

Callisto masih terlihat membeku.

"...Jangan halangi jalanku! Jangan campuri urusanku lagi!"

Harry menutu pintunya dengan keras tepat di wajah remaja itu.

Dia bersandar pada daun pintu dan merintih pelan, kepala ia benturkan kepada pintu kayu di belakangnya dan memejamkan matanya.

"Benar-benar..." Ia berkomat-kamit tidak jelas, tangannya mengusak rambut ikalnya berantakan.

Tiba-tiba suara ketukan pintu membuatnya segera menjauhi pintu tersebut karena kaget.

"Nyme? Kau di dalam? Ini aku Oberon."

Harry dengan segera membuka pintu kamarnya dan melihat Oberon membawa tas berisi barang-barang miliknya.

"Kenapa tak menyuruh peri rumah saja? Tak perlu repot-repot." Harry mengernyitkan dahinya penasaran. Mereka ini tipikal pureblood biasanya atau bukan? "Tapi terimakasih." Harry tersenyum penuh rasa syukur juga pada akhirnya.

"Tak apa, anggap saja aku sedang berolahraga. Bagaimana pendapatmu tentang ruanganmu? Aku yang membersihkannya beberapa bulan terakhir ini. Tenang saja, tak ada barang yang kupindahkan atau kuambil, jadi kau masih bisa menemukan semuanya dengan mudah."

Harry nampak terkejut. "Terimakasih banyak."

Oberon mengusak pelan helaian putih rambut Harry yang sudah berantakan sebelumnya. "Kau tampak tak senang? Apa ada yang terjadi?"

Harry kehilangan kata-kata. Apa Oberon benar-benar dapat mengetahuinya secepat itu? Harry mulai tersenyum salah tingkah dan menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Tidak ada, Oberon."

Kakaknya itu nampak menghela napas berat. "Sepertinya aku tahu apa yang terjadi."

Tubuh Harry menenggang mendengarnya, ia tak berani menatap sang kakak. Apa kakaknya itu juga membencinya? Meski tak menunjukannya, Harry sebenarnya merasa sakit akibat perkataan tak berperasaan Callisto. Hal ini membuat rasa cemasnya kembali.

Namun tiba-tiba sepasang tangan elegan namun tak terlalu halus itu menangkup wajahnya dengan lembut, Oberon membawa Harry untuk menatap ke arahnya. "Nyme, adik kecilku, jangan pernah berpikir bahwa aku membencimu, paham?"

Harry mengangguk, air mata nampak menggenang di sepasang emerald indah itu. Membuat Oberon bersumpah untuk menghancurkan siapa atau apapun yang menyebabkan adik manisnya itu sedih.

"Ssshh... Aku tahu perlakuan Callisto terhadapmu, jadi jangan khawatir. Aku akan melindungimu. Apa kau percaya pada kakakmu ini, Nyme?"

Harry menatap ke arah manik amethyst yang penuh kehangatan dan kejujuran itu. Tatapan itu begitu lembut dan tulus. Harry pun akhirnya terisak, untuk pertama kalinya merasakan beban di hatinya yang sudah ia pendam terlalu lama.

Ia menangisi Lily dan James. Sirius dan adiknya Regulus. Remus dan Nymphadora. Anak baptisnya yang berharga, Teddy. Serta kawan-kawannya yang setia padanya sampai di saat terakhir. Dan sekarang ia juga menangis untuk Janus dan Cordelia. Ganymede dan Oberon. Dan yang paling utama, ia menangisi dirinya sendiri.

Oberon mengeluarkan tongkatnya dan mengucapkan mantera agar tas milik Ganymede melayang sendiri ke dalam kamarnya, sebelum menggendong tubuh mungil dan rapuh itu masuk ke dalam kamar. Ia mendudukan dirinya di salah satu sofa super nyaman yang ada di sana dan membiarkan Harry menangis dalam pelukannya di atas pangkuannya. Menepuk sayang punggung sempit itu, ia menghirup aroma manis vanilla dengan sedikit jejak pahitnya cokelat milik sang adik. Senyum sedih terulas di wajah tampannya.

"Sshhh, semuanya akan baik-baik saja, Nyme. Aku berjanji."

000

Silahkan menikmati, semuanya! Don't forget to give your opinion about my story!