BACK IN TIME

Disclaimer: I don't own Harry Potter. I only own the original characters and this story.

Sumarry: Kebohongan. Pengkhianatan. Kegelapan. Kesendirian. Harry merasa dirinya mati secara perlahan dengan cara yang paling menyakitkan. Bagaimana jika Harry kembali ke tahun 1943 dan terbangun di tubuh seorang anak berumur lima belas tahun bernama Ganymede Moon. Akankah Harry dapat pulih dan mendapatkan kehidupan yang sepantasnya ia dapatkan? Pairing's not decided yet.

Note: Bagi yang bertanya-tanya, ya... latar waktu cerita ini adalah saat Tom Riddle dan kroninya bersekolah di Hogwarts di tahun ke-enamnya. Jadi gak bingung, kan? Jadi sudah pasti ada perseteruan dini di antara kedua penyihir ini. Harry sendiri berada di tahun ke-limanya.

Warnings: Bears with Typos, Ocs, OOCness, Time Travel, etc. There is some discussion about rape and torture. So, It's up to you.

000

"Ini benar-benar berantakan." Bisiknya pelan kepada angin kosong. Harry menatap kepergian Oberon dengan pandangan mata yang sarat akan gejolak emosi yang belum padam.

Ia mengalihkan perhatiannya kembali ke ruangan itu, memutuskan untuk menyelesaikan semua permasalahan—terutama dengan Callisto—nanti saja. Saat ini, ia harus mulai melakukan pencarian.

Harry berjalan mengelilingi ruangan, berhati-hati untuk tidak menyenggol barang-barang yang terlihat berharga dari tempat yang seharusnya. Ia memperlakukan ruangan itu seakan ruangan itu adalah tempat kejadian perkara, atau ruang dari tersangka kejahatan.

Untuk mengerti lebih baik lagi apa yang terjadi padanya, dia harus mengerti siapa Ganymede Moon itu. Dan itu artinya ia harus membongkar ruangan itu sampai ia mendapatkan gambaran yang lebih jelas.

Dengan helaan napas berat, Harry mulai bekerja.

Beberapa waktu kemudian, Harry mendudukkan dirinya dengan kaki bersilang di atas karpet yang hangat dan lembut, bertindak seakan ia adalah pusat dari segala kekacauan di sekitarnya.

Dia mencari berkas riwayat hidup milik Ganymede, dan harus merasakan simpati kepada anak malang itu.

Pada pandangan pertama ruangan itu sangatlah biasa meski sangat mewah, tepatnya sesuatu yang setiap orang harapkan dari anak lelaki berusia lima belas tahun.

Pakaian, buku, foto acak yang diambil sepanjang hidupnya. Tidak ada yang aneh.

Tetapi hal itulah yang paling menyakiti Harry.

Tidak ada foto anak itu sendiri, atau tidak ada foto teman-temannya. Tidak ada surat yang dialamatkan untuknya. Ia juga tidak melihat tanda-tanda hadiah yang diberikan dari orang terdekat selain orang tuanya dan Oberon. Sama sekali tidak ada kepribadian, tidak ada ciri khas yang umumnya dimiliki setiap manusia.

Ada seperti kejelasan tentang kurangnya kehangatan.

Harry kembali berpikir tentang komentar kasar Callisto, juga kilat matanya yang dingin, Harry jadi kesulitan menahan keinginannya untuk memburu bocah itu dan menghacurkan rahangnya. Paling tidak meninjunya sekali atau dua kali, lah.

Harry mengirim tatapan kasihan terakhir kepada barang-barang koleksi di sekitarnya, sebelum mendorong dirinya untuk berdiri.

Tak ada sedikit pun keraguan di pikirannya bahwa Ganymede menjalani hidup yang menyedihkan sebelum tragedi penyerangan itu. Orang tuanya—meski sangat memperhatikan dan menyayangiya—jelas-jelas tidak menyadari betapa sedihnya anak mereka.

Dan Callisto sangat layak untuk dijatuhkan ke dalam danau beracun, sejauh yang ia khawatirkan. Saudara macam apa—kembaran macam apa—yang dapat memperlakukan saudara sedarahnya dengan sangat buruk?

Dia mengingat Fred dan George. Kepercayaan yang kuat yang mereka miliki satu sama lain, keyakinan yang tak tergoyahkan, bagaimana cara keduanya berbagi pandangan dan tahu apa yang dimaksud oleh lainnya.

Tentu saja, Harry mengetahui bahwa ia tak banyak tahu mengenai hubungan antara Ganymede dan Callisto sebelum ini. Sebanyak hal ini menyakitinya, ia harus merandai-andai apakah mereka selalu seperti ini? Bersikap manis di depan orang tua mereka, sedangkan berusaha menyakiti satu sama lain ketika bebas dari pengawasan mereka?

Tetapi itu tidaklah masuk akal!

Jika itu masalahnya, lalu mengapa Callisto terlihat begitu terkejut ketika Harry mulai melawan? Jika mereka bertengkar dengan rutin, Callisto tidak seharusnya terkejut seperti itu.

Oh, tidak.

Callisto sudah jelas terbiasa memegang kekuasaan atas Ganymede.

Harry menyipitkan matanya curiga.

Well, jika ia berusaha untuk melakukan apapun lagi, Harry hanya perlu menempatkan bocah itu di tempat yang seharusnya. Dia bukanlah orang yang hanya duduk sambil mengemut ibu jarinya apabila seseorang berusaha mencari masalah dengannya. Malahan, dia akan membalas dua kali lipat lebih keras sampai orang itu mendapatkan maksudnya, atau mereka menjauh darinya.

Ia menghela napasnya kasar dan mengacak rambutnya, belum terbiasa dengan tekstur rambutnya yang tidak dapat terlalu berantakan.

Di saat seperti ini, ia malah merindukan rambut khas keluarga Potter miliknya.

Harry berkacak pinggang, akhirnya menjauhkan perhatiannya dari barang-barang Ganymede yang tersebar dan mulai mencari di sekitar ruangan itu sekali lagi.

Seharusnya bukan hanya semua itu saja.

Dia seorang pemuda. Sepertinya pendiam jika saudaranya benar-benar kurang ajar seperti itu. Dia pasti memiliki sebuah tempat rahasia entah di mana—sebuah jurnal pribadi atau apalah.

Dengan hal itu di pikirannya, Harry mendekati kasur, menelitinya dengan penuh kecurigaan. Dia mulai meraba dari ujung kasur, melesakkan tangannya ke sela manapun yang dapat ia jangkau.

Dia berlutut dan melongokkan kepalanya ke bawah kasur, tanpa tongkat melempar mantera lumos untuk menyinari kolong yang gelap.

Tidak ada.

Harry kembali terduduk, mengerutkan keningnya heran.

Ada beberapa batasan tempat bagi Ganymede untuk menyembunyikan sesuatu, dan Harry harus menjaga di pikirannya bahwa ia baru saja berumur lima belas tahun. Itu mengurangi jumlah sihir penyembunyian yang kemungkinan digunakan anak itu. Harry belajar dari pengalaman sejauh mana para remaja berpikir mengenai hal-hal semacam itu. Psikologi.

Dia berjalan ke arah almari, menyibak kain-kain yang menghalangi maupun yang menggantung. Dia menggali ke dalam pakaian yang tertata rapi sebelum meletakkannya asal, menghiraukannya.

Sepasang netranya dengan teliti menelisik ke arah manapun, akhirnya tangannya tiba di sebuah kopor besar jauh du dalam sana dan mendorong penutupnya ke atas.

"Bingo!" Dia berkata sambil menyeringai puas, sekali lagi menerbangkan kopor itu dengan sihir tanpa tongkatnya keluar dari sana.

Benda itu mendarat di atas lantai tanpa suara, dan Harry pun membukanya.

Dia mengangkat penutup yang besar dan berat sekali itu, dan segera disambut dengan warna hijau dan silver. Matanya melotot tak percaya.

"Ohh, kau pasti bercanda..." Harry mendesis tajam. "...Dia adalah seorang slytherin?!"

Harry tahu ia harus pergi ke Hogwarts. Dia membutuhkan sumber pencarian yang luas di perpustakaannya untuk mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa efek samping dari keberadaannya di sini. Dia tahu ia harus bertindak sebagai seorang murid. Tetapi ia tak menyangka kalau ia juga harus bermain sebagai seorang ular.

"Luar biasa." Dia bergumam sebal, dengan hati-hati menepikan pakaian seragam dari pandangannya, membiarkan tangannya berkeliaran lebih jauh melalui barang-barang di dalam sana. Jari-jarinya bersentuhan dengan sisi dan bagian bawah kopor, mencari apa saja yang menurutnya penting.

Jarinya menangkap sebuah tombol yang seharusnya tak berada di sana, dan dengan sedikit dorongan tombol itu bergerak.

Terdengar suara 'klik' dan Harry menarik bagian bawah kotak dengan perlahan ketika ia merasakan sesuatu terjadi.

There.

Sebuah buku hijau kulit yang kecil terbaring dengan polosnya di bawah dasar kotak yang palsu.

Anak pintar. Pikir Harry, meraih dan mengambil buku itu dari tempatnya. Debu nampak bertebaran akibat dari lama tak tersentuh selama berbulan-bulan lamanya.

Harry menutup kotak itu dan menyingkirkannya dengan hati-hati agar tak menghalangi jalan.

Dia berjalan menuju ke tengah ruangan, buku itu telah terbuka di halaman pertama.

Tulisan itu sangat halus dan begitu teratur di mata Harry. Itu adalah tulisan dari seseorang yang terbiasa menulis dengan quil dan tinta sejak masih sangat belia.

Dia menatap ke arah sekitar untuk mencari tempat duduk dan mulai membaca—tak sabar untuk mendapatkan beberapa detail dan informasi yang penting.

Akhirnya ia mendudukan diri di kursi kerja Ganymede dan menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk meyakinkan diri. Ia pun mulai membaca halaman pertama.

Hal itu membutuhkan beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa ia salah perhitungan.

Bahasa yang digunakan Ganymede dalam menulis jurnal ini jelas-jelas bukan bahasa inggris. Itu adalah huruf lemurian. Jika hanya huruf lemurian biasa Harry masih mudah dalam memahaminya. Kata-kata yang tertera di sana sangat jelas dan mudah dibaca, namun ia merasa ada sesuatu yang salah. Janggal. Pengurutan ejaannya salah dan huruf acak nampak hadir di tempat yang tidak seharusnya, dan jika dilihat lebih baik lagi, arah penulisannya pun berlawanan.

Sepasang manik emerald Harry nampak berkilauan, campuran di antara terhibur, terkesan, dan kesal.

"Benar-benar licik." Harry berbisik, apresiasinya terhadap Ganymede atas keterampilannya mengalahkan rasa kesalnya yang tadinya menumpuk. "Kau mengkode semua isi jurnalmu."

Dia bersandar pada bantalan kursi yang nyaman dan bersidekap di depan dadanya. Ia terkekeh pelan kemudian.

Jelas-jelas ia meremehkan Ganymede. Harry tidak tahu anak remaja mana yang mau repot-repot menulis dalam bahasa kuno dan mejadikannya kode, ditambah lagi ia meletakan jurnal itu dengan sangat rapi dan rahasia.

Dia terkejut, namun juga senang.

"Tapi, aku hanya harus memecahkannya, bukan?"

Sejak masih kecil, Harry suka sekali jika diminta memecahkan sebuah teka-teki. Dia selalu dapat menyelesaikan semua permasalahan itu dengan mudah dan cepat. Hanya saja, Merlin tahu, waktu-waktunya di Hogwarts melarang dirinya melakukan hal semacam ini. Apalagi untuk mengembangkan kemampuannya.

Sungguh, dia menikmati memecahkan misteri dan menggabungkannya menjadi satu kesatuan yang utuh, menunjukan maksud asli dari si pencipta teka-teki.

Untuk sejenak, Harry mencari beberapa lembar kertas dan quil serta tinta untuk media coret-coret. Setelah mendapatkannya ia mulai memecahkan kode dalam jurnal itu satu per satu.

Dia dengan pasti sudah meremehkan Ganymede Moon.

Dia dapat melihat dengan jelas sekarang mengapa Ganymede terseleksi masuk ke asrama Slytherin. Anak ini benar-benar licik dan layak mendapatkan dasi hijau-silver untuk kelicikkannya itu.

Saat ia tengah asyik berkutat dengan jurnal beserta isinya itu, seseorang mengetuk pintu kamarnya.

Dengan segera Harry menyembunyikan semua pekerjaannya dari atas meja dan memandang ke arah pintu kayu itu. Butuh beberapa waktu baginya untuk merespon. "Masuklah."

Pintu itu terbuka, dan Harry mengerjapkan matanya kala melihat sang ibu berdiri di tengah-tengah pintu.

Wajah cantik wanita itu nampak berubah heran saat ia memandang ke sekeliling ruangan. Ekspresi terhibur kentara sekali di wajahnya.

Harry sendiri nampak merona lucu ketika menyadari kekacauan yang ia sebabkan di sekelilingnya. Semuanya benar-benar berantakan dan tidak tertata pada tempatnya.

"Aku hanya ingin melihat keadaanmu." Wanitu itu memulai dengan pelan, senyum kecil hadir di sana.

"Maaf..." Harry berkata, memandang sang ibu dengan malu-malu. "Aku hanya mencoba mencari tahu beberapa hal."

Raut wajah Cordelia nampak melembut dan penuh sayang. "Tentu, sayang. Aku mungkin tak dapat mengerti bagaimana rasanya semua ini untukmu." Ia memasuki ruangan itu dengan langkah stabil melewati kekacauan barang-barang di ruangan itu lalu mendudukan dirinya di pinggiran kasur berhadapan dengan Harry.

Harry dapat melihat bagaimana inginnya wanita itu untuk menyentuhnya dan memegangnya. Jadi dengan senyum lembut terpatri di wajah manisnya, Harry menghampiri wanita itu dan mendudukan diri di sampinya sambil memeluknya longgar.

Sang ibu balas memeluknya hangat.

"Kamu pasti merasa tidak nyaman. Kami semua bertindak sangat nyaman denganmu, ketika kamu sama sekali tak mengetahui apapun tentang kami."

Harry mengangguk jujur, karena itu adalah benar. Ditambah lagi fakta bahwa ia seakan menculik anak mereka. Tetapi meski benar bahwa ia tak terlalu nyaman dengan Cordelia, Janus, Oberon—apalagi Callisto, ia tak dapat menyangkal bahwa kehadiran ketiga orang itu sangatlah berarti untuknya di dunia ini.

Harry merasakan dadanya menghangat atas pengertian wanita itu. Cordelia adalah ibu yang penyayang dan terus berusaha keras untuk membuat hal-hal menjadi lebih mudah baginya. Dan Harry sangat bersyukur atas hal itu, dan merasa bahwa ia semakin menjadi dekat dengan Cordelia.

Harry mengeratkan pelukannya. "Terimakasih." Ia tersenyum simpul. "Pasti hal ini juga tak mudah bagimu. Dan maafkan aku bahwa aku tak dapat menjadi anak yang sesuai dengan keinginanmu, maupun menjadi sosok anakmu yang dulu, ibu."

Dan Cordeliapun menangis saat mendengarnya, wanita itu semakin melesakkan tubuh yang lebih mungil darinya itu untuk masuk ke dalam pelukannya. "Oh, sayangku. Anakku yang berharga dan manis. Hanya dengan keberadaanmu di sini dan terbangun dari tidur panjangmu itu sudah lebih dari cukup bagiku." Ia melepaskan pelukan mereka dan menangkup wajah Harry dengan kedua tangannya.

"Kami akan membantumu melewati semua ini. Kita adalah keluarga. Aku tahu kita akan baik-baik saja."

Harry mengangguk sambil tersenyum manis. Harry menyadari, meski begitu ia harus tetap waspada dengan segala yang terjadi di sekitarnya.

"Sebelumnya ada yang ingin kukatakan padamu, bu."

Cordelia melepaskan tankupannya pada wajah Harry dan menatap Harry dengan ekspresi sayang yang kentara. "Ada apa, Nyme?"

Harry mengambil napas pelan. "Aku ingin segera kembali ke Hogwarts."

Sang ibu segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak permintaannya dengan bibir terkatup rapat. "Tidak. Maafkan aku, Nyme. Aku belum dapat mengijinkannya."

"Kenapa tidak?"

"Situasi saat ini masihlah sangat berbahaya." Cordelia menjelaskan kepadanya dengan pelan dan hati-hati. "Kamu baru saja terbangun, dan tubuhmu masih perlu beradaptasi, Healer Wendy masih harus memastikan keadaanmu tetap stabil, nak."

Harry menundukkan wajahnya kecewa.

"Nyme, tolonglah mengerti."

"Baiklah aku mengerti." Harry menawarkan senyum lemah kepada ibunya.

Raut khawatir nampak masih terpampang di wajah cantik Cordelia, wanita itu sungguh sedang bingung saat ini. Tak tahu harus melakukan apa. Ia segera merapikan gaunnya dan berdiri di hadapan Harry.

"Makan malam akan segera siap dalam waktu sejam. Kumohon kau bergabung di sana nanti."

Memberikan senyum terakhir, sang ibu pergi keluar dari kamarnya. Saat ia mendengar suara lembut pintu tertutup, Harry membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk.

Apapun yang terjadi, ia harus segera kembali ke Hogwarts.

000

Makan malam menjadi waktu yang menegangkan.

Setidaknya, bagi Harry.

Harry mencoba mengabaikan aura-aura tidak enak di sekitarnya, memilih untuk lebih fokus kepada makanan di hadapannya.

Beberapa hari ini memang sangat membantu dalam proses penyesuaian dirinya terhadap tubuh barunya, dan sistem koordinasinya juga mulai kembali dengan sangat baik.

Dia makan dengan perlahan, hanya memasang setengah telinga pada pembicaraan di sekitarnya.

"-dan tentu saja Professor Dumbledore berpikir bahwa aku melakukan pengamatan yang salah-"

Harry tersedak dan segera saja terbatuk hebat.

Empat kepala langsung menoleh ke arahnya, tiga pasang mata memandangnya dengan penuh kekhawatiran, sedangkan sepasang mata dengan penuh kekesalan.

"Nyme!" Janus segera bergerak untuk berdiri dan menghampiri Harry. Harry sendiri masih tetap terbatuk beberapa kali sebelum akhirnya melegakan tenggorokannya dan mengambil napas teratur.

Janus menawarkan segelas air yang langsung saja diminum Harry dalam sekali tenggakan. Pemuda manis itu kemudian menatap Janus dan lainnya dengan pandangan menyesal. "Maafkan aku." Harry tanpa sengaja menatap Callisto, yang tengah menatapnya dengan apa yang nampak seperti kekhawatiran bagi orang lain. Tetapi Harry melihat penghinaan di matanya, dan menahan keinginan kekanakan untuk menendang bocah itu dari bawah meja.

"Dumbledore?" Dia bertanya dengan cepat, otaknya mulai berputar saat itu juga. Tentu saja, Dumbledore! Bagaimana aku bisa melupakannya? Dia pasti telah menjabat sebagai guru transfigurasi saat ini. Harry sungguh sangat ingin mengumpat dan menampar wajahnya sendiri.

Masalah, masalah.

"Professor Dumbledore." Callisto membantu membenarkan dengan nada menggurui. "Dia adalah seorang guru di Hogwarts."

"Benar sekali." Janus menyetujuinya, ia kembali ke tempat duduknya setelah mengusap pelan punggung Harry dan memastikan bahwa anaknya itu baik-baik saja.

"Benarkah?" Harry berkata pelan, fokusnya telah menghilang saat topik saat itu berubah menjadi Dumbledore.

Apa yang harus kulakukan mengenai hal ini? Bagaimana jika pria itu mengetahui kebenarannya? Ini berbahaya.

Harry menyesap kembali air minum, mengernyitkan dahinya seolah tengah berpikir keras.

Perasaan Harry terhadap Dumbledore sangatlah buruk. Mengetahui bahwa seluruh kehidupanmu andalah sebuah pertunjukan orkestra dipenuhi kebohongan yang telah disusun dengan sangat hati-hati dari awal. Kemarahannya atas manipulasi yang pria itu lakukan.

Dia akan sangat senang jika harus tidak berhubungan dengan pria itu lagi.

Dia melanjutkan menyantap hidangannya dalam keheningan.

000

Harry berdiri di dapur sendirian, menghangatkan segelas susu. Saat ini waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, dan semua orang sudah pergi tidur di kamar mereka masing-masing.

Dia seharusnya tidur di kamarnya juga.

Harry sungguh tak mendapatkan tidur yang baik selama menjadi gelandangan, hanya mendapatkan tidur nyenyak beberapa bulan sekali saja. Namun ketika teringat ingatan yang tak diinginkan, ia akan menjadi sulit tidur kembali.

Semua kekacauan ini membuatnya kebingungan, dan hal itu mulai merayap ke dalam hati dan pikirannya. Membuatnya tidak tenang.

Ia menghela napas pelan, dan mengusap matanya seraya bersandar ke meja dapur.

Ia menghabiskan susu hangatnya dan menempatkan gelas kotor itu ke dalam wastafel.

Terdengar suara retakan kecil dari sampingnya, dan Harry menoleh ke bawah untuk melihat seorang peri rumah menatap ke arahnya dengan mata birunya yang besar.

"Tu-tuan muda Ganymede!" Dia memekik, menjauhinya karena terkejut. Harry berkedip lucu, mengawasi makhluk kecil yang berdiri tak jauh darinya itu, bergerak-bergerak di tempat dengan canggung.

Akhirnya Harry memberikan senyum lembut juga hangat ke arahnya. "Halo." Ia menyapa, ia punya titik lemah untuk makhluk-makhluk ini—dan makhluk sihir pada umumnya. "Maaf karena mengagetkanmu."

Mata makhluk itu menjadi semakin besar, ketakjuban mengambil alih wajah berkerutnya. "B-bukan apa-apa, tuan muda. Miffy meminta maaf karena mengganggu."

Harry menggeleng pelan, dan senyumnya semakin tertarik ke atas. Dia bergerak untuk menghadapkan tubuhnya ke arah peri rumah itu. "Sungguh, tidak apa-apa. Kemungkinan kamu juga tidak menduga bahwa akan ada seseorang terbangun selarut ini. Senang bertemu denganmu, Miffy."

Ekspresi Miffy berubah-ubah dengan cepat sekali, dari bingung menuju sakit, sebelum berakhir menjadi pengertian. "Miffy juga senang bertemu denganmu, tuan muda."

Harry memandangnya dengan penasaran. "Kalau boleh bertanya, apa yang kau lakukan malam-malam begini, Miffy?"

Wajah peri rumah itu menunjukkan ketakjuban sekali lagi. "Tuan muda tidak perlu bertanya." Ia berkata pada Harry, dan Harry menyadari bahwa makhluk itu mungkin bingung karena perlakuannya. Kebanyakan peri rumah selalu disuruh-suruh ke sana kemari, daripada diperlakukan dengan baik.

"Itu adalah hal sopan untuk dilakukan." Ia berkata pada Miffy. "Apa yang kamu lakukan?"

"Oh." Miffy menunduk untuk menatap kedua kakinya, untuk menatap ke arahnya dengan manisnya. "Tuan, Nyonya, dan tuan muda Oberon meminta Miffy untuk mengambilkan teh yang baru."

"Mereka terbangun?" Harry mengerutkan keningnya.

Miffy mengangguk antusias. "Ya, tuan muda. Di ruang santai. Mereka membicarakan-" Dia berhenti tiba-tiba dan mengambil langkah mundur sebagai tanda pertahanan.

"Apa yang mereka diskusikan, Miffy?" Harry menanyakannya selembut mungkin.

Miffy nampak bergerak tidak nyaman sekali lagi. "Mereka berbicara tentang keinginan tuan muda Oberon untuk pindah ke Hogwarts, tuan muda." Ia berkata sepelan mungkin, seakan takut bahwa salah satu dari ketiga orang tadi akan muncul dan mendengarnya.

Harry tersenyum maklum kepada makhluk itu. "Oh, benar-benar mengejutkan. Terimakasih, Miffy. Lakukanlah segera apa yang mereka minta." Peri rumah itu mengangguk, wajahnya tersenyum ke arahnya seraya menjentikan jarinya dan tiga cangkir teh dan sebuah nampan melayang ke arahnya.

Harry menunggu sampai Miffy menghilang sebelum berjalan ke arah pintu.

Dia mengarah menuju ruang santai, memelankan langkahnya agar tidak terdengar ketika ia mendekati pintu berdaun dua di sana. Lewat bawah pintu ia bisa melihat sisipan cahaya dan suara bisik-bisik yang samar.

Harry pun menajamkan pendengarannya dengan sihir.

"-serius mengenai hal ini?"

"Tentu saja, ia adalah adikku. Aku harus melindunginya. Aku tak mau sesuatu hal buruk terjadi lagi padanya. Lagipula aku memiliki kecurigaanku tersendiri, ayah, ibu."

Hati Harry mencelos, bergetar mendengar kata-kata sarat akan keyakinan dan tekad itu. Oberon sangat baik terhadapnya, memperlakukannya dengan sewajarnya namun juga penuh kasih sayang, dan Harry memang sangat mengharapkan kakak sepertinya.

"Oberon... Jika kau serius, ayah tak akan melarangmu, nak. Sungguh."

"Ibu juga. Bagaimanapun kau benar, ia adalah adik kecilmu, anak kami juga."

"Aku tahu semua ini tak mudah, bu. Tetapi segala sesuatu yang terjadi pasti ada alasannya. Dan saat ini aku akan mengambil langkah untuk melindunginya."

"Aku mengerti, nak."

"Tetaplah kuat sampai saat itu tiba, anakku. Kita akan segera mendapatkan keadilan untuk Ganymede."

Harry memudarkan mantera pendengarnya ketika keheningan mengisi ruangan itu. Dia menjauhi pintu dengan langkah gontai, membuat jalannya menuju anak tangga ke lantai selanjutnya.

Pikirannya terus memainkan potongan informasi yang berhasil ia dapat dari percakapan singkat itu.

Harry tak tahu betapa besar kasih sayang Oberon terhadap Ganymede. Tetapi apa yang ia lakukan itu membuatnya sangat terharu, sampai melakukan langkah sejauh itu... hanya untuknya seorang seperti dirinya.

Harry belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Ketika kehangatan menyebar dari hatimu ke seluruh tubuhmu, air mata mendesak keluar bersamaan dengan isakan tertahan—tetapi semua itu mengandung kebahagiaan yang besar.

Tubuh mungil itu mulai bergetar.

Satu hal yang pasti baginya, mereka bertiga adalah orang paling baik hati yang pernah ia temui. Dan Harry berjanji akan melindungi keluarga barunya dengan sekuat tenaga. Dengan cara apapun juga. Karena ia tak mau merasakan sakitnya kehilangan lagi.

Cinta tulus mereka untuk Ganymede membuat hati kerasnya perlahan melunak.

Dia melangkah tertatih ke arah kamarnya, melewati kamar Callisto dalam perjalanannya.

Harry menatap pintu gelap itu dengan perasaan sakit, mengingat topik yang sempat dibahas di meja makan.

Besok Callisto akan kembali ke Hogwarts.

Dia tak sabar untuk menyusulnya.

000

"Hey, Moon!" Callisto menatap ke arah pemanggilnya, wajah masamnya menjadi cerah saat melihat siapa yang memanggilnya.

"Black." Dia menyapa sosok itu dengan sopan. Matanya beralih kepada sosok tegap di belakangnya. "Lestrange." Pemuda mengintimidasi itu hanya mengangguk singkat ke arahnya.

Orion Black melangkah maju, memasuki wilayah pribadinya, dan merangkulnya seolah mereka ini sahabat karib. Callisto dengan tegang membiarkan saja pemuda itu melakukan apa yang dia mau. Dia adalah seorang Black, hal itu sudah lebih dari cukup baginya untuk tidak mencari masalah.

Dan dengan Lestrange yang berdiri tak jauh darinya bak pengawal Orion, Callisto tak punya banyak pilihan dalam masalah ini.

"Bagaimana kabarmu?" Orion bertanya dengan nada manis, sepasang manik silver itu mengerling ke arahnya.

"Aku baik. Dan kau sendiri?"

Orion menjawab pertanyaan itu dengan lambaian tangannya. "Baik. Sekarang katakan padaku, apa itu benar?"

Rahang Callisto mengeras, mengetahui dengan jelas apa yang ditanyakan Orion kepadanya. "Apanya yang benar?"

"Saudaramu, bodoh." Orion mendorongnya pelan. "Katanya ia bangun dan berjalan dan kau pasti tahulah."

"Ya." Callisto menjawab dengan kaku. "Ganymede telah bangun."

Orion tersenyum lebar, ekspresi itu terlalu menakutkan baginya. "Benar-benar kebetulan." Dia berkomentar, dan kilat di matanya sangat mirip dengan predator yang menatap ke arah mangsanya. Callisto benar-benar mengaguminya dan menakutinya di saat yang bersamaan. Orion Black sangatlah berbahaya.

"Kita sangat khawatir tentang keadaanya, benar kan, Rad?"

Radolphus Lestrange tak mengatakan apapun, namun Orion tetap melanjutkan bicaranya bahkan tanpa memandang ke arah temannya itu. "Kau tahu bagaimana kabarnya?" Ekspresi Orion sendiri membuat Callisto tahu bahwa pemuda tampan itu mengetahui dengan jelas keadaan Ganymede yang sebenarnya, bahkan tanpa ia mengatakannya sekali pun.

Callisto mengendikan bahunya. "Sayangnya, adik tersayangku telah kehilangan semua ingatannya."

Orion nampak terkejut, tapi Callisto mengetahu yang lebih baik dari hal itu. Jika saja ia tak mengetahuinya, ia akan mengira bahwa ekspresi itu asli. "Mengerikan sekali! Dia benar-benar tak ingat apapun?"

"Bahkan ia tak ingat namaku."

Orion dan Radolphus berbagi pandangan, dan Callisto mengalihkan pandangannya ke arah lain. Asalkan jangan ke arah dua sosok itu.

Hubungannya dengan Ganymede sangatlah rumit. Tetapi ia tahu kehidupan neraka adiknya di sekolah.

Ketika mereka pertama kali diseleksi—dia di Ravenclaw dan Ganymede di Slytherin—semuanya baik-baik saja. Mereka masih dapat bertemu satu sama lain dengan rutin, dan keduanya cukup senang dengan teman yang mereka dapatkan.

Mereka berbagi apapun sampai pada titik di mana mereka sulit terpisahkan, dan berpikir jika sangatlah bagus bahwa mereka terpisah untuk sejenak dari satu sama lain.

Tetapi kemudian, hal itu terjadi, dan Callisto bahkan tak bisa menatap ke arah Ganymede lagi. Sejauh yang ia ketahui, semua itu adalah salah Ganymede.

Dia layak mendapatkannya. Semua komentar sinis, ejekan jahat. Semua itu jatuh pada Ganymede.

"Benar-benar sangat buruk!" Orion berkata sambil menjauh darinya. "Apakah ia akan kembali segera?"

Callisto mengendikan bahunya sekali lagi. "Mungkin iya."

Ia harap ia salah mengenai hal itu. Bahkan dari rantai makanan terendahpun, Ganymede memiliki kemampuan tak tertandingi dalam menjadi pusat perhatian. Callisto hanya berharap bahwa bocah itu pergi dan tiada. Bukannya malah bangun dengan kepribadian baru.

Dia lebih memilih Ganymede yang pecundang, si lemah yang menyedihkan. Bukannya seseorang dengan api berkobar di sepasang matanya dan tubuh yang dengan anggunnya seolah siap untuk menghadapi kerasnya dunia.

Orion membuat suara berisik di belakang tenggorokannya. "Ah, aku paham. Maaf menahanmu begitu lama. Sampai jumpa lagi."

Callisto mengangguk dan berjalan menjauh, menjaga posturnya setegak yang ia bisa.

Setelah ia berbelok di ujung koridor, Orion beralih kepada Radolphus dengan sebelah alis terangkat. "Apakah kau melihatnya?"

"Dia tidak tenang." Radolphus menjawab dengan tenang.

Mereka berjalan bersama ke arah bawah tanah, asrama Slytherin.

"Lebih dari itu, ia tampak marah. Murka." Orion terkekeh senang. "Dia terlalu mudah untuk dibaca. Seperti lembaran buku yang terbuka lebar."

Radolphus menatap ke arahnya, mata gelapnya berkilat tajam dan terhibur di saat yang bersamaan. "Apa pendapatmu? Tentang Moon yang bangun dari komanya?"

Senyum Orion melebar, sepasang matanya menyipit. "Aku tak sabar. Sudah terlalu lama sesuatu yang menarik tidak terjadi. Moon selalu menarik untuk dijadikan tontonan. Aku rindu hiburan itu."

Radolphus bergumam setuju. "Dia terlalu lembut."

"Senior-senior kita pasti akan sangat senang. Mainan favorit mereka hidup dan melawan." Orion mengadah ke atap, mengetuk-ngetuk jarinya pada dagunya. "Hidup lebih tepat sebenarnya. Moon tidak pernah melawan balik."

Radolphus memutar bola matanya, berjalan lebih cepat sambil menyeret Orion. "Ayo, cepat."

"Pffttt, terserah kaulah, Rad." Sepasang netranya berkilat. "Apa kau mendapatkan buku yang Tom minta?"

"Aku bahkan tak tahu mengapa ia menginginkan buku itu. Ia biasanya lebih memilih membaca teks yang jauh lebih menarik." Orion berkata dengan Radolphus yang masih menyeretnya sepanjang koridor.

"Hanya karena kau menemukan sejarah keluarga dunia sihir membosankan, bukan berarti yang lain juga."

Orion tertawa. "Oh, ayolah, Radolph. Tom, membaca tentang sejarah keturunan keluarga kuno? Itu aneh. Dia tak pernah menunjukkan ketertarikan dai sejarah keluarga kita sebelumnya. Akuilah, ini aneh."

"Riddle memang selalu aneh."

"Itu memang benar." Orion berkata dengan seringaian. "Tetapi intinya, dia pasti merencanakan sesuatu."

"Riddle selalu merencanakan sesuatu, Orion."

Orion memutar bola matanya malas, tetapi tidak berkata apapun untuk membalas Radolphus. Tak ada kata yang lebih tepat dalam mendeskripsikan Riddle selain itu lagi pula. Strange.

000

Hi,

Ji mungkin tidak akan update selama dua minggu sampai sebulan ke depan—paling lama. Maklum, Ji harus belajar untuk menghadapi UKK. Jadi Ji harap chapter ini dapat sedikit memuaskan kalian. Bagi kalian yang juga bakal menghadapi UKK, Good Luck guys!!

Sincerely,

Jiya

N.B. : Tom dan Oberon akan berada pada satu tingkat, yaitu di tahun ke-enam mereka. Harry sendiri akan satu tingkat bersama Callisto, Orion, dan Radolphus. Dan mungkin akan ada karakter lain muncul lagi. Tergantung bagaimana cerita ini berkembang dan mengarah. Enjoy!!