BACK IN TIME
Disclaimer: I don't own Harry Potter. I only own the original characters and this story.
Sumarry: Kebohongan. Pengkhianatan. Kegelapan. Kesendirian. Harry merasa dirinya mati secara perlahan dengan cara yang paling menyakitkan. Bagaimana jika Harry kembali ke tahun 1943 dan terbangun di tubuh seorang anak berumur lima belas tahun bernama Ganymede Moon. Akankah Harry dapat pulih dan mendapatkan kehidupan yang sepantasnya ia dapatkan? Pairing's not decided yet.
Note: Enjoy, guys!
Warnings: Bears with Typos, Ocs, OOCness, Time Travel, etc. Perhaps there is still some discussion about rape and torture, perhaps no. So, It's up to you. Really.
000
Oberon memperlambat larinya saat ia mendekati pintu masuk mansion. Dengan napas sedikit memburu, ia membuka pintu dan masuk ke dalam, menikmati udara hangat yang melingkupinya.
Ia melenggang santai ke dapur dan mengambil segelas air yang kemudian ia minum perlahan-lahan. Sepasang manik amethyst mengedar malas ke arah peralatan memasak dan makan yang nampak mengkilap di terpa cahaya pagi.
Ia mengusap ujung bibirnya ketika selesai dengan kegiatannya dan dengan cekatan mencuci lagi gelas yang ia pakai, dan menaruhnya di rak setelah dikeringkan. Setelah semuanya selesai, Oberon membiarkan pikirannya mengembara.
Beberapa hari ini, Oberon terus-terusan membantu sang adik untuk menyesuaikan diri. Agak sedikit berlebihan memang, tapi ia benar-benar merasa bahwa seolah jika ia membalikkan punggungnya barang sekali saja, Ganymede akan lenyap... hilang. Dan Oberon pun tahu bahwa adik manisnya itu—meski merasa kurang nyaman—benar-benar mengerti ketakutannya dan membiarkan dirinya melakukan apa saja selama tidak berlebihan.
Tentu saja Ganymede juga berusaha menggapai mereka dan mulai mencoba memahami mereka lebih jauh lagi.
Sudah seminggu semenjak permintaanya untuk pindah ke Hogwarts, bohong jika Oberon mengatakan bahwa ia tidak gugup sedikitpun mengenai kepindahannya.
Nampaknya ia benar-benar harus segera pergi ke Hogwarts juga, karena Ganymede sendiri mulai gencar dalam membujuk orang tua mereka agar dapat segera kembali ke sana. Semakin lama ia berdiam diri di sini, semakin sulit juga upayanya untuk melindungi adiknya.
Hal terbaik yang terjadi minggu ini, menurutnya adalah terapi fisik Ganymede yang telah dimulai, dan akhirnya adik kecilnya itu telah mendapatkan koordinasi tubuhnya kembali dan dapat mengendalikan gerakan tubuhnya sesuai keinginan. Perkembangan yang ditujukan Ganymede sangatlah cepat dan bagus. Rasanya seperti keajaiban ketika mengetahuinya.
Sungguh, Oberon turut senang dengan semua itu.
Di hari yang sama dengan kepergian Callisto kembali ke Hogwarts, Healer Wendy datang ke mansion untuk memeriksa Ganymede. Wanita itu memberikan sekoper ramuan lengkap dengan instruksinya.
Ia jadi ingin tertawa jika teringat bagaimana adiknya itu hanya mengangguk pasrah, berpura-pura mendengarkannya, meski aslinya ia tahu bahwa semua itu sia-sia. Sudah pasti semua perkataan wanita itu hanya masuk telinga kanan dan bablas keluar melalui telinga kirinya.
Healer cantik itu juga memberikan sebuah jadwal latihan dan diet untuk kebugaran tubuhnya.
Oberon mulai berjalan ke ruang santai, mengetahui bahwa tempat itu seudah pasti kosong pada waktu ini.
Ia mengambil napas dalam dan memposisikan dirinya untuk melakukan push up. Setelah melakukan beberapa set, dengan napas yang sudah mulai pendek dan keringat yang bercucuran, ia menurunkan tubuhnya dalam posisi telentang dan mencoba bernapas dengan pelan dan teratur. Seiring waktu berlalu, tubuhnya mulai mendingin secara perlahan bersamaan dengan perasaan lelah yang datang.
Oberon menghela napasnya lelah dan mendorong tubuhnya ke posisi berdiri, dengan sedikit kasar ia mengusap wajahnya. Ia berbalik untuk melihat Ganymede berdiri di ambang pintu ruang santai, sepertinya menunggunya selesai dengan push up-nya. Bocah itu nampak menggemaskan dengan kemeja kebesarannya dan rambut ikalnya yang berantakan.
"Hai, Nym."
"Hai." Sapa Ganymede pelan, ia menatap sang kakak dengan senyum hangat di wajah ayunya. Kedua tangannya ia angkat untuk mengusap pelan matanya yang masih terasa berat. "Apakah ada sesuatu yang salah?"
"Tidak, tidak. Aku hanya tidak menyangka kau akan bangun sepagi ini."
"Kau masih sibuk dengan kegiatanmu?"
"Tidak, ada apa?"
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, 'Eron." Ganymede mendudukan dirinya di salah satu sofa empuk yang ada di sana, Oberon mengikuti langkahnya dan mendudukan diri tepat di sampingnya. Kedua lengan kekar miliknya melingkar d sekeliling tubuh mungil Ganymede, sedangkan Ganymede dengan senangnya mendusal lebih dekat ke tubuh kakaknya, menyerap kehangatan yang terpancar.
"Apa yang ingin adikku ini bicarakan pagi-pagi begini, hum?" Oberon bertanya ketika dirasanya mereka sudah nyaman dengan posisi mereka.
Ganymede menatapnya dengan tatapan lucu hanya untuk menggeleng-geleng tidak jelas. "Ayo kita pergi ke Diagon Alley hari ini untuk membeli perlengkapan sekolah."
Ganymede nampak tersenyum lebar setelah mengatakan hal itu. Oberon hanya mengangguk-angguk saja, namun dahinya berkerut heran. "Kau sudah berhasil membujuk mereka?"
Ganymede menggeleng cepat dengan bibir mengerucut, Oberon ingin tertawa melihat ekspresi menggemaskan itu. "Belum. Tapi aku bertekad akan datang bersamamu ke Hogwarts begitu berkas-berkas kepindahanmu selesai. Dan aku berencana tidak akan menyerah sampai ayah dan ibu mengabulkan keinginanku ini!"
Oberon menyeringai kecil, ekspresi terhibur kentara jelas di wajahnya yang tampan. "Semoga berhasil kalau begitu."
Harry memasang ekspresi kesal yang justru terlihat imut, kemudian membalas sang kakak dengan kalimat bernada sarkasme "Terimakasih, kak."
Pemuda tampan itu hanya terkekeh pelan, tak dapat menahan dirinya untuk menarik pipi lembut kemerahan itu. "Baiklah. Kalau begitu lebih baik sekarang kita kembali ke kamar masing-masing dan mulai bersiap untuk hari yang panjang. Terdengar bagus bagimu?"
"Tentu." Ganymede memberikan senyum terlebarnya. Lalu segera berlari keluar ruangan dan pergi ke kamarnya.
Oberon yang melihatnya hanya tertawa kecil dan segera pergi ke kamarnya sendiri.
Lagipula aku tak bisa membuat peri kecilnya itu menunggu terlalu lama, melihat betapa bahagianya anak itu.
000
Dalam waktu singkat, Harry nampak memacu langkahnya menuju ke arah lobi. Sesampainya di sana ia berdiri dengan tak sabar menunggu Oberon untuk muncul.
Oberon mengangkat sebelah alisnya ketika melihat remaja manis itu, sebelah tangannya menjulur untuk merapikan rambut Harry yang masih berantakan. Jujur saja, Harry tak berpikir untuk merapikan rambutnya tadi. Ia hanya sudah terlalu terbiasa untuk memiliki rambut berantakan yang mustahil dijinakkan, jadi ia menyerah saja. Namun tampaknya, menata rambut kini harus dijadikan salah satu rutinitasnya.
"Baiklah." Oberon mengambil satu langkah ke belakang setelah merasa puas dengan penampilannya. "Apakah kau sudah membawa jasmu? Hari ini suhunya cukup dingin, pastikan kau membawa yang tebal, Nym."
Harry menunjukkan jas tebal di tangannya lalu memakainya dengan ekpresi antara rela tak rela. Entah apa yang salah dengan bocah itu sebenarnya.
"Sempurna. Kau siap, Nyme?"
Harry memutar bola matanya, namun tersenyum juga. Ia membuka pintunya dan melarikan diri dari kehangatan mansion yang melingkupinya, membiarkan Oberon menyamakan langkahnya tepat di sampingnya.
000
Diagon Alley sudah mati.
Uh, well... bukannya mati. Tetapi bila dibandingkan dengan alley yang ia ingat di masanya, tempat itu kini sama hidupnya dengan mayat. Orang-orang jalan dengan langkah tergesa-gesa, mata mereka mengedar was-was ke sekitar, bersiap seakan akan ada monster menyerang kapan saja.
Harry menatap ke arah sekitar, ia mengernyitkan dahinya. "Kenapa tempat ini sangat sepi?" Harry bertanya dengan nada pelan nyaris berbisik. Oberon menatapnya takjub lalu berganti dengan tatapan pengertian.
"Bodohnya aku." Gumam pemuda itu pelan, ia menghentikan Harry dan menempatkan tangannya di atas lengan Harry. "Perang dunia muggle sedang terjadi saat ini, Nym. Sebuah perang yang sangat berbahaya dan berskala luas. Meskipun kita, para penyihir, tidak terlibat secara langsung, sangatlah sulit untuk lepas dari atmosfirnya."
Harry mengerjapkan matanya perlahan, dengan segera ia merasa seperti seorang idiot. Ini adalah tahun 1943.Tentu Perang Dunia II masih berlangsung. Merlin, ia benar-benar sangat bodoh.
Tentu saja Diagon Alley terkena efeknya. Kilatan tentang perang pasti masih segar di ingatan semua orang.
Waktu-waktu ini adalah waktu di mana para penyihir mulai mengetahui betapa mematikannya persenjataan muggle. Perang Dunia I memang sangat menghancurkan, tetapi jangka waktu antara kejadian itu hingga saat ini paling tiddak sedikit memudarkan perasaan ngeri mereka.
Namun sekarang semua itu segar, dan menyesakkan.
Harry memejamkan matanya sekilas sambil menghela napas berat. Dia tahu perang akan berakhir pada tahun 1945. Dumbledore yang mengalahkan Grindelwald merupakan salah satu langkah besar yang mengakhiri perang ini.
Tersisa dua tahun lagi hingga perang berakhir. Yang berarti, ia akan dikelilingi horor dan tragedi yang sama yang mana ia pikir akhirnya dapat bebas darinya.
Ia membiarkan dirinya dituntun oleh Oberon, kakaknya itu nampak sekali tidak nyaman berada di tempat terbuka.
"Apa kamu memerlukan koper baru, Nyme?"
"Tidak." Harry menggelengkan kepalanya pelan. "Koperku masih bagus, dan aku cukup senang dengannya."
"Seragam?"
"Masih pas dengan tubuhku."
Oberon menyeringai tipis. "Ah, maaf. Aku baru ingat kalau kau kelihatannya sama sekali tidak tumbuh."
Di sini kedua mata Harry melotot sebal, tinggi badan adalah poin sensitif miliknya. Ia mendesis pelan lalu mencebikkan bibir mungil kemerahannya. "Aku tumbuh asal kau tahu, kau saja yang seperti tiang. Dasar kakak menyebalkan!"
"Baiklah, baiklah. Aku mengalah. Lalu apa yang akan kita beli terlebih dahulu?"
"Uhm..." Remaja cantik itu nampak berpikir keras. "Aku tahu ini terdengar konyol dan tidak berguna. Tapi apakah kita bisa membeli backpack?"
Oberon mengerutkan dahinya heran. "Untuk apa?"
Harry sendiri malah mengendikan bahunya. "Tak tahu, tetapi intuisiku mengatakan padaku untuk membelinya. Bisa jadi untuk keadaan darurat?"
Oberon nampak berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju. "Kurasa tak ada salahnya."
Mereka pun berakhir melihat sebuah toko bernama Bags and Trunks for All Occasions dan masuk ke dalamnya. Kedua sosok kakak beradik itu pergi mendekati meja kasir untuk melihat apakah ada seseorang yang dapat membantu mereka. Sebelum mereka sempat memanggil seseorang, pintu yang berada di belakang meja kasir terbuka dan seorang pria paruh baya berjalan keluar.
"Maafkan aku, aku sedang berada di belakang toko mengerjakan sebuah koper. Apa ada yang bisa kubantu?" Pria itu bertanya dengan nada ramah.
"Bukan masalah..." Oberon menjawab, menjaga aura ramah dan sopan di sekitarnya. Harry sendiri hanya memasang senyum polos di wajah imutnya. "...Maafkan kami jika mengganggu anda, tetapi kami bertanya-tanya, apa di toko ini menyediakan semacam backpack?" Oberon melanjutkan sambil tersenyum kecil.
Pria itu tertawa dan berkata, "Tidak masalah, nak. Untuk itulah aku dan toko ini ada. Baiklah, ku tebak kalian mencari backpack untuk dipakai sehari-hari, benar?" Mereka berdua mengangguk dan pria itu melanjutkan, "Backpack pada dasarnya memiliki aplikasi sihir yang sama, letak perbedaannya hanya pada bagaimana mereka tampak. Mereka lebih besar di dalam daripada penampilannya dan mereka memiliki mantera seringan-bulu. Tak peduli berapa banyak barang kau masukkan ke dalamnya, mereka akan tetap seringan bulu. Jadi kalian ingin backpack yang nampak seperti apa?"
Oberon menatap Harry dengan senyum menenangkan di wajahnya yang tampan. "Aku menyerahkannya padamu, Nym. Aku akan membeli satu yang sama denganmu atau yang sesuai dengan intruksimu."
Harry mengangguk lalu menatap pria paruh baya itu. "Aku ingin keduanya memiliki perpaduan dengan bahan kulit hitam. Tali gendongan, pegangan, dan resleting aku menginginkan mereka berwarna silver. Untuk sisanya aku ingin mereka berwarna hijau untukku dan ungu untuk kakakku. Jangan lupa, tolong ukirkan nama kami di salah satu bagian backpack dengan tinta berwarna silver. Ganymede Moon untuk yang hijau dan Oberon Moon untuk yang ungu. Berapa lama semua itu akan selesai, tuan?"
"Paling lama 10 sampai 15 menit."
"Sempurna! Terimakasih."
"Tidak masalah, nak." Balas pria itu dan mengambil dua buah backpack dari rak di sampingnya, ia lalu pergi kembali ke bengkelnya setelah mengatakan pada mereka bahwa ia akan segera kembali.
Tidak lebih dari lima belas menit kemudian, si penjaga toko tadi kembali dengan dua buah backpack di tangannya.
"Baiklah, ini dia." Dia mengatakannya dengan senyuman. "Semuanya 20 galleon, dan kalian dapat membawa pulang keduanya."
Setelah menyerahkan pembayaran sesuai dengan nominal yang disebutkan, mereka memberikan senyum sopan dan pergi dari sana sambil membawa bungkusan berisi backpack baru mereka.
Apothecary adalah pemberhentian tercepat mereka, mereka cukup berjalan ke arah meja kasir dan mengatakan kepada penjaga toko bahwa mereka menginginkan bahan-bahan ramuan lengkap, dan kurang dari lima menit mereka telah mendapatkan semuanya. Bahkan yang seharusnya tidak berada dalam kurikulum sekolah. Sederhana dan efektif sekali menurut pendapatnya. Kemudian mereka pergi membeli perkamen, quil, dan tinta. Mereka membeli kuantitas besar dari ketiganya.
"Bagaimana dengan bukumu, 'Eron?" Harry mendongak, menatap penasaran sang kakak.
"Ku rasa aku hanya perlu memesannya via surat lalu dikirimkan melalui burung hantu saja. Aku kan belum memiliki daftar bukunya." Oberon sendiri nampak mengendikan bahunya malas.
Harry mengangguk paham. "Kalau begitu, kita pulang sekarang? Mungkin ayah dan ibu pun sekarang sudah pulang setelah mengurus kepindahanmu, 'Eron."
"Ya.Mungkin saja."
Harry pun menerima uluran tangan Oberon dan mereka pun berapparate kembali ke mansion.
000
Sore itu, setelah Harry mendapatkan hasil yang sangat baik dari pemeriksaan Healer Wendy, Harry pergi ke ruangan kerja Janus. Dia belum pernah berada di sana sebelumnya dan ia mengetuk pintunya hati-hati, penuh akan antisipasi. Ketika ia mendengar sahutan sang ayah dari dalam, ia membuka pintunya dan masuk ke dalam.
"Selamat sore, Ayah." Harry bergerak tak nyaman di atas kakinya selagi ia menunggu untuk Janus melihat ke arahnya. Pria tampan itu menandatangani dokumen terakhir sebelum memberikannya perhatian penuh.
"Ada apa, son?" Pria itu bertanya dengan lembut, memberi gestur agar Harry mengambil tempat duduk. Ruangan kerjanya sangatlah indah dan rapi, dan Harry untuk sesaat menikmati kemewahan ruangan itu.
"Aku hanya bertanya-tanya jika aku dapat membahas sesuatu denganmu, Ayah. Ini semacam telah berada di pikiranku untuk waktu yang cukup lama."
Janus mengangguk paham, dan Harry sadar ini pertama kalinya Harry membahas sesuatu yang serius dengan ayahnya.
Ia menggigit bibir bawahnya, agak takut untuk menanyakannya. Apakah ia harus to the point? Atau bertele-tele terlebih dahulu.
Oh, sudahlah, pikirnya. Aku tak pernah memilikikebijakan macam apapun omong-omong.
"Aku ingin kembali ke Hogwarts." Dia mengumumkan dengan enteng. Segera, setelah ia mengatakannya, raut wajah Janus langsung berubah dan ia menyadarkan punggungnya di kursi empuknya. "Sebelum ayah menolaknya, biarkan aku menjelaskannya." Harry segera melanjutkan, tak memberi kesempatan sang ayah untuk menyela.
"Sejak pertama kali datang di Hogwarts, aku menghabiskan waktuku lebih banyak di sana. Bulan demi bulan hidupku ku jalani di Hogwarts. Mungkin saja itu adalah tempat terbaik kedua untukku, setelah mansion ini..."
"... Hogwarts seperti rumah kedua untukku, dan aku telah berada di sana cukup lama, mungkin saja..." Harry menundukkan kepalanya, mengintip sang ayah dari sela-sela poni rambutnya. "...Aku hanya berpikir bahwa jika ada tempat lain yang mungkin membantu mengembalikan ingatanku, itu adalah Hogwarts, kan?"
Janus mengerutkan dahinya, tetapi ia tak menolak ide itu. Berarti Harry masih memiliki kesempatan untuk memenangkannya.
"Kamu percaya bahwa dengan kembali ke Hogwarts dapat membantumu memulihkan ingatanmu?"
Harry tersenyum sendu. "Aku pikir itu adalah pilihan yang bagus, Ayah. Lagipula aku tak mau ketinggalan pelajaran lebih banyak lagi, atau parahnya mengulang tahun ini."
Janus mengelus dagunya sambil berpikir, dan Harry menunggunya dengan penuh antisipasi.
"Bagaimana dengan tugas dan pekerjaan sekolahmu? Kamu telah melewatkan banyak sekali kelas. Kamu akan tertinggal jauh di belakang oleh teman-teman sekelasmu. Dan stress mungkin malah akan memperburuk keadaanmu."
Harry menatap sang ayah dengan ekpresi memelas yang meluluhkan hati. "Aku yakin dapat mengejar mereka. Aku adalah pelajar yang cepat. Lagipula Oberon juga ada di sana." Ia menenangkan kekhawatiran pria tampan itu. "Dan karena aku kehilangan ingatanku, bukan berarti aku tak bisa mengerjakan pekerjaan rumahku."
Pria itu nampak mulai goyah, Harry dapat melihatnya. "Aku hanya berpikir bahwa pergi ke sekolah, dikelilingi oleh anak-anak yang merupakan... temanku." Okay, dia sebenarnya ragu di bagian itu. "Dan mungkin dengan mengerjakan sesuatu seperti tugas mungkin dapat memicu ingatanku atau sesuatu lainnya."
Janus menghela napas berat dan menatap ke arah lain asalkan bukan ke arah anaknya.
"Ayah..." Dan Janus menoleh ke arah Harry. "...Please~?"
Dan itu adalah sebuah kesalahan.
Janus di hadapkan dengan ekspresi memelas sang anak dengan sepasang manik emerald cantik yang berkaca-kaca, pipi lembut dan ujung hidung yang memerah, dan bibir mungil ranum yang mulai bergetar.
Oh, dia benar-benar dibuat kacau. Wajah itu... ekspresi itu... memangnya legal untuk seseorang memilikinya? Demi Morgana, Merlin.
Namun di sisi lain, rasa terkejut dan bahagia nampak sekali di wajah Janus.
Janus dengan cepat menutupi reaksinya, meski raut wajahnya melunak dan sepasang manik azure menjadi jauh lebih hangat. Hal itu mambuat sensasi kupu-kupu berterbangan di dalam perut Harry. "Baiklah, Ganymede. Aku akan berbicara dengan Cordelia mengenai hal ini. Jika kamu percaya bahwa hal ini dapat membantumu, maka aku percaya padamu, nak."
Harry nampak tersenyum cerah dan berseri-seri, dengan cepat ia bangkit dari tempat duduknya dan berlari memeluk erat tubuh kekar sang ayah. "Terimakasih." Ia bisa merasakan pria itu balas memeluknya hangat. "Aku sangat menghargainya, terimakasih." Dia mengulang-ulang ucapan terimakasihnya.
Harry mendorong tubuhnya agar lepas dari pelukan itu lalu mengecup pipi sang ayah sayang, membuat Janus tersenyum lembut dan balas mengecup kening sang anak. "Apapun untukmu, sayang."
Dengan senyum cerah yang sama dan wajah berseri-seri, Harry bergerak ke arah pintu dan keluar dari ruangan itu. Sesampainya di luar Harry jatuh terduduk, kakinya terlalu lemas karena terlalu bahagia.
Akhirnya! Dia berpikir lega. Dia dapat kembali ke Hogwarts dan mulai memecahkan masalah yang menimpanya saat ini.
Dengan langkah riang ia berjalan kembali ke arah kamarnya untuk berkemas. Dia tidak tahu berapa lama bagi Janus untuk memberitahu Cordelia, tetapi tak salah kan bersiap-siap dari sekarang?
000
Harry nampak memainkan dasi perak dan hijaunya, tubuh mungilnya nampak seakan menjadi lebih kecil dari biasanya.
"Kau yakin dengan semua ini, Nym?" Oberon bertanya untuk yang kesekian kalinya. Harry mengangguk kecil, pikirannya terlalu fokus dengan rencana dan idenya untuk pergi ke perpustakaan.
"Nyme, kamu tahu bahwa kamu tidak harus melakukan ini. Kamu bisa kembali tahun berikutnya, hingga kamu siap." Kini Cordelia membujuknya, ibunya nampak masih belum rela melepasnya.
"Aku baik, Bu." Harry mengatakan padanya dengan tenang dan penuh kelembutan, sepasang matanya beralih menatap di mana sang ayah berdiri berbicara pelan dengan Armando Dippet, sang kepala sekolah, dan Professor Slughorn, kepala asramanya. Ia terkejut untuk bertemu professor itu lagi, tak ada alasan juga sebenarnya.
Harry mencoba merapikan surai putih ikalnya sekali lagi, Oberon berdiri di sampingnya lengkap dengan seragam Hogwartsnya meski belum ada identitas asramanya.
Harry menggerakan kedua kakinya tidak nyaman, ia menggigit ibu jarinya seraya melihat ketiga pria itu berbicara dan berbicara.
Oberon yang melihat itu hanya memeluknya dari belakang sambil menggoyangkan tubuh mereka ke arah kanan dan kiri.
"Cordelia, Oberon, Ganymede."
Harry menoleh untuk melihat ketiga pria tadi memandang ke arahnya dan sang kakak. Janus melambai ke arah mereka dan Harry diikuti Oberon dan Cordelia buru-buru menghampiri ketiganya.
"Tuan Moon, senang bertemu denganmu lagi. Dan, ah... Selamat datang di Hogwarts bagi kalian berdua terutama kau Tuan Oberon Moon." Dippet berkata dengan suara yang mengisyaratkan seakan ia tak mengenal keduanya. Begitu jauh dan sopan.
"Thank you, sir." Oberon dan Harry membalas dengan hormat, meski Harry sendiri tak mengetahu tentang betapa baiknya pria ini sebagai seoarang kepala sekolah sebelum ini. Harry tersenyum manis namun sopan.
"Senang dapat kembali kemari."
Dippet tersenyum formal kepadanya, dan Slughorn melangkah maju untuk menjabat tangannya dengan sangat antusias. "Selamat datang kembali, Ganymede, selamat datang. Aku berani berkata, Slytherin tidak sama tanpa kehadiranmu."
Harry menaikkan sebelah alisnya, bertanya-tanya jika Ganymede cukup menarik untuk terdeteksi dalam radar milik Slughorn. Entah bagaimana, ia meragukannya. Dari yang ia sudah simpulkan, Ganymede tak lebih dari di atas rata-rata dalam pekerjaan sekolahnya.
Slughorn kan lebih memilih permata.
"Saya yakin, Professor." Dia berkata, melepaskan jabatan tangan mereka dan mengadah menatap kedua orangtuanya.
Janus dan Cordelia segera memeluk tubuh mungilnya.
Tangan halus Cordelia berada di lehernya, setengahnya menangkup pipinya. "Jika kamu merasa semua ini terlalu berat, atau sesuatu terjadi dan kamu ingin kembali ke rumah, semua yang harus kamu lakukan adalah hanya meminta, sayang."
"Aku tahu, Bu. Terimakasih." Harry mengecup pipi sang ibu dan ayahnya lalu memberikan senyum teduhnya kepada dua orang itu.
Kini giliran Oberon yang berpamitan dengan keduanya.
Ia mengalihkan perhatiannya kepada Slughorn untuk instruksi yang selanjutnya. Meski ia tahu di mana lokasi asrama Slytherin, ia belum tahu passwordnya.
Kepala asramanya menatap berseri-seri ke arahnya, kedua tangannya merangkulnya menuntunnya keluar dari ruangan kantor.
Oberon sendiri masih harus di seleksi terlebih dahulu untuk menentukan asrama mana ia akan tinggal. Jadi ia masih harus tinggal bersama Kepala Sekolah Dippet.
"Nah, Ganymede, aku tahu bahwa beberapa waktu ini adalah wakyu yang sulit untukmu, tetapi aku ingin kau tahu bahwa kami akan melakukan apa saja untuk membawamu ke level yang sebelumnya. Malah akan menjadi seperti kamu tidak pernah pergi!" Slughorn tertawa kecil, kumisnya bergoyang bersamaan dengan gerak mulutnya.
"Semuanya begitu khawatir ketika mendengar tentang kecelakaanmu. Slytherin adalah banyak hal, dan sebuah keluarga adalah salah satu di antaranya. Kita harus bersatu padu, kan?"
Harry menyahut dan mengangguk saja pada saat yang pas selama Slughorn berbicara panjang lebar, ia sudah mempelajari dari masanya tentang bagaimana cara ia harus menghadapi pria paruh baya ini.
Dia lebih tertarik dengan reaksi yang ia dapat dari para murid yang berlalu lalang. Banyak yang memandang dengan terkejut, mata melebar, dan tidak percaya.
Yang lain menatapnya kosong, seakan ia adalah noda paling tak berarti yang pernah mereka lihat.
Kebanyakan, melihat dengan pandangan mata tajam atau membelalak.
Menarik sekali... dan menghibur, batinnya tertawa.
Harry menjumpai setiap tatapan itu dengan penasaran, bertanya-tanya tentang apa yang sudah Ganymede lakukan untuk menyebabkan reaksi intens seperti itu. Semua hal ini mengingatkannya pada tahun ke-empat Hogwarts di masanya.
Ironi pasti lagi-lagi menemukannya.
Slughorn memimpinnya langsung ke ruang bawah tanah, dan menghentikannya di depan bagian dinding batu yang menuju ke arah ruang rekreasi asrama slytherin. "Setiap minggu asrama kita akan berganti password, jadi pastikan kau mengetahuinya. Jika kamu melewatkannya, atau melupakannya, tanyalah kepada yang lain dan mereka akan membiarkanmu masuk. Kemari, dan cobalah."
Professor itu memberikannya selembar kertas kecil.
"Serpentine." Ia meyuarakannya dengan jelas namun tanpa emosi, melihat saat dinding batu terbuka dan menampilkan ruang rekreasi Slytherin.
Setiap pasang mata di ruangan itu bergerak, dan Harry merasa desakan adrenalin pada bagaimana laparnya mereka terlihat ke arahnya.
Oh, ini akan menjadi pengalaman yang menarik. Ia pikir sambil menyembunyikan seringai kecilnya. Slughorn mengantarkannya ke dalam.
Keheningan di sana begitu pekat dan sarat akan permusuhan.
Harry sama sekali tidak mendengarkan saat Slughorn memberikan pidato singkatnya, mengatakan pada mereka tentang kondisi terbarunya, meminta dukungan dan bimbingan dari murid-murud lain untuk membantunya.
"Tentu, Professor Slughorn." Seorang murid berkata, melangkah ke depan dengan senyum ramah. Dia lebih tua dari Harry, mungkin di tahun ke-enam atau ke-tujuh. Ia memiliki kilat mata yang sama dengan Dudley, dan Harry ingin sekali mengerang kesal.
"Kami akan merawatnya dengan baik."
"Bagus sekali!" Slughorn menepukkan tangannya ke punggungnya, dan Harry harus menahan emosinya saat tubuh mungil dan rapuhnya itu nyaris terjerembab ke depan. Dia memandang kesal ke lantai dan rahangnya mengeras kala menangkap beberapa tawa cekikikan dari pengamatnya. "Dengar itu, tuan Moon. Jika kamu memiliki masalah, datanglah pada tuan Carrow di sini. Dia akan mengawasinya untukmu."
"Tentu." Ia berkata, menatap dengan cermat dan intens terhadap sosok Carrow. Sangat mudah untuk mengkategorikannya.
Faktanya, Harry akan selamat dari neraka ini dan menunjukkan semuanya kepada musuh-musuhnya itu.
Ia menyaksikan dengan tenang saat Slughorn mengangguk, percaya diri dengan keputusannya, dan kemudian pergi keluar ruang rekreasi. Pintu tertutup dan secara instan temperatur di udara jatuh beberapa derajat beku.
Sebuah tangan merangkul bahunya, dan ia dengan kasar diseret menuju ke sisi seseorang, menekannya dengan genggaman yang kuat. Carrow tersenyum dengan tatapan merendah ke arahnya dengan menunjukkan terlalu banyak gigi.
"Selamat datang, Ganymede. Senang sekali kau kembali." Seorang pemuda lain berpindah ke sisinya yang lain.
Harry menundukan kepalanya dan menutup matanya untuk beberapa detik, mendengarkan suara debuman di dadanya yang bak genderang perang. Itu desakan yang sama seperti yang ia dapat saat bertempur terutama di medan perang.
Ia mengepalkan tangannya, dan mengambil napas dalam sebelum kembali menatap ke arah duanya. Ia tersenyum manis dengan pancaran mata polos.
Seharusnya mereka tahu yang lebih baik.
"Bring it on, kids."
000
Dear my lovely readers,
Tada... Ji berusaha update di tengah jadwal UKK yang hectic ini. Ji harap kalian cukup puas, karena menurut Ji chapter ini kok agak gaje ya? T._.T Ji harap kalian suka dan terus menantikan lanjutan dari cerita ini. See you next chapter, guys!
Sincerely,
Jiya
N.B. : Inspirasi penampilan Oberon adalah Tsukasa Eishi dari Shokugeki no Souma. Mungkin ada yang tahu? Dan bagi yang belum tahu bisa search google kok. Sekian
