BACK IN TIME
Disclaimer: I don't own Harry Potter. I only own the original characters and this story.
Sumarry: Kebohongan. Pengkhianatan. Kegelapan. Kesendirian. Harry merasa dirinya mati secara perlahan dengan cara yang paling menyakitkan. Bagaimana jika Harry kembali ke tahun 1943 dan terbangun di tubuh seorang anak berumur lima belas tahun bernama Ganymede Moon. Akankah Harry dapat pulih dan mendapatkan kehidupan yang sepantasnya ia dapatkan? Pairing's not decided yet.
Note: Update kilat. Enjoy, guys. Actually, Ji gak tahu apa cerita ini Harry akan memiliki pasangan atau tidak—pengennya sih ya punya. Maka dari itu, kalau kalian memiliki ide yang bagus, atau misal ada karakter di cerita ini yang cocok dengan our little Harry here, please do tell me. Thank you!
Warning: Bears with Typos, Ocs, OOCness, Time Travel, etc. Perhaps there will be some discussion about rape and torture, perhaps no. And there will be hints of slash and something like that. So, It's up to you.
000
Harry merenung beberapa saat tentang bagaimana ia harus menangani hal ini.
Ia kira ia dapat hanya bermain seperti biasanya. Bertindak seperti anak kecil yang lemah selayaknya Ganymede yang ia ketahui ketika berhadapan dengan situasi seperti ini. Minggu-minggu pertama sudah pasti akan sulit seiring dengan dia yang mulai terbiasa, tetapi ia sedang dalam misi rahasia sebelumnya.
Harry tahu bagaimana untuk berbohong tepat di wajah seseorang sebelumnya, ia tahu bagaimana menyesuaikan diri dalam sebuah peran dan menjadi orang lain yang sangat berbeda.
Hal itu jelas sekali akan mempermudahnya. Sekali semua rasa penasaran dan ketertarikan mengelilingi kembalinya ia kemari pudar—dengan ia mengalah kepada orang-orang ini, memberi apa yang mereka ingikan—kemudian mereka hanya akan memberi sedikit perhatian ke arahnya seiring waktu berlalu.
Dia nyaris mendengus.
Yeah, sekarang semua itu takkan berguna.
Harry tahu ia dapat mewujudkan semua itu, tahu bahwa ia dapat memainkan bagian itu selama yang ia butuhkan, selama yang ia inginkan. Sayangnya, ia juga ingin menghindari meletakkan dirinya di bawah tekanan yang tidak diperlukan selama ia di sini.
Harus memastikan setiap pergerakannya, setiap kata, berhati-hati mengawasi setiap reaksi hanya untuk menghasutnya hingga ia meledak dengan spektakulernya.
Lebih baik untuk menggambar garis di atas pasir di sini dan saat ini. Untuk membuatnya sangat teramat jelas bahwa ia bukan seseorang untuk dilawan.
Keputusan dibuat, Harry mengadah menatap ke arah tiga murid yang lebih tua menjulang tinggi di hadapannya, matanya menyipit berbahaya. Dia sungguh tak ingin mengambil tindak kekerasan. Anak-anak ini mungkin pendendam, dan kejam, tetapi mereka masihlah anak-anak, dan Harry memiliki sedikit keinginan untuk mulai menggoyahkan mereka sampai ego mereka cukup ditempa ke dalam kepatuhan.
Meski begitu, ia akan membalas—dengan paksaan jika dibutuhkan—setiap perbuatan mereka. Dia bukanlah tipe orang yang dengan mudahnya mengabaikan serangan yang ditujukan kepadanya atau orang-orang yang menurutnya berharga, kecuali dengan alasan yang bagus. Dan bully hanya membuat kulitnya merasa seperti ditusuk-tusuk dan merasa muak.
"Terimakasih, senang dapat kembali kemari." Dia akhirnya membalas perkataan Carrow, tak lupa senyum manis nan polos terulas di wajahnya yang agak tersembunyi. Harry memutar bahunya, merasakan seberapa kencangnya cengkeraman pada bahunya. Dia terfokus pada jari-jari itu, pada bagaimana sensasi mereka yang seakan ingin melubangi lengan atasnya, dan ia merasa senang menemukan bahwa itu adalah sesuatu yang ia dapat lepas.
Puas, ia mengalihkan perhatiannya secara penuh kepada murid-murid tadi, dengan sabar menanti dan melihat langkah yang mereka ambil selanjutnya.
"Oh, tidakkah ia imut?" Carrow membuat suara seperti burung merpati, isyarat jahat di tengah rasa puasnya.
"Yang paling imut, kuyakinkan." Salah seorang murid lainnya menyetujuinya.
"Ya..." Carrow berkata, "...ini sudah pasti sangat membingungkan untukmu, tidak mengingat apapun." Pemuda itu menarik Harry lebih dekat, senyum sinis hadir di wajahnya. "Tetapi kami akan menempatkanmu dengan baik."
Harry menaikkan sebelah alisnya pada usaha buruk untuk mengintimidasinya itu. Oh-dia curiga mungkin hal itu membuat gugup rata-rata murid tahun kelima, untuk dipojokkan dan dicela oleh murid yang lebih tua.
Namun demikian, dia tetap hidup setelah melewati neraka yang lebih buruk daripada ejekkan kekanakan sepanjang tujuh belas tahun hidupnya. Ini menjadi permainan yang sangat membosankan baginya.
"Kamu terlalu baik." Harry berkata dengan manis kepada mereka, mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan ekspresi terhiburnya yang mungkin terlihat jelas. "Tetapi ku pikir aku akan dapat menempatkan diri dengan baik tanpa bantuanmu, terimakasih."
Keheningan sejenak mengisi, sebelum Carrow tertawa keras dan marah. "Lucu sekali, Gany. Bagaimanapun itu bukanlah sugesti."
Hanya seperti itu, dan pemuda itu mendorongnya kasar.
Harry tersandung karena dorongan itu, tidak berpikir hal ini akan naik ke level yang lebih tinggi dengan cepat. Dia bahkan belum mengatakan apapun.
Panggulnya membentur ujung sofa dengan keras, dan tangannya harus terangkat untuk menahan dirinya di atas sofa empuk itu. Dia mengeluarkan ekspresi sebal, kekesalannya secara perlahan berubah menjadi kemarahan.
Ada banyak murid yang menempati kursi-kursi yang berhadapan dengannya—kebanyakan murid yang lebih tua—tetapi hanya beberapa saja yang benar-benar melihat perdebatan sengit yang terjadi tepat di hadapan mereka. Ada semacam aura kenormalan di sekitar mereka, seakan semua ini hanya hari yang lain dan terbiasa terjadi.
Dan tiba-tiba Harry merasa ingin membenci mereka.
Orang macam apa yang hanya berdiam diri dan membiarkan hal semacam ini terjadi?
Pengecut, pikirnya liar. Pengecut payah, mereka semua.
Jari-jarinya mencengkeram permukan sofa dengan kencang, menyebabkannya terkoyak. Harry mengambil beberapa napas dalam untuk mengembalikan ketenangannya, sebelum mengembalikan wajahnya menghadap ke arah penyebab rasa jengkelnya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"See, ini adalah bagaimana hal bekerja di Slytherin, Gany. Ada order di sini, sebuah hierarki, jika kamu ingin." Carrow melangkah maju ke arahnya, dan Harry merasa amarahnya berganti dengan ketenangan yang dingin seperti ia yang biasanya. Ia yang sekarang bak gunung vulcano yang telah tertidur lama dan akan terbangun sebentar lagi. Mendengar mereka memanggil Ganymede seperti itu, mendengar nada yang mereka gunakan, malah membuatnya semakin terdorong jauh.
"Temanku dan aku berada di puncak..." Carrow menjelaskan seraya bergerak mendekat. "...dan kau, Gany, berada di tempat yang terbawah. Tahukah kamu apa artinya itu?"
Please katakan lebih padaku, ia pikir sambil menghitung jarak di antara keduanya. Agar akau memiliki alasan lebih untuk menghajarmu.
"Itu berarti bahwa kami dapat melakukan apapun yang kami inginkan kepadamu, dan kamu hanya harus berdiri dan menerimanya."
Mereka hampir mendempel sekarang, dan Harry dipaksa untuk mengadahkan kepalanya ke atas untuk menemui tatapan pemuda lainnya. Dia dapat merasakan bobot dari tatapan itu.
"Jadi, jika aku ingin menunjukkan kamu ke sekitar, aku dapat. Jika aku ingin kamu ketakutan dan menderita, aku dapat. Jika aku ingin kamu kesakitan—aku dapat."
Semua orang menonton mereka sekarang, tetapi tak ada yang melerai. Mereka jelas-jelas ingin pertunjukkan.
Harry lebih dari mau untuk menyediakan satu.
Ia tetap diam, mengawasi Carrow dengan sabar saat pemuda itu bergerak hendak menariknya paksa, menunggu saat tangan itu bergerak mendekat. Ia menolak untuk membuat gerakan pertama, tetapi ia lebih dari mau untuk mengakhiri apapun yang mereka mulai.
Bukankah akan sangat adil untuk memperingatinya?
"Jangan sentuh aku." Tegas Harry dengan tenang.
Carrow mengabaikannya, dan Harry menawarkan seringai lebar.
Jari-jari kasar itu bahkan belum dapat menyentuh jubahnya sebelum Harry menamparnya menjauh dari dadanya. Dalam sekali kedipan mata, tinjunya mengenai hidung Carrow, menjauhkan pemuda itu dengan tenaga yang mustahil dimiliki remaja dengan tubuh semungil itu, mengerikan.
Suara retak yang kencang memenuhi ruang rekreasi ditemani dengan tarikan napas tajam murid-murid di sana, dan semua itu seperti musik di telinganya. Carrow terjatuh ke lantai dengan aliran darah segar dan teriakan tertahan.
Hidung adalah titik lemah di tubuh, dan hanya membutuhkan sedikit tekanan untuk menghancurkannya. Dan Harry jelas-jelas tidak menggunakan sedikit tenaga, melainkan banyak tenaga. Pukulannya tadi sudah jelas bukan hanya menghancurkan hidungnya, tetapi hal lainnya juga.
Carrow meraung, tangannya menangkup wajahnya yang dilumuri darah dan menghalangi suaranya. Kedua matanya terpejam erat karena rasa sakit.
Already, Harry dapat melihat lebam tercipta. Bagus, sebagian dari dirinya mendengung bahagia.
"Ups." Ia baru saja menawarkan serangan terlemahnya, dan tentu bersedia melakukan lebih. Senyum polos hadir di wajah manisnya.
"Kau bocah sialan!" Pemuda kedua datang ke arahnya, dan Harry dengan mudahnya menghindar ke samping. Ia menarik jubah bagian belakang pemuda itu dan melemparnya dengan keras ke arah meja di belakangnya.
Murid-murid yang duduk di sana berhamburan menjauh layaknya tikus yang hendak tertangkap mencuri makanan dan di saat yang sama seorang pemuda yang lain merapal sebuah mantera kutukan ke arahnya.
Harry menghindar dengan mudah, sudah merasakan sihir yang mengarah ke arahnya.
Dia juga menghindari kutukan lainnya dan berlari dengan cepat ke arah pemuda itu, berhenti tepat di depannya dan mencengkeram lengannya yang terjulur ke depan. Harry membantingnya dengan keras ke lantai dan memelintir lengannya ke belakang tubuh pemuda itu, menahannya di lantai dan memaksanya untuk melepaskan tongkat sihirnya.
Kemudian ia mendorong pemuda itu sekali lagi, membuat muruid-murid lainnya tersandung kaki mereka sendiri dalam upaya menjauhinya saat ia berdiri tegak di atas kakinya.
Mungkin tubuhnya memang kecil, tapi pengalaman mengajarkannya untuk menutupi kelemahannya itu.
Harry mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk terakhir kalinya, hatinya bergumam dengan penuh kepuasaan pada ekspresi membeku yang ditujukan kepada dirinya.
Mungkin sekarang mereka akan meninggalkanku sendiri.
Ia mengalihkan perhatiannya kepada Carrow yang masih bergetar hebat di atas lantai. "Kamu mungkin seharusnya menyembuhkannya..." Harry berkata dengan tenang, memberikan gestur ke arah hidungnya. "...dan lain kali, ketika aku mengatakan padamu untuk tidak menyentuhku, mungkin kamu seharusnya mendengarkannya."
Harry melangkah melewati pemuda malang itu sebelum melambaikan tongkat sihir holy nya untuk membereskan kekacauan itu sekaligus menyembuhkan hidung dan apapun itu milik Carrow. Harry memang mungkin marah padanya, tetapi Harry tetaplah Harry. Dan tak ada yang bisa mengubahnya.
Dia melangkah dengan elegan dan memasuki aula menuju kamar tidur.Harry tahu jalannya, jadi terimakasih tak perlu diantarkan segala.
Harry melihat tanda kecil dengan Boys tertulis dengan indah di atas tangga ke arah kiri. Dia menaiki tangga itu menuju ke lantai lima dan menghela napas lelah, mengacak rambut ikal halusnya.
Dia berhenti sejenak ketika dia sampai di koridor yang panjang dan gelap. Terdapat pintu-pintu terbuat dari pohon ek sepanjang dinding batu di koridor itu.
Harry hanya pernah sekali dua kali di ruang rekreasi Slytherin, biasanya menghadiri undangan kawan Slytherinnya, atau membantu mereka saat dalam masalah.
Ia tak pernah menetap lebih dari ruang rekreasi sebelumnya, dan sejujurnya terkejut pada betapa berbedanya asrama ini dengan asrama Gryffindor.
"Mereka mendapat ruangan pribadi?" Harry bergumam tak percaya, terkesan tentang bagaimana tak adilnya hal itu. Tahu begitu dulu dia terima masuk Slytherin saja. "Yang benar saja." Dia menggelengkan kepalanya merasa terhibur.
Paling tidak kamar tidur pribadi berarti privasi, Harry tak dapat menahan senyum cerah hadir di wajahnya yang cantik.
Sekali ia melempar beberapa wards khusus di sekeliling ruangannya, dan memperbaiki yang sudah ada, itu akan menjadi ruangan teraman yang ada di kastil ini. Harry percaya pada kemampuan sihirnya, ditambah saat perang mau tak mau ia mempelajari banyak wards mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit, mulai dari yang mudah dihancurkan sampai yang nyaris mustahil dihancurkan.
Dia berjalan menuju pintu pertama dari kanan, melihat nama Ganymede terukir indah di atas plakat perak. Harry menelusuri tulisan itu dengan jari-jari mungil namun lentiknya, mengizinkan dirinya merasakan rasa duka untuk pemilik nama asli tersebut.
Menjadi orang asing dalam komunitas sendiri bukanlah hal yang mudah—Harry tahu mengenai hal ini dengan sangat akrab, selalu terpisah dari yang lain tak peduli apapun yang ia lakukan. Terlalu aneh dan abnormal untuk kerabatnya. The Boy Who Lived. The Man Who Conquered. Selalu, selalu berbeda—dan menjadi orang asing itu akan menjadi penyiksaan spesial khusus untuknya.
Ia harap, dengan pertunjukkan kecilnya tadi, dia akan ditinggal sendiri. Tak ada yang mengganggunya.
"Itu tadi hebat sekali! Amazing!"
Harry, sekali lagi, menghela napas lelah. Sepertinya Lady Fate ini memang mempunyai dendam kesumat padanya, atau sederhanya ia membecinya. Demi celana dalam Merlin, tak bisakah ia ditinggal sendiri saja?
Seorang remaja laki-laki berambut hitam memandangnya dengan takjub, sepasang manik silver begitu cemerlang dan bersinar di tengah keremangan cahaya. Pemuda itu tersenyum manis, saking manisnya membuat Harry curiga. Tidak ada satupun penghuni asrama Slytherin yang polos—hal itu hanya mitos atau hal tabu untuk dibicarakan.
Tapi, remaja laki-laki itu terasa sangat familiar baginya, bahkan meski figur itu lebih kurang mengintimidasi karena masa muda. Harry jadi bertanya-tanya, apakah ia pernah bertemu pemuda ini di masanya? Ketika ia sudah lebih tua dan lebih letih.
Tidak ada satupun dari keduanya yang berbicara setelah itu, Harry hanya menatap pemuda itu dengan pandangan sama sekali tak terhibur dan pemuda itu balik menatapnya dengan takjub dan gembira—salah, terlalu gembira maksudnya. Keheningan itu sendiri menyalakan bel peringatan di belakang kepalanya.
Meskipun instingnya berkata demikian, Harry mencoba mengendurkan cara berdirinya yang kaku. Dia menatap dengan sedikit—sedikit—mengadah agar dapat melihat lebih baik wajah tampan itu, mencoba menempatkannya dengan seseorang yang mungkin ia kenal atau sekedar penah ia temui.
Pemuda itu tetap menatapnya dengan gembira.
"Ada yang bisa kubantu?" Cepat atau lambat Harry bertanya juga, senyum simpul hadir di wajahnya.
Senyum remaja laki-laki itu bertambah lebar, Harry sampai takut kalau wajahnya terbelah menjadi dua—oke, yang ini mustahil. Sepasang matanya berkerlip penuh konspirasi. "Apa yang kau lakukan kepada Carrow, itu tadi sangat mengesankan." Cetus pemuda itu, ia melangkah lebih dekat. Harry sendiri hanya memiringkan kepalanya ke samping kanan, dan memberikan kesan polos yang menggemaskan.
"Dia itu seperti orang bodoh, tetapi karena umurnya, tak ada yang mau repot-repot melawannya. Tetapi itu—kejadian di sana tadi? Sangat mengesankan, benar-benar fantastik."
Harry tersenyum manis, meski merasa tak yakin. "Baiklah, terimakasih."
"Benar-benar bodoh, tentu saja. Yang kumaksud, jujur saja." Remaja laki-laki itu memutar bola matanya, nada bermain-main terdengar dari perkataannya. "Sekarang mereka hanya akan pergi setelahmu lebih lagi."
Harry menggunakan satu jarinya untuk mendorong mundur pemuda itu melalui keningnya, meski sedikit kesusahan karena ada perbedaan tinggi di antara keduanya walau tidak terlalu signifikan. Tetapi tetap saja, kan? Harry dapat melihat kilat terkejut di mata pemuda tampan itu sebelum berganti menjadi tatapan polos kekanakan lagi.
"Jika mereka mencoba melakukan sesuatu..." Harry mengatakan dengan nada enteng namun polos, senyum manis yang mempesona terulas apik di paras ayunya, membuat pemuda tadi kembali mundur selangkah melihat semua itu. "...mereka akan mendapat lebih dari sekedar hidung yang hancur, lebam-lebam dan patah tulang. Mungkin lain kali mereka akan berubah menjadi abu, tak berbekas terbawa angin."
Senyum persetujuan menetap di sudut bibir remaja lelaki itu, dan ia tiba-tiba tampak semakin lebih tua dari yang sebenarnya. "Aku yakin." Dia bergumam lirih, sepasang netranya menelisik wajah Harry, seakan mencari sesuatu.
"Dapatkah kamu hanya pergi jauh? Menjauh dariku maksudnya." Harry menawarkan senyum sayu kepada pemuda itu.
"Tidak."
Harry menghela napas berat. "Kau benar-benar serius, kan?"
Pemuda itu tetap menatap ke arahnya, Harry sejujurnya mulai merasa terbiasa jadi ia tak menanyakannya. Itu dia sampai tangan remaja tampan itu mengusap pipi halus miliknya. Ia segera menangkap tangan pemuda itu, namun yang terjadi malah tangannya ditangkap dalam dalam cengkeraman kuat dan Harry melihat bagaimana remaja lelaki itu membersihkan darah yang ada di jari-jari mungilnya dengan lidah lihainya.
Wajah Harry merona dengan imutnya. "A-apa yang kau lakukan?"
"Kau membuat Carrow berdarah." Hanya hal itu yang dikatakan pemuda tampan itu, lebih tertarik menginspeksi jari-jari lentik yang kini sudah bersih dengan jejak salivanya.
Harry hanya menatapnya dengan bingung dan terkejut. Orang macam apa dia ini?
"Ngomong-ngomong, aku Orion Black. Aku pikir aku seharusnya memperkenalkan diriku kepadamu, sejak kita akan menjadi teman baik. Dan, kau tahu, sejak kau tak mengingat apapun."
Orion. Black.
Okay, damn.
Ini adalah ayahnya Sirius. Itulah kenapa pemuda di hadapannya terasa sangat familiar. Semuanya ada di sana, lekuk bibir dan bentuk matanya, warna mata, kulit, dan gelombang rambutnya. Bahkan kilat di dalam sepasang manik silver itu sangat mirip, meski itu tidak lebih humorous dan lebih mencela.
Harry hanya menatap Orion dengan ekspresi blank, sedangkan pemuda itu menatapnya penasaran.
"Kau baik-baik saja?"
Okay, Harry sebenarnya panik sekarang. Rasanya ia ingin menjambak rambutnya kuat-kuat dan meringkuk saja di sudut ruangan. Benar, kan? Lady Fate membencinya.
"Moon?"
Harry kembali menatap Orion tepat di mata. "Ya?"
"Tak sopan untuk mengabaikan temanmu, kau tahu?" Orion berkata padanya dengan nada sing-song yang menyebalkan, terlihat sangat polos memang, namun mengejek di saat yang bersamaan. Bibirnya kembali mengulas senyum—terlampau—manis.
Harry belum pernah menemukan anak yang sebegini disturbing-nya sebelumya.
Black Family Madness, sebuah suara berbisik di belakang pikirannya.
Dia telah melihat bagaimana itu menelan Bellarix. Dia telah melihat Sirius kesusahan karenanya selama bertahun-tahun. Bahkan Draco—selama perang, lelah, berbagi pundaknya dengan Harry suatu malam—telah mengatakan ketakutannya apabila kutukan itu juga menelannya.
Dia dapat melihatnya dengan jelas pada diri Orion saat ini, bagaimana kilatan di mata itu, bagaimana cara pemuda tampan itu menggenggam tangan mungilnya. Semuanya meneriakan kegilaan.
"Orion."
Orion memiringkan kepalanya ke arah sumber suara, meski pandangannya tak terlepas dari Harry. "Ya, 'Rad?"
Dari sudut matanya Harry dapat melihat pemuda lain mendekati mereka, jauh lebih tinggi darinya, bahkan Orion yang lebih tinggi darinya. "Apa yang kau lakukan?"
"Membuat teman baru." Ia menjawab dengan enteng, mengerjapkan matanya polos dan beralih menatap ke arah si 'Rad' ini. Harry pun juga melakukan hal yang, selagi ada kesempatan.
Pemuda itu tampan layaknya seorang adonis, dan membawa dirinya dengan kepercayaan diri dan etiket. Dia jelas sekali berada di awal kedewasaannya, badannya sudah mulai terbentuk dan kekar serta ia telah kehilangan baby fat-nya.
Mata gelap itu menatap Harry dengan penuh ketertarikan, sebelum kembali menatap Orion.
"I see." Lagi, matanya beralih menatap Harry dan kembali. "Tidakkah Moon sibuk, dan kau memiliki sebuah tugas untuk besok, aku percaya. Sudahkah kau menyelesaikannya?"
"Huh, 'Rad." Orion merajuk dan memeluk Harry erat, menenggelamkan tubuh mungil itu ke tubuhnya yang lebih besar. Benar-benar mengabaikan bagaimana Harry menghela napasnya berat. "Kau menghancurkan kebahagiaanku saja. Aku ingin berbicara dengan Moon."
Harry mendengus di bahu Orion, jelas sekali Orion merasa tidak senang. Pergantian mood Orion benar-benar tak bisa diprediksi dan berbahaya.
Tetapi di saat yang bersamaan Harry mengasihani pemuda tampan ini. Dia terlalu muda, tetapi sudah harus ditelan oleh penderitaan temurun keluarganya. Itu benar-benar—menyedihkan sejujurnya. Karena yang Harry lihat sekarang hanyalan seorang anak yang tidak diberi kesempatan untuk benar-benar menjadi seorang anak tetapi sudah harus menanggung kutukan seperti itu.
Meskipun pikirannya mengatakan bahwa ini berbahaya, Harry merasa harus menolong pemuda ini. Atau paling tidak meringankan beban penderitaannya. Lagipula Harry butuh 'teman' di asrama ular ini, terlebih lagi setelah kehebohan yang ia buat di ruang rekreasi tadi. Dan Orion adalah orang yang tepat, karena remaja laki-laki itu jelas sekali adalah orang yang sangat berpengaruh di sini. Dan jika Orion mau berteman dengannya, mana bisa Harry menolak?
Dan Harry tidak akan mengeluh lagi jika hal itu bisa membantu pemuda ini. Sungguh.
Harry membalas pelukan Orion dan menepuk-nepuk punggungnya pelan. "There, there. Baiklah, Orion. Aku meminta maaf karena sudah bertindak sopan padamu. Kau benar, mungkin kita bisa mencoba untuk... berteman?" Ia mengatakan semua itu dengan nada hangat dan lembut.
Harry mengadah untuk melihat wajah remaja tampan itu, ia melihat bagaiman mata itu bersinar gembira dan senyumnya terlihat sangat tulus kali ini. "Benarkah? Kau dengar itu, 'Rad?" Orion berputar balik menghadapa 'Rad' dengan Harry masih berada di dalam dekapannya, wajahnya nampak berseri-seri. "Aku dan Moon adalah teman sekarang." Dia menyatakannya dengan nada penuh kepuasan dan kemenangan.
'Rad' mengangguk saja pada pemuda itu, kilat terhibur jelas sekali kentara di manik gelapnya saat Orion sudah berbalik dan ia mampu menangkap mata Harry yang mengintip sedikit dari bahu Orion. Walau singkat, Harry menangkap kilat peringatan dikirimkan kepadanya, dan Harry mengangguk paham.
Harry melepaskan pelukannya dan menepuk puncak kepala Orion pelan, setidaknya posisi Orion saat itu agak membungkuk sehingga Harry mampu menjangkaunya. "Menyenangkan bertemu denganmu, Orion." Harry memberikan senyum simpul kepada Orion. "Tetapi ku pikir akan lebih baik jika aku masuk ke kamarku sekarang, banyak hal yang musti kulakukan."
Orion mengangguk setuju, dan melangkah mundur memberi Harry ruang untuk membuka pintunya.
"Kita bisa makan malam bersama malam ini." Orion mengatakannya dengan ceria. "Tunggulah aku di ruang rekreasi dan aku akan menemuimu di sana."
Oh iya, makan malam di Great Hall. Bagaimana aku dapat melupakannya?
Harry memberikan senyum hangat, sebelum berbicara dengan lembutnya, "Terdengar menarik. Sampai jumpa kalau begitu."
Dan Harry menutup pintu kamarnya setelah melambaikan tangannya pelan ke arah ke dua pemuda itu.
000
"Cara berbicaranya lucu." Orion memproklamirkan sesaat suara pintu terkunci terdengar. Kepalanya ia miringkan ke samping, ekspresinya sendiri nampak seperti ia tengah terganggu. Dia kembali mengalihkan atensinya kepada Radolphus.
"Aku lebih terkejut saat dia berbicara. Moon bahkan tak bisa menggandeng dua suku kata sebelumnya, apalagi berbicara." Kata Radolphus, dengan patuhnya membiarkan Orion menyeretnya menuruni tangga.
Orion tertawa pelan. "Apakah kamu melihat saat dia mengalahkan Carrow? Tentu, caranya memang sangat muggle, tetapi tetap saja. Bagaimana mungkin tubuh semungil itu memiliki tenaga mengerikan seperti itu? Menakjubkan!"
Radolphus menggerutu, "Aku lebih tertarik mencari tahu dari mana ia mempelajari gerakan seperti tadi. Moon—hell, dia tidak dapat melakukannya sebelumnya."
Orion tahu semua itu benar adanya. Ia bisa melihat bagaimana Moon bergerak, itu terlihat... effortless. Pemuda cantik itu bergerak dengan cepat namun dengan tenaga yang besar. Saat itu Ganymede benar-benar terlihat anggun namun brutal. Dia juga terlihat sangat percaya diri—hal yang ia tidak memiliki beberapa tahun sebelumnya.
Hal itu membuat jantung Orion berdebar kencang karena excited.
Pikirannya kembali kepada darah yang melumuri tangan mungil dengan jemari lentik itu, begitu kontras dengan kulit seputih susu yang dimiliki Ganymede. Kilat kemarahan di sepasang emerald cantik itu juga... Bibir Orion berkedut.
"Dia memanggilku Orion." Dia mengatakannya pada Radolphus dan melihat bagaimana wajah kawannya itu bertempur antara terhibur dengan rasa kesal. Orion yang melihatnya tertawa saja.
Mereka embali memasuki ruang rekreasi, dengan jelas mengabaikan gertakan marah Carrow dan bisik-bisik murid lainnya.
Ganymede Moon sungguh membuat kesan yang besar.
Orion menuntun Radolphus ke spot milik mereka. Bahunya menegang ketika melihat siapa yang bergabung dengan mereka.
"Riddle." Radolphus menyapa mewakili keduanya, menyembunyikan ketidaknyamanannya.
Riddle memandang ke arah mereka dengan tatapan tanpa emosi. "Lestrange. Black."
Mereka duduk di sofa yang kosong di sebelah kanan Riddle. Orion menatap ke arah Thaddeus Nott. Pemuda pucat dan ramping itu duduk dengan malas-malasan di kursinya sendiri. Sepasang netranya memandang kosong ke langit-langit ruangan. Di sampingnya Atticus Avery duduk dengan punggung tegak. Pemuda tampan berambut pirang keemasan itu selalu menampilkan kesan licik pada dirinya. Agak jauh dari mereka ada seorang pemuda tampan dengan surai putih dan sepasang manik amethyst mengedarkan pandangannya dengan bosan. Hm, ia tak tahu siapa pemuda itu.
Di sebelah kiri Riddle sendiri ada Rupert Dolohov, seorang pemuda dengan rambut panjang berantakan dan hiperaktif, nampak asyik mencoba mengajak bicara pemuda adonis tampan bersurai pirang platinum di sampingnya atas nama Abraxas Malfoy.
"Kapan kau kembali?" Orion bertanya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa di belakangnya.
Di pangkuan Riddle nampak buku Sejarah Kuno Keluarga Dunia Sihir yang dipinjam dari Radolphus. Pemuda tampan dan dingin itu tak pernah mengatakan mengapa ia menginginkannya, dan Orion tidak bertanya, tetapi pemuda itu sudah menyimak buku itu dengan khidmat selama seminggu penuh.
"Beberapa menit yang lalu, aku tak dapat membantu diriku untuk memperhatikan wajah Carrow yang baru saja dibenahi." Terdengar nada terhibur dari suara baritonenya. Orion tahu Riddle sama sekali tidak menyukai Carrow , setelah menjadi korban dari pelampiasan murid yang lebih tua selama dua tahun pertamanya lebih dari cukup bagi Riddle untuk tak mau berurusan lagi dengannya.
Sebuah seringai lebar hadir di wajah tampan Orion. "Oh, Riddle. Kau melewatkan sesuatu yang menarik!" Dia berbisik.
"Moon telah kembali." Kata pemuda itu dengan riang.
"Aku pikir dia mengalami amnesia. Mengapa dia kembali ke sekolah?" Ada kilat curiga di sepasang manik amber itu, dan Orion tahu bahwa Riddle telah menyambungkan semua tanda-tanda itu menjadi sebuah spekulasi yang brilian.
Orion terkikik geli. "Aku tak tahu mengapa ia kembali. Tetapi dengan ingatan atau tidak, hal itu tidak membuatnya berhenti untuk menghancurkan hidung Carrow. Kau seharusnya melihatnya, Riddle. Satu pukulan. Hanya itu yang ia perlukan."
Ketertarikan berkembang di wajah aritokratiknya, dan Riddle menyeringai samar. "Moon memukulnya?"
"Dan melempar Caspar ke arah meja, lalu membanting Grahams dengan keras ke lantai. Aku bersumpah mendengar bunyi retak keras sekali. Aku yakin itu tulang-tulang mereka yang patah." Thaddeus menambahkan dengan ringan, masih menatap ke arah langit-langit.
Keheningan sesaat mengisi tempat itu, dan Riddle menaikkan sebelah alisnya heran. "Dan di mana dia sekarang?"
"Di kamarnya." Radolphus berkata, nada humor terselip di sana.
Orion memutar bola matanya main-main. "Radolph masih terhibur karena aku dan Moon berteman sekarang."
"Teman?" Riddle bertanya, pemuda itu memutar lidahnya seperti mencicipi rasa dari kata itu di indera perasanya itu, bibirnya sendiri berkata seakan itu adalah kata yang asing baginya.
Orion bersenandung lirih. "Aku ingin menghancurkannya." Ia berkata dengan senangnya. "Dia sangatlah menarik sekarang ini." Orion memiringkan kepalanya dengan senyum lebar di wajahnya. "Tidakkah kau juga berpikir begitu, 'Rad?" Ia menarik-narik pelan lengan Radolphus. "Kita dapat bersenang-senang sekarang."
Radolphus mengusak pelan surai hitam Orion. "Pekerjaan rumah yang pertama. Setelah itu kamu dapat bermain sebanyak yang kamu mau."
Orion mencebikkan bibirnya lucu. "Kau benar-benar tidak asyik." Meskipun begitu, ia tersenyum cerah kemudian. "Ngomong-ngomong, aku mengundangnya untuk duduk bersama kita untuk makan malam."
Pengumumannya bertemu dengan berbagai reaksi sebal dari yang lainnya.
"Apa?!" Atticus bertanya dengan nada heboh.
"Kau benar-benar serius?" Desis Rupert tak senang dengan senyum sinis.
"Aku akan menjadi yang pertama untuk mengakui bahwa ia dengan sangat mengejutkannya kompeten dengan kelompok Carrow. Tetapi dia masihlah seorang Moon. Kau ingat siapa dia, kan?" Abraxas berkata tanpa emosi, namun manik siver-aquamarinenya berkilat lebih dingin dari biasanya.
"Aku ingin dia duduk dengan kita." Orion berkata, nadanya terdengeras keras dan tak bisa dibantah. Ia puas melihat raut terkejut di wajah yang lain. "Riddle?"
Orion tidak berusaha untuk beralih menatap yang lainnya saat ia memanggil pemilik nama itu. Ada keseimabangan di dalam grup mereka saat ini, dan sedangkan Orion di puncak karena darah, maka Riddle tepat berada di sebelahnya karena kekuatannya.
Satu sampai dua tahun ke depan akan menjadi penentu siapa yang menang, tetapi sejujurnya, Orion sama sekali tidak peduli.
"Siapa aku untuk menghalangimu dengan permainanmu?" Riddle berkata setelah terdiam sesaat, dan setiap tension menguap dari tubuh Orion.
Dengan keduanya di dalam persetujuan, tidak adal hal lain yang dapat yang lainnya lakukan untuk menghentikannya.
"Bagus." Orion mengerik. "Aku tak dapat menunggunya."
Riddle menatap semua itu dengan terhibur, sebelum menyadari sesuatu.
Sebelum Riddle kembali ke asrama Slytherin, Kepala Sekolah Dippet menitipkan seseorang kepadanya. Ia adalah murid pindahan baru dari Beauxbatons yang masuk ke asrama Slytherin.
Menarik, pikir Riddle.
Ia mengamati dengan cermat pemuda yang kini duduk di di seberangnya itu. Surai putih lurus yang tertata rapi. Wajah aristokratik tampan dengan sepasang manik amethyst yang nampak begitu bosan dan malas, tetapi ada sesuatu di mata itu yang kini tidak ia ketahui apa maknanya. Pemuda itu memiliki tubuh tinggi atletis. Tak salah lagi kalau orang ini adalah seorang pureblood.
"Ah..." Riddle tersenyum sopan. "...Aku meminta maaf sampai melupakanmu begini."
Seakan mengerti ia di ajak bicara, pemuda tadi hanya tersenyum malas. "Tidak masalah."
"Tidak, tidak. Bagaimanapun aku tetap bersalah. Aku bahkan belum mengetahui namamu."
Pemuda itu tiba-tiba bangkit berdiri, membuat semua perhatian tertuju pada figurnya yang dengan cepat berubah menjadi sosok yang mengintimidasi. Sepasang netranya kini menatap mereka dengan tatapan dingin yang penuh perhitungan. Bibir tipisnya tertarik membentuk senyum asimetris yang membuat siapapun melihatnya menjadi merasakan kengerian yang luar biasa. "Terimakasih atas semua informasi yang secara tak sadar kalian bagikan padaku. Aku jadi cukup tahu apa yang terjadi di sini."
Pemuda itu mulai melangkah pergi ke aula kamar tidur. "Aku tak tahu apa alasan orang itu menerima pertemananmu, Black. Namun..."
Ia menghentikkan langkahnya saat akan berbelok. "...Apapun itu pasti adalah alasan yang bagus. Tetapi biar ku peringatkan kau!"
Sekali lagi pemuda tampan itu berbalik menatap kerumunan tadi. "Kau melukai dia sedikit saja, bahkan meski hanya segores tak kasat matapun, aku bersumpah! Aku akan membalasnya berkali lipat.—Ah, bukan hanya kau... tetapi kalian semua juga. Akan kupastikan memburu kalian semua meski hingga ke ujung dunia, bahkan neraka sekalipun."
Ia menawarkan seringai beringas sebelum berbalik hendak menaiki tangga. "Ah, dan kau bertanya siapa namaku tadi, benar?"
Keheningan menyambut, membuat seringai itu bertambah semakin lebar.
"Oberon Moon. Namaku adalah Oberon Moon."
Dan pemuda itu, Oberon, pergi dari sana dengan langkah percaya diri dan senyum mematikan terlukis apik di wajah tampannya. Meninggalkan kerumunan yang terdiam entah dalam keterkejutan atau horror.
Oh? Ataukah itu keduanya?
000
Harry tersenyum lelah entah pada siapa. Dengan lesu ia keluar dari ruangannya, menutup pintunya setelah itu menguncinya. Dia sangat letih, setelah menghabiskan satu setengah jam penuh memasang kamarnya dengan seluruh wards yang ia ketahui.
Ia juga harus menata barang-barangnya dan harus menahan perasaan bersalah saat memegang semua barang pribadi Ganymede.
Dan sekarang ia harus menangani makan malam dan semua politik licik yang ia tahu Slytherin operasikan.
Dengan helaan napas, dia berjalan ke arah tangga dengan telapak tangannya mengusap dahinya, berusaha bertahan dengan segala denyutan yang setiap detik bertambah terasa semakin menyakitkan.
Dia mulai menuruni tangga dan saat ia berbelok di ujung tangga, dia bertabrakan dengan seseorang.
Harry jelas terjatuh, namun nampaknya hal itu tak berlaku bagi sosok yang lainnya.
"Ah, maaf." Sosok itu membantunya berdiri dengan lembut, baru melepaskan pegangan pada lengannya setelah ia memastikan ia sudah dapat berdiri dengan benar.
Harry menggeleng pelan dengan senyum kecil terulas di wajahnya, pandangannya masih berkunang-kunang. "Tidak, aku seharusnya yang meminta maaf. Aku tak melihat ke mana aku berjalan."
Harry menggapai sebuah bola kristal indah yang sepertinya dijatuhkan sosok itu. Ia mengambilnya dan menyerahkannya pada sosok itu. "Ini dia, ku harap tidak ada yang rusak." Dan akhirnya Harry mengadah untuk melihat sosok itu.
Jantungnya terasa berhenti untuk sesaat.
Seorang pemuda atraktif dengan sepasang mata gelap yang sensual, surai pendek ikal sehitam langit malam, dan kulit putih pucat serta tubuh tinggi dengan tubuh bak perenang menjulang menatap balik ke arahnya.
Yang membuat Harry terkejut adalah... entah bagaimana, mungkin pemuda ini memiliki hubungan dengan Bellatrix. Tetapi Harry memutuskan untuk melihatnya sendiri.
"Ah, Moon. Ke mana kau akan pergi?"
Harry nampak sedikit terperangah sebelum kembali seperti sedia kala. Ia memasang senyum kecil di wajahnya yang manis. "Aku baru akan pergi ke aula besar untuk makan malam."
"Ah..." Pemuda itu mengangguk kecil. "...I see."
Keheningan nampak mengisi tempat itu. Harry sendiri nampak merasa sedikit canggung terus berada di bawah tatapan tak terbaca dari pemuda itu. "Uhm... maaf. Tapi aku belum mengetahui namamu tuan...?"
Suara tawa kecil memenuhi tempat itu, dan Harry harus mengakui bahwa ia menyukai suara pemuda itu. Sangat enak untuk didengarkan. Nyaris mengingatkannya dengan sang ayah maupun sang kakak.
"Oh, maafkan aku. Namaku adalah Cassius Rosier."
Definitely Bellatix's relative, then.
Harry mengangguk dengan senyum manis yang sopan. "Senang bertemu lagi denganmu, Rosier."
Cassius nampak menaikkan sebelah alisnya, terhibur. "Panggil saja Cassius."
Senyum Harry melebar, entah mengapa ia menyukai sosok Cassius ini dengan cepat. Lupakan hubungannya dengan Bellatrix!
"Panggil aku Ganymede juga kalau begitu. Bukankah adil?"
Cassius mengangguk dengai seringai kecil di wajahnya, "Nah, Ganymede. Bukankah kau bilang kau akan pergi ke Great Hall untuk makan malam?"
Harry mengerjapkan matanya pelan sebelum mengangguk tak yakin. "Ya."
Seringai Cassius melebar. "Bagaimana kalau aku ikut denganmu? Apa kau tak keberatan?"
Nah, Harry dilema sekarang. Di satu sisi Orion sudah mengajaknya dan di sisi yang lain Harry tak enak jika harus menolak permintaan Cassius. Untuk sekarang Orion dan Cassius sama-sama di level yang sama baginya. Bisa dibilang mereka potensi temannya di asrama ular ini.
"Tapi..." Harry menggigit bibir bawahnya hingga kemerahan, menimbulkan kilat aneh di mata Cassius.
"Kau tidak mau?"
"Bukan begitu!" Sergah Harry cepat. "Masalahnya Orion juga mengajakku pergi bersama. Kalau kalian berdua tak keberatan pergi bersama, kupikir..."
"Ah, Orion." Cassius mengangguk mengerti. "Ku rasa tak masalah. Aku akan berbicara padanya."
Harry tersenyum tak yakin, namun binar pengharapan nampak hadir di manik emeraldnya yang jernih. "Benarkah?"
Cassius menawarkan senyum sayu dan tatapan teduh kepada remaja imut itu. "Ayo pergi."
Dan mereka pun pergi bersama menuju ke arah ruang rekreasi, tempat di mana sepertinya Orion dan kemungkinan besar Radolphus sudah menunggu.
000
Hallo,
Yo! Harry in action, guys, Dan Oberon sudah mulai menunjukkan dirinya yang asli. Jangan lupa baca note dariku dan jika ada pertanyaan yang ingin kalian tanyakan... feel free for asking. Entah bagaimana aku mencintai karakter Orion dan Cassius di sini—Selain Harry dan mungkin Oberon tentu saja. Jadi, bagaimana pendapat kalian? Stay tune, and see you next chapter!
Sincerely,
Jiya
