BACK IN TIME
Disclaimer: I don't own Harry Potter. I only own the original characters and this story.
Sumarry: Kebohongan. Pengkhianatan. Kegelapan. Kesendirian. Harry merasa dirinya mati secara perlahan dengan cara yang paling menyakitkan. Bagaimana jika Harry kembali ke tahun 1943 dan terbangun di tubuh seorang anak berumur lima belas tahun bernama Ganymede Moon. Akankah Harry dapat pulih dan mendapatkan kehidupan yang sepantasnya ia dapatkan? Pairing's not decided yet.
Note: Bagi yang bertanya-tanya... Yep! Cerita ini akan jadi slash. Jadi bagi yang tidak suka, maaf banget ya? Masalah couple, Ji rasa ini kan jadi TomArry or TRHP. Tetapi sesungguhnya, Ji masih bingung. Apa Ji buat harem aja, ya? /LoL/ Bercanda :v Intinya, selamat menikmati chapter ini, guys!
Warning: Bears with Typos, Ocs, OOCness, Time Travel, etc. Perhaps there will be some discussion about rape and torture, perhaps no. And there will be hints of slash and something like that. So, It's up to you.
000
Harry meremas-remas bagian depan jubahnya hingga tak lagi berbetuk seraya berjalan menuju aula besar.
Dia dengan samar menyadari bahwa Orion berjalan di sisi kirinya sambil mengoceh tak jelas dan Cassius berjalan dengan tenang di sisi kanannya. Ia juga tahu bahwa Radolphus mengikuti tepat di belakang mereka tanpa mengucapkan satu patah kata apapun.
Sesekali ia mengiyakan pertanyaan—atau itu pernyataan—yang ditujukan oleh Orion kepadanya, paling tidak memberikan kesan bahwa ia tertarik pada apapun yang pemuda itu katakan dan bukannya mengabaikannya. Kenyataanya, pikirannya melayang entah kemana. Mungkin pikarannya itu sedang terjebak di masa lalunya. Hell, ia bahkan tak tahu lagi.
Tidak mungkin sebenarnya ketiga orang itu tidak mengetahui bahwa pikiran serta atensinya sedang tak berada di sana, tetapi mereka nampaknya tak peduli.
Harry mengangkat tangannya untuk membenarkan letak kacamatanya, hanya untuk menemukan jari-jarinya meluncur pada kulitnya yang kosong. Dia menghembuskan napas kasar, merasa iritasi. Kebiasaan seperti itu konyolnya sangat sulit untuk dihilangkan, itu anggapan yang ia dapatkan, dan setelah menghabiskan kurang dari dua dekade memakai kacamata tebal itu, kebiasaannya itu tak akan lenyap dalam waktu dekat.
Harry merasa telanjang tanpa beban familiar di wajahnya.
Harry mencubit hidungnya untuk menutupi gesture tubuhnya tadi, ia harap tak ada yang menyadari kesalahannya itu.
Ia menjatuhkan tangannya ke sisi tubuhnya dengan agak keras dan memandang kesal ke depan dengan ekspresi tak senang, pemuda itu mengerucutkan bibir mungilnya. Pikirannya mau tidak mau kembali berlabuh pada masalah yang menempel padanya.
Dia ingin menjadi marah.
Tidak. Ia ingin menjadi amat sangat marah.
Tetapi tidak peduli bagaimana pikirannya teraduk dan perutnya melilit, ia tidak dapat memanggil kemarahan familiar yang ia telah terima untuk bertahun-tahun lamanya.
Itu sangat mencemaskan.
Harry tidak pernah memiliki masalah bereaksi dengan emosinya sebelum ini. Marah, khususnya, adalah sesuatu yang sangat sulit ia kontrol. Harry tidak kasar atau kejam, hanya saja temperamennya itu memang agak buruk. Orang-orang bilang ia mendapatkannya dari sang ibu, Lily. Akan tetapi ia tahu letak kesalahannya di mana, dan ia hanya akan baru meledak kalau sampai ia dituding dengan kesalahan yang jelas sekali bukan miliknya.
Tempernya memang lebih sering membuatnya dalam masalah daripada hal lainnya. Dia sudah sangat terbiasa kalau hal itu kembali terulang sebagai permulaan dari kesialannya, rasanya perasaan itu begitu dekat dengan kulitnya sampai-sampai ia begitu akrab dengan sensasinya.
Harus melihat Tom-Voldy Moldy—Riddle satu ruang dengannya seperti tadi harusnya cukup membuatnya untuk segera meraih tongkat sihirnya lalu melemparkan mantera terkuat yang ia punya. Oh, meninju atau mungkin menendangnya dengan sekuat tenaga saja sudah cukup membuat Harry puas.
Oke, agak berlebihan memang. Ia hanya melihat sosok yang melenggang santai keluar dari ruang rekreasi dari ujung tangga menuju ke kamar asrama. Tetapi Harry bisa mengenali figur itu dengan sangat—teramat—cepat. Tentu saja kau akan mengenalinya kurang dari sepersekian detik jika saja lebih dari seumur hidupmu harus berurusan dengan sosok Pangeran Kegelapan itu.
Karena tentu saja, tentu saja ia harus mendarat di tahun 1943, terjatuh di tengah-tengah tahun sekolah Riddle. Hanya ia mungkin yang dapat mewujudkan sesuatu yang sebegini menggelikan dan tak adil bahkan tanpa bermaksud begitu.
Harry berhenti sejenak di ambang pintu aula besar, sepasang manik emeraldnya yang jernih nampak menerawang jauh.
Berada di sekitar Riddle tentu saja akan menjadi sesuatu yang runyam. Harry tidak memiliki keraguan atas kemampuannya untuk menghindari dan—jika dibutuhkan—menangani pemuda itu. Jika pemuda itu lebih muda, belum terlalu yakin akan dirinya, mungkin Harry akan memegang keuntungan untuk menanganinya.
Tetapi sejujurnya, Harry saat ini berada di atas dalam hal pengetahuan dan kemampuan bertarung dan ia tentu saja mendapat banyak sekali keuntungan dalam mengalahkan seorang pemuda berusia enam belas tahun. Tak peduli seberbakat apapun mereka, karena ia juga masuk ke dalam kategori sangat berbakat dalam hal kemampuan duel dan bertarung. Ditambah lagi ia memiliki pengalaman perang dan hampir mati berulang kali. Dan pengalaman menghadapi orang yang dimaksud dengan konstan tentu saja.
Jadi tidak, dia tak terlalu gugup tentang Riddle seperti pemuda itu waspada terhadapnya.
Tetapi ada satu hal yang dapat ia yakini dengan mutlak. Riddle tidak dapat, di bawah keadaan apapun, menemukan siapa ia sebenarnya. Ada terlalu banyak hal yang dapat pemuda itu lakukan jika ia mengetahui separuh—bahkan secuil—informasi yang Harry miliki di kepalanya.
Dia mungkin bukan murid Sejarah yang terbaik, tetapi ia cukup tahu tentang apa yang terjadi di era ini. Cukup informasi untuk menghancurkan segalanya. Tetapi ini bahkan lebih dari hal itu. Harry telah, secara langsung maupun tidak langsung, terlibat dalam beberapa kejadian krusial di masa depan dunia sihir.
Hal terakhir yang Pangeran Kegelapan itu butuhkan adalah pengetahuan mengenai dekade-dekade yang akan datang.
Merlin, Harry berpikir dan tiba-tiba merasa hawa dingin merayapi tubuhnya, jika ia menemukan tentang Halloween, siapa yang dapat mengatakan apa yang mungkin ia lakukan?
Riddle dapat melakukan berbagai cara untuk menghindari takdir itu. Ia dapat mengabaikan tentang Ramalan itu. Ia dapat hanya menyingkirkan Lily dari jalan tanpa membunuhnya, hal itu dapat memindahkan mantera perlindungan kuno yang ada pada diri bayi Harry. Ia dapat hanya meledakan rumah keluarga Potter daripada datang secara pribadi untuk membunuh mereka.
Hentikan! Ia berkata pada pikirannya yang mulai tak terkontrol dan menjadi liar. Imajinasinya memang luar biasa nampaknya. Orang itu takkan menemukannya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Jadi, demi menjaga garis waktu dan melindungi keluarganya—baik The Potters maupun The Moons—serta demi kewarasannya sendiri, berinteraksi dengan Riddle lebih daripada yang diperlukan—karena ia hanya tahu bahwa pemuda lainnyalah yang akan datang kepadanya, terimakasih pada pertemuan mereka yang kurang lebih selalu berkaitan—adalah TIDAK. Dengan huruf kapital yang dicetak tebal dan digaris bawahi. Camkan itu!
Yang mana sangat bagus untuknya. Harry tak memiliki ide tentang bagaimana ia bahkan akan bereaksi terhadap pemuda itu jika ia kehilangan kendali atas emosinya di sekitar pemuda itu.
Meskipun... tidak ada Tom Riddle, maka tidak ada Voldemort, maka tidak ada perang... Harry tersentak dengan pemikirannya itu. Ia sedikit mengingatkan dirinya atas konsekuesi dari pikiran itu, tetapi Harry sungguh tak dapat membantu dirinya yang berpikiran seperti itu.
Oh, tidak tidak. Harry tidak berpikir untuk membunuh ataupun melenyapkan Riddle. Hanya saja, jika dipikir-pikir, Riddle itu kurang lebih sama dengannya. Bedanya jika Tom Riddle tetap hidup dalam dendam dan kesendiriannya, Harry memaafkan dan berusaha sebaik yang ia mampu untuk mencintai orang lain.
Tom Riddle adalah seorang murid yang brilian dan memukau orang-orang di sekitarnya. Sedangkan Voldemort adalah pria gila yang sudah terlalu jauh terjerumus dalam kegelapan dirinya sendiri. Harry penasaran, apa jadinya jika Tom Riddle dapat berubah dan tidak berakhir menjadi Lord Voldemort? Ia pasti akan menjadi seorang penyihir hebat dengan kekuatan politik maupun sihir yang luar biasa. Dan mungkin pemuda itu dapat memberantas segala kekorupan kementrian sihir.
Harry jadi berpikir, apa ia mampu merubah Tom Riddle untuk kebaikan? Terdengar mustahil memang, karena rasaya Riddle dan kebaikan itu tak dapat menjadi satu. Dan yang pasti perjuangannya ini akan menjadi jalan yang terjal dan panjang.
Tetapi Harry pikir lebih baik seperti itu. Setidaknya ia akan berusaha sekuat tenaga untuk tujuannya kali ini. Jika sebelumnya ia bingung karena tidak memiliki tujuan jangka panjang di dunia ini, maka sekarang ia punya. Dan jika harus ke Neraka sekali lagi, Harry akan keluar dari sana dengan cara apapun agar tujuannya tercapai.
Memang ada kemungkinan bahwa yang akan ia lakukan itu akan menghacurkan segalanya, bahwa yang ia lakukan sepertinya akan lebih berbahaya daripada baik. Bahwa seseorang yang jauh lebih buruk dari Voldemort akan menggantikan tempatnya. Dia yakin jika Riddle tidak pernah menjadi dirinya yang seharusnya, seseorang akan menggantikannya. Kekuatan dan keserakahan akan selalu ada di sana untuk merusak jiwa-jiwa yang kurang beruntung.
Dan hak apa yang Harry miliki untuk bertaruh dengan ribuan nyawa—kemungkinan jutaan—para penyihir dan makhluk lainnya? Dia bukanlah seorang dewa, dan dia tidaklah cukup egois untuk mengambil kesempatan untuk masa depan yang lebih baik berdasarkan taruhan yang tidak jelas.
Lebih baik untuk semua orang jika ia membatasi perubahan yang terjadi sebanyak mungkin.
Oh, tentu Harry akan membatasi perubahan itu. Tetapi sayangnya, Harry memutuskan untuk tetap membantu Tom Riddle. Bukan hanya demi dunia sihir secara keseluruhan, Harry melakukannya lebih kepada untuk membantu Tom Riddle itu sendiri. Harry tidak mau ada orang yang merasakan penderitaan yang sama dengannya. Tidak, selama ia dapat membantu.
Jadi biarlah ia membantu Tom Riddle sebagai Harry saja. Sebagai penyihir dengan sesama penyihir lainnya.
Baiklah, keputusan dibuat.
"Moon!"
Sepasang tangan mengguncang bahu ringkihnya dengan lembut. Dengan cepat Harry segera sadar dari pikirannya yang tadinya melayang kemana-mana itu.
Ia mengerjapkan sepasang doe eyes miliknya, manik emeraldnya nampak menatap bingung ke arah sosok di depannya. Terlihat sangat menggemaskan sebenarnya.
"Ah..." Harry tersenyum malu, pipinya ikut memerah. "Maaf, Orion. Aku kurang memperhatikan sekitar." Harry meraih kedua tangan Orion lalu menurunkannya dari pundaknya dengan penuh kelembutan. "Maafkan aku."
"Tak apa." Pemuda itu berkata, menjauhkan dirinya dari Harry kemudian tanpa mau melepaskan kedua tangan Harry dan malah balik menggenggamnya. Meski tak nampak, Harry dapat melihat dengan jelas raut khawatir di wajah tampan itu. "Tapi kau tak apa, kan? Aku memanggilmu berulangkali selama lebih dari satu menit."
"Benarkah?" Harry menatap ke arah sekitar kemudian, dan mencatat dalam hati mengenai berapa banyak orang yang menatap ke arah mereka, apalagi dengan posisinya dan Orion saat ini. Harry mengerutkan hidungnya lucu, tanda tidak suka. Ia benar-benar membenci atensi orang banyak dan ia tidak akan pernah menjadi sangat nyaman dengan banyaknya orang yang menontonnya.
Orion mencondongkon tubuhnya ke arah si penyihir mungil, lalu membisikkan sesuatu. "Apakah kamu mengingat sesuatu?" Dia bertanya dengan nada halus dan penasaran.
Sepasang netra Harry menatap tepat ke arah manik silver milik Orion, menyipitkan matanya dan seakan menilai Orion. Harry sadar bahwa Orion memiliki tujuan tertentu untuk mendekatinya, meski Harry juga melihat betapa bahagianya pemuda itu ketika ia setuju untuk menjadi temannya. Meski tak ada yang mengetahuinya, bahkan mungkin pemuda itu sendiri tidak menyadarinya.
Dia memang akan membantu pemuda itu—absolutely, tetapi apa yang Orion pikir akan ia dapatkan dengan menjadi dekat dengannya?
Hanya kawan? Seorang pengikut setia? Keluarga Moon, Harry ketahui, sangatlah kaya dan berpengaruh, apalagi dalam bidang ilmu sihir khusus nan langka. Tetapi jika melihat status keluarga Black yang notabene adalah keluarga penyihir tertua, apa yang ia dapatkan dari seorang Ganymede Moon?
Harry memirinkan kepalanya dengan ekspresi polos.
Apa yang kau inginkan?
"Tidak." Ia menjawab setelah keheningan sesaat. "Hanya hilang di dalam pikiran saja."
Orion dan Radolphus bertukar pandangan untuk sesaat, sebelum mengembalikan fokus mereka kepadanya. Orion tersenyum misterius dan kembali menempatkan diri di sisi kirinya sambil mengaitkan jari-jari mereka dalam sebuah gandengan yang cukup erat. Ia juga menyeret Radolphus agar berdiri di sampingnya dengan tangannya yang bebas.
Cassius sendiri melempar senyum samar ke arah Harry, sebelum merangkul tubuh mungilnya. ""Oh, baiklah. Ayo kita duduk dan makan sekarang. Aku mulai lapar." Ia berkata dengan nada dan senyum ceria. Harry dibuat merinding melihatnya.
Harry memandang itu semua dengan senyum terhibur dan senyum penuh humor di wajah imutnya. Ia pasrah saja saat Cassius dan Orion menyeretnya—dan Orion menyeret Radolphus—ke arah meja panjang asrama Slytherin.
Mereka akhirnya duduk dengan posisi yang sama, diawali dari Radholphus di ujung kiri, lau diikuti Orion, Harry, dan yang terakhir Cassius. Orion dan Cassius sendiri nampak mendempetnya seolah melindungnya dari berbagai arah. Harry agak tidak nyaman sebenarnya, tetapi ia mencoba menghiraukannya.
Ia mengabaikan bagaimana Radolphus menatap ke arahnya dari atas kepala Orion dengan tatapan tak terbaca.
Ia mengabaikan lirikan-lirikan yang ia terima pada dasarnya dari setiap meja dan sudut aula.
Ia mengabaikan bisikan-bisikan dan gelak tawa mengejek yang ditujukan kepadanya.
Dan khususnya ia mengabaikan sosok Tom Riddle yang duduk di seberang Orion.
Lady Fate memang membenciku, pikir Harry pasrah, menatap ke arah tangan kurusnya untuk mengindari tatapan pemuda itu dan dengan absurdnya ia melewatkan bekas luka-luka tipis yang biasanya terlihat menonjol di tangannya yang seputih susu itu. Tubuh ini bebas dari bekas luka dan terlalu mulus—yang entah bagaimana membuat Harry sedikit tidak nyaman.
Dan telapak tangannya juga sangat off. Asing. Ganymede Moon memiliki tangan mungil dengan jari-jari yang panjang dan lentik serta begitu halus dan lembut. Harry merasa tidak wajar dengan semua itu, karena tangannya yang ia tahu kasar dan memiliki banyak kapal. Hal itu cukup membuat Harry merasakan duri imajiner dari kesalahan di dadanya.
"Jadi, Moon, ini adalah tempat yang baru untukmu." Harry mengadah ketika menyadari seseorang berbicara kepadanya, memiringkan kepalanya untuk melihat seorang murid lebih tua memandang rendah ke arahnya.
"Apa?" Ia bertanya, tidak mengerti. Ia masih terperangkap dalam pikirannya sendiri nampaknya.
Hidungnya berkerut mendengar pertanyaan Harry, seakan ia mencium sesuatu yang anyir dan tak sedap. "Ini." Ia berkata sambil menunjuk ke arahnya, seakan hal itu dapat memperjelas apa yang tengah ia bicarakan.
Harry menatap polos dengan ekspresi santai kepada gadis itu, sebelah alisnya naik. "Maafkan aku, aku masih belum mengerti."
Gadis itu mendengus, bibirnya menggeram. "Well, paling tidak ada yang tidak berubah darimu."
Terdengar kekehan sinis dan tawa mengejek di sekelilingnya, dan meskipun dirinya sendiri, Harry merasa emosinya mulai naik. Ia tidak pernah menangani menjadi bahan ejekan dengan baik.
Ia mengatupkan rahangnya erat, dan telapak tangan di pangkuannya mengepal kencang.
"Yang kumaksud..." Gadis itu melanjutkan. "...bahwa kamu, duduk di sini, adalah hal baru. Kamu pasti merasa sangat spesial."
Harry menatap ke arah sekitarnya, merasa bingung. Apa yang gadis itu maksud sebenarnya? Apa yang begitu spesial tentang duduk di meja Slytherin? Bahkan siapa saja bisa duduk di sini.
Atau... yang ia maksud adalah tempat dan posisi duduknya? Dengan ia yang duduk dekat dengan Orion? Dia tahu hierarki sangatlah penting terutama di Slytherin. Jika Ganymede berada di tingkatan terbawah hierarki di asrama ini, maka Harry memaklumi reaksi mereka saat duduk dengan salah satu powerhouse di asrama Slytherin.
Apakah mereka sebegitu marahnya jika ia duduk dengan Orion?
Harry merasa bibirnya berkedut seiring dengan peningkatan moodnya, dan kekehan gelipun lepas dari bibirnya melawan niatnya yang sebenarnya tak mau lagi membuat masalah.
Menarik.
"Maaf." Harry terkesiap. "Maafkan aku."
"Kamu pikir ini lucu?" Gadis itu membentak, mencondongkan tubuhnya ke arahnya. Upaya intimidasi itu sama sekali tak mempengaruhinya. Ia sudah menghadapi sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari ini.
Harry selalu bersedia bermain dengan bahaya, dengan itu seulas senyum manis hadir di wajah ayunya. "Oh, Milady." Kilat terhibur terpancar jelas di matanya. "Aku sama sekali tak berpikir demikian."
"Kamu berdiri di atas lapisan es tipis di sini, Moon. Berhati-hatilah, atau kau akan menemukan dirimu di dunia penuh masalah."
"Apakah itu ancaman?" Ekspresi Harry berubah menjadi dingin, matanya menatap tanpa emosi ke arah gadis itu. "Masalahnya adalah... masalah itu sendiri nampaknya selalu mencariku. Jadi tak perlu khawatir, sungguh. Atau kau adalah wujud dari masalah itu sendiri, nona?" Ia mengatakan semua itu dengan nada datar dan halus.
Gadis itu tersentak balik, entah karena perubahan emosinya yang begitu cepat dan mendadak atau dari peringatan tersembunyi di dalam perkataannya, ia tak tahu pasti. Tanpa berpikir lagi, Harry tahu ia menang saat gadis itu menunjukkan tanda kelemahannya tadi.
Gadis itu tersenyum mengejek kepadanya, tetapi kemudian mengalah.
Harry menatap semua itu dengan bosan.
"Kamu seharusnya lebih berhati-hati."
Komentar tenang itu dengan segera mengalihkan atensinya, dan tanpa memandang sekalipun Harry tahu itu Riddle. Ia memasang ekspresi dan tatapan kosong saat menghadap pemuda itu.
Riddle sendiri memandangnya dengan penuh penasaran, tidak ada tanda-tanda niat jahat. Tetapi Harry tetap waspada.
"Kenapa?" Ia bertanya, suarannya terdengar bak nitrogen cair. "Jika mereka datang ke arahku, aku tidak akan hanya duduk diam dan menerimanya."
Riddle menelisik lebih jauh penyihir—yang dengan terpaksa ia akui—manis itu. "Kamu tidak melakukan hal itu sebelumnya."
Sesuatu tentang komentar itu membuat Harry sakit. Mungkin itu adalah pengingat bahwa tak seorangpun, bahkan Ganymede, menghentikan pembully-an yang terjadi. Mungkin itu hanya Riddle, seseorang yang mengatakannya.
"Ya." Harry tersenyum sayu. "Mungkin aku merasa lelah dengan semua itu. Bahkan orang paling sabar sekalipun memiliki batas, bukan?"
Riddle mengangguk dengan ekpresi dan tatapan yang aneh.
"Ku pikir itu bagus." Radolphus berkata dengan halus. "Membela dirimu sendiri adalah hal yang sangat penting."
"Tetapi bertujuan menentang orang lain dan menciptakan musuh adalah hal yang bodoh." Ujar Riddle dengan malas.
"Mungkin aku tidak peduli lagi. Apa bedanya?" Harry tertawa miris. "Mungkin mereka yang seharusnya menghindariku sebagai musuh."
Riddle menaikkan sebelah alisnya, berbicara dengan nada penuh peringatan. "Josephina Flint bukanlah sesorang yang bisa kau lawan dengan mudahnya."
Flint? Harry menatap kembali gadis itu, berusaha menemukan jejak Marcus di wajahnya. Sulit rasanya, melihat bagaimana gadis itu sama cantiknya dengan gadis bangsawan pada umumnya. Dan Marcus jelas sekali... tidak mewarisi semua itu.
Harry merasa senyum pahit hadir di wajahnya. "Masih tidak peduli. Jika dia ingin bertarung dan telah memulainya, dia lebih baik bersiap untuk menyelesaikannya."
Riddle membuat suara aneh di belakang tenggorokannya, tetapi kini ia mengalihkan perhatiannya ke arah meja guru di depan. Harry kembali memasang ekspresi kosongnya, senang bahwa percakapan itu telah berakhir. Ia menolak tergoda oleh keamanan palsu. Riddle adalah seorang menipulator yang hebat, dan Harry tahu ia harus berhati-hati dalam menjawab pertanyaan pemuda adonis itu.
Untungnya Dippet tidak menyebutkan kedatangannya ke seluruh penghuni sekolah, ia malah hanya memberikan pemberitahuan singkat tentang esok hari, sebelum memanggil para peri rumah untuk menghidangkan makanan.
Harry melepaskan tensi yang terbangun di tubuhnya lalu mulai memakan makanan yang ada. Meski porsi yang ia ambil sangatlah sedikit, Harry memang bukanlah orang yang bisa makan dengan porsi normal karena riwayat kurang gizinya, meski di tubuh ini sekalipun.
Dia memakan makanannya dengan tenang, pikirannya berkelana entah ke mana.
Tak lama setelah kebanyakan dari guru dan murid selesai dengan makanan mereka, kedamaiannya dihancurkan ketika seseorang dengan santainya menumpahkan jus di atas kepalanya.
Harry terdiam, menelan makanan terakhir di mulutnya seperti biasa meski tubuhnya berubah menjadi kaku. Ia dapat mencium aroma manis dan merasakan cairan lengket itu meluncur dari atas kepalanya.
Aula menjadi hening sejenak, sebelum gelak tawa meledak dari nyaris semua orang yang ada di sana.
Dia basah kuyup, dan matanya terasa perih di mana jus tadi berhasil memasukinya sebelum ia berhasil memejamkannya. Perlahan, ia membalikkan tubuhnya untuk melihat Grahams berdiri di belakangnya, sebuah senyum puas hadir di wajahnya. "Oops." Pemuda itu meludah ke arahnya, dan Harry merasakan perasaan tenang dan dingin yang sama seperti sebelumnya. Membalasnya dengan respon yang sama memang ide bagus, tetapi sangat tidak kreatif menurutnya.
Grahams meletakkan piala tadi di atas meja di sampingnya, dan Harry hanya menatapnya dalam diam saat pemuda dan kroninya itu berjalan menjauh.
Secara otomatis, ia menatap ke arah meja guru, dan darahnya terasa mendidih ketika ia melihat para professor dan kepala sekolah hanya diam saja menyaksikan semua itu. Bahkan cenderung mengalihkan perhatian mereka ke arah lain.
Apa yang salah dengan mereka? Ia pikir dengan penuh ketidakpercayaan. Padahal semua itu terjadi tepat di depan meraka. Dan apa yang mereka lakukan? Hanya duduk diam di sana dan mengabaikannya.
Harry mengalihkan atensinya ketika dari sudut matanya ia melihat Oberon menggerakan tongkat sihirnya dengan tenang dan tanpa terdeteksi ke arah segerombolan pemuda itu, meski Harry dapat melihat ekspresi super dingin dan tatapan membunuh yang disembunyikan dengan sangat baik oleh sang kakak dengan ekspresi lembut dan senyum ramahnya. Harry bisa melihat tembakan sihir yang diarahkan Oberon ke arah pergelangan kaki mereka dan menali kaki mereka menjadi satu ikatan dengan tali tak kasat mata, membuat mereka semua terjatuh dengan tidak elitnya.
Harry dapat melihat bagaimana kedua teman lainnya turut berpartisipasi dalam acara mari-balas-mereka itu. Seorang pemuda tampan keturunan arab nampak menggerakan tongkatnya secara diam-diam, sehingga tiba-tiba muncul air kotor dengan bau luar biasa tidak sedap muncul dan mengguyur Grahams dan kawan-kawan. Pemuda lainnya yang berambut indigo juga nampak menambahkan cat warna-warni kembali mengguyur mereka.
Harry melihat semua itu dengan tatapan sedikit terhibur—ia khawatir akan sang kakak dari tadi sejujurnya, sebelum membersihkan dirinya dengan sihir tanpa mantera dan tongkatnya. Ia melihat bagaimana kekacauan meledak di aula. Sepasang professor—Slughorn dan satunya tak Harry ketahui—berlari ke arah murid-murid malang itu dan membantu mereka, dan bagian kecil dari dirinya merasa sakit atas fakta bahwa sekarang para professor itu baru bergerak.
Kelihatannya, Ganymede Moon tidak cukup penting untuk menyebabkan kekhawatiran yang sama dari kepala asramanya dan professor lainnya.
Harry melihat Oberon menghampirinya bersama dua orang lainnya. Kemudian membantunya bangkit dari tempat duduknya.
"Ayo kembali ke asrama. Aku akan mengantarmu ke kamarmu, Nym." Ujar Oberon dingin. Meski begitu sepasang manik amethyst milik pemuda tampan itu menghangat ketika bertatapan dengannya.
Harry mengangguk patuh. Merekapun berjalan dengan lengan kekar sang kakak melingkar di tubuh mungilnya diikuti dengan dua orang tadi dan Cassius yang ikut menemani Harry di belakang.
Mereka pergi dengan keheningan aula mengikuti mereka.
000
Tom mengawasi bagaimana Oberon merangkul tubuh ringkih Ganymede keluar aula dengan dagu bertengger di telapak tangannya. Ia juga melihat bagaimana ketiga orang lainnya mengikuti mereka dalam diam, meski ia dapat menangkap kilat membunuh di mata mereka, terutama Cassius. Yang membuat heran adalah bagaimana tiga orang yang terkenal misterius dan tak tersentuh itu dapat tertarik dengan adik-kakak itu. Terutama Ganymede Moon. Sebelum itu, sepasang manik ambernya melirik ke arah kekacauan berbentuk Grahams dan kroninya dengan tatapan tak terkesan serta bagaimana Slughorn berusaha menenangkan kehebohan yang terjadi di aula besar.
Ia melihat ke arah Orion kemudian, bertemu dengan mata si pemuda yang lebih muda dengan mudahnya.
"Itu tadi menarik." Dia bergumam pelan.
Dan itu memang benar.
Karena apa yang Ganymede lakukan baru saja—adalah hal yang sangat baru. Setidaknya untuknya.
Tom hanya mendengar sedikit mengenai apa yang terjadi di ruang rekreasi, tentang konfrontasi antara Ganymede dan Grahams beserta kroninya. Tetapi bahkan dengan pengakuan Orion dan yang lain, ia masih hampir tidak mempercayainya.
Pikiran bahwa Ganymede Moon, imoral paling lemah yang pernah berjalan di koridor ini, tidak hanya berhasil mempertahankan dirinya, tetapi juga berhasil menyerang balik secara verbal. Bahkan bocah itu berhasil menarik perhatian Cassius Rosier—si peramal, yang selama ini ia coba bujuk untuk bergabung dengan kelompoknya.
Dan jika Tom tidak tahu lebih baik, ia tidak akan tahu bahwa serangan balasan—yang mana ia akui brilian—berasal dari Oberon Moon dan dua orang kawan barunya. Ia tak percaya bahwa Oberon juga berhasil menarik perhatian orang-orang berbahaya semacam mereka. Yang satu dikenal dengan kehebatannya dalam black magic dan yang satu dikenal dengan kemampuan khususnya dalam wandcraft.
Semua pengetahuan Tom tentang Ganymede Moon adalah murni, sebagai akibat, dari berbagi fasilitas yang sama dengannya selama lima tahun belakangan. Ia cukup tahu untuk percaya dirinya mengatakan bahwa tidak pernah sebelumnya Ganymede pernah berani menyerang balik akan ancaman yang ia terima dari orang-orang.
Untuk sejujurnya, Tom hanya tidak pernah cukup peduli tentang Ganymede untuk memberi banyak perhatian padanya. Bocah itu sangat membosankan. Tidak ada hal menarik yang Tom belum temukan dalam waktu satu minggu di Hogwarts.
Ganymede Moon adalah cap khusus untuk ketidakmenarikkan, dan setelah Tom mempelajarinya ia menemukan bocah itu lesu, ia jarang sekali melempar pikiran lain dengan caranya sendiri.
Sekarang, namun demikian, Ganymede bertidak jauh terlalu berbeda. Peristiwa di ruang rekreasi kemungkinan dapat dijelaskan dengan mudah—karena Tom tidak pernah mempercayai sedikitpun cerita reka ulang dari kejadian apapun, sederhananya karena orang-orang tak terelakkan melewatkan pengamatan vital dan merubah cerita mereka sesuai keinginan mereka pula.
Tetapi apa yang baru saja terjadi, Ganymede menantang Josephina Flint tepat di depan wajahnya dan yang terpenting membuatnya mengalah dengan telak dan cepat? Membuat tantangan di sana-sini dengan kecerobohan yang mampu mengalahkan seorang Gryffidor, tetapi mengakhirinya dengan cara cerdik bagaikan seorang Slytherin sejati?
Tom telah menyaksikannya dengan kedua matanya sendiri, dan tidak ada bantahan bahwa hal itu benar-benar terjadi.
Dan cara ia mengancam Tom itu sendiri.
"Mungkin mereka yang seharusnya menghindariku sebagai musuh."
Jika Ganymede mengatakan hal itu sebelum kecelakaannya Tom akan tertawa keras-keras. Sekarang, dengan cara Ganymede bertemu pandang dengannya dengan begitu mudahnya, kepercayaan diri yang terlihat dari bagaimana caranya berdiri dan postur tubuhnya, keteguhan di sepasang manik emerald—yang baru saja ia sadari begitu indah itu... sangatlah jelas bahwa Tom telah mulai mengkategori ulang bocah itu dengan segera.
"Dia melakukannya, kan?" Orion berbisik, matanya bergerak dengan cepat dari tempat di mana Carrow duduk dan ruang kosong di sampingnya. Ada sesuatu yang nampak seperti kekaguman dibandingkan ketidakpercayaan seperti yang ia harapkan. "Ganymede membersihkan dirinya sendiri."
Tom bergumam ringan.
"Ia tidak menggunakan tongkatnya." Orion melanjutkan dengan halus, jadi hanya orang-orang dengan radius terdekat darinya saja yang mendengar. "Aku juga tidak mendengarnya mengatakan mantera."
"Wandless dan non-verbal?" Aticus mengejek dengan nada skeptis. "Ia bahkan tak bisa memegang tongkatnya dengan benar. Kau ingin berusaha dan meyakinkanku bahwa ia menyandung Grahams?"
"Dia melakukannya." Tom berkata, dan Aticus melotot tak percaya dikarenakan tak adanya bantahan dari pemimpin mereka. "Yang paling menggangguku adalah bagaimana caranya ia mencapainya." Dia mengetukan jari-jarinya ke atas meja sebentar sebelum menghentikannya. "Kau mungkin sedikit benar, Avery. Ganymede mempunyai sedikit bakat dengan tongkatnya, tetapi dia tidaklah cukup kuat untuk mewujudkan wandless magic."
Abraxas nampak mengunyah dengan tenang, sebelum menatap ke arah Tom. "Kau juga tak bisa mengabaikan keberadaan Rosier, Shafiq, dan Ollivander yang kini dengan jelas telah memilih pihak."
"Kau benar." Tom mengatakannya sebelum kembali memandang sejenak pintu besar aula.
Tom mengerutkan dahinya saat ia kembali mengambil sesuap makan malamnya.
Kini daftar pertanyaannya malah semakin bertambah seiring waktu berlalu.
000
Koridor-koridor itu remuk dan hancur di sekitarnya, sedangkan ia terus berlari melalui kesunyian mansion. Bayangan hitam pekat muncul dari celah dan retakan kecil, mengejarnya tepat di belakang.
Lukisan-lukisan berjajar di dinding terisi oleh wajah terbungkus yang mengerikan, mulut-mulut mereka terbuka lebar dalam teriakan sunyi. Jari-jari melengkung itu mencakar pada bingkai, memaksa untuk terbebas keluar dari kanvas tipis.
Harry mengatupkan giginya rapat-rapat, memaksa dirinya untuk mengabaikan gambar-gambar buruk nan aneh itu.
Sura mendesing di kepalanya terus tumbuh dan tumbuh dan tumbuh sampai-sampai ia berlari sambil menutup rapat-rapat kedua telinganya dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya sebagai pelampiasan sensasi yang tidak menyenangkan itu.
Sebuah tangan menarik kencang kerah piamanya, dan tanpa peduli lagi Harry menghempaskan tangan itu, hanya untuk merengsek melalui sesuatu yang lebih pantas di sebut kepulan asap tebal daripada sebuah tubuh.
Ia bergerak menjauh dan mulai berlari lagi, napasnya mulai terasa berat dan pendek.
Bayangan itu menggapainya, menyelubunginya seakan memeluknya dan Harry merasakan isakannya yang tertahan di tenggorokannya karena ia tidak pernah merasakan selemah ini sebelumnya.
"Master..." Sebuah suara rendah mengalun, hampir tidak terdengar di tengah-tengah pekikan dan jeritan yang menggema di sekelilingnya.
Harry berusaha berontak, tetapi belum sampai semeter ia melarikan diri sebelum sesuatu menangkap pergelangan kakinya dan memaksanya terbaring di atas lantai.
Ia kembali memberontak namun dengan tenaga yang lebih kecil, jari-jarinya menggali permukaan karpet yang kotor saat ia ditarik kembali.
Ia membalikan tubuhnya, dan melemparkan serangan liar, tetapi apapun itu yang merangkak ke atas tubuhnya sama sekali tidak terpengaruh.
Itu adalah sebuah masa yang terdiri dari kegelapan total, bentuknya sukar dilihat, dan Harry merasa tercekik karena tiba-tiba tak ada udara yang dapat ia hirup untuk bernapas.
"Harry..." Itu berbisik sekali lagi, suaranya terdengar begitu mengerikan tetapi terdengar berusaha selembut yang ia bisa.
Sesuatu—sebuah tangan, tetapi ada terlalu banyak jari—menekan sisi tubuhnya, kuku atau cakar—ia tak tahu—tenggelam ke dalam kulitnya dan itu terbakarterbakarterbakar—
Harry menjerit.
"I got you, my precious."
Ia tersentak kuat saat ia mulai terbangun. Tubuhnya yang bergetar hebat meringkuk, bergulung dengan selimut tebalnya.
Harry terdiam di tempatnya berada saat jantungnya berdetak begitu cepat di atas normal. Kemeja kebesaran yang ia pakai terasa basah—kebas dan udara malam sangatlah dingin, menyebabkan bulu romanya berdiri.
Ia merasa ngeri, dingin, dan takut—berusaha mengontrol napasnya agar hiperventilasinya tidak semakin menjadi-jadi. Harry memosisikan kepalanya di atas bantalnya senyaman mungkin dan menghitung mundur dari angka seratus, menenangkan pikirannya sebaik mungkin.
Sudah cukup lama ia tidak memiliki sebuah mimpi buruk seperti itu. Bahkan mimpi—penglihatan?—tentang Ganymede tidak terasa seperti itu. Semua yang mencakup ketakutan dan kekhawatiran yang seluruhnya unik untuk teror malam hari adalah sesuatu yang sayangnya Harry familiar dengannya.
Tetapi tetap saja, mimpi kali ini... lebih dari yang lainnya. Biasanya mereka berkisar di sekitar hal-hal tentang Voldemort, orang tuanya, Sirius, perang, dan... almari di bawah tangga. Dikejar-kejar oleh figur bayangan adalah sesuatu yang belum pernah ia—
Seluruh tubuh Harry menegang saat sebuah peringatan tiba-tiba berbunyi di kepalanya. Insting yang terlatih membuatnya tersadar, sebuah tusukan-tusukan peringatan dan kehati-hatian yang selama ini ia habiskan waktu bersama mengatakan sesuatu, sesuatu yang sangat penting.
Ada seseorang di kamarnya.
Dia menghembuskan napasnya pelan-pelan, mengusir keluar tensi di tubuhnya senatural mungkin. Seluruh tubuhnya kini dalam gestur siaga untuk suatu alasan yang jauh berbeda, terlihat siap menghadapi sang penyusup.
Ia menunggu untuk melihat jika mereka akan melakukan sesuatu, seluruh inderanya melukiskan gambaran yang jelas di dalam kepalanya saat siapapun itu dengan diam mengendap-endap dari satu sisi kasurnya ke sisi yang lain, ke bawah ujung, dan berganti di sisi yang lain.
Sensasi dingin menyebar ke seluruh tubuhnya dan mengelusnya dengan sikap sayang, seakan sisa residu sihir milik siapapun itu berusaha menunjukan eksistensinya.
Sepasang netra Harry kini memincing penasaran.
Mereka tak melakukan apapun, pikirnya heran. Apakah itu Grahams? Flint? Riddle? Atau Orion malah? Bagaimana mereka melewati wards istimewaku? Itu adalah saat paling sempurna untuk siapapun yang menaruh dendam padanya untuk melakukan sesuatu. Dia mudah diserang di sini, kemungkinan gerakannya terbatas, satu-satunya rute melarikan diri dapat diblok dengan mudah.
Siapa sebenarnya mereka? Yang jelas ia mengincarku sebagai Harry dan bukannya Ganymede. Ada apa ini?
Gelombang ketakutan dan kemarahan yang menggoda memaku di dalam darahnya akhirnya cukup untuk mendorongnya melewati apapun itu yang membuatnya membeku.
Harry bergerak ke atas dengan tiba-tiba, tangan terulur ke arah siapapun itu, mengirimkan mantera stupefy sederhana ke arah mereka.
Serentetan tembakan merah bergerak cepat melewati udara dan menabrak menuju rak, menderak buku-buku yang ada di sana. Kilat menerangi ruangan dengan singkat membuat Harry cukup merasa keheranan.
Keheningan merayap setelah serangan cepatnya tadi, sampai ia menangkupkan kedua telapak tangannya dan sebuah cahaya putih lembut berpijar di sana.
Tak ada siapapun di ruangan itu kecuali dirinya.
Harry melempar pandangan ke sekitarnya dengan was-was, tidak mau percaya bahwa ia hanya mengimajinasikan hal tadi. Harusnya memang ada seseorang.
Tetapi dengan kedua matanya, jelas sekali bahwa tak ada seorangpun di sana kecuali dirinya. Dan pendeteksian cermat dari wards-nya membuktikan bahwa memang tidak ada yang memasuki kamar asramanya sejak ia diantar Oberon, Cassius, dan dua orang lainnya kemari sejak jam makan malam.
Harry mengusap wajahnya, lalu menarik rambutnya kasar.
"Ini sama sekali tidak masuk akal." Ia bergumam. "Memang ada seseorang. Aku sangat yakin mengenai hal itu." Ia menggigit bibir bawahnya, kembali mencari ke sekitar ruangan sekali lagi dengan gerak-gerik nyaris putus asa untuk menemukan sesuatu.
Sama sekali tidak ada.
Ia menghela napas berat, kembali meringkuk di atas kasur yang empuk dan nyaman itu. Lututnya ia tekuk hingga menyentuh dada dan menenggelamkan wajah suramnya di sana. Bola cahaya yang merupakan lumos itu ia biarkan melayang di tangah ruangan.
Siapapun itu, Harry memutuskan untuk melupakannya sejenak. Sejujurnya, kejadian waktu makan malam masihlah bergaung di pikirannya. Bahkan menghitung waktunya dengan Dudley, dan pengalaman pahitnya di tahun ke-empat dan ke-limanya di Hogwarts, Harry benar-benar tidak bisa menangani physical bullying.
Melihat bagaimana Grahams dengan tak acuhnya menyiram jus ke seluruh tubuhnya—begitu mengejutkannya, lebih karena ia pikir yang lainnya tidak akan cukup berani melakukan hal-hal semacam itu di tempat-tempat umum di Hogwarts, apalagi di depan publik.
Tetapi ia mulai mengerti bahwa Ganymede tidak hanya dibully di Slytherin. Tetapi dari asrama yang lainnya juga, terbukti dengan mereka yang nampak tidak terganggu dengan semua tindakan itu.
Ia mulai bangkit dari posisinya, tetapi rasa membakar yang tiba-tiba terasa menyakitkan di sisi tubuhnya membuatnya mendesis dan menahan dengan sebelah tangan bagian yang sakit itu.
Tangannya bergetar saat ia menekan bagian yang rasa sakit dan panasnya semakin menjadi-jadi itu.
Dengan panik ia mengangkat kemejanya, matanya menjelajahi kulit telanjangnya untuk tanda-tanda apapun yang menyakitinya.
Sepasang manik emerald yang mulai basah itu terpaku pada corengan gelap, dan dengan pikiran kalut bola cahaya yang tadinya di tengah ruangan bergerak mendekat. Ketika bola cahaya itu berada dalam posisi yang cukup dekat, bayangan menghilang dan menunjukkan garis tinta di atas kulit milky white-nya.
Di sana, terukir di panggulnya, adalah simbol yang mengerikannya sangat ia kenali.
000
Jeng... jeng... jeng...
Yep, fraksi di badan siswa sudah mulai terbentuk. Dan misteri satu-persatu mulai berdatangan. Ji merasa sangat bagus untuk menghetikannya di sini, hehehe.Sudut pandang Tom bahkan sudah tertulis. Mungkin Ji akan segera membuatkan profil masing-masing karakter, biar kalian gak kebingungan. Dan jika mau ada yang ditanyakan, silahkan bertanya! Akhir kata, stay tune, guys. Nantikan chapter selanjutnya
