My Prince [A NaruSaku Fanfiction]
.
Disclamer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo(s), Out Of Character, AU, and more
Riz Riz 21
presented
.
.
.
Chapter II
.
.
.
SAKURA POV
Bagaimana ini? Aku tidak pernah merasa begitu gugup dan panik seperti ini.
Hampir semua orang yang ada di Tokyo High School—mulai dari para murid, guru-guru, hingga penjaga sekolah menatapku yang saat ini tengah berjalan disebelah kiri Pangeran Naruto, lebih tepatnya aku telah menjadi pusat perhatian. Kami-sama! Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa pipiku sudah mulai memerah karena malu, selama ini aku tidak pernah mendapatkan perhatian yang begitu berlebihan seperti ini!
"Sakura-chan. Di sini tidak ada samurai, ya?" tanya Pangeran Naruto secara tiba-tiba yang berhasil menyadarkanku dari lamunanku.
Aku menatapnya dengan heran, "Eh? Di sini tidak ada samurai, adanya cuma zaman dulu," jawabku dengan sopan dan memberikan penjelasan seadanya.
Lagipula kenapa Pangeran Naruto tiba-tiba malah menanyakan samurai?
"Heh!?" Pangeran Naruto terlihat kaget begitu mendengar jawabanku dan di wajahnya terlihat sedikit raut kecewa. "Ka-karena di pusat kota tidak ada, aku pikir di sekolah ada," sambungnya dengan lirih.
"Hah? Eh?" Aku benar-benar bingung sekarang, apa maksudnya ini?
Tidak tahu kenapa aku merasa bahwa Pangeran Naruto sepertinya benar-benar ingin bertemu dengan seorang samurai yang sesungguhnya, tapikan di zaman sekarang sudah tidak ada yang namanya samurai. Apa mungkin aku harus mengajak Pangeran Naruto bertemu dengan seseorang yang sedang melakukan cosplay samurai?
Emm, semua pemikiran ini membuatku bingung.
"Pangeran itu maniak samurai sejak kecil," sahut salah satu bodyguard Pangeran Naruto yang sedari tadi megikuti kami dari belakang.
Maniak samurai?
"Ternyata begitu." Aku tersenyum sopan pada bodyguard itu sebelum perhatianku kembali kearah Pangeran Naruto yang telihat begitu mengamati lingkungan sekolah kami.
Pangeran Naruto terlihat begitu bersinar meski hanya terlihat dari samping.
"Oh iya! Aku juga tidak lihat orang mengenakan kimono!" seru Pangeran Naruto tiba-tiba sambil berbalik karena aku tertinggal beberapa langkah dibelakangnya.
"Se-sekarang harga kimono mahal banget, banyak yang pingin punya tapi tidak bisa," jelasku yang sebetulnya juga sangat menginginkan sebuah kimono baru. Tapi begitu mengingat betapa tingginya harga kimono sekarang, aku hanya bisa menghela napas pelan.
Ini rasanya seperti harapanmu yang membawamu setinggi langit langsung menjatuhkanmu kedalam jurang.
"Masa sih?" Pangeran Naruto terlihat tidak percaya dengan perkataanku.
TIK.
Sebelum aku membalas perkataan Pangeran Naruto, di sudah menjentikkan jarinya dan mulai berseru dengan lantang, "Oke. Guard!"
"Siap pangeran!" sahut empat bodyguard pribadi Pangeran Naruto yang sampai sekarang belum aku ketahui namanya.
Meski mereka berempat hanyalah bodyguard pribadi, aku tidak bisa menyangkal bahwa keempat laki-laki itu terlihat sangat mempesona—belum lagi umur mereka yang sama dengan Pangeran Naruto. Jadi, rasanya mereka tidak terlihat seperti sekelompok bodyguard dan lebih terlihat seperti sahabatnya Pangeran Naruto.
Tanpa sadar aku tersenyum karena berpikir seperti ini.
"Berikan kimono kepada semua murid!" perintah Pangeran Naruto santai tapi dengan suara yang cukup lantang—seperti tengah memesan secangkir teh disebuah cafe kecil.
Tapi, apa katanya tadi?
"EH? A-APA?!" aku langsung tersentak kaget begitu sadar apa yang dikatakan Pangeran Naruto tadi. "P-Pangeran itu tidak perlu!"
.
.
.
JRENGG!
Tanpa mengubris perkataanku yang sepertinya hanya semilir angin belaka ditelinga Pangeran Naruto. Dalam sekejap semua murid Tokyo High School sudah mendapatkan masing-masing satu buah kimono yang begitu indah dan bahkan ada beberapa murid yang sudah mengenakan kimono itu hingga membuat lingkungan Tokyo High School langsung terasa dipenuhi oleh orang-orang dari jaman edo.
"WAH! Terima kasih, Pangeran!"
"Kyaaa! Arigatou Pangeran!"
"Pangeran Naruto yang terbaik! Arigatou!"
"Ini indah sekali! Terima kasih!"
"Wow, keren! Arigatou!"
Berbagai kata-kata sebagai ucapan terima kasih untuk Naruto terdengar dari semua murid yang sudah memakai atau mendapat kimono-nya masing-masing. Bahkan aku sendiri pun sudah memakai kimono warna merah dengan motif bunga sakura pemberian Pangeran Naruto.
Aku menatap lagi kimono yang sedang kukenakan. Ah, kimono ini benar-benar sangat indah dan Pangeran Naruto benar-benar sangat baik. Tapi—
"Ini semua hadiah sebagai salamku," sahut Pangeran Naruto sambil tersenyum lebar lengkap dengan raut wajah polosnya.
"Tapi inikan mahal!" seruku tiba-tiba meski sepertinya Pangeran Naruto sama sekali tidak mendengarkanya, karena laki-laki itu tengah asik menerima ucapan terima kasih dari pada murid yang mengelilinginya.
Apakah tidak apa-apa memberikan sebuah hadiah dengan sesuatu yang mahal seperti kimono ini? Aku kembali menatap kimono yang membalut tubuhnya, entah mengapa aku merasa tidak nyaman. Ngomong-ngomong terakhir kali aku bertanya harga satu buah kimono, harganya berapa ya?
"Tenang saja. Satu kimono satu juta yen," bisik salah satu bodyguard pribadi Naruto kepadaku yang langsung membuat kedua mataku melebar kaget.
"Eh! Satu juta!?" pekikku dan menatap bodyguard itu dengan tidak percaya. Bisa-bisanya bodyguard itu memasang wajah santai begitu! "Te-tenang bagaimana?!"
Tapi bukannya membalas perkataanku, bodyguard dengan tato segitiga terbalik dipipinya itu malah langsung terlihat acuh dan sibuk menatap kesekeliling dengan raut wajah pura-pura polos. Ish, aku kesal sekali dengan laki-laki ini! Dasar menyebalkan!
Aku pun memilih untuk kembali menatap Pangeran Naruto yang masih dikelilingi oleh para murid. Pangeran Naruto memang sangat pantas menjadi serorang Pangeran, dia benar-benar orang yang sangat baik. Begitu menyadari bahwa sekarang hanya ada sekitar lima orang yang mengelilingi Pangeran Naruto, aku langsung melangkahkan kakiku untuk mendekatinya.
"Terima kasih Pangeran Naruto," kataku begitu berdiri disampingnya sambil tersenyum sopan.
Pangeran Naruto menoleh kearahku,"Saku-chan panggil aku Naruto saja. Kita kan teman sekelas tidak usah se-formal itu," katanya sambil tersenyum lebar.
Aku agak tersentak mendengarnya, apa-apaan dengan perkataan Pangeran Naruto itu? Dia kan punya derajat yang begitu tinggi dariku, jadi sudah sewajahnya jika aku bersikap formal kan? "Ta-tapi—"
"Kalau enggak manggil Naruto. Aku gelitikin, nih!" ancam Pangeran Naruto yang entah kapan kedua tangannya sudah mulai mengelitikku perutku.
Sontak rasa geli mulai terasa hingga membuatku hampir kehilangan keseimbangan. Ini benar-benar terasa sangat geli!
"I-Iya-iya! Kumohon hentikan Naruto!" seruku sambil menahan geli yang menyerang seluruh tubuhku.
Naruto akhirnya berhenti mengelitiki perutku dan kedua tangnnya sudah kembali kesisi tubuhnya lalu berkata sambil tersenyum, "Bagus. Aku lebih suka dipanggil begitu."
DEG!
Padahal Naruto seorang Pangeran dari sebuah kerajaan yang begitu besar dan aku hanya rakyat biasa yang tinggal di Negeri Sakura—Jepang, tapi kenapa rasanya aku mudah sekali untuk akrab sekali dengan Naruto. Perasaan ini disebut apa, ya? Ah iya! Rasanya Naruto sangat friendly padaku maupun siapapun dan sepertinya kehidupanku di sekolah mulai sekarang akan sangat menyenangkan dibanding yang sebelumnya.
.
.
.
Pagi ini benar-benar hari yang cerah, setelah kemarin aku sempat kelelahan karena Naruto menarikku kesana-kemari hanya untuk melihat-lihat lingkungan Tokyo High School yang baru aku sadari ternyata sangat luas. Padahal seingatku lingkungan sekolahku tidak seluas itu, atau mungkin aku yang tidak tahu bahwa selama ini telah ada perubahan yang signifikan pada sekolahku.
Entahlah, kepalaku rasanya sakit karena terlalu banyak berpikir.
Begitu aku menginjakkan kaki di gerbang sekolah, saat itu juga aku baru sadar bahwa sekarang halaman Tokyo High School benar-benar sudah sangat berubah—sangat berbeda dengan halaman yang aku lihat kemarin. Apa yang terjadi? Sekarang di halaman ada patung seorang samurai dan sebuah air mancur yang besar.
Telingaku secara tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang gadis yang tidak jauh dariku.
"Katanya Pangeran Naruto yang membuat patung samurai dan air mancur itu ada disini."
A-Apa? Gadis itu tidak bercanda kan? Aku langsung memberikan tatapan horror pada dua gadis itu, kemarin kimono dan sekarang ini—apakah Naruto tidak berlebihan?
"KYAAA! Pangeran Naruto!" Tiba-tiba para siswi langsung berteriak dengan nyaring.
DRAPP!
Kedua mataku melebar begitu melihat Naruto yang memasuki lingkungan sekolah dengan menaiki seekor kuda berwarna putih dan itu membuat Naruto benar-benar terlihat seperti seorang pangeran berkuda putih yang banyak ditemukan didongeng-dongeng, tanpa sadar aku sebuah senyum terukir diwajahku saat melihatnya yang menghentikan kudanya dan langsung digerumbungi oleh para murid.
"Pangeran ternyata bisa mengendarai kuda, bagaimana kalau ikut klub berkuda?" tanya beberapa siswi dengan tidak serempak yang sepertinya merupakan anggota klub berkuda dan Naruto hanya membalasnya dengan anggukan kecil.
"Pangeran masuk klub musik yuk," ajak seorang siswa yang juga langsung dibalas anggukan kecil oleh Naruto.
Eh? Naruto benar-benar akan masuk klub musik? Memangnya, Naruto bisa main alat musik? Tuh, kan kepalaku penuh lagi dengan berbagai pertanyaan.
"Pangeran istirahat nanti mau ikut latihan klub basket ya!" teriak para siswa dari jauh yang dari tubuh tinggi mereka ketahuan sekali kalau mereka anak-anak tim basket sekolah.
Aku tersentak tiba-tiba, ternyata dalam diam aku terus memperhatikan Naruto sejak tadi pagi dan sekarang istirahat sudah dimulai. Aku menghela napas pelan begitu ingat bahwa hari ini Naruto sibuk sekali dengan semua kegiatan dan jadwal klubnya yang entah ada berapa atau mungkin dia mengikuti semua klub yang ada di sekolah?!
Secara repleks aku betepuk tangan pelan saat melihat Naruto yang tengah berlatih dengan anak-anak klub basket berhasil mencetak angka, dia benar-benar sangat hebat bermain basket. Tapi jadwal klubnya masih banyak, bahkan begitu selesai dengan klub basket ini pun Naruto masih harus hadir di acara klub seni—aku tahu ini karena tidak sengaja mendengar anak-anak klub seni membicarakannya.
Apakah Naruto itu bisa segalanya?
"Apa Naruto tidak mau masuk klub yang sesuai dengan keahliannya?" tanyaku pada diri sendiri karena saat ini memang tidak ada siapa-siapa disekitarku.
"Tidak. Seorang pangeran harus bisa segalanya," sahut seseorang dibelakangku yang berhasil mengagetkanku.
"Akh! Kalian kan para pengawal pribadi Naruto?" tanyaku saat menengok kebelakang dan menemukan empat orang laki-laki yang tidak asing dimataku.
"Masih ingat kami ya? Perkenalkan, aku Kiba Inuzuka," kata Kiba yang berdiri disebelah kananku dengan tato segitiga terbalik yang ada dikedua pipinya dan tersenyum kearahku. Ah, Kiba ini kan laki-laki yang menyebalkan kemarin? Tapi sepertinya Kiba tidak semenyebalkan yang aku kira.
"Aku Shino Amburame, yoroshiku." kata Shino yang berdiri disebelah kiriku dengan kacamata hitamnya yang terlihat begitu mencolok.
"Aku Sai." Sai yang berkulit pucat seperti mayat itu terlihat fokus pada clipboard-nya dan dia berdiri dibelakang kiriku.
"Aku Shikamaru Nara. Ah, merepotkan." Shikamaru terlihat normal dibanding ketiga temannya—jika saja rambutnya tidak terlihat seperti nanas dan dia berdiri tepat dibelakang Kiba
Seulas senyuman ramah aku tunjukkan pada mereka sebelum berkata dengan ceria. "Aku Sakura Haruno, Yoroshiku ne!"
"Sakura-chan!" panggilan dari Naruto yang sangat nyaring itu berhasil membuatku secara otomatis menoleh kearahnya.
"Ya?"
"Coba lihat!" Naruto menunjukan lukisan buatannyanya tepat didepan wajahku.
Aku terpana, lukisan dihadapanku ini begitu indah bahkan sampai terlihat seperti sebuah foto dan terasa sangat nyata. Apakah ini benar-benar lukisan karya Naruto? Aku benar-benar kagum dan terpersona dengan lukisan itu meski lukisan itu hanya berisikan sebuah pohon besar dan seorang gadis yang duduk dibawah pohon itu.
Eh? Seorang gadis yang duduk dibawah pohon? Mungkinkah gadis itu adalah—aku? Kepalaku langsung mengeleng dengan cepat, ini sama sekali tidak mungkin.
"Ini indah sekali! Naruto hebat sekali karena bisa segalanya." aku segera menatap Naruto dan tersenyum untuknya.
"Apanya yang hebat?" pandangan Naruto terlihat berbeda dari biasanya dan itu langsung membuatku terheran-heran. "Seorang Pangeran memang harus bisa segalanya," sambungnya dengan tampang serius.
"Hah? Memangnya harus?" tanyaku yang benar-benar kaget dengan perkataan Naruto.
Jika memang seorang Pangeran harus bisa segalanya seperti ini, pasti banyak sekali waktu yang termakan untuk belajar. Jadi, Apakah kehidupan Naruto sama menyenangkannya seperti remaja-remaja lainnya? Atau dia hanya duduk manis dan terus belajar hingga membuatnya bisa melakukan segalanya?
"Ya! Dan lagi aku masih belum apa-apa. Baginda Raja—Ayahku jauh lebih hebat lagi dariku!" seru Naruto dengan kilatan semangat dikedua mata birunya yang indah itu.
Kedua mata itu benar-benar sangat indah dan menenangkan hati.
"Hmm, Pangeran benar. Raja jauh hebat lagi," sahut Shikamaru tiba-tiba begitu melihat lukisan Naruto, seakan-akan mencoba menilai.
"Kamu masih jauh dari raja." Shino juga ikut mengamati lukisan Naruto dan membandingkannya.
"Pangeran kau harus lebih serius belajar, lukisan ini benar-benar sangat kurang," kritik Sai dengan pedas yang membuatnya terdengar seperti seorang seniman propresional.
"Betul!" Kiba yang hanya meng-iyakan—karena sepertinya laki-laki itu tidak mengerti seni langsung berhasil membuatku tersenyum kecil.
Secara perlahan Naruto menundukan kepalanya seperti tengah menahan amarah lalu tiba-tiba dia berteriak dengan lantang, "KALIAN JAHAT! Pergi pulang sana!"
Eh? Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Tiba-tiba Naruto duduk disampingku dan bersandar pada pohon dibelakang kami. "Aku tau aku masih belum apa-apa!" sambungnya sambil mencoret-coret lukisannya tadi.
Aku terkesiap, lukisan seindah itu kenapa dicoret-coret!
"Sudahlah Naruto. Itu saja udah keren, kok." Aku mencoba menenangkannya, rasanya sayang sekali lukisan seindah itu dicoret-coret hingga tidak berbentuk. Padahal jika boleh, aku ingin sekali menyimpan lukisan itu.
Tapi Naruto sama sekali tidak memperdulikan perkataanku dan sibuk dengan emosinya yang keluar meluap-luap. Aku melirik keempat bodyguard Naruto yang sepertinya pura-pura tidak peduli, helaan napas keluar dari mulutku. Emm, mungkin aku punya sesuatu yang bisa mengembalikan emosi Naruto menjadi tenang?
Ah!
"Nih, bisa bikin ceria, lho!" seruku dan dengan cepat memasukan sebuah biskuit kemulut Naruto yang terbuka lebar karena mengomel-ngomel tidak jelas.
Naruto menatapku heran dan sejenak suasana menjadi lebih tenang, aku tersenyum lega melihatnya.
"Ini biskuit?" tanya Naruto begitu selesai mengunyah sebuah biskuit yang aku masukkan tadi dan kedua matanya menatapku dengan heran.
"Iya. Biasanya kalau aku habis makan biskuit ini, tubuhku yang lesu jadi semangat dan ceria lagi deh!" jelasku dengan sangat ceria dan bersemangat lengkap dengan seulas senyuman diwajahku. Hidup dengan perasaan ceria dan bersemangat itu sangat menyenangkan!
"Hahahahahaha! Saku-chan, kamu lucu deh," kata Naruto ditengah-tengah kekehannya yang membuatku menatapnya terdiam.
Naruto baru saja tertawa? Ah, bukan tadi itu Naruto terkekeh! Tapi itu masuk dalam kriteria tertawa, kan?
"Sakura-chan selalu ceria, ya!"
"Aku memang selalu ceria," kataku dengan cepat lalu tersenyum lembut. "badan ibuku lemah dan jika ingin melihat ibu tersenyum aku harus selalu ceria!" sambungku.
.
.
.
FLASHBACK with NORMAL POV
Dulu.
"Gomen ne, kepala ibu agak sakit," kata Ibu sambil memberikan tatapan penuh penyesalan kepada Sakura yang tengah duduk disamping ranjangnya.
"Ibu. Cepat sembuh ya, biar nanti kita bisa piknik minggu depan." Sakura menatap ibunya wajah ceria, dirinya sama sekali tidak mau menunjukkan raut sedih dihadapan ibunya.
Lagipula jika Sakura menunjukkan raut sedih yang ada Ibu akan ikut sedih karenannya, karena itulah Sakura selalu berusaha agar terlihat ceria dengan harapan Ibunya akan ikut ceria.
Ibu tersenyum melihatnya lalu berkata, "Kalau lihat Saku-chan ceria. Ibu jadi tersenyum dan merasa lebih baik." Ibu mengelus puncak kepala Sakura dengan lembut dan penuh rasa kasih sayang.
Senyuman diwajah Sakura langsung mengembang dengan lebar lalu dengan cepat tubuh kecilnya memeluk Ibu yang terbaring diatas ranjang.
END FLASHBACK with NORMAL POV
.
.
.
"Karena ucapan ibu, aku ingin selalu ceria! Dengan itu, mungkin aku bisa membuat semuanya ikut tersenyum!" jelasku dengan bersemangat. "Ah, tapi mungkin terlalu berlebihan bagi orang lain, ya!" sambungku cepat begitu menyadari tatapan mata Naruto yang menatapku intens.
"Tidak kok. Aku juga jadi tersenyum karena Sakura-chan yang begitu ceria!" kata Naruto sambil tersenyum lebar dan itu berhasil membuatku merasa begitu senang. "Sakura, aku senang bertemu dengan gadis baik" sambungnya dan mengelus pipiku dengan lembut.
DEG.
"Eh?"
Perasaan apa ini?
Dalam beberapa saat aku hanya dia terpana dan menatap mata biru laut milik Naruto dengan dalam—rasa kedua mata indah itu tengah menarikku. Naruto benar-benar seseorang yang sangat mudah mengerti orang lain, dia benar-benar orang yang begitu baik dan hangat. Dan lagi kedua mata birunya yang selalu memancarkan kebahagian dan kehangatan pada setiap orang yang bersamanya, Naruto itu Pangeran yang sangat—
DRRRTTT! DRRRTTT!
Aku langsung tersentak kaget begitu mendengar suara dan getaran dari ponselku yang ada disaku jas sekolahku. Lagian kenapa harus berbunyi disaat seperti ini sih!? Aku benar-benar merasa kesal saat merasakan suara dan getaran dari ponselku yang masih saja terdengar serta terasa dengan begitu jelas.
Spontan Naruto juga langsung menjauhkan telapak tangannya dari pipiku dan sedikit menjaga jarak, aku memberikannya seulas senyuman canggung sebelum mengeluarkan ponselku dari saku jas.
Kedua alisku terangkat begitu membaca nama kontak yang tertera dilayar ponselku, "Ayah? Tidak biasanya menelponku." Aku berbisik pelan lalu menerima panggilan dan mendekatkan ponselku ke telingaku. "Moshi-moshi?"
'Sakura. Ibu jatuh pingsan!' sahut Ayah dari seberang telpon dengan nada gemetar.
DEG!
Apa? Apa tadi yang dikatakan oleh Ayah?
"I-ibu..."
.
.
.
To be continue
Thanks for reading.
Mind to review?
XOXO,
Riz Riz 21 [Galaxy]
