My Prince [A NaruSaku Fanfiction]

.

Disclamer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo(s), Out Of Character, AU, and more

Riz Riz 21

presented

.

.

.

Chapter III

.

.

.

Setelah menerima telpon dari ayahnya, Sakura langsung mendatangi rumah sakit tempat ibunya. Sakura sempat dilanda oleh perasaan yang cukup panik, untung saja Naruto dan keempat bodyguard-nya mau mengantarkan Sakura menuju rumah sakit dan menenangkan gadis bersurai merah jambu itu. Sesampainya mereka dirumah sakit, Sakura langsung menuju ruangan yang sempat disebutkan ayahnya ditelepon tadi tanpa menunggu Naruto dan keempat bodyguard-nya.

Sakura masuk kedalam ruangan itu dengan tergesah-gesah bahkan sampai membuka pintu ruangan itu dengan cukup keras. Disana terlihat ayahnya dan seorang dokter yang begitu menyadari kehadiran Sakurang langsung berjalan keluar ruangan bersamaan. Mengabaikan sang ayah dan dokter tadi, kedua mata Sakura terfokus untuk menatap ibunya yang terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan dihidungnya, saat itu juga airmata Sakura tak dapat ia bendung hingga menelusuri pipinya.

"Ibuini aku, Sakura. Ibu, kumohon bangun." Sakura mengengam tangan ibunya dengan erat, berharap dengan begitu ibunya akan sadar akan kehadirannya dan membuka matanya.

Padahal sejak dulu Sakura tahu bahwa hari ini pasti datang. Hari dimana tubuh ibunya benar-benar melemah seperti ini lalu tertidur dan kemungkinan untuk sadar kembali sangatlah kecil, hanya saja ia dan ayahnya tidak siap. Belum lagi, ayah Sakura yang merupakan perkerja kantoran biasa dengan gaji yang hanya cukup untuk ekonomi mereka, sedangkan ibunya memerlukan banyak biaya untuk pengobatanya. Sakura dan ayagnya benar-benar tidak siap untuk ini, dan mereka tidak akan pernah siap, bukan hanya karena biaya pengobatan tetapi juga mereka belum siap kehilangan salah satu orang yang begitu mereka cintainya.

"Ibu, kumohon bangunlah." Sakura menatap sendu ibunya yang masih terbaring lemah, airmatanya masih terus mengalir perlahan.

Tiba-tiba salah satu jari ibunya bergerak perlahan, Sakura sedikit tersentak dan langsung menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya saat menyadari bahwa kedua mata ibunya pun tengah menatapnya dengan bingung.

"Saku-chan? Ini dimana?" tanya ibu Sakura dengan suara yang begitu lemah dan sedikit serak karena baru bangun.

"Dirumah sakit, ibu tadi pingsan," jawab Sakura yang dengan segera menghapus air matanya lalu mencoba tersenyum kecil.

"Gomen ne, ibu menyusahkanmu dan ayah."

Kepala Sakura mengeleng pelan. "Tidak apa-apa, setidaknya ibu sudah sadar," katanya dan menatap ibunya dengan sangat lembut.

Kreekk.

Pintu ruangan itu terbuka dengan perlahan, terlihat ayah Sakura yang berjalan kearah Sakura dengan gerakan perlahan. Kedua matanya sempat terlihat begitu terkejut saat menyadari bahwa sang istri sudah bangun dari pingsannya, lalu dengan susah payah ayah Sakura mencoba mengulum senyuman begitu tatapan matanya bertemu dengan tatapan lemah sang istri. Telapak tangan kanannya langsung menepuk pelan bahu Sakura yang langsung mendapatkan tatapan heran dari putrinya.

"Ikut ayah sebentar," pinta lemahnya lalu dengan cepat pergi keluar, seperti ingin menghindari sesuatu.

"Aku pergi sebentar ya, bu." Sakura mencium kening ibunya sekilas sebelum akhirnya mengikuti ayahnya untuk keluar dari ruangan itu.

.

.

.

Sakura hanya bisa menatap heran punggung ayahnya begitu keluar dari ruang inap ibunya tadi dan sebelum Sakura sempat berkata-kata, secara tiba-tiba ayahnya berbalik menghadapnya dengan raut wajah yang sangat sulit diartikan oleh Sakura.

Terlihat terluka, kecewa, marah, dan menyesal secara sekaligus diraut wajah itu.

"Sakura, ibumu harus segera dioperasi."

"A-Apa?! Apakah seburuk itu?!" Sakura menatap ayahnya dan tanpa sadar nada suara sedikit meninggi.

"Penyakitnya sudah parah." Ayah Sakura mengeluarkan selembar kertas dari kantong kemejanya lalu memberikannya pada Sakura. "Itu biayanya jika ibumu dioperasi."

Mata Sakura melebar begitu melihat isi selembar kertas itu, dirinya sama sekali tidak percaya dengan nominal angka yang tertulis dibagian paling bawah kertas tersebut.

.

.

.

Sedari tadi Naruto hanya diam dan menyadarkan punggungnya pada dinding rumah sakit setelah dirinya bersama keempat bodyguard-nya sampai di rumah sakit ini. Bahkan saat melihat Sakura dan seorang pria paruh baya yang diyakininya sebagai ayah gadis itu keluar dari sebuah ruangan, Naruto masih diam dan hanya menatap Sakura dengan ayah gadis itu dari jarak sekitar lima meter.

Keempat bodyguard Naruto yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan terlihat mulai merasa sediki resah saat menyadari berbagai perubahan ekspresi dari Sakura dan pria paruh baya dihadapannya.

"Sepertinya ada masalah," sahut Kiba yang memecahkan keheningan diantara mereka berlima.

"Masalah biaya?" tebak Shino dengan segala perhitungannya.

"Merepotkan." Shikamaru hanya memutar bola matanya bosan dan memilih tidur sambil menyederkan pungungnya didinding seperti Naruto.

"Bagaimana Pangeran?" Sai tersenyum saat melihat mimik wajah Naruto yang terlihat begitu serius

"Kita lihat saja dulu," bahkan suara Naruto pun terdengar serius.

Keempat bodyguard-nya tersebut langsung menatap Naruto dengan tatapan yang berbeda-beda, antara tidak percaya, syok, dan misterius. Lagi pula, sejak kapan Pangeran yang selalu mereka cap sebagai Pangeran Rubah yang kekanak-kanakan menjadi begitu serius?

Shino, Kiba, Shikamaru, dan Sai langsung kembali menatap kearah Sakura. Bisa-bisanya gadis biasa itu mengubah seseorang dalam waktu singkat?

"Ini benar-benar sangat merepotkan."

Kali bukan hanya Shikamaru yang mengatakan hal itu, melainkan mereka berempat secara langsung dan bersamaan.

.

.

.

Sakura kembali menatap ayahnya lalu kembali menatap selembar kertas yang ada ditangannya, ini sudah yang kesekian kalinya Sakura bolak-balik menatap antara ayahnya dan kertas itu.

"I-ini banyak sekali!" kata Sakura dengan lemah pada akhirnya, rasanya airmatanya akan kembali terjatuh.

"Ayah juga bingung Sakura," kata ayah Sakura sambil menatap putrinya itu dengan lembut lalu menyenderkan tubuhnya pada dinding. "ayah akan lebih giat dan kerja lembur lagi."

Mendengar perkatan ayahnya itu langsung berhasil membuat Sakura memekik nyaring, "JANGAN! Kalau ayah lembur lagi, ayah bisa sakit!"

"Sakura, ayah harus melakukannya. Ayah tidak mungkin membiarkanmu be—"

"Aku akan bekerja! Ayah berkerja seperti biasa saja!" ucap Sakura tegas dan tatapan matanya yang begitu yakin.

Usia ayah Sakura sudah tidak muda lagi, memang ibunya terlihat masih sangat muda tapi tidak dengan ayahnya. Itu karena ayah dan ibu Sakura memiliki perbedaan umur yang cukup jauh, sekitar tujuh tahun. Karena ayah Sakura lah yang lebih tua dan sudah mulai sering kelelahan saat berkerjalah yang menjadi alasan bahwa Sakura sama sekali tidak ingin ayah jatuh sakit, apalagi sampai mendapat penyakit parah. Demi apapun didunia ini, Sakura sudah mulai menerima ibunya yang sering jatuh sakit tapi Sakura tidakan pernah bisa menerima jika ayahnya pun jatuh sakit dikarenakannnya dan ibunya.

"Saku—" ayah Sakura hanya menatap anaknya yang sudah berlari pergi, menghindari pembicaraan mereka. "Maafkan ayah."

Saat Sakura akan berbelok kearah kanan koridor rumah sakit, tiba-tiba ada sesuatu yang mengengam pergelangan tangannya dengan erat hingga membuatnya dengan terpaksa berhenti.

"Lepaskan a—" Sakura terdiam saat menatap siapa orang yang menghentikannya. "Naruto?"

"Mau kemana?" tanya Naruto dengan tampan serius.

"Berkerja! Untuk mencari uang!" ujar Sakura tegas dan yakin. "Aku harus bekerja agar bisa membiayai operasi ibuku!"

Naruto menatap Sakura dengan tatapan tajam yang sama sekali tidak pernah terlihat, "Bekerja? Menjadi apa? Emangnya kamu sudah mendapatkan pekerjaan tersebut?" katanya dan nadanya berkali-kali lipat menjadi sangat serius.

Bahkan karena tatapan tajam, aura pemimpin dan suara yang serius Naruto itu berhasil membuat Kiba, Shino, Shikamaru dan Sai sudah mulai merinding karena ini pertama kalinya mereka melihat sikap serius Naruto yang bahkan sepertinya lebih serius dari raja mereka. Mereka berempat benar-benar tidak habis pikir, guna-guna dari dukun apa yang membuat Naruto jadi serius begitu?

Guna-guna dari Mbah Jiraya? Atau dari Mbah Orochimaru? Oke, itu bukan cerita disini.

"Naruto, aku—" Sakura tidak berani untuk menatap Naruto dan memilih untuk menundukkan kepalanya.

"Dasar bodoh!" teriak Naruto dengan nyaring, tidak peduli bahwa dirinya tengah berada di rumah sakit.

"Hah?" keempar bodyguard Naruto sepertinya akan terkena jantungan bergilir karena perubahan sikap Pangeran muda ini.

Sejak kapan Pangeran mereka mengucapkan hal seperti itu! Pangeran mereka itu bertutur kata sopan?! Siapa yang ngajarin Pangeran polos mereka menjadi itu sih?! Ini adalah pertama kalinya Pangeran Naruto dari Kerajaan Konoha mengata-gatai seseorang dan seseorang itu adalah seorang gadis kecil!

"Kau harusnya tetap disini menemai ibumu! Ia sekarang pasti sangat memerlukanmu!"

"Ta-tapi, jika aku tidak be—"

"Kau tidak punya hak untuk menanggung semua biaya itu?! Hakmu adalah menemani ibumu didalam ruangan itu! Dia pasti sangat tersiksa!"

"Lalu biaya operasi ibuku bagaimana?!" pekik Sakura kesal, bisa-bisanya Naruto mengatakan hal itu dengan mudah. Sakura juga ingin menemani ibunya disana, tapi.. bagaimana dengan biaya operasi ibunya? Haruskan dirinya mengorbakan ayahnya demi ibunya?

"Ikut aku!" Naruto langsung menarik tangan Sakura dan pergi dari sana.

Keempat bodyguard Naruto cuma bisa diam lalu memilih untuk membuntuti kedua sejoli tersebut yang berjalan menuju seorang dokter yang tengah berbicara dengan seorang suster. Dokter itu sedikit tersentak kaget saat menyadari Naruto dan Sakura menghampirinya, belum lagi aura kuat yang menguar dari tubuh Naruto berhasil membuat sang dokter tediam sejenak.

"Lakukan operasi Nyonya Haruno sekarang!" perintah Naruto mutlak, aura seorang pemimpin begitu terlihat saat itu.

"E-ehh?!" Sakura dan dokter tersebut sama-sama terkejut begitu mendengarnya.

"Tapi—"

"Aku Pangeran Naruto dari kerajaan Konoha! Lakukan operasinya sekarang! Guard!" entah sadar atau tidak, Naruto memotong perkataan dokter yang ada dihadapannya.

"Siap Pangeran!" Kiba, Shino, Shikamaru dan Sai dengan secepat kilat sudah berdiri disekitar Naruto dan membawa sebuah koper berwarna hitam di tangan mereka masing-masing.

"Aku tanggung biayanya!" ujar Naruto yakin dan menatap tajam dokter yang ada dihadapannya itu.

"Ba-baik! Suster, Segera siapkan ruang operasi." Dokter tersebut langsung buru-buru pergi untuk menyiapkan segala persiapan operasi.

Sakura yang sejak tadi terdiam kembali mendapatkan suaranya, "Na-Naruto! Ini masalah keluargaku! Kau tidak perlu ikut campur!" pekiknya dan menatap kesal Naruto yang seenaknya.

"Aku hanya membantu orang yang perlu aku bantú karena aku ini seorang Pangeran." Naruto melepaskan genggamanya ditangan Sakura lalu pergi menjauh.

Sakura kembali terdiam dan hanya bisa menatap punggung Naruto yang semakin lama semakin menjauh, suara kembali hilang. Sakura ingin berteriak dan memanggil Naruto, tapi... suaranya tidak bisa keluar.

"Biayanya sudah kami bayarkan dan sekitar dua jam lagi operasinya dimulai, kami permisi Sakura-chan," kata Kiba sambil nyengir lalu berjalan menjauh untuk mengikuti Naruto.

"Sampai jumpa!" pamit Sai yang tengah menarik Shino dan Shikamaru agar mereka tidak kehilangan jejak Kiba maupun Naruto.

Shino mengendus kesal, "Aku bisa jalan sendiri."

"Merepotkan," ujar Shikamaru dan menguap, menandakan betapa ngantungnya dirinya.

Lagi, suara Sakura tidak mau keluar lagi. Sakura hanya bisa melambaikan tangannya saat melihat kelima laki-laki itu sudah menjauh bahkan Naruto dan Kiba sudah tidak terlihat.

'Aku sudah sangat merepotkan Naruto.' batin Sakura dengan wajahnya yang lesu tertunduk lalu melangkah masuk kedalam ruangan ibunya sebelum ibunya dioperasi, sekedar untuk memberitahukan berita tentang operasi ini pada kedua orang tuanya yang ada didalam ruangan itu.

.

.

.

Operasi ibu Sakura berjalan lancar, Sakura sangat senang hingga menangis tersendu-sendu tapi tangisan itu adalah tangisan bahagia. Dia benar-benar sangat berterima kasih kepada Naruto, andai saja operasi tidak dilakukan saat ini juga entah apa yang terjadi nantinya. Sakura mulai memikirkan cara untuk membalas budi pada Pangeran Kerjaan Konoha itu, mungkin Sakura memang tidak bisa membayarnya dengan uang. Tapi ia masih memiliki tenaga untuk mengantikannya, bukan?

Mungkin jika ia menawarkan diri menjadi pelayan pribadi Naruto tidak masalah?

Entahlah—karena bagi Sakura saat ini bersama keluarganya lebih penting, dirinya bisa memikirkan masalah utang budi itu besok saat bertemu Naruto di sekolah.

.

.

.

Sakura melangkah keluar dari ruang inap ibunya untuk sekedar mencari udara segar dan membiarkan kedua orang tuanya asik mengobrol didalam ruangan itu. Tanpa disadari oleh Sakura sama sekali, Naruto masih ada di rumah sakit itu dan tengah berdiri dilorong rumah sakit yang dekat ruangan inap ibu Sakura. Sebuah senyuman lebar terlihat diwajah tampan Naruto yang tengah menyandarkan punggungnya didinding.

Keempat bodyguard Naruto tanpa sadar ikut tersenyum—sebuah senyuman lega karena Pangeran mereka telah kembali menjadi Pangeran rubah yang kekanak-kanakan.

"Kita pulang sekarang pengeran?" tanya Sai yang menyadari bahwa sedari tadi Naruto memperhatikan Sakura yang berada didepan pintu ruang inap ibu gadis itu.

"Tunggu dulu, aku merasakan sebuah kebahagian yang mendalam saat ini." Naruto menatap langit-langit rumah sakit lalu tiba-tiba dirinya terkekeh, "Sepertinya aku akan dimarahi lagi Kaa-san, tapi aku tetap sangat mencintainya."

"Ya-ya, biaya operasi ibunya Sakura itu cukup mahal, Pangeran." Shikamaru memutar bola matanya dengan bosan.

"Hehehe, aku kan tinggal menunggu hukumannya," kata Naruto sambil nyengir lalu menatap keempat bodyguard-nya. "Ayo pulang!"

Dengan sangat cepat Naruto langsung merangkul Sai dan Shikamaru, lalu Sai merangkul Kiba dan Shikamaru pun merangkul Shino. Jadilah mereka berlima berjalan secara bersamaan sambil sesekali bercanda tawa. Bahkan sampai-sampai pintu keluar gedung rumah sakit itu tidak bisa mereka lewati secara horizontal sehingga mereka berjalan dengan cara vertikal saat keluar.

Sungguh, ini adalah persahabatan antara Pangeran dan bodyguard yang indah.

.

.

.

To Be Continue


Bagaimana? Alurnya masih cepat? Kali ini Riz sama sekali gak lihat tu komik #DORR! Riz cuma ingat alurnya gini dan Riz beri bumbu sana-sini. Gui Gui M.I.T-senpai?! Bagaimana? Riz mengecewakan lagi?! #DORR!# Ada yang kurang lagi?

.

Mind to Review?

XOXO,
Riz Riz 21 [Galaxy]