My Prince [A NaruSaku Fanfiction]

.

Disclamer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo(s), Out Of Character, AU, and more

Riz Riz 21

presented

.

.

.

Chapter IV

.

.

.

Hari ini adalah hari yang cukup berbeda bagi Sakura karena gadis bersurai merah jambu itu membawa kotak bekal makan siang berisikan masakan buatannya sendiri ke sekolah, sangat jarang Sakura membawa kotak bekal makan siang dan alasan kenapa Sakura membawanya adalah karena ia berniat untuk memberikannya kepada Naruto nanti. Sedari tadi Sakura melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah dengan tidak fokus karena tengah memikirkan hal lain (seperti bagaimana ekspresi Naruto saat menerima kotak bekalnya nanti) dan dirinya tidak menyangka bahwa kedua sahabatnya tengah menunggunya didepan gerbang sekolah.

"SAKURA-CHAN!" panggil Ino dengan sangat nyaring sambil melambaikan tangannya, membuat gadis itu langsung menjadi pusat perhatian sementara.

Sakura tersentak dan begitu melihat kedua sahabatnya yang ada didepan gerbang sekolah, lalu ia langsung mempercepat langkahnya untuk mendekati kedua sahabatnya itu sambil tersenyum. "Ohayou," sapanya.

"Ohayou!" balas Ino dan Hinata secara bersamaan, dengan perbedaan nada suara tentunya.

"Aku dengar ibumu masuk rumah sakit—lagi?" tanya Hinata sambil menatap Sakura dengan khawatir.

Yah, pasti berita itu sudah tersebar—meski hanya keteman-teman terdekatnya. Belum lagi kedua sahabat baik Sakura alias Ino Yamanaka adalah gadis yang juga mendapat julukan gadis yang selalu tahu segalanya selain julukan Miss Up to the date di Tokyo High School dan Hinata Hyuga yang diam-diam menghanyutkan, dalam artian sesungguhnya maupun artian lainnya. Tanpa disadari orang-orang Hinata juga cukup mirip seperti Ino yang selalu punya kejutan.

Seperti saat mereka bertiga masih duduk dibangku sekolah menengah pertama, Hinata sengaja berkata-kata gagap disetiap awal kalimatnya seperti saat masih berada dibangku sekolah dasar hanya untuk tidak menarik perhatian. Padahal gadis Hyuga itu sudah sembuh dari kegagapanya sejak mulai masuk sekolah menengah pertama, dan karena itu Sakura mendapatkan satu hal yang dirinya pelajari dari Hinata.

Jangan pernah menilai buku dari sampulnya, peribahasa itu sangat cocok dengan Hinata .

Bahkan sampai sekarang setelah bertahun-tahun bersahabat, gadis Hyuga itu masih saja memiliki banyak misteri yang belum diketahui Ino dan Sakura.

"Begitulah." Sakura menjawab pertanyaan Hinata sekenanya. Lagi pula, Sakura tahu betul bahwa sebenarnya kedua sahabatnya itu pasti sudah tahu jawabannya tanpa dirinya menjawab.

"Lalu bagaimana keadaan ibumu? Apa dia baik-baik saja? Penyakitnya tidak bertambah parahkan?" tanya Ino bertubi-tubi yang langsung membuat Sakura tersenyum kecil dibuatnya, sahabatnya yang satu ini benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya.

"Dia baik-baik saja, kemarin ibuku menjalani operasi," jelas Sakura secara singkat sambil menatap kedua sahabatnya dengan lembut. Senang sekali memiliki orang-orang yang begitu peduli kepada keluarganya.

"Lalu? Operasinya berjalan lancarkan? Tidak ada masalahkan?" kali ini Hinata yang bertanya bertubi-tubi.

"Kalau ibuku baik-baik saja berarti operasinya lancar, kan?"

"Syukurlah kalau begitu," ujar Ino dan Hinata bersamaan, mereka berdua terlihat begitu lega sekarang.

"Selamat atas kesembuhan ibumu, Sakura-chan. Aku ikut senang." Hinata tersenyum dan menatap Sakura dengan lembut.

"Aku juga, semoga setelah ini ibumu sehat selalu ya," kata Ino sambil menepuk bahu Sakura pelan, seketika senyuman ceria kembali terlihat diraut wajah Sakura yang ditujukan untuk kedua sahabatnya itu.

"Ayo kita masuk kekelas," ajak Sakura sambil menarik lengan atas kedua sahabatnya itu.

Ino dan Hinata hanya bisa mengangguk dan pasrah saat Sakura menarik mereka, Hinata berjalan disamping kiri tubuh Sakura sedangkan Ino berada disamping kanan tubuh gadis Haruno itu. Tidak jauh dari tempat Sakura dan kedua sahabatnya, terlihat Naruto yang tengah berlari cepat menuju gerbang sekolah Tokyo High School, serta keempat bodyguard setia laki-laki itu yang juga ikut berlari dibelakangnya. Lalu dibelakang mereka berlima terlihat mobil mewah berwarna kuning cerah yang biasa dipakai Naruto untuk berangkat sekolah tengah mengejar kelima laki-laki itu.

Emm, mungkin lebih terlihat seperti akan menabrak mereka berlima.

Para murid yang melihatnya hanya bisa mengernyit bingung. Ada apa gerangan sampai-sampai kelima laki-laki tampan itu yang berlari kencang dipagi yang cerah ini? Dan kenapa mereka dikejar oleh kendaraan yang biasanya kelima laki-laki itu kenakan?

"Minggir semuanya!" teriak Naruto nyaring dan masih terus berlari kencang, entah kapan nafas laki-laki bermata biru itu akan habis.

"PANGERAN! INI SEMUA SALAHMU!" terdengar suara Kiba berteriak sambil melirik sekilas kebelakang.

"Merepotkan," guman Shikamaru yang berlari santai dengan tangannya yang dimasukkan kedalam saku celananya.

Sedikit lagi Naruto akan melewati gerbang sekolahnya, begitu pula keempat bodyguard-nya yang selalu setia padanya meski Naruto selalu menyusahkan mereka. Tapi saat beberapa meter lagi akan masuk kedalam kawasan sekolah, kedua mata Naruto melebar saat melihat tiga orang gadis yang juga ingin masuk kedalam kawasan sekolah dan sepertinya ketiga gadis itu tidak menyadari kehadirannya.

"HUAA! MINGGIR SAKURA-CHAN!" teriak Naruto begitu sadar bahwa salah satu gadis itu adalah Sakura karena surai merah jambunya.

Sakura yang merasa namanya disebut seseorang langsung berbalik bahkan Ino dan Hinata yang tidak dipanggil pun ikut berbalik untuk melihat siapa yang menyebut nama sahabat mereka dengan begitu nyaring tadi. Tanpa aba-aba dan dikarenakan rem kaki Naruto sedang blong (sejak kapan manusia memiliki rem dikakinya?).

BRUUAAK!

Terjadilah tabrakan antara Naruto dan Sakura dengan posisi Naruto yang menindih Sakura, wajah Sakura mengeluarkan rona merah yang bahkan lebih merah dari pada rambut merah muda-nya saat menatap mata biru laut milik Naruto yang begitu dekat.

"Pangeran! Ayo cepat!" seru Kiba yang langsung mencoba untuk menarik Naruto agar kembali berdiri bahkan sampai-sampai Shikamaru, Sai, dan Shino ikut membantunya.

Tanpa sadari bahwa mobil mewah berwarna kuning yang mengejar mereka berlima tadi telah berhenti dan terparkir rapi tepat didepan mereka berlima.

"Cepat Pan—"

"NARUTO NAMIKAZE!" teriak seorang wanita yang keluar dari dalam mobil itu dengan wajah kesal dan tanpa sengaja memotong perkataan Sai.

Naruto yang merasa namanya disebut dengan sangat keras tadi langsung berdiri dari atas tubuh Sakura dan menatap seorang wanita yang memanggilnya dengan tatapan kaku, tak lupa keempat bodyguar Naruto yang juga ikut berbalik agar bisa melihat siapa gerangan yang berteriak tadi. Berbeda dengan Hinata dan Ino yang sibuk sendiri untuk membantu Sakura kembali bangkit dari posisi tidurannya. Kelima laki-laki itu langsung mengernyit bingung melihat seorang wanita yang telah berdiri sambil berkacak pinggang disamping mobil pribadi Naruto, mereka secara bersamaan menunjukkan raut wajah bak orang bodoh sekarang.

Wanita itu mengenakan kacamata dan memilik rambut pirang dengan model pig tail kebelakang, kedua mata wanita itu yang ada dibalik kacamatanya menatap kesal bercampur sedikit rasa malas kepada lima laki-laki dihadapannya yang masih dalam koneksi lima puluh lima persen.

Sedetik kemudian Naruto, Kiba, Shino, Sai, dan Shikamaru mengenali siapa wanita yang ada dihadapan mereka. Wanita itu adalah Tsunade Senju, salah satu orang yang sangat dipercaya oleh Raja Kerajaan Konoha—ayahanda Naruto.

'Oh. Cuma Tsunade,' batin mereka secara bersamaan, mungkin semacam kontak batin. 'TSUNADE?!'

"TSUNADE-OBAACHAN?!" pekik Naruto dengan keras seakan baru saja melihat hantu.

"Heh?! Ternyata Tsunade-san?" Sai menatap Tsunade dengan tidak percaya. "Aku kira Yang Mulai Ratu yang akan datang," sambungnya dan menunduk untuk menyesali kebodohannya tadi.

"Aku masih hidup!" Kiba bersyukur dan menatap langit dengan mata berbinar, serta mengatupkan tangannya.

"Benar-benar merepotkan," kata Shikamaru dan matanya menatap Tsunade malas.

"Aku memang bukan Yang Mulia Ratu, tapi aku diperintahkan untuk memberikan ini." Tsunade melempar sebuah gulungan kertas kepada Shino. "Dan apa-apa dengan suffix 'chan' tadi, Pangeran?!" bentak Tsunade sambil menatap Naruto tajam yang hanya dibalas oleh cengiran lebar.

Shino menangkap gulungan itu, membukanya dengan cepat lalu membacanya perlahan, dan kembali membacanya dengan seksama sekali lagi sebelum akhirnya menatap Tsunade dengan tatapan tidak percaya seakan meminta penjelasan meminta penjelasan.

"Aku tidak membual," ujar Tsunade dengan santai. "dan kamu tahu kalau aku tidak pandai menjelaskan, Shino."

Kiba, Sai, dan Shikamaru yang penasaran langsung mendekati Shino dan mulai membaca isi gulungan tersebut. Kiba tersentak kaget, Sai cuma menghela napas, dan Shikamaru terlihat tidak peduli sambil mengumankan kata 'merepotkan'.

"Sebenarnya apa isi gulungan itu?" tanya Naruto yang berdiri dibelakang keempat bodyguard-nya dengan tampang polos.

"Ini." Sai tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Naruto dan malah melempakan beberapa kunci ke Tsunade yang tersusun rapi pada sebuah besi berbentu lingkaran. Selain itu, Sai juga tetap mengacuhkan Naruto yang terbengong-bengong menatap tindakannya.

"Arigatou, aku pergi dulu. Jaa." Tsunade kembali masuk kedalam mobil mewah berwarna kuning yang ada disampingnya lalu pergi menjauh dengan mobil itu.

"Hei-hei! Itu tadikan kunci rumahku! Kamu ini guard-ku atau guard-nya Tsunade-Obaachan sih?!" seru Naruto dan menatap Sai dengan tatapan kesal.

Sakura, Ino dan Hinata yang ada disana hanya bisa menatap kelima laki-laki itu bingung. Mereka sama sekali tidak mengerti dan tidak (belum) ingin ikut masuk kedalam permasalah kerajaan Naruto. Terlihat bahwa Sakura yang tampak sedikit memiringkan kepalanya karena tengah berpikir, Ino terlihat sedikit melongo menatap drama barusan, dan Hinata yang sebenarnya kebingungan masih terlihat tenang.

Oke, sepertinya diantara mereka bertiga memang hanya Hinata yang tidak benar-benar tampak bingung. Dia lebih terlihat enjoy? Dan hanya diam menatap kelima laki-laki itu sambil mengeluarkan senyum manis yang misterus. Hinata itu benar-benar seorang gadis yang misterius.

"Ini tugas." Shino memperlihatkan isi gulungan itu alias membukanya lebar-lebar pada publik dengan tatapan datar.

"Akan aku bacakan," kata Sai mengajukan diri dan segera merebut gulungan itu sebelum orang lain membacanya.

Para murid yang tadi berlalu lalang (tetapi perhatian mereka tertuju pada Naruto karena kejadian tadi) secara otomatis langsung berhenti, mereka memilih untuk mendengarkan secara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya apa yang akan dibacakan oleh salah satu bodyguard Naruto. Ah, bahkan beberapa murid yang memiliki masalah pendengaran langsung memperbaiki pendengaran mereka tepat sebelum Sai memulai bicara.

"Mulai saat ini anda akan hidup tanpa uang sama sekali," mulai Sai sambil menatap Naruto dengan tatapan tidak yakin.

"Ini adalah perintah Yang Mulia Kushina-sama serta Yang Mulia Minato-sama," sambung Kiba saat merasa Sai tidak akan mampu memberitahu kenyataan.

Hening, tidak ada yang kembali berbicara untuk melanjutkan kata-kata Sai dan Kiba sebelum akhirnya Shikamaru memecahkan keheningan itu.

"Anda menjadi Pangeran Miskin sebagai hukumannya."

Oh.

Tunggu, otak Naruto masih loading begitu pula dengan otak Sakura dan Ino, berbeda dengan Hinata yang mengerti dengan sekali penjelasan aneh itu hanya tersenyum kasian dan murid-murid yang ada disana langsung pada gerusak-gerusuk, kalo-kalo pendengaran mereka bermasalah dan mesti pergi periksa ke Dokter THT.

Beberapa kemudian setelah otak ketiga muda-mudi (Naruto, Sakura, dan Ino) itu serta murid disekitar mereka yang tadinya juga loading sudah koneksi seratus persen barulah mereka sadar dan benar-benar yakin bahwa mereka semua tidak salah dengar.

"HAH?!" pekik Naruto, Sakura, dan Ino secara bersamaan karena tidak percaya dengan fakta dan pendengaran mereka.

"APAAAA?!" teriak para murid yang kaget bukan main dan mengema diseluruh kawasan Tokyo High School.

"Na-Naruto menjadi pangeran miskin?!" tanya Sakura panik bahkan nada suaranya bergetar.

"Miskin?" Ino menatap Naruto dengan tatapan kaget yang cukup berlebihan. "Miskin? Miskin?!"

Naruto hanya bisa menghela napas pendek dan mengabaikan tatapan kaget Ino padanya. "Yah, Kaa-san benar-benar, deh. Tega banget," katanya pura-pura dramatis sambil mengelus-elus dadanya—pura-pura terlihat seperti seseorang yang mendapatkan cobaan dan bersabar.

'Jangan-jangan, karena Naruto membayarkan biaya operasi ibuku?' batin Sakura bertanya-tanya sebelum menundukan kepalanya dengan perasaan sedih dan bersalah.

Hinata yang tadi menatap Naruto dengan kasian menoleh kearah Sakura yang sedang menunduk, sontak tatapannya langsung terlihat penasaran dengan perubahan sikap sahabatnya itu.

"Tapi selama berapa lama?" tanya Naruto sambil menatap keempat bodyguard-nya tersebut dengan cukup santai.

Yang ditanya memberikan respon tidak peduli, Sai sibuk dengan catatan laporannya yang nanti akan diberikan kepada Yang Mulia Raja, Kiba sibuk dengan handphone-nya, Shino tengah mencoba membuat seekor kupu-kupu berdiam dijarinya, dan Shikamaru yang asik sendiri menatap awan.

Mereka berpura-pura tidak mendengar dalam artian mereka juga tidak tahu, melihat itu Naruto mencibir kesal karena sikap keempat bodyguard-nya yang menyebalkan.

"Sebaiknya kita segera masuk kelas, tak lama lagi bel berbunyi," kata Ino mengingatkan bahwa sebentar lagi bel akan bunyi.

"Baiklah, Ayo!" seru Naruto semangat dan menarik keempat bodyguard-nya meski dengan perasaan yang sedikit kesal. "Kalian juga," sambungnya sambil menatap Sakura, Ino, dan Hinata.

Mereka berdelapan pun akhirnya berjalan secara bersamaan (meski tidak beriringan) menuju gedung sekolah. Terlihat ada beberapa interaksi diantara kedepalan muda-mudi itu diantaranya Naruto yang mencoba untuk mengajak bicara Sakura yang entah mengapa mengeluarkan aura muram dan gadis itu juga hanya memberikan sedikit respon padanya, Sai yang berkenalan sambil sedikit berbincang-bincang dengan Ino, berbeda dengan Kiba serta Shino yang asik berbicara pada Hinata, sedangkan Shikamaru hanya diam melamun sambil menatap awan—lagi.

"Ngomong-ngomong—" Ino berbalik dengan cepat sambil menatap Kiba, Shino, dan Hinata dengan tatapan menyelidik. "—kenapa kalian terlihat akrab sekali?"

"Oh! Hinata-chan it—Hmmmph" sahut Naruto yang tiba-tiba dan langsung dibungkam Kiba dengan sedikit tak berperasaan. Lalu terlihat Shino dan Sai menatap Naruto dengan horor, bahkan Shikamuri ikut memberikan tatapan

"Kemarin kami tidak sengaja bertemu Hinata-san dimini market," jawab Kiba sambil nyengir lebar dan mendapat dukungan penuh dari ketiga bodyguard lainnya dengan anggukan kepala.

"Iya." Hinata membenarkan dan tersenyum kearah Ino.

"Ohh." Ino yang sebenarnya masih belum yakin itu adalah jawaban jujur, memilih untuk tidak terlalu peduli dengan masalah itu, dan kembali menghadap depan.

Setelah itu kedua mata lavender Hinata menatap punggung Sakura yang masih terlihat muram dan tersirat rasa khawatir pada pandangan matanya yang teduh itu.

.

.

.

Saat jam pertama pelajaran, Sakura sama sekali tidak konsen matanya terus menerus menatap kotak bekalnya yang diletakkannya didalam laci. Hinata yang duduk sebangku dengan Sakura hanya bisa menatap cemas temannya yang terlihat muram itu, dan lagi Hinata sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya agar Sakura kembali terlihat ceria seperti biasanya.

Naruto dan Kiba yang duduk tepat didepan bangku Sakura dan Hinata terus asik mengoceh tentang apa dan untungnya kedua laki-laki itu tidak sampai mendapatkan teguran dari guru yang tengah mengajar, berbeda dengan Shikamaru lagi-lagi menatap awan dari balik jendela (karena ia duduk disamping jendela) sambil sesekali menguap, lalu Shino yang asik sendiri dengan semut-semut yang berjalan-jalan diatas mejanya, Sai hanya diam menatap clipboard-nya sambil tersenyum misterius, dan Ino yang teryata juga menatap Sakura dengan cemas.

"Sakura-chan," panggil Ino begitu jam istirahat sudah dimulai.

"Ah, iya?" Sakura langsung mengarakan kedua matanya untuk menatap Ino dan Hinata yang sudah ada dikedua sisinya.

"Kamu sepertinya sakit Sakura-chan," ujar Hinata dan kembali menatap Sakura dengan cemas.

"Iya, mau kuantar ke ruang kesehatan?" tawar Ino sambil tersenyum lembut.

"Iie, aku baik-baik saja." Sakura tersenyum ceria meski itu terlihat seperti senyuman terpaksa.

"Yakin? Katanya ada guru kesehatan baru yang mengantikan Shizune-sensei selama cuti ini, lho," jelas Ino sambil mengedipkan sebelah matanya dengan harapan Sakura akan tertarik untuk diantar ke ruang kesehatan.

"Hm?" Sakura hanya menatap Ino dengan bingung, guru kesehatan baru?

"Aku dengar guru itu laki-laki," kata Hinata tiba-tiba dan tersenyum kecil.

"Kamu juga tahu Hinata?" tanya Ino dan langsung menatap Hinata dengan tatapan tidak percaya dan kaget. Benarkan? Seperti yang disebutkan tadi, Hinata itu diam-diam menghanyutkan.

"Seperti itulah," Hinata hanya tersenyum manis pada Ino yang menatapnya dengan tatapan yang cukup mengintimidasi itu.

Sadar bahwa sahabatnya tidak nyaman dengan tatapannya, buru-buru Ino langsung kembali menatap Sakura yang entah mengapa terlihat malah semakin muram. "Lebih baik kamu ke ruang kesehatan, Sakura. Kamu terlihat semakin pucat dan muram," katanya dengan tatapan khawatir. "lagi pula katanya guru itu sangat tampan, lho."

"Ino-chan benar, sebaiknya kamu ke ruang kesehatan saja. Aku khawatir dengan keadaanmu yang benar-benar terlihat lesu," sambung Hinata dan mengenggam tangan Sakura, mencoba membujuk gadis itu agar mau diantar ke ruang kesehatan.

"Sungguh aku baik-baik saja," tolak Sakura dengan nada suara yang lembut. Meskipun begitu, sekeras-kerasnya kepala Sakura, tetap saja kekeras kepalaan Ino lebih darinya belum lagi Ino telah mendapatkan dukungan dari Hinata.

"Ish! Kali ini aku tidak menerima penolakan!" Ino langsung menarik Sakura hingga berdiri dari duduknya lalu membawa keluar kelas sambil dibantu Hinata untuk diantar menuju ruang kesehatan.

"Ino-chan, Hina-chan. Aku baik-baik saja."

"Baik-baik saja? Baik dari mana?! Kamu itu terlihat pucat, Sakura-chan dan kami ini khawatir dengan keadaanmu!" seru Ino tidak peduli sama sekali dengan penjelasan Sakura.

Mendengar seruan Ino yang begitu tegas itu membuat Sakura merasa bersalah dan berkata lirih, "Gomennasai."

"Maka dari itu, turuti kami kali ini saja, ya?" pinta Hinata sambil menatap Sakura dengan tatapan memelas.

"Baiklah."

.

.

.

Ketiga gadis itu melewati koridor dengan cukup cepat dan dalam beberapa detik mereka sudah berada didepan pintu ruang kesehatan, Hinata mengetuk pintunya pelan sebelum akhirnya masuk kedalam ruangan itu diikuti Sakura dan Ino dibelakangnya.

"Permisi, sen—sei." Ino terdiam—kehabisan kata-katanya saat menatap sosok seorang pemuda berbadan tinggi dengan wajah yang sangat rupawan. Atau bisakan Ino menyebutnya sempurna?

Sakura juga ikut terdiam saat menatap orang itu, dunia serasa berhenti baginya dan Ino. Sosok pemuda itu seperti seorang pengendali kehidupan mereka untuk detik ini berbeda dengan Hinata hanya menatap pemuda itu dengan tatapan biasa dan menghela napas pelan saat melihat perubahan sikap dari kedua sahabatnya.

Pemuda itu seperti penguasa dunia, tubuh tinggi atletis, kedua mata onyx-nya yang tajam seakan-akan dapat menusuk setiap hati perempuan manapun, gayanya yang terlihat begitu cool dan wajah stotic-nya yang tampan. Pemuda itu melepaskan lalu meletakkan kacamatanya pada buku yang tadi dibacanya sebagai pembatas dan menutup buku lalu menatap ketiga gadis yang ada dihadapannya dengan tatapan datar—yang entah mengapa sama sekali tidak mengurangi pesonanya.

"Hn?"

"Ma-maaf menganggu, sensei," kata Ino yang sebenarnya sudah sangat gugup tingkat maksimum.

.

.

.

To Be Continue


*THT : Telinga, Hidung, dan Tenggorokan


Spesial Thanks to : Namikaze Sholkhan, Dear God, Klay Asther, Aurora Borealix, nakumi-chan, Manguni, UzuHaru48, NS, and Guest.

Pojok balasan Review (untuk yang tidak login) :

nakumi-chan : Huaaa! GOMENNASAI NAKUMI-SAN! Udah pendek Riz gak update kilat lagi,, Gomennasai! QωQ

Manguni : OK, Ini sudah Riz lanjutkan. XD

UzuHaru48 : Daijobu ne, Riz yang minta maaf karena laaaammmaaaa banget gak update... Gomennasai UzuHaru48-san.

NS : Okelah, Ini update.. Yah.. Gomen karena baru update.. QwQ

Guest : Arigatou... Ini sudah dilanjut!

.

Mind to Review?

XOXO,
Riz Riz 21 [Galaxy]